Yugyeom itu sialan brengsek; mahasiswa pembolos dan tukang contek, seorang pria nakal yang gaya hidupnya agak liar, serta merupakan tipe orang yang minum dibarengi dengan merokok.

Malam itu, kedua pemuda Kim minum di kedai hingga pukul sebelas. Taehyung bukanlah pemabuk payah yang mudah hilang kesadaran, tetapi Yugyeom jauh lebih kuat menenggak lebih banyak bir darinya, sehingga Taehyung harus menahan sekelebat pening di kepalanya demi tidak dianggap sebagai pria pengecut. Sialan Yugyeom dan kemampuan minumnya yang mengagumkan hingga harga diri Taehyung sebagai pria jantan pun jadi taruhan.

Stres itu konyol sekali, pikirnya kemudian.

Ketika memasuki rumahnya yang hening, maksud hati Taehyung ingin merebahkan tubuhnya di atas sofa hingga pagi, andai saja Jungkook tidak terlelap tentram di sana ketika ia nyaris ambruk. Taehyung terdiam di tempatnya berdiri, terpaku oleh wajah tidur Jungkook yang membuat siapapun ingin terus-terusan memandanginya hingga subuh. Perasaan aneh seperti deja vú yang seringkali dialami orang-orang seakan terjadi padanya dalam keadaan setengah mabuk, teringat akan memori pertemuan pertamanya dengan pemuda manis itu di perpustakaan.

Ketika melihatnya tertidur waktu itu, mulanya Taehyung tidak pernah berani membayangkan akan tidur bersamanya tiap malam di masa depan.

Jungkook mengernyit, menguap pelan, kemudian bergerak terlentang di sofa yang sempit. Rambut legamnya yang tak keruan tampak lucu. Bibirnya sedikit mengerucut seperti merajuk, begitu manis dan Taehyung tak kuasa menahan diri.

Terkekeh kecil tanpa suara, Taehyung berjongkok menghadap Jungkook, begitu dekat dengan wajah si cantik hingga dengkuran halusnya terdengar lembut dan menenangkan roma. Telapak besarnya menangkup kedua pipi berisi Jungkook, mengelusnya pelan. Wajah Taehyung semakin mendekat, dimulai dari mencium kelopak mata bulat yang terpejam itu penuh sayang dan mengagumi, menyusuri tulang hidung bangirnya dengan kecupan bertubi-tubi, kemudian menjadikan bibir Jungkook yang terkatup sebagai tempat belabuh terakhir.

Menggeliat gelisah diiringi keluh kecil, Jungkook terpaksa kembali ke alam sadar. Tertangkap basah, Taehyung berdeham halus dan membuat satu cengiran lebar seolah tak berdosa. Mendapati itu adalah ulah sang suami, Jungkook tersenyum tipis dengan mata yang masih setengah terpejam. Tangannya terulur menyusuri helai surai panjang Taehyung dengan ujung jemari, membiarkan aroma shampoo menguar dan menempel di sana.

"Napas alkoholmu mengatakan kau sudah minum banyak sekali." celetuk Jungkook dengan suara serak.

Taehyung mengangguk lemah, membenamkan kepalanya di area perpotongan leher Jungkook yang harum seperti bunga, menggerutu manja seperti butuh sandaran. "Aku sakit kepala. Semuanya salah si brengsek Yugyeom."

Menyikapi Taehyung yang tengah luar biasa manis serta dalam keadaan setengah mabuk, Jungkook hanya tertawa kecil sembari memainkan jemarinya di surai kecoklatan yang nyaris melewati batas leher itu. "Mau kuambilkan air hangat?"

Gelengan kepala si pemuda Kim menggesek leher Jungkook, membuat sang empu merinding tegang. "Tidak perlu—jangan ke mana-mana," bersamaan dengan tangan besar yang menahan bahu sang submisif dengan posesif, Taehyung perlahan mengangkat kedua kakinya naik menuju sofa sempit itu dan memosisikan tubuhnya di atas Jungkook. Kepalanya semakin turun mendekati wajah pemuda di bawahnya, mengamati paras rupawan hingga menyelami kedua mata bulatnya sedalam samudera. "Sial, Jungkook-ah, sepertinya aku semakin mabuk dan merasa lemah sekali. Pesonamu itu—astaga, memang tidak main-main,"

Jungkook tersenyum lebar, bersemu lebih merah daripada wajah merona Taehyung setelah mabuk yang tidak seberapa. Jemarinya menata surai berantakan Taehyung dengan menyibakkan semuanya ke belakang, membuat penampakan alis menawan hingga dahi penuh peluhnya yang seksi itu tampak. Jungkook begitu hapal dengan struktur rambut Taehyung yang agak kasar dan tebal, namun ia menemukan sensasi tersendiri saat helaiannya berada di dalam genggaman—rasa yang takkan didapatkan dari rambut pria lain. Aroma rambut Taehyung adalah favoritnya; memang tidak seharum bunga, tetapi begitu segar. Inderanya begitu betah mengendus lembut meski tanpa aroma yang manis.

Merambat menuju kepala, dengan tangannya ia menarik pelan wajah Taehyung. "Well, aku mengerti. Ayo mendekat." Dan ketika bibirnya mulai dikecup dan dihisap pelan bagai permen, kedua matanya terpejam. Meski dengan tempo yang agak berantakan, Taehyung tidak pernah ingin melukai bibir Jungkook dengan kilat nafsunya. Ciumannya selalu lembut dan penuh afeksi, tak pernah menuntut paksa, namun tetap memegang kendali dengan membuat keduanya merasa terpuaskan. Seolah Jungkook begitu berharga dan rapuh secara bersamaan, Taehyung secara alamiah memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian.

Lidah si pemuda Kim menerobos belah bibir sang submisif, melesak masuk dan menyapu langit-langitnya. Jungkook sedikit menganga menerima benda asing itu di dalam mulutnya, salivanya yang menyatu dengan milik Taehyung menetes ke luar melewati dagu. Napas memburu dalam paru-paru yang sesak dan beradu saling menerpa wajah satu sama lain. Ujung hidung saling bertubrukan. Tanpa sadar peluh telah membanjiri keduanya dan sofa menjadi terasa panas.

Puas mengklaim bibir ranum Jungkook, kepala Taehyung turun ke bawah menuju area leher jenjangnya yang tegang. Jungkook terhempas ke belakang tiap kali gigitan kecil menyengat kulit pucatnya yang panas, begitu responsif akan sentuhan dan sapuan lidah Taehyung yang menggila, membuat akses untuk menjamah leher sekaligus selangkanya semakin terbuka lebar. Bekas gigitan yang memerah keunguan tampak begitu jelas, seolah menunjukkan bahwa Jungkook sudah dimiliki oleh seseorang.

Selagi Taehyung menyingkap sedikit kemeja Jungkook dan mengecup tulang selangka di sepanjang bahunya alih-alih membuat tanda, kepalanya sedikit menunduk untuk mengecup dahi sang suami yang tertutup poni acak-acakan, terdiam di sana begitu lama dengan mata terpejam. Merasa aneh, dengan sedikit mengerjap Taehyung mengangkat kepala.

"Ada apa?" tanyanya sembari mengelus sebelah pipi Jungkook dengan ibu jari, menggelitiknya gemas. "Tampaknya kau sangat menyukai rambutku?"

Jungkook menarik kedua sudut bibirnya begitu lebar, mengangguk lemah dengan ketulusan tiada tara. "Aku suka mencium dahimu. Rasanya seperti seluruh isi hatiku tersampaikan tanpa harus mengatakannya."

Mengimitasi senyuman pria di bawahnya, Taehyung balas mengecup dahi Jungkook dengan penuh kasih, seakan mengatakan betapa besar cintanya hingga hati tak kuasa membendung begitu banyak buncah kebahagiaan. Ciuman di dahi mungkin terasa begitu singkat dan sederhana, tetapi detak kegembiraan masih menari hebat di dalam dadanya.

"Aku mencintaimu," Taehyung berbisik rendah, menyapu area telinga Jungkook dengan hela napasnya sebelum beralih mengecup cupingnya pelan. "Teramat sangat."

Jungkook berdeham manis. "H-hm, aku tahu."

Jemari Taehyung semakin bergerak turun, membuka kancing kemeja Jungkook satu persatu hingga terpampang tubuhnya yang luar biasa basah. Sepertinya Taehyung terlalu lama bermain di bibir dan leher, sedangkan Jungkook sudah berkeringat kepanasan di balik pakaiannya. Begitu udara bebas menyapa kulit, Jungkook meraup oksigen rakus sekali hingga dadanya naik turun dengan tergesa-gesa.

Menjilat bibir menahan nafsu, Taehyung bangkit sedikit dan menahan tubuhnya dengan kedua lutut, membuka ikatan dasi di kerah leher yang mencekik. Dengan gerakan tidak sabaran pemuda itu membuka pakaian atasnya hingga beberapa kancing terlepas dari tempatnya. Kemeja itu dilempar sembarangan ke lantai, kepeduliannya terhadap sekitar pun lenyap setelah seluruh atensi dan respon inderanya berpusat pada satu poros; Kim Jungkook.

Bagai tata surya yang berorientasi pada semesta yang penuh kuasa dan kejam, seakan ia takkan mungkin ada di sana tanpanya.

Taehyung kembali menempatkan tubuh Jungkook dalam rengkuhannya, menyatukan kedua insan yang ingin bersama, dan hanya boleh mendesah karena sentuhannya. Telapak tangannya meraba perlahan perut berotot samar Jungkook, membelai menggoda hingga terdengar lenguhan kecil yang bergetar.

"Tae—hmm, ahn—"

"Hanya menebak," ibu jari panjang Taehyung bergerak usil menggoda garis otot di sana, membiarkan dahi Jungkook berkerut tertahan menahan sensasi. "Tubuhmu lumayan terlatih, ya?"

Dengan anggukan kacau, Jungkook mencoba menjawab, "T-tidak lagi setelah, uh, kita—astaga, Taehyung!"

Jungkook mengintip sedikit di antara kedua matanya yang terpejam, mendapati Taehyung yang mulai bermain di area dada tanpa aba-aba. Lidahnya terjulur untuk menjilat lingkar puting dada kiri dengan gerakan memutar, membuat bercak kecil dengan warna yang lebih kontras, sedangkan tangan lainnya meremas dada kanan yang tak kalah tegangnya. Kedua alis sayu Jungkook bertaut seirama gerakan Taehyung, mendesah selagi napasnya terputus-putus, dengan wajah memelas seperti memohon sesuatu yang tidak sanggup ia katakan.

Dan ketika ujung putingnya digigit gemas oleh sang dominan, jeritan Jungkook melolong keras membelah kesunyian malam. Kedua tangannya meremat kulit sofa begitu kuat, ujung-ujung jemarinya memutih bersamaan dengan akalnya yang mengabur. Jungkook ingin mengatakan bahwa rasanya sangat nikmat dan ia butuh sesuatu yang lebih hebat, tetapi bibirnya tidak dapat berbicara dengan benar dan lagi-lagi hanya meloloskan desahan, seolah saraf otaknya disfungsi dalam menerjemahkan perasaannya.

"Akh—Taehyung-h, ngh-"

Mengangkat kepala, Taehyung kembali mengarahkan wajahnya menuju bibir, mengecap bagian bawahnya habis tepat setelah ibu jarinya mengangkat dagu pemuda di bawahnya. Jungkook melenguh, meletakkan kedua tangannya di bahu kokoh Taehyung, mencengkeram begitu keras.

Ketika ciuman itu dilepaskan dan benang saliva menjuntai di antara keduanya, Taehyung menjulurkan kepalanya menuju leher Jungkook, mengendus di area tengkuk. "Hari ini pun kau beraroma manis."

Beberapa bulan yang lalu, kira-kira saat mereka berbelanja bersama untuk yang pertama kali, mereka sempat berjalan secara terpisah. Taehyung tidak dapat menyembunyikan keheranannya ketika dengan semangat Ahra mengatakan bahwa Jungkook ada di rak parfum wanita, dan memang benar adanya. Jungkook, satu-satunya pria di antara pengunjung wanita, tengah menghirup botol-botol parfum feminim. Ketika Taehyung bertanya mengapa, dengan malu-malu Jungkook mengatakan bahwa ia memiliki hidung yang sensitif dengan wewangian, sehingga ia cenderung menggunakan parfum wanita yang beraroma lembut dan ringan ketimbang parfum pria dengan bau maskulin yang menyengat kuat.

Dan menurut Taehyung, itu menggemaskan sekali.

"Taehyung," Jungkook menyeletuk ketika sebelah tangannya merambat menuju rambut bagian belakang. "Rambutmu semakin panjang. Mari memotongnya besok pagi."

"Lakukan sesukamu. Kuserahkan pada ahlinya," ujar Taehyung, menyeringai miring penuh pesona. "Kim Jungkook, yang ahli dalam mengurusku. Mendengarnya saja membuatku senang."

Jungkook terkesiap menahan napas, merasakan jemari panjang Taehyung mulai meraba bagian perut bawah, membuka resleting celana jeans dengan sekali hentak, melucutinya bersama celana dalamnya perlahan hingga tanggal di lutut. Wajahnya luar biasa panas saat Taehyung mengamati miliknya yang sudah bereaksi.

"Kau sudah tampak tidak sabaran, jadi ayo segera selesaikan."

Tangan besarnya yang hangat bermain-main di area privasi Jungkook dengan begitu pandai, seolah ia sudah mengklaimnya berkali-kali. Taehyung sendiri pun tidak percaya telah bercinta dengan Jungkook kurang dari tiga kali setelah mereka menikah. Melihatnya yang termasuk tipe suka sekali dengan ciuman dan terhitung melakukannya tiap hari, dan semuanya pun tahu Taehyung penuh sentuhan kasih sayang, orang-orang pun berpikir jumlah Taehyung menyentuh Jungkook di atas ranjang itu aneh sekali. Memang tak dapat dipungkiri bahwa kesibukan selalu berkuasa menyita segala yang manusia butuhkan—dalam hal ini untuk memenuhi hasrat biologis.

Jadi, mungkin akan lebih baik jika Taehyung menghabiskan lebih banyak malam untuk Jungkook daripada pekerjaannya. Karena, memikirkannya saja membuat Taehyung merasa agak bersalah.

"Kau melamun—" kata Jungkook, mencoba untuk mengembalikan fokus Taehyung, yang kemudian dijawab dengan gelengan singkat.

"Kupikir ternyata kita jarang melakukan hal seperti ini. Kalau diingat-ingat, aku selalu pulas lima detik setelah kepalaku menyentuh bantal dan menciummu," Taehyung mengacak surai lepeknya setengah frustasi. Sorot matanya tampak sedih. "Maaf tentang itu—"

Jungkook menempelkan telunjuknya di depan pintu bibir Taehyung, membuat suara mendesis dengan bibir mengerucut. Dahinya mengerut tidak senang, sedangkan alis Taehyung terangkat tak paham. "Taehyung, meminta maaf itu memang baik. Tapi, sekarang aku hanya ingin kau mengatakan sesuatu yang lebih terdengar bahagia. Ya?"

Taehyung, yang sedang bertumpu lutut di atas Jungkook, tengah susah payah menahan luapan emosi yang membuat kedua matanya berkaca-kaca. Tangannya menggenggam afektif jemari-jemari milik si manis, mengecup kecil ujung-ujungnya dengan mata terpejam.

Ada banyak saat ketika ia menyadari betapa lebar lubang kecacatan dirinya menganga, penuh luka yang belum dapat berhenti ditangisi, terlampau jauh dari kata sempurna untuk pemuda Jeon. Dan disaat yang bersamaan, Jungkook selalu ada untuk menunggu Taehyung, dengan tangan yang begitu tulus ia menerima uluran pria itu. Di matanya, Kim Taehyung punya segudang sisi manis dengan sejumlah cela yang tak luput menyerta, dan keduanya ada untuk diterima dan dicintai.

"Kalau begitu, maaf karena selalu mengatakan maaf," ucap Taehyung kemudian, diakhiri dengan tawa kecil sebelum kedua tangannya mencengkeram kedua sisi pinggang sempit Jungkook kuat, mengangkatnya sedikit. "Aku akan mulai. Katakan kalau aku menyakitimu."

Taehyung merentangkan jari-jari panjangnya, menjilat dengan liur dari bawah hingga puncak sedangkan tangan kirinya masih memegangi pinggang Jungkook. Telunjuknya menyapa lubang berkerut di bawah, memasukinya perlahan. Yang dimasuki tengah mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya merinding tegang. Ketika jumlahnya bertambah menjadi dua, punggung Jungkook sedikit melengkung diikuti dengan kepala yang mengadah ke belakang.

"Ah-Taehyunghh—ahn,"

"Bagaimana rasanya?" tanya Taehyung ketika tubuh itu menggelinjang nikmat hanya dengan permainan jarinya. Ketiganya sudah tertanam, tak sengaja titik terdalam di dalam lubang itu tersentuh di ujungnya, dan Jungkook menjadi hipersensitif hingga tak dapat berhenti mendesah dan mengerang nama Taehyung.

Ditanya begitu, Jungkook hanya dapat menggeleng kacau tanpa kata. Tubuhnya panas dibanjiri peluh, napas tak beraturan menyesakkan dada, dan mulutnya tidak dapat berhenti meracau desah. "T-taehyunghh, ah—itu, aku—"

Ketiga jari itu ditarik ke luar bersamaan setelah mengitari lubang hangat dan merenggangkannya. Rasanya hampa dalam sekejap, Jungkook berhenti mendesah dan hanya tersisa hela napasnya. Dengan gerakan tergesa, Taehyung membuka ikat pinggang dan melucuti celana bahan, mengeluarkan miliknya yang tegang dan keras. Dia bahkan tidak menyangka dapat terangsang sehebat itu.

"Kita bisa berhenti kalau kau mau, lho?" tanyanya memastikan. Jemarinya mengusap peluh yang mengalir di pelipis Jungkook. Pemuda itu menggeleng sungguh-sungguh.

"Tidak—kenapa berhenti?"

Taehyung mengulum bibir, mencium kedua mata bulat sang submisif bergantian sembari tersenyum tipis. Ia meletakkan lengan Jungkook satu persatu mengalungi lehernya. "Kalau begitu, aku mulai."

Kejantanan Taehyung sudah masuk ujung kepalanya, ukurannya membuat Jungkook membelalak hingga menahan napas. Selain sulit memasukkan benda yang tidak kecil ke dalam lubang yang ketat dan sempit, Taehyung tidak ingin terlalu menyakiti Jungkook. Tanpa sadar kedua tangan yang mengangkat paha berisi itu melebarkan kaki pria di bawahnya, mempermudah akses keluar masuk di sana. Taehyung menghentak sekali, dan tak disangka seluruhnya tertanam di dalam lubang hangat itu, membuat tubuh keduanya sempat bertubrukan.

Jungkook tersentak hebat, kedua alisnya bertaut menahan sensasi kenikmatan, desahannya tertahan tak sanggup hingga ia hanya dapat membekap mulutnya sendiri merasakan milik Taehyung di dalamnya. Jungkook tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaan perih, panas, dan nikmat yang memasukinya sekaligus dalam satu waktu.

"Jungkook, kau oke?"

Dia mengangguk kecil, memberi sinyal dengan berinisiatif menggerakan pinggulnya perlahan. Seakan mengerti, Taehyung memaju-mundurkan miliknya lebih ganas. Gerakannya berangsur-angsur semakin cepat dan keras, menumbuk prostat tempat Jungkook merasakan kenikmatan duniawi tiada tara menyerang bertubi-tubi. Desahannya semakin keras diikuti dengan Taehyung yang sesekali menggeram rendah ketika semakin meraih puncak.

"Ahh—Tae-" tangan Jungkook berpindah meremas kuat surai Taehyung yang berantakan, membiarkan tubuh mereka semakin mendekat dengan wajah bersitatap hingga napas hangat saling beradu. "A-aku—"

Taehyung tengah berusaha menambah tempo gerakannya di bawah, sembari mendesah berat ia berbisik tepat di depan wajah Jungkook yang memerah semakin pekat. "Sedikit lagi, ya? Tunggu aku—"

Jungkook mencapai orgasme dengan diakhiri desahan panjang, dan setelahnya tembakan cairan hangat dari Taehyung meledak dalam lubangnya. Sisa napasnya tak teratur seperti akan habis, tampak sangat kelelahan dan kehabisan energi. Tubuh keduanya luar biasa lelah dan basah dihujani peluh.

Taehyung membetulkan letak bantal dan menyelimuti tubuh Jungkook setelah mengeluarkan kejantanannya. Ia menautkan bibir sekilas dan mengucapkan selamat malam sebelum pria cantik itu terlelap dalam bunga tidurnya. Tak lupa menyertakan 'terima kasih' dan 'aku mencintaimu' sebelum ia benar-benar beranjak dari sana untuk tidur di sofa lainnya.

. . .

Pagi harinya, Taehyung menerima e-mail balasan yang masuk dari Alicia. Sepertinya tidak diketik secara langsung karena di dalam isi suratnya mengatakan asisten pribadi Alicia menyampaikan pesan sang majikan. Bersama Jungkook, mereka membacanya di kafetaria kampus setelah mengantar Ahra ke sekolah.

Saya David Langford, asisten pribadi Nyonya Alicia Monnet, menyampaikan pesan Nyonya serta keadaannya saat ini.

Nyonya Alicia tengah dirawat di rumah sakit Seoul untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang menurun drastis, dan kabar baiknya, mulai berangsur membaik. Selanjutnya, kami akan kembali ke kampung halaman keluarga Monnet di Toronto. Nyonya Alicia bertekad untuk menjalani terapi pengobatan kesehatan mentalnya dan penanganan gangguan depresi di sana, dan seluruh pihak keluarga menaruh harapan padanya.

Untuk itu, saya mengatakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Nyonya Alicia. Beliau sudah membaca e-mail Anda dan menjadikannya alasan untuk terus bertahan hidup. Saya secara pribadi menyatakan terima kasih sebesar-besarnya kepada Anda, begitu juga dengan Nyonya.

Saya harap Anda dapat menerima apa yang Anda baca saat ini.

Dengan hormat,

David Langford.

Setelah itu, Taehyung memutuskan semuanya. Ia akan melanjutkan hidup bersama keluarga kecilnya tanpa bayang-bayang Alicia dan seluruh perasaan bersalah. Ia akan mengatakan kepada Ahra bahwa ibunya hidup dengan baik di suatu tempat. Seiring berjalannya waktu, Taehyung akan semakin dan semakin mencintai Jungkook.

Keputusan Alicia tetap terkesan egois dan menitikberatkan beban kepada Taehyung, namun ia pikir inilah hal terbaik yang dapat ia terima dari wanita itu selama ini. Kim Ahra adalah harta berharga yang tidak dimiliki Alicia dan tidak ada yang lebih berarti daripada menyaksikan putrinya tumbuh menjadi sosok gadis remaja yang cantik dan penuh semangat.

Jadi, mungkin Taehyung dan Alicia memang seharusnya hidup di jalan yang berbeda.

. . .

Delapan tahun adalah waktu yang terhitung lama, dan seiring dengan itu, banyak hal telah terjadi dan merubah berbagai aspek kehidupan seseorang. Kim Ahra termasuk orang yang menyadari hal itu, dan pada akhirnya dia beranggapan bahwa semuanya berlalu begitu cepat.

Dan delapan tahun yang lalu, gadis itu tidak lebih dari seorang anak kecil yang menyanyikan banyak lagu gembira di kelas selagi menunggu dijemput pulang dan merengek untuk sekotak es krim. Dunia mengalami revolusi besar-besaran dan hal-hal baru terus bermunculan, bersamaan dengan itu Ahra telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang merasakan betapa beratnya sekolah dengan sistem pendidikan yang gila, penuh pencarian jati diri, serta melangkah dalam proses menuju kedewasaan.

Katanya, masa-masa SMA adalah yang paling menyenangkan. Bergabung dalam kelompok berteman di sekolah, mencari dan menemukan mimpi untuk masa depan, mengencani seseorang, dan hal lain yang kedengarannya menarik.

Tiap malamnya, Ahra selalu ingin mempercayai itu semua—

"Hei, coba dengar! Kemarin malam, aku melihat sepasang mata menyala-nyala dari balik pintu kamar. Aku takut sekali hingga tidak bisa tidur!"

"Astaga—hei, Somin-ah! Sebaiknya kau berhati-hati. Mungkin Kim Ahra ada di sana saat itu, mengintipi kamarmu dengan mata biru terangnya. Terdengar masuk akal, bukan?"

—seandainya orang-orang tidak mengabaikan eksistensi dan berlelucon tentangnya.

"Apa-apaan?" Ahra menunduk di tempat duduk, tak sadar seperti tengah menyembunyikan mata birunya, mendesis kesal sendirian selagi teman-temannya tertawa. "Itu sama sekali tidak lucu."

Semenjak hari pertamanya di SMA, satu-satunya hal yang paling diingat Ahra adalah perasaan bagai pajangan toko yang berjalan di koridor. Merinding sekali membayangkan semua pasang mata orang-orang tertuju padanya, seolah keberadaannya adalah magnet yang menarik atensi orang lain. Sejak awal kemunculannya, mereka memiliki banyak hal untuk dikomentari tentang dirinya; dimulai dari badannya yang cenderung lebih tinggi dari cewek kebanyakan, rambut pirang dan mata birunya yang berbeda, hingga fakta bahwa ternyata Ahra lahir dan tumbuh di Korea serta tidak pandai berbahasa Inggris.

Sebenarnya, hal ini sudah menimpanya sejak sekolah dasar, dan cukup mengejutkan bahwa ia bisa bertahan sejauh ini. Membuat Ahra berpikir mungkin sesuatu seperti ini dapat diatasi dengan baik di SMA karena ia sudah cukup besar untuk itu. Sang Ayah tidak pernah tahu sejak dulu, dan Ahra pikir itu tidak perlu.

Tetapi, sepertinya perasaan hati tidak selaras dengan pemikirannya. Sekali dua kali, tanpa ingin disadari, Ahra mulai mengenal secara nyata apa itu terluka. Hal itu membuatnya tidak senang dan tanpa disadari terbentang jarak antara Ahra dengan teman-temannya. Dia menjauh dari lingkup pertemanan di sekolah, ditambah dengan semua orang yang cenderung hanya berteman dengan sesama mereka, Ahra mulai terbiasa untuk sendiri.

Kim Ahra, 15 tahun, gadis SMA yang mulai lelah dengan topengnya yang sedang tersenyum lebar.

T. B. C

.

KURANG PANAS ENA-ENANYA HAHAHA.

Tapi gimana, ternyata rada susah bikin adegan dewasa (͡ ͜ʖ ͡) berarti keren banget dong mastah mastah NC selama ini HOHOHO.

So, untuk beberapa chapter ke depan, sebagian besar sudut pandang Ahra akan bermain peran (?). Uri Ahra udah SMA, jadi gemes sendiri aku bayanginnya. Aku ada di kelas yang sama kayak Ahra, jadi mungkin aku bakal lebih enjoy bikinnya dan nggak terlalu mikir keras hehehe. Tapi tenang aja, nanti taekook ada saatnya lagi kok. Dan meskipun ini partnya Ahra, tetep aja taekook dan orang2 sekitarnya terlibat, jadi pada dasarnya sama aja kan?

It feels unbelievable that fanfic ini udah berjalan lebih dari 3 bulan yay! Aku usahain tamat sebelum aku naik kelas, pengen cepet-cepet bikin story baru soalnya hehe :D dan tentu aja semua ini berkat kalian! Terima kasih banyak untuk semua dukungannya I LOVE YOU GUYS SO MUCH *

Balasan review:

Kyunie: sama aku juga sedih huhuhu. Dan tbh aku nyaris lupa tuh sama Yoorim wkwk. Jadi nanti mungkin bakal aku munculin lagi di chapter chapter selanjutnya. Kangen juga sih sama sikap tsunderenya (?). Dan ya, semua orang suka enaena :D terima kasih banyak ya

Jeonk: syukur deh yah kirain 3k words gini ngebosenin saking panjangnya hahaha :D SAMA AKU JUGA SUKA DADDY TAEHYUNG hehe dan semua orang emang gak akan nolak enaena ya (?) makasih banyak loh stay tune yah sayang :)

LittleOoh: well, nggak janji deh mereka bakal dipertemuin bertiga. Alicianya aja kabur-kaburan mulu :( iya dah asyique yah enaena tuh hehe (͡ ͜ʖ ͡) makasih sudah review yah !

RatriKim: aku juga suka sama jungkook, gantian dong ciumnya (?). Anyway terima kasih sudah mampir

Tink224: omg demi apa /shook/ kamu bagus nggak tahu itu, disini aku merasa kotor sekali :" berarti tepat keputusanku buat bikin sex yang biasa aja :") terima kasih dan stay tune dgn sabar ya kak, soalnya alurnya lelet sekali kan.

Homin lover (guest): THANK YOU SO MUCH KAK * digantungin itu sakit, aku tau kok, makanya aku nggak bakal hehe. Well, cerita ini sebenernya terbentuk karena aku nggak pandai bikin fluff-fluff manis, so yeah.

vi (guest): Nanti alurnya kelamaan kamu yg bosen loh (?). Maaf yah tetep aku percepat biar cepet maju ke konflik selanjutnya, takut keburu bosen juga akunya (?). Dan terima kasih juga sudah baca kak :))

chuaaakid: HOLA KAK CHU~ iya nih aku iri sama taekook, pengen jadi anaknya juga (?). Dan ya, tujuan aku percepat alur karena pengen nunjukkin sudut pandangnya Ahra sebagai anak dengan keluarga yg nggak utuh karena ibunya ninggalin dia huhuhu. Kok jadi berasa Ahra anakku sendiri ya (?).

Vanilla sex aku sukaaaaak * tapi nggak bisa bikinnya huhuhu :( mungkin lain kali, atau di story yg lain yah

Anyway, terima kasih banyaaaak *

Love, han.