The Mighty Fall

An EXO Fiction

By: Boomiee92 ft Ren

HunKai

Rating: M

Halo semua ini chapter sepuluh selamat membaca maaf atas segala kesalahan. Happy reading all…

Previous

"Itu yang aku rasakan."

Keduanya bertatapan cukup lama, hingga Sehun tersenyum tipis. "Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu. Percayalah." Jongin masih melempar tatapan tak percaya. "Kau bisa berjaga di sini aku akan istirahat."

Kedua mata Jongin membola. "Kau bilang kau bukan manusia! Seharusnya kau tidak tidur!" Jongin memekik kesal. Beruntung hujan badai juga cukup berisik sehingga pekikannya tak membangunkan tiga orang yang tengah terlelap.

"Aku tidak mengucapkan tidur aku mengatakan ingin istirahat. Lagipula sudah ada kau dan para serigala yang berjaga."

"Dasar!" dengus Jongin. Sehun tersenyum lebar kemudian mengusak puncak kepala Jongin sebelum berbalik dan melangkah memasuki goa, meninggalkan Jongin di bibir goa.

BAB SEPULUH

Hujan badai telah reda dan hanya menyisakan gerimis renggang yang turun. Bulan masih bersinar terang, pepohonan dengan ranting-rantingnya yang beberapa saat lalu bergoyang mengerikan kini diam. Jongin memutar tubuhnya memasuki goa gelap. Gelap bagi mata manusia namun tidak untuknya. Dilihatnya Kyungsoo, Taemin, dan Minho tidur bersama, meringkuk bersandar pada dinding goa yang tidak rata dan sedikit lembab. Sehun duduk bersandar dengan kedua kelopak matanya yang tertutup, namun Jongin tidak tahu apakah Sehun tertidur atau terjaga. "Badai sudah berhenti." Ucap Jongin. Menarik napas dalam-dalam menunggu reaksi Sehun.

"Ya." Sehun menjawab singkat bahkan sebelum kedua kelopak matanya terbuka. Kemudian kedua kelopak itu terbuka menampilkan dua bola mata yang tajam. Sehun berdiri dengan cepat menatap wajah Jongin selama beberapa detik sebelum perhatiannya teralih pada keadaan di luar goa. "Bangunkan Kyungsoo dan yang lainnya." Jongin tak menjawab dia hanya melangkah menghampiri tubuh Kyungsoo, Taemin, dan Minho yang masih terlelap.

Langkah kaki Jongin terhenti, sesuatu mengganggunya. Ia memutar tubuhnya dengan cepat kembali menghadap Sehun. Raut wajah Sehun jelas melempar pertanyaan namun Jongin tak peduli dan berjalan mendekati Sehun. Tangan kanannya terulur dengan cepat menyentuh jas pada bagian dada kiri Sehun. "Kau tertembak, aroma perak tercium kuat." Hanya sekejap saja, tetapi Jongin bisa melihatnya. Melihat kegugupan pada wajah Sehun.

"Aku baik-baik saja Jongin tembakannya meleset."

Kening Jongin berkerut dalam. "Kau cerdas Sehun tapi aku tidak menyangka vampire yang sangat cerdas sepertimu bisa mengucapkan sesuatu yang sangat bodoh. Jika kau tidak tertembak lalu jas ini milik siapa? Milik vampire lain?" tangan kanan Jongin menekan lubang pada jas Sehun. Kedua matanya membola. Dengan cepat Jongin menarik tangannya mengambil belati yang ia simpan dengan baik.

Tidak ada luka dan tidak ada darah yang tercipta dari goresan pada pergelangan tangan kiri Sehun. Jongin menyimpan kembali belatinya dan melangkah mundur. "Kau siapa Sehun? Jika kau vampire, perak pasti melukaimu."

"Aku vampire. Itu yang aku ketahui."

Tatapan mata Jongin masih tak mempercayai setiap kata yang keluar dari bibir tipis Sehun. Dan Jongin masih melangkah mundur, menjauhi Sehun. Sementara Sehun terus bergerak maju mendekati Jongin. "Berhentilah atau aku akan menyerangmu Sehun." Jongin mencoba memberi peringatan, meski ia sendiri tidak yakin jika Sehun menyerang apa dia sanggup untuk membalas. Dengan cepat tangan kanan Sehun menarik lengan kiri Jongin, mendekap tubuh Jongin tanpa perlawanan. "Apa ini rencanamu Sehun? Membuatku terjerat, melemahkan aku, lalu menghancurkan aku." Jongin berbisik lemah.

"Tidak, aku tidak akan melukaimu aku tidak akan mengkhianatimu percayalah padaku Jongin."

"Luhan. Semua ini demi Luhan kan?" Sehun tak menjawab pertanyaan Jongin sebaliknya ia melepaskan pelukannya dari Jongin. Tangan kirinya bergerak pelan merogoh saku jasnya. Mengeluarkan kalung emas dengan bandul oval. Bandul dengan ukiran naga dan bulan. Sehun menarik tangan kanan Jongin, sekali lagi tanpa perlawanan meletakkan kalung itu di atas telapak tangan kanan Jongin.

"Untukmu, kau memiliki seluruh vampire yang bergabung denganku. Jika aku berkhianat mereka semua milikmu, aku tidak bisa menuntutmu untuk percaya padaku sementara aku tidak bisa mengungkapkan semua kebenaran padamu. Tidak untuk saat ini."

"Kapan?" Jongin bertanya dengan sangat pelan dan Sehun hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Beri aku kepastian." Ucap Jongin sambil menahan lengan kanan Sehun yang berniat untuk memunggunginya.

"Saat waktunya tepat."

"Bersabarlah Jongin aku akan membangunkan yang lain."

"Apa aku bisa mempercayaimu?"

"Aku tidak memaksamu untuk percaya." Setelah sesaat Jongin melepaskan genggaman tangannya dari lengan kanan Sehun, membiarkannya pergi. Jongin menggeser tubuhnya memperhatikan Kyungsoo dan yang lainnya mulai terbangun.

"Wah badainya sudah berhenti!" seperti biasa Taemin memekik ceria seolah semua perjalanan berbahaya ini adalah petualangan yang menakjubkan baginya. Jongin melirik Kyungsoo yang kini juga tengah menatapnya. Jongin tersenyum tipis sebelum memutuskan untuk keluar dari goa dan memanggil semua serigala yang akan membawa mereka ke desa ketiga.

"Serigalanya sudah siap!" Jongin berteriak pada Kyungsoo, Minho, dan Taemin. Dilihatnya Kyungsoo berlari ke arahnya. Jongin cukup bingung dengan tindakan kakaknya itu. "Ada apa Hyung? Masih takut dengan serigala?" canda Jongin. Kyungsoo menggelengkan kepalanya cepat.

"Kau seperti memikirkan sesuatu? Ada yang mengganggumu?"

Jongin tersenyum miring. "Ada banyak hal yang menggangguku."

"Mau berbagi?"

"Tidak." Jongin menjawab singkat sebelum melompat menaiki punggung serigala putihnya. "Ayo, waktu kita semakin berkurang setiap detiknya." Saat serigala yang membawa Sehun melewati Jongin, keduanya bertatapan cukup lama. Sehun tersenyum tipis pada Jongin. "Kau tidak memaksaku untuk percaya, baiklah aku tidak akan percaya padamu Sehun. Tidak ada seorangpun yang bisa dipercaya di dunia busuk ini." Jongin berbisik pelan namun setiap kata yang ia ucapkan terdengar sangat jelas pada kedua telinga Sehun. Dan Jongin tidak peduli dengan tatapan menyedihkan Sehun, sejak awal, pertemuannya dengan Sehun adalah kesalahan dan Jongin menyesali hal itu, dia juga menyesal sempat terpesona pada vampire penipu macam Sehun.

Jongin menundukkan badannya berbisik pada telinga serigala putih yang ia naiki. "Antarkan aku ke desa ketiga."

"Saya sudah mengetahuinya Tuan."

"Kita berjalan di depan dan berhenti di hadapan Sehun."

"Baik Tuan."

Serigala putih berlari cepat mendahului serigala yang Sehun naiki kemudian berhenti dan memotong jalan untuk Sehun. Tatapan penuh kebingungan Sehun lemparkan. "Kau menyerahkan pasukan vampiremu untukku, pemimpinnya aku, kau jangan macam-macam dan jangan mencoba untuk memerintahku." Keduanya hanya bertukar pandang selama beberapa detik sebelum Jongin memerintahkan serigalanya untuk berlari mendahului yang lain.

.

.

.

Desa ketiga adalah desa pengrajin dan penghasil emas. Aroma bahan kimia pengurai emas tercium kuat di udara. Jongin menoleh ke belakang berharap Kyungsoo dan yang lainnya tak pusing dengan aroma kuat memuakkan ini. Jongin melompat turun dari serigalanya. "Kalian bawa ketiga manusia itu cukup jauh ke dalam hutan hingga aroma ini tak tercium dan jaga mereka." Sehun tak mengatakan apapun dan Jongin menganggap itu sebagai persetujuan. "Kalian akan baik-baik saja." Jongin menjawab tatapan penuh kecemasan yang Kyungsoo, Minho, dan Taemin lemparkan padanya. Jongin memutar tubuhnya dengan cepat melangkah keluar dari hutan meninggalkan Sehun yang masih duduk di atas punggung serigala.

"Jongin!" Sehun mampu menyusul langkah kaki Jongin dengan cepat.

"Langsung pergi menemui penangggungjawab desa. Ahhh…., aku rasa kali inipun kau sudah membereskan semuanya." Sehun tak menjawab dan hal itu meyakinkan Jongin akan dugaannya. "Terimakasih sudah memperingan pekerjaanku Sehun." Jongin berucap dingin.

Keadaan di desa ketiga lebih memprihatinkan dari desa kedua dan desa yang Jongin tinggali. Semua penduduk terlihat kurus kering dan lusuh, anak-anak dengan pakaian seadanya berkeliaran, sesekali terbatuk, paru-paru mereka pasti terganggu dengan semua bahan kimia. Kulit-kulit yang nampak tidak sehat dengan benjolan-benjolan terlihat jelas dalam berbagai ukuran. Jongin mengepalkan kedua telapak tangannya mempercepat langkah kakinya. Dadanya tertekan dengan kuat. Selain semua keprihatinan yang Jongin saksikan hal berbeda dari desa ini adalah semua tatapan yang ditujukan padanya dan Sehun, bukanlah tatapan penuh kecurigaan, sebaliknya, tatapan penuh pengharapan.

Langkah kaki Jongin terhenti karena seorang pemuda yang seolah menyambut kedatangannya. Berdiri di depan bangunan yang nampak paling layak untuk dihuni. "Taehyung, penanggungjawab desa." Sehun berucap pelan Jongin berpura-pura acuh. Ia masih terpaku kala Sehun berjalan cepat menghampiri pemuda kurus yang terlihat tampan dengan kulit yang tampak lebih baik dari kulit penduduk desa lainnya. Sehun memeluk pemuda itu dan Jongin hanya bisa tersenyum miring. Sehun menoleh ke belakang mengisyaratkan kepada Jongin untuk bergegas menyusulnya. Jongin menurut.

Udara di dalam bangunan terasa panas menyiksa dan berdebu. Hampir tidak ada perabotan di dalam. Hanya meja berukuran sedang dan dua kursi kayu panjang yang terlihat rapuh. Sehun dan Jongin menolak untuk duduk, kursi kayu itu pasti akan runtuh di bawah berat badan mereka bertiga. Jongin menoleh ke arah pintu mendengar suara langkah kaki yang lebih dari satu orang. "Mereka sudah datang." Ucap Taehyung.

Jongin menatap lurus ke depan mengabaikan degupan jantungnya yang berbahaya. Menahan keinginan untuk memindah-mindahkan berat tubuhnya dari kaki kanan ke kaki kiri. Ia mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan oleh Sehun dan keempat orang lainnya atau lebih tepat dua manusia dan dua vampire di dalam ruangan. Rencana Thorn, ancaman Kris, apa yang terjadi di desa pertama, serta sedikit informasi tentang dirinya, tentang Jongin. Sehun tak menyebut soal Nemesis.

"Baiklah kalian bisa tinggal dan beristirahat, saat matahari tenggelam kalian bisa melanjutkan perjalanan." Jongin ingin menolak melihat Sehun menganggukkan kepalanya, apa Sehun tidak jelas mendengar yang ia katakan tadi. Tentang siapa pemimpin dari gerakan pemberontakan ini.

Taehyung melangkah keluar diikuti oleh semua yang ada di dalam bangunan panas itu. Jongin memberi jarak dari Sehun ia tak ingin berdekatan dengan Sehun entah karena apa sekarang ia tak nyaman berada di dekat Sehun. Ketiganya berjalan cukup jauh ke belakang meninggalkan bangunan utama. Tanah tandus membuat setiap langkah kaki menciptakan debu. Mereka sampai di sebuah bangunan kecil yang terbuat dari beton. "Maaf tempat itu mungkin tak layah huni."

"Tidak masalah." Jongin membalas kalimat Taehyung.

"Istirahatlah aku akan kembali satu jam lagi untuk mengantar makan siang."

"Terimakasih, tapi kau tidak perlu melakukannya. Kami akan baik-baik saja tanpa makanan." Jongin melempar senyum manis terbaiknya. Tatapan Taehyung justru terlihat tidak senang.

"Kami akan menunggu kedatanganmu, maafkan ucapan temanku Taehyung." Jongin ingin memperotes kalimat Sehun namun tatapan Sehun terlihat memperingati, membuat Jongin terdiam. Taehyung mengangguk pelan kemudian berbalik dan berjalan pergi.

"Jangan menolak apapun yang mereka tawarkan, itu akan menyinggung perasaan mereka." Sehun berucap seolah bisa membaca apa yang ada di dalam benak Jongin. Atau mungkin Sehun benar-benar memiliki kemampuan untuk membaca pikiran semua orang.

"Kenapa?"

"Mereka akan tersinggung, itu saja."

"Bukankah mereka sendiri kekurangan?"

"Justru karena itu, menolak pemberian berarti mengasihani. Dan seluruh manusia yang tinggal di desa ini benci mendapat belas kasihan." Sehun memutar tubuhnya menatap wajah Jongin lekat. "Karena itu aku diam saat kau menyuruh para serigala itu menjaga Kyungsoo, Taemin, dan Minho di dalam hutan. Aku yakin mereka tidak akan sanggup memakan makanan yang dihidangkan di tempat ini."

"Hmmm." Jongin menggumam pelan, sebagian dari dirinya memuji Sehun namun sebagian yang lain dari dirinya tak ingin mengakui semua itu. Sehun adalah vampire yang penuh dengan rahasia dan Jongin yakin Sehun harus diwaspadai.

"Sebaiknya kita masuk jangan sampai saat Taehyung kembali kita masih berdiri di sini….,"

"Menyinggung lagi?" Jongin memotong kalimat Sehun dengan kalimat main-main.

"Iya. Dan ini masalah serius di sini Jongin jangan meremehkan setiap hal kecil. Belajarlah untuk menghargai semua hal yang kau temui."

"Siapa kau yang mengajariku tentang masalah menghargai? Kau itu hanya vampire haus darah dan pembunuh berdarah dingin." Jongin menunggu untuk mendengar balasan atau hinaan dari Sehun, namun vampire pucat itu tak mengatakan apa-apa. Jongin mendengus kemudian memutar tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan Sehun.

Hal pertama yang Jongin lihat setelah mendorong pintu adalah tumpukan jerami dan beberapa ekor tikus berukuran cukup besar berlari menghindari cahaya. Aroma pengap langsung tercium kuat. Jongin melangkah masuk, tidak buruk, tidak ada yang buruk, semua orang hidup dalam kekurangan. Jongin mendudukkan dirinya pada salah satu tumpukan jerami terbanyak. Sementara Sehun menutup pintu, tidak rapat, menyisakan sedikit jarak agar Taehyung masuk dengan mudah nanti. "Semua penduduk desa akan berperang bersama kita kecuali anak-anak yang terlalu kecil untuk memegang senjata." Jongin tak menanggapi karena ia yakin Sehun masih akan melanjutkan kalimatnya. "Semua bahan kimia yang digunakan di tambang, memperpendek harapan hidup mereka." Sehun memutar tubuhnya menatap Jongin dan Jongin membalas tatapan itu. "Mereka yang ada di sini sekarat Jongin."

"Jika mereka sekarat kenapa mereka bersedia untuk berperang? Apa mereka putus asa? Karena akhirnya sama saja, mati."

"Bukan karena putus asa. Mereka ingin mati dengan cara terhormat."

Jongin berdiri dari tumpukan jerami. "Kau sudah melakukan sampai sejauh ini Sehun. Bahkan sebelum kita bertemu, kau tidak percaya pada Nemesis. Semua ini untuk balas dendam atas kematian Luhan hyung."

"Sekarang bukan seperti itu lagi Jongin, aku melihat sesuatu yang lebih besar dibanding balas dendam atas kematian Luhan."

Jongin tersenyum meremehkan. "Dan kau pikir aku percaya?"

"Aku tidak memaksamu untuk percaya."

"Aku tidak akan mempercayaimu." Jongin melangkah mendekati Sehun dengan tangan kanan memegang belati, ia arahkan belati itu tepat di bawah jakun menonjol milik Sehun. "Perak tidak bisa melukaimu, apa kau bersedia mengatakan padaku bagaimana cara membunuhmu? Aku hanya berpikir yang terburuk, jika kau berkhianat dan memutuskan untuk berseberangan denganku. Aku bisa melenyapkanmu bersama para vampire menjijikkan itu."

Sehun melirik ke bawah, mengamati tangan kiri Jongin perlahan tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan kiri Jongin. Ia bisa merasakan penolakan Jongin namun itu ia abaikan. Kuku Jongin yang mulai panjang ia goreskan pada lengan kanannya. Jongin melihat hal itu, penolakan yang tadi ingin ia lakukan menghilang seketika melihat darah segar mengalir dari kulit Sehun yang terbuka karena goresan kukunya. "Tanganmu sendiri yang bisa membunuhku." Ucap Sehun.

CLANG! Jongin menjatuhkan belatinya dan BUAGH! Ia layangkan pukulan keras pada rahang kiri Sehun. Membuat vampire itu terhuyung ke belakang membentur dinding beton. "Jangan membuatku terpesona Sehun, aku tahu ini rencanamu. Karena aku hanya bayangan Luhan hyung bagimu." Sehun tersenyum miring sementara Jongin memilih untuk meninggalkan Sehun bahkan tanpa menunggu hingga vampire pucat itu berhasil menegakkan tubuhnya kembali.

Sehun mendudukkan tubuhnya pada tumpukan jerami. Penolakan Jongin, dan kepercayaan yang hilang dari Jongin membuatnya merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah menghampirinya. Rasa rindu yang putus asa, dan Sehun merasa seolah paru-parunya tak sanggup menghirup oksigen meski pada kenyataannya ia tak membutuhkan asupan oksigen sama sekali. Karena vampire tak ubahnya mayat hidup.

Jongin tanpa sadar berlari cukup jauh dari bangunan tempatnya dan Sehun berada. Kedua matanya terasa panas, ia mati-matian menahan air mata konyol yang sebentar lagi akan mengalir jika pertahanannya runtuh. Memukul dan menolak Sehun seperti itu membuatnya tercabik, perasaan yang sama sekali tidak ia mengerti. Satu hal yang ia ketahui Sehun membuatnya terpesona dan dirinya akan berusaha keras untuk membunuh perasaan simpati tidak penting itu. Simpati yang mungkin akan membawa pada kehancuran yang lebih buruk dari tirani vampire saat ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Jongin memutar tubuhnya cepat dan berhadapan dengan pemuda asing berambut pirang hampir mendekati putih. Bukan Taehyung.

"Berjalan-jalan."

"Siapa yang mengizinkanmu untuk tidak bekerja? Kembalilah ke tambang sebelum kau mendapat hukuman."

"Maaf." Jongin berucap cepat kemudian membungkukkan badannya dan pergi sebelum masalah lain datang.

"Dia manis juga." Kalimat itu menghentikan langkah kaki Jongin ia menoleh ke belakang, tiga vampire rendahan suruhan kerajaan. Vampire menjijikkan. Bukan masalah ia bisa melenyapkan ketiga vampire itu dengan mudah, mencabik tubuh mereka.

"Jangan mendekatinya." Itu suara Sehun dan bukannya terancam ketiga vampire rendahan itu justru tertawa dengan suara tawa yang menjengkelkan.

"Lihat siapa yang ada di sini? Tuan Sehun yang terhormat, pengkhianat kerajaan, pangeran yang melarikan diri." Kening Jongin berkerut, ia tahu jika Sehun adalah vampire bangsawan, pangeran? Sehun seorang pangeran, dia memiliki hubungan darah dengan Kris?

"Kalian meracau." Sehun berucap dingin.

Ketiga vampire itu semakin keras tertawa. "Kita lihat apakah vampire bangsawan yang keluar dari sarang masih ganas."

Jongin merasakan perubahan energi yang kuat. Tangan kanannya memegang kedua pundak pemuda yang tadi mengiranya sebagai salah satu penduduk memutar tubuh pemuda itu agar memunggungi Sehun. "Ada apa?" pemuda itu benar-benar kebingungan.

"Kau tidak akan mau melihatnya. Apa kau bisa pergi dari sini dengan jalan lain?" pemuda itu mengangguk pelan. "Pergilah." Jongin berucap singkat sembari mendorong punggung pemuda di depannya dengan lembut. Jongin memutar tubuhnya dan melihat ketiga vampire itu tengah berlutut dan mengerang kesakitan, memegangi kepala mereka masing-masing. "Jangan membunuh mereka itu akan berbahaya untuk keberadaan kita." Sehun hanya memutar tubuhnya tanpa mengatakan apapun.

"Kita pergi ke desa selanjutnya sekarang."

"Kenapa tiba-tiba seperti ini?"

"Aku sudah berbicara dengan Taehyung, ayo. Waktu kita semakin sempit. Kerajaan tidak akan menepati janji mereka memberi waktu tiga puluh hari." Jongin memutuskan untuk melangkahkan kedua kakinya mengikuti Sehun. KRAK! Suara retakan terdengar jelas, Jongin menoleh ke belakang melihat ketiga vampire itu tersungkur di atas tanah berdebu dengan kepala terbelah.

"Kenapa membunuh mereka? Bukannya ini akan berbahaya? Pihak kerajaan akan curiga."

"Aku tidak membunuh mereka."

Kening Jongin berkerut dalam. "Berhenti bercanda Sehun, itu tidak lucu."

"Aku tidak bercanda kaulah yang membunuh mereka."

"Aku tidak melakukan apa-apa!" Jongin berteriak kesal.

"Mereka menggodamu, berharap bisa menyentuhmu, dan kau tidak menyukai tindakan mereka. Tubuhmu melakukan pertahanan diri yang bahkan tidak kau sadari." Sehun menjelaskan tanpa sedikitpun memperlambat langkah kakinya atau menolehkan kepalanya ke belakang, hanya untuk sekedar menatap Jongin.

"Sehun apa aku benar-benar Nemesis?" beruntung pertanyaan itu Jongin ungkapkan setelah dirinya dan Sehun berada beberapa ratus meter di dalam hutan.

"Lavender dan bulan merah darah." Jongin hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya tidak mengerti dengan kalimat yang Sehun ucapkan. "Aku pernah membaca perkamen tua tentang Nemesis sebelum dihancurkan, lavender dan bulan merah darah adalah pertanda jika dia seorang Nemesis."

"Aku? Apa hubungannya dengan lavender dan bulan merah darah, aku tidak bisa menanam lavender dan aku tidak tahu kapan bulan merah darah akan terlihat."

"Kau bisa melukai kulitku dengan mudah kau pasti Nemesis Jongin, kurasa kau tidak perlu membawa belati perak kau bisa membunuh vampire dengan mudah kau dirancang untuk membunuh vampire. Belatimu."

Kalimat Sehun membuat bulu roma Jongin meremang, dirancang untuk membunuh, Jongin tidak menyukai kalimat itu. "Aku bukan mesin pembunuh Sehun." Ucapnya sambil menerima belati yang ia lempar tadi dari tangan Sehun.

"Maaf jika kalimatku tidak sesuai." Sehun tersenyum tulus.

"Perak adalah musuh vampire dan kau baik-baik saja dengan perak, berarti kau bukan vampire tapi kau memiliki ciri-ciri seperti vampire. Aku memiliki ciri-ciri seperti manusia, tapi aku bukan manusia, juga bukan vampire." Jongin lantas terdiam untuk beberapa saat merasa bingung sendiri dengan kalimatnya. Sehun masih memperhatikan Jongin menunggu apapun kata yang ingin Jongin ucapkan. "Apa kau juga Nemesis sepertiku?"

Sehun tertawa pelan. "Kurasa bukan."

"Tapi kau bukan vampire juga bukan manusia, lalu kau apa? Aku hanya bisa berpikir jika kau adalah Nemesis kita berdua sama."

"Bukan Jongin. Aku membutuhkan darah aku ini vampire, hanya sedikit berbeda itu saja."

"Kau lebih kuat daripada vampire yang lain? Perak tidak melukaimu, meski kau berkata jika sinar matahari melemahkanmu kau sama sekali tidak lemah Sehun. Aku bisa merasakannya setiap perubahan energi dari tubuhmu saat kau bertarung atau perubahan suasana hatimu. Samar-samar, tidak tampak jelas. Sesuatu yang samar bukan berarti lemah bisa saja sebaliknya, kau sangat kuat sampai aku tidak bisa dengan jelas merasakan energimu Sehun."

"Sebaiknya kita bergegas memasuki hutan."

"Kau tidak haus? Kurasa sekarang sudah waktunya kau untuk meminum darah, Sehun."

"Aku belum haus." Sehun membalas dengan penuh keyakinan. Ia mempercepat langkah kakinya mendahului Jongin sebelum anak laki-laki itu melemparkan lebih banyak ucapan merepotkan.

Sehun dan Jongin berjalan mengikuti aroma tubuh Kyungsoo, Taemin, dan Minho, itu bukan hal yang sulit untuk keduanya. Melewati pepohonan raksasa yang sekarang sudah akrab bagi Jongin. Tidak lama untuk keduanya menemukan Kyungsoo, Taemin, dan Minho yang duduk di bawah pohon raksasa. Keempat serigala raksasa itu menjaga ketiganya dengan baik, duduk menurut seperti anjing peliharaan. Ketiganya juga terlihat sedang memanggang ikan.

"Jongin ayo makan!" Kyungsoo berteriak bahagia. Jongin tersenyum kemudian berlari menghampiri teman-temannya melupakan Sehun.

"Darimana semua ikan ini Hyung?"

"Sungai, serigala putih itu membantu kami menangkap ikan di sungai, dia sangat hebat hanya sebentar saja cakarnya terbenam di dalam sungai lalu ikan-ikan sudah dia dapat." Taemin memberi penjelasan dengan penuh antusias. Jongin tersenyum lebar kemudian duduk di hadapan ketiga teman-temannya. Tangan kanannya bergerak untuk menarik daging ikan yang masih diletakkan di atas api unggun.

Sehun duduk mengambil jarak, punggungnya ia sandarkan pada sisi kanan tubuh serigala abu-abu. "Ada yang mengganggu Anda Tuan?" Sehun hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian tidak ada pertanyaan lagi dari serigala abu-abu yang tubuhnya ia gunakan untuk sandaran. Mengamati anggrek-anggrek hutan yang menempel pada batang-batang pohon. Sehun mengamati kebersamaan Jongin dengan teman-temannya, perang akan menghilangkan semua kebersamaan itu. Namun, sesuatu yang besar membutuhkan usaha dan pengorbanan yang besar pula. "Jongin." Jongin masih mengacuhkan Sehun. "Jongin." Sehun mengulangi panggilannya dengan sabar menghadapi sikap Jongin.

"Ya." Jongin pada akhirnya menjawab dia bahkan berdiri dari duduknya dan menatap Sehun.

"Aku berpikir untuk mempercepat semua ini kita harus berpisah."

"Apa?" Jongin tidak percaya dengan apa yang Sehun ucapkan.

"Ya, berpisah kau pergi ke desa keempat dan kelima, aku pergi ke desa keenam dan ketujuh, kita bertemu di desa ketujuh lalu bersama-sama kembali kedesamu."

Jongin ingin menjawab memberi penolakan dengan sedikit alasan, bukankah aneh beberapa saat yang lalu ia ingin Sehun pergi jauh darinya. Sekarang, ia tidak ingin vampire pucat itu pergi menjauhinya bahkan jika itu hanya satu langkah saja. "Itu ide bagus." Persetujuan yang keluar dari bibir Minho menghancurkan semua kalimat protes yang ingin Jongin utarakan.

"Penanggungjawab desa keempat bernama Jongdae dan penanggung jawab desa kelima bernama Jiyoung, tunjukkan kalung yang aku berikan padamu mereka semua akan paham. Mereka tahu apa yang harus dilakukan." Sehun tak menunggu reaksi Jongin ia menepuk pelan lengan kanan Jongin sebelum melompat menaiki punggung serigala merah. "Aku akan pergi sekarang, sampai bertemu di desa terakhir Jongin."

Serigala merah yang Sehun naiki melesat cepat menghilang di dalam lebatnya hutan. "Wah aku tidak memperhatikan jika di sini ada banyak anggrek!" suara cempreng Taemin memecah kesunyian. "Bagaimana jika kita mengambil sedikit lalu menamnya di dalam pot saat kembali ke desa."

"Jongin, kau tidak ingin makan ikan lagi? Masih ada banyak sisa di sini." Suara Kyungsoo menarik Jongin kembali pada kenyataan.

"Aku sudah kenyang Hyung apa Kyungsoo hyung punya minuman?" Kyungsoo mengangguk pelan kemudian membongkar ranselnya dan melemparkan botol air minum kepada Jongin. Botol air minum itu Jongin tangkap dengan sempurna tanpa menunggu lagi Jongin menenggak air minum di dalam botol.

"Kau tidak ingin Sehun pergi?" Jongin hampir tersedak dengan pertanyaan Kyungsoo namun ia cukup hebat dalam mengontrol diri. Jongin meneruskan meminum airnya dengan tenang.

"Kita akan pergi ke desa keempat jika acara makan ikan kalian sudah selesai."

"Kenapa nada bicaramu jadi dingin Jongin?!" protes Taemin yang dihadiahi oleh lirikan tajam Kyungsoo dan Minho.

"Kita tidak boleh membuang waktu." Ucap Minho mencoba menjawab pertanyaan Taemin sekaligus menghentikan protes Taemin sementara Kyungsoo hanya menatap Jongin tanpa ada niatan untuk mengucapkan sepatah kata sekalipun.

TBC

Terimakasih untuk seluruh pembaca yang sudah membaca cerita saya. Terimakasih review kalian NishiMala, jongkalee, Athiyyah417, sukmawindia, mawar, Park Rinhyun Uchiha, ucinaze, nnxiu94, cute, kimkai88, kaila, fiaPCY, HK, Narundana, rofi mvpshawol, BabyCevy67, Oh Kins, chocomilkfaza, saya sayya, Kim Jongin Kai, ulfah cuittybeams, novisaputri09, KaiNieris, diannurmayasari15, geash, tobanga garry, Lizz Liel Lawliet, sejin kimkai. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.