Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Love So Sweet
by Rin Shouta
Rate : T
Genre : R
omance, Friendship, Drama, Angst

Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fem!Fuji Syusuke aka Fuji Syuko)

Warning : Gender bender. AU (Little Canon), OOC, typos, etc. Niatnya ingin buat yang manis-manis saja, tapi who know? :) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?


#10 Second Year JHS; Comforting


Hujan rintik-rintik kembali membasahi tanah ketika Fuji ingin pulang ke rumahnya. Ayana menyuruh anak kesayangannya untuk mengantar gadis manis itu yang tentunya langsung di'iya'kan oleh Tezuka. Fuji sempat menolak tawaran tersebut, namun Ayana tetap memaksa. Akhirnya kedua remaja itu menurut.

Dalam diam mereka jalan beriringan di bawah payung besar berwarna biru tua. Fuji tersenyum tipis. Ia jadi teringat kejadian sebelum dirinya berlibur ke Chiba. Saat itu mereka juga sepayung berdua... dan bergandengan tangan.

Rasanya malu juga kalau mengingatnya, pikir sang gadis.

"Bagaimana liburanmu di Chiba?" tanya Tezuka tiba-tiba.

"Menyenangkan! Pantainya semakin ramai karena sebentar lagi akan ada Surfing Carnival," jawab Fuji dengan ekspresi penasaran karena tidak biasanya Tezuka yang mengawali pembicaraan. Ia menengok ke arah pemuda tersebut yang ternyata sudah sibuk memperhatikan dirinya sejak tadi. Lidahnya mendadak kelu, diikuti rasa hangat menjalar ke pipi.

"Oh."

"Ya..."

Entah kenapa Tezuka tetap menatapnya intens. Fuji jadi sedikit salah tingkah dan perlahan mengalihkan pandangan ke arah yang lain. Apapun itu, asalkan bukan ke arah Tezuka. Mungkin sadar jika Fuji merasa risih, pemuda stoik tersebut kembali memandang jalanan di depannya. Diam-diam ia menghela napas lega.

Mereka terus berjalan menuju kediaman rumah keluarga Fuji tanpa mengucapkan sepatah kata. Awalnya keheningan tersebut terasa canggung. Dalam hati Fuji tidak suka dengan kecanggungan di antara mereka seolah mereka baru saling mengenal kemarin dan sekarang malah saling lupa nama. Ia juga ingin terus mendengar suara berat Tezuka yang kata banyak orang terdengar seksi. Tak ingin larut dalam kecanggungan, Fuji pun memilih untuk mengikis jarak sehingga bahunya sempat bersentuhan dengan bahu Tezuka.

Sekilas bola mata birunya melihat tangan kiri pemuda itu mengeratkan pegangannya pada payung. Aura biru gelap milik Tezuka terlihat menggelap. Tubuh Fuji sontak merinding.

Apa aku salah langkah?

"Fuji-san, sudah sampai."

Gadis itu mengerjap berulang kali ketika melihat gerbang rumahnya berada tepat di depannya. Ia masih terkena efek perubahan drastis yang terjadi pada aura Tezuka. Meski aura tersebut sudah kembali seperti semula sekarang.

"Ya. Terima kasih sudah mengantarku, Tezuka-kun," ucap Fuji setelah tertawa paksa dan terdengar kelelahan.

Kedua alis Tezuka terlihat mengernyit. "Apa kau tidak apa-apa?"

Perlahan getaran tubuhnya mulai menghilang. Fuji menarik napas lalu mendongak. Mulutnya terkatup rapat karena terlalu kaget dengan jarak di antara tubuh dan wajah mereka yang tak lebih dari sepuluh centi meter.

"Fuji-san..." Wajah Tezuka mendekat.

Tangan kiri Fuji meraih gerbang, bermaksud mencari sandaran supaya tubuhnya tidak jatuh karena kehilangan tenaga. Ia pun mundur selangkah sambil menunduk. Tanpa menyadari tatapan Tezuka yang terlihat sakit hati dengan tindakannya barusan.

Sebelum membuka pagar, Fuji berusaha untuk tidak lari. Kepalanya kembali terangkat lalu termenung. Ia sempat melihat ekspresi sedih di wajah Tezuka. Samar-samar terdengar suara asing yang menyuruhnya mendekat. Tubuhnya menuruti suara tersebut, namun Fuji tidak melakukan apa-apa.

Fuji hanya tersenyum tipis dan memberikan tatapan lembut pada Tezuka. "Ja, mata ashita."

"...aa. Mata ashita."

Tubuh Fuji berbalik membelakangi Tezuka dan membuka gerbang. Saat kaki kanannya mengambil langkah masuk ke area halaman rumahnya, sepasang tangan melingkar di sekitar lengan atas Fuji. Gadis itu merasa geli karena rambut cokelat gelap milik Tezuka menyentuh pipi dan area sensitif sekitar bawah telinga sampai lehernya. Belum lagi embusan napas pemuda itu mengenai punggungnya.

"T-Tezuka-kun?" panggil Fuji yang gagal menutupi rasa gugup dan panik.

Pelukan sepihak itu mengerat. "Fuji..."

...oh, begitu ya. Maaf, aku tidak menyadarinya lebih cepat, Tezuka.

Beberapa detik kemudian, tubuh Fuji bergetar. Suara tawa lembut terdengar kemudian. Kedua tangannya menyentuh tangan yang melingkar di sekitar atas dadanya. Ia menengok ke kanan sambil sedikit bersandar pada dada Tezuka. Senyum bahagia terlihat di wajah Fuji.

"Untuk pertama kalinya kau memanggilku tanpa suffix-'san'," ucap gadis itu.

Tezuka tidak membalas. Ia kembali mengeratkan pelukannya sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu.

"Apa kau mau memanggilku 'Syuko', Kunimitsu?"

Sesaat tubuh Tezuka mematung sebelum berbisik memanggil nama Fuji. "Syuko..."

Tidak mampu menahan rasa bahagianya lagi, Fuji pun melepas pelukan Tezuka dan berbalik memeluk leher pemuda tersebut. "I miss you," bisiknya. Air mata mulai berkumpul di ujung matanya ketika tangan Tezuka melingkar di sekitar pinggangnya.

"I miss you, too."


Love So Sweet


Turnamen Kantou tinggal dua putaran, yaitu semi final dan final. Jika berhasil menjadi juara, maka kesempatan untuk ikut bertanding di turnamen nasional bukanlah sebuah impian lagi. Tahun ini tim Seigaku, baik tim putra dan putri berhasil masuk empat besar. Ryuzaki Sumire tersenyum puas melihat papan skor. 40-30 dengan games 6-5.

"Sepertinya tiket menuju putaran final berhasil diamankan ya, Sensei?"

Ryuzaki menatap Nishimura Riko sebentar kemudian mengangguk.

"Meski begitu, aku tidak menyangka Fuji-chan sekuat ini," gumam sang Ketua klub tenis putri.

Di hadapan mereka, berdiri seorang gadis cantik dengan raket biru muda di tangan kanannya. Ia tampak terengah-engah lalu bersiap menerima servis dari pihak lawan. Kali ini Ketua klub tenis putri dari Rikkaidai Fuzoku menjadi lawan main Fuji Syuko di Single 1.

"Aku berharap banyak pada tim putri kali ini, Nishimura," ucap Ryuzaki.

Kedua tangan Nishimura terkepal. "Aa."

"Tahun ini pun Seigaku masih belum bisa menandingi Hyoutei Gakuen."

"Tapi tim putra sudah berjuang keras, Sensei."

Ryuzaki tersenyum. Ia paham kalau gadis di sampingnya ini ikut merasa kesal atas kekalahan yang dialami tim putra Seigaku. Bagaimanapun juga mereka sudah berjuang bersama sampai sejauh ini. Wakamatsu Rei tidak menyerah sampai detik terakhir dan kalah dalam tie break melawan Atobe Keigo, Ketua klub tenis Hyoutei Gakuen yang ternyata masih murid tingkat dua. Bagi Ryuzaki tak ada yang lebih membanggakan dari melihat kegigihan anak didiknya, meskipun mereka kalah.

Terdengar sorakan nama Seigaku dari penjuru lapangan pertandingan. Fuji berhasil menang dan membawa tim Seigaku melaju ke putaran final. Semua anggota reguler masuk ke lapangan lalu memeluk heroine Seigaku di turnamen kali ini. Nishimura tersenyum setelah mendapat tepukan dari Ryuzaki, bermaksud menyuruhnya ikut bergabung dengan anggota yang lain.

Saat Nishimura mendekat, anggota yang lain memberi jalan. Fuji terlihat kelelahan, namun masih bisa tersenyum manis seperti biasa. Sang Ketua mengulurkan tangan kanan. Ekspresi Fuji terlihat kaget sekilas sebelum meraih tangan itu dan saling menggenggam erat.

"Otsukare, Fuji-chan. Kau membawa Seigaku ke putaran final. Arigatou."

Fuji menggeleng pelan. "Bukan hanya aku, tapi semua anggota dan orang-orang yang sudah mendukung kita yang membuat Seigaku menang."

Nishimura mengangguk dengan ekspresi bangga.

Lawan Fuji yang masih berdiri di sisi lain mendekat. "Fuji-san."

Baik Fuji maupun Nishimura menengok. Fuji melepas genggaman tangan sang Ketua lalu berjalan mendekati lawannya. Belum sempat berucap, tangan dari gadis di hadapannya terulur. Sebuah senyum tulus terlihat di wajahnya yang kelelahan.

"Kau menang. Kuharap kau dan Seigaku menjadi juara satu di turnamen ini," ucapnya.

"Arigatou." Fuji membalas uluran itu dan menggenggamnya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Kau hebat. Suatu kehormatan bisa bertanding melawanmu, Yukimura-san," ucap Fuji.

Gadis cantik bernama Yukimura itu tertawa lembut. "Kau juga hebat, Fuji-san. Kuharap kita bisa bertanding atau sekedar bermain tenis di lain kesempatan."

Kali ini Fuji mengangguk. Saat ia melepas genggaman tangan mereka, tiba-tiba tubuh Fuji hilang keseimbangan. Dengan cepat Nishimura menahan berat tubuhnya. Aku hampir mengeluarkan seluruh kekuatanku tadi, haha, pikir Fuji sambil berusaha tetap terjaga.

"Kau tidak apa-apa, Fuji-chan?" tanya Nishimura khawatir.

"Aa. Jangan cemas, Buchou."

Seluruh anggota reguler pun diminta berbaris untuk penutupan pertandingan semi final. Fuji dibantu oleh anggota yang lain untuk tetap berdiri di sana. Meski Yukimura adalah lawannya, tapi ekspresi gadis cantik itu tidak bisa ditutupi kalau ia khawatir dengan keadaan Fuji. Suasana haru menyelimuti sisi Seigaku, sementara di sisi lain tim Rikkaidai kehilangan semangat mereka. Ekspresi menyesal pun juga terlihat di wajah mereka.

"Dengan ini, pertandingan semi final Turnamen Kantou dimenangkan oleh Seishun Gakuen dan berhak melanjutkan ke final yang akan diselenggarakan hari Minggu besok."


Tezuka x Fem!Fuji


Fuji Syuko menaruh handuk putih di lehernya. Ia mengelap keringat di sekitar dahi lalu terdiam setelah mengingat sesuatu. Dilihatnya beberapa anggota klub sudah berjalan keluar lapangan bersama Pelatih mereka, namun sosok Nishimura Riko masih berdiri di dekatnya. Gadis berambut pirang itu tampak melamunkan sesuatu. Entah kenapa Fuji jadi memikirkan sosok Tezuka karena posenya Nishimura yang sedang menyilangkan kedua tangan di depan dada terlihat mirip dengan pemuda tersebut.

"Syuko..."

Dengan cepat ia menutupi sebagian wajah dengan handuk.

"Klub tenis putra..."

Mendengar Nishimura berucap sesuatu, Fuji langsung menengok.

"...gagal masuk final."

Napas Fuji terasa sesak. Gagal? Tezuka dan yang lain... gagal?

Nishimura tersenyum lemah. Ekspresinya benar-benar terpukul seolah dirinya yang kalah. Ia mendongak kemudian memejamkan kedua mata. "Padahal kupikir kita bisa berjuang bersama sampai akhir, membawa pulang dua piala sekaligus dan membuat mereka yang selalu menghina kita dengan sebutan sampah tidak berkutik..." lirihnya.

Gadis berambut cokelat pendek itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Yang terpikirkan di benaknya adalah bagaimana kondisi Tezuka dan adiknya yang baru pertama kali ikut bertanding secara resmi sebagai anggota reguler Seigaku sekarang.

"Wakamatsu... dan Tezuka-kun yang paling terpukul atas kekalahan kali ini."

"...di mana mereka?" tanya Fuji seraya memasukkan handuk serta botol minum ke dalam tas.

"Terakhir Ryuzaki-sensei bilang kalau mereka sudah pulang duluan," jawab Nishimura.

Fuji yang sudah bersiap pergi kini kembali terdiam. Tangan kanannya terkepal sebelum ia menunduk. Sebuah tepukan di bahu kirinya membuat gadis itu mendongak. Ketua klubnya tersenyum tipis.

"Tezuka-kun sedang menunggu Ibunya untuk diantar check up ke rumah sakit terdekat."


Perfect Pair


Sesuai dengan apa yang dikatakan Nishimura, sosok Tezuka Kunimitsu sedang terduduk di sebuah kursi panjang dekat pintu lapangan tempatnya bertanding tadi. Fuji memperhatikan bahunya yang terlihat tidak tegak seperti biasanya. Aura biru gelap di sekitar tubuh Tezuka juga berubah menjadi hitam. Rasa takut kembali menyerang Fuji. Ia jadi teringat kejadian setelah dirinya berkunjung ke rumah Tezuka untuk memberi oleh-oleh dari Chiba.

Kepalanya menggeleng pelan. Tidak perlu takut. Tezuka membutuhkanmu sekarang, Syuko.

Perlahan Fuji melangkah mendekat. Gadis itu duduk tepat di sisi kanan Tezuka, namun sosoknya tetap larut dalam pikirannya. Fuji tidak mengatakan apa-apa sampai Tezuka sendiri yang menyadari keberadaannya. Ia tahu kalau pemuda itu butuh waktu untuk sendiri, tapi Fuji juga tidak bisa membiarkannya terpuruk begitu saja.

"Tezuka-kun?" panggil Fuji pelan.

"...hm?" Tezuka menjawab, namun tak ada tanda-tanda ia ingin diajak bicara.

Fuji diam dengan kedua tangan saling terkepal di atas lutut. Sesekali ia melirik ke arah Tezuka lalu ikut menatap lapangan tenis yang sudah terlihat sepi. Matanya mengerjap beberapa kali. Gadis itu baru sadar kalau lapangan tenis ternyata lebih luas dari apa yang ia pikirkan.

Jadi, selama ini aku berlari mengejar bola kecil itu di lapangan seluas ini? Dan aku tidak merasa lelah meski bermain dua sampai tiga jam sehari? Menarik...

Tiba-tiba bahu kirinya terasa berat, diikuti rasa geli di sekitar perpotongan lehernya. Kepala Fuji menunduk. Bola mata birunya menatap tangan kanan Tezuka yang entah kenapa selalu sukses membuatnya ingin menyentuh tangan lentik itu. Setelah berusaha menahan diri, tangan kiri Fuji tetap bisa menemukan jalan untuk menyentuh tangan Tezuka. Belum sempat tangan mereka bersentuhan, Tezuka menjauhkan tangannya. Bibir Fuji mengerucut dan dengan cepat ikut menjauh sambil memalingkan wajah.

Tidak lama kemudian bahu Tezuka bergetar sedikit. Tangan kanannya menyentuh pergelangan tangan Fuji dan menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan gadis itu. Senyum tipis terlihat di wajah Tezuka. Ia menggenggam erat tangan mungil Fuji lalu meletakkannya di antara tubuh mereka. Sesekali ibu jari Tezuka mengusap pelan punggung tangannya.

Di sisi lain Fuji tetap memalingkan wajah dengan semburat merah di kedua pipinya. Gadis itu membalas genggaman tangan mereka sebelum menyandarkan kepalanya ke atas kepala Tezuka. Matanya terpejam sesaat, merasakan ketenangan di sekitar mereka.

"...sudah lebih baik?" tanya Fuji tanpa membuka mata.

"Aa. Terima kasih, Fuji-san."

Entah kenapa tubuh Tezuka merapat seolah mencari kehangatan dari tubuhnya. Fuji menggigit bibir bawah, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak kegirangan. Kenapa kamu jadi terlihat imut begini, Tezukaaaaa!? pikirnya.

"Fuji-san?" panggil Tezuka lirih.

"Hm? Apa?" tanya Fuji setelah berhasil menetralkan emosi dalam hatinya.

"Selamat atas kemenangan timmu."

"...arigatou, Tezuka-kun. Kau dan yang lain juga sudah berjuang keras."

Tezuka mengeratkan genggaman tangannya. "Walau tetap kalah, tapi aku tidak menyesal karena sudah berjuang sampai akhir," ucap pemuda itu dengan nada tegas.

Kali ini Fuji hanya mengangguk. Ia tahu Tezuka ingin berbagi cerita tentang perasaannya sekarang. Yang bisa dilakukannya hanya meminjamkan bahu dan telinga.

"Tapi..." Sekali lagi tubuh Tezuka merapat padanya.

"...tahun depan, kau dan anggota lainnya harus membalas kekalahan ini, Tezuka-kun. Sama-sama, kita akan menjadi nomor satu di Jepang. Nee?" Fuji mengayunkan kedua tangan mereka lalu dengan berani mencium punggung tangan pemuda di sampingnya itu.

Sekilas tubuh Tezuka menegang. Selang beberapa detik kemudian, ia membalas Fuji dengan mencium jari-jari tangannya. Terdengar suara tawa lembut dari gadis tersebut. Senyum tipis kembali terbentuk ketika ia merasakan bibir Fuji menyentuh puncak kepalanya. Dalam hati Tezuka merasa campur aduk. Dirinya ingin mendongak dan mengklaim bibir itu, namun di sisi lain ia takut tidak bisa mengontrol diri dan membuat Fuji takut seperti kejadian sebelumnya.

"Fuji-san..." Tezuka memanggil gadis itu dengan nada memperingati.

Lagi-lagi Fuji tertawa. "Semua akan baik-baik saja, Tezuka-kun."

Kedua mata Tezuka menyipit lalu menghela napas pasrah. "Aa."

To Be Continued

Akhirnya saya bisa update fanfic ini sebelum pergantian tahun... TAT YOKATTA!

Pas buat draft, sebenarnya ingin dibuat sedikit angst plus sweet romance, tapi diprogresnya malah jadi begini. (Emang dasarnya saya susah buat angst kalau lagi gak galau sih ya wwwww) Saya malah buat Fuji jadi takut dengan perubahan drastis Tezuka yang terlihat jadi lebih agresif, touchy feeling, dan sedikit manja (nunjuk scene terakhir). Tapi kalau saya di posisi Fuji, sejujurnya emang takut sih, apalagi orang pendiam kayak Tezuka terus auranya menggelap seolah sedang marah, padahal gak. Tezuka cuma gak mau dirinya kehilangan kesadaran dan malah nyerah Fuji. :') #hush

Oh iya, saya buat sedikit OMAKE 01. Hope you like it! XD Ke depannya mungkin (kalau ada ide jahil) saya buat OMAKE lagi, ahaha.

Thank you for visiting and reading this fanfic! XD Buat Anon-nim-san, terima kasih untuk review-nya! Gak nyangka ada yang hijrah ke sini setelah saya posting ver Inggrisnya. :') Syukurlah sweet moment nya terasa, hehe. Soal miss, akhir-akhir ini saya mikir kalau saya salah time line, terutama di turnamennya. TAT Sunmason! #bow

Yosh! Tahun depan (iya, saya bakal update lagi tahun 2018) chapter Seishun Bunkasai dimulai! Please wait patiently! XD

Bye, bye!

CHAU!


OMAKE 01


Fuji Yuuta mengernyit, berusaha memfokuskan pandangannya pada gerombolan anggota klub tenis putri. Dari ujung satu hingga ujung lainnya, dari depan barisan sampai akhir barisan, tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang yang sedari tadi ia tunggu. Gerombolan itu pun dibubarkan setelah Ketua klub memimpin yel-yel 'Seigaku! Ou!' atau semacamnya. Yuuta menghela napas dan bersiap mencari sang kakak untuk mengajaknya pulang bareng.

Baru dua langkah ia berjalan, seseorang memanggil namanya. Ketika tubuhnya berbalik, sosok Nishimura Riko sudah berdiri di tempat dirinya berdiri tadi. Di belakang sang Ketua, ada gadis berkacamata yang Yuuta kenali sebagai Wakil Ketua klub, Kawaguchi Mei. Ia berdecak kesal karena mengingat kejadian saat pertandingan rangking intraschool bulan lalu.

"Ternyata kau masih kesal dengan Kawaguchi-chan, ya?" ucap Nishimura mengawali pembicaraan.

"Sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?" balas Yuuta sarkastik.

Kawaguchi melotot. "Jaga bicaramu, Fuji Yuuta-kun."

"Maa, maa. Aku tidak bermaksud memprovokasi kalian, oke?"

"Lalu ada apa memanggilku, Nishimura-senpai?"

"Apa kau mencari Fuji-chan?"

Kedua mata Yuuta menyipit. "Di mana Aneki?"

Nishimura tersenyum manis. Sebaliknya, atmosfer di sekitar Kawaguchi terlihat menggelap. "Tadi aku melihatnya menemani Tezuka-kun di sekitar lapangan tempatmu bertanding, Yuuta-kun. Mungkin sekarang mereka masih di sana," jawab sang Ketua.

"Dengan Tezuka-fukubuchou?" tanya Yuuta mengkonfirmasi apa yang ia dengar.

"Uhum~" Kali ini Nishimura mengangguk dengan ekspresi ingin tertawa.

"Apa ada yang lucu?" tanya Yuuta lagi mulai sedikit kesal.

"Tidak~ Tapi kusarankan kau ikut dengan kami saja. Sepertinya mereka tidak ingin diganggu."

Belum sempat Yuuta mengeluarkan suara, Kawaguchi mengintrupsi. "Cih, aku bisa mengajak kakakmu itu pulang, menyeretnya kalau perlu, tapi Nishimura-buchou tidak mengizinkan. Dan apa-apaan itu? Berani-beraninya mencium Tezuka-kun di tempat umum. Dasar perempuan mu—"

"—Kawaguchi-chan." Nishimura langsung memotong curhatan Wakilnya. Ia memberikan peringatan pada Kawaguchi untuk tidak meneruskan ucapannya jika dirinya tidak ingin menerima amukan dari pemuda di depan mereka.

Tapi Yuuta terlanjur mendengarkan dan hanya memberinya tatapan membunuh. Kawaguchi pun memilih pergi dengan tubuh sedikit bergetar. "Aku tidak segan-segan membunuhmu kalau kau berbuat macam-macam dengan Aneki lagi!" ucapnya lantang.

"Oke, oke, Yuuta-kun. Jangan emosi," ucap Nishimura, coba menenangkannya.

"Aku tidak suka dengan sikapnya," aku Yuuta dengan nada penuh kebencian di sana. Tiba-tiba bahunya ditepuk dan membuatnya menengok. Fuji Syuko sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

"Saa, Yuuta. Itu sudah berlalu. Jangan diingat lagi."

"Fuji-chan tidak jadi menemani Tezuka-kun ke rumah sakit?" tanya Nishimura. Gadis itu ingin mengalihkan topik pembicaraan supaya suasana di sekitar mereka berubah menjadi lebih cerah.

Yang ditanya hanya menggeleng pelan. "Aku tahu, Yuuta akan menungguku. Lagipula ibunya Tezuka-kun sudah datang menjemput, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Buchou," jelasnya.

"Syukurlah kalau begitu," balas Nishimura lega.

"Ayo kita pulang, Yuuta. Okaasan pasti sudah membuatkan kare labu kesukaanmu," ajak Fuji dan tanpa malu-malu menggandeng tangan sang adik.

"Aneki! Aku bukan anak kecil lagi!" seru Yuuta sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Fuji.

"Nishimura-buchou, kami pulang duluan!" pamit Fuji seraya tersenyum.

"Ya, hati-hati!" Nishimura balas senyuman itu sambil melambaikan tangan. Ketika siluit mereka tak terlihat, ia langsung melipatkan kedua tangan di depan dada. Helaan napas berat terdengar kemudian. "Kuharap aku tidak akan melihat perang di antara mereka lagi sebelum upacara kelulusanku," gumamnya.

~ OMAKE 01 END ~