Chapter 10
You're My Brother
By
Deushiikyungie
Cast :: member EXO and other cast.
Pairing :: Baekhyun/Chen, Sehun/Kai, Chanyeol/Kyungsoo and other pairing.
Disclaimer :: para pemain milik diri mereka masing-masing dan keluarga mereka. Author Cuma meminjam nama mereka.
Genre :: Family, Hurt/Comfort, Brothership, lilt Romance
Summary :: mereka pergi, bukan meninggalkan mu. Mereka akan kembali pada mu bila kau mau menerima kehadiran mereka, lagi.
Warning :: baca dulu dari chap 1 biar ngerti... yaoi, BoysxBoys, OOC, GS, gaje, Drama! Crack pair, awas ada Typo!
tidak suka? Jangan maksa baca... tinggal back ajah... no plagiat…no siders, please~
.Happy riding, moga gak bosen.
-...ymb…-
Malam yang cerah untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara malam yang tenang di tepian sungai Han.
Sehun menatap penuh arti sosok yang sedang melangkah riang tak jauh di depannya. Pemuda dengan kulit tan yang berhasil membuat sosok dirinya yang dingin menjadi hangat. Ia sendiri tak menyangka, dirinya yang sulit akrab dengan orang lain malah begitu nyaman bersama sosok asing yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Sosok yang terlihat biasa namun membuat sesuatu di dalam hati Sehun terasa hangat saat melihat senyum indah di wajah manis itu.
Entahlah, Sehun merasa nyaman. Berbeda rasanya saat bersama Tao, Kyungsoo, Jongdae atau bahkan Suho.
Sosok yang seakan menawarkan rasa yang berbeda yang belum terpikirkan olehnya. Cinta… rasa yang begitu asing baginya.
Tapi entahlah. Apakah sosok itu juga merasakan hal yang sama seperti yang Sehun rasakan saat ini?
"Hun!" Kai memanggil Sehun yang berada jauh di belakangnya. Melambai penuh semangat dan tersenyum lebar.
"Apa?" balas Sehun keras, mempercepat langkahnya ke arah Kai yang berdiri dengan kedua tangan yang membentang. Membiarkan angin malam menghembus tubuhnya yang di balut kaos dan di lapisi kemeja kotak-kotak. Sederhana namun telihat manis di mata Sehun. Terlebih senyum lebar Kai yang terlihat lebih indah dari yang lainnya.
"Huaaahh… rasanya nyaman sekaliii… aku benar-benar merasa bebas~ bebasss… aahh! Hahahaa!" Kai tertawa senang merasakan angin yang menerpa tubuhnya. Melompat-lompat kecil dan berteriak sekeras yang ia bisa. Kai merasa lepas dan ringan. Beban yang ia rasakan selama ini hilang begitu saja saat ketenangan yang berbeda ia rasakan saat ini, seakan menghapus satu pikiran yang membuat ia tertekan beberapa hari ini.
Entah Kai harus apa sekarang. Yang dipikirannya saat ini hanyalah ingin berteriak sesuka hatinya dan melepaskan semua beban dan pikiran yang menghantuinya. Semua masalah yang seharusnya dapat dengan cepat ia selesaikan, namun terhalang oleh sesuatu. Ia ingin, tapi tidak bisa.
"Sehun! Terima kasih kau sudah membawaku ke sini. Sungai Han adalah satu-satunya tempat yang ingin aku kunjungi di Seoul! Aku tak menyangka akhirnya bisa ke sini. Terlebih di malam yang cerah seperti ini…"
Kai kembali berkata dengan senyum lembut di wajahnya yang membuat Sehun semakin jatuh hati pada pemuda tan itu. "Yaah, sama-sama. Tapi kau terlihat seperti anak kecil saat melompat-lompat seperti tadi,"
Kai merengut mendengar kata-kata Sehun. Anak kecil apanya? Ia senang, tidak masalahkan kalau mengungkapkan rasa senang dengan melompat? Kai mengacuhkan Sehun yang mendudukkan tubuhnya di samping Kai yang sudah terlebih dulu mendudukkan tubuhnya di rumputan di tepian sungai.
Terasa sangat nyaman. Di tambah angin malam yang tak terlalu dingin menghembus langsung tubuh mereka. Membuat mereka terlena merasakan suasana tenang dan nyaman.
"Hun, aku tak menyangka kau akan membawaku ke sini. Jujur, selama di Jepang, aku ingin sekali pergi ke Korea dan menjelajah setiap wisata yang ada di sini. Terlebih sungai Han.."
"Apa selama ini kau selalu berada di Jepang?"
"Ya. Aku selalu berada di Jepang dan tak pernah sekalipun keluar dari Negara itu. Orang tua ku melarang ku untuk pergi,"
"Kenapa?"
"Entahlah. Yang jelas mereka melarangku."-melarangku. Kerena mereka takut pewaris Jung mati. Keluarga ku mengerikan, Sehun ah. Mafia, khe… tambahnya dalam hati dan sedikit merutuk.
Sehun tak membalas ucapan Kai. Keheningan menyelimuti mereka. Hanya sejenak karena pemuda tan itu kembali membuka suaranya.
"Hun, apa kau punya saudara selain Kyungsoo?"
"Ya,"
"Siapa?"
"Seorang hyung dan oppa-nya Kyungsoo. Keluarga Kyungsoo tinggal bersama dengan keluarga ku. Ibu Kyungsoo adalah kakak dari mendiang mommy ku,"
"Oh begitu- ah… jadi ibu mu sudah meninggal? Ma- maaf…"
"Hum, tak apa. lagi pula, aku sudah memiliki ibu baru,"
"Ibu tiri?"
"Yah, tapi beliau… sangat baik. Yah- dia, baik."
"Kau… terdengar tidak suka,"
Sehun tidak menjawab. Pemuda tampan itu menutup matanya, merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. "Kau sendiri?"
Kai terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sehun, "Aku memiliki saudara tiri. Dongsaeng laki-laki berumur 12 tahun. Sepertinya keluarga kita tak jauh berbeda,"
"Oh, apa ibu mu jug-"
"Yah, sama. Tapi, tidak. Ah, Ibu ku tidak meninggal. Mereka tidak- ku harap,"
"Apa maksud mu?"
Sehun menghadapkan wajahnya pada wajah Kai. Tidak mengerti maksud dari ucapannya Kai. Menatap penuh arti wajah yang tersirat rasa sedih dan… rindu yang mendalam. Ada apa? Kenapa?
"Hun, aku ingin bercerita, bolehkah?"
"Yah. Tentu, kita masih ada waktu sebelum pulang."
Yah, jam sudah menunjukkan setengah 9. Mereka berencana akan bermain-main di tepian sungai Han sampai jam 9 lebih, yah tidak lebih dari pukul 10 intinya.
"Awalnya aku merasa senang memiliki keluarga yang lengkap. Otou-san, okaa-san dan adik laki-laki. Dia bernama bernama Yuta, lahir setelah lebih lima tahun aku menunggu seorang saudara. Ia tampan sama seperti otou-san," Kai memulai ceritanya. Sehun diam, belum mau menanggapi.
"Kami bahagia. Namun itu tidak lama karena penyakit yang di derita okaa-san mulai menggerogoti tubuhnya dan beliau tidak tertolong lagi ketika aku berumur 13 tahun. Dan semua berubah bagai neraka bagi ku dan Yuta. Otou-san berubah dan semua waktunya di habiskan di ruang kerja. Bekerja dan terus bekerja, entah apa yang ia lakukan. Seakan melupakan kami. Tapi aku sedikit bersyukur saat Junsu oba-san dan Yoochun oji-san, sahabat otou-san dan orang tua Chanyeol hyung, mereka selalu memperhatikan aku dan adikku,"
"Ada satu kejadian yang membuatku hampir mati. Waktu itu aku pulang sendirian dari rumah Chan-hyung dan tanpa aku sadari ada yang mengintai ku dari jauh dan menembakku di dada. Namun meleset karena tubuhku sedikit oleng. Ah, aku seharunya bersyukur karena tembakan itu tidak mengenai jantungku,"
"Kau di tembak?"
"Eh, ya.."
"Siapa? Kenapa? Kau terluka parah? Ap- apa masih sakit?"
"E- eh… aku tidak apa-apa. Lagian kejadiannya sudah lama. Siapa mereka, aku idak tahu. Yang jelas, sejak saat itu aku di larang keluar rumah sendirian dan harus selalu di kawal. Kau ingat, seorang namja yang menjemputku dan Chan-hyung pulang sekolah di hari pertama kami sekolah?"
"Umm..Ya… yah.."
"Dia, Baekhyun hyung. Seorang yang ditugaskan untuk menjagaku. Yah, semacam bodyguard, tapi aku lebih menganggapnya sebagai hyung seperti aku pada Chanyeol hyung. Kami berempat sangat dekat…"
"Kau pasti menyayangi mereka,"
"Yah, tentu."
"Kau… tadi bilang, saudara tiri?"
"Ah, itu.. hmm… ak- aku…"
"Apa?"
Kai tiba-tiba mendudukkan tubuhnya. Mengusap wajahnya pelan sebelum menjawab. Tiba-tiba saja hatinya sakit saat kembali teringat sesuatu yang sangat ingin di tolaknya. Suatu kenyataan yang sulit diterimanya.
Kebohongan dari seluruh anggota keluarga Jung yang tidak ia ketahui.
Kebohongan sang ayah yang selalu tertutup rapi, seakan ia tidak di perbolehkan untuk mengetahuinya. Mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Mengetahui siapa ibu dan saudara kandungnya.
"Kai? Kau baik-baik saja?" Sehun merasa ada yang aneh pada sosok di sampingnya ini. Kenapa ia terlihat… begitu sedih?
Namun saat mengetahuinya, rasanya benar-benar sakit. Di bohongi dan di khianati. Tapi ia juga tak bisa apa-apa. Menerima dan memperbaikinya, mungkin itu yang bisa ia lakukan.
Mencoba mencari sesuatu yang hilang dan membawanya kembali.
"Hun,"
"Ya?"
"Ap- apa aku salah, membenci keluargaku sendiri?"
"Kenapa?"
"Mereka membohongiku. Khe, entahlah. Aku… aku merasa di permainkan. Okaa-san bukanlah ibu kandungku. Aku… seharusnya bukan aku-"
"Kai, apa maksudmu? Hei, lihat aku. Katakan pelan-pelan, oke?"
Sehun sedikit memaksa Kai menghadap ke arahnya, menatap dalam sepasang iris coklat yang terlihat sendu. Mengusap pelan bahu namja tan itu. "Kau- kau bisa percaya padaku,"
Kai balas menatap Sehun. Menatap sepasang iris gelap yang berusaha meyakinkannya. Haruskah aku memberitahumu? Dapatkah aku mempercayaimu?
"Se- sebenarnya… ak- aku bukanlah anak sah dari kedua orang tuaku. Dulu, Otou-san menikah diam-diam dengan seorang wanita dari Korea. Dan mereka memiliki dua orang anak. Aku dan… saudaraku. Aku tidak tau dia laki-laki atau perempuan, dia kakak atau adikku. Aku tidak tahu. Tidak ada yang memberitahu ku, bahkan ayah kandung ku sendiri."
Sehun terdiam mendengar pengakuan dari Kai. Namun ia belum berani menanggapi. Sehun menunggu Kai menyelesaikan ucapannya.
"Aku mengetahui kebenaran itu saat okaa-san yang menceritakannya padaku sebelum ia di larikan ke rumah sakit. Jujur, aku merasa hancur saat mengetahui, aku- aku bukanlah anak kandungnya. Aku dibawa pergi saat aku masih kecil. Dipisahkan dari ibu dan saudara kandungku. Dengan alasan okaa-san wakyu itu tidak bisa mengandung. Aku- aku bahkan sempat kabur dari rumah setelah mengetahui kebenaran itu, tapi otou-san menarikku kembali pulang. Aku memberontak dan marah. Aku marah pada mereka yang membohongiku, ak- aku…"
Srett-
"Tenanglah, tidak apa-apa. Kalau kau ingin menangis, menangis saja…" bisik Sehun pelan, mendekap tubuh bergetar Kai erat.
Kai tidak kuasa menahan rasa yang menyesakkan hatinya. Tak tahan, iapun menangis dalam dekapan Sehun yang mengusap punggungnya pelan. "Hikss… aku- aku tidak tau. Otou-san tidak mau memberi tahuku dimana ibu dan saudara kandungku, hikss. Dia tidak mau memberitahuku. Tap- tapi aku ingin bertemu mereka. Aku ingin melihat mereka… tapi kenapa- kenapa otou-san tidak mau mencari mereka? Ke- kenapa otou-san menyembunyikan semuanya? Ak- hikss.. aku tidak tau… hiks, Hun, kenapa rasanya sakit sekali?"
"Ssssttth, tenang Kai. Tenanglah…"
"Aku tidak tau mereka dimana, ba- bagaimana keadaan mereka, hikss.. hiksss.. Hun, aku tidak tau…"
Sehun tidak tau apa yang harus di lakukannya. Sehun tidak pandai dan tidak bisa menenangkan orang yang menangis, terlebih seorang namja. Aah, yang bisa pemuda putih itu lakukan hanya mengelus punggung Kai dan berucap semua akan baik-baik saja. Tapi apa yang baik-baik saja? Ckh, Sehun merasa bodoh.
Beberapa saat Kai mulai tenang. Tidak ada yang mengeluarkan suara setelahnya. Mereka berdua terdiam merasakan ketenangan yang terasa asing. Ah, entahlah. Kai merasa nyaman. Mungkinkah karena Sehun yang memeluknya? Kai belum pernah merasakan hangat yang seperti ini. Terasa… nyaman. Sangat nyaman dan menenangkan.
Seakan semua beban yang ia pendam lepas begitu saja. Ia merasa, pikirannya benar-benar ringan setelah menceritakan hal yang sulit ia bagi pada orang lain, termasuk pada Chanyeol. Tapi kenapa dengan Sehun, ia bisa mudahnya menceritakan rahasianya itu? Kenapa?
"Kau sudah tenang?" suara Sehun kembali mengisi keheningan di antara mereka. Sehun ingin melihat wajah Kai, tapi ia tidak enak kalau tiba-tiba menggeser tubuh yang terasa lebih mungil darinya itu menghadapnya. Entahlah, Sehun merasa… pas, saat ia memeluk tubuh Kai.
"Unm," Kai bergumam pelan sebagai jawaban. Ia ingin menegakkan tubuhnya tapi entah kenapa, rasa nyaman itu seolah sulit ia lepas. Kai belum mau menghilangkan rasa hangat yang mendekap tubuhnya.
"Kai," gumam Sehun. Jujur, Sehun belum rela melepas tubuh Kai. Tubuh yang ingin ia peluk dan ia dekap. Sosok yang ingin ia lihat dapat terus tersenyum indah. Ah, sepertinya Sehun benar-benar telah jatuh cinta.
"Apa?"
"Ba- bagaimana kalau aku… membantumu mencari ibu dan saudara mu?"
Ucapan Sehun membuat Kai tiba-tiba menegakkan tubuhnya, melepaskan pelukan Sehun dan memandang pemuda di hadapannya terkejut. "Membantu ku?"
"Ya. Aku akan membantu mu mencari keluargamu."
"Benarkah? Ta- tapi, kau-"
"Ssstt, tenanglah. Kau percaya padaku kan?"
Sesaat Kai terdiam menatap mata tajam Sehun yang terlihat meyakininya.
Percaya? Bolehkah?
-…YmB…-
Jam sudah menunjukkan pukul 11 kurang 10 menit, Sehun baru akan menaiki tangga menuju lantai dua sebelum ia mendengar suara familiar yang sudah lama tak di dengarnya. Ia pun berbalik dan mendapati sosok wanita manis berdiri dengan segelas air putih di tangannya.
"Xi- Xiumin noona?"
"Ya, Sehun ah. Ini noona, kenapa kau pulang larut?"
Sehun sedikit berlari saat akan memeluk tubuh yang lebih mungil darinya itu. Memeluk erat seakan ia sudah sangat lama tidak bertemu. "Noona… aku merindukanmu. Sungguh, aku merindukan mu," bisik Sehun pelan.
Xiumin mengusap sayang punggung Sehun yang bergetar pelan. "Ne, noona juga merindukanmu, Hun. Hei, kau tidak menangiskan?" candanya ringan. Dan dirasanya gelengan pelan di bahu sempitnya.
"Kau belum jawab, kenapa kau pulang larut, hum?"
"Aku… hanya jalan-jalan malam bersama temanku,"
"Jalan-jalan? Sampai larut seperti ini? Kau tidak takut?"
"Ckh, Aku namja, noona. Jangan samakan aku dengan Yixing ge,"
"Kheke.. kenapa harus Yixing eoh?"
Sehun melepas pelukannya, kemudian menatap bingung yeoja di depannya. "Noona? Kapan noona datang? Bersama siapa?" tanya nya.
"Tadi, jam 8 lewat. Noona datang bersama dua sepupumu dan keponakan mu," jawab Xiumin.
"Luhan ge dan Yixing ge? Ugh, aku pikir mereka tidak mau ke sini dan- oh, keponakanku? Dimana dia sekarang? Aah.. noona, aku sudah lama sekali tidak melihatnya. Seperti apa dia sekarang?" tanya Sehun sedikit antusias. Membuat Xiumin sedikit terpana dan tersenyum geli.
Xiumin tak menyangka akan melihat Sehun tersenyum dan terlihat kekanakkan seperti ini. Dulu, yang ia tau, Choi Sehun itu seorang yang pendiam dan dingin. Mungkinkah ada seseorang yang sudah merubahnya? Merubah sifatnya yang seperti balok es itu?
"Hei, sudahlah. Ini sudah malam. Besok kau bisa melihatnya. Jaa, pergilah tidur." Ucap Xiumin.
"Aah… ne, noona. Aah, aku juga mulai mengantuk. Jaljayo, Xiu noona."
Sesaat Sehun akan menapak tangga, Xiumin kembali memanggilnya.
"Sehun ah,"
"Ne, noona?"
"Um.. itu, Yixing tidur dengan mu. Tidak apa-apakan?"
"Ug? Yah, tidak masalah. Yasudah, noona. Aku ke kamar dulu."
Setelahnya, mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
Sesampainya di depan kamarnya, Sehun tak langsung masuk. Kata-kata Kai saat mereka pulang tadi, kembali teringat olehnya.
Membatu Kai mencari ibu dan saudaranya… haah, enatahlah. Semoga saja mereka bisa berhasil. Sedikitnya hati Sehun merasa sakit saat melihat pemuda tan itu menangis. Seakan ia juga ikut merasakannya.
Haa.. semoga saja, mereka bisa menemukan ibu dan saudara Kai.
Tapi… Sehun belum tau seperti apa rupa ibu dan saudara Kai. Uuh, mungkin besok ia bisa bertanya.
Yah..
-…YmB…-
Jongdae tidak menyangka kalau Luhan, Yixing, Xiumin dan keponakannya, Sohee akan datang kemarin malam. Malam itu ia langsung tertidur saat sampai di rumah sehingga tidak bertemu dengan mereka. Tapi besoknya, rumah megah yang ia tempati itu langsung berubah seperti pasar. Benar-benar heboh.
Haa. Tapi untung saja hari ini keluarga Tan kecil itu sudah pergi ke rumah baru mereka, rumah baru Luhan dan Xiumin. Mereka akan tinggal di Seoul. Dan mengenai Yixing kenapa ia ikut juga pergi bersama Lu-Min? itu karena sekolah Yixing libur seminggu penuh. Jadilah ia ikut Luhan pergi ke Korea. Sedikit liburan, katanya.
Pemuda dengan bibir tipis itu sekarang menatap tajam kedua sahabatnya. Amber dan L yang memilih menyibukkan diri mereka, tak ingin melihat pemuda bibir kucing itu. tapi lama-lama mereka jengah juga.
"Ish, Chen. Kenapa kau melihat kami terus, eoh?" ketus Amber. Ia benar-benar risih sekarang.
"Aku bertanya, dimana Baekhyun? Kenapa kalian tidak mau memberi tahu ku?" balas Jongdae.
"Kenapa kau selalu bertanya tentang Baekhyun terus eoh? Kenapa pria itu terkesan sangat penting bagimu sekarang? Apa-apa pasti Baekhyun. Kau bahkan tak menanyakan kabar kami bagaimana," ucap L kesal.
"Kalian baik-baik saja di mataku. Jadi, bisa kalian beritahu aku dimana Shim Baekhyun?"
Sesaat mereka tidak menjawab. Tiba-tiba L berdiri dan berjalan mendekati Jongdae. "Kh, kau ingin tau dia dimana? Kenapa tidak telepon saja? Ckh, sebenarnya hubungan kalian apa, eoh? Aku jadi penasaran,"
"Ponsel nya tidak aktif, dan apa maksudmu hubungan?"
"Jangan pura-pura Kim. Dari tingkah kalian saja, kami sudah bisa menebak."
"Yah, Myungsoo apa maksudmu? Aku tida-"
"Kau pacarankan dengan Baekhyun?"
Ucapan Amber membuat Jongdae terdiam. Ia terbata.
Pacaran? Ckh, itu- itu tidak mungkin!
"Tidak. Kami tidak pacaran dan kami tidak mung-"
"Mungkin saja. Tingkahmu yang sering menanyakan keberadaan Baekhyun dan kau bahkan mulai bergantung padanya. Terlebih Baekhyun yang memberikan perhatian lebih padamu, tidak mungkin kalian tidak jadian, kan?"
Kembali ucapan gadis tomboy di sana membuat Jongdae bungkam. Tidak, tidak mungkin tindakannya itu-
"Jujur saja, kau menyukai dia, kan?"
Jongdae masih bungkam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Kenapa, kenapa mereka bisa berbicara seperti itu? dari mana mereka tau jika, jika aku menyukai Baekhyun? Tidak- tidak, ini salah.
Jongdae menggeleng, menolak apa yang L dan Amber katakan. Tidak-
"Jangan membantah. Semua sudah jelas, Dae. Kau menyukai Baekhyun dan dia juga menyuka-"
"Tidak- dia tidak mungkin menyukaiku. Dia-"
Deg!
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat. Entah kenapa rasa sakit di hatinya terasa lagi setelah ia yakin 'rasa' itu tidak lagi ia miliki sejak seminggu yang lalu ia melihat Baekhyun bersama seorang yeoja. Rasa suka yang menjadi cinta dan berubah menyakitkan baginya.
Ia bukan siapa-siapa. Ia juga tidaklah menarik. Khe.
"Yah, Jongdae. Kau mau kemana?"
Setelah terdiam cukup lama, ia pun memilih pergi. Menghiraukan panggilan Amber dan L, menghiraukan seruan setiap orang yang ia tubruk. Pergi, entahlah ia akan pergi kemana. Ia harus menghilangan 'seseorang' itu sejenak dari pikirannya. Yah, hilangkan.
Tapi, kenapa rasa itu semakin besar? Semakin mendesak hatinya?
-…YmB…-
Bandara Incheon siang ini tak terlalu ramai. Pemuda dengan eyeliner tipis itu menatap diam beberapa orang yang berjalan ke arahnya. Tepatnya menatap sosok yang berjalan beriringan dengan seorang yeoja yang sudah ia anggap sebagai ibu sendiri. Junsu berjalan dengan tenang bersama Yuta di sampingnya. Beberapa orang pengawal yang pastinya bukan pengawal biasa, berjalan tegap di sekitar dua orang itu.
"Junsu-san, Yuta-sama. Selamat datang di Seoul." Sambutnya, sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Ne, Baekhyun-ah. Dan sebaiknya kamu memanggil kami biasa saja. Tidak perlu embel-embel san atau sama," ucap Junsu, tersenyum hangat pada sosok pemuda yang sudah ia anggap anak sendiri.
"Ne." jawabnya, kemudia manik coklatnya menatap pemuda yang lebih muda. "Kenap-"
"Aku ingin bertemu dengan Kai hyung. Bisa- bisakah hyung mempertemukan aku dengan Kai hyung?" Yuta langsung memotong ucapan Baekhyun. Balik menatap penuh harap sosok yang menjadi pelingdung bagi dirinya dan sang hyung.
Sesaat Baekhyun terdiam namun ia tersenyum tipis. Memberikan sebuah anggukan dan membuat remaja tampan itu tersenyum senang.
Ia paham. Baekhyun mengerti mengapa putra bungsu keluarga Jung berada di Korea dan ia pun tau kenapa remaja itu bisa pergi dari Jepang. Pastilah karena Park-Kim-Junsu yang meminta Yunho untuk memperbolehkan Yuta pergi bersamanya dan alasan keinginan remaja itu yang ingin bertemu sang kakak.
Merekapun pergi dari bandara menuju kediaman Park yang jarang di kunjungi sang pemilik sebelum pergi ke apartemen dimana Kai, Baekhyun dan Chanyeol tinggal.
Di perjalanan, Junsu meminta Baekhyun untuk menemaninya pergi menghadiri rapat penting yang menjadi salah satu tujuannya datang ke Korea. Dan Baekhyun menyanggupinya, tapi setelah ia pergi ke kampus untuk menyelesaikan satu urusan. Setelah selesai, ia akan pergi ke tempat di mana rapat itu diadakan.
.
Di tempat lain, Jongdae hanya bisa menghela nafas setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Siwon. Siwon akhirnya meminta Jongdae untuk menemaninya rapat dengan seorang pengusaha dari Jepang. Haah, padahal ia ingin sendiri untuk saat ini dan tak ingin menambah pikiran dengan yang lain. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa Siwon ajak selain Jongdae karena Suho tentu sedang sibuk bekerja.
Drrt Drrt
Ia mengambil ponselnya yang bergetar dan membuka pesan. Pesan dari seseorang yang menjadi beban pikirannya saat ini. Baekhyun, menanyakan keberadaan dirinya dimana. Ah, bukankah beberapa saat lalu ia yang mencari laki-laki itu? kenapa sekarang dia yang di cari?
Ah. entahlah, Jongdae tak paham.
Jongdae tidak membalas pesan Baekhyun. Ia beranjak dari tidurannya di atap gedung dan pergi menemui sang paman, Siwon.
-…YmB…-
Kai dan Sehun sekarang berada di taman belakang. Mereka masih mengatur nafas setelah lelah berlari dari kejaran seorang Kyungsoo.
Ah, sebenarnya ada apa?
Kembali pada saat jam istirahat. Saat itu Tao tengah mengajari Kyungsoo bela diri di ruang dance yang saat itu tengah kosong. Ah tidak juga, hanya mereka, Kai, Sehun, Tao dan Kyungsoo yang ada di sana. Dan entah sejak kapan seorang Kim Kyungsoo mau belajar bela diri, membuat seorang Choi Sehun terheran.
Saat akan menagkis serangan Tao, gadis mata bulat itu tiba-tiba jatuh karena kakinya tidak sampai pada lengan Tao yang hendak ia tendang. Jatuh dengan tidak elitnya dengan wajah duluan mencium lantai. Sontak membuat Sehun tertawa keras. Kai yang melihatnya juga tertawa tapi satu ucapannya membuat persimpangan di kening Kyungsoo muncul. Di tambah ejekan dari Sehun, jadilah Kyungsoo murka dan mengejar mereka yang spontan kabur dari pukulan maut Kyungsoo.
Mereka pergi meninggalkan Tao yang melongo seorang diri di ruang dance.
Ya elah… -_-
Yah, balik lagi pada HunKai. Nafas mereka sudah stabil. Dengan menjulurkan kedua kaki, merekapun tertawa bersama saat mengingat kembali bagaimana rupa wajah Kyungsoo saat marah. Entah kenapa sangat lucu bagi mereka. Wajah memerah kesal, kedua mata yang membulat dan bibir tebal gadis itu yang mencebik kesal. Khekeke… dasar.
Sesaat suasana tenang menyelimuti mereka. Angin berhembus lembut membuat mereka sedikit terlena. Ah, kalau begini lebih baik bolos saja sampai jam pulang sekolah. Pikir mereka.
Sehun teringat tentang sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya ingin ia tanyakan. Tapi kemarin Kai tidak masuk jadilah sekarang ia tanyakan.
"Kai," panggilnya.
"Hmm…"
"Itu… um, yang kemarin,"
"Apa?"
"Kau lupa?"
"Sehun, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Yang kemarin, apa maksudmu?"
Sehun diam sejenak, "Itu, kapan kita mulai mencari ibu dan suadara kandungmu?" tanya Sehun. Ia sedikit ragu dengan ucapannya.
"Uh? Ah, yang itu… hum.. aku, belum memikirkannya,"
"Oh, ah. begitu ya.."
Seketika suasana menjadi canggung. Sehun menyibukkan dirinya dengan menatap ranting pohon yang berayun-ayun di hembus angin. Sedangkan Kai, pemuda kulit tan itu memainkan ranting kayu dengan menorehkannya di tanah, membentuk gambar abstrak.
Tak lama suasana canggung itu, Kai merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. "Hun, kau ingin melihat ibu dan saudaraku?" ucap Kai, membuka dompetnya dan mengeluarkan dua lembar foto. Foto usang, jelas terlihat sudah lama dan kabur.
"Ug? Mana," Sehun mengambil satu foto ukuran kecil. Foto yang menampilkan rupa bocah laki-laki sekitar umur 2 setengah tahun. Bocah laki-laki yang sedang bermain ayunan. Terlihat sangat manis walaupun sedikit pudar.
Sejenak Sehun terdiam, menatap lekat sosok yang ada di foto kecil itu.
"Nah, ini ummaku. Tidak jelas karena aku mengambilnya dengan kamera ponsel sewaktu aku mengeledah kantor otou-san. Aku tidak bisa mengambil fotonya karena berada di dalam lemari kaca dan aku tidak bisa membukannya. Kurang jelas, huuft…"
Sehun mengalihkan perhatiannya pada foto di tangan Kai. Kembali menatap lekat sosok yeoja yang terlihat cantik dengan balutan dress manis di tubuh ramping sang yeoja. Sehun terdiam, ia merasa… pernah melihat wanita di foto itu, dan bocah laki-laki ini… mirip dengan seseorang. Tapi ia tidak tau siapa. Rupa wajah di kedua foto itu kurang jelas dan terlihat kusam. Mungkin karena Kai sering mengusapnya.
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing hingga Sehun mengeluarkan suaranya. "Kai-ah, aku janji akan membantumu dan mempertemukan kau dengan keluargamu."
"Ne, Sehun-ah. aku percaya padamu dan aku pegang janjimu. Gomawo."
"Tapi aku rasa setelah perlombaan? Bagaimana?"
"Ah, iya! Tinggal 4 hari lagi.. Sehun- ah, bagaimana kalau latihan saja sekarang?"
"Ok."
-…YmB…-
Tidak. Seharusnya Chanyeol tidak memikirkan gadis mata bulat itu sekarang di saat ia tengah menghadapi 'tikus' yang lebih dari lima orang. Ckh, kalau bukan karena tugas dan siapa dirinya saat ini, ia tidak mau pergi dari sekolah dengan alasan sakit dan bertarung sendirian seperti ini.
Sendirian. Yah, karena Baekhyun sang Bee yang seharusnya turun tangan, malah Chanyeol yang di suruh Onew untuk menghabisi 'tikus-tikus' itu.
Ternyata para mafia yang menjadi musuh keluarga Jung masih berkeliaran bahkan mereka bebas di Seoul ini. Jika berada di Jepang, sudah pasti ia bantai semua. Tapi saat ini ia berada di negeri orang- ah tidak, ia sekarang berada di tanah kelahirannya. Dan seharusnya ia lebih menguasai.
Berbekal ilmu yang ia dapat semenjak kecil, latihan bersama Kai dan Yuta terlebih Baekhyun juga ikut, membuat Chanyeol tidak kewalahan menghadapi 8 orang di depannya. Menangkis setiap serangan dan memuntahkan peluru dari pistol mungilnya yang selalu ia bawa.
Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol membereskan tikus-tikus itu, dan setelahnya suara langkah kaki dari arah belakangnya kembali membuat pemuda tampan dengan masker yang menutup sebagian wajahnya itu waspada. Tapi sepertinya ia tidak perlu mengeluarkan tenaga lagi karena yang datang adalah si pemberi tugas.
"Onew-san! Ckh, kau membuatku 'lelah'," serunya kesal. Menyandarkan tubuh tingginya pada dinding beton. Ah, ya. Saat ini mereka tengah berada di gedung tua, tak jauh dari pusat kota.
Pria yang di panggil Onew itu hanya berdehem pelan, kemudian menyerahkan sebuah map pada pemuda itu. Chanyeol menerimanya dengan kerutan di dahinya.
"Apa ini?"
"Buka dan bacalah perlahan. Itu dari Yoochun-san."
"Dari otou-san? Kenapa? Ah- I, ini…"
"Itu adalah hasil penyelidikan dari lima tahun hingga saat ini. Huang family masih belum bisa di tundukkan."
Chanyeol terdiam, sulit baginya untuk mengeluarkan kata-kata. Mata tajamnya menelusuri tiap kata di dalam map yang ia pegang. Rasa tak percaya memenuhi pikirannya. Sulit ia terima kenyataan yang terpampang jelas di hadapannya saat ini. Ia sungguh tak menyangka jika kisah keluarga besar Jung seperti ini, dan juga keluarga Huang. Ia... sungguh tak menyangka. Hubungan yang benar-benar rumit.
"Kau terkejut?"
"I- ini, benarkah? Semuanya? On- Onew-san, ka- kau tidak bercandakan! Ini semua,"
"Yah, sekarang sudah jelas semuanya. Hubungan antara Jung dan Huang. Siapa dalang dari semuanya dan awal mula dari pertikaian yang sampai saat ini masih berlanjut. Dan terlebih, siapa sosok Kai-sama sebenarnya."
Chanyeol sesaat terdiam saat membaca satu kalimat yang membuat pikirannya langsung menuju dua orang yang beberapa hari ini mengusik pikirannya. Dua orang yang salah satunya ia klaim menjadi adik kandungnya sendiri dan seorang lagi yang berhasil membuat ia merasakan cinta dan terluka saat bersamaan.
Kai dan Kyungsoo. Tepatnya, Jung Kai, Kim Kyungsoo dan seorang lagi yang memiliki hubungan yang tidak pernah terpikirkan olehnya, Kim Jongdae.
Tidak, Chanyeol tidak mengira jika mereka memiliki hubungan. Hubungan saudara, se-ayah se-ibu? Khe.
Kim Jongdae. Seseorang yang akhir-akhir ini ia kira memiliki hubungan dengan Baekhyun. Entahlah hubungan seperti apa yang ada di antara mereka. Yang ia sadari, seminggu belakangan ini ia sering mendengar nama itu di sebut oleh namja yang ia anggap hyung sendiri. Walau belum pernah bertemu, tapi Chanyeol merasa… Baekhyun memiliki suatu perasaan pada namja itu.
Dan kenyataan Kim Jongdae dan Kim Kyungsoo adalah saudara, dan… Jung Kai?
Aggh, Chanyeol pusing memikirkannya.
Ditambah Huang ZiTao. Ada apa sebenarnya?
"Siapa saja yang mengetahui semua ini?"
"Tak banyak. Hanya kau, aku, Yoochun-san, Junsu-san dan- tentu saja, Shim Baekhyun."
"Apa Changmin-san ju-"
"Yah, Changmin –san. Dan dialah yang sebenarnya mengetahui semuanya secara jelas, namun- ah entahlah. Ini seperti permainan. Permainan yang sulit di tebak."
Chanyeol kembali tidak menanggapi ucapan Onew. Ia masih sibuk membaca tiap kalimat dalam map itu. Membacanya dengan teliti hingga raut wajahnya yang terlihat tidak percaya dan bahkan ingin sekali ia menyangkal, berubah kembali menjadi tenang. Setenang hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
Sedikitnya ia paham dengan semua keadaan ini. Yeah…
Pria yang tidak mengenakan masker itu menatap Chanyeol dalam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Chanyeol-ah," panggilnya.
"Apa?"
"Bagaimana keadaan Tuan muda?"
"Dia… baik-baik saja. Ah, ya. Onew-san, boleh aku minta tolong?"
"Tolong apa?"
"4 hari lagi, akan ada kompetisi antar sekolah, Kai-sama ikut dalam kompetisi ini. Bisakah kau mengirimkan beberapa orang untuk mengawal? Aku merasa, sesuatu yang buruk akan terjadi."
"Kompetisi? Apa yang dia ikuti? Jangan bila-"
"Dance. Baekhyun hyung memperbolehkannya. Ia juga tidak sendiri."
"Oh, Baiklah kalau begitu."
Pemuda tinggi itu merapikan map dan pakaiannya. Berdiri tegap menghadap Onew yang memandangnya diam. "Ada apa?" tanya Onew.
"Tidak- yah, hanya saja… aku masih belum percaya. Terlebih Baekhyun hyung sudah lebih dulu mengetahuinya , tapi kenapa dia tidak member itahu ku? Terlebih pada Kai-sama?"
"Mungkin, Baekhyun hanya ingin tidak ingin ini semua cepat terungkap. Dia ingin melindungi sesuatu yang pantut ia lingdungi. Ini adalah tugasnya dari ayahnya, Changmin-san."
Sesaat mereka terdiam. Onew mulai melangkah pergi dari hadapan Chanyeol tapi sejenak ia berhenti dan kembali menoleh ke belakang. "Oh, ya. Hari ini Junsu-san datang bersama Yuta-sama. Mungkin mereka sudah sampai di apartemen mu."
Setelah mengatakan itu, Onew melangkah pergi meninggalkan Chanyeo yang terdiam. Diam dengan berbagai pertanyaan yang mulai berputar di kepalanya.
-…YmB…-
Baekhyun tidak menyangka siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Tak jauh berbeda dengan yeoja paruh baya di sampingnya. Mereka menatap tidak percaya pada sosok yang tengah berbicara dengan pria paruh baya di sana dengan pikiran yang berbeda.
Baekhyun terasa berat melangkah saat sosok itu berbalik dan menatap ke arahnya, terdiam, begitu juga sosok pemuda dengan bibir kucing khas itu menatap kaget dirinya yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Ah, Junsu-ssi. Akhirnya anda datang. Silahkan duduk." Ucap Siwon mempersilahkan Junsu dan Baekhyun yang masih berdiri di hadapannya untuk duduk. Jongdae yang masih mematung sedikit tersentak saat Siwon menepuk pinggangnya.
"Kau terlalu sopan, Siwon-ah. hmm, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" mulai Junsu.
"Yah, mungkin sangat lama, entahlah. Dan sepertinya kau masih tampak manis seperti dulu," ucap Siwon, sedikit bercanda.
"Haha, kau juga. Masih tampan seperti dulu, tapi tetap saja suami ku yang lebih tampan." Balas Junsu, tersenyum lembut.
"Yah, Yoochun. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku harap dia baik-baik saja,"
Setelah sedikit berbincang dan memperkenalkan sosok di samping mereka, akhirnya merekapun memulai rapat dengan Jongdae yang sedikit memprestasikan laporan yang sebelumnya sudah ia pelajari dari Siwon.
Pemuda manis itu sedikit tidak fokus saat manik gelapnya berserobot dengan manik coklat Baekhyun namun ia tetap tenang hingga ia menyelesaikan tugasnya. Setelahnya entah apa yang ia pikirkan. Semua terasa begitu cepat baginya.
"Hmm, aku jadi penasaran. Maukah Jongdae-ssi sedikit menyanyikan sebuah lagu? Karena dari rekaman yang di berikan Siwon-ssi beberapa waktu lalu, terdengar indah tapi terasa ada sesuatu yang kurang,"
Ucapan Junsu membuat Jongdae kembali dari lamunannya. Ia sontak menatap Baekhyun yang juga diam seperti dirinya. Menatap pemuda itu seakan meminta persetujuan. Ah, tunggu dulu, kenapa harus seperti itu? dan satu anggukan pelan, entah kenapa membuat Jongdae mendapatkan keberaniannya.
Ia sedikit merapikan pakaiannya sebelum mulai beranyanyi. Sebuah lagu lembut yang terdengar nyaman di pendengaran dan terasa sangat… indah. Sebuah lagu yang memberikan arti yang jelas dari suatu perasaan yang resah dan merindu.
(song, EXO Chen-I Miss You (Kim Bum Soo cover) [130808 Boom's Youngstreet])
Semua terdiam mendengarkan suara merdu Jongdae hingga pemuda manis itu selesai dengan nyanyiannya. Menatap heran ketiga orang yang menatapnya… kagum?
Cukup lama mereka terdiam hingga suara lembut Junsu memecah keheningan. "Suara mu terdengar indah, kau membawakan lagu yang sangat bagus dan penghayatan lagu yang sangat pas. Kau berbakat, nak"
Jongdae sontak tersenyum senang mendengar komentar bagus dari salah satu mantan penyanyi dan artis terkenal sekaligus pemilik Park Ent. itu. Tak jauh berbeda dengan Siwon yang tersenyum bangga pada Jongdae.
Setelahnya mereka kembali berbincang. Baekhyun menatap penuh arti sosok yang- ah, jujur saja, pemuda itu sudah berhasil menyentuh hatinya yang dingin dan bahkan memenuhi pikirannya akan sosok pemuda yang berhasil membuat ia merasakan rasa hal yang tabu baginya. Rasa suka dan… cinta.
Ia hanya ingin melindungi Jongdae, tak lebih. Tapi hatinya ingin memiliki sosok itu. Memiliki untuk dirinya sendiri. Tapi tidak, ia tidak bisa. Dan mungkin tidak akan pernah bisa ia meraihnya, bersamanya. Karena ia bukanlah sosok yang pantas bagi seorang keturunan Jung.
.
.
.
Tbc…
.
Hai, maaf tbc di sini. Kalau di terusin entar tambah bosen. Ini udah panjang yah… sangat malah -_-
Semua sudah jelaskan di chapter ini? Hubungan antar chara, dan untuk romance saya tidak terlalu menampilkannya, semua mengalir apa adanya. Dan kalau masih bingung atau ada yang kurang atau yang tidak jelas silahkan tanya-tanya di kotak review ... ^^
Beberapa chapter lagi bakal tamat kok, terima kasih sudah membaca, review, fav and follow dan maaf untuk tidak membalas review readersnim. #boww
Maafkan untuk update yang lama. Dan mungkin bakalan lama lagi update-nya… maaf*bow
Semoga masih ada yang mau baca ff ini… err, ada yang mau collab untuk ff Home, Wind and Rain? Saya butuh bantuan soalnya… /\
Ditunggu reviewnya…
See next chapta….!
