Hi minna, maaf banget aku apdetnya lamaa u,u
thanks untuk Villoh yang selalu setia baca ffku XD dan untuk Betrayal Love : thanks juga udah mau baca ffku ini :3
untuk chapter ini aku cuma pengin kasih adegan romancenya dulu sedikit yah semoga berasa ya hehe
Happy Reading
.
.
Disclaimer : Death Note belong to Takeshi Ohbata & Tsugumi Ohba, SM Entertaintment miliknya Lee So man XD (maap om pinjem) OC milik akuh ._.
Warning : OOC, abal, gaje, typos
.
.
.
.
Salju masih turun di Prefektur Kanto hari ini. Meskipun sudah lewat seminggu dari hari natal, namun kemeriahannya masih tetap terasa. Apalagi ini sudah tanggal 31 Desember, para penduduk kota pun bersiap untuk liburan menghabiskan waktu akhir tahun. Begitu pula Ayano, mungkin ia tidak mendapat jatah libur yang panjang layaknya anak sekolah atau pun karyawan kantoran biasanya. Meskipun ia sudah mendapatkan izin agar dikosongkan jadwalnya malam ini, namun ia sudah harus tampil besok siang untuk mengisi acara perayaan tahun baru di salah satu stasiun televisi. Gadis itu mempererat syal merah yang ia kenakan, karena cuaca yang terasa semakin dingin. Ayano melangkahkan stilletonya dengan hati – hati di atas trotoar yang licin karena salju yang belum mencair. Hari ini ia telah selesai dengan jadwalnya untuk syuting iklan dan pemotretan sebuah majalah. Manager Han yang awalnya ingin langsung mengantarnya pulang, tapi ia malah meminta turun di tengah jalan. Diiringi omelan sang Manager yang menyuruhnya agar pulang tepat waktu, gadis itu terus tersenyum dan berjalan kaki menjauh. Manager Han sebenarnya tahu tentang artisnya yang sudah punya pacar itu, namun ia hanya bisa menasehatinya untuk tetap focus pada karir dan jangan sampai masalah percintaan membuat karir mereka berantakan. Dan hanya dijawab anggukan oleh semua member.
"Aya-chan!" mendengar suara seseorang memanggilnya, Ayano pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Sedikit diturunkannya kacamata hitam yang ia kenakan.
" L-Light.."
.
.
.
Aroma kopi dan kue yang khas menguar dari dalam café yang sekarang mereka singgahi. Duduk berhadapan di sudut ruangan sebuah café bernuansa klasik, dengan dua cangkir kopi latte dan espresso, tak lupa sepiring kecil cheese cake siap di atas meja. Sejenak Ayano dibuat terkesan dan nyaman dengan suasana café yang begitu hangat seperti merasa ada di rumah.
"Tumben sekali melihatmu berjalan – jalan sendirian" ucapan Light menyadarkan Ayano dari lamunan.
"Ah,, iya aku baru pulang dari pemotretan"
"Kau tidak diantar?" tanyanya lagi kemudian mulai meminum kopi latte yang ia pesan perlahan.
"Hm.. ya, aku hanya ingin ke suatu tempat dulu" kata Ayano sambil memotong cheese cakenya dengan garpu. Mendengarnya Light pun tersenyum. Sejenak Light hanya diam memperhatikan Ayano yang mulai melahap cheese cakenya. Light hanya kembali teringat ketika ia, Takada, dan Ayano masih SMA dulu, mereka sering sekali mampir ke café hanya untuk sekedar makan dan bercerita. Dan ternyata sejak dulu kebiasaan makan Ayano yang suka belepotan masih berlanjut sampai sekarang. Light pun tersenyum kecil saat melihat remah keju di sudut bibir Ayano. Dengan sigap Light mengambil tissue dan hendak mengelap sudut bibir itu namun tangan Ayano lebih dulu menahannya.
"Hum,, maaf aku bisa sendiri" kata Ayano yang langsung mengambil alih tissue dari tangan Light.
"Ya, " tiba – tiba suasana canggung mulai menyergapi. Mereka hanya terdiam sampai Ayano meminum espressonya untuk menghilangkan perasaan tidak enak dengan apa yang ia barusan lakukan. Ya, itu sudah menunjukan bentuk penolakan darinya untuk Light. Mata Light kini malah terfokus ke arah jari manis Ayano yang seingatnya baru sekarang ia memakai cincin. Sejak dulu Ayano dikenal tidak suka memakai perhiasan seperti itu meskipun ia termasuk orang yang berada.
"Tentang kejadian tempo hari,.." ada jeda disana. Ayano pun menahan nafas mendengarnya.
"Maaf, aku lepas kendali. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Jika kau masih marah padaku aku terima dan memakluminya" lanjut Light. Ayano menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Ya,, aku sudah melupakannya Light. Dan aku harap kita masih bisa jadi teman baik" Light tersenyum mendengarnya. Mereka pun meneguk minumannya masing – masing. Keheningan masih merajai hingga Light mencoba membuka suara lagi.
"Terima kasih. Jadi,.. sekarang mau kah kau berbagi cerita denganku tentang sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Light dengan senyum sendunya.
"Kurasa kalian sudah cukup ke tahap yang lebih serius? Jika dugaanku benar" lanjutnya.
"Eh?" Ayano yang sempat bigung dengan apa yang dimaksud Light sampai ia menunjuk cincin di tangan Ayano. Mungkin Light menganggap cincin di jari manis Ayano adalah pemberian L, namun pada kenyataannya adalah cincin tersebut pemberian sang Manager Han kepada seluruh member Eclipse. Ia dipaksa Manager Han untuk memakai cincin itu sebagai lambang Eclipse. Ayano pun segera melipat tangannya menutupi cincinnya tersebut. Ia hanya diam, tidak memberikan pejelasan pada Light yang salah paham, yah biarlah pikir Ayano mungkin itu akan lebih baik untuk ke depannya. Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Ayano segera melihat jam tangan yang bertengger di lengan kirinya.
"Light, maaf aku harus segera pergi. Terima kasih traktirannya"
"Hum, baiklah. Apa perlu ku antar?"
"Tidak usah, aku bisa naik kereta"
"Baiklah hati – hati " Kata Light sambil melambaikan tangannya kepada sosok Ayano yang mulai menjauh. Namun senyum di bibirnya memudar seiring kepergian sang gadis.
.
.
.
Ayano berlari setelah sampai di sebuah rumah yang ia tuju.
'Hup' kemudian dengan sigap ia memeluk seseorang yang ia lihat sosok punggungnya yang sedang merunduk. Yang dipeluk pun hampir menjatuhkan cangkir yang sedang ia pegang, namun ia berusaha untuk tidak terkejut karena ia sudah bisa menebak siapa yang memeluknya seperti itu.
"Ryuzaki!" sapa Ayano pada objek yang masih ia peluk itu.
"Kau tidak ada jadwal?" sekarang Ryuzaki atau L, atau kita boleh memanggilnya kekasih hati sang gadis sejak seminggu yang lalu. Sedangkan yang ditanya hanya menggelengkan kepala kemudian melepas pelukannya untuk bisa menatap wajah sang kekasih yang sudah seminggu ini tidak bertemu.
"Hari ini jadwalku sudah selesai. Kau juga tidak sedang sibuk kan?" sekarang Ayano yang balik bertanya, sebab ia melihat kediaman L kembali sepi seperti hari natal waktu itu. Pasti L juga memberi libur tahun baru satu hari untuk anak buahnya.
"Saya sibuk" jawaban singkat dari L membuat Ayano mengerucutkan bibirnya.
"Hm..padahal aku ingin mengajakmu melihat festival kembang api di alun – alun kota nanti malam" . L yang mendengarnya malah mengacuhkannya. Ia melepas pelukan Ayano lalu kembali menuju laptopnya.
"Oh iya, hm.. bagaimana kalau hari ini aku membuat kue untukmu. Kau suka strawberry? Aku bisa membuat kue dengan banyaak selai strawberry pasti kau suka!" kata Ayano dengan riang.
"Saya bukan Beyond yang maniak strawberry" meskipun kata – kata L terdengar santai, tapi kalimat darinya benar – benar membuat Ayano terkejut. Seketika Ayano terdiam, L menatapnya tajam. Seakan tersadar dari mimpi Ayano pun memutus kontak mata dengannya.
"O-h baiklah, kalau begitu. Aku.. sepertinya aku harus pulang sekarang" Ayano mendadak gemetar mendengar sebuah nama yang L sebutkan tadi. Ia tidak menyangka bahwa L akan berkata seperti tadi. Menurutnya itu sangat.. menyakitkan. Ayano keluar dari rumah itu dengan tergesa – gesa meninggalkan L yang masih termangu di hadapan laptopnya. Watari yang baru datang dengan minuman yang ia bawakan untuk Ayano hanya bingung menyadari Ayano yang sudah tidak ada. Namun sepertinya ia tau apa yang telah terjadi.
"Seharusnya kau tidak melampiaskan kekeselanmu padanya L" nasehat Watari pada L.
"Ya"
"Kau harus lebih bisa mengendalikan diri L"
"Saya mengerti" Ya, sepertinya L tadi sempat hilang kendali dan melampiaskan kekesalannya karena kasus Kira yang selalu menemui jalan buntu kepada Ayano. L hanya kesal kepada Light Yagami yang sepertinya selalu berhasil lolos dari tuduhannya sebagai Kira. Dan sekarang ia malah menyesal telah bersikap seperti tadi kepada gadisnya itu.
.
.
.
.
Gadis bersurai pirang itu terus berjalan di atas trotoar yang masih sedikit beku. Terlihat pipinya yang sudah memerah dan mulutnya yang sudah berkali – kali mengeluarkan asap saat bernafas karena cuaca yang semakin malam semakin dingin. Untung saja sekarang sudah malam dan ia memakai kacamata hitam, syal, juga topi kupluk rajut untuk penyamarannya sehingga tidak ada orang yang menyadari kehadiran seorang artis di tengah khalayak ramai seperti ini. Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, namun Ayano sangat enggan untuk kembali ke dormnya. Kakinya yang sudah lelah berjalan pun memilih untuk duduk di bangku taman dekat jalan itu. Di bukanya stilleto hitam lalu ia menemukan kakinya yang sudah memerah dan agak lecet. Kakinya sudah terasa sangat pegal karena ia terus berjalan sedari tadi. Namun yang membuatnya miris adalah ia terus teringat kata – kata L tadi. Sekarang yang ada di kepalanya adalah semua pertanyaan 'mengapa L bersikap seperti itu?' 'Apakah dirinya berbuat sesuatu yang membuat L marah?' 'Kalau iya apa hal yang telah ia perbuat sehingga L marah?' Padahal hubungan mereka baru saja berjalan seminggu. Tapi kenapa sudah jadi begini? Apalagi L sempat menyebut nama seseorang dari masa lalu yang tidak ingin ia ingat lagi. Mata Ayano tiba – tiba memburam, tak terasa setetes air meluncur ke pipinya. Ah, gadis itu sepertinya tidak dapat menahan kesedihannya. Meskipun sedari tadi ia berusaha tetap tegar namun tetap saja. Sebenarnya ia hanya ingin melewati malam pergantian tahun dengan L sehingga ia sudah jauh – jauh hari meminta izin kepada Manager Han untuk di kosongkan jadwalnya saat malam hari tanggal 31 desember ini. Tapi yang terjadi malah tidak semulus rencananya. Padahal ia sangat rindu kekasihnya itu. Yah, sepertinya Ayano memang harus melewati malam pergantian tahun seorang diri.
.
.
.
.
"Nona,, Selamat sore. Silahkan masuk" Watari menyambut kedatangan Ayano hari ini. Seminggu setelah kejadian malam tahun baru itu Ayano maupun L sama sekali tidak berkomunikasi satu sama lain. Maupun itu dari email, sms, ataupun telepon. Hal itu membuat Ayano sedikit jengah dan khawatir. Di satu sisi ia masih kesal kepada L atas apa yang ia lakukan malam itu, tapi di sisi lain ia merindukannya dan ingin berusaha memperbaiki semua. Kalau pun L masih marah padanya, ia harus tau alasan mengapa L sampai marah padanya. Jadi ia memutuskan setelah selesai syuting ia pergi ke rumah L, tak lupa membawa chesee cake buatannya sendiri.
"Um.. apa Ryuzaki sedang sibuk?" tanyanya.
"Dia tidak pernah tidak sibuk nona, tapi melihat nona datang pasti ia akan senang" katanya sambil tersenyum ramah. Tidak seperti biasanya kali ini Ayano di bawa oleh Watari ke ruangan lain.
"Mohon tunggu di sini sebentar. Saya akan panggilkan Ryuzaki ke sini" Ayano tidak berkata apapun. Ia hanya tersenyum maklum. Mungkin L dan para anggota kepolisian masih sedang bekerja mengurus masalah Kira si pembunuh. Ya, memang benar sesuai dugaan, Watari sebenarnya membawa Ayano ke ruangan lain sebab L dan yang lain sedang mengawasi Light dan Misa yang sedang ditahan akibat kecurigaan L kalau Light adalah Kira dan Misa adalah Kira kedua. Tak lama pintu ruangan yang di tempati Ayano pun terbuka. Ayano langsung terlonjak dari duduknya saat melihat sosok L yang sedang berjalan ke arahnya.
"Um, hai Ryuzaki selamat sore" sapanya canggung. Melihat tatapan L yang selalu datar namun tajam itu selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Hai, duduklah. Maaf membuatmu menunggu di sini. Kami sedang mengurus sesuatu"
"Ya, tidak apa – apa " Watari pun mucul untuk memberikan dua gelas teh setelah itu ia kembali keluar. Keheningan yang membuat Ayano sangat canggung. Ia mulai menyesap teh hangatnya untuk menghilangkan kegugupan.
"Um,, Ryuzaki.. aku.."
"Apa yang kau bawa?" tanya L yang sedari tadi penasaran dengan bungkusan yang di bawa Ayano.
"Oh, ehh ini. Ini kue buatanku" hampir saja ia lupa pada cheese cake yang ia bawa untuk L. Ayano mulai membuka kotak yang ia bawa, yang isinya ternyata adalah cheese cake buatannya yang sudah dipotong – potong rapih. L menatap kue itu dengan berbinar.
"Boleh saya coba?" tanyanya.
"Ya, tentu saja ini kan memang untukmu" kata Ayano yang langsung membiarkan L mengambil sepotong kue itu dan langsung ia lahap sekaligus ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? Enak tidak?" L masih melahapnya sampai ia memakan satu potong lagi. Ayano hanya tersenyum melihatnya.
"Kau pintar memasak" komentar L di tengah - tengah asiknya menikmati kue.
"Tidak juga, hanya bisa sedikit – sedikit " setelah itu hanya keheningan lagi. L masih terus menyantap kuenya. Ayano bersyukur sekarang L sepertinya sudah tidak bersikap menyebalkan seperti seminggu yang lalu. Ayano menghela nafas, ia hanya bisa terdiam sambil menatap teh yang ada di dalam cangkir yang ia genggam.
'Cup' tubuh Ayano menegang disaat ia rasakan sentuhan lembut di pipi kanannya. Meskipun hanya beberapa detik tapi Ayano tetap saja merasa terkejut. Langsung saja ia tolehkan kepalanya kepada si pelaku cium pipi itu. Sedangkan L yang ia lihat malah masih asik mengemut jarinya dari sisa – sisa krim keju. Pipi Ayano terasa hangat dan dengan cepat berubah warna menjadi sewarna bunga sakura di musim semi. Segera ia tundukan kepalanya dan menenggelamkan sebagian wajahnya ke dalam syal yang ia pakai.
"Ada apa? Kau terlihat murung hari ini" tanya L yang sekarang sudah menatap Ayano.
"Ti-tidak apa – apa aku hanya.."
"Gomen.."
"Eh?"
"Kejadian waktu itu, maafkan saya. Saya hanya sedang banyak pikiran" lanjut L.
"Ya, aku mengerti kok" kata Ayano yang tersenyum. Hatinya sekarang sudah benar – benar lega karena ternyata sekarang hubungannya dengan L sudah membaik. Ayano tersenyum sangat manis, menampilkan dimple di kedua pipinya, membuat L untuk sesaat gemas melihatnya hingga kemudian
'Cup' satu lagi kecupan diberikan L namun kali ini di pipi kiri Ayano. Kali ini L masih menatapnya lekat setelah berhasil menciumnya. Seperti sudah secara otomatis disetting pipi itu pun merona kembali.
"Kenapa tidak memberi kabar?" sekarang L mulai membelai surai pirang milik Ayano. Merasakan sensasi lembut saat jari – jari itu menyentuh rambut sang gadis. L menikmatinya, rambut Ayano sangat lembut dan wangi, apalagi wangi manis dari shampoo yang Ayano gunakan membuat L betah berlama – lama untuk berdekatan dengannya. Mendengar pertanyaan dari L, Ayano kembali menundukan wajahnya.
"Um.. itu maaf. Aku pikir kau butuh waktu untuk tidak diganggu olehku"
"Saya tidak pernah bilang kalau saya marah" L masih saja mengelus puncak kepala Ayano yang ada di sebelahnya. Ah, bahkan sekarang L sedang mencuri kesempatan untuk sesekali mengecup pucuk kepala itu.
"Um.. yah maaf kalau begitu. Aku pikir kau marah padaku. Lagi pula kau juga pasti sibuk kan?" Ayano berusaha mengalihkan pembicaraan sebab ia sudah mulai salah tingkah.
" Hm.. ya.." kata L yang sudah mulai menghirup rambut Ayano.
"Um.. Ryuzaki, ada yang ingin aku sampaikan" sekarang Ayano dengan berani menatap mata L. L sedikit kecewa karena kegiatannya jadi terganggu.
"Apa?"
"Hm,, itu.. aku hanya ingin meluruskan kalau.. aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan..dengan yang bernama Beyond Birthday itu" L terus mendengarkan.
"Dulu kami hanya,, teman. Yah sebatas itu saja kami saling mengenal. Aku juga tidak tau mengenai seluk beluk kehidupannya. Aku hanya tau dia mengaku sebagai seorang detektif. Selain itu dia orang yang baik, dibalik sikapnya yang aneh" Sekarang Ayano berusaha menceritakan masa lalunya kepada L. Ya, L memang ingin tau akan hal itu, dan tak disangka kali ini Ayano yang secara suka rela menceritakannya.
"Sebelum aku tau dia adalah seorang pembunuh, menurutku dia.. orang yang sangat baik" jeda sejenak.
"Kau menyukainya?" kali ini L dengan segera bertanya tentang hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan sejak dulu. Ayano terkesiap mendengarnya.
"I-itu.. aku.. aku tidak tau. Maksudku itu sudah berlalu, meskipun dulu aku menyukainya tapi.. kami tidak sampai menjalin hubungan lebih dari sekedar teman" Ya, Ayano berkata jujur. Meskipun ia sempat terjerat oleh pesona bola mata merah milik Beyond, namun pada kenyataannya mereka tidak pernah menyatakan perasaan masing – masing terlepas dari kejadian mereka hampir berciuman waktu itu.
"Jadi maksudku, aku tidak pernah menganggapmu seperti Beyond, apalagi menganggapmu sebagai sosok penggantinya" lanjut Ayano sekarang Ayano pun merasa lega dapat mengeluarkan isi hatinya kepada L. L tersenyum tipis mendengarnya, sangat tipis bahkan sepertinya luput dari penglihatan Ayano.
"Apakah dia sangat mirip dengan saya?"
"Um, kalau dibilang mirip, orang yang baru pertama kali melihat kalian mungkin akan menganggap kalian adalah anak kembar, hanya dibedakan oleh warna bola matanya saja"
"Bola mata?"
"Ya, ia memiliki warna mata yang sangat langka. Merah darah" L terdiam sejenak menggigiti kuku ibu jarinya. Masih fokus dengan cerita Ayano ia terus menatapnya .
"Tapi karena aku sudah sering melihatmu, aku jadi bisa bilang kalau kalian tidak mirip. Dari segi rambut juga tidak mirip, hum.. wajah juga tidak" sekarang Ayano sedang mengamati wajah L. Ayano benar – benar menyadari perbedaan wajah L dan Beyond. Dari bentuk tulang rahangnya, bentuk matanya, hidungnya, hingga rambutnya semua berbeda.
"Jadi? Apa saya lebih tampan?" pertanyaan narsis L namun dengan ekspresi datar malah membuat Ayano terkikik geli.
"Iya! Iya tentu saja Ryuzaki lebih tampan!" kata Ayano yang langsung memeluk L.
"Aku rindu sekali sama Ryuzaki" katanya sambil menyembunyikan wajahnya ke leher sang kekasih.
"Ya,, " Ayano tidak tau, bahkan L juga merasakan hal yang sama. Seminggu tak ada kabar berita, hanya mampu melihatnya lewat televisi ataupun internet tidak cukup mengobati rasa rindu yang dialami oleh L.
"Besok – besok kau harus mengirimkan saya kabar. Jangan seperti ditelan laut seperti minggu lalu, mengerti?" Ayano hanya bisa menganggukan kepala, tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibangding menikmati dekapan hangat kekasihnya di musim dingin seperti ini.
TBC
MIND TO REVIEW?
