—18 VS 29—
a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.
.
Jaejoong, Yunho, Junsu, Changmin, Yoochun, Jessica, Woobin, Siwon.
YUNJAE, MINSU.
T-M Rated.
Drama/Romance.
WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!
.
DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!
.
.
[ © Sebuah remake dari novel milik Ji Suhyun dengan judul yang sama(2003), cerita sepenuhnya milik Ji Suhyun hanya beberapa yang saya potong & ubah termasuk pemeran dan latar untuk keperluan cerita. ]
.
.
.
.
Bagian Sembilan.
.
.
.
Apa iya memberi isyarat 'Di mana?' padaku?
Yunho merasa bingung ketika melihat ada cahaya lampu di depannya. Ia tahu ada banyak tempat yang memiliki lampu terang di kota, tapi di tempatnya disekap saat ini mana mungkin ada cahaya lampu yang begitu terang. Yunho terus berpikir demikian. Dia penasaran dengan cahaya lampu itu, tapi tentu saja ia tidak bisa berjalan ke arah dimana sinar itu datang. Entah bagaimana ia hanya merasa cahaya itu seolah isyarat "Kau ada di mana?"
Yunho berhasil keluar dan mendapat senter kecil di tangannya dengan mengiming-imingi penculik yang mengenal dirinya dengan uang dua kali lipat dibanding yang diberikan si klien. Tapi sepertinya satu penculik lainnya—yang menelpon si klien lebih sulit dibujuk dengan uang dua kali lipat karena itu ia harus segera kabur selagi ada kesempatan.
Saat keluar dari ruangan, Yunho melihat isyarat cahaya itu dan akhirnya membalas dengan mengirim balik isyarat 'aku disini'.
Yunho secepat mungkin berusaha keluar dari gedung dan mendatangi asal cahaya itu.
Dan benar saja, begitu keluar dari gedung kosong itu Yunho melihat Jaejoong yang berlari keluar dari sebuah mobil. Mata Jaejoong membesar ketika melihat Yunho.
"Jung Yunho!"
Ada perasaan yang luar biasa lega saat Yunho mendengar suara itu.
"Kau bilang mau makan malam!" wajah istrinya itu kini dipenuhi gurat kekhawatiran.
"Mana aku tahu kalau aku akan diculik kan."
Jaejoong pun akhirnya memeluk Yunho erat-erat, "Huweeee... Ku pikir akan terjadi apa-apa padamu."
Sebenarnya Yunho juga berpikir begitu, ia pikir ia akan mati dan hal itu membuatnya takut. Ia takut mati lebih dulu sebelum kakeknya yang bermasalah tekanan darah tinggi. Ia takut mati sebelum memberitahu status Jessica pada Changmin. Dan ia takut tidak bisa melihat wajah Jaejoong lagi. Baginya semua itu adalah hal yang mengerikan.
"Jangan menangis lagi, nanti kau tambah jelek."
Biasanya candaan Yunho yang begitu akan membuat Jaejoong marah, tapi tidak kali ini. Jaejoong hanya terus menangis di pelukan Yunho.
Ternyata wanita ini sudah berbohong padaku.
Musim semi lalu, Jaejoong pernah mengatakan pada. Yunho kalau dirinya benci jika tangan Yunho menyentuhnya. Ia bahkan benci sampai ingin melupakan namanya. Sekarang terbukti bahwa ternyata Jaejoong tidak membenci Yunho. Padahal bisa saja Jaejoong menunggunya dirumah, tapi istrinya itu justru datang mencarinya bahkan sampai mengirimkan isyarat, keluar dari mobil di cuaca sedingin ini dan menangis karena cemas untuknya. Sudah jelas Kim Jaejoong tidak mungkin bersikap begini jika membencinya.
Yunho hanya menyimpan kesimpulan itu sendiri dan memeluk erat Jaejoong yang menangis sampai hidung dan matanya memerah. Baginya, tangisan dan pelukan Jaejoong saat ini terasa begitu berarti.
"Bagaimana kau bisa datang? Disini dingin sekali, apa kau sendirian?"
"Changmin memergoki orang jahat itu di toilet ketika berbicara dengan para penculikmu. Sebenarnya Siwon oppa menyuruhku menunggu saja karena bahaya kalau aku ikut, tapi aku tidak bisa tinggal diam... huweee. Siwon oppa menyuruhku diam disini katanya dia mau pergi mencarimu."
Yunho mendengarkan dengan baik perkataan Jaejoong, tapi masalahnya sekarang mereka harus segera pergi sebelum penculik satunya menangkap mereka.
"Telepon Siwon, katakan kau sudah menemukanku. Kita harus pergi dari sini secepatnya. Aku khawatir karena masih ada satu penculik lagi. Kunci mobilnya masih tergantung di mobil kan?"
"Mau pergi kemana kau hah?!"
Saat Yunho sedang bicara pada istrinya muncul sahutan dari arah lain. Jaejoong melihat kepanikan di wajah suaminya saat menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria berdiri sambil memegang kayu di salah satu tangannya. Sepertinya orang itu adalah orang yang Yunho maksud tadi. ini pertama kalinya Jaejoong berhadapan dengan penculik asli.
"Masuklah ke mobil, Jaejoong-ah!" perintah Yunho, tapi Jaejoong tidak menuruti perintah suaminya itu.
"Tidak mau!"
"Tolong dengarkan aku sekali ini saja!"
Tak ada waktu, Yunho menyembunyikan Jaejoong di belakang punggungnya sambil mengawasi si penculik yang mendekati mereka sambil mengayunkan kayu di tangannya.
"Apa kau belum dengar dari temanmu kalau aku memberikan tawaran yang lebih besar?"
Penculik itu tertawa.
"Aku ini berbeda dengannya yang mudah diiming-imingi permen, tujuanku adalah menjalankan misi dengan beres bukan sekedar menerima uang."
Yunho menghela nafas, dialog itu persis seperti di film-film. Si penculik pun semakin dekat.
"Kalau begitu biarkan wanita ini pergi, yang kau dan klienmu inginkan itu hanya aku."
"Bisa juga begitu, tapi wanita itu sudah terlanjur melihat wajahku. Menghilangkan bukti adalah hal penting bagiku."
"Tidak bisa seperti ini." bisik Yunho pelan.
"Baiklah, sudah ku pikirkan. Sini kau..."
Penculik itu tidak bisa meneruskan ucapannya karena Yunho segera memberi satu pukulan tepat di perutnya.
"Tadi kan sudah ku tawari uang tapi kau menolak jadi tak ada cara lain."
Penculik itu menyangka pukulan orang yang bersih dari kejahatan itu lemah, namun pukulan Yunho sampai membuat kayu yang dipegangnya terlepas. Tentu saja ini karena Yunho pernah berlatih keras selama wajib militer, dia juga sempat mengambil sekolah beladiri untuk film action yang dimainkannya. Sekarang mereka berdua sama-sama bertangan kosong, mereka berkelahi dengan sengit. Sambil menahan serangan si penculik, Yunho berteriak pada Jaejoong.
"Lari! Cepat lari, Jaejoong-ah!"
Jaejoong yang sebenarnya mungkin tak akan lari, ia lebih memilih mencari alat untuk memukuli penjahat itu. Tapi kali ini situasinya tidak memungkinkan karena ia membawa dua nyawa. Berniat ingin pergi, kaki wanita itu justru seperti berakar, ia tidak bisa meninggalkan suaminya disana akhirnya ia mengambil ponsel dan segera menelpon Siwon.
Jaejoong panik saat melihat Yunho terluka dan berdarah disana-sini. Saat Yunho kesakitan, si penculik meninggalkan pria itu dan berjalan mendekati Jaejoong.
"Berikan ponselmu!"
Jaejoong melangkah mundur saat penjahat itu mendekat, ia menatap tajam sambil memperingatkan dengan suara bergetar.
"O-orang yang menyuruh kalian melakukan ini sekarang sudah ditangkap! Kau tidak akan mendapat uang meski melakukan ini."
"Cih. Kau pikir aku percaya?!"
Tapi Jaejoong berhasil menyita perhatian penculik itu dengan terus bicara.
"Aku tidak bohong. Kau pikir kenapa aku bisa sampai ke tempat ini? Saat ini polisi juga sedang dalam perjalanan kesini."
Percakapan mereka hanya berlangsung selama tiga puluh detik tapi cukup bagi Yunho untuk memulihkan tenaga dan beranjak bangun. Dia mengambil kayu yang sempat terjatuh dari tangan penculik itu lalu berlari hendak memukul kepalanya dari belakang.
Mendengar pergerakan, penculik itu menoleh dan segera mengeluarkan pisau lipat dari balik saku celananya. Yunho tak menyadaru pergerakan cepat itu sehingga saat ia dekat, si penculik memanfaatkan kesempatan itu untuk menghunus pisau ke perut Yunho.
Selama sepuluh detik waktu seolah berhenti.
Yunho tak mampu bersuara bahkan saat rasa sakit mulai menjalar. Jaejoong menjerit saat melihat darah merembes dari luka di perut kiri Yunho. Penculik itupun segera pergi setelah melihat Yunho tersungkur.
Jaejoong tak sempat berpikir mengejar penculik itu, yang ia pikirkan adalah suaminya. Darah Yunho semakin banyak dan Jaejoong semakin panik.
"Yunho! Yunho! Sadarlah ku mohon..." tanpa sadar air mata Jaejoong sudah meleleh begitu saja.
"Khh— sial, sakit sekali..." Yunho masih sempat berucap sambil menutupi lukanya dengan tangan padahal ia sangat tahu itu tidak berguna.
Semuanya terjadi dalam satu hari. Dimulai dari Yunho yang mengajak Jaejoong makan di restoran untuk membicarakan hal yang Jaejoong inginkan. Yunho bahkan sempat mengirim pesan cinta untuk istrinya itu, tapi kemudian ia diculik dan saat ini terbaring sekarat karena ditusuk. Yunho merasa sangat ingin menangis karena rasa sakit ini.
"Hei... hiduplah dengan baik sekali lagi."
Ya, dulu saat Jaejoong meminta cerai Yunho pernah mengucapkan kalimat yang sama, bedanya saat itu ia penuh kemarahan tapi kalimatnya kali ini adalah kalimat terbaik yang ia punya.
"Berisik! Kau tidak boleh mati sekarang! Aku tidak mau bayiku tidak punya ayah!"
Tapi Yunho terlanjur tak sadarkan diri saat itu. Dengan susah payah Jaejoong memapah tubuh Yunho karena ia tak bisa menunggu sampai Siwon datang. Jaejoong tak bisa berpikir apa-apa selain membawa Yunho ke rumah sakit terdekat.
Saat berhasil memasukan Yunho ke dalam mobil, Jaejoong segera duduk di bangku kemudi dan menyalakan mobil. Ia memang tau kemampuan menyetirnya buruk tapi ini adalah situasi darurat.
Ia menginjak pedal gas perlahan agar yakin tak ada yang celaka. Ia berhasil berjalan keluar kompleks gedung kosong itu saat seseorang muncul mendadak di depannya dan membuatnya harus menginjak rem dalam-dalam.
Ckiiit!
Terdengar suara roda yang bergesekan dengan aspal saat mobil terhenti. Jaejoong sedikit terdorong ke depan dan kepalanya terasa sangat sakit saat itu. Yang terjadi selanjutnya lagi-lagi seperti sebuah film. Perlahan-lahan ingatannya muncul.
.
"Ini semua karena kau keras kepala! Apa kau puas kehilangan anak kita?!"
"Aku ingin jadi janda."
"Sebenarnya kenapa? Berikan alasan yang bisa ku terima."
.
Ia tak henti-hentinya melihat dan mendengar berbagai adegan. Suara-suara itu terus terngiang di telinga Jaejoong sampai suara lain menyadarkannya bersamaan dengan ketukan di kaca mobil.
"Jaejoong... kau tidak apa?"
Siwon membuka mobil dan terkejut melihat baju Jaejoong yang bersimbah darah.
"Ya Tuhan! Ada apa denganmu? Darah siapa—" kemudian perhatian Siwon tertuju pada Yunho dengan lukanya di bangku belakang. Siwon terkejut, sebelum kembali mengguncang bahu Jaejoong.
"Jae! Jaejoong! Kau baik-baik saja?"
"Ah, iya..." Jaejoong pun masih linglung, ia merasa seakan sedang bermimpi.
Dari kejauhan terdengar suara sirine dari mobil polisi. Suara itu menjadi pertanda bahwa malam yang sangat panjang ini telah berakhir. Orang-orang datang ke tempat mereka berada. Malam yang gelap dan dingin itupun kini berganti menjadi terang. Fajar mulai menyingsing.
.
.
"Hiks— huwee..."
Beberapa hari kemudian suara tangis seorang wanita menggema di sebuah kamar opname rumah sakit.
"Berhentilah menangis! Aku kan belum mati dan kau tidak jadi janda. Operasi berhasil kenapa kau menangis begitu di depan orang yang sudah sehat?!"
Mata Jaejoong bengkak dan suaranya serak saat menyahut.
"Kau tidak tahu perasaan khawatir wanita yang nyaris menjadi janda. Kekhawatiranku sudah hilang tapi airmataku tidak bisa berhenti, lalu aku harus bagaimana?"
Waktu itu dokter bilang kalau pendarahan yang dialami Yunho sangat parah dan bisa membahayakan nyawanya karena itu perasaan Jaejoong campur aduk sampai saat ini. Untungnya ada Changmin yang mau mendonorkan darah untuk kakaknya.
Kakek juga langsung datang ke rumah sakit setelah mendengar berita bahwa Yunho terluka. Awalnya kakeklah yang ingin mendonorkan darah tapi kemudian dokter melarang karena tekanan darah kakek tinggi. Setelah operasi hari itu, Yunho berhasil melewati masa-masa kritis.
"Kenapa kau terlihat seperti orang yang tidak mau jadi janda?"
Sebenarnya ini sindiran sekaligus candaan karena dulu Jaejoong pernah bilang ingin jadi janda tapi sekarang malah sebaliknya.
Mendengar itu Jaejoong justru mendekati Yunho sambi menatap tajam.
"Apa? Kau mau apa pada pasien yang baru saja pulih dari operasi? Aaarghh!"
Jaejoong mencubit lengan Yunho.
"Bisa tidak sih kau perbaiki cara bicaramu? Aku dan kakek selalu jadi korbanmu tahu! Lalu nanti kau pikir anak kita mau belajar darimu huh?!"
"Aduh aku ini pasien, tahu..."
"Oh, kau suka jadi pasien ya? Padahal barusan kau bilang operasimu berhasil dan kau sudah sehat. Kau begini karena membuat Kim Woobin sakit hati kan? Salahmu sendiri tidak bisa berubah. Kau tidak tahu kan aku takut sekali bahkan sampai saat ini rasa takut waktu itu masih sangat jelas."
Yunho terdiam, bukan karena omelan istrinya melainkan karena airmata Jaejoong yang terus mengalir. Ternyata wanita itu benar-benar takut kehilangannya. Ia tersenyum tipis dan menjawab.
"Sini... kita tidur bersama."
Yunho membuka selimutnya dan bergeser, mengosongkan sebagian tempat tidurnya.
Jaejoong memang tak sempat melihat cermin tapi ia yakin saat ini penampilannya amat sangat berantakan. Sejak Yunho dibawa ke rumah sakit sampai hari itu Jaejoong sama sekali tidak tidur ditambah ia selalu menangis. Namun, mendengar ajakan suaminya barusan sepertinya rasa kantuk itu mulai datang.
"Sekarang pasti banyak wartawan di luar jadi kau tidak bisa pulang. Karena itu kemarilah, tidur di sebelah oppa."
"Oppa apanya! Aku lahir duluan daripada kau, lagipula bagaimana kalau suster melihat kita?"
"Kalau lihat memang kenapa? Kita kan tidak melakukan hal yang aneh-aneh."
Akhirnya Jaejoong menggapai tangan Yunho dan berbaring di sebelah suaminya itu. Jaejoong bisa mendengar detak jantung Yunho saat ini dan satu-satunya hal yang ia rasakan adalah tenang. Namun hal itu tak berlangsung lama, ekspresi wanita itu berubah saat merasakan tangan Yunho menyentuh perutnya.
"Singkirkan tanganmu! Sedang apa hah?"
"Hei diamlah sebentar, aku hanya penasaran sudah seberapa besar perutmu."
Perlahan Yunho menyentuh perut Jaejoong yang belum terlalu besar itu. Belaian tangannya lembut seperti mengelus kepala bayi. Jaejoong pun luluh lagi dan menangkup tangan Yunho yang ada di perutnya.
"Belum cukup besar karena masih beberapa bulan." dan rasa kantuk itu semakin menyergap, perlahan Jaejoong mulai tertidur meski kemudian terkaget lagi. Kali ini karena tangan Yunho merambat menuju 'bagian lain'.
"Kau memang tidak bisa dipercaya. Dulu juga, saat pertama kali kita tidur bersama kau bilang hanya ingin memegang tanganku tapi berlanjut kesini-kesitu, kau pikir aku bodoh?!"
"Itu kan kau juga su— tunggu, kau ingat?" meski bekas operasinya belum kering dan masih di infus, Yunho berusaha duduk dan menatap tajam pada Jaejoong. Ekspresi Yunho terlihat seperti orang yang baru disiram air dingin, ia kaget bagaimana Jaejoong bisa mengingatnya.
Dengan tenang, Jaejoong mengangguk.
"Tidak semuanya, hanya sebagian-sebagian. Semuanya muncul seperti potongan film. Aku ingat waktu kau melamarku, juga waktu pertama kali bertemu di SMA. Cukup banyak, tapi sepertinya banyak yang samar-samar juga. Aku mungkin butuh waktu lama untuk mengingat semuanya."
Yunho tampak bingung. Ia terus berpikir apa Jaejoong mengingat saat itu? Saat wanita itu meminta berpisah dan bilang ingin melupakannya?
Jaejoong hanya menghela nafas panjang, mendekatkan wajahnya pada Yunho lalu mengecup pelan sudut bibir suaminya itu, kemudian ia berbisik.
"Aneh ya? Di satu sisi, aku bahagia dengan semua yang ku ingat. Di sisi lain, itu membuatku sedih."
Seperti yang dikatakan Jaejoong tadi, ingatannya belum sempurna pulih. Beberapa ingatan muncul dengan sangat jelas, tetapi beberapa bagian lain tidak muncul atau samar-samar. Yunho muncul di ingatan Jaejoong yang tidak begitu jelas. Ada beberapa potongan ingatan yang terasa janggal. Ia tidak tahu, tapi ingatan itu mungkin saja memang yang sebenarnya. Bagi Jaejoong, Yunho adalah orang yang penting jadi semua ingatan bersama Yunho membuat Jaejoong bahagia.
Tapi, ternyata ada juga ingatan yang membuatnya tidak bahagia.
.
.
.
to be Continued
.
.
a/n: Hello there! Seperti biasa saya minta maaf buat slow update dan menggantungkan kalian sangat lama.
Karena saya pikir kasihan beberapa reader yang tidak bisa mengunjungi wattpad jadi saya akan menyelesaikan ff ini disini dulu baru benar-benar pindah ke wattpad.
Anyway terima kasih masih menunggu ff remake ini. See ya in the last chap! ^^
