Disclaimer © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Aku tak bisa menghentikan kakiku yang bergerak-gerak gelisah. Wajahku masih panas, detak jantungku masih jauh dari normal. Aku melirik Gaara senpai yang membelikanku es krim -ada penjual keliling yang lewat di bawah- padahal makanan masih bertumpuk di sampingku. Oh tuhan bahkan aku sudah kenyang tanpa memakan apapun. Aku tak berselera. Rasa Gaara senpai di bibirku masih terlalu jelas. Ini vulgar, tapi begitulah kenyataannya.
"Ini." Gaara senpai menyodorkan ice krim cup padaku. Yah maklumilah pedagang keliling yang hanya membawa jenis es krim murah meriah.
"Senpai tidak makan?" Aku menatap tiga cup es krim di tanganku. Ini semua buatku? Apa maksudnya?
"Kau kelihatan kepanasan. Ku pikir satu tak akan cukup mendinginkan suhu tubuhmu." Dia mengucapkan itu sambil mengedikkan bahu dengan menyebalkan. Memangnya siapa yang membuatku kepanasan? Lagipula kata-katanya sangat tak sopan. Harusnya dia bisa memasang ekspresi jahil agar aku menganggapnya lelucon. Datar. Datar. Datar. Ekspresi datar sialan. Bahkan untuk tersinggungpun aku kesulitan.
"Jangan menggerutu pacarku." Ya ya aku menggerutu karnamu. Aku menyuapkan es krim ke mulutku sambil melirik sinis ke arahnya. Dia mengacak pelan rambutku, tapi ekspresinya masih datar. Sialan.
"Bukankah ini sia-sia?" Gaara senpai menarik tangannya menjauh dari kepalaku. "Maksudku, senpai mendekatiku untuk menyakiti Sasuke 'kan? Dia tidak lihat ini, jadi apa tidak sia-sia?" Terserahlah. Semenyeramkan apapun kesan pertamaku tentangnya faktanya aku merasa terbiasa dengan keberadaannya di sisiku. Itu membuat rasa takut dan seganku nyaris hilang.
Aku melirik Gaara senpai. Dia terdiam, pandangannya teralih dariku. Apa aku salah bicara? Aku hanya bertanya. Jika dia tidak suka hanya katakan saja. Matanya menerawang lebih jauh dari perkiraanku, menembus jajaran terujung pepohonan. Apa sebenarnya yang dipikirkan senpai satu ini?
"Tentu saja tidak sia-sia." Dia menoleh dan menatapku. "Setidaknya kau jadi memiliki pengalaman bagus." Tentu saja. Pengalaman yang sangat bagus. Tapi bisakah dia mengucapkan itu dengan di iringi seringaian, senyum konyol atau senyum lembut atau apapun asalkan tidak wajah datarnya? Aku jadi merasa apa yang dilakukannya hanya seperti kewajiban. Tanpa emosi. Mungkinkah aku separah itu sampai tak mampu membuatnya berdebar sedikitpun? Ini sangat melukai harga diriku.
"Haruskah aku mengucapkan terima kasih?" Aku melengos. Wajah tampannya tidak membuatku tertarik memandanginya lagi.
"Entahlah."
Kami tak terlalu banyak bicara setelah itu. Hanya sebatas pertanyaan dan jawaban sederhana. Dia mengantarku pulang pukul dua belas lewat. Ini bagus setidaknya Karin tidak mengomel karna terlalu lama pergi. Dan aku sedang tak ingin mendengarkan apapun. Otakku tak mau membiarkan pria merah dengan mata panda itu pergi dari kepalaku. Banyak pertanyaan yang mengelilingi wajahnya di dalam benakku. Benarkah dia mendekatiku karna ingin menyakiti Sasuke? Kenapa dia hanya berekspresi datar? Yang paling parah, apa aku tak memiliki pengaruh apapun padanya? Ini melenceng. Apa sebenarnya yang ku harapkan?
Keesokkan harinya masih seperti biasa. Maksudku segala jenis adu mulut antara Sasuke dan Gaara senpai. Mungkin sebenarnya bukan aku alasan mereka melakukan itu, tapi karna mereka saling suka atau mungkin saling tertarik, dalam konteks normal. Oh ya memangnya apa yang normal jika berhubungan dengan mereka?
"Uhh sebenarnya seperti apa bentuk otak para pencipta rumus ini?" Keluhku. Selain matematika, fisika memiliki rumus yang lumayan menyebalkan. Aku ingin memiliki otak yang bersahabat dengan rumus. Jam istirahat saat tak lapar atau ada kepentingan selalu aku gunakan mengulang pelajaran. Aku tak jenius, jadi butuh usaha lebih keras dari para jenius.
"Kau banyak mengeluh hari ini." Sasuke menarik bukuku dan menuliskan sesuatu.
"Entahlah. Aku merasa gelisah." Sebenarnya aku mulai merasakan tanda-tanda tak wajar dari perutku. Ini membuatku jengkel.
"Gelisah? Ada sesuatu yang mengganggumu?" Aku sudah terbiasa merasa terganggu. Tapi tidak dengan perutku. Sialan. Sakit ini semakin terasa dan familiar. Dan sialan. Siklus bulananku sepertinya tiba.
"Uhh kenapa di waktu dan tempat yang tak tepat sih." gerutuku jengkel. Siklusku memang kacau. Aku bahkan selalu salah dalam menghapal kedatangannya. Jika datang sekarang berarti kesialan bagiku. Pertama, perutku akan lebih sakit mulai dari sekarang. Kedua, Banjir. Maksudku banjir benar-benar banjir. Itu ku alami di hari pertama, kedua dan ketiga. Biasanya aku butuh tiga sampai empat kali ganti pembalut di siang hari. Ya memang parah. Aku mengakuinya. Juga merepotkan. Dan aku tanpa persiapan. Ketiga, bel pulang masih empat jam lagi baru berbunyi. Skenario yang sangat bagus untuk menyiksaku.
"Apanya?" Aku mengabaikan pertanyaan Sasuke. Perutku semakin sakit, aku meremas perutku demi menahan sakitnya. Apa yang harus ku lakukan? Jika tetap di sini aku tak akan tahu apa yang bisa ku alami dengan cairan merah yang mulai menyebar di rokku beberapa saat lagi. Aku mulai merasakan ancamannya. Mungkin sebaiknya aku membolos dan bersembunyi di toilet. Dan menghubungi Karin agar melakukan sesuatu. Ku rasa itu satu-satunya pilihanku.
"Sakura kau pucat. Kau sakit?" Benar. Aku merasakan suhu tubuhku mendingin dan keringat dingin bermunculan. Tapi aku mengabaikan Sasuke lagi. Aku dengan terburu-buru memasukkan barang-barangku ke dalam tas lalu pergi menuju toilet.
"Sakura. Kau mau kemana?" Sasuke masih mengikutiku yang setengah berlari. Bel masuk berbunyi. Sial. Harusnya pria itu kembali ke kelas, bukanya mengikutiku seperti ini.
Aku terduduk setelah menutup pintu toilet. Aku tak pernah terbiasa dengan rasa sakit ini. Sangat menyiksa dan menyebalkan. O oh bencana datang. Aku merasakan alirannya. Apa yang harus ku lakukan. Para kain tipis ini tak akan bertahan lama.
"Sakura. Kau kenapa? Sakura jawablah." Sasuke. Apa aku harus bersyukur dengan keberadaannya? Mungkin dia bisa menolongku. Uhhh sakitnya semakin menjadi, Aku butuh obat... Sialan. Kenapa aku tak ke ruang kesehata?
"Sakura. Jangan membuatku takut." Suara Sasuke terdengar frustasi. Tapi aku lebih frustasi lagi merasakan selakanganku semakin basah. Dengan takut-takut aku bangun dan melihat bagian bawahku. Selamat. Bagaimanapun caranya kau tak akan bisa menyembunyikan noda di rokmu yang semakin melebar Sakura. Aku gemetaran. Ternyata aku tak banyak berubah, masih gampang panik.
"Sakura. Jawab aku. Atau aku dobrak." Aku menatap pintu. Ada seseorang yang mengkhawatirkan aku di luar. Tapi dia pria. Bolehkah aku meminta tolong padanya?
"Sakura." Suara Sasuke jelas terdengar tak Sabar.
"Sasu..." Ucapku ragu-ragu.
"Oh tuhan. Apa kau baik-baik saja?" Aku menggigit bibirku ragu. Benarkah ini tak apa-apa?
"Bisakah kau menolongku?" oh tuhan. Sungguh. Benarkah boleh begini? Sepertinya aku tak punya pilihan lain.
"Katakan."
"Uhm mintakan pembalut di... ah bagaimana ini?" Aku panik. Meski ada pembalut tapi cairan ini sudah merembes kemana-mana. Ya tuhan. Aku ingin menangis. Ini pertama kalinya aku mendapat menstruasi di sekolah. Aku mau mati. Kenapa selalu ada hal tak menyenangkan menimpaku sih.
Brak. Aku ternganga melihat Sasuke akhirnya membuka paksa pintu toilet. Aku mundur beberapa langkah menjauh dari Sasuke. Dia mengamatiku. Bagaimana ini? Cairan merah sialan ini semakin banyak dan mengkhawatirkan. Aku merasa dia mulai membuat jejak aliran di kakiku. Sangat menjijikkan.
"Ya tuhan Sakura. Kau berdarah." Sasuke terdengar panik.
"Jangan mendekat. Ku mohon. Ini memalukan." Aku mengulurkan tanganku mencegahnya mendekatiku.
"Sakura. Kau berdarah. Apanya yang memalukan? Kita harus ke ruang kesehatan." Aku ingin menangis. Ini sungguh memalukan. Aku pasti terlihat sangat jorok dan menjijikkan. Tapi ini bukan mauku. memiliki menstruasi dengan cairan sebanyak ini bukan kemauanku. Aku selalu kerepotan mengurus hal ini tiap bulannya agar aku tetap bersih dan nyaman. Dan sekarang Sasuke melihatku di kondisi paling menjijikkan. Kenapa harus Sasuke? Tidak. Kenapa aku selalu sial?
"Sakura. Aku bisa mati karna cemas. Darahmu banyak sekali, kau bisa mati." Sasuke menarik tanganku. Tapi itu justru membuatku makin ingin menangis. Tidak. Aku sudah menangis. "Hey apa sesakit itu? Jangan menangis. Aku akan membawamu ke ruang kesehatan." Dengan panik Sasuke berusaha merangkul tubuhku dan membimbingku jalan.
"Bodoh. Hiks." Aku menggeliat melepaskan diri darinya. "Aku jorok Sasuke. Menjauhlah. Hiks." Aku mengusap wajahku yang basah karna air mata dengan jengkel karna tampang bingung Sasuke.. "Aku mens Sasuke." Jeritku jengkel.
"Mens?" Wajahnya masih terlihat bingung. "Uhhh..." Dia menutup mulut dengan punggung tangannya. Bagus. Sekarang aku terlihat menjijikkan. Bagian paling menyebalkannya aku tak bisa menghentikan tangisku dan rembesan di bagian bawahku. "Apa yang harus ku lakukan?" Dia bertanya. Aku mengusap air mataku lagi meski sia-sia karna yang baru terus mengalir. "Katakan Sakura, Apa yang harus ku lakukan?" Dia tidak jijik? Kenapa wajahnya justru bingung bercampur cemas? "Abaikan apapun yang kau pikirkan Sakura. Aku hanya bingung. Sungguh." Benar. Aku tak punya pilihan saat ini.
"Aku mau pulang." Dia memperhatikanku.
"Tunggu di sini." Dia pergi. Apa aku harus lega? Sasuke tak memandangku aneh. Mungkin memang dia hanya bingung.
Beberapa menit kemudian dia datang dengan tasnya. Dia bilang sudah mengurus izin pulang kami. Setelah itu dia mengeluarkan tisu dan mengelap darah yang mengalir di sela kakiku. Ini memalukan. Aku sudah bilang padanya agar aku saja yang melakukannya, tapi dia keras kepala. Aku nyaris menangis lagi menahan malu jika saja dia tak selalu tersenyum padaku dan mengatakan 'tak apa-apa'. Entah kenapa aku bersyukur ini Sasuke bukan Gaara. Setelah itu dia mengikat jaketnya di pinggangku menutupi rokku dan membawaku ke parkiran.
Sesampainya di rumahku lagi-lagi aku meringis ngeri melihat bulatan besar basah di jok motornya. Kenapa aku harus mengalami hal memalukan ini? Aku ingin mati. Tapi anehnya Sasuke terlihat tenang dan tak terganggu. Ah dia menjaga perasaanku? Dia memang selalu baik. Tapi aku tak menyangka jika dia sebaik ini.
Aku memaksa Sasuke membersihkan jok motornya di rumahku. Maksudku aku bisa mencucinya setelah aku membersihkan diriku. Tak butuh waktu lama untukku membersihkan diri. Dan untunglah persediaan pembalutku masih ada. Dan terima kasih pada obat pereda sakitku. Aku bergegas menghampiri Sasuke yang ternyata sudah selesai membersihkan motornya. Dia mencuci motornya, bukan hanya joknya.
"Kenapa kau mengerjakan itu. Harusnya biar aku saja." Ujarku tak enak.
"Ini bukan hal besar." Sasuke mencuci tangannya dan menghampiriku. "Jangan pasang tampang seperti itu." Dia mengacak pelan rambutku. Senyumnya masih semenawan sebelumnya.
Aku mengajaknya masuk ke rumah. Setidaknya aku harus memberinya sesuatu karna kebaikannya hari ini 'kan? Benar. Ku pikir membuatkannya makan siang tak ada salahnya. Dan salah. Masakanku payah dan parah. Akhirnya justru dia yang masak untuk makan siang kami. Ini membuatku semakin malu. Sebenarnya apa yang aku bisa sih?
"Sudah waktunya aku pergi. Gai sensei menungguku." Ucap Sasuke setelah melihat jam tangannya. Aku mengekorinya keluar dari rumah. Aku merasa ini salah. Tepatnya ada yang salah, ada sesuatu yang harusnya ku lakukan. Aku menungguinya yang memakai helm.
"Kembalilah ke dalam rumah. Aku tahu sedari tadi kau menahan Sakitmu." Sasuke mengusap pipiku. Dia masih selembut biasanya. Aku tahu apa yang ingin ku lakukan, tapi ragu.
"Kau tahu?"
"Hn. Wajahmu sangat pucat. Bagaimana mungkin aku tak tahu." Bukan itu. Maksudku yang sangat ingin ku lakukan. Sesuatu yang membuatku penasaran. "Istirahatlah. Agar kau bisa melihatku bertanding." Sasuke mengusap kepalaku. Kedua tangannya membingkai wajahku, dia mengecup dahiku. Menakjubkan. Sensasi yang ku rasakan mengalihkanku dari rasa sakit. "Aku pergi." Aku memegangi baju Sasuke yang menaiki motornya. Uuh tuhan. Aku sangat ingin menciumnya. Tanpa sadar aku ingin merasakan jika Sasuke yang menciumku. Apakah semenakjubkan Gaara senpai? Atau lebih menakjubkan? Pertanyaan sejenis itu terus berputar di kepalaku sejak Gaara menciumku. Aku seperti gadis murahan.
"Hn?" Sasuke menatapku. Bagaimana ini? Aku hanya akan menambah daftar panjang adegan mempermalukan diri sendiri jika mengatakan isi kepalaku. Ini beresiko. Bagaimana jika Sasuke jadi memandangku murahan? Ah benar. Selama ini aku tak bisa benar-benar marah pada para pria disekitarku. Apakah itu berarti aku sudah bertingkah murahan? Bukannya aku tak sadar dengan julukan yang sejenis itu. Aku hanya mengabaikan rumor di sekolah seperti saran Karin.
"Tidak. Pergilah." Ucapku lesu sembari melepaskan peganganku pada baju Sasuke. Aku mulai serakah. Aku harus menghentikan diriku sebelum terbakar habis karna keserakahanku.
"Aku akan menghubungimu nanti." Sasuke meraih wajahku. Mencium sudut bibirku dan pergi.
Aku terpaku meraba tempat yang diciumnya. Tuhan. Ini sangat menyenangkan dan terasa seperti candu. Aku harus memperbaiki hidupku. Tak boleh seperti ini. Yang benar hanya boleh ada satu pria yang menyentuhku. Dan sekarang aku tahu siapa yang ku inginkan.
.
.
.
.
.
Keyikarus
1 Januari 2018
.
.
Up selanjutnya
2 Januari 2018
23.59
