"Sudah tengah malam. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk daripada ini."

Luhan mencegah langkah Sehun, menarik lengannya lembut ke tepi ranjang. Ia tahu pria itu pasti mengkawatirkan kakaknya. Bahkan nyaris pergi menemui Chanyeol setelah Baekhyun menelepon sambil menangis tadi.

"Aku mengerti." Kata Luhan, meraih satu tangan Sehun. "Aku juga ingin bicara pada Chanyeol. Ini tidak adil buat Baekhyun."

"Pasti dia belum bisa menerima Baekhyun karna ibunya." Sehun membuang napas sebelum akhirnya menarik Luhan berbaring. Memeluk istrinya adalah hal paling menenangkan dari apapun. Setelah hubungannya dengan Luhan sempat mengalami gagal kelancaran, sekarang justru Baekhyun dan Chanyeol yang terpecah belah. "Aku akan melakukan apapun demi mereka."

Luhan tersenyum, "Chanyeol pasti mengerti."

"Baekhyun yang membawamu padaku, Lu. Noona yang rela melakukan apapun untuk membuatmu datang padaku." Sehun berbisik diantara rambut Luhan, suaranya terdengar tulus. "Aku tidak bisa diam saja melihat dia seperti ini. Jadi kupikir bicara pada Chanyeol adalah kesempatan untuk membalas."

"Besok. Kita akan bicara padanya. Aku janji akan membunuh Chanyeol kalau dia egois."

Sehun terkekeh, siapa yang mengira ancaman wanita cantik seperti Luhan begitu mengerikan. Mereka baru saja sampai Seoul pagi ini lalu permasalahan Chanyeol dan Baekhyun membuat Sehun tidak tenang. Ia berjanji akan membunuh Chanyeol juga kalau temannya itu tetap tak mau menerima Baekhyun karena alasan ibu.

Sejak menikah dan masih berada di Beijing kemarin mereka tidak melakukan apapun. Tapi sekarang Luhan berada dirumah besar keluarga Oh, dikamar Sehun tepat di lantai dua tanpa siapapun lagi disini. Luhan merona ketika pikirannya melambung selagi tangan Sehun telah membelai sisi tubuhnya.

"Lu, boleh?"

Luhan tidak paham apa maksud pertanyaan itu, tapi ia mendapati dirinya mengangguk. Sehun telah menindihnya dan menciumnya lembut. Berat badan pria itu terasa hangat, wanginya yang maskulin begitu mendamba.

Luhan tahu sepertinya jika mereka melakukannya akan pengaruhi pikiran Sehun lebih tenang. Sebelum mereka yang berencana bicara pada Chanyeol, biarkan Luhan membuat perasaan Sehun lebih baik.


Lifeline

another fanfic story by winwey

Jongin x Kyungsoo

slight of Chanbaek Hunhan Chenmin

Drama, GS for uke's, Typo's, OOC, Rated T-M


Wisata bermain Santa Monica Pier tidak di padati pengunjung, selain belum mendekati libur musim panas orang-orang berpikir datang untuk bersenang-senang jatuh diakhir pekan. Tapi itu tidak mematahkan semangat Kyungsoo untuk pergi.

Setelah menaiki beberapa wahana Jongin menyetujui pergi ke taman rerumputan hijau yang banyak dihiasi pagar tanaman dan beberapa bunga. Pria itu mengangkat kamera yang menggantung dilehernya, memotret Kyungsoo yang tersenyum sambil menyentuh salah satu kelopak bunga poppi. Mulut Jongin melengkung melihat hasil foto itu. Kyungsoo tampak cantik dan lugu, rok apparel setengah paha dan rambutnya yang berwarna gelap panjang perlahan tertiup angin, lekukan bibirnya yang menggiurkan, mata bundarnya.. diam selagi melihat-lihat bunga seperti itu dia tampak mirip boneka kalau saja tidak bernyawa.

Seharian bermain keluar hari mulai menepi senja, mereka membeli dua cup latte, menggunakan ponsel memotret minuman itu seperti anak-anak remaja lalu mulai opsi mengedit. Jongin tidak ingin melakukan kekonyolan ini tapi dia tidak tahan menulis tanda hati disana sebelum memposting, namun Kyungsoo yang menyadarinya memprotes.

"Sederhana sekali." Ia merebut ponsel Jongin selagi tersenyum, mengetik beberapa kata dan memposting. Mengembalikan ponsel, wanita itu menyeruput lattenya lalu berjalan mendahului Jongin mendekati festival malam.

Dia terpaku pada kata di foto minuman latte mereka, 'have honeymoon fun baby' serta tanda hati itu.. oh God.. benar-benar. Ini berlebihan. Berlebihan sampai dia nyaris tidak bernapas. Baby... mulutnya melengkung menggumam kata itu di hatinya. Memikirkan kapan Kyungsoo tidak membuatnya tergila-gila? Tidak pernah, ia memutuskan.

Memasukan ponsel ke saku jaket, Jongin berlari menyusul Kyungsoo yang telah menjauh, merangkul wanita itu ke dekatnya. "Baby? Lucu juga."

"Huh?"

"Bukan apa-apa."

Kyungsoo menghernyit ketika seorang pesulap didepannya melakukan aksi, membuat suara Jongin teredam tak terdengar. "Kau bilang apa?"

"Rasanya aku ingin memperkosamu." Jongin mengatakannya keras-keras, karena mungkin Kyungsoo akan sedikit berpikir bila dia menggunakan bahasa inggris, tapi ini adalah kesalahan. Beberapa orang yang mendengar menoleh kepada mereka, orang lokal tentu mengerti apa yang dia katakan tadi.

Meringis merasa bersalah dan malu Jongin cepat-cepat menjelaskan bahwa ia sedang bercanda. Menggandeng tangan Kyungsoo menjauhi kerumunan penonton sulap itu, Jongin terlihat masam mendapati dirinya ditertawakan.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya..." Jongin malas melanjutkan bicaranya sementara Kyungsoo masih tertawa.

"Kau pikir aku bodoh? Kau mau memperkosaku.. ditempat ramai begitu?" Berjinjit untuk melepas topi Jongin, Kyungsoo sempat mengacak helai rambut cokelat itu sebelum mengenakan topi dikepalanya. "Sini, biar aku yang pakai topinya. Kepalamu perlu terkena angin malam kurasa."

"Kau pikir kenapa dengan kepalaku?"

Membiarkan Jongin kembali merangkulnya mereka berjalan menyusuri festival. "Pikiran mesum itu kemungkinan lenyap kalau kau berpikir hal lain."

"Kalau hanya kau yang kupikirkan bagaimana?"

Kyungsoo sudah akan mengatakan sesuatu sebelum sekumpulan orang-orang menerjangnya untuk melihat improvisasi musik, tubuhnya yang mungil terdorong merapat ke dada Jongin hingga minuman mereka jatuh terinjak-injak.

"Aku menjatuhkan latte kita." Kata Kyungsoo menyesal.

"Akan kubelikan yang baru." Jongin tahu benar rona merah di wajah Kyungsoo bermunculan selagi mereka dekat, tangannya melingkari tubuh wanita itu posesif sebelum mengambil alih topi di kepala Kyungsoo, melindunginya dari orang-orang yang melewati mereka.

Musik yang mengalun terdengar romantis, lampion yang menggantung tinggi disepanjang jalan acara festival mulai di nyalakan. Kyungsoo menyadari tadi dia melihat kemesuman dan kejahilan di wajah Jongin, tapi tidak sekarang.

Pria itu terus menatapnya, seakan ingin mengatakan sesuatu tapi justru membuat Kyungsoo gugup sampai dibalik dadanya berdebar keras. Mata Jongin terlalu hangat, hembus tarikan napasnya, bibirnya.. nyaris membuat Kyungsoo gila. Dia tahu dia mencintai pria itu, tapi Jongin seakan-akan selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat, setiap detik.

"Kau pikir kenapa Tuhan menciptakan kalian begitu mirip?" Kata Kyungsoo sambil lalu, berharap Jongin tidak menangkap konotasi lain.

"Tidak tahu. Maksudmu aku dan Kai?" Tangan Jongin bergerak menyelipkan helai rambut wanita itu yang tertiup angin ke belakang telinganya. "Memang kenapa?"

"Kurasa Tuhan menunjukkan padaku kalau pendamping hidupku berwujud dengan rupa seperti ini. Dan Kai adalah visualitas yang menandakan suatu hari aku akan bertemu denganmu—" Karena terkejut Kyungsoo tak sempat memejamkan mata ketika Jongin membungkam mulutnya dengan ciuman, menyerap seluruh perkataannya dalam pagutan manis itu.

"Ini memang takdir yang bagus bukan?" Sambil menggandeng Kyungsoo disisinya, Jongin kembali berjalan melewati kerumunan, tapi tampaknya dia menyadari Kyungsoo sesekali mencuri pandang. "Kenapa?"

"Ada yang ingin kau katakan padaku?" Kyungsoo bertanya begitu, ingin memperbaiki kemungkinan rasa muak ketika mereka membahas orang dimasa lalu tapi Jongin justru tersenyum.

"Ada."

"Apa?"

"Aku mencintaimu."

Berpikir senyuman Kyungsoo akan membawa wanita itu membalas ucapannya, tapi ternyata tidak. Kyungsoo menghentikan langkah sambil merentangkan tangan, wajahnya barubah dibuat memelas pengaruhi dahi Jongin mengerut. "Kalau begitu gendong aku... aku capek berjalan."

Terkekeh, Jongin menggeleng kepala samar sambil berbalik, menertawakan tingkah Kyungsoo tapi demi Tuhan dia menyukainya. Sambil membenarkan letak tubuh wanita itu dipunggungnya ia bergumam, "Kukira kau juga akan mengatakan—"

"Aku mencintaimu."

Lalu senyuman Jongin semakin lebar ketika Kyungsoo bergerak dari belakang untuk mengecup pipinya, selagi berpikir dia rela mati dengan perasaan bahagia seperti ini.

.

.

"Chanyeol tunggu." Baekhyun menahan pintu itu ketika Chanyeol akan menutup kembali begitu melihat ia disini. "Aku ingin bicara. Kau tidak ada di rumahmu dari kemarin, ternyata kau disini."

Chanyeol membuka pintu utama rumah Minseok lebih kebar, tangannya yang mengepal masuk ke saku. "Oh, kau sudah tahu rumahku? Bagaimana? Rumah calon ayahmu itu bagus 'kan?"

Baekhyun tak pernah mengira sikap Chanyeol akan seperti ini. Pria itu memandangnya teramat benci. "Chanyeol," Gumamnya parau. "kenapa kau memutuskanku?"

"Karena kau dan ibumu begitu murahan."

"Aku tidak murahan." Suara Baekhyun tercekat. Ia tak suka Chanyeol yang ada dihadapannya, ia seakan-akan tidak mengenali pria itu.

"Begitu?" Kata Chanyeol, sudut bibirnya menyeringai masam. "Lalu bagaimana hubungan ibumu dengan mendiang ayah Sehun. Apa namanya kalau bukan murahan?"

"Itu hanya kesalahan. Jangan mengatakan seolah kau tahu apapun." Rasa kelu dalam dada Baekhyun meledak hingga tak bisa mengendalikan pikirannya, "Lalu bagaimana dengan ibumu sendiri? Mendiang ibumu juga.."

"Jangan bawa-bawa beliau." Chanyeol mendesis geram. "Dia telah meninggal."

Ini kesalahan. Baekhyun menyesal mengatakan itu, tapi ia juga terlalu sakit hati dan bingung.

"Kata appa dia sudah dekat denganmu 'kan?" Ia mendengar Chanyeol bicara lagi, "Bagaimana rasanya mendapat kasih sayang dari ayah biologis aku dan Kyungsoo? Kau tidak sadar Baek, kau telah merasakan kesenangan itu lebih sering daripada kami.. anak-anaknya sendiri."

Baekhyun tertegun, hatinya semakin perih. Air matanya sudah satu dua kali jatuh tapi ia tak mau terlihat lebih lemah, harga dirinya jatuh dipandang buruk seperti ini. Ibunya.. memang demikian, tapi Baekhyun tidak. "Maaf, aku sama sekali tidak tahu. Beliau tidak pernah menceritakan—"

"Pulanglah. Aku tidak mau membicarakan ini."

"Tunggu." Baekhyun harus mengerahkan tenaganya lagi ketika Chanyeol nyaris menutup pintu lebih cepat. "Aku belum selesai."

"Apa lagi? Semuanya sudah jelas. Aku kecewa."

"Kecewa karena... ibuku?"

Lihat nyonya Minseok, beliau tidak memandangmu demikian. Harusnya kau bisa menyamakan keadaan Baekhyun dengan keadaan dirimu sendiri. Hidup kalian tidak jauh beda 'kan?

Perkataan Sehun dan Luhan kemarin menari-nari dalam kepala Chanyeol. Pria itu tahu ia sedang dibutakan emosi. Minseok kebetulan ada keperluan ke luar kota, mungkin wanita itu juga akan marah kalau melihat ia berdebat dengan Baekhyun disini. Tapi Chanyeol benar-benar masih butuh waktu sendiri.

"Chanyeol," Ujar Baekhyun lagi. "Kalau itu semua karena ibuku. Aku benar-benar minta maaf."

"Itu jelas." Meski ucapan Sehun mencambuk hatinya untuk terbuka, Chanyeol masih tetap memandang Baekhyun sebelah mata, belum dapat menerima semuanya. "Kau dan ibumu... bahkan.. aku ragu kalau kau masih perawan.. atau tidak. Kau tentu pernah dengar buah jatuh tak jauh dari pohonnya."

Mata kecil Baekhyun melebar dan mulutnya ternganga sedikit. Demi Tuhan ia tak pernah menduga konotasi setajam itu keluar dari mulut Chanyeol. "Aku.." Suara Baekhyun lebih mirip geraman, hatinya bergetar menahan sakit. "..aku tidak seburuk yang kau pikir."

"Sayangnya aku tidak percaya."

Baekhyun berhasil menahan pintu itu lagi, Chanyeol benar-benar tidak mengijinkannya bicara apapun. Sudah tiga kali ia melakukan itu jadi Baekhyun menarik tangan Chanyeol agar menjauhi pintu. Ia telah kehilangan kesabarannya sekarang.

"Kau tidak percaya?" Katanya setengah berteriak. "Kalau begitu ayo ikut aku kalau kau mau bukti. Kita lihat apa yang akan kau katakan jika mendengar hasil pemeriksaanku pada dokter nanti." Sebenarnya Baekhyun sendiri tidak mengerti, kenapa mereka jadi membahas soal keperawanan?

Tapi dengan susah payah menarik Chanyeol, meskipun seakan-akan ia sedang menyeret batu yang membuatnya lelah. "Ayo, Chanyeol!" Ia berteriak ketika pria itu hanya bergeming. "Kau mau bukti 'kan?! Aku bisa memberimu itu. Jadi ayo ikut aku! Aku tak bisa membiarkanmu menuduhku dan mengatakan seolah-olah aku orang yang paling kotor!"

Ini kesalahan, Baekhyun yang ngotot seperti itu membuat Chanyeol diam selagi hatinya berkecamuk hebat, tiba-tiba kehilangan akal sehatnya. Ekspresinya yang tak bisa ditebak membuat Baekhyun frustasi. Wajahnya mengerut seolah-olah memikirkan hidup yang amat pelik yang pernah ada.

"Apa yang kau tunggu, hah?! Aku tak bisa membiarkanmu seperti ini karena aku cinta padamu. Aku akan—"

"Aku tidak butuh hasil pemeriksaan. Aku bisa membuktikannya sendiri."

"A-apa?" Baekhyun terperangah ketika pria itu menariknya masuk. Chanyeol mengunci pintu dan membawa mereka ke kamarnya dirumah ini. "Chanyeol, apa yang kau lakukan?!" Ia memekik ketika pria itu telah menindih tubuhnya ke ranjang.

Chanyeol membungkam bibir tipis itu dengan ciuman, tangannya meraih kancing baju Baekhyun sebelum menurunkan rok selututnya, kaus kaki dan sepatunya tergeletak kemudian. Ia tidak membiarkan Baekhyun bicara lagi setelah melucuti pakaian mereka satu persatu.

Kulit Baekhyun menggigil merasakan Chanyeol membelainya, tapi bodohnya ia tidak berontak. Perlakuan lembut itu membuainya hingga ia melunak dan membiarkan Chanyeol menguasainya. Dengan segala pesona tubuh pria itu membuat Baekhyun bungkam dan hanya memuji dalam hati.

Jika Chanyeol menginginkan mereka seperti ini, ia akan memberikan semuanya saking dalamnya perasaan pada pria itu. Sekalipun resiko yang mau tak mau harus mereka terima. Meski begitu Baekhyun tidak menyesal kalau melakukannya dengan Chanyeol.

"Kenapa kau melakukan ini?" Baekhyun berbisik terengah ketika Chanyeol mengecupi lehernya, meninggalkan bekas kemerahan.

"Kalau aku bisa membuktikannya sendiri, buat apa bukti lain. Kau..." Chanyeol berhenti untuk mencium Baekhyun lagi. "Lagipula perawan atau tidak aku tidak peduli." Kali ini pria itu tak ingin mendengar Baekhyun bicara apapun lagi selain suara desahannya, merapalkan namanya beberapa kali dan Chanyeol mengagumi itu.

Tubuh indah dibawahnya bergetar manis hingga ia dibuat melakukan lebih jauh. Chanyeol yang akhirnya tahu apa yang terjadi setelah memasuki Baekhyun, sudah menduga bahwa wanita itu jujur apa adanya. Benar, Chanyeol adalah pria pertama yang menyentuh Baekhyun.

Tak ada lagi yang Chanyeol pikirkan selain hasrat. Ia mencium bibir wanita itu untuk menenangkannya, membiarkan Baekhyun meremas surainya sambil mendesah lebih keras, selagi noda merah diantara penyatuan mereka yang menjadi saksi.

.

.

Pandangan Kyungsoo berpendar ke seluruh rumah itu, belum menemukan Jongin dimanapun setelah pria itu bilang ingin keluar sebentar. Kyungsoo kemudian pergi ke halaman depan setelah mengunci pintu. Tampak mobil putih yang dibiarkan atapnya terbuka seperti habis dipanaskan mesinnya, dikursi belakang telah ada papan selancar yang berarti mereka akan pergi ke pantai.

Ia memutuskan untuk berkeliling, selagi mencari Jongin yang mungkin membeli beberapa keperluan. Kyungsoo melihat-lihat beberapa mode rumah khas eropa, cuacanya begitu hangat dan sejuk. Ketika menemukan bangunan gereja ia memutuskan berjalan masuk untuk mengetahui lebih jauh. Mengagumi gaya kuno perpaduan modern ditempat beribadah yang telah sepi itu matanya terpusat pada pria muda yang duduk sendiri sambil menautkan tangan.

Itu Jongin. Meski dilihat dari belakang Kyungsoo tahu pria itu sedang memejamkan mata dan sepertinya tidak menyadari keberadaannya. Selain kaget karena Jongin yang dulu cukup bandel bisa pergi ke tempat suci seperti ini, Jongin yang menggumam doa dan rasa syukurnya jauh lebih mengejutkan Kyungsoo.

Pria itu mendoakan kesehatan Kyungsoo, kesenangannya, dan meminta Tuhan membantu upaya untuk senantiasa membahagiakan keluarga kecilnya.

Kyungsoo berestimasi Kim Jongin adalah pria paling tidak romantis dimuka bumi. Tapi dari apa yang ia lihat sekarang, tidak ada yang lebih romantis ketika Jongin yang diam-diam menggenggam Kyungsoo dalam doanya. Wanita itu kemudian cepat-cepat berjalan pulang, duduk di kap mobil, merenungi apa yang pria itu lakukan.

Jantungnya berdebar keras, ia semakin.. sangat sangat mencintai pria itu hingga matanya berkaca-kaca. Larut dalam lamunan, ia mendapati Jongin telah duduk bergabung, tersenyum ketika dia mengangkat botol orange juice ke udara.

"Untukmu." Katanya. "Mini market disana tidak ada yang menjual merk itu. Jadi kubelikan dulu sebelum pergi. Itu jus jeruk paling lezat diantara jus jeruk Florida yang dijual di California."

"Aku akan minta kau belikan lagi kalau benar-benar enak. Kita jadi ke pantai?" Tanya Kyungsoo sambil menerima botol itu dan meminum sedikit. Takjub, bahkan Jongin tidak mengaku sempat mampir ke gereja.

Pria itu tersenyum mendapati bulir jeruk tersisa disudut mulut Kyungsoo, dia sudah mengangkat tangan untuk menyekanya tapi berhenti karna terpikir untuk melakukan sesuatu yang lain. Jongin menunduk dan mencium bulir jeruk itu, meninggalkan rona merah dipipi Kyungsoo.

"Tunggu sebentar." Pria itu mengeluarkan benda perak mengilap dari saku celananya. Sebuah gelang emas putih dengan kaitan berhias dua liontin kecil yang menggantung, liontin beruang dan pinguin itu tampak lucu dan bersinar karena cahaya matahari.

Tanpa menjelaskan apapun Jongin meraih tangan kiri Kyungsoo dan melingkarkannya disekitar pergelangan itu. Sejenak terpana pada benda yang ia berikan menjadi bagian dari diri Kyungsoo. "Kau suka?"

Wanita itu tersenyum menatap gelang manis ditangannya sambil mengangguk. "Ini mengingatkanku pada Jonginie dan Kyungie yang kita tinggalkan di kamarmu."

"Aku tidak membiarkan siapapun mengganggu kita disini, sekalipun mereka boneka."

Keduanya tertawa bersamaan karna boneka beruang dan pinguin milik mereka di spekulasikan sebagai pengganggu bila saja dibawa. Kemudian Jongin mengajak Kyungsoo pergi. Selama perjalanan dari kejauhan ia bisa melihat jelas ikon kultural yang terkenal di Los Angeles. Pemandangan Hollywood Sign berdiri kokoh di pegunungan Santa Monica yang membuat senyumnya mengalahkan matahari.

Dalam beberapa menit tiba di Venice Beach, Jongin turun membawa papan selancarnya dan berjalan bersama Kyungsoo di broadwalk yang mengarah ke pantai. Sayang sekali ini bukan hari sabtu atau minggu, bila saja demikian Jongin mengatakan biasanya disini ramai.

Keadaan pantai tidak terlalu padat karena hari biasa tapi itu membuat mereka leluasa memilih tempat duduk dengan tenda payung ditepi. Jongin telah membuka kausnya lalu membawa papan selancar ke tengah laut.

Dari kejauhan Kyungsoo terkekeh memerhatikan pria itu. Ia meraih kamera lalu mengarahkan lensa kepada Jongin yang melakukan surfing dengan ahli, mengambil beberapa gambar dari sudut-sudut yang keren.

Sejak kecil telah menetap tahu sepertinya Jongin sangat rindu tempat dimana dia tumbuh dari melihat semangatnya. Pria itu kembali mendekati Kyungsoo sebelum meletakkan papannya disisi meja bundar. Dengan perhatian Kyungsoo mengambil handuk kecil dari dalam tas pack, mengelap wajah basah Jongin dan merasa tidak terganggu meski sedang minum. "Sejak kapan kau belajar berselancar?"

"Usia dua belas tahun."

"Kau gila? Kau 'kan masih anak-anak."

"Bukankah aku sudah sering melakukan yang gila-gila?"

Mereka tertawa bersama. Kyungsoo menolak ajakan Jongin untuk belajar surfing, ingat tidak terlalu suka melakukan hal yang baginya memacu adrenalin, kecuali dalam kondisi mendesak, lebih baik duduk saja melihat keaktifan pria itu dari sini.

Jongin tampak menawan dengan tubuh atas telanjang yang hanya mengenakan celana boardshorts, rambutnya basah jatuh menjutai ke kening, kulitnya mengilap terkena air laut. Siapapun mata yang melihat menilai Jongin begitu menggoda dengan aura sensualitas seksual yang memikat.

Kyungsoo menyesal ada beberapa wanita berbikini yang lewat sempat melempar lirikan. Dan yang lebih menyebalkan Jongin balas melirik mereka. "Kenapa kau menatap mereka begitu?" Ia bertanya ketus sambil meraih botol minuman jeruknya.

"Aku tidak menatap mereka. Hanya... membayangkanmu pakai pakaian itu." Katanya lalu bersiul.

Kyungsoo yang tersedak orange juice membuat Jongin tertawa. Matanya yang kelam bersinar nakal selagi bicara menantang, "Kau tak akan berani."

"Siapa bilang?"

"Oh benarkah?" Jongin pura-pura terkejut sambil menyeringai. "Wah.. dengan senang hati aku menunggumu tampil terbuka." Setelah mengatakannya ia kembali pergi berselancar.

"Ya Tuhan.. kenapa aku punya suami mesum 'sih." Kyungsoo merenungi celana minipants dan kaus tipis mistynya yang sebenarnya untuk ia pribadi menilai celana yang ia pakai sudah sangat minim memperlihatkan nyaris seluruh pahanya.

Kyungsoo melihat-lihat wanita lokal dan turis yang dari kejauhan mereka sangat seksi dengan bikini. Hingga sampai menjelang sore ia masih terus memerhatikan dan berpikir bagaimana menghalau gengsi untuk terbuka seperti itu. Well, ini eropa.

Tapi tetap saja Kyungsoo terlalu lugu semi telanjang di tempat terbuka. Bahkan ketika Jongin selesai dia langsung pergi mandi di penyewaan setempat. Kyungsoo memerhatikan lagi orang-orang yang bergegas pulang karena hari mulai sore. Tapi mereka berencana pulang sampai matahari tenggelam.

Ketika keadaan sudah cukup sepi disitulah dengan mantap Kyungsoo menarik lepas kaus dari kepala, menuruni celana jeans pendeknya melewati kaki dan meletakkan baju itu ke meja. Angin membelai kulitnya yang hanya tertutupi dalaman swimwear bandeau merah, jemari kakinya merasakan pasir putih yang lembut ketika ia semakin mendekati pantai.

Kyungsoo memegang kamera lebih rendah untuk memotret jari-jari kakinya yang berpijak di pasir itu. Ia terkekeh sendiri melihat beberapa hasil foto, hanya iseng sebenarnya dan akan menghapusnya sebelum berbalik menemukan Jongin—dengan wajah datar yang sulit di tebak.

Kyungsoo berjalan mendekat ketika pria itu bergeming menatapi tubuhnya tapi ada penuh binar di matanya yang tajam. "Ayo berfoto." Ia melakukan sesuatu di kamera lagi, lensanya mengarah kepada mereka, meletakkan benda itu ke meja selagi membawa keduanya mendekati tepi pantai.

Kyungsoo menuntun tangan Jongin melingkari pinggangnya sementara tangannya mengalung di leher pria itu. Aroma mint menguar dari tubuh atas Jongin yang telanjang hingga matanya terpejam nyaman. Panas seakan membakar kulit mereka yang terbuka ketika bersentuhan.

Sesaat setelah kamera membidik dari jauh Kyungsoo membuka matanya dan mendapati wajah Jongin yang mengerut tak suka dan seperti menahan diri. Hanya saja wanita itu tidak tahu betapa inginnya Jongin melucuti pakaian pantai itu dan bercinta disini. Tapi ia tidak terlalu gila untuk sekedar mengakuinya.

"Ada apa?"

"Pakai bajumu."

Ia terkantung-kantung seperti anak kucing yang di seret saat pria itu membawanya mendekati meja. Selepas Jongin mengenakan kausnya sendiri dia membantu Kyungsoo memakai baju sesekali menoleh kepada pria-pria yang masih berselancar.

Jongin tergetar untuk melirik tubuh mulus Kyungsoo yang terpapar, lidahnya bergerak spontan membasahi bibirnya sendiri ketika kulit putih wanita itu seolah-olah menggodanya tapi ia segera cepat menutupinya dengan kaus. Jongin kemudian membawa tas pack dan papannya sambil menarik tangan Kyungsoo.

"Bisa pelan-pelan jalannya?!"

Jongin tidak peduli meski wanita itu berteriak jengkel. "Aku akan mengutuk pria-pria disana kalau mereka melihatmu."

Tapi Kyungsoo tidak paham, ia hanya bergeming sebal sepanjang pulang ke rumah. Terlebih Jongin membawa mobil dengan kecepatan tak biasa, seakan-akan pria itu berada di ambang batas. Jongin yang tanpa henti menarik tangannya sangat menyebalkan. Bahkan ketika sampai pria itu masih menyeretnya masuk kamar dan menekan punggung Kyungsoo ke pintu. Wajahnya tampak kelam karena kesal, tapi Kyungsoo benar-benar tidak mengerti.

"Jangan lakukan itu lagi."

"Melakukan apa?" Balas Kyungsoo bingung setengah berteriak.

"Melepas baju di tempat umum. Kau pikir apa?!"

Kyungsoo mendengus, mula-mula Jongin menggodanya tapi sekarang justru marah. "Aku 'kan hanya—"

"Tapi tidak kalau ada orang lain yang melihat." Kata Jongin tegas. "Aku hanya bercanda, Kyungsoo. Tapi kau menanggapinya serius. Aku tidak suka pria yang masih disana melihatmu tadi."

Kyungsoo menyimak perkataan Jongin lalu seketika wajahnya memerah, tapi ia bergeming sebelum pria itu menambahkan dengan suara amat parau. "Karena hanya aku yang boleh melihat tubuhmu." Jongin kemudian berjalan membenahi tas yang mereka bawa, meletakkan beberapa barang ke nakas.

Ia sempat memeriksa kamera melihat hasil foto mereka, keduanya begitu indah meski hanya gambar siluet. Mulut Jongin melengkung memerhatikan itu sebelum meletakkan kamera di sisi ponsel milik Kyungsoo. Teringat lagi pada tubuh memesona itu membuat darah mengepul ke kepala hingga Jongin merasa terbakar karena gairah.

Demi Tuhan mereka bahkan belum melakukan apapun sejak tiga hari disini. Keduanya menghabiskan waktu ke taman, tempat wisata, pergi ke toko souvenir dan berakhir tidur cepat karna letih. Seperti yang pernah Kyungsoo bilang.. mereka lebih mirip dua anak muda yang berpacaran.

"Kupikir kau suka." Kyungsoo bergumam sambil cemberut. "Lagipula kenapa kita harus bertengkar karena ini?"

Jongin menghela napas, mulutnya mulai tersenyum lembut. Ia meraih tangan Kyungsoo mengajaknya duduk ditepi kasur. "Aku suka. Malah..." Matanya menyusuri tubuh Kyungsoo dan tertumbuk pada pahanya, baru sadar kalau celana wanita itu teramat pendek. "Dari mana kau dapat celana itu?"

Kyungsoo melirik minipantsnya lalu melihat Jongin lagi. "Eommonim memberiku tujuh celana model seperti ini. Ng.. sebenarnya eomma juga memberiku gaun tidur. Tapi aku tidak memakainya."

"Untuk apa?"

Kyungsoo menelan ludah gugup, pipinya memerah ditatap Jongin seperti itu. "Itu dipakai kalau... well, kau tahu maksudku."

"Tidak perlu." Sambil terkekeh Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo ke pangkuan sementara tangan wanita itu spontan mengalung di lehernya. "Dengan atau tidak pakai baju seperti itu pada akhirnya tidak memakai apapun."

"Ya, itu logis."

Jongin bisa merasakan berat tubuh Kyungsoo menekan lembut di pahanya, gerakan jari tangannya yang merayu dikulit tengkuk pria itu bagai getar sengatan. Aroma tubuh Kyungsoo yang manis menggoda Jongin menggerakan tangan menyusuri pinggangnya yang ramping, menyentuh bokongnya yang padat.

Jongin tahu semestinya mereka tidak terus diam saja selama disini, tapi ia tidak akan berbuat apapun sebelum Kyungsoo menyerahkan diri. Kali ini tampaknya wanita itu justru menggoda Jongin dengan caranya menyentuh ujung hidung mereka.

"Kalau tubuhku hanya kau yang boleh melihat kenapa kau bahkan tidak melakukan apapun padaku?" Bisik Kyungsoo parau. Jemarinya digerakkan mengelus tengkuk Jongin lalu merambat ke helai rambut membuat pria itu memejamkan mata. "Kau hanya bisa menggodaku, kau hanya bisa berpikir mesum tapi untuk menyentuhku kau tidak melakukannya."

Terkesima, mulut Jongin melengkung. "Kau menunggu aku menyentuhmu?"

"Sejak kita masih di Seoul."

Pria itu tertawa pelan karna merasa bersalah. Ketika ia membuka matanya dan mendapati wajah merona itu teramat dekat Jongin tak bisa menahan diri untuk mengecup bibir Kyungsoo. "Tapi Aku tak akan menyentuhmu sebelum kau siap."

"Aku siap." Kyungsoo menjawabnya malu-malu.

Kehangatan mendera Jongin ketika menurunkan Kyungsoo ke kasur sambil menciumnya. Pergerakan pria itu terasa ringan selagi menarik kaus dari kepala dan celana pendeknya melewati kaki Kyungsoo hingga jatuh ke lantai.

"Kupikir selama ini aku salah." Jongin mengecup pelipis wanita itu, rambutnya yang harum, dan ujung hidungnya. Matanya terus menelusuri tubuh Kyungsoo yang setengah telanjang sambil melepas bajunya sendiri, lalu menanggalkan bra dan menarik tali celana dalam merah yang sempat ia lihat.

"Aku sudah beberapa kali memberi isyarat." Kyungsoo menahan suaranya ketika Jongin mengecupi kulit lehernya, turun menggoda diantara tulang selangkanya. "Tapi kau tak pernah mengerti—nghh.." Ia mengerang ketika tangan Jongin merambat meremas payudaranya, mulutnya merendah untuk mengulum yang satu bergantian hingga puncak merah muda itu menegang.

"Kau tahu aku benar-benar tak berani sebelum kau siap." Jongin tersenyum mendengar Kyungsoo membalas ucapannya dengan menikmati apa yang ia lakukan, suaranya lebih indah dari apapun hingga ia turun mencium sepanjang perutnya, pahanya yang jenjang, kakinya, melengkungkan kedua kaki Kyungsoo untuk menyelidiki tubuh manis itu lebih jauh. "Kau terlalu memesona." Gumamnya mendesis karena bergairah, "Selama ini aku mati-matian menahan diri."

"Jangan menahan diri lagi." Kyungsoo bisa merasakan saraf-sarafnya menggigil sampai ke ujung-ujung jari, mengerang agak keras ketika Jongin membelai lebih berani dan terus mencumbu tubuhnya. Sewaktu Jongin menarik celana dalamnya sendiri, Kyungsoo melirik malu betapa jantannya pria itu.

Jongin lalu mencium lebih liar, ia membuka mulut sehingga pria itu dapat membelai lidah Kyungsoo dengan lidahnya. Wangi orange juice masih melekat tapi Jongin berpikir mulut Kyungsoo jauh lebih manis.

Ia terus merintih sewaktu tubuh telanjang mereka saling menekan kebutuhan akan sentuhan. Merasakan bagaimana tubuh maskulin itu menindihnya, lidah Jongin terus membelai dibeberapa tempat yang memabukkan.

Kyungsoo terkesiap ketika tangan pria itu mengelus daerah paling sensitifnya, perlahan satu dua jari Jongin masuk menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut nikmat. Jongin terus membelai wanita itu sampai berdenyut, lalu menyatukan tubuh mereka ketika Kyungsoo telah siap. Ia mengelus paha wanita itu ketika tubuhnya menegang, merilekskannya dengan ciuman yang dalam.

Tak ada lagi batas yang menghalangi, tak ada keraguan yang menahan, bahkan setitik darah itu membuat Jongin tahu bahwa Kyungsoo adalah wanita yang bisa menjaga diri. Ia merendahkan tubuh untuk mencium dahi wanita itu penuh sayang, menyalurkan rasa terima kasihnya. Meski pernah tinggal di negara yang tak asing dengan Sake, Hentai, atau Dekichatta Kekkon, Kyungsoo masih berprioritas untuk melakukannya ketika sudah menikah.

"Apa kau kesakitan?"

"Tidak." Bisiknya sambil terengah. Tubuh Kyungsoo menegang ketika Jongin semakin dalam memasukinya, meski merasa sedikit tak nyaman karna perih tapi hasratnya lebih besar daripada itu sampai ia melengkungkan tubuh, menginginkan Jongin bergerak tapi pria itu menahan diri untuk tetap bersikap lembut.

"Sabar sayang." Meski sedang bergairah Jongin sempat tertawa pelan lalu menciumnya lagi, dia hanya ingin wanita itu lebih dulu terbiasa pada penyatuan tubuh mereka. Tapi Jongin memberi apa yang Kyungsoo butuhkan selagi berusaha membuatnya nyaman.

Dia meraih kaki wanita itu untuk melingkari disekitar tubuhnya. Tetap bergerak hati-hati namun dengan mantap kecepatannya bertambah, membuat mereka larut dalam kenikmatan dan Kyungsoo tak henti-hentinya mengerang merapalkan namanya.

Kyungsoo merasa berkunang-kunang, tubuhnya bergetar ketika Jongin menyentuh titik sensitifnya. Ia menjerit panjang saat pelepasan itu sampai lalu Jongin menyusul kemudian. Sambil bergumam tak jelas Kyungsoo meregangkan tubuh selagi Jongin membawa ke pelukannya yang hangat.

Ia mendongak untuk menatap pria itu, wajahnya penuh peluh sehingga tidak tahan untuk meraba kulitnya. Kyungsoo suka melihat Jongin berkeringat, bibirnya yang tersenyum tipis sedikit terbuka, mengecupi jemari wanita itu.

Sewaktu tangan Jongin meraih beberapa lembar tisu dinakas, dengan hati-hati menyeka noda disekitar kewanitaan Kyungsoo. "Masih sakit?" Tanya Jongin setelah selesai lalu kembali merebahkan diri, suaranya penuh perhatian sambil mencium pelipis wanita itu.

Kyungsoo tak tahu apa sakit yang dimaksud Jongin, tapi ketika ia menggeser kaki barulah meringis merasakan perih diantara kedua pahanya. "Aku tidak apa-apa." Ia menjawab selagi Jongin menariknya untuk merangkak naik ke atas tubuhnya dengan kaki dilipat.

Memahami apa yang Jongin inginkan, Kyungsoo tersenyum menggoda selagi tangannya meraba ke bawah, menegakkan punggung yang membuat Jongin tidak berkedip. Ia meraih milik pria itu dan memasukannya kembali perlahan, sedikit-sedikit bergerak naik turun menikmati titik sensitifnya tepat tersentuh.

"Aku suka posisi ini." Kata Kyungsoo sambil mendesah. Dari cerita pengalaman teman-temannya di Tokyo dulu ia baru tahu mereka menyukainya karna ini terasa menyenangkan bagi wanita.

"Kenapa?" Jongin kesulitan bicara ditengah-tengah gairah. Kyungsoo yang mengambil alih begitu memesona, wajahnya yang cantik hanyut dalam kenikmatan, bergerak naik turun, tangannya bertumpu pada dada Jongin dan payudaranya terhimpit diantaranya. Ia menggeram rendah, membantu pergerakan wanita itu untuk lebih cepat, sesekali meremas bokongnya dan bergantian memainkan payudaranya.

"Aku jadi pihak yang mengusai." Jawab Kyungsoo sambil terengah.

Meski menggeram nikmat tapi Jongin sempat terkekeh. Ketika merasa tubuhnya kembali bergetar Jongin tiba-tiba meraih pinggang wanita itu, membuatnya menungging dengan siku dan lutut yang bertumpu diatas seprai.

"Tapi tetap saja aku yang menjadi pihak penguasa." Jongin tersenyum puas ketika Kyungsoo mendesah lebih keras saat ia menyentak masuk miliknya dari belakang, tangannya meremas seprai erat-erat karena kenikmatan yang dia dapat.

Jongin menciumi punggung Kyungsoo yang berpeluh, membelai lekuk tubuhnya yang manis, bokongnya yang padat, hingga mereka kembali hanyut dalam kenikmatan selagi ia mencekeram pinggul Kyungsoo dan gerakan tubuhnya semakin liar.

Setelah mencapai pelepasan untuk sekian kali, Kyungsoo tumbang tak berdaya dengan Jongin yang berbaring diatas punggungnya. Tubuhnya menggelenyar nikmat tapi ketika ingat Kyungsoo bisa remuk terus tertindih seperti itu dia segera berguling ke sisi lain.

Jongin menarik tubuh Kyungsoo lebih dekat, meletakkan kepala wanita itu diantara lengan dan dadanya. Melihat Kyungsoo tampak meringkuk seperti anak kucing ia meraih selimut menutupi tubuh mereka. Mulutnya melengkung melihat wajah wanita itu yang amat letih dan berpeluh, tangannya menyeka keringat dan mengusapi rambut Kyungsoo yang panjang kusut dengan gelombang manis di ujung.

"Kau mau tidur atau kita lanjutkan?" Jongin menggodanya lalu menunduk untuk menekan satu ciuman. Ketika Kyungsoo hanya bergumam tak jelas sambil memeluknya mulai terlelap Jongin hanya terkekeh. "Baiklah. Kita tidur."

Suara ponsel dinakas tiba-tiba menarik perhatian. Satu tangan Jongin memanjang meraih ponsel putih milik Kyungsoo. Dahinya mengerut sewaktu panggilan via sambungan internasional dari Minseok muncul dilayar. Tapi ketika larut berpikir mengapa ibu mertuanya menelepon membuat Jongin sadar panggilan tak terjawab itu telah berakhir.

Sebuah pesan menyusul, Jongin segera membuka dan membacanya bingung. "Kenapa eommonim meminta kami pulang besok? Bahkan masih ada sisa empat hari."

TBC

nungguin ini ya..? btw nih chapter isinya ehm(?) semua masa, kok rasanya kyungie yang minta di naena :'v aku lagi suka kyungienya manja-manja gini deh.. emes sendiri yalord..

wey adil 'kan? bikin hunhan chanbaek nganu juga meskipun ga sedetail kaisoo/wkwk/ chapter ini panjang ya, bikin ngantuk. Yasudahlah.. pokonya aku sayang kalian readers/peluk/cium/ review juseyo..

wey~