Kyoukai no Koi
Chapter 10
Warn : Incest/Twincest, a LOOOOOOOOT of OCs, Akashi Seijuurou versi 'sabar' untuk beberapa chapter ke depan, Rate berubah menjadi M untuk 'rencana masa depan',etc.
Still flashback Junior High School Time :D
Enjoy Reading!
.
.
.
.
.
.
"Otou-san akan memisahkan kamar kalian."
"EH?!"
Semua yang berada di ruang makan keluarga Akashi itu sangat terkejut. Terutama Sena yang sepertinya tidak bisa menerima perkataan ayahnya itu. Apa yang baru saja didengarnya? Apa tidak salah dengar?
"Kalian sudah besar. Dan juga tidak selamanya kalian akan terus bersama-sama terus bukan?"
"Tapi.. Otou-san.. Apa tidak bisa biarkan kami lebih lama? Aku.. Selalu berada di kamar yang sama dengan Sei.. Kalau tiba-tiba saja kita harus berpisah begini, aku belum siap.."
Sena berusaha membantah perkataan ayahnya itu, sedangkan Seijuurou terus diam sambil mendengarkan semuanya. Sena benar-benar heran dengan ayahnya yang melakukan ini secara tiba-tiba. Mereka adalah anak kembar yang selalu bersama. Bahkan jarang sekali terlihat jika mereka berdua berpisah atau melakukan hal sendiri-sendiri. Keduanya selalu berdekatan dimanapun dan kapanpun. Keduanya juga selalu kompak. Bagaimana mungkin jika keduanya dipisahkan tiba-tiba seperti ini? Tentu saja Sena tidak akan siap!
"Kau juga demikian kan Sei?" Sena menoleh kearah Seijuurou. Berusaha mencari pembelaan atau pendapat yang sama sepertinya. Seijuurou pasti juga tidak menginginkan hal ini bukan?
"Sena, berhenti bersikap seperti anak kecil. Otou-san melakukan ini juga demi kalian."
"Tapi, Otou-san! Aku mohon, jangan sekarang! Sei, katakan sesuatu!"
Seijuurou terus diam. Sejak tadi yang terdengar di ruang makan itu hanyalah suara triakan Sena dan Sojirou. Pemuda itu tidak mengeluarkan suara serta sepatah kata sedikitpun. Tidak menyangkal kata-kata ayahnya, namun juga tidak menyetujuinya. Yang dilakukannya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sei!" Sena terus memaksa Seijuurou untuk mengatakan sesuatu. Tetapi meski begitu, Seijuurou tetap diam.
"Sojirou, bagaimana kalau kita biarkan saja dulu? Sejak kecil mereka selalu bersama.." Yukina akhirnya turun tangan melihat mereka semua. Selain itu dia juga tidak tega membiarkan anaknya berpisah kamar karena alasan tidak jelas dari suaminya. Selama ini kedua buah hatinya itu selalu bersama. Dengan keputusan mendadak seperti ini, pasti keduanya tidak bisa menerimanya.
"Mau sampai kapan, Yukina? Kedua anakmu mulai beranjak remaja." Jawab Sojirou dengan nada yang sedikit tidak enak. Entah kenapa didalamnya terkandung sindiran dan rasa tidak suka. Apa dia tidak suka jika kedua anak kembarnya itu bersama?
Tetapi wajah Sojirou jelas memperhatikan kedua anaknya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan..
Akhirnya Sena memukul meja makan dengan keras. Matanya menahan air matanya untuk mengalir. Wajahnya juga merah, akibat menahan emosi dan segala perasaan yang berkecamuk dalam dirinya sekarang.
"Otou-san! Walaupun kami sudah remaja, apakah salah untuk sepasang anak kembar berada di kamar yang sama? Dan Sei! Aku tidak tau kenapa kau diam terus! Kalau kau setuju dengan Otou-san, kau bisa katakan iya!"
Setelah itu Sena pergi dari ruang makan dan menuju ke kamarnya tanpa mengucapkan 'terima kasih atas makanannya' atau sekedar 'selamat malam'. Pikirannya cukup kacau. Dia tidak mengerti mengapa Otou-sannya melakukan itu. Dan juga Sena tidak mengerti dengan Seijuurou. Kenapa dia terus diam? Apakah dia setuju saja dengan perkataan Otou-san?
Sena benar-benar tidak ingin jika dia harus berpisah kamar dengan Seijuurou. Mereka selalu bersama-sama sejak kecil. Tidur bersama, bermain bersama di kamar, belajar bersama, dan menonton TV bersama. Semua kesenangan mereka dilakukan bersama-sama. Dan tiba-tiba saja, Otou-sannya mau memisahkan mereka? Tentu saja Sena tidak bisa menerimanya. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin berpisah dengan Seijuurou. Dia tidak akan peduli jika dikatai brother complex atau apapun, yang penting dia tidak ingin berpisah dengan Seijuurou.
Didalam hatinya, ada perasaan aneh yang membuat dirinya tidak ingin dipisahkan dari saudara kembarnya itu. Yang Sena inginkan hanyalah terus bersama dengan Seijuurou.
"Sei baka... Kenapa.."
"Benar. Maafkan aku.."
Sena menoleh sejenak. Dia tidak sadar jika Seijuurou telah masuk ke kamar mereka.
"Aku sudah berbicara dengan Otou-san. Dan dia tidak akan memisahkan kamar kita untuk sementara.." Seijuurou berjalan kearah ranjang Sena dan duduk di sebelahnya.
"Hanya... Sementara?"
"Cepat atau lambat kita juga akan pisah kamar, Sena.."
Sena mengalihkan wajahnya. Bertindak kesal dengan Seijuurou. "Tetapi kau daritadi diam saja Sei.. Padahal aku berusaha melawan kata-kata Otou-san!"
"Maaf. Yang penting aku sudah berbicara dengan Otou-san dan dia setuju.."
"Uhhh.. Kau benar-benar menyebalkan tadi Sei!"
"Aku sudah minta maaf bukan?" Seijuurou mengelus pelan kepala Sena sambil tersenyum. Sena terus diam dan tidak menjawabnya. Terus memasang wajah sebal pada saudaranya.
"Baik, aku menyerah. Kau ingin aku melakukan apa agar kau memaafkanku?"
Jari-jari Seijuurou mulai menusuk pipi Sena pelan. Sedikit mengganggunya agar Sena mau berbicara.
"Kau akan melakukan apapun?" Sena mulai terbujuk dengan ucapan Seijuurou. Dia menoleh pada Seijuurou dengan mata berbinar-binar.
"Tentu. Apapun.." Jawab Seijuurou kalem seperti biasanya. Sejujurnya dalam hati dia tertawa geli melihat Sena yang seperti ini. Wajah menyebalkannya tadi begitu imut. Dan saat menunjukkan matanya yang berbinar-binar tadi, Sena benar-benar terlihat seperti anak kecil.
"Baiklah.. Kalau begitu, bisakah kau membantuku untuk melakukan penelitian?"
"Eh?"
"Ajari aku bermain basket, Sei!"
Seijuurou menaikkan satu alisnya heran. "Boleh saja. Tetapi, penelitian macam apa itu?"
"Manga! Aku akan memaafkanmu kalau kau membantuku melakukan penelitian."
"Hmmm.. Untuk manga ya.." Seijuurou kembali berdiri dan mengacak pelan rambut Sena. Dia tersenyum kearah kembarannya itu. "Baiklah. Akan kulakukan."
"Terima kasih, Sei!" Sena kembali tersenyum. Seperti biasa, Seijuurou selalu berhasil mengembalikan mood dan senyuman gadis itu.
"Dan juga, Sena.. Apa.. Aku bisa meminta tolong padamu?" Tiba-tiba saja Seijuurou bertanya padanya. Entah kenapa nadanya kali ini terlihat.. Sedikit khawatir?
"Apa itu Sei?" Rasa penasaran muncul dalam diri Sena. Tidak biasanya Seijuurou meminta tolong padanya. Dan Sena menjadi semakin heran lagi ketika Seijuuro menunduk sebentar, kemudian memasang senyuman miris. Menatapnya sambil menunjukkan senyumannya yang terkesan dipaksakan itu.
"Bisakah kau dengarkan perkataanku kalau Teikou memenangkan Winter cup?"
"Eh? Kenapa lama sekali? Aku bisa mendengarkannya sekarang.."
"Tidak. Lebih baik setelah winter cup saja. Dan juga, aku hanya memintamu untuk mendengarkan. Aku tidak akan memaksamu menjawabnya atau menanggapinya.." Kata Seijuurou lagi.
Sena sebenarnya cukup bingung. Apa yang diinginkan Seijuurou sebenarnya? Tetapi selama ini Seijuurou selalu baik padanya. Maka Sena akan melakukan sesuai yang diminta Seijuurou. "Uumm.. Baiklah.."
"Bagus kita sepakat. Sekarang tidurlah. Oyasuminasai, Sena.."
"Oyasumi.."
Seijuurou beranjak untuk ke tempat tidurnya. Tetapi tiba-tiba Sena menahan tubuhnya.
"B-bisa kita memulai penelitiannya besok Sei?" Sebenarnya itu bukanlah yang ingin ditanyakan oleh Sena. Bahkan sesungguhnya Sena tidak ingin mengatakan apapun. Entah kenapa dirinya tanpa sadar menahan tubuh Seijuurou agar tidak pergi.
"Besok?"
"Benar.. Bagaimana?"
"Baiklah. Besok kita akan melakukannya."
"Terima kasih Sei.."
"Oyasuminasai, Sena.."
"Oyasuminasai..."
Seijuurou kembali tersenyum tipis melihat Sena yang memejamkan mata itu. Untuk sejenak dia memperhatikan Sena yang sedang tidur itu. Melihat wajah yang begitu damai dan imut itu saat memejamkan matanya.
Tiba-tiba Seijuurou menunduk. Dia menunduk dan mengacak rambutnya sendiri. Kemudian memegang keningnya dengan wajah yang sangat kebingungan.
Entah apa yang terjadi padanya namun saat itu Seijuurou benar-benar terlihat kebingungan.
.
.
.
.
.
"Pegang bolanya dengan benar. Fokus lihat kearah keranjang dan seperti ini.."
Kembali bola itu dimasukkan ke keranjang oleh Seijuurou. Tetapi beberapa kali pun Sena mencobanya, dia tidak dapat melakukannya dengan mudah seperti yang Seijuurou lakukan. Berkali-kali dia gagal memasukkannya, bahkan angka berhasilnya lebih sedikit dari gagalnya.
"Sei.. Susah sekali.."
"Itu karena kau tidak biasa.."
"Hhh.." Sena menghela nafas kecewa. "Baiklah, aku menyerah. Setidaknya ini cukup memberi pengalaman untukku.."
"Apa berguna untukmu membuat manga?"
"Tentu Sei, aku bisa mendapat beberapa gambaran tentang bermain basket. Dan sekarang, berposelah! Aku akan mengambil beberapa gambar untuk manga.."
"Baiklah.."
Sena langsung mengeluarkan kamera SLR miliknya dan mensetting lensanya. "Berpose seperti saat bermain biasanya, Sei!"
Seijuurou hanya menuruti Sena dan melakukan basket seperti biasa. Sena pun terus menjepret gambarnya dengan sangat semangat. Bahkan dirinya menjepret lebih gambar Seijuurou. Entah untuk disimpannya sendiri atau apa.
"Cukup Sei!" Sena pun tersenyum melihat hasil gambarnya. Dia pun kembali mengambil gambar lapangan dan beberapa anak yang sedang bermain streetball disana.
"Aku akan membeli minuman disana dulu. Kau mau apa, Sena?"
"Jus saja.. Aku akan mengambil beberapa gambar lagi.."
"Baiklah. Tunggu aku."
Setelah itu Seijuurou pergi sebentar untuk mencari mesin penjual minuman sementara Sena kembali mengambil gambar lapangan publik itu dari berbagai sudut. Setelah benar-benar puas, akhirnya dia membereskan semua barangnya dan juga mengambil kembali bola basket yang dibawa Seijuurou.
"Doumo!"
"Eh?"
Sena menaikkan kedua alisnya saat seorang pemuda menyapanya. Rambutnya disemir hingga warna keemasan, dan terdapat beberapa tindikan di telinganya. Dia tidak mengenalnya, tetapi kenapa orang ini datang tiba-tiba dan mengatakan 'Doumo'?
"Maaf.. Kau memerlukan sesuatu?"
"Aku ingin bersenang-senang denganmu, nona.. Jadi, siapa namamu?"
"E-eeh.."
"Dan juga, apa kau siswa SMA? Tinggal di sekitar sini? Aah, siapa namamu gadis manis?"
Sena mundur satu langkah. Dia berniat meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Firasatnya menjadi buruk setelah pria itu muncul. Tetapi pria itu malah menahannya dan menaruh lengannya pada pundak Sena.
"Hei hei.. Jangan malu begitu.."
"Tolong lepaskan tanganmu!"
"Kau belum memberitahu namamu, gadis cantik!"
Kini pria asing itu berani menjawil dagu Sena. Tersenyum nakal sambil terus memandang Sena dengan dekat.
"Lepaskan!"
"Hehehe.. Coba saja kalau bisa.."
"Kubilang lepaskan!"
Sena mulai meronta-ronta dengan keras. Tetapi memang tangan pria itu sangat kuat hingga bisa menahan tubuh Sena. Semakin Sena berusaha melepaskan dirinya, maka semakin kuat pula pria itu menahan tubuhnya.
"Lepaskan."
Keduanya menoleh kearah sumber suara itu. Seijuurou datang dengan wajah emosi dan sangat tajam. Matanya sangat dingin dan memandang pria itu dengan penuh emosi.
"S-Sei.." Sena masih saja memasang wajah takut walaupun Seijuurou kini berada didepannya. Dalam hati Sena berharap agar Seijuurou dapat membantunya lepas dari pria asing ini.
"Heh? Apa urusanmu? Apa kau pacarnya?"
"Aku berkata lepaskan."
Seijuurou terus memandang tajam pria didepannya. Sedangkan yang dipandang hanya tertawa kecil dan membalas pandangan Seijuurou dengan remeh.
"Aku sudah bersabar."
Akhirnya Seijuurou berjalan mendekati mereka dan melepaskan tangan pria itu dari Sena dengan paksa. Membuat pria itu akhirnya jatuh dan sangat terkejut dengan Seijuurou. Dia berpikir jika mungkin saja Seijuurou adalah iblis! Kedua mata merahnya memandangnya tajam dan dingin. Lalu hanya dengan satu dorongan namun kuat, Seijuurou juga berhasil membuat dirinya jatuh. Tidak hanya itu, Seijuurou juga sempat mencengkram tangan yang lebih besar itu dan sedikit memutarnya. Membuat tangan pria itu dapat dipastikan terkilir sekarang.
"Ayo pergi, Sena." Seijuurou menggandeng tangan Sena dan menggenggamnya erat, seolah-olah tidak ingin melepasnya. Sena hanya bisa diam dan terus memandang Seijuurou dari belakang.
Dia takut. Bukan karena pria preman tadi. Namun karena Seijuurou yang sekarang ini bukanlah Seijuurou yang dikenalnya. Seijuurou benar-benar berubah menjadi orang lain. Sena tidak mengenalnya. Dia bukanlah Seijuurou yang selalu hangat dan sabar padanya.
"S-Sei.."
"Ah, maaf. Aku mencengkram tanganmu terlalu erat."
Tangan Sena dilepaskannya. Setelah itu wajah dingin dan menyeramkan Seijuurou sudah digantikan dengan wajahnya yang biasa. Sepertinya pemuda itu sudah bisa lebih menenangkan pikirannya
"Ada apa, Sena?"
"Ti.. Tidak apa-apa, Sei..."
"Maafkan aku."
"Eh?"
"Maaf. Kalau saja aku tidak pergi meninggalkanmu, pasti hal seperti tadi tidak akan terjadi." Seijuurou membelai lembut wajah kakaknya itu sambil tersenyum penuh kelegaan. "Syukurlah.. Aku benar-benar bersyukur kau tidak apa-apa.."
"Itu bukan salahmu, Sei.. Dan terima kasih.."
Ketakutan dalam diri Sena masih belum sepenuhnya hilang setelah melihat senyum tulus yang biasanya Seijuurou berikan padanya. Sena sangat mengerti jika terkadang Seijuurou menjadi seperti orang lain. Bahkan masih tergambar diingatannya saat Seijuurou sangat marah karena Sena bertanya tentang Kise Ryouta.
Sena tidak mengerti. Kenapa harus ada dua Seijuurou dalam dirinya. Seijuurou yang selalu hangat, ramah, dan penyayang. Lalu Seijuurou yang dingin, dan.. Menyeramkan.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu disana?"
"U.. Uhh.. Baiklah.."
Sena menurut saja saat Seijuurou menyarankan untuk makan di maji burger. Untuk sejenak dia berusaha mengesampingkan pikirannya tentang Seijuurou.
"Biar aku yang mentraktirmu kali ini Sei.. Sebagai ucapan terima kasih karena kau membantuku melakukan penelitian.."
"Tidak perlu. Biar aku saja. Sebagai permintaan maaf karena kejadian tadi."
"Jangan begitu, Sei!"
Dengan cepat Sena mengeluarkan uang dan langsung membayar pesanannya dan Seijuurou. Lalu memilih tempat yang dekat dengan jendela untuk mereka duduk.
"Baiklah, hanya kali ini aku akan membiarkanmu membayariku.."
"Tidak perlu begitu, Sei.. Sama saja siapapun yang membayar."
"Kalau sama saja, kenapa kau bersih keras untuk membayar milikku dan milikmu?"
"Karena kau terlalu sering membayar milikku, Sei!"
Seijuurou tertawa kecil mendengarnya. Lalu menarik pipi Sena dengan gemas.
"Sei! Sakit!"
"Wajahmu lebih cantik jika begini, Sena. Seharusnya kau tarik saja terus.."
"Seiii!"
Akhirnya Seijuurou melepasnya sambil tersenyum. Lalu meresap milkshake yang dibelinya dan mulai memakan burgernya. Sena merasa sedikit lega setelah itu. Seijuurou yang sekarang adalah Seijuurou yang biasa dikenalnya.
"Kau suka sekali ke tempat ini ya Sei?"
"Secara tidak sadar, ini menjadi tempat biasanya aku dan teman-temanku rapat atau hanya sekedar makan malam setelah pulang klub.."
"Hee.. Enak sekali ya.."
"Aku bukan mangaka sibuk yang akan memulai debutnya. Jadi aku punya banyak waktu untuk bersenang-senang." Kata Seijuurou dengan nada sedikit menyindir. Yang sebenarnya itu adalah pujian untuk gadis didepannya.
"Ugh.. Tidak perlu begitu Sei.."
"Jadi, bagaimana? Kapan pengumumannya?"
Seijuurou selalu memperhatikan Sena. Dia akan selalu tahu kapan Sena mengikuti lomba dan cerita apa yang dibuatnya. Seijuurou selalu mendukungnya. Dan disaat Sena gagal, dialah yang akan tetap memberi dukungan serta semangat pada Sena.
"Dua minggu lagi.. Aku benar-benar gugup.."
"Tenang saja.. Kalau kau tidak menang sekalipun, kalian akan mengirim manga baru ke kontes lain bukan?"
"Begitulah.. Tetapi kami sudah gagal tiga kali, Sei.."
Seijuurou tidak mengerti kekalahan, karena dia tidak pernah merasakannya. Walau begitu, dia dapat merasakan bagaimana perasaan Sena. Saat manga karyanya dan anggota klubnya tidak memenangkan kontes walau sudah berusaha keras. Seijuurou masih ingat jelas kakaknya yang menjadi murung selama beberapa hari karena karya mereka gagal. Untung saja Seijuurou tidak pernah kehabisan akal untuk mengembalikan senyum gadis itu lagi.
"Jangan khawatir. Selanjutnya, kalian akan segera memulai debut kalian.." Ucap Seijuurou lagi dengan tulus. Dirinya juga mengharap kemenangan Sena.
"Terima kasih Sei.. Kami juga berharap demikian.."
"Jadi apa yang selanjutnya?"
"Eh?"
"Penelitian. Apa hanya ini saja?"
"Oh.. Tidak perlu sekarang Sei.. Masih banyak yang harus dipersiapkan.."
"Begitukah. Baiklah, aku siap membantumu kapan saja." Seijuurou kembali tersenyum pada Sena. Entah kenapa hati kecilnya selalu merasa bahagia disaat dirinya berguna untuk Sena. Dirinya ingin selalu
"Ah sebentar Sei. Aku ke toilet dulu.."
"Aku ikut."
Ucapan Seijuurou barusan tentu saja membuat Sena sangat terkejut. Apa katanya? Seijuurou ikut? Apa yang dia maksud ikut ke toilet bersamanya? Kedalam toilet wanita? Yang benar saja?
"Apa?" Sekali lagi Sena memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Aku ikut."
"O-ohh.. Kau juga mau ke toilet.. Baiklah, kau dulu saja Sei. Aku akan menjaga mejanya."
"Tidak. Sebenarnya aku tidak ingin ke toilet. Tetapi kalau kau mau ke toilet, aku ikut."
"Sei..."
Sena benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran saudaranya ini. Akhirnya dia pasrah untuk kembali duduk dan menghabiskan semuanya baru pergi ke toilet.
"Sei.. Kenapa mengikutiku?"
"Aku tidak akan masuk kedalam. Akan kutunggu diluar.."
"Tapi.. Kau bisa menunggunya di meja saja kan.."
"Tidak."
Mata Seijuurou berubah menjadi dingin seperti tadi. Benar-benar terlihat seperti orang lain. Membuat Sena sedikit takut dan akhirnya pasrah membiarkan Seijuurou melakukan apa yang diinginkannya.
"Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggumu."
"Tidak perlu berlebihan, Sei.."
"Sudahlah, cepat masuk saja. Aku menunggu disini."
"Baiklah.. Aku tidak akan lama.."
Setelah Sena masuk kedalam toilet wanita, Seijuurou hanya berdiri didepannya sambil menunggu Sena. Setidaknya untuk sekarang dia tidak akan melakukan apapun. Tetapi dia tetap harus memastikan agar tidak ada lagi yang mengganggu Sena. Dan juga memastikannya agar baik-baik saja.
"Maaf membuatmu menunggu Sei.."
"Tidak masalah."
"Apa Takada-san sudah sampai?"
"Sepertinya sebentar lagi dia sampai. Kita tunggu di depan saja."
Akhirnya Sena pun menuruti kata-kata Seijuurou. Sena sadari jika hari ini Seijuurou cukup aneh. Ketika Takada-san datang menjemput mereka, Seijuurou juga hanya terus diam dan tidak memulai pembicaraan. Memang pada dasarnya Seijuurou bukan tipe yang banyak bicara. Namun membuat suasana menjadi canggung seperti ini, bukanlah Seijuurou yang biasanya. Dia akan mengganggu Sena atau menggodanya sebentar kadang.
Seijuurou berhasil membuat Sena kebingungan dengan sikapnya..
.
.
.
.
Tbc
Thankyouu buat semua yang udah membaca :') mereview :') memfollow :') dan memfave :') saya benar-benar terharu :') tanpa kalian semua saya nggak akan bisa lanjutin fic ini sendirian #alay
Dan saya mohon kesabarannya dalam menunggu updateannya ya :') juga kesabaran hingga fic ini selesai karena perjalanan masih panjang :')
Buat Guest yang bertanya : untuk sekarang Sena'nya masih belum kenal sama kiseki no sedainya sampe beberapa chap kedepan, tapi gatau ya gimana nantinya hehe xD
See you in next chapter, minna-san! :)
