Disclaimer : Masashi Kishimoto

Author : ran-moury

Pair : SasuNaru, ItaKyu, slight: SaiNaru, ItaKonan, xxxKonan

Warning : Shounen-ai, Slash, OC, Mpreg, OOC, dll

Don't Like, Don't Read

Bagi yang menyukai cerita ini, saya ucapkan selamat membaca.

Hope you like it

Hari ini di kediaman Namikaze bersaudara ini terlihat begitu sibuk akan kegiatan yang akan berlangsung setengah jam lagi. Namun di tengah kesibukan itu terdapat laki-laki bersurai pirang yang begitu panik. Iya terus saja berteriak memanggil anak bungsunya yang kini menghilang entah di mana. Tidak ada satu pun yang tahu kemana perginya anaknya itu. Padahal satu jam lalu ia masih mendapati anaknya yang terduduk di kamar.

"Kyuu-nii. Bagaimana ini? Tidak mungkin aku melangsungkan acara ini tanpa Hikari." Laki-laki bersurai pirang itu tampak begitu kawatir akan keadeaan anaknya.

"Tenanglah Naru, aku yang akan mencarinya. Sebaiknya kau temani tamumu yang sudah datang di depan!" kata Kyuubi menenangkan adiknya.

"Tapi.."

"Sudahlah serahkan saja padaku, sepertinya aku tahu dia ada dimana." Kata Kyuubi sambil melirik orang sejak tadi ada dibelangnya.

Sedangkan orang yang dilirik hanya terdiam. Namun Kyuubi tahu di balik diamnya orang itu ia tahu bahwa orang itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dan tanpa ditanya pun Kyuubi dapat menebaknya.

"Baiklah Kyuu-nii. Aku mohon temukan Hikari secepatnya. Aku sangat cemas sejak kejadian semalam ia belum makan. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Aku tak ingin mengorbankan dia." Kata Naruto sembari menunduk dan pergi meninggalkan Kyuubi dan orang yang ada di belakan Kyuubi.

"Nee, Itachi, apa kau mau menjelaskan masalah ini?" kata Kyuubi. Walaupun dengan suara yang lirih, namun dapat terdengar jelas nada kemarahan dari suara Kyuubi.

"Kyuu" Itachi mendekati Kyuubi bermaksud memeluknya. Ia merasa bersalah pada Kyuubi karena telah mengingkari perjanjian sebelumnya. Namun, bukan pelukan yang ia dapatkan. Ia malah mendapat pukulan telak yang bersarang pada pipi kanannya.

"Kyuu, maafkan a-"

"Diam" potong Kyuubi. "Aku tak akan pernah percaya lagi padamu" katanya sembari melangkah pergi meninggalkan Itachi.

Namun sebelum Kyuubi beranjak, sebuah tangan kokoh Itachi merengkuhnya dengan erat hingga ia sama sekali tak dapat berkutik.

"Lepaskan!" kata Kyuubi lirih.

"Tidak" jawab Itachi.

"Lepaskan ku bilang!" emosi Kyuubi kini semakin meluap. Nafasnya begitu memburu karena tak dapat mengendalikan emosinya saat ini.

"Maaf kan aku, Kyuu, aku melakukan ini karena aku sudah lelah. Aku lelah melihat Sasuke yang begitu menderita tanpa Naruto." Kata Itachi lirih.

Kyuubi yang merasa pelukan dari Itachi mengendur langsung menepis tangan yang tadi merangkulnya dengan kasar lalu menampar pemilik tangan itu dengan keras.

"Diam kau Itachi! Kau tak pernah tahu apa yang ku rasakan dan Naruto rasakan saat itu. Kau tidak akan pernah merasakan. Bagaimana aku yang dikejar oleh kematian, bagaimana aku yang dibayang-bayangi akan penderitaan. Dan kau juga tak akan merasakan bagaimana penderitaan Naruto. Karena ulah kalian. Semua Uchiha sama saja. Seenaknya sendiri, seorang elit yang ternyata hanyalah sampah" kata Kyuubi. Nafasnya semakin memburu setelelah meluapkan segala emosinya pada Itachi.

Itachi hanya terduduk dan memandang nanar pada Kyuubi yang berlalu meninggalkannya. Hatinya seakan teriris mendengar setiap kata yang dilontarkan Kyuubi kepadanya beberapa detik lalu.

"Maafkan aku, maafkan aku Kyuu." Katanya begitu lirih.

Ingin sekali saat ini ia menghilang dari dunia ini. Dia begitu hancur saat ini. Menyakiti orang-orang yang ia cintai. Sungguh, Itachi tak menginginkan ini semua.

$o$o$o$o$

"Bagaiman Kyuu-nii" teriak si pirang saat melihat kakanya yang tengah menuruni tangga. Dengan sedikit tergesa si pirang berlari menghampiri kakaknya tanpa meperdulikan tamu yang kini melihat kearahnya.

"Tenang saja Naru, aku sudah tahu di mana Hikari. Aku sudah memerintahkan bawahanku untuk menjemputnya." Kata Kyuubi menenangkan adiknya.

"Ada apa Naru?" terlihat dua orang yang menghampiri namikaze bersaudara itu. yang satu pria dan waniata berambut pirang.

"Ji-chan, Baachan! Kalian kesini?" kata si pirang dengan nada girang, sedikit melupakan anaknya yang telah menghilang. Toh ia sekarang lega karena kakaknya tahu di mana keberadaan anaknya yang sebentar lagi pasti akan pulang dengan bawahan kakaknya.

"Kau fikir kami rela meninggalkan momen indahmu bersama Sai? Dasar Bocah bodoh." Walaupun yang keluar dari mulut wanita baya itu hanyalah cemoohan, namun air matalah yang keluar dari kedua matanya.

"Maaf, Naru. Maaf karena tak mengenalimu saat itu. Dan kau bocah rubah, kenapa kau tidak memberi tahuku, hah?" Kata Tsunade dengan memberikan deathglare yang mematikan pada Kyuubi. Namun hal itu sama sekali tak di tanggapi oleh Kyuubi.

"Maaf mengganggu" kini telah berdiri dua wanita dan seorang pria di samping mereka. Seketika suasana menjadi hening dan canggung. Terutama pada kedua Namikaze bersaudara yang kini tengah mematung melihat orang yang datang tersebut.

"Maaf jika kami datang tanpa diundang." Kata salah satu wanita itu. tepatnya wanita berambut merah muda yang kini menunduk dan tak berani menatap iris biru langit yang dulu begitu ia sukai dari sahabatnya itu. Sahabat, mengingat apa yang telah ia lakukan pada si pirang ia tak begitu yakin apakan si pirang masih menganggapnya sahabat ataukah tidak.

Sedangkan seorang wanita berambut biru di sampingnya juga mengalami yang sama. Namun bedanya ada seseorang yang selalu berada di sampingnya untuk menghadapai semua yang akan terjadi padanya.

Kedua Namikaze yang tersadar dari keterkejutanya mendelik tajam ke arah ketiga orang tersebut. Dapat dilihat dengan jelas bahwa begitu banyak kebencian yang tersimpan di dalamnya.

"Jika kalian sadar itu, kenapa kalian tak enyah saja dari sini?" kata si pirang dengan tajam.

"Naru, aku mohon hentikan pertunangan ini." Kata Sakura masih tetap menundukkan kepalanya.

"Cih, Siapa kau, hah? Kau sama sekalu tak berhak mengaturnya. Kau yang seenaknya merebut semua kebahagiaannya tak pantas mengeluarkan kata-kata itu." Kyuubi kini sudah tak tahan lagi. Hampir ia memukul gadis itu, namun tindakannya ditahan oleh adiknya yang terlihat mampu menahan emosinya.

"Hentikan, Kyu-nii! Jangan sia-siakan tenagamu hanya untuk seorang Bitch sepertinya. Dan Kau nona mantan Uchiha yang terhormat, terserah anda mau pergi atau tidak, dan terserah juga kau mau bicara sebanyak apapun, aku tak akan perduli. Dan asal kau tahu, aku akan tetap melakukan pertunangan ini, karena kau sama sekali tak punya hak untuk menhentikanku." Katanya sambil berjalan menghampiri Sai yang sudah menunggunya untuk menyematkan di jari tannya. Sedangkan Kyuubi kini mengembangkan senyumnya melihat kelakuan adiknya.

Sai menatap lembut ke arah laki-laki pirang yang begitu ia cintai semenjak dulu. Bahagia? Jika itu yang dibicarakan tentu saja ia bahagia. Namun kebahagiaan itu tak sepenuhnya, jika ia mengingat orang yang ada di depannya ini tak merasakan hal yang sama. Walaupun Naruto kini juga mengembangkan senyum, namun Sai tahu jika senyum itu hanya untuk menyembunyikan kegelisahannya.

"Naruto, aku mencintaimu, mencintaimu jauh dari kau bertemu dengannya." Kata Sai sambil mencium kening si pirang.

"Ya, Sai."

Sai melepaskan kecupan singkatnya. Ditatapnya lekat-lekat mata sebiru langit yang selalu menenggelamkannya. Diangkatnya tangan tan itu untuk menyempatkan cincin yang akan mengikat mereka. Namun, belum masuk setengah, sebuah suara menginterupsi kegiatan itu. Tak urung, Naruto yang tersentak kaget tak sengaja menarik tangannya segingga cicin itu jatuh dan menggelinding ke arah suara tadi.

"Tou-chan, aku mohon hentikan." Di depannya kini tengah berdiri seorang laki-laki berambut raven dengan seorang bocah di gendongannya. Dapat dilihat anak mata anak itu yang sembab.

"Naruto"

"Hikari, kemari!" dari sisi Naruto tampak bocah yang memiliki ciri yang sama persih dengan yang di gendong lelaki itu tampak mengajak adiknya untuk segera turun dari gendongan laki-laki itu.

"Tidak, Nii-chan. Sebelum Thou-chan belhenti."

"Turun!" Kata Naruto sambil menunduk.

"Tidak Tou-"

"Aku bilang turun dan masuk kamarmu!" Naruto berteriak keras menyela penolakan anaknya. Hikari yang di bentak seperti itu menjadi takut pada ayahnya.

"Tou-chan, hiks, Tou-chan jahat, aku tak mau bertemu Tou-chan lagi." Dengan itu, Hikari turun dari gendongan Sasuke yang sejak tadi terdiam. Sasuke tak mengejarnya, karena ia tahu Ada orang kepercayaannya di luar sana, karena itu ia tak perlu kuatir akan Hikari. Yang menjadi perhatiannya kini dua Namikaze yang mengejarnya. Dengan cekatan, Sasuke menghentikan langkah Naruto. Sedangkan si sulung Namikaze tubuhnya di cengkram oleh Itachi yang entah sejak kapan telah bersiap di depan pintu.

"Kurang ajar, apa-apaan ini? Lepaskan aku brengsek" Teriak ke dua Namikaze Garang.

"Maaf Naru, hanya dengan cara ini untuk membuatmu kembali padaku." Si raven berucap lirih pada Naruto.

"Selamat siang, para Namikaze."

Sebuah suara kembali mengalihkan kegiatan itu. Semua Namikaze pun tampak terkejut melihat siapa yang datang.

"Maaf, jika kami mengganggu acara ini."

"Sialan kau, kenapa kau ke sini tua Bangka?" Kyuubi tampak semakin marah karena kedatangan orang yang paling ia benci itu.

"Aku, aku hanya memberi tawaran saja." Katanya dengan nada datar.

"Cih, apa kau lupa, aku memegang nyawamu." Seringai Kyuubi kembali muncul.

"Tidak, aku tidak akan lupa, tuan muda Namikaze."

"Kalau kau tak lupa, sebaiknya kau segera enyah tua bangka!"

Fugaku mengeluarkan kertas dari dalam map yang ia bawa sejak tadi dan menunjukkan kepada Naruto.

"Kau lihat inikan, Naruto? Aku bisa saja mengambil anakmu kapan saja. Dan aku juga tak peduli jika aku akan berakhir di penjara. Jadi, maukah kau menghentikan pertunangan ini?"

"Cih, dasar manusia kotor. Jangan dengarkan dia Naruto! Walaupun ia punya kertas bodoh itu, kemenangan hak asuh akan tetap berada di tanganmu, karena kau yang mengasuhnya dari dulu." Kata Kyuubi meyakinkan adiknya.

"Hm, benarkah. Aku rasa tidak akan, aku dengar karena keteledorannya anak itu pernah di culik dan juga hampir jatuh dari lantai tiga. Aku tidak yakin ia akan menang. Seriangai kini berganti ke bibir Uchiha Fugaku.

"Aku, mohon, jangan ambil anakku." Tubuh Naruto bergetar hebat. Suara isakkan terdengar lirih. Hal itu dapat dirasakan oleh Sasuke yang mendekapnya dari belakang. Sebenarnya Sasuke tidak tega melihat Naruto seperti ini. Hatinya teriris mendengar setiap isakan yang keluar. Tapi ia tahan. Sedikit lagi, sedikit lagi Naruto akan kembali padanya.

"Naruto" Kyuubi menatap Naruto miris.

"Hm, aku anggap itu iya. Baiklah, aku beri waktu sampai besok. Aku harap, besok pagi kau bersiap dengan semua barangmu. Aku akan mengutus bawahanku untuk menjemputmu." Kata Fugaku seraya pergi meninggalkan para Namikaze yang sejak tadi menahan amarah mereka.

"Maafkan aku Naruto. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuatmu kembali." kata Sasuke lirih di samping telingan Naruto. Setelah ia melepaskan Naruto ia berlalu mengikuti kepala keluarga Uchiha yang keluar terlebih dahulu. Begitu juga Itachi yang semenjak tadi terdiam dan menundukkan kepalanya.

Naruto terduduk lemas di lantai. Ia kini begitu lelah. Hingga tangan kecil mendekapnya. Kembai ia dekap tubuh kecil itu dengan erat. Tak ingin malaikat kecil ini menghilang.

"Hikau, aku mohon. Jangan tinggalkan Tou-chan." Kata Naruto lirih.

"Iya. Apapun yang terjadi aku tak akan meninggalkan Tou-chan. Aku janji." Kata Hikari.

Semua yang ada di kediaman namikaze terdiam. Tak berani bersuara. Mereka ikut meratapi semua kepedihan yang terjadi pada pemuda pirang itu.

"Sabarlah Naruto. Kau harus kuat." Tsunade mendekati cucunya dan mendekapnya dengan lembut. Menyalurkan kekuatan pada cucu yang sangat ia sayangi ini.

"Hiks, tapi, kenapa semua harus seperti ini?"

Kyuubi kini sudah tak tahan mendengar setiap isakan yang keluar dari mulut adiknya itu. hatinya begitu teriris. Rasanya ia ingin sekali berteriak, menyalahkan tuhan yang telah membuat kehidupan adiknya hancur seperti ini.

Ia menatap adik semata wayangnya dengan nanar. Ia dapat melihat tubuh ringkih yang masih saja bergetar di pelukan neneknya dan Hikaru. Tak tahan dengan itu, ia berdiri meninggalkan tempat itu dan menuju kamarnya. Ia banting pintu itu dengan keras. Ia pukul dan banting semua yang ada di kamarnya. Berharap semua kekesalan di dadanya menghilang. Kekesalan karena tak dapat melindungi kebahagiaan adiknya.

T_T_T_

Malam sudah larut. Meninggalkan kedua orang yang masih terjaga di dalam sebuah ruang. Tampak si pemuda pirang mengelus lembut rambut bocah yang tengah tidur di depannya itu. masih dengan air mata yang mengalir ia mencoba utuk tetap bertahan. Bertahan untuk anaknya.

"Naruto, sebaiknya kau tidur! Ini sudah terlalu malam untuk kamu berjaga." Kyuubi memegang pundak adinya dengan lembut dan menarik adiknya untuk menghadap padanya. Dapat ia lihat mata adiknya yang sembab dengan air mata yang meleleh. Ia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.

"Tidurlah!" Naruto mengangguk.

Setelah Naruto membaringkan tubuhnya Kyuubi mengecup kenik adiknya dengan lembut lalu beranjak untuk keluar, namun belum ia melangkah, sebuah tangan menghentikannya dengan menarik ujung baju Kyuubi.

"Kyuu-nii, tetaplah disini. Aku takut." Kata Naruto lirih, Namun masih dapat didengar oleh Kyuubi.

Kyuubi tersenyum lalu membaringkan diri di samping Naruto. Mendekap erat tubuh tan yang ringkih itu.

"Iya Naruto. Aku akan tetap di sini."

Perlahan mata Naruto tertutup. Meninggalkan rasa sakit yang ia alammi beberapa saat lalu. Jika ia bisa, ia tak ingin ada hari esok. Ia ingin memejamkan mata sedikit lebih lama. Agar hari esok tak akan pernah terjadi. Agar ia terus terbuai oleh mimpi indah yang akan menenggelamkannya pada kebahagiaan. Agar ia tak merasa sakit lagi. Agar ia dapat merengkuh malaikat kecilnya untuk selamanya.

Namun, harapan itu tak akan tewujud. Entah mengapa apa yang tak kita harapkan, apa yang kita hindari akan menghampiri kita begitu cepat. Matahari yang dulu selalu ia tunggu kedatangannya, kini menjadi seperti dewa kematian yang akan mengambil nyawanya. Ia begitu takut.

"Tuan, silahkan masuk" seorang pelayang kini tengah menyambut kedatangan Naruto dan Hikaru .

"Tou-chan!" suara teriakan menganatarkan seorang bocah raven dan lelaki berambut sama mendekati Naruto dan Hikaru.

"Naruto" Kata Sasuke sambil tersenyum lembut.

"Tou-chan. Akhirnya kau mau kembali pada Sasuke Tou-chan." Kata bocah itu girang.

"Siapa?" Naruto mamandang kosong pada orang-orang yang ada di depannya itu.

"Naruto?"

"Siapa kalian? Naruto itu siapa?"

TBC

N/A : kyyaaaa sorrryyyyyyyy,,, gomeeeeeeeeennnn,, miannnhaeeeee, #dikroyok reader karena baru update# minna-san hountuni gomenasai. Karena sekarang udah kuliah, disibukan dengan berbagai tugas saya jadi lupa sama fanfic saya. Hountouni gomenasai,,, dan teriakasih bagi para reader yang masih mau meyempatkannya membaca. Arigato gozaimasu! Semoga tidak mengecewakan para reader…

Special thanks for:

hizu indah, ca kun, Earl Louisia vi Duivel, Guest, ryuki hanami, , Ika-chan Imut, sasunaruii, KyouyaxCloud, wiendzbica, akagi akihito, Kitsune no Sasunaru, uzumaki wulan , Uchy-san, Geng' Ashikaga Akane, ChaaChulie247, OrangeCassie, Narita Menari-nari, Gunchan, CacuNalu Polepel , Geng' Ashikaga Akane, Sora asagi, Mayyurie Zala, Tia Hanasaki, miao-chan2, izanami kayo, dark angel, Clein cassie, nakato-san, Son Sazanami, widi orihara, arriedonghae