Punggung lebar itu bersandar pada pintu dibelakangnya, sementara pemiliknya menghela nafas.

Lega.

Setidaknya, Sasuke tidak membencinya, atau hanya Suke.

Hanya perlu menunggu waktu untuk menjelaskan semuanya kesalahpahaman—kebodohan—yang dibuatnya, kepada jiwa Sasuke yang lain.

Naruto kembali menghela nafas, menenangkan fikirannya yang tengah kalut. Karena tidak ingin membuat Sasuke menunggu terlalu lama, maka Naruto memutuskan untuk segera pergi membeli ramen sesuai permintaan Sasuke.

Belum sempat menjejak lima langkah, sebuah getaran disaku ponselnya membuat Naruto menghentikan langkahnya. Saat melihat id caller dilayar ponsel, tanpa fikir panjang Naruto langsung menggangkatnya.

Percakapan itu sangat singkat, hanya berlangsung sekitar tiga menit. Tapi setelahnya, perbincangan singkat itu membuat aura hitam menguar dari tubuh Naruto.

Setelah panggilan itu terputus secara sepihak, Naruto menelfon seseorang.

"Moshi-moshi.." sahutan malas dari seberang sana membuat Naruto menggeram.

"Bawakan seluruh anggotamu untuk menjaga Sasuke dirumah sakit, sekarang juga. Oh, serta jemput Ken disekolah dan seret Kyuubi dibawah penjagaanmu." Jeda sejenak. "Shika, kau mendengarku?" ujar Naruto tajam.

"Iya, iya. Tentu." Suara diseberang sana berubah tegas.

"Jaga mereka dengan baik, atau kepalamu akan kupenggal jika terjadi apa-apa kepada mereka. Dan, oh, khusus untukmu Shika. Belikan dua bungkus ramen di kedai paman Teuchi, dan bilang pada paman jika harus ditambahkan tomat yang banyak. Berikan pada Sasuke nanti."

"Hah?!" seru suara diseberang sana, spontan. "Mana ada ramen pakai tomat? Are you kidding me, Boss?"

"Aku tidak."

"Tap—tapi…"

Klik.

"You son of a bitch!"

Naruto menggeram, marah.

'Lihat saja, apa yang akan kulakukan nanti. Dan kupastikan, kau akan memilih mati daripada berurusan denganku!'

Dengan langkah tegas, Naruto berjalan meninggalkan rumah sakit, mengabaikan tatapan takut serta kagum dari setiap orang yang dilaluinya.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Crime

Pair: NarutoXSasuke, ItachiXKyuubi, and other

Warning: BL/Yaoi! Mpreg! Lime! Lemon! NC!

Don't like don't read!

.

.

.

Roar!

Last Chapter

.

.

.

Sasuke memasang wajah bahagia ketika pintu ruang rawatnya diketuk pelan. Ia cepat-cepat memposisikan dirinya untuk duduk, menghiraukan sedikit rasa nyeri yang menyerang perutnya. Namun, raut bahagia diwajahnya seketika luntur saat melihat siapa gerangan yang melewati pintu itu.

"Umm… hai," Orang itu menyapa canggung merasakan suasana hati Sasuke yang tak baik. Ia mengangkat bingkisan plastic ditangan kanannya seraya berkata "aku membawakan pesananmu." Dan lelaki itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Kiba." Sasuke menyebut nama teman kampusnya dengan nada datar. Sasuke melirik bingkisan plastik itu namun tak lama kemudian mengalihkan tatapannya. Rasanya, nafsu makan yang begitu menggebu beberapa saat lalu menguap entah kemana ketika mengetahui seseorang yang diharapkan kehadirannya justru tidak muncul. "Naruto dimana?"

"Naruto… dia—"

Cklek

Tanpa memperhatikan adab kesopanan, seseorang yang memasuki pintu kamar rawat Sasuke langsung berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuh tingginya disana.

"Shikamaru?" Sasuke bertanya penuh kebingungan. Mengapa teman-teman kampusnya berada disini?

"Hai, Sasuke." Shikamaru melambai dan tersenyum tipis, sebelum menguap lebar hingga sudut matanya berair.

"Mengapa kalian berada disini? Dan, dimana Naruto berada?"

"Naruto sedang—"

"Dia ada sedikit urusan." Perkataan Shikamaru yang kembali memotong kalimat Kiba tentu saja membuat Kiba merasa kesal.

Manik coklat itu menatap sengit kepada Shikamaru.

"Jangan sekarang, Kiba." Shikamaru mengabaikan tatapan tajam Kiba dan menghela nafas. "Aku berada disini bukan untuk bertengkar denganmu lagi."

Mendapati perkataan itu membuat Kiba tersenyum kecut. Ia tak lagi berkata dan mendudukkan dirinya disofa yang berjauhan dengan Shikamaru.

"Naruto ada urusan mendadak dan itu sangat penting untuk sekedar diabaikan. Naruto akan menyelesaikan masalah itu secepatnya dan berjanji untuk menemanimu setelahnya." Papar pemuda berkucir tinggi itu.

Sasuke mengangguk menerima, walaupun ada sedikit rasa kecewa. "Tapi, kenapa kalian ada disini?" Sasuke bertanya heran dengan sebelah alis terangkat.

"Naruto meminta kami untuk menjaga dan menemanimu selama dia pergi." Kali ini, Kiba lah yang menjawab pertanyaan Sasuke.

"Aku bukan bayi." Gumam Sasuke, merasa sedikit kesal mengetahui bahwa Naruto benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil. Demi apapun! Sasuke sudah besar. Dia sembilan belas tahun sejak beberapa bulan yang lalu!

"Ya, kau adalah bayi besar yang harus kami jaga." Ujar Kiba asal.

"Apa?!" Sasuke menyalak. Bibirnya cemberut dan mata hitamnya menatap Kiba tajam.

Bukannya meminta maaf, Kiba justru tertawa. Ekspresi Sasuke yang jarang dilihatnya ini sungguh menggemaskan, dan itu cukup menghibur bagi Kiba. Sedikitnya, masalah yang dihadapinya akhir-akhir ini seolah menguap begitu saja ketika melihat ekspresi menggemaskan milik Sasuke.

Kita sudah tahu mengenai Sasuke. Pernyataan bahwa Sasuke memiliki dua jiwa sudah menjadi rahasia umum bagi keluarga Namikaze-Uchiha serta para bawahan Naruto. Dan Kiba adalah salah satunya.

"Tapi kau akan memiliki bayi." Kiba masih menanggapi disela tawanya yang lepas.

Sasuke hanya mendengus, lalu membuang muka.

Kiba menatapnya, kemudian terkekeh pelan saat melihat rona merah menjalari wajah hingga telinga Sasuke.

Aw, so cute. Batin Kiba gemas.

.

.

.

Roar!

.

.

.

Kyuubi mengernyit. Matanya yang berwarna merah menatap satu-persatu orang yang didepan pintu rumahnya. Kyuubi tidak mengenal mereka, satupun. Apakah mereka memiliki niat buruk?

Jika dilihat dari perawakan fisiknya yang tinggi tegap, mereka, Kyuubi menduga bahwa mereka memiliki riwayat pelatihan militer yang sangat baik. Maka dari itu, Kyuubi mencoba berfikir positif.

"Adakah yang bisa kubantu?" Kyuubi bertanya pelan, mencoba untuk menunjukkan rasa sopannya kepada tamu. Mereka bukan anak buah Itachi, fikirnya.

Mereka—yang terdiri dari empat pemuda, menggeleng kompak.

Kyuubi menaikkan sebelah alisnya, bingung. Kyuubi larut dalam kebingungannya hingga tanpa sadar tetap memandangi keempat pemuda didepannya.

Hanya seperti itu. Mereka masih saling bertatap selama beberapa puluh detik kedepan hingga sebuah suara dengungan motor besar dari arah depan membuat Kyuubi tersentak.

Sang pengendara itu membuka helmnya, memperlihatkan helaian berwarna merah muda.

Kyuubi tersentak melihat itu. "Sakura?!" pekiknya, setengah tak percaya.

Perempuan berambut merah muda yang bernama Haruno Sakura itu tersenyum lebar. Ia melangkah lebar-lebar mendekati pintu rumah minimalis Itachi-Kyuubi, dimana pemuda berambut merah itu menatapnya terkejut.

"Halo, Kyuubi. Lama tidak bertemu." Sapa perempuan itu ceria. Sakura merasa terkejut karena pemuda bertubuh tinggi itu langsung menerjangnya dengan pelukan erat.

"Calm down, Kyuubi." Sakura terkekeh dengan reaksi Kyuubi, seraya membalas pelukan Kyuubi. Tangannya yang masih bersarung tangan hitam mengelus punggung Kyuubi lembut.

"Kemana kau setelah waktu itu? Aku tidak mendapat kabar apapun tentangmu setelah kelahiran Ken."

Sakura, perempuan berusia 25 tahun itu hanya tertawa. Yeah, perempuan bermanik hijau emerald itu adalah seorang yang memiliki kemampuan terasah dibidang kedokteran. Dan Sakura adalah orang yang membantu proses kelahiran Ken—putra pertama Itachi dan Kyuubi, lima tahun lalu.

"Bagaimana kabarmu?" Kyuubi bertanya setelah melepas pelukannya.

Sakura adalah teman masa kecil kakaknya—Naruto, sewaktu kakaknya masih tinggal di Amerika Serikat, tepatnya di Arizona. Kini, perempuan yang memiliki darah Jepang-Rusia itu adalah salah satu dari sekian banyak orang penting dalam organisasi besar yang dipimpin oleh Namikaze Naruto.

"Still in the line. Yeah, walaupun dengan sedikit perbedaan." Sakura mengedip jahil, membuat Kyuubi mencibir. "Aku menjadi bodyguard beberapa tahun terakhir, ngomong-ngomong." Tambah Sakura.

"Aku ragu kau menjaga tuanmu dengan baik, mengingat dulu kau pernah memotong jari tuanmu ketika tuanmu menyentuhmu." Kyuubi berkata dengan nada menyindir.

"Hei, itu hanya penyamaran." Sakura berkata tak terima. Bibirnya yang berwarna pink mengerucut.

Kyuubi tertawa melihatnya. "Kau sama sekali tak berubah."

"Yes, I am." Sakura menyahut bangga, tersenyum kemudian.

Sakura lalu terdiam, menatap Kyuubi lurus.

"Apa?" Kyuubi bergumam, sedikit tak nyaman dengan tatapan Sakura yang terlampau serius.

"Kita harus bergegas." Ujarnya, tegas. Raut wajahnya berkali-kali lebih serius, menyamai keseriusannya diatas meja operasi.

Kyuubi menelan ludah. Ia yakin, sesuatu telah terjadi saat ini. Dunia nyamannya selama lima tahun belakangan akan segera terusik. Dan itu tak menutup kemungkinan bahwa rahasia besar yang dijaganya dari dunia—bahkan keluarganya sendiri, akan terbongkar tak lama lagi.

Seketika, Kyuubi khawatir dengan keadaan Itachi dan putranya.

Tanpa bertanya lebih jauh, Kyuubi mengangguk. Ia segera masuk kedalam rumah, mengambil beberapa kebutuhan yang ia taruh kedalam tas, memakai jaketnya dan mengunci pintu rumahnya dengan deretan kata sandi.

"Konohamaru, berikan aku kunci mobilmu!" ujar Sakura kepada seorang lelaki berambut coklat terang.

Lelaki itu berdecak, namun tetap memenuhi keinginan Sakura. Konohamaru melemparkan kunci mobilnya kepada Sakura, begitu pula dengan Sakura yang melemparkan kunci motor sportnya kepada pemuda itu.

"Aku akan menjelaskan situasinya dalam perjalanan." Ujar Sakura seraya memberikan gesture kepada Kyuubi agar pemuda berambut merah itu mengikuti langkahnya menuju mobil sport berwarna ungu-putih milik Konohamaru.

"Bagaimana dengan Ken? Dia masih berada disekolah." Kyuubi lekas mengingat putranya yang masih berada di sekolah.

"Kita akan menjemputnya sekarang juga."

.

.

.

Roar!

.

.

.

"Kau membuatku mabuk berat malam tadi." Gaara mengerang pelan seraya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Sesekali ia mendesis kala rasa nyeri menyerang sepanjang tulang belakangnya ketika ia menyamankan posisi duduknya diatas sofa empuk tak jauh dari meja makan.

Neji mendengus. Ia mengabaikan gerutuan Gaara dan melanjutkan acara makan paginya yang sempat tertunda.

"Nejiii…"

"Diam, Gaara. Jangan merengek seperti anak kecil. Ekspresimu itu sungguh menggemaskan hingga aku tak tahan untuk segera memakanmu." Ujar Neji dengan nada datar.

Gaara mendelik dengan mata pandanya yang melotot tajam. "Kau benar-benar penjahat kelamin."

"Aku akan jadi penjahat bila itu dirimu, baby." Serigai tipis berkembang dibibir tipis Neji.

"Dasar maniak." Maki Gaara dengan suara keras, yang dibalas dengan kekehan Neji.

Gaara terdiam. Fikirannya melayang pada kejadian akhir-akhir ini yang cukup membingungkan bagi otak jeniusnya.

Waktu itu, Neji tidak benar-benar serius ketika menawari Sasuke pekerjaan. Hal tak berguna—menurut Gaara, itu dilakukan Neji agar Neji mempunyai alasan untuk mendatangi Gaara. Neji sepertinya memiliki obsesi terhadap Gaara hingga melakukan segala macam cara untuk bisa dekat dengan pemuda panda itu.

Lalu berita tentang kematian Hinata—adik Neji, yang meninggalkan beribu pertanyaan tentang mengapa Hinata bisa mati dengan begitu indah dan mengenaskan disaat yang sama. Neji sangat marah mengetahui hal itu, mengingat Neji adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adik manisnya itu.

Dengan sejuta kemarahannya, Neji memerintah seorang agen mata-mata untuk mengetahui sebab kematian Hinata. Agen mata-mata dengan kode 541 itu memberikan barang bukti berupa foto-foto mengenai kematian Hinata.

Seorang pria bermantel hitam dengan rambut hitam panjang yang dikucir rendah tengah berdiri tak jauh dari mayat Hinata. Pria dalam foto itu tidak melakukan apapun kecuali berdiri dengan kedua tangan berada disaku mantel hitamnya. Ada berbagai foto yang diambil dari berbagai macam sisi. Dan dari sisi depan, wajah pria itu terlihat menunjukkan wajah dingin seorang pria bernama Uchiha Itachi—kakak dari Sasuke.

Gaara tahu itu, dan ia juga melihat foto itu. Akan tetapi, Gaara merasa tidak yakin bahwa pembunuh dari Hinata adalah Itachi—mengingat Itachi adalah seorang pria yang baik. Gaara terkadang mampir kerumah Sasuke jika merasa bosan. Ia akan berada disana selama berjam-jam menemani Sasuke yang sering sendirian didalam rumah.

Lagipula, motif apa yang dimiliki Itachi hingga pria itu membunuh Hinata begitu keji?

Memikirkan hal itu, membuat Gaara merasa bertambah pusing. "Berikan aku ice cream, Neji~"

"Kau akan mendapatkannya setelah memakan sarapanmu, Gaara." Ujar Neji, sambil melirik sepiring pancake yang sama sekali tidak tersentuh diatas meja kecil didepan Gaara. Ia merasa khawatir karena sejak kemarin malam Gaara tidak memakan apapun kecuali meminum sekotak susu vanilla.

"Tanganku terlalu lemas untuk mengangkat sendok dan garpu, Neji." Gaara beralasan dengan mimik wajah sakit yang dibuat-buat. Padahal nyatanya, pancake madu itu sama sekali tak menggugah nafsu makannya. Gaara hanya tidak mau berakhir memuntahkannya dan berakhir menyinggung perasaan Neji yang telah repot-repot membuatkannya sarapan.

"Oh ayolah, apa aku sedang berbicara dengan anak TK berusia 4 tahun? Mereka biasanya hanya mau makan jika disuapi. Kau menginginkan hal itu?" Neji meninggalkan meja makan dan berjalan mendekati Gaara yang nampak pucat. "Dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu, baby."

"Tidak." Gaara menggeleng tegas. "Berikan aku sekotak susu vanilla jika begitu."

Neji menghela nafas dengan sikap Gaara yang keras kepala. Ia berbalik arah menuju dapur dan mengambil sekotak susu vanilla berukuran besar, menuruti permintaan Gaaranya.

"Kau bisa sakit jika tetap seperti ini, Gaara." Neji memperingati setelah memberikan sekotak susu itu kepada Gaara.

"Sakit?" Gaara membeo dengan nada mengejek. "Kau yang membuatku sakit, Neji!"

Neji meringis mendengarnya. Tanpa memberikan balasan, pria itu berbaring diatas sofa dengan paha Gaara sebagai alasnya berbaring. Pemuda bermata panda itu tak menolak. Ia justru menikmati setiap tegukan susu vanilla yang masuk ketenggorokannya.

"Aku hanya merasa khawatir pada Sasuke, dan… kakaknya. Perasaanku tidak pernah main-main terhadapnya. Jujur, aku sangat mencintainya. Itu sebelum kau datang dan merusak hari-hari damaiku."

Neji hanya diam. Tidak merespon perkataan Gaara. Neji hanya merasa—sakit, ketika mendengar itu secara langsung dari Gaara.

"Neji, kau yakin jika Itachi yang membunuh Hinata?" Gaara membuka percakapan setelah beberapa menit dalam keheningan.

"Mm-mh." Neji membalas dengan gumaman. "Foto dan video itu menjelaskan semuanya, Gaara."

"Itu mungkin hanya rekayasa, Neji. Teknologi semakin canggih, kau tahu. Jadi itu mungkin sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menghancurkan Itachi."

"Hm.."

"Lagipula, yang kulihat hanya seorang pria yang berdiri satu meter dari mayat Hinata tanpa melakukan apapun. Itu mungkin hanya jebakan, Neji. Fikirkanlah baik-baik mengenai motif yang dimiliki Itachi hingga membunuh Hinata. Dan, aku tak yakin bahwa Hinata maupun Itachi saling mengenal. Setahuku Itachi adalah pria yang baik."

"Sasuke mungkin anak yang manis dan ia juga baik. Tapi Gaara, itu tak menjamin bahwa Itachi sama baiknya dengan Sasuke. Kau sama sekali tak dekat dengan Itachi. Kau hanya mengenalnya sebagai kakak Sasuke yang manis dan baik. Kau bahkan tak akan tahu bahwa dibalik senyumnya itu, Itachi adalah seorang penjahat. Dia itu seorang mafia, Gaara! Don't judge people by the cover!"

Gaara tentu saja terkejut mendengar berita ini. Ia tak pernah tahu akan hal ini sebelumnya. "Dari mana kau tahu?"

"Aku selalu tahu." Neji menyerigai. "Dan, apa kau percaya bahwa dosen baru dikampusmu adalah calon suami Sasuke yang saat ini menjadi pemimpin organisasi mafia internasional yang berpusat di AS?"

Gaara menganga tak percaya. Ia mencerna semua informasi itu hingga pemikirannya tentang tindakan Neji melintas begitu saja.

"A-apa yang kau lakukan, Neji? Aku tahu kau sangat menyayangi Hinata, tapi tindakanmu itu akan menjadi tindakan bunuh diri jika kau membunuh calon kakak ipar Uzumaki-san!" ujar Gaara, yang mendadak merasa khawatir dengan keselamatan Neji setelah ini.

Mendapatkan reaksi Gaara yang khawatir, membuat Neji tersenyum. Akhirnya. Setelah penantian sekian lama dan penolakan berkali-kali dari pemuda bermata panda itu, Gaara akhirnya menerima keberadaan Neji. Walaupun kata cinta belum terucap dari bibir merah itu, Neji berjanji akan membuat Gaara mengatakannya. Tangannya terulur dan mengelus pipi Gaara, menenangkannya. "Tenanglah. Aku selalu tahu apa yang kulakukan. Aku mengirim orang yang sepadan sebagai lawannya."

"541?" tanya Gaara, menggenggam tangan Neji yang berada dipipinya. "Aku tidak ingin kau mati, Neji."

Neji tersenyum. Ia menarik tengkuk Gaara dan berbisik tepat ditelinga Gaara, "tidak akan, baby."

.

.

.

Roar!

.

.

.

Kegelapan mengukung seluruh indranya.

Deidara menunduk, menyembunyikan wajah basahnya diatas lipatan tangannya.

"Pria bajingan!"

Suara-suara berupa umpatan kasar dan makian itu selalu berputar bagai kaset rusak ditelinganya. Deidara mendengar semuanya. Juga… melihatnya.

Deidara mendengar rentetan kalimat yang merupakan jawaban atas pertanyaannya sedari kecil kepada kakeknya.

"Kakek, ayah dimana?"

"Kakek, siapa ayah Dei?"

Deidara mengetahui jika ibunya—Miko, telah meninggal dunia ketika berjuang melahirkannya. Itu bisa dipahami, karena ibunya melahirkan diusia yang sangat dini. Enam belas tahun. Siapapun tahu, bahwa melahirkan bayi tidak semudah membuat bayi. Apalagi kelahiran secara normal. Dibutuhkan mental kuat untuk mempertaruhkan hidup dan mati diatas ranjang persalinan.

Sebagian besar akan lebih memilih operasi sesar sebagai jalan keluarga, terlebih bagi kaum muda yang hamil diusia dini. Prosesnya jauh lebih cepat dan relative cepat. Keamanan ibu dan anak bisa dipastikan, walaupun tidak selalu begitu.

Tapi, tidak. Miko, remaja enam belas tahun itu lebih memilih melahirkan secara normal, meski dia tahu resikonya sangat besar. Gadis cantik, namun licik itu begitu gigih untuk mempertahankan bayi dalam kandungannya. Walaupun ayah dari gadis itu memerintahkan Miko untuk menggugurkannya, Miko tetap mempertahankannya. Miko bahkan berencana untuk bunuh diri jika ayahnya tetap memaksanya menggugurkan janinnya. Itu seperti, perasaan tulus seorang ibu yang sangat menyayangi buah hatinya. Buah dari perjuangannya yang penuh resiko.

Deidara tahu itu. Kakeknya yang memberi tahu.

Deidara patut merasa bangga, karena telah dilahirkan dari seorang ibu yang begitu mencintainya. Maka dari itu, Deidara tidak pernah mengeluh dengan kehidupan masa kecilnya yang kurang menyenangkan. Deidara dianggap anak haram oleh teman-temannya, karena sekalipun mereka tidak pernah melihat wujud dari ayah dan ibunya. Mereka mengejeknya, bahkan terkadang mereka membully batinnya dengan kalimat-kalimat pedas yang menyesakkan dada.

Setidaknya, kakeknya dan bibinya—Shion, sangat menyayangi sepenuh hati. Mereka terkadang sangat overprotective terhadap Deidara, dan itu membuat Deidara bersyukur akan hal itu.

Satu hal yang membuat Deidara bertanya-tanya adalah, mengapa mereka tidak mau memberi tahu seperti apa sosok ayahnya? Masih hidup atau mungkin sudah mati?

Kakek dan bibinya pasti bungkam ketika Deidara menanyakan topic itu. Mereka pasti akan mengalihkan topic pembicaraan hingga terkadang membuat Deidara kesal.

Dan sekarang, Deidara mengetahuinya. Disini. Hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berada, Deidara akhirnya mengetahui bagaimana sosok ayahnya. Ayah yang selama ini hanya terlukis semu dan imajinasinya.

Sosoknya sangat nyata. Dengan rambut hitam dan badan yang tinggi tegap. Perwakannya sangat dewasa, dan mata itu… adalah mata tertajam yang pernah dilihatnya. Walaupun tubuhnya babak belur, diinjak-injak oleh teman bibinya—Sai, hingga patah tulang, pandangan itu tidak berkurang sedikitpun. Masih tetap tajam seakan mata itu adalah sebilah pedang tajam yang mampu menebas lawannya dalam sekali tebasan kilat. Ayahnya tampak seperti orang hebat!

Akan tetapi perkataan bibi Shion seperti menamparnya dari bayangan mengenai betapa hebat ayahnya itu.

Pria brengsek. Bajingan.

Benar. Pria itu adalah pria brengsek yang menelantarkan ibunya. Pria itu menolak kehadiran bayi dan meninggalkan ibunya, menelantarkannya, dan justru pergi untuk mengencani gadis-gadis lain untuk dijadikan penghangat diatas ranjang ketika malam.

Deidara memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa ayahnya meninggalkan ibunya, yang justru membuat Deidara semakin takut dengan segala pemikirannya itu.

Ayahnya tidak mungkin sebrengsek itu, kan?

.

.

.

Roar!

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, namun markas begitu sepi tanpa adanya suara gelak tawa khas orang-orang mabuk. Biasanya, akan ada dua atau tiga anggota kelompok yang berlalu-lalang dari dapur menuju ruang tengah. Namun nihil. Pemimpin serta wakilnya—Sai dan Shion, pun tak tampak sama sekali.

Dilain sisi, Deidara begitu frustasi memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa ayahnya meninggalkan ibunya, hingga Deidara memutuskan untuk bertanya langsung kepada pria itu. Selagi ada kesempatan—sebelum Sai dan bibi Shion membunuh pria itu, Deidara akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Deidara hanya tidak ingin ada kesalahpahaman dikemudian hari.

Dan Deidara melihatnya. Benar-benar melihatnya. Sangat dekat dengannya.

Deidara berdiri satu langkah dari tubuh pria itu. Tubuhnya terikat tali dari rantai besi. Ada banyak bercak darah dibajunya, juga percikan darah yang mengotori lantai marmer putih dibawah pria itu.

Remaja lima belas tahun itu menahan nafas ketika wajah pria yang sedang tertunduk itu terangkat hingga pandangan mata mereka bertemu. Sekilas, Deidara melihat raut terkejut dimata setajam elang itu, Namun setelahnya mata itu menatap Deidara tajam.

Remaja berambut pirang itu gugup seketika. "Ke-kenapa Sai dan bibi Shion sangat membencimu?"

Alih-alih bertanya mengenai kisah masa lalunya, Deidara justru bertanya hal itu. Suaranya bahkan tergagap karena terlalu gugup.

Itachi menahan senyumnya diam-diam. Kegugupan remaja pirang itu terlihat sangat jelas dimatanya dan itu cukup menghiburnya.

"Hn," Itachi bergumam, enggan menjawabnya. Ia justru meneliti secara mendetail remaja pirang itu.

Sejujurnya Itachi pernah menduga, memikirkan kemungkinan bahwa apa yang ia lakukan dengan penuh keterpaksaan itu akan membuahkan hasil. Usianya waktu itu tiga belas tahun, masih terlalu kecil untuk mengetahui hal-hal berbau dewasa. Tapi Itachi telah mengalami pubertas dengan segala tanda-tanda remaja lelaki puber. Ia menjalani banyak latihan keras sejak dini membuatnya memiliki fisik yang lebih dari sekedar remaja seumurannya. Gen dari ayahnya yang bertubuh tinggi besar sangat dominan dalam tubuhnya, membuatnya nampak jauh lebih dewasa dari remaja umumnya.

Itachi mungkin sedikit terkejut dengan kenyataan yang begitu tiba-tiba. Namun semuanya tidak akan menjadi lebih baik jika Itachi menelantarkan putranya itu. Itachi akan mencoba membiasakan diri dengan kehadiran remaja pirang itu—yeah… jika Itachi diberi kesempatan untuk keluar dari tempat laknat itu hidup-hidup.

Melihat raut wajah Deidara yang kebingungan, membuat Itachi menghela nafas. Ia mengendikkan bahunya seraya berkata, "hanya kesalahpahaman kecil dimasa lalu."

Deidara bersumpah melihat pria itu menjawab dengan senyum yang amat tipis dibibirnya yang ternoda oleh darah kering.

"Kesalahpahaman kecil?" Deidara melempar pertanyaan dengan nada mengejek. "Sai dan bibi Shion tidak akan sebernafsu itu untuk menyiksamu jika itu hanya sebuah kesalahpahaman kecil!" emosi itu meluap begitu saja, membuat Deidara hampir berteriak nyaring.

Kali ini, Itachi benar-benar tertawa. Pria itu merasa lucu ketika melihat remaja 15 tahun yang merupakan anaknya itu berteriak kesal.

"Kenapa kau tertawa? Aku hanya butuh jawaban dari pertanyaan awalku!" Deidara bersedekap dada, bertingkah seolah seorang hakim yang menghakimi pria terpidana.

Itachi menggeleng, masih dengan kekehan ringan. "Akan kujawab jika aku bisa keluar dari tempat laknat ini hidup-hidup."

Alis Deidara menukik tajam, menandakan bahwa ia tengah berfikir keras.

"Aku adalah ayahmu, kau tahu?"

Perkataan Itachi membuat sesuatu dalam dada Deidara mengembang. Ayah mengenaliku! Ayah mengakuiku! Batin Deidara berseru dengan gembira.

Nafas Deidara terasa berat, dan tanpa sadar matanya telah berkaca-kaca. Dengan menggenggam erat beberapa kunci, Deidara menerjang maju dan menubrukkan dirinya pada pria itu.

"Ayah!"

Deidara memeluknya erat dengan isakan pelan. Ia menghiraukan kemungkinan bahwa pria itu merasa sakit karena Deidara menekan tangannya yang retak.

Deidara hanya merasa senang!

.

.

.

Roar!

.

.

.

BOOM!

Waktu menunjukkan pukul 6. 12 pm ketika suara ledakan dari gedung tua dilantai bawah itu terjadi. Stuktur bangunan rusak parah dibeberapa bagian tapi itu tidak cukup untuk membuat gedung tua itu roboh.

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan terus bersahutan membuat Naruto dan pasukannya segera bersembunyi dibalik reruntuhan.

"Me-mereka mengepung kita..."

"Stt—tenanglah sayang, kau dan aku akan baik-baik saja." Naruto berbisik dengan suara lirihnya kala mendengar suara lirih penuh ketakutan dari seberang sana.

Selang waktu dua detik, tembakan itu kembali bersahutan. Dua kubu dengan pria berjas dan pria berpakaian serba hitam tampak saling melawan sengit. Sementara pemimpin mereka, Naruto pemimpin ratusan pria berjas hitam yang mengepung tempat itu, dan Sai yang memimpin pria serba hitam, terlibat adu tembak.

"Suke, apa yang terjadi?" Naruto mencoba memanggil ketika terdengar suara teriakan Sasuke dari seberang sana, membuat Naruto berkeringat dingin mengenai keadaan Sasuke saat ini. "Suke—Sasuke, apa kau mendengarku sayang?"

"Na-naru… ini, sa-sakit, hh. Kakiku. Aku—tidak bisa menahannya.. aku... ingin tidur lagi,"

Sialan! Akan kuhajar mereka yang tak becus menjaga Sasuke, batin Naruto geram.

"Suke, dengarkan aku. Biarkan Sasu-chan tahu semuanya, Suke! Beri dia akses untuk segala ingatan dan penglihatanmu! Jangan buat ia buta dengan semua ini, Suke!" Itu perintah, bukan permintaan.

Di seberang sana, Sasuke yang tengah terisak kala merasa sakit dikakinya yang tertembak, tak bisa melawan dengan perintah itu. Ia hanya mengangguk kemudian. "Ba-baiklah."

"Bagus. Sekarang tidurlah, biarkan Sasu-chan menggantikanmu. Aku akan segera menjemput kalian." Setelah mengatakan hal itu, Naruto memutus sambungan telepon secara sepihak ketika ada begitu banyak peluru menghujaninya.

Sai memberikan tembakan beruntun membuat Naruto bersembunyi dibalik pilar besar yang roboh, membuat Naruto mengumpat. Tidak lama setelah itu peluru yang ada dalam pistol milik Sai habis, membuahkan serigai dari Naruto.

"Cover me, Shino!" Naruto berujar pelan melalui sambungan earphone ditelinganya, kepada salah satu sniper ajarannya, yang berada jauh dari tempat itu.

Sementara Sai kembali mengisi amunisinya, Naruto tanpa merasa takut dengan tembakan anak buah Sai, berjalan menuju kearah Sai seraya memberondongnya dengan tembakan tanpa henti.

Dor! Dor! Dor!

Satu tembakan berhasil mengenai bahu kanannya namun Naruto menghiraukannya dan tetap menembakkan pelurunya pada anak buah Sai seraya berlari menuju tempat dimana Sai bersembunyi.

Naruto melirik sekitar dan mendapati pria yang tadi menembaknya tetah mati dengan lubang yang menembus tengkoraknya. Bagus, batinnya. Dengan serigai miringnya, Naruto berdiri tepat dibelakang Sai.

"Kau sudah tamat, Sai."

Sai terhenyak ketika moncong pistol yang dingin menempel dibelakang kepalanya. Keringat dingin mengalir deras dari pelipis pucatnya.

Ckrek!

"Ah, sialan!" Naruto mengumpat saat tahu bahwa kedua pistolnya juga kehabisan amunisi. Ia meraba pakaiannya dan kembali mengumpat karena tidak ada pistol beramunisi penuh.

Sai seketika menghela. Mengacuhkan pistolnya yang kehabisan amunisi, Sai berdiri lalu berbalik. Kaki kanannya terangkat untuk menendang tubuh Naruto—dengan paha sebagai sasarannya.

"Rasakan itu!"

Naruto terlambat menyadari hingga tendangan keras itu mengenai pahanya, membuat tubuhnya terlempar jauh lalu menabrak sebuah meja. Bunyi 'krak' kecil terdengar ketika punggungnya berbenturan keras dengan tepian meja kayu.

Naruto mendesis pelan ketika luka tembak dibahu kanannya berbenturan dengan permukaan yang keras. Ia segera beranjak bangun dan memasang kuda-kudanya. Kali ini, Naruto cukup tanggap untuk menangkap kaki kanan Sai yang hendak meremukkan tengkorak kepalanya.

Pria dua puluh lima tahun itu tersenyum miring seraya mencengkeram kuat pergelangan kaki kanan Sai. "Aku membayangkan jika tubuh ini kehilangan salah satu kakinya." Ujar Naruto dengan serigai andalannya.

Sai menatap rendah pada pria blonde, "dalam mimpimu, pirang sialan!" Sai menarik kembali kakinya tapi berakhir gagal karena, Naruto mencengkeram kakinya begitu erat.

Serigai Naruto melebar, "dan itu akan segera menjadi kenyataan."

KRAKK!

"ARGHHHHH!" Sai menjerit kesetanan.

Seakan belum puas dengan jerit kesakitan Sai, Naruto memutar tubuhnya dan memberikan tendangan kuat pada Sai dengan kepala Sebagai sasarannya. Tubuh Sai terlempar jauh hingga menabrak tembok, menyebabkan keretakan pada tembok bercatkan putih tulang itu.

Dengan aura membunuhnya, Naruto melangkah mendekati Sai yang terbatuk darah. Ia berjongkok, mencengkeram kerah baju Sai yang berlumuran darah segar. "Agen rahasia 541, heh?" Naruto berujar sinis. "Kau marah pada Hinata karena wanita itu menampar Sasuke, dan kau membunuhnya karena itu. Menyamar menjadi seorang agen rahasia 541 lalu menyebarkan kebohongan besar kepada Hyuuga Neji!" Tangan kanannya terangkat dan sedetik kemudian mendarat keras diwajah putih pucat Sai. Darah segar mengalir dari hidung Sai menandakan bahwa hidung mancungnya patah akibat pukulan Naruto.

"Dan kau membuat Itachi sebagai tersangka, padahal dia tidak melakukan apa-apa selain berdiri dengan bodohnya disamping mayat Hinata. Sebegitu dendamkah kau kepada Itachi, hah?"

Ditengah wajah babak belurnya, Sai masih sempat memberikan senyum—lengkungan penuh kepuasan. "Bukankah ini menyenangkan? Aku yang berbuat tapi Itachi yang menerima akibatnya."

"Ini sungguh lucu." Naruto menanggapi dengan senyum sinis, "kau membunuh seorang wanita yang tak sengaja menampar Sasukeku, tapi dilain sisi kau mengirim banyak anggotamu untuk membunuh Sasukeku." Pria blonde itu terkekeh dengan kalimatnya. Lalu tatapan mata biru itu tertuju pada manik hitam Sai, menatapnya tajam seolah ingin memotong-motong tiap organ tubuh Sai.

"Membunuh?" Sai menatap Naruto dengan kening berkerut. "Tidak. Aku hanya memerintah pada mereka untuk mengambil apa yang harus menjadi milikku. Bercinta dengan lelaki hamil pasti menyenangkan." Ujarnya dengan diiringi desisan kesakitan.

Naruto berusaha kuat menahan amarahnya, "berniat mencuri, eh?" Naruto tersenyum miring.

"Tepat sekali!" Sai membalas dengan dengusan remeh yang justru membuat Naruto semakin geram karenanya.

Naruto membenturkan kepala Sai pada dinding belakangnya dengan sangat keras.

BRUAKKK!

"Arghhh! Sshitt…" kepala Sai mendongak kala tangan besar Naruto menjambak rambutnya kuat-kuat hingga beberapa helai rambut pendeknya tercabut.

"Sakit?" tanya Naruto dengan nada main-main. Bibirnya menyunggingkan senyum aneh yang membuat siapapun melihatnya akan bergetar ketakutan.

Sai menatap ngeri kepada mata biru Naruto yang berkilat menyeramkan. Kali ini Sai tahu, bahwa menantang Namikaze Naruto adalah aksi bunuh diri!

Ting!

Suara lift yang terbuka cukup untuk membuat kedua manusia itu menoleh.

"Yo, Naruto!" suara kelewat datar menyapa setelahnya.

Naruto meliriknya, "Kyuu-chan pasti membunuhku." Tambahnya, setelah melihat keadaan Itachi yang nyaris mati.

.

.

.

Roar!

.

.

.

BOOM! DUARR! BRUKK!

Guncangan hebat dan suara reruntuhan terdengar setelahnya.

"A-apa itu?" Sasuke mencoba untuk menoleh kebelakang, namun seorang lelaki yang mendorong kursi rodanya tidak membiarkan hal itu terjadi. Dengan tubuhnya, lelaki itu menjadi penghalang bagi manik hitam Sasuke yang berusaha menoleh kebelakang sana.

"Jangan dilihat!" peringat lelaki yang mendorong kursi rodanya.

"Apakah bom lagi, Shikamaru-kun?" Sasuke kembali bertanya, dengan raut wajah tak percaya. Itu gedung rumah sakit yang sungguh besar. Dan siapapun itu yang berani meledakkan bom ditempat penting itu, pasti orang itu sudah cukup gila.

"Ya, begitulah." Sahut Shikamaru, mendorong kursi roda Sasuke menuju sebuah mobil van berwarna putih.

"Bagaimana dengan Kiba-kun? Dia masih berada didalam gedung rumah sakit." Ujar Sasuke panik. "Dan Chouji-kun? Lee-kun? Ino-san—"

"Tenanglah, Sasuke. Mereka akan baik-baik saja." Ujar Shikamaru menyela. "Mereka dilatih sangat keras dan bertempur dengan wanita jalang satu itu bukanlah apa-apa. Mereka pasti kembali dengan selamat."

Wanita itu: Shion.

Mengingat itu membuat kepala Sasuke pening. Apalagi dengan jutaan memori yang masuk begitu saja dalam ingatannya, membuat dirinya mengerang sakit.

Masa kecilnya yang dikelilingi jutaan kemewahan. Kakak yang sering ia nistai dengan kejahilannya, dirinya yang sangat cengeng dan suka mengadu pada kaa-channya. Juga tou-channya yang begitu tegas namun selalu mengutamakan istri dan putra-putranya.

Semua itu berputar dikepalanya bagaikan kaset rusak.

Tubuhnya yang didiami oleh dua jiwa. Dia Sasuke. Uchiha Sasuke, terbagi menjadi dua jiwa.

Jiwa lain dalam dirinya yang selalu ingin dipanggil 'Suke' oleh siapapun tanpa suffix –chan yang selalu ia dapatkan ketika kecil. Dia adalah pemilik utama tubuh ini yang begitu rapuh. Dia yang selalu menangis, egois, dengan segala keangkuhannya namun begitu takut dengan rasa sakit.

Dirinya yang terbangun atas segala rasa sakit yang dideritanya ketika kecelakaan belasan tahun silam, ketika Suke masih berusia tiga tahun. Lalu kenangannya berganti setting.

Sasuke—Sasu, yang menjadi anak pasutri Uchiha dengan kehidupan yang serba berkecukupan diatas tanah Jepang. Dibawah atap penuh akan rasa kasih sayang walau terkadang kekurangan. Ayah dan ibunya merawat dengan sangat baik, begitu pula limpahan kasih sayang yang diberikan oleh kakak kesayangannya. Tak lupa dengan seorang paman yang amat sangat menyayanginya, Uchiha Obito.

Hingga pertemuannya dengan seorang remaja SMA berambut hitam serta manik hitam yang selalu terlihat aneh dimata Sasuke. Janji masa kecilnya, hingga kepergiannya yang begitu tiba-tiba. Remaja yang kerap ia panggil Onii-sama itu hanya menitipkan sebuah kotak kado. Berisi sebuah surat dan sebuah liontin cantik yang selalu ia pasang dileher jenjangnya.

Menunggu selama bertahun-tahun tak pernah terdengar baik.

Hingga Sasuke melupakan rupa Onii-samanya, Sasuke berfikir mungkin janji masa kecil itu tak berarti bagi sosok Onii-samanya. Pemikiran yang membuat Sasuke melepas liontin cantik itu dan hanya menyimpannya didalam almarinya.

Pertemuannya dengan dosen baru hingga kenyataan bahwa ia membawa nyawa dalam perutnya. Ia hanya menjerit frustasi hingga tak sadarkan diri.

Sasuke bermimpi.

Mimpi yang membuatnya menemui sosok dengan rupa yang terlalu—sangat, mirip dengannya. Rambut hitam dan manik yang sekelam malam. Kulit putih bersih dan bibir mungilnya yang tersenyum… aneh. Senyum penuh kesal yang membuat dahinya berkerut dan alisnya tertekuk.

"Aku Uchiha Sasuke. Suke-chan. Suke." Suke menjelaskan dengan mimik setengah terpaksa. Ia menghela nafas, kemudian tersenyum cerah—sebuah senyum yang juga dimiliki olehnya. Bibir melengkung tipis secara simetris membuahkan lesung manis dikedua pipi gembilnya.

Mereka sama. Sangat. Dan dia—Suke, menjelaskan semuanya. Kenyataan yang hanya bisa dilihat Suke—jiwa yang selama ini menjaganya bahkan dalam keadaan lelap. Jiwa lain yang mengetahui segala kebenaran dibalik ketidaksadarannya. Kejanggalan mengenai ayah, ibu, dan pamannya yang jarang pulang. Aroma darah yang kerap kali ia hirup ketika anggota keluarganya pulang. Sasuke akhirnya tahu bahwa keluarganya bukan keluarga normal pada umumnya. Dibalik kesederhanaan yang terkadang kekurangan itu menyimpan sesuatu hal yang sangat besar. Mereka anggota keluarga mafia. Ayahnya adalah pemimpin mafia besar di Britania Raya.

Kenyataan bahwa: kehamilannya telah menjadi rahasia umum dipihak keluarganya!

Dan kenyataan bahwa dosen yang selama ini bersikap dingin namun begitu peduli itu, adalah…

…Onii-samanya!

Pria yang juga merangkap sebagai—

—ayah dari janin yang dikandungnya!

Haruskah Sasuke menjerit ketika tahu kenyataannya?

.

Flashback

.

.

Kekacauan muncul didepannya. Didepan manik biru jernihnya.

Sebuah mobil yang dikendarai seorang pemabuk menyerempet seseorang yang mengendarai sepedanya ditrotoar jalan besar. Mobil itu meluncur dan akhirnya menabrak bangunan tak jauh dari trotoar. Percikan listrik terdengar merdu disusul suara ledakan besar. Sedangkan sang pengendara sepeda kehilangan keseimbangan dan sepedanya ambruk setelahnya. Bunga-bunga cantik yang terdapat pada keranjang sepedanya berhamburan dan sebagian besar rusak.

Mengikuti hati nuraninya, ia menghentikan mobilnya dan melihat keadaan sang pengendara sepeda yang sepertinya terluka.

Dan ketika kakinya menjejak satu meter dari sosok yang terluka itu, manik birunya membulat.

"Sasuke!" ia berseru panik melihat seseorang yang selalu menjadi penyemangatnya beberapa tahun belakangan ini.

Ia—Uzumaki Naruto, tidak akan pernah lupa dengan wujud orang yang begitu ia cintai.

Maka sebelum tempat kejadian itu ramai dengan orang-orang yang menempati bangunan sekitar, Naruto segera membopong tubuh ringkih yang terluka itu memasuki mobilnya dan meluncur menuju rumahnya.

"Bertahanlah, Sasu-chan!"

.

.

Bukankah itu hadiah yang hebat? Bertahun-tahun lamanya tak bertemu dan ketika kesempatan itu datang, Naruto disuguhi pemandangan yang membuat hatinya teriris.

Bukan ini yang ia inginkan. Bukan.

Yang Naruto inginkan adalah sambutan ceria dari sosok yang begitu lama ia tinggalkan. Sebuah pelukan hangat dimana itu tempatnya berpulang.

Naruto ingin senyum hangat milik Sasukenya!

"Sasuke- hik!" Empat botol red wine telah tandas ditenggaknya, membuat pria bernama Naruto itu meracau. Tentang betapa ia memuja seseorang bernama Sasuke, betapa ia mencintai Sasukenya. Dan ia sungguh menyesali tindakannya. Jika saja.. jika saja..

"Apa yang kau lihat- hik, hah? Per- hik, pergi!" Naruto menyalak ganas pada beberapa pria serba hitam yang sedari tadi berada tak jauh darinya. Berdiri tegap tanpa melakukan apapun layaknya sebuah patung.

Mereka tersentak, namun menunduk hormat kemudian pergi dari ruangan itu. Meninggalkan sang tuan muda yang terlihat terpukul dengan kecelakaan yang menimpa kekasih hati pimpinan mereka.

Naruto merebahkan kepalanya dimeja bar dengan mata terpejam erat.

.

.

Langkahnya begitu sempoyongan untuk mencapai sebuah pintu besar tak jauh dari tempatnya berpijak. Namun ia berusaha keras walau pandangan matanya berkunang dan kepalanya terasa amat berat.

Naruto memasuki pintu itu setelah menguncinya.

Dipandanginya sosok kekasih hatinya yang belum sadarkan diri semenjak kecelakaan itu. Wajah manisnya yang pucat. Selang infuse yang menancap dilengan sosok itu. Sebuah perasaan membuncah begitu saja. Sebuah perasaan yang bergemuruh dalam rongga dadanya hingga membuat ia merasa sesak. Bulir bening mengalir

Pikirannya mendadak kosong.

Dan entah bisikan dari mana, ia melakukan tindakan gila diluar nalarnya. Dia, Naruto—

—memaksakan gairahnya pada tubuh lemas pengaruh obat itu.

.

.

Flashback end

Dan setelahnya, Sasuke terbangun diatas kursi roda yang didorong oleh teman sekampusnya—Nara Shikamaru. Mereka berada dirumahsakit dengan suasana yang kacau.

Jeritan para pasien yang histeris akibat suara tembakan beruntun, listrik yang padam, serta suara ledakan bom secara berkala.

Jika kembarannya—ah, Sasuke menyebut Suke dengan panggilan itu, tidak memberitahukan semuanya, pasti Sasuke akan sama histeris layaknya pasien lainnya.

Tapi Sasuke telah tahu semuanya.

Maka yang ia lakukan adalah duduk diam diatas kursi roda, dengan sesekali menahan ringisan sakit akibat sebuah peluru yang bersarang dibetisnya.

"Aku ingin Uzumaki-sensei." Bisik Sasuke, lirih.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

Epilog

.

.

Rumah sederhana yang jauh dari pusat kota itu terlihat hancur lebur. Reruntuhan dinding hampir rata dengan tanah. Bagian dari kayu pada rumah itu telah menjadi abu. Kursi, meja, kusen jendela, semuanya. Ada bekas kehitaman disetiap jengkal bangunan hancur yang kini tak lebih dari sekedar tumpukan sampah tak berguna. Ada sisa-sisa bara api yang cukup menunjukkan bahwa tempat perkara pengeboman dan pembakaran itu terjadi belum terlalu lama. Mungkin sekitar beberapa jam yang lalu.

"Rumahku.." gumaman lirih dari seorang pria yang mengintip dari balik jendela kaca sebuah mobil membuahkan decakan remeh dari seorang pria lainnya yang berada dibalik kemudi.

"Sudah puas, Itachi?" Naruto, pria yang berada dibalik kemudi itu bertanya dengan nada sinis.

"Aku menetap disana hampir lima tahun, calon adik ipar!" Itachi membalas disertai decakan kesal. Tak mendapati balasan dari Naruto membuat Itachi menyerigai. "Rindu dengan adikku, hmm?" tanyanya menggoda.

Naruto menatap Itachi dari kaca spion dengan tatapan datarnya. "Menurutmu?" tantangnya.

Itachi berdecak sekali lagi. "Oh ayolah. Sasuke akan baik-baik saja. Jangan terlalu dianggap serius, Naruto. Kau sungguh tak bisa bercanda. Tersenyumlah sedikit, jangan terlalu kaku dengan ekspresi datarmu itu, bodoh!"

"Itu sungguh bukan sepertiku." Jawab Naruto acuh. "KAKI SASUKE TERTEMBAK DAN KAU MENGANGGAP ITU BAIK-BAIK SAJA, HAH?!"

Laju mobil itu berubah kencang hingga membuat Itachi yang tak sigap(dan lupa memasang sabuk pengaman) memperoleh benturan cukup keras didahinya yang berwarna biru mengerikan, juga tubuhnya yang remuk dengan banyaknya tulang patah terjatuh dari kursinya.

BRUK!

"OUCH! ITU SAKIT SEKALI, SIALAN KAU NARUTO!" Itachi meraung dengan tatapan keji kepada Naruto didepannya.

"Kuanggap itu ucapan terima kasih." Balas Naruto santai dan menaikkan lagi kecepatan mobilnya membuat Itachi lagi-lagi kena sial.

BRUK!

"AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU NANTI, NARUTO!"

"Kau mau adikmu jadi janda?"

"Aku tidak ingat adikku pernah menikah dengan pria brengsek sepertimu."

"Aku pernah," jeda sejenak, "sepuluh tahun lalu, mungkin?"

"Bangsat!"

"Yeah, sama-sama." Ini balasan yang kelewat santai.

Sementara itu, Deidara yang sedari tadi berada disamping Itachi hanya tertawa melihat interaksi konyol—menurutnya, dari Itachi dan Naruto.

Ia hanya tak menyangka, dibalik wajah dingin Itachi, ada banyak ekspresi yang membuatnya tampak seperti manusia normal.

Maksudnya, adakah manusia normal yang tidak berteriak kesakitan ketika tulangnya dipatahkan—terlebih dalam keadaan sadar? Deidara sempat mengira jika Itachi itu manusia besi, tahan banting, dan entah apapun itu: jika saja Deidara tidak mendengarkan teriakan sakit Itachi tadi.

.

.

.

Roar!

.

.

.

Sebuah mobil hitam berhenti didepan mereka, ketika Shikamaru hendak memapah Sasuke untuk membawanya masuk kedalam van putih.

Pintu depan bagian kemudi dari mobil hitam itu terbuka, memunculkan seorang pria berambut pirang.

"Uzumaki-sama." Sapa Shikamaru pada pemimpinnya itu.

Naruto menatap dingin pada Shikamaru yang membuat lelaki berkucir nanas itu meringis membayakan hukuman apa yang akan ia terima bersama rekannya karena telah membuat Sasuke terluka. Tanpa menutup pintu mobilnya, kaki Naruto melangkah memutari mobil van yang hendak dikendarai Sasuke menuju markasnya.

"Aku pulang," Naruto berjongkok didepan Sasuke yang masih duduk diatas kursi roda. "Mana pelukan untuk Onii-samamu, Sasu-chan?" ia tersenyum seraya menggenggam tangan kanan Sasuke.

Banyak perasaan berkecamuk dalam tatapan berkaca Sasuke; senang, bahagia, sedih, kesal, marah, dan kecewa. Tapi rasa yang begitu mendominasi adalah rasa lega penuh syukur. Sasuke merasa lega karena pria didepannya ini baik-baik saja.

"Kau adalah pria paling brengsek yang pernah kutemui, Uzumaki Naruto!" Sasuke menubrukkan dirinya pada Naruto setelahnya. Ia terisak kemudian, "se-selamat da—hiks—datang.. onii-sama."

Untuk pertama kalinya, Sasuke mengumpat. Didepan seseorang dan itu adalah orang yang membuat hidupnya seperti bianglala akhir-akhir ini.

"Maaf." Sesingkat itu bibir Naruto berucap. Namun sebuah senyuman tulus terukir dibibirnya. Dielusnya punggung ringkih Sasuke yang bergetar pelan.

"Ayo pulang."

Dan Naruto beranjak tanpa melepas pelukan erat lengan Sasuke dilehernya. Ia menggendong Sasukenya seperti koala tanpa kesusahan berarti.

.

.

.

Roar!

.

.

.

Beberapa minggu berlalu dengan tidak biasa.

Bangunan mewah milik keluarga Namikaze tampak lebih hidup dengan sang tuan rumah—Naruto, yang terlihat berjalan mondar-mandir didekat kolam berisi ikan-ikan peliharaan dan bunga teratai yang berbunga indah, yang berada ditaman belakang rumahnya. Pria dua puluh tujuh tahun itu memperlihatkan wajah frustasi seolah ia adalah pria paling malang didunia ini.

Mata biru yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya mulai menatap jengah kearahnya. "Oh, ayolah. Itu hanya permintaan kecil. Kenapa kau tidak bisa mengabulkan permintaannya?"

"Diamlah, bocah kecil. Kau tak tahu apa-apa mengenai masalah orang dewasa." Naruto menyahut tanpa menghentikan tindakannya.

"God!" Deidara yang duduk dikursi nyaman yang berada dibawah kanopi sulur-sulur tanaman anggur mengerucutkan bibirnya. "Suke-niichan hanya ingin belajar memanah, jiisan! Bukan pergi ke bulan!" pekik Deidara dengan nada kesal.

Sungguh, pekikan nyaring dari Deidara membuat telinga Naruto berdenging untuk sesaat. Naruto menghentikan langkah kakinya, menatap Deidara dengan pandangan super datarnya. "Kau berisik." Ujar Naruto tak kalah datar.

Deidara ditempatnya menggeram dalam hatinya, namun wajahnya berubah pias seketika. "Anggap saja aku tidak mengatakan apapun." Ujarnya cepat—sedikit panik, lalu menyibukkan diri dengan laptop didepannya.

"Kau membuat putraku takut, bodoh." Suara lembut namun penuh ancaman itu membuat Naruto mengalihkan pandangannya. Dari arah pintu belakang, seorang pemuda dengan rambut merah dan tatapan tajamnya membuat Naruto menyerigai.

"Putramu, eh?" balas Naruto dengan nada main-main.

Kyuubi memasang wajah kesal. "Kau menyebalkan. Dosa apa aku dimasa lalu hingga memiliki kakak iblis seperti dirimu." Ia menggerutu sepanjang jalan menuju area rehat dibawah kanopi tanaman anggur, disertai umpatan-umpatan yang dipastikan untuk kakak tercintanya, membuat Naruto memutar bola mata.

"Hentikan itu. Kau membuatku merasa menjadi seorang kakak yang benar-benar buruk."

"Sayangnya itu fakta, kakakku yang buruk." Kyuubi melempar tatapan tercela yang dibalas tatapan mematikan dari Naruto, membuat pemuda bersurai merah itu memalingkan wajah.

Deidara yang sedari tadi mendengarkan hal itu tersenyum. Ia merasa sangat senang karena Kyuubi—istri dari ayahnya, itu membelanya dari sikap menyebalkan Naruto. Juga perkataan bahwa Kyuubi mengakui dirinya sebagai anak, cukup untuk membuat setetes air mata lolos dari ujung mata kanannya. Memiliki ibu bernama Kyuubi sepertinya tidak buruk, fikir Deidara.

"Kau konyol." Suara berat ini jelas sekali bukan suara Deidara atau Kyuubi, membuat Naruto melirik sekitar dan mendapati Itachi yang berjalan dengan dua gelas soda dikedua tangannya. Pria beranak dua itu tampak lebih baik setelah menjalani rawat inap dirumah sakit selama lima hari. Lebam diwajahnya sudah lebih baik, hanya saja ada beberapa plester yang menempel dikulit wajahnya. "Tangkap!"

Hup. Naruto yang memiliki reflex bagus pun langsung menangkapnya dengan gerakan mantap.

Sensasi dingin langsung menjalar cepat kala permukaan tangannya menangkap sekaleng soda yang dilemparkan Itachi padanya. "Apa maksudmu? Aku tak pernah merasa konyol—walau hanya sekalipun." Balas Naruto dengan suaranya yang tegas. Ia mengabaikan delikan tajam Itachi dan lebih memilih membuka kaleng soda dan meminumnya hingga setengah.

"Ya. Kau konyol, aneh, freak, ba—"

"Stop. Kau tak ada bedanya dengan rubah kecilmu itu." Naruto cepat-cepat memotong umpatan kasar yang ditujukan Itachi padanya.

"Lihat siapa yang dulu berharap Sasuke bisa menjaga diri, kini bersikeras menolah keinginan Sasuke untuk berlatih menjaga diri. Bukankah itu konyol? Aku bahkan hampir tertawa ketika ibu mertua menceritakan semuanya."

Menyadari kalimat Itachi benar adanya, Naruto tak lagi menyangkal selain mengumpat, "sial!"

"Nah. Kau sadar diri rupanya."

Naruto menghela lalu berjalan menyusul Itachi yang baru saja memdudukkan dirinya diatas kursi tepat disamping Kyuubi. "Dulu dan sekarang benar-benar berbeda jauh, Itachi. Dan setelah kufikir-fikir, itu tak perlu. Tanpa Sasuke belajar ilmu bela diri atau apalah itu, aku merasa sudah cukup dan mampu untuk sekedar melindungi mereka. Tak akan kubiarkan tangan-tangan penuh dosa menyentuh bahkan melukai Sasukeku. Aku hanya perlu menguncinya untuk diriku sendiri." Naruto berujar dengan sangat santai, tak mempedulikan ketiga pandangan yang menyorotnya.

"Kau gila, Naru-nii. Sebaiknya kau pergi untuk mengecek kepalamu itu siapa tahu tendangan dari Sai telah membuatmu menjadi gila seperti ini." Sudah jelas, itu merupakan komentar yang keluar dari bibir Kyuubi setelah tersadar dari rasa keterkejutannya.

"Selain pedofil, kau juga memiliki bakat menjadi psikopat, Naruto." —Itachi.

"Wah! Keren! Suatu saat aku akan mencari pasangan seperti Naruto-jiisan. Hihihi." Yang paling muda memekik histeris dengan pipi yang memerah—membiarkan impiannya berkelana jauh dan dia pun membayangkan bagaimana seorang pria dengan perawakan seperti Naruto memperlakukannya secara gentle.

"Sayang sekali, aku bukan pedofil."

"Kau mengencani Sasuke yang masih sembilan belas tahun, sedangkan kau sendiri dua puluh tujuh." Kali ini Kyuubi memberikan komentar sinisnya. "Selisih kalian delapan tahun."

"Itu bukan angka yang besar." Naruto sudah duduk angkuh diatas sebuah kursi. Kaki yang dilipat dan tangan yang bersedekap dada, serta sorot mata tajam ditujukan kepada tiga manusia didepannya itu.

"Mungkin itu keinginan bayi kalian." Kyuubi lama-kelamaan bisa membeku dibawah tatapan tajam pria otoriter itu.

"Ah, begitu." Hanya dalam hitungan sepersekian detik, ekspresi keras diwajah Naruto berubah lunak. Ada senyum disana, namun ketika ingatan mengenai permintaan Sasukenya, membuat wajah Naruto kembali mengeras. "Itu berbahaya."

"Latihan memanah tidak berbahaya, Naruto! Kekhawatiranmu itu sungguh tak beralasan." Itachi berkata dengan sedikit meninggikan suaranya. "Haah, aku heran kenapa pria lulusan Harvard sepertimu bisa berfikiran sedangkal itu." Gerutu Itachi pada akhirnya.

"Cepat temui Sasuke sebelum tangisannya itu membuat telinga seluruh penghuni mansion ini berdenging." Kata-kata dari Kyuubi itu membuat Naruto melotot.

"Sasuke menangis?!" pekiknya tak percaya. Dan tanpa menunggu jawaban siapapun, pria itu berlari masuk kedalam mansion untuk menemui Sasukenya.

Setelah Naruto berlalu dari taman belakang mansion, suara tawa renyah memenuhi siang menjelang sore yang sunyi itu.

"Naruto terlihat seperti bukan dirinya jika menyangkut segala hal tentang Sasuke." Ujar Kyuubi masih dengan tawanya.

"Sebegitu cinta kah Naruto-nii kepada Sasuke-niichan?" Deidara bertanya dengan wajah polosnya. "Bagaimana rasanya, ya?"

"Ya." Itachi tersenyum lalu mengacak surai pirang Deidara. "Dan kau bisa merasakan itu kelak ketika waktunya sudah tiba."

Kyuubi merangkul bahu Deidara dari samping, lalu bibirnya bersuara dengan lirih. "Jangan dewasa terlalu cepat, ne. Tetaplah jadi bayi kecilku seperti Kenzo."

"Aku tidak janji, mom." Jawab Deidara tersenyum.

.

.

.

Roar!

.

.

.

"Eh?"

Kuas itu terjatuh dari jemari lentik Sasuke ketika sebuah pelukan amat erat didapatkannya dari balik punggungnya. Manik bulatnya menunduk, menatap lengan kokoh berkulit tan melingkar erat diperutnya.

"Maafkan aku."

Sasuke menggelengkan kepalanya, lalu mengelus lengan kokoh itu. "Tidak apa-apa."

Naruto melepas pelukannya, berjalan memutar lalu berjongkok didepan Sasuke. "Kau tak lagi menginginkannya?" ia menggenggam tangan Sasuke, tak peduli bahwa tangan putih itu ternoda oleh cat air.

"Bukan aku." Sebuah gelengan, dan Naruto langsung tahu bahwa didepannya ini adalah Sasu-chan. "Aku tidak mungkin semanja itu." Rajuknya, dengan bibir mengerucut lucu.

"Tapi kau merajuk seperti bayi," Naruto menggoda. Senyum jahil tersungging dibibir tipisnya.

Alis Sasuke menukik tajam. Sejurus kemudian ia menghempaskan tangan besar Naruto yang menggenggam tangannya. "Aku memang bayi. Kau puas?!"

Ah. Naruto terkadang lupa jika orang hamil itu sangat labil. Dan baik Sasu-chan didepannya ini maupun Suke-chan yang merengek untuk belajar memanah malam tadi, mempunyai kadar labil yang sama-sama tinggi. Hanya saja, Suke-chan lebih manja dari pada Sasu-chan, sedangkan Sasu-chan itu suka sekali merajuk. Tapi walaupun begitu, Naruto tak mempermasalahkan keduanya.

Naruto tersenyum—senyum lembut yang hanya ia perlihatkan kepada orang-orang yang dia sayangi. "Ya. Kau adalah bayi besarku yang akan melahirkan bayi-bayi kecil kita."

"Hey!" Sasuke memekik kecil ketika tubuhnya digendong oleh tangan-tangan kokoh pria berambut pirang itu. "Lukisanku belum selesai."

"Itu bisa diselesaikan nanti." Tubuh berbalut piyama biru muda itu dibaringkan diatas ranjang dengan lembut, "memangnya apa yang kau lukis, hmm?" kepala pirang itu menengok, melihat gambar setengah jadi diatas kanvas putih.

"Salju." Jawab Sasuke.

Naruto mengernyit. "Tidak ada salju yang berwarna merah."

Sasuke mendengus, "Itu darah." ia menghela nafas, "Lukisanku pasti jelek sekali,"

Naruto buru-buru menggeleng. "Itu indah, serius. Bukankah kau sendiri yang bilang jika itu belum sepenuhnya jadi?" Naruto merangkak naik, menumpukan berat tubuhnya ditangan dan lututnya agar tak menindih tubuh yang mungil dalam pelukannya itu.

"Mmn-mmh." Sasuke mengangguk. "Tokoh utamanya bahkan belum aku lukis. Dua orang, satu berdarah dan satu lainnya berwajah panik." Ujarnya, melingkarkan lengannya pada leher pria diatasnya.

"Wow. Terdengar seperti kisah tragis." Ia menunduk, membaui aroma manis dari tubuh dibawahnya.

"Itu hanya awal."

"The Red in The White Snow?" lidah basah itu terjulur, menjilat permukaan putih bening itu hingga basah. Terus seperti itu hingga bibir tipisnya ikut mengecap, menghisap, menimbulkan desahan tertahan dari pemilik leher.

"Ahh." Sasuke menggeliat geli, "Ya. Aku membayangkan ketika Kai(*)—seorang pemuda kecil yang sebatang kara dan kesepian, menemukan Sehun(*)—seorang pangeran iblis, yang terluka parah diatas salju yang putih. Putih dan merah. Bukankah itu awal pertemuan yang sangat berkesan?"

Naruto mengangkat wajah, menatap tepat pada manik bulat Sasuke, "Bukankah awal pertemuan kita dulu juga berkesan?"

"Ya," Sasuke tersenyum, hingga matanya membentuk bulat sabit. Itu adalah senyum tanpa arti yang sering Sasuke tunjukkan akhir-akhir ini. "Sangat berkesan hingga terkadang sulit untuk kulupakan."

Naruto mendesah, lalu menguburkan wajahnya didada Sasuke. "Aku merasa brengsek ketika mengingat itu."

Hening untuk beberapa saat.

"Tidak apa-apa." Tangan Sasuke mengelus helaian pirang Naruto dengan lembut. "Itu hanya masa lalu. Kita hanya perlu memikirkan masa depan kita, bersama anak-anak kita."

Naruto mengangkat wajahnya, memperhatikan lamat-lamat ekspresi Sasuke. Dia tersenyum, senyum indah nan tulus. Sasuke terlihat sangat cantik dengan lesung pipinya itu.

"Kau yang terbaik, baby." Bisik Naruto dengan suara rendahnya. Tangan besarnya yang terampil menelanjangi tubuh putih mulus Sasuke dengan cepat.

"Ahhh." Desah Sasuke ketika miliknya dibawah sana dimainkan oleh tangan terampil pria itu, membuat miliknya semakin tegang. "Tiba-tiba aku menginginkan sesuatu." Ujar Sasuke ditengah desah nafasnya yang putus-putus.

Naruto melepas putting mungil yang diemutnya setengah hati, mengangkat dan menatap manik bulat Sasuke yang mulai berkabut, "Apa?" sebenarnya Naruto ingin langsung, mengingat ia sudah sangat tegang dibawah sana. Hampir seminggu penisnya belum bersarang pada lubang hangat calon istrinya itu, membuat kantong spermanya terasa penuh. Ia butuh pelepasan—sekarang juga. Tapi meliihat sorot keinginan kuat dalam manik bulat Sasuke membuatnya menahannya.

Sasuke banyak mengidam akhir-akhir ini membuat Naruto harus memperhatikannya lebih daripada bisnis gelapnya. Terlebih Suke—dia itu selalu mengidam dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Itu aneh, sungguh. Sudah menjadi rahasia umum jika Suke sangat anti dengan kekerasan dan rasa sakit. Ia akan pingsan setelah melihat atau merasakan sakit, dan selanjutnya akan terbangun dengan identitas Sasu-chan.

Sedangkan Sasu-chan, sisi Sasuke yang kalem dan ramah itu selalu mengidamkan hal-hal berbau feminim. Belanja, memasak, dan bersolek. Jadi tak akan heran bila mendapati kuku-kuku Sasuke dikutek dengan warna-warna cerah, atau melihat Sasuke versi gadis manis. Atau bahkan kue-kue yang dibagikan keseluruh anak buah Namikaze-Uchiha tanpa terkecuali.

Perbedaan drastic itu membuat semua orang sulit menebak, lelaki atau perempuan kah, janin yang dikandung Sasuke?

"Tell me. What you want?" suara rendah dengan logat inggris yang seksi itu membuat tubuh Sasuke bergetar—menahan gejolak nafsu yang tiba-tiba membuncah.

"Here," tangan Sasuke menuntun tangan besar Naruto yang semula dipuncak dadanya menuju bagian bawah. "I want you, now!"

Naruto menggeram melihat perubahan ekspresi Sasuke kini. Damn! Kenapa Sasuke bisa terlihat sangat seksi hanya dengan mata sayu yang berkabut nafsu itu?

Tak sampai sepuluh detik, kemeja yang dipakai Naruto telah tercampkkan begitu saja diatas lantai yang dingin. "Dengan senang hati, sayang!"

Manik Sasuke mematri setiap jengkal tubuh atletis milik Naruto. Bahu lebar, dada bidang yang mengkilap karena keringat, serta enam kotak diperutnya membuat pria itu terlihat sangat seksi.

"Suka dengan apa yang kau lihat, sayang?"

"Tid—Mhnnn…" belum sempat berbicara, bibirnya telah dibungkam oleh bibir tipis pria itu.

Mereka bergulat lidah dengan pemenang yang pastinya Naruto—si pria dominan. Tangan-tangan Naruto bergerlya kebawah, masuk dalam lubang ketat nan hangat untuk ia penetrasi supaya Sasuke tidak merasakan sakit.

"Ahhhh… mmmmhh—" Sasuke melenguh panjang kala sesuatu didalam sana ditumbuk cepat oleh dua jari Naruto. "Lagiihh~~" ia merengek.

"Sudah tak tahan, eh?" Naruto menggoda dengan serigaiannya.

"Cepathh, sshhh…" pemuda manis itu menghiraukan godaan Naruto, "a-aku ingin kelu-ahh…" ia berkata susah payah ditengah cumbuan ganas Naruto yang mengobrak-abrik rongga mulutnya.

"Tidak semudah itu, sayang…" dan Naruto mencabut dua jari panjangnya dari lubang hangat yang siap dimasuki itu. Ia menarik risleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang telah sesak sedari tadi. Ia sedikit meludahi kepala penisnya sebelum menekan kepala penisnya dilubang ketat yang telah ia persiapkan itu.

"Tidak. Jangan hiks—hiks…" Sasuke menangis frustasi karena orgasmenya tertunda.

JLEB!

"Hiks—AAaahhhhh~~"

Satu dorongan keras dan dalam, tepat mengenai titik nikmat Sasuke hingga membuat pemuda manis itu orgasme seketika.

"Ahh—shit!" lubang ketat itu menjepit penis Naruto sangat erat, membuatnya merasa sesak yang menyenangkan. Penisnya terasa diperas dan sesansi kenikmatan itu semakin bertambah kala Sasuke orgasme—yang otomatis membuat lubang ketat itu semakin mengetat.

Tanpa menunggu persetujuan Sasuke, Naruto mulai menarik pinggulnya mundur, lalu secara diam-diam melesak cepat.

"Ahhhhh"

"Ketat sekali, ah… nikmath" Naruto bergumam rendah didepan telinga Sasuke, membuat tubuh Sasuke kembali bergetar.

Gerakan Naruto kembali berulang. Ia menarik dan mendorong pinggulnya dengan ritme biasa, membuat penis besarnya timbul tenggelam dalam lubang hangat nan becek akibat cairan precum yang mengalir deras dari ujung penisnya.

"Fill me with your—Ahhh, your cum—Mnhhh!"

Naruto membungkan bibir merah yang telah bengak itu dengan ciuman dalam memabukkan. Pinggulnya bergerak semakin cepat dengan irama yang dalam.

"A-akuh—fasthher…ah," Sasuke berucap putus asa.

"Bersama, baby." Balas Naruto dengan nafas berat.

Ranjang besar yang mereka tempati berderit riuh akibat gerakan pinggul Naruto yang menusuk lubang Sasuke dengan penis besarnya. Desah nafas mereka membaur menjadi satu bersamaan dengan panas tubuh mereka yang semakin meningkat.

Sasuke melepas paksa ciumannya, lalu mendesah keras, "A-aku…ahhhh—Narutooohhh~~"

Naruto menggelengkan kepalanya. Ia tak memperlambat gerakan pinggulnya, untuk sekedar memberikan wakru untuk Sasuke meinkamati orgasme ke-dua-nya mala mini, namun justru semakin mempercepat gerakan pinggulnya—mengejar orgasmenya.

"Ah, Sasu-chan~~" Naruto mendesah panjang kala cairan semennya menyembur dalam jumlah banyak.

Perut Sasuke terasa hangat dan penuh, menimbulkan sensai nikmat hingga membuatnya tanpa sadar melenguh panjang.

"Aku lelah." Desah Sasuke seraya menguap.

Naruto menggeleng, "Jangan tidur dulu, ini masih sore." Ia memandangi manik bulat Sasuke yang berair selama beberapa detik, sebelum membalik tubuh itu tanpa melepaskan penisnya yang masih berada didalam lubang ketat, hangat, dan becek milik Sasuke.

"Ughh…"

"Ahh."

Keduanya melenguh bersamaan dengan perubahan posisi itu. Dengan satu tangannya, Naruto memegangi pinggul Sasuke agar tidak merosot kebawah, sedangkan tangannya yang lain merambati dada Sasuke lalu memelintirnya gemas.

"Ahhhh—jangan disanah…" Sasuke bergerak karena merasa sedikit geli.

"Aku masih ingin menguras semenku agar bisa memenuhi hingga penuh." Bisik Naruto dari belakang telinga Sasuke.

Dan Naruto bergerak lagi. Ia memaju mundurkan pinggulnya cepat, memompa lubang ketat yang sudah becek akibat cairan semennya itu.

"Ahhhh mmnhh ahhhh." mulut Sasuke membuka tutup merasakan betapa ujung tumpul penis besar prianya menusuk sangat dalam hingga menabrak titik nikmatnya.

"Ahhh! Ahhh! Mnnn—lagi! Lebih dal—ahhh dalammm mnnn." Pinggul Sasuke ikut maju-mundur mengimbangi gerakan pinggul Naruto. Sasuke mengejar orgasme ketiganya yang akan datang tak lama lagi.

Naruto menutup matanya rapat, meresapi kenikmatan intim yang ia dapatkan dari penisnya. Pijatan ekstra dari lubang mungil itu sungguh bisa melambungkan kewarasannya. Ia menggeram dan menggigit bibir bawah. Naruto berusaha kuat agar ia tidak melampiaskan rasa nikmatnya dengan menggigit bahu putih bening yang terpampang jelas tepat dua centimeter didepan matanya.

"Ahh—!" Sasuke berteriak tertahan ketika ia mendapatkan orgasmenya. Cairannya menyembur keluar dan mengotori spreai putih dibawahnya.

Lubang kecil itu mengetat membuat penis Naruto serasa dipijat.

Pinggulnya bergerak cepat, dalam, dan tak beraturan. Ia menggenjot tubuh molek itu pada satu titik. Terus dan terus hingga pada genjotan ke-sepuluh, ia merasakan perutnya melilit hebat.

Cairan semennya keluar banyak dan lagi-lagi mengisi lubang Sasuke—membuat lubang mungil yang telah becek itu semakin becek. Lenguhan panjang Sasuke terdengar lagi, tapi kali ini tubuh itu langsung merosot kebawah.

Pinggul Sasuke masih dipegang oleh satu tangan kokoh Naruto, membuat pantatnya tertahan diatas. Itu membuatnya menungging keatas dan itu terlihat amat seksi dimata Naruto.

Naruto mencabut penisnya keluar dari lubang senggama yang nikmat itu, seketika cairan spermanya yang memenuhi lubang itu berlomba untuk keluar. Mengalir keluar menuruni paha putih yang merona itu.

Sebuah siulan menggoda tersengar menggema dalam kamar luas itu. "Wow." Naruto berdecak kagum.

Sasuke yang mendengarnya tersenyum malu. Ia menguburkan wajahnya dibantal namun tangan Naruto menarik kakinya hingga kakinya tak lagi berada diatas ranjang, melainkan menjuntai dipinggir ranjang.

"Ap-apa ini?" Sasuke panik tiba-tiba.

Naruto terkekeh kecil, "Tenang saja, sayangku. Aku akan membuat malam ini semakin panjang dan kupastikan kau tak akan bisa tidur malam ini."

Sasuke menengok kebelakang, menatap Naruto dengan matanya yang sayu dan sembab. "Aku—aku lelah." Bisiknya, memohon.

"Belum." Naruto memperlihatkan senyum miringnya. "Lima kali lagi, lalu dengan senang hati kubiarkan kau tidur."

Mata bulat Sasuke melotot, "Kau gila!"

"Yes, I am."

Sasuke menggelengkan kepalanya, "Aku lelah, Naru—hiks... Kumo—"

JLEBB!

"—Ack!" Sasuke memekik kaget akibat penis besar berkulit tan itu kembali menginvasi lubangnya dalam sekali dorongan. Tangan lentiknya mengepal erat, menggenggam sprei dibawahnya hingga kusut tak terbentuk.

"Kau akan menyukainya, baby. Aku janji." Pria dominan itu berbisik, lalu memaju mundurkan pinggulnya bersamaan dengan hisapan-hisapan kuat pada kulit punggung putih bening yang polos itu.

"Hiks—Ahhh! Ahhh mmnn ah!"

"Ssttt—diam dan nikmati saja, sayangku~" ia mencengkram lembut pinggul Sasuke lalu kembali memompa lubang becek itu, menusukkan penisnya dalam-dalam hingga menimbulkan suara erotis yang menggema. Keringat mereka bercucuran, dengan aroma khas yang bersatu padu dengan aroma sperma. Sungguh aroma percintaan yang memabukkan.

"Ahhhhhhhhhh~~"

Dan pria pirang itu kembali mencumbui setiap jengkal tubuh calon istrinya penuh gairah.

.

.

.

END!

.

.

.

ACTION GAGAL! /LOL

PS: Maaf telat. Sebenarnya naskah udah selesai sejak bulan desember 2016, tapi ada kendala saat adegan end. Agak susah berfikir karena aku udah mulai pusing sama ujian-ujian kelas 3(yang kelas 3 sma pasti tahu). Dan berhubung ini ff rate-M juga belum ada NC sejak chapter awal, akhirnya kuputuskan buat adegan sweet NarutoXSasuke ber-NC. Semoga memuaskan, karena bagian NC-nya aja sudah sekitar 1,5k+ lho.

Aku pengen namatin ffku yang laen, jadi 'Roar'nya sampai sini saja, ya! :) :) :)

PSS: Sebenernya, fanfiksi ini terinspirasi dari sebuah fanfiksi dari fandom Screenplays: YunJae. YunhoXJaejoong. Aku udah lama banget baca tuh fanfic, jadi lupa sama judul dan jalan ceritanya. Tapi intinya sih, Jaejoong itu punya dua jiwa dalam tubuhnya: sisi hitam dan sisi putih. Sama seperti Sasuke di fanfiksi ini. [Ada yang pernah baca?] Bedanya, di fanfiksi YunJae itu, antara Cute!Jae(sisi putih dan polos) sama Sadis!Jae(sisi hitam) itu bisa berganti kapan aja. Bisa saling berhubungan juga. Dan Yunho fine-fine aja sama dua sisi Jaejoong yang bertolak belakang itu. Yun tetap cinta Jae! Pokoknya gitu deh. Lupa aku, coz aku kayaknya baca tuh fanfic satu/dua tahun lalu(lupa).

Nah, itu yang bikin aku pengin buat Sasuke punya dua jiwa, tapi tentu saja dengan alur yang 100% imajinasi aku sendiri. Bukan alter ego/kepribadian ganda ya. Ehm—jiwa sama kepribadian itu beda ngak sih? /bingung sendiri/

PSSS(*): Sehun dan Kai itu nama member EXO.

.

.

.

Big thanks to:

All of readers, reviewers, followers, and favoriters!

THANK YOU SO MUCH FOR YOUR ATTENSION FOR THIS FANFICTION!

I LOVE U SO MUCH!

.

.

PSSSS: Jangan lupa review, ok?

.

.

.

SuzyOnix

[5 Maret 2017]