Chapter 10 – Bittersweet (1)
Summary
Setelah pasukan yang diperintah Kyo Ga dan Soo Won untuk menangkap Yasmine kembali ke kastil Hiryuu, Lily yang hendak pulang bersama An Joon Gi dicegat oleh Soo Won yang ingin bicara dengan Lily sehingga Lily yang dipaksa Joon Gi dan Soo Won akhirnya terpaksa harus memenuhi permintaan Soo Won meski berujung pada pertengkaran antara Lily dan Soo Won.
Lily's POV...
Kehadiran Yasmine di tengah rapat para jenderal ditambah lagi di hadapan para petinggi dari kerajaan Xing benar-benar memperkeruh suasana... aku terus merasa tegang karena kepalaku dipenuhi oleh pikiran 'hal mengejutkan apalagi yang akan muncul selanjutnya?' dan 'apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, sih?!'. Gadis itu benar-benar adik Hak, perilaku yang tidak bisa ditebak, suka nyerempet bahaya, lidah tajam, arogan, dan tak punya rasa takut. Aku tak ingin mengakuinya sih, soalnya ini menyebalkan untuk diakui, tapi dia benar-benar berani. Yang membedakannya dengan Hak hanyalah sulit menebak apa yang sebenarnya ia pikirkan karena ekspresinya yang poker face.
Sekarang, setelah Yasmine pergi dari sini, kenapa aku yang malah terjebak dalam situasi ini!? aku berusaha menenangkan diri dan berpikir sejenak. Baiklah, kenapa jadi seperti ini?
Tadi setelah pasukan yang diperintahkan mencari Yasmine kembali dengan tangan kosong, aku yang ingin pulang bersama ayahku dicegat oleh yang mulia Soo Won. Orang tua itu malah menyodorkanku pada yang mulia bahkan mempersilahkan jika aku harus diam di kastil Hiryuu untuk sementara waktu. HAH?! di hadapan jenderal Geun Tae dan yang lain, pula!? Apa yang dipikirkan raja satu ini, sih!?
"jadi... mau bicara apa?".
Aku tahu ini hanya basa basi, dan aku sudah memperkirakan tentang apa yang ingin ia tanyakan padaku. Sesuai dugaanku, ia menanyakan (tanpa menyebutkan identitas mereka berdua) soal Hak dan Yona untuk memastikan apakah ucapanku dan Yasmine di ruang rapat tadi benar. Jika kuingat apa yang terjadi pada Yona baru-baru ini, baru kali ini kulihat dia menangis sampai seperti itu meski itu wajar mengingat perasaannya sangat kacau saat itu dan jika aku ingat bagaimana ia menangis saat itu, secara pribadi aku jadi sangat ingin menampar pria di depanku ini.
"kau marah padaku?".
Memang iya!? malah aneh kalau nggak marah, kan?
Lily's POV End...
Lily menghela napas "saya tahu saya memang orang luar yang tak tahu apapun soal kalian bertiga tapi bagiku... gadis itu adalah sahabat pertamaku, kurasa aku sudah pernah bilang soal betapa berharganya dia bagiku... sekarang ini kepalaku terasa mendidih dan saya takkan puas sampai semuanya kukeluarkan termasuk menampar dan memukul anda beberapa kali... tapi saya tahu itu tindakan yang kekanakan, jadi akan kulakukan saat saya sudah mendengarkan penjelasan anda atas tindakanmu padanya... alasan kenapa saat itu anda melindunginya dan ucapan Yasmine barusan... apa benar, anda mencintainya?".
Melihat ekspresi Soo Won yang terdiam, Lily sudah mengetahui jawabannya.
"oh, ringan sekali, ya? anda pikir, setelah anda berkata bahwa tak ada yang perlu anda beritahu padaku tentang apa yang anda pikirkan, saya akan memberitahu apa yang saya ketahui?".
"apapun yang kupikirkan atau semua hal yang berhubungan dengan mereka berdua... itu semua bukan urusanmu, kan?" ujar Soo Won memalingkan wajahnya.
Kyo Ga heran melihat Geun Tae, Joon Gi, Ayura dan Tetora berdiri di balik dinding secara berderet seperti tiang totem "...anda sekalian sedang apa?".
Geun Tae menyuruh Kyo Ga untuk diam karena saat ini mereka sedang mengintip (tentu saja dari kejauhan) Lily dan Soo Won yang bicara di gazebo.
"memangnya salah jika aku sebagai ayahnya mengkhawatirkan putriku?".
"tidak, tapi sejak kapan anda sekalian jadi punya hobi kurang kerjaan begini?".
Joon Gi, Geun Tae, Kyo Ga, Ayura dan Tetora terkejut melihat apa yang terjadi dari kejauhan, terlihat jelas Lily menampar Soo Won.
"jangan katakan hal itu!? kau pikir bagaimana perasaanku saat kau bilang bahwa itu semua sama sekali bukan urusanku... bahwa aku tak ada hubungannya sama sekali... wajar sih, aku tak terlalu terlibat dalam kehidupan kalian bertiga sehingga aku merasa sangat kesal pada diriku sendiri yang tak berdaya dan menyedihkan karena aku tak bisa melakukan apapun... dia selalu menolongku... tapi kenapa... kenapa dia harus menanggung ini semua?" ujar Lily menutupi wajahnya dengan kedua tangannya "aku tahu bukan tempatku untuk ikut campur... tapi melihat dia yang biasanya begitu kuat dan tegar, jadi begitu lemah dan terluka, itu pertama kalinya bagiku dan itu membuatku ikut merasakan sakitnya... apalagi yang bisa kulakukan agar paling tidak bisa meringankan perasaannya? Aku sudah tak mau lagi melihatnya terluka dan terjatuh lebih jauh dari itu... jika memang kau tak ingin mengatakan apapun yang kau pikirkan padaku, tak apa tapi setidaknya jangan lakukan apapun padanya yang bisa membuatnya terluka lebih jauh dari ini karena itu sama saja kau berusaha membunuhnya pelan-pelan!? biarkan aku melampiaskan amarah dan kesedihannya padamu sebagai penggantinya yang tak bisa melakukannya padamu, bodoh!? mereka berdua takkan menderita seperti ini... jika sejak awal kau tak mengkhianati mereka berdua!?".
Saat Lily hendak pergi meninggalkannya dan berbalik, Soo Won yang menahan tangan Lily terkejut melihat air mata menetes dari kedua mata Lily. Saking terkejutnya, Soo Won terpaku beberapa saat sementara Lily pergi meninggalkannya.
"Ayura, Tetora, kita pulang!?" ujar Lily yang menundukkan kepalanya sambil berjalan cepat melewati mereka berdua.
"hah? langsung?!" ujar Tetora terkejut.
"sekarang?" tanya Ayura.
"iya?!".
Di belokan, Geun Tae yang menyusul, menabrak Lily sehingga Lily mendongak dan terkejut, refleks menutupi wajahnya "maaf, tuan Geun Tae!?".
"tunggu, Lily!? kau... kenapa kau menangis?" ujar Geun Tae menggenggam tangan Lily dan menatapnya khawatir.
"Lily, tunggu?!" ujar Soo Won muncul dari belokan.
Lily yang terkejut hanya bisa meminta Geun Tae melepaskan tangannya "mohon maaf, saya permisi!?".
Saat Lily kabur melewati Kyo Ga dan Joon Gi yang ada di belakang Geun Tae, Soo Won yang merasa tatapan mata ke-3 jenderal dan ke-2 penjaga Lily begitu menusuk hanya bisa menepuk wajahnya dan berlari menyusul Lily "Lily!? sudah kubilang tunggu!?".
"kenapa mengejarku!?" protes Lily menambah kecepatannya.
"kenapa kau malah lari!?" ujar Soo Won menambah kecepatannya.
Melihat Soo Won berada tepat di belakangnya, Lily lari tak tentu arah "karena urusanku sudah selesai!? Tenang saja, aku akan segera pergi jadi kau takkan terganggu lagi!?".
"aku belum sempat bicara apa-apa!? dengarkan aku dulu!?".
"tidak mau!? apalagi yang ingin kau bicarakan?!".
"mana bisa kau pulang dengan kondisi begitu? wajahmu masih berantakan begitu".
"memangnya ini salah siapa?! jangan katakan itu seakan itu bukan salahmu?!".
"iya, aku sadar kalau aku memang salah!? karena itu... aku tak bisa membiarkanmu pulang dengan kondisi begitu, kan!?" ujar Soo Won menggenggam erat tangan Lily saat ia berhasil menangkapnya.
"untuk apa mengurusiku? Biarkan aku..." ujar Lily berusaha melepaskan diri.
"mana bisa!?" ujar Soo Won memeluk erat Lily.
Lily yang tangisannya berhenti sejenak, berusaha melepaskan diri dari Soo Won "lepaskan...".
Bukannya melepaskan Lily, Soo Won mempererat pelukannya dan mendekapkan wajah Lily yang berantakan akibat air mata ke dadanya yang bidang "aku memang tak bisa mengatakan apapun padamu, tapi bukan berarti kau tak termasuk dalam kehidupan kami, kan? buktinya, kau ikut terluka dan menangis karena sahabat pertamamu yang sangat kau sayangi... itu bukti bahwa perasaanmu tulus, kau menyayanginya dan percaya seperti dia menyayangimu dan mempercayaimu... jika tidak, dia takkan datang ke tempatmu dan menceritakan semuanya padamu... dari semua orang, hanya padamu dia menceritakan apa yang ia rasakan, kan? jadi jangan katakan kalau kau tak bisa melakukan apapun untuknya...".
"pertama kalinya aku merasa kalau dia hanya gadis biasa yang masih berusia 16 tahun... salah satu alasannya menangis dan terluka adalah karenamu... jadi wajar jika aku marah padamu, kan?" ujar Lily mengerutkan kening dan menangis sambil memukuli Soo Won "kenapa dia harus mengalami semua ini... kenapa kau melakukan itu padanya!? dasar pria brengsek yang jahat!?".
"aku tahu..." ujar Soo Won menerima kepalan mungil Lily yang mendarat di dadanya selama beberapa saat. Meski pukulan Lily hampir tak terasa sakit, tapi ia merasakan sakit yang lebih di dalam hatinya.
"sudah tenang?".
"iya" ujar Lily bertopang dagu dengan wajah tersipu "memalukan, kenapa aku malah menangis segala dan bersikap memalukan begini di depan mereka semua, sih?".
"baiklah, sekarang... aku minta maaf... karena kata-kataku telah menyakitimu...".
"katakan itu pada mereka berdua, bukan kepadaku..." ujar Lily ketus.
"...tapi, aku tetap harus minta maaf atas apa yang kulakukan padamu, kan? aku merasa kalau aku juga sudah berbuat jahat padamu...".
"sudahlah, lupakan saja..." pinta Lily memalingkan wajahnya yang merona merah.
