Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: Fiction T
Pair: Naruto & Hinata (NaruHina)
Genre: Romance, Hurt, Love, Action + supranatural (mungkin), mistery (gak deh)
.
.
Maaf ya, kalau tidak bekenan di hati mohon maaf,,,,...
yahh maklum ini kan FanFic pertama saya. Jika ada kesamaan Judul, Ide, Latar, Setting, dll dengan Author lain nya ini hanya fiktif belaka yang muncul dari otak saya yang paling dalam dan sedikit agak terbentur tadi...
#Plakk XD
T^_^T
.
.
By : Rifvany Hinata-chan
.
.
Warning : Typos, OOC, Ku peringatkan sekali lagi bakal jadi lebih lebih GEJE, makin tambah capther makin PLOT jadi ancur,,
jadi mohon hati-hati jika membacanya dan menemukan ciri-ciri diatas mohon segera R&R...
Jika tidak suka,,Jangan membaca!..bisa mengakibatkan kerusakan pada...
Yosshhh...Lama Amat!,,,,,,
Now, Happy Reading! :D
.
.
.
.
Previous Capther :
"A-apa yang ka-kau inginkan?" tanyaku gugup, mengertakan gigiku saat dia mempererat cengkramannya, tulang pergelangan tanganku telah menyerah, saling meremukan dalam rasa sakit tak tertahankan.
"Jangan mendesakku." Di memincingkan mata gelapnya yang memesona mata Lavenderku. "Semua ada waktunya."
Aku menatap tanah, bertanya-tanya mengapa aku bisa bodoh dan naif. Seharusnya aku bisa saja lari dalam keadaan seperti ini, namun teringat akan dia mengatakan tentang 'Sasori-nii' jadi ku urungkan niat ku, aku berfikir apa aku ini sekarang sedang mencoba mencari tahu tentang semua ini.
Pikiran itu terus bergeliat di kepalaku.
"Pernah melihat seekor kucing membunuh tikus?" Dia tersenyum, matanya terpejam, sementara lidahnya bergerak sepanjang luar bibirnya. "Bagaimana mereka bermain-main dengan mangsa nya, sampai mereka akhirnya bosan dan menyelesaikan tugasnya?"
Aku bergidik, kemudian aku tanpa sadar aku menginjak kakinya dengan sepatuku. Dia melepaskan lenganku dan aku berlari menyusuri hutan. Sempat aku berfikir bagaimana hanya dengan menginjakan kaki dia melepaskan ku semudah itu. Kemudian lalu ingat perkataanya barusan tentang "kucing yang bermain-main dengan mangsanya, kemudian membuhunya".
Apa aku terlihat seperti seekor tikus yang kasihan. Tepat nya ku akui, iya.
Tahu tak ada yang mungkin bisa menyelamatkanku, tapi tahu aku harus mencoba. Berlari saat bebatuan hampir mambuatku tersandung, berlari saat paru-paruku rasanya ingin meledak dalam dadaku. Berlari melewati pepohonan. Berlari untuk menyelamatkan hidupku-meski aku tak yakin hidupku pantas dijalani.
.
.
.
.
.
Capther #10
Aku baru saja tiba di tempat yang lebih baik dari tempat yang tadi, kini cahaya bulan tampak terlihat mesipun masih terhalang oleh pepohonan yang menutupinya, saat Konan-senpai melangkah keluar dari balik kabut dan berdiri tepat dihadapanku.
Dan meskipun aku berkelit dan berusaha melewatinya, dia mengunakan satu kakinya dengan santai dan membuatku terjembab dengan posisi mencium tanah.
Aku telungkup di tanah, mengerjapkan Lavenderku dalam genangan darahku sendiri, mendengar kekehan nya yang tidak jelas.
Aku berusaha untuk berdiri. Tubuhku diguncang rasa sakit, napasku sesak dan tak teratur.
"Jadi dari mana memulainya?" Dia memandangku, bibirnya dikerutkan. Saat tanganku meraba tanah, jemariku mengenggam sebuah batu tajam yang kulempar kewajahnya. Namun belum sampai mengenainya, tiba-tiba aku melihat kumpulan kertas-kertas putih mengelilinginya membuat semacam tameng kecil kemudian berubah menjadi sepasng sayap lebar yang membentang di belakang pungungnya.
Itu dia! aku baru saja ingat saat sebelum aku pingsan, bukankah aku melihat 'sayap'. Jadi wanita ini yang memiliki sayap itu?!
Aku melihatnya saat mendekatiku, tersenyum penuh harap, bahwa inilah akhirku. Maka ku pejamkan mata dan mengingat momen tepat sebelum ini terjadi, Sakura, Ino sahabatku yang paling mengemaskan, mereka berdua bertengkar merebutkan seorang pria. Bagaimana Naruto-kun bersikap baik padaku, sehingga Neji-nii memperingatkan ku untuk menjaga jarak dari Naruto-kun, membayangkan dengan begitu nyata hingga aku bisa merasakan kebahagiaan itu.
Aku menggenggam ujung rok sekolahku, saat dia semakin dekat. Kudengar dia terengah. "Apa-apaan ini?"
NORMAL POV
-***-Protect The Princess-***-
Dan Hinata membuka mata untuk melihat ketidak sukaan diwajahnya, matanya menyapu Lavender Hinata, mulutnya berdecih. Lalu gadis bersurai indigo itu mendongak kedepan, saat di lihatnya seseorang tengah berdiri membelakanginya. Dengan sebilah pedang yang mengkilap diujungnya yang berada di tangan kanannya.
"Serangga penganggu." Dia berdecih lagi, melihat orang yang melindungi Hinata. "Dengan begini aku bisa menghabisi kalian sekaligus. Yang membuat tugasku jadi lebih mudah."
Lavendernya menyipit, dapat dilihatnya sebuah tanda yang melekat dilengan kirinya yang setengah terbuka. Dan meskipun Hinata melihatnya dari belakang tapi dia bisa melihatnya memakai topeng yang menutupi wajahnya. Rambut kuning yang terbelai angin mengingatkan Hinata pada seseorang.
Sedetik kemudian terdengar seperti suara pedang yang diayunkan. Pria itu menahan dengan pedangnya begitu cepat kala Konan menyerang dalam satu kedipan mata. Pria itu mengerutkan dahinya pelan. Ia segera mendongak dan mendapati musuhnya melesat bagai angin kearahnya.
Pria itu dapat melihatnya dan segera menghindar dengan melompat diudara, di ikuti dengan pedangnya yang ia lempar kearahnya. Pria itu ada diatas Konan yang belum sadar, ia mengambil pedang yang sengaja di lemparnya tadi dan berpindah di belakangnya, dengan secepat gerakan tangannya menebas orang yang ada didepannya.
Pria itu sudah tahu tipuan saperti ini akan di lihatnya lagi.
"tch." Dia berdecih melihat kertas-kertas putih berhamburan lagi.
Setelahnya pria itu mendekat kearah Hinata, mencoba untuk melindungi gadis itu. Tak lama kemudian seorang lagi datang, tiba-tiba saja sudah berada di sisi kanan Hinata. Gadis itu terkejut dengan kehadirannya, sementara Lavendernya melirik kearah lengan atas pria berambut raven itu.
"Hah, tanda yang sama!" gumam dalam hati Hinata, ia menggulum jemarinya mendekati bibir tipisnya. 'Persis seperti pria itu.' tunjuk Hinata pada orang yang berada di sisi sebelah kirinya. Kini ia dihimpit oleh dua orang pria asing di kanan dan kirinya untuk melindungi dirinya.
"Dobe, kau bawa gadis ini menjauh. Aku saja yang hadapi dia." Perintah pria yang ada di sebelah kanan Hinata, pria yang berambut kuning menoleh kearah sorot mata Lavender milik Hinata. Walaupun wajahnya tertutupi oleh topeng... Ehm.. anjing gadis itu bisa melihat pria ini tengah manatapnya dalam. Kemudian pria berambut pirang kuning itu mengagguk.
Dan meskipun Hinata turut senang untuk dirinya sendiri karena ada dua malaikat asing melindunginya, namun tetap saja di masih kebingungan dengan semua kejadian barusan ini. Hinata hanya bisa menatap pria-pria ini secara bergantian dengan bibir yang masih bergetar, seluruh persendiannya terasa kaku seolah otot-ototnya tidak bisa digerakan.
Kemudian detik berikutnya Hinata merasa tubuh terasa ringan karena pria berambut kuning itu menganggkat tubuhnya dan menggendongnya-bisa dibilang ala Bridal style. Hinata masih melongo dengan keterkejutan yanng luar biasa menatap topeng anjing yang dikenakannya untuk menutupi wajah yang tidak diketahui gadis itu. Melihat pria itu yang tetap mengarahkan pandangannya kedepan.
Tiba-tiba wanita itu muncul dihadapan pria yang tengah menggendong Hinata. Awalnya Hinata hanya melotot, mata Lavendernya membelalak tak percaya, lalu pria itu menendangnya dengan kaki dibantu oleh pria berambut raven itu dan menghalangi musuhnya untuk menyerang lagi.
"Cepatlah!" teriak pria berambut raven yang tengah menghalangi wanita itu. Tanpa banyak bicara pria yang membawa Hinata langsung menjauhkannya dari wanita itu.
"Sebuah kertas bisa menjadi ancaman." Katanya sebelum melemparkan benda kecil yang bisa memunculkan asap. Hinata tenggelam dalam sebuah kabut tebal, pancuran cahaya yang tak lagi terlihat membuat pandangannya menjadi kabur dan kepalanya terasa pening. Matanya terasa berat, dan setelahnya segala menjadi gelap.
.
.
.
.
.
Saat Hinata terbangun, di berbaring di ranjang dengan Neji berada di dekatnya. Wajahnya menunjukan kelegaan, sementar pikirannya dipenuhi kecemasan.
"Hinata." Katanya, wajahnya menyiratkan kecemasan.
Hinata memincingkan mata Lavendernya melihat Neji kali pertama, kemudian pada jam. Kemudian sudut-sudut ruangan saat ia sadari sudah berada di kamarnya.
"Apa kau merasa baik-baik saja?" Tanya Neji, ikut memandangi sepupunya itu. "Kau sudah pingsan saat aku pulang tadi. Kau sakit?"
"Bagaimana kau bisa pingsan, Hime?"
Hinata menggeleng pelan, lalu memejamkan mata dan mencoba mengulang kembali peristiwa yang kualami sehingga membuatnya berbaring di ranjangnya, namun percuma saja ia telah berusaha menggali semua ingatannya dan hasilnya kepalanya semakin berdenyut sakit.
"Aku tidak ingat" keluh Hinata. 'tidak ingat apapun' lanjutnya dalam hati.
"Sudahlah istirahat saja."
"Ya." Katanya lirih, berusaha terdengar pasti, tidak Neji meniggalkannya lalu menutup pintu kamar Hinata. Tidak yakin apakah itu halusinasinya tentang pepohonan dan tempat gelap ataukah itu kenyataan.
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan meuju sekolah hinnga kekelasnya, Hinata diantar oleh Neji hanya untuk memastikan bahwa dia tidak kenapa-napa lagi.
"Arigatou Neji-nii sudah mau mengantarku hingga kelas ku." Hinata tersenyum tipis.
"Ya." Jawabnya singkat "Jika ada apa-apa kau hubungi aku!" suaranya terdengar tegas.
"Ba-baiklah nii-san." Kemudian Hinata masuk kedalam dan segera menuju bangkunya. Belum lama ketika gadis itu dudu dan meletakan tas sekolahnya dimeja, ia segera dihampiri oleh dua orang yang yang langsung meyerbu dirinya. Mulai dari pelukan di lehernya hingga pinggangnya yang baru dirasanya terasa sakit.
"E-eh?"
"Hinataaa!" teriak gadis yang tengah merangkul lehernya. "Aku rinduuu padamu." Lanjutnya. Dan hanya ditanggapi senyuman manis dari Hinata.
"Kan kita baru kemarin bertemu." Ucap Hinata sebisa mungkin agar tidak terlihat ambigu.
"Itu beda lagi ceritanya." Ucap Sakura sambil melepaskan pelukan eratnya, sedangkan Ino masih menempel pada Hinata, tidak mau melepaskan pelukan dilehernya sehingga membuat Hinata tersendak tidak bisa bernafas. "Maaf." Ucap Ino, melepaskan tangannya.
"Saat istirahat kemarin kau menghilang kemana?" Tanya Ino sebari mencari-cari wajah Hinata yang tertutup poni ratanya saat tertunduk.
"A-aku tidak ingat." Jawab Hinata seadanya, sejujurnya, dan sebisanya apapun yang terlintas dibenaknya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Sakura bergantian. Gadis itu hanya mengeleng sebagai jawabaan.
.
.
.
Sepanjang pelajaran metematika Anko-sensei, Hinata tidak sekalipun fokus apda meteri, memang jika dilihat gadis itu sedang memperhatikan kedepan, namun pikirannya melayang entah kemana. Terus menginggat-ingat kejadian semalam yang membuatnya, benar-benar tidak mendapat sedikitpun ingatan tentang bagaimana dirinya terbaring dikasurnya. Itu semua pasti ada alasannya.
Beberapa kali Ino, yang duduk sebangku dengan Hinata mencoba memfokuskan pikiran dengan pelajaran selalu teralih karena Hinata seringkali melamun sendiri.
Sepanjang istirahat di kantin, Ino terus bercerita tenatang Sasuke dan beberapa kali juga membuat Sakura geram karena dia mengejeknya.
"Apa kau bahkan mendengarkannku?" Dia mengerutu.
"Tentu saja." Gumam Hinata, berhenti mengunyah udangnya hanya untuk mengalihkan pandangannya pada Ino. Pikirannya berpacu pada kejadian yang samar-samar teringat, dan selalu berakhir dengan kepalanya pening. Beberapa kerasnya gadis itu berusah. Dia tidak mamapu mengingat apapun setelahnya.
"Oh, aku percaya deh." Dia maringis dan memandang Sakura. "Maksudku, jika kau tidak tertarik dengan ini kau bisa membicarakan tentang Naruto." Matanya terpincing.
"Eh? Memangnya kenapa dengan Naruto-kun?"
"Kemarin saat pulang dia mencarimu." Jawab Sakura. "Kau malah menghilang."
"Be-benarkah?" rona merah muncul di kedua pipinya yang cabi.
"Hm. Iya. Terlihat jelas."
"A-apanya?"
"Wajahmu." Ino dan Sakura menggut-manggut. "Ah. Tidak" Elak Hinata sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Kau ungkapkan saja perasaanmu itu." Saran Ino, berhasil membuat Hinata melongo dan Sakura yang tersendak karena minimannya.
"Su-sudahlah aku pergi saja." Ujar Hinata, berdiri dari kusinya dan meninggalkan dua orang yang terkikik pelan. "Oi, Hinata kau pasti mau mengungkapkannya sekarang, ya." Goda Ino lagi, kemudian gadis itu berhenti mandengar seruan Ino, sementara dirinya menggumamkan jawaban yang tidak jelas dan berjalan keluar.
Disana tidak jauh dari tempat Hinata berdiri setelah meninggalkan kantin, Naruto berdiri sambil melipat kedua tanganya di dada. Tapi saat Hinata melihat pria itu berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di dinding belakangnya, dia tergoda untuk berlari kearah berlawanan, namun buru-buru pria itu menagkap tangan gadis bermata Lavender itu kemudian mandorongnya kedinding yang tadi digunakannya untuk bersandar kemudian menghimpit tubuh mungilnya dan memandangi wajah gadis itu.
Mencari-cari Lavendernya yang tak terlihat karena ia memejamkan matanya. Pria itu tampak menyinggungkan senyum puas diwajah datarnya. Hinata hendak mendorong Naruto karena dirasa pria itu menghimpit tubuhnya, namun tangannya segera dihalangi oleh pria itu.
Jarak yang kini diciptakan Naruto hanya terpaut beberapa inci saja dari wajah Hinata. Dia mencari akal untuk menenangkan degup jantungnya yang semakin liar. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Naruto dicuping telinga Hinata. Tak tahu apa yang harus dilakukan Hinata hanya terpaku akan reaksi Naruto selanjutnya karena di tidak menjawab pertanyaan pria itu.
"Jawab aku!" suaranya terdengar datar namun tegas menuntut jawaban dari mulutnya.
"A-aku ti-tidak tahu." Mendengar jawab Hinata itu membuat Naruto menjauhkan dirinya dari tubuh mungil Hinata.
"Apa?" Dia mengernyit. Hinata tetap mamandanginya dengan tatapan aneh melalui Lavendernya yang redup. "Sudahlah, untuk apa ku pikirkan." Ujar pria itu melangkah meninggalkan Hinata.
"Tu-tunggu." Tahan gadis itu. Di saat seperti ini bisa-bisanya di berfikir apa yang dikatakan Ino tentang perasaanya. "Na-naruto-kun, a-aku.." aksen suaranya menjadi melemah saat dirasanya Naruto memandanginya.
"A-aku.." masih dalam kalimat gagapnya, Hinata menundukan wajahnya yang memerah.
"Ada apa aku masih banyak.."
"Aku meyukaimu." Ujar gadis itu lansung melesat dari bibirnya tanpa terputus. Naruto mandanginya dengan terkejut namun segera ditepisnya wajah kagetnya dengan pandangan datar yang mengarah pada sorot Lavender Hinata yang mulai diperlihatkanya.
Dia merutuki dirinya sendiri mengapa mengatakan ucapan seperti itu. Bodoh. Baka Hinata! Dasar gadis idiot! Dalam hatinya dia menepuk-nepuk jidatnya sendiri, masih merutuki perasaanya yang baru di ucapkan itu. Perasaan yang hanya dia saja yang memilikinya, perasaan yang hanya dia saja yang mengetahuinya, sehingga dia takut jika,
"Maaf." Ujar Naruto kemudian. Hinata memnadanginya dengan tatapan sayu, air mata yang sudah tertampung dipelupuk matanya, yang berusaha ia tahan sekarang.
"Maaf." Ulangnya lagi lalu memandangi Hinata dengan tatapn yang sulit di jelaskan. "Maaf, Hime. Tapi sudah lama aku tidak memiliki perasan. karena perasanku itu dihilangkan." Jawab Naruto kemudian membelakangi Hinata dan pergi begitu saja.
"Baka! Baka! Hinata. Tanpa diungkapkan sekalipun seharusnya aku tahu akan begini jadinya," gerutunya. Air mata yang sedari tadi ditahanya kini mengalir menetes melwati dipipinya. Dia menangis terisak-isak, beruntung tidak ada orang yang melihatnya sekarang, karena kini dia mulai merosot kebawah saat dirasanya kakinya melemah. "Rasanya ingin meghilang saja." Kemudian gadis bersurai indigo itu berlari meinggalkan tempat itu dengan air mata yang dihapusnya, yang masih membekas.
TENG!
Bel pulang akhrinya berbunyi, saat-saat yang paling ditunggu siswa manapun.
"Hinata pulang bersama yuk!" ajak Sakura. "Ah tidak usah, nanti aku pulang sendiri kok."
"Benar? Maksudku kau akan pulang kerumah kan, tidak menghilang seperti kemarin lagi kan."
"Iya. Aku janji." Hinata tersenyum pada Sakura.
"Baiklah."
Saat tiba didepan gerbang sekolahnya, Hinata menghentikan langkahnya.
"Aku lupa, harus ke toko buku. Mungkin aku akan terlambat pulang."
.
.
.
.
**-FLASHBACK ON-**
"Dobe itu kemana saja." Gerutu Sasuke. "Sial!" gerutunya lagi disela-sela ia menahan wanita yang kini tengah menyerangnya. Dengan sekuat tanaga Sasuke mengarahkan pedangnya untuk membuat celah agar bisa menyerangnya. Kemudian pria itu mundur beberapa langkah, wanita itu terkekeh pelan.
"Teme!"
"Kau lama."
"tch. Tidak sabaran." Gerutu Naruto.
Wanita itu menyerang kedua pria yang kini menjadi mainannya dengan hanya melemparkan beberapa kertas yang tiba-tiba saja menjadi balati-belati tajam. Dengan cepat pula Sasuke menghindar, sedangkan Naruto menepis semua benda itu dengan pedangnya kemudian menghindar. Tidak hanya berdiam diri setelahnya Naruto segera melesat, dia sudah dibelakang musuhnya, baru saja akan menghantamna dengan tinju, buru-buru dia sudah mengilang. Dia melayang diatas dengan sayap kertas yang dibentangkan, kemudian menyeringai setelahnya..
Pasti sudah bisa membayangkan.
Kertas lagi! Kertas lagi!
"Aku muak dengan semua kertas origami ini." Geruto Naruto, Sasuke menghampirinya. "Apa aku berhasil melihat wajanya?" tanya pria berambut raven itu.
"Tidak." Jawabnya singkat, dan dingin.
.
.
.
.
.
gomen ne jika PLOT nya aneh sekaligus amburadull
.
.
Yosh...karena ini FanFic pertamaku juga,,,
Mohon kritik dan sarannya OK! Maaf jika alurnya kecepetan,,,
Review ya..pembaca yang baik akan meninggalkan komentar...
# hihi maksa bgt
Kalau berkenan dihati aku lanjut...
T^_^T
.
.
TBC
.
.
A/N : sebelumnya makasihhh udah me Review Lho, kr bisa menambah motivasi untuk lebih mengembangkan cerita inihh..
gomen ne jika gak bisa balas satu persatu,,,,
terima kasih karena udh meluangkan waktu untuk baca fanfic Geje ku ini hehee..
