haaahh.. akhirnya internet gue udah bisa lagi! katanya gara2 kemaren ujan deres, internet gue mogok jalan dan baru bisa sekarang. Jadi sori kalo apdetnya lama! sebelumnya, makasih buat Jess Kuchiki karena udah ngingetin pasang disclaimer:

Dislaimer: Bleach punya Kubo Tite! bukan punya saya!! kalo punya saya ntar makin tenar deh *digebuk massa*

so, this chap 10 special for you!! enjoy!

Chap 10: When you're gone part I

Sering kita menganggap remeh sesuatu. Dan saat sesuatu hilang…, kita baru merasakan betapa butuhnya kita.

Sama.

Sama seperti Hitsugaya saat ini.

Sering ia menganggap Rukia adiknya sendiri. Sering, ia berkata sayang pada Rukia. Bahkan ia sering berkata, ia rela mati demi Rukia. Ia terlalu meremehkan Rukia dan hanya menganggapnya adik.

Dan Hitsugaya menyesali itu sekarang.

Harusnya saat ia berkata rela melakukan apa saja asal Rukia bahagia, ia sudah tahu resikonya. Harusnya, ia siap menerimanya. Tapi sekarang? Ia melihat Rukia bahagia, namun hatinya robek, hancur, dan berantakan. Bukankah harusnya ia 2x lebih bahagia?

Saat ia kehilangan Rukia…. Saat Rukia 'diambil' Ichigo…. Hitsugaya baru sadar…, kenapa ia merasa cemburu? Mengapa ia bisa rela mati demi Rukia?

Karena….

Ia menyukai Rukia. Ia mencintai Rukia. Sepupunya sendiri! Gadis yang selalu ia anggap adiknya sendiri!

"Aaakkh…!" Hitsugaya mengacak-acak rambutnya kesal.

"Shiro-nii?" sapa Rukia. Hitsugaya menoleh, terkejut. Gadis yang ada dipikirannya, muncul. Rukia. Membawa teh dan kopi dari gerbong restoransi. Sekarang mereka berempat bersama Ukitake dan Unohana ada di kereta yang membawa mereka ke Stasiun Balapan. Lalu nanti naik mobil ke rumah Mbah Putri.

"Ah, kopi! Terima kasih, Rukia," kata Hitsugaya merebut kopinya. "Dari gerbong restoransi?"

Rukia mengangguk. Ia duduk di sampinng Hitsugaya sambil memperhatikan iPod yang di dengarkan Hitsugaya.

"Ini?" Hitsugaya mengangkat iPodnya, "mau denger?"

Rukia menggeleng kali ini. "Lagu apa?" tanyanya.

Hitsugaya melepas sebelah earphonenya. "Apaan tadi?"

"Lagi denger lagu apaa??" tanya Rukia sedikit emosi.

"Oh. When You're Gone-nya Avril," jawab Hitsugaya singkat. "Udah jangan bicara sama gue lagi. Ntar emosi lagi."

Rukia cemberut sebentar. Ia lalu membantu Unohana dan Ukitake yang mengubah posisi duduk kereta agar bangkunya dan bangku Hitsugaya berhadapan. Hitsugaya melihat Rukia yang bertanya ini-itu pada ayah dan ibunya yang dijawab sambil tertawa. Lihat? Bukankah orang-orang yang melihat itu akan mengira bahwa mereka adalah satu keluarga? Apakah boleh seorang kakak mencintai—dalam artian ingin memiliki—adiknya sendiri? Apakah boleh seorang sepupu mencintai sepupunya sendiri? Ia benar-benar butuh waktu sendiri. Untunglah mereka naik kereta, bukan pesawat.

"Toushiro, ayo bantu kami!" ajak Ukitake. Hitsugaya mengangguk malas, membantu orangtua dan Rukia. Di sebelah Rukia, Avril bernyanyi di telinga Hitsugaya.

I always needed time on my own
I never thought I'd need you there when I cry
And the days feel like years when I'm alone
And the bad where you lie is made up on your side
When you walk away I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now
"Ah hapeku bunyi!" ujar Rukia.

"Dari siapa, Rukia?" tanya Unohana.

Rukia tersipu-sipu malu, "ah, cuma sms dari Ichigo kok…."

"Ichigo… bukannya dia itu temanmu, Toushiro? Yang satu kelas denganmu kan, Rukia?" Ukitake mengingat-ingat.

Hitsugaya melepas sebelah earphonenya. "Apa? Ichigo?"

"Iya. Itu sahabatmu yang dulu sering ke rumah kan?" kata Unohana.

"Ooh, iya, itu sekarang pacarnya Rukia," jawab Hitsugaya cuek, memakai earphonenya kembali.

"Waah… kok Tante nggak di kasih tau. Selamat ya, Rukia," Unohana tersenyum manis.

"Ah, Tante bisa aja," jawab Rukia malu-malu.
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it ok
I miss you

Hitsugaya memperhatikan kereta yang menurun, meninggalkan Gambir. Mereka naik kereta jam 7 malam tadi. Ia melirik Rukia, ayah, dan ibunya. Mereka sudah tertidur lelap. Mungkin kecapean. Berharap Rukia takkan insomnia nanti malam, Hitsugaya menyenderkan kepalanya di jendela kereta. Walaupun sebenarnya ia kangen dengan Rukia yang selalu menjawab curhatannya dengan perasaan dan sensitif.

Ia melirik Rukia yang tertidur lelap di sampingnya. Hitsugaya tersenyum sendiri, membetulkan selimutnya.
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too
When you're gone
The words I need to hear to always get me through the day and make it ok
I miss you
We were made for each other
Out here forever
I know we were, yeah
All I ever wanted was for you to know
Everything I'd do, I'd give my heart and soul
I can hardly breathe I need to feel you here with me, yeah

Avril baru selesai bernyanyi di telinga Hitsugaya. Berulang kali ia setel lagu itu dari awal nunggu kerta di Gambir. Setelah kasian sama Avril karena disuruh nyanyi terus sampe suara soak, Hitsugaya mendengarkan lagu yang lain sambil terus memikirkan Rukia. Adiknya, sepupunya, wanita yang dicintainya.

Lalu Hinamori?

Entahlah. Mungkin ia sangat egois sebagai cowok. Mungkin.

*

3 hari sudah keluarga Hitsugaya dan Rukia ada di Yogya. Mereka benar-benar dijamu di rumah Mbah Putrinya. Sampai-sampai Rukia keasikan, malah ada niat sekolah disini biar di manja terus. Memang rumah Mbah Putrinya itu lumayan gede. Di depannya teras dan halamannya rimbun oleh pohon-pohon. Banyak yang begadang di teras depan sambil ngopi-ngopi. Apalagi Hitsugaya. Dia sering ikut-ikutan begadang (padahal insomnia) sama kenalan-kenalan Mbah Kakungnya dan ngobrol ini-itu. Bahasa Jawanya sih sharing (??)

Selain itu rumah Mbah Putri deket sawah. Tinggal jalan dikit, sampe deh di sawah. Di depan rumah Mbah Putri juga ada GOR yang lumayan gede. Hampir tiap pagi mereka sekeluarga lari-lari keliling GOR. Apalagi malem-malem ada Pasar Malem. Seru!

Tapi yang paling seru, adalah saung yang cukup luas di tengah-tengah sawah. Kalo siang, Hitsugaya dan Rukia sering nongkrong di sana, ngebantuin Mbok Inem (A/N: buat mbak Inem, maaf ya, kupake namanya hihihi)dan Pak Santoso (A/N: buat pak Santoso, penjaga gerbang SDku dulu… kabar terakhir yang kudenger sih, dia marahin adekku yang lagi ngepel, piket hihihi.. tetep galak ya, pak) nanem padi. Seperti sekarang.

"Fiuuh… nggak cape, Mbok?" tanya Rukia mengelus dahinya dengan siku. Tangannya berlumpur.

"Ini mah udah biasa, Mbak!" kata Mbok Inem. "Kalo mau dapet duit mah begini. Bisa makan nasi aja udah untung!"

Rukia tertawa kecil, "ini kan padi, nanti jadi nasi."

"Ya gitulah, Mbak."

"Shiro-nii! Ayo bantuin!!" seru Rukia menunjuk Hitsugaya yang berleha-leha di saung sambil minum kopi.

"Maleess…!" seru Hitsugaya.

"Enak ya, Mas, di Jakarta?" tanya Pak Santoso.

"Nggak, Pak. Macet," keluh Hitsugaya. "Kalo disini kan enak, adem."

"Makanya tinggal disini aja, Mas," saran Mbok Inem.

"Trus sekolahku sama Shiro-nii gimana, Mbok?" kata Rukia tertawa. Ces! Hitsugaya yang melihat tawa itu… yang melihat wajah manis itu….

"Aaakhh!!" Hitsugaya tiba-tiba mengacak-acak rambutnya.

"Mas ini kenopo toh?"

*

"Rukia, ini sudah malam!" tahan Mbah Kakung saat Rukia hendak ke saung lagi. Saat itu sudah jam 9 malam dan Rukia baru sadar gelang pemberian Ichigo terjatuh disana. Dan ketika mendengar itu, Hitsugaya hanya mendengus kesal. Ichigo lagi, Ichigo lagi, batinnya.

"Nggak apa. Bentar doang kok, aku juga bawa senter. Berangkat, Mbah!!" seru Rukia cepat sambil lari pergi melewati gerbang rumah.

"Rukia!" seru Mbah Kakung, Hitsugaya, dan Ukitake yang lagi ngopi di teras. Sementara bunyi awan hitam menggulung semakin keras.

"Mau hujan, Pa'e," kata Ukitake khawatir. Mbah Kakung mengangguk.

"Susul adikmu, Toushiro!" suruh Mbahnya. Hitsugaya mengangguk, mengambil 2 payung kecil dan mengejar Rukia.

"Berangkat dulu!" seru Hitsugaya berlari keluar gerbang. Yang lain hanya ber-ya dan ber-hati-hati ria.

"Rukia… Rukia… nekat banget sih," keluh Hitsugaya berlari. Terkadang pake salto biar cepet, sekalian melompati genangan air. Tadi sore memang sempat hujan. Sekarang hujan lagi. Memang sekarang bulan Desember, musim hujan di Indonesia.

"Hh…hh…," Hitsugaya menyilangkan cahaya senternya, berusaha mencari sosok yang begitu ia sayangi.

Tiba-tiba cahaya senternya mengenai sebuah sosok yang sedang menunduk di sawah. Rukia!

"Rukia!!" seru Hitsugaya. Bayangan itu menoleh.

"Shiro-nii? Sedang apa?!" tanyanya. Di tangannya ada sebuah gelang manik-manik. Oh, rupanya ia sudah mendapatkan apa yang ia cari.

"Tentu menjemputmu, bodoh! sebentar lagi…."

Creesss…. Hujan turun.

"….hujan," sambung Hitsugaya kesal. Ia berlari menuju Rukia dan menyeretnya ke saung.

"Berteduh dulu disini!" perintah Hitsugaya, "kamu kok kerjanya nyusahin orang aja…."

Rukia cemberut, "Ayo pulang! Shiro-nii bawa payung 2 kan?"

Hitsugaya mengangguk, "tapi hujannya terlalu deras. Kalau kamu basah kuyup, aku yang dimarahin Mbah Putri."

Maklum, saking Mbah Putri mereka kangen sama Hisana, ia jadi menganak emaskan Rukia. Kebalikan dari Mbah Kakung mereka yang sangat menyayangi Hitsugaya. Cucu mereka memang Cuma 2 sih.

"Mau sampe kapan nunggu di saung? Bakal lama banget, Shiro-nii," kata Rukia resah, ia menyambar payung, "aku duluan aja deh."

"Jangan nekat kamu! Banyak…."

DUAARR!!! Di belakang punggung Rukia, petir berkilat-kilat. Rukia begidik ngeri. Ia langsung melompat kembali ke saung, memeluk Hitsugaya.

"…petir," sambung Hitsugaya dengan alis terangkat.

***

Next Chapter:

Hitsugaya memecah sunyi—bahkan cowok itu sampe kaget sendiri karena tiba-tiba saja kata-kata itu keluar, meluncur dari mulutnya. Membuatnya menunduk, memalingkan wajahnya yang memerah agar Rukia tak tahu. Bodoh! seru Hitsugaya dalam hati. Itu kan sama saja menembaknya!

***

balesan repiu:

Yumemiru Reirin: yeap! Hitsu cemburu~!

Ruki_ya: hahaha.. Hitsu emang cemburu... padahal Ruki sepupunya sendiri =.=

BeenBin Mayen Kuchiki: oh iye.. lu nggak suka HitsuHina ya, bu? hohoho.. sori ga bisa cepet, modemnya mati terus nih

Gomamon Kuchiki Byabya: oke! repiu lagi yaa..

Kuchiki Horie: eh? dimana tuh? oke, ini udah apdet!

Hinazuka Airin: salam kenal jugaa.. a-ah?! so-sori!! sori banget!! maksudnya ini kan plesetan dari Mbah Putri gitu.. ini udah ku ganti kok ^^

Yeap, mohon REVIEW!!!!