Game over!
.
.
.
Happy reading.
.
.
.
"Ayah kenapa aku harus dandan? Kita akan pergi kemana?"
Naruto melihat Sarada yang sedang berkaca sembari menyisir rambut pendek sebahunya. "Kau akan bertemu dengan... yah anggap saja dia nenekmu"
Sarada berbalik dan menatap Naruto dengan mata menyipit. "Nenek Mikoto?"
"Bukan. Dia nenek ayah"
"Oh. Apa sudah cantik?" tanya Sarada menggerakan rok selututnya.
"Sangat cantik, ayo kita harus jemput seseorang" ajak Naruto mengiring Sarada keluar kamar Naruto.
"Siapa ayah?"
"Nanti juga kau tahu"
"Kalian mau kemana?" tanya Sakura yang akan pergi juga.
"Mama, ayah bilang mau ketemu nenek!" jawab Sarada semangat.
"Kau juga mau kemana?" tanya Naruto heran, padahal sejak Sakura melempari Sarada dengan benda, Sakura tidak pernah berdandan atau pergi kerja.
"Aku ada pemotretan." jawab Sakura, mendekati Naruto kemudian mencium bibirnya.
Naruto tersentak kaget, segera melepaskan Sakura dan ciumannya. "Apa-apaan kau?" desis Naruto.
"Sasuke sudah jelas tak menginginkanku lagi" ucap Sakura enteng. "Kuharap kau akan jadi ayah yang baik untuknya juga" tambah Sakura memegang perutnya yang masih rata.
"Apa?! Kau dan aku sudah ber-" ucapan Naruto terhenti telunjuk Sakura yang menempel dibibirnya. "Ada Sarada di sini. Oke aku harus pergi. Jangan nakal sayang, aku mencintaimu" ucap Sakura sembari mencium pipi Sarada kemudian berlalu.
'Ada apa dengannya huh? Demi Tuhan aku tidak akan pernah kembali padanya!' batin Naruto, tatapannya beralih pada Sarada yang tersenyum lebar melihat mamanya sudah sehat kembali. 'Sampai Sarada pergi dari sini aku akan tetap menjadi ayahnya.'
Suara lift berhenti di lantai 3 membuat Sarada menatap curiga Naruto, sejak pertemuan pertamanya dengan Himawari, setiap pagi Ayahnya pasti akan menjemput Himawari juga. "Ayah seseorang itu bukan Himawari kan?"
"Sayangnya, dialah orangnya." ucap Naruto menarik Sarada keluar dari lift.
"Ah pa-" teriakan Himawari terhenti karena Sarada berada di samping Naruto.
Tak lama Hinata muncul di lorong apartemen. Naruto tersenyum lebar, "Hallo! Apa kau siap Hima?" tanya Naruto melihat putri kecilnya hanya berdiri menatap canggung ke arah Naruto dan Sarada.
"Nah Sarada, ayah ingin kau mengetahui rahasia ini. Kau sekarang mempunyai 2 adik. Adikmu yang pertama adalah Himawari dan yang kedua, dia bersama nenek ayah" Naruto berjongkok di antara kedua gadis kecil itu. "Sekarang Hima boleh panggil ayah, oke?!"
"Kenapa? Aku hanya putri satu-satunya di rumah!" ucap Sarada menatap tajam Himawari dan Naruto.
"Ayah sudah lama ingin mengatakan ini padamu"
"Aku tidak mau! Himawari itu temanku bukan saudaraku!"
"Sarada-nee, mama dan Hima-"
"Aku bukan kakakmu! Himawari kau temanku iyakan?!"
Hinata menatap cemas Sarada, tangannya segera menarik Naruto dan berbisik. "Ini sepertinya bukan ide yang bagus"
Naruto hanya tersenyum, kemudian menghampiri kedua gadis kecilnya. Sarada dengan tatapan marah dan Himawari dengan tatapan sedih. "Kau tahu Sarada, walaupun Himawari sebelumnya tidak pernah bertemu denganmu, tapi dia senang sekali mempunyai seorang kakak. Dia bahkan rela ayah tinggal dengan Sarada selama ini, walaupun Sarada punya dua ayah. Dia tahu Sarada butuh ayah Naruto untuk melindunginya selama papa Sasuke bekerja keliling dunia"
Tatapan Sarada sedikit melunak, "jadi Himawari hanya punya satu ayah?"
Himawari mengangguk pelan, Sarada menatap Himawari dan ayahnya bergantian. Selama ini Ayah hanya ada untuk Sarada. Memeluknya saat tidur, membuatkan sarapan, bermain ke kebun binatang, melindunginya.
"Maafkan aku Hima"
Naruto tahu, Sarada gadis yang pintar. Dia akan mengerti dan menerima dengan cepat kenyataan dihadapannya. "Ayah bangga padamu. Ne, maafkan ayah sudah merahasiakannya dari Sarada."
Sarada menggeleng pelan dan memeluk tubuh Naruto, "ayah selalu ada untuk Sarada. Sarada juga ingin ayah bahagia." bisiknya. Tangannya menarik tubuh Himawari agar ikut berpelukan dengannya.
"Jadi, Sarada-nee tidak marah lagi?" tanya Himawari dengan nada cemas.
Sarada menggeleng pelan, sembari tersenyum. "Kau dan aku berteman, dan sekarang kau adikku"
Suara helaan nafas terdengar dari Hinata. Dia sangat cemas, kalau-kalau Sarada akan murka dan melukai Himawari. "Dia tahu Sarada butuh ayah Naruto untuk melindunginya selama papa Sasuke bekerja keliling dunia" kata -kata Naruto itu terus terngiang di telinga Hinata. Dua ayah? Naruto dan Sasuke? Jadi siapa ayah Sarada yang sesungguhnya? Sarada tidak mirip Sakura, dia juga tidak mirip Naruto sama sekali. Itu artinya-
"Mama. Mama mau sekalian diantar papa?" tanya Himawari membuyarkan lamunan Hinata.
"Ah, sepertinya akan merepotkan? Mama akan naik taksi saja."
"Akan aku antar, kau mau pergi kemana?"
"Aku akan ke Mall of Konoha."
"Kalian tidak keberatankan?" tanya Naruto pada kedua putri kecilnya.
Keduanya kompak menggeleng. Suasana dalam mobil Naruto jauh lebih ceria, untung saja si tua kurama sudah Naruto pensiunkan kemarin, jadi mereka lebih nyaman bepergian sekarang.
"Bukankah mobil ayah lebih bagus sekarang?" tanya Naruto melihat ke kaca spion, melihat kedua putrinya di jok belakang.
"Dia tidak akan gosong lagikan papa?" tanya Himawari.
"Kita tidak usah bawa kipaskan?" tanya Sarada.
"Tentu saja tidak perlu." jawab Naruto bangga. Hinata di sampingnya hanya tersenyum melihat keluarga kecil ini. Keluarga kecilnya, tidak masalah dengan adanya Sarada, toh Sarada dan Himawari tidak tahu apapun tentang hubungan rumit yang dijalani kedua orang tuanya.
Hinata kembali berdebar-debar, suasana tiba-tiba senyap. Naruto sedang fokus menyetir. Tatapannya, garis pipinya, tangan kekarnya. Astaga! Hinata sedang apa kau? Hinata menggeleng pelan.
"Ada apa?" tanya Naruto melihat tingkah Hinata dari ujung matanya.
"Ah, tidak ada" jawab Hinata, tapi pipinya bersemu merah.
Suasana kembali hening, Naruto kembali fokus menyetir. Kenapa? Padahal dia sangat dekat dengan ibu Himawari, tapi hatinya tidak berdebar atau bahkan tertarik padanya. Terakhir kali gairahnya naik pada bocah kecil, Hanabi si gamer.
oOo
Rumah bergaya inggris terlihat diantara deretan rumah disepanjang jalan di kawasan perumahan elit tersebut. Naruro memarkir mobilnya dalam garasi bawah tanah.
"Papa, ini rumah siapa?" tanya Himawari.
"Ayah bilang ini rumah nenek"
"Rumah Otoutou?"
Naruto dan Sarada mengangguk, seorang pelayan menjemput mereka di parkiran dan mengantar ketiganya ke area kebun. "Cucuku, kau akhirnya mau berkunjung ke rumahku" seru Nyonya Namikaze melihat Naruto dengan bahagia.
"Aku ingin mengenalkan mereka pada nenek" jawab Naruto bergeser agar kedua putrinya terlihat oleh Nyonya Namikaze. "Ayo perkenalkan diri kalian" perintah Naruto.
"Aku Sarada. Salam kenal nenek" ucap Sarada sedikit membungkuk.
"Ah nenek!" seru Himawari kemudian buru-buru menutup mulutnya karena Sarada memelototinya. "Aku Himawari. Salam kenal."
Nyonya Namikaze tertawa melihat tingkah keduanya, "kemarilah, kalian gadis kecil yang menggemaskan. Sarada yang sopan dan Himawari yang cerewet" ucap Nyonya Namikaze. "Ah Souka. Kalian ingin bertemu dengan Miraikan?"
"Mirai? Kami ingin ketemu otoutou nek. Namanya Boltkan?" ucap Himawari bingung.
"Namanya sekarang Namikaze Mirai" ucap Nyonya Namikaze.
Suara celotehan Mirai terdengar dari dalam rumah. Dengan kaki kecilnya dia berlari kencang ke taman belakang. "Nene" serunya segera memeluk Nyonya Namikaze.
"Nah dia otoutou kalian" ucap Nyonya Namikaze .
"Mirai! Aku Himawari, dia Sarada Onee-chan" ucap Himawari semangat melihat Mirai masih menatap mereka bingung.
"Pergilah. Ajak mereka main" perintah Nyonya Namikaze pada pengasuh Bolt.
"Nenek ada apa ini? Kenapa kau menganti nama Bolt?" tanya Naruto segera setelah anak-anaknya menjauh.
"Aku pergi meramal nasib Mirai di kuil. Biarawan di sana bilang nasib Mirai buruk sekali jika namanya masih sama" jelas Nyonya Namikaze.
"Tapi aku yang memberinya nama"
"Aku ingin Mirai dan anak-anakmu yang lain hidup bahagia tanpa adanya tragedi seperti yang kau alami. Aku akan mencegahnya dengan melakukan apapun."
Naruto terdiam, neneknya sudah tidak ingin melihat nasib buruk di usia senjanya.
"Papa. Ano, ini buku yang mama tulis. Katanya di dalamnya adalah kisah cinta papa dan mama" ucap Himawari kembali ke tempat dimana Naruto dan nyonya Namikaze sedang mengobrol.
"Terima kasih sayang, kembalilah bermain dengan Bo- maksud ayah Mirai"
Setelah Himawari pergi, Naruto menatap pasrah neneknya. "Jika itu yang nenek inginkan. Aku akan ikut kemauan nenek"
"Jika kau sudah bisa mengajak Himawari kemari, apa kau sudah-"
"Ya, aku bertemu dan melihat ibunya secara langsung, dekat dan nyata. Masalahnya nenek, aku tidak mengingat hubungan kami sebelum pernikahan kami. Aku suka pendekatan saat menjadi playboy dulu."
"Sepertinya buku itulah yang akan menjelaskan semuanya."
Naruto mengangguk dan melihat buku dalam genggamnya. Di sini hanya tertulis nama sang editor buku. Di bukanya halaman pertama novel tersebut.
Halaman lain terbuka saat Hinata menyelesaikan bacaanya. Di mall of konoha, Hinata akan betemu dengan Shino, tapi sepertinya dia akan terlambat lagi. Penampilannya sudah berubah menjadi lebih muda, dia sedang menjadi Hanabi sekarang.
"Sedang membaca apa?" tanya Suara Naruto, Hinata melihatnya sedang duduk manis sembari memperhatikan Hinata.
"Buku bagaimana caranya menghilangkan imajinasi ekstrim sepertimu" jawab Hinata ketus. Ayolah dia sudah dekat dengan Naruto. Dia tidak mungkin bisa membedakan Naruto asli dan Imajinasinya jika keduanya muncul bersamaan.
"Maaf aku terlambat" ucap Shino, menarik kursinya dan duduk.
Bayangan Naruto segera hilang dari hadapan Hinata. "Dengar. Aku ingin mengalihkan Seluruh tabunganku menjadi atas nama Himawari" ucap Hinata to the point.
"Heh? Kenapa?" tanya Shino bingung.
"Aku punya masalah rumit akhir-akhir ini. Aku tidak ingin jatuh semudah ranting kering patah"
"Jadi atas nama Himawari? Baiklah. Ada beberapa prosedur yang harus kau lakukan dan baberapa dokumen yang harus di isi dan ditanda tangani" ucap Shino mulai menjelaskan.
"Aku akan serahkan prosedurnya padamu."
"Kau menambah kerjaku saja."
"Aku percaya padamu. Buat semuanya nampak wajar. Aku juga ingin nomor rekening sama"
"Itu ilegal"
"Jika aku menganti nomor rekening tiba-tiba, aku akan ketahuan. Identitas Hanabi juga harus aku lindungi. Sebarkan ini di forum kita"
"Satu pekerjaan berubah menjadi banyak kerjaan" keluh Shino.
"Aku percaya kau bisa melakukannya"
"Baiklah, serahkan padaku."
oOo
Hari mulai sore saat Naruto dan kedua putrinya kembali ke Konoha, mobil sedikit berguncang membuat Naruto terpaksa menepikan mobilnya.
"Ada apa ayah?" tanya Sarada melihat Naruto menggaruk kepalanya setelah melihat masalah.
"Ban depan kita kempes, ayah harus mengantinya sebentar" jawab Naruto.
Kedua gadis itu segera turun dari mobil dan bergbung dengan Naruto, Sarada membuka payungnya dan segera mengeluh. "Matahari jahat"
Mereka berhenti tepat di depan sebuah halte, "kakak sebaiknya kita bantu papa biar cepat"
"Himawari kita ini anak perempuan! Jangan. Nanti kamu kotor, sebaiknya kita duduk dan melihat saja." Larang Sarada sembari menyeret Himawari menuju bangku halte.
Naruto secepat mungkin menganti ban mobilnya. Kurang dari satu jam, ban serep sudah terpasang. "Selesai. Ayo kita pulang" ajak Naruto mendekati kedua putri kecilnya. Himawari duduk dengan Sarada tidur di pangkuannya.
"Nee-chan bilang mengantuk, jadi Himawari menyuruhnya tidur"
"Sebaiknya ayah mengendongnya ke mobil" ucap Naruto menggendong tubuh Sarada.
"Papa lihat, itu mama"
"Dimana?"
"Itu, itu foto mama"
Naruto memperhatikan baner sebuah iklan bank yang terpasang di sebelah halte. "Hana?" gumam Naruto mengingat pakaian yang dikenakan Hinata dan rambut putihnya. "Kau yakin dia mamamu?"
"Huum mama pernah cerita bertemu ayah di pulau tropis sebelum menikah. Dia juga punya fotonya banyak."
"Hanabi?"
"Bukankah Hima pernah bilang nama mama kalo lagi sama paman?"
"Apa mereka main game? Dan selalu hadir diacara game?" tanya Naruto cepat.
"Iya"
Jadi bocah itu Hana adalah Hanabi yang merupakan Hinata, ibu Himawari. Pantas saja, dia berani pada Naruto. Dia pasti terlihat menggelikan di mata Hinata saat tak mengenalinya. Ada satu nama lain yang disandang Hinata, astaga Naruto juga melupakannya.
Setelah mengetahui ini, kenapa Naruto tidak syok? Hinata dengan berbagai kepribadian? Naruto jadi penasaran apa yang telah terjadi padanya?
Naruto world : ON
Aku membawa Sarada yang masih terlelap tidur digendonganku. Gadis ini sepertinya sangat lelah dengan semua yang telah terjadi hari ini. Sakura menatapku menyelidik. "Kalian baru pulang?" tanya Sakura.
"Kami bermain seharian"
"Oh."
Aku berlalu dari ruang tamu, tidak hendak berbasa basi lebih lama dengannya. Setelah menurunkan Sarada di tempat tidur, segera saja aku melanjutkan Membaca buku novel Hinata.
Cincin lamarku memang pernah jatuh, disini cincinku juga jatuh. Spertinya ada wanita cantik saat itu yang mengembalikan Cincinku. Di cerita lain aku datang ke pesta bersamanya, tapi sesuatu terjadi. Sesuatu yang besar, ah saat Sasuke membawa Sakura ke pesta ualng tahun perusahaannya.
Semuanya nampak sama dalam ingatan Naruto, sudut pandang Hinata sangat menarik. Saat melahirkan Himawari. Aku mengenggam tangannya dan mengatakan kata -kata manis. Dan nama Himawari adalah opsi lain nama Sarada, aku bilang aku suka nama itu tapi aku menyerahkan pilihan namanya pada Sakura.
Semua ini membuatku pusing, aku pernah menemani- astaga aku menemaninya melahirkan Himawari saat itu. Dia sangat mengejutkan! Tapi kenapa dadaku tidak bergemuruh, tak merasakan getaran -getaran cinta juga? Aku tidak mungkin mencintainya hanya dengan gairah dan nafsu belaka bukan?
Esoknya saat aku mendapat jatah istrirahat aku segera menelusuri jalanan menuju caffe akatsuki. Waktu Himawari akan lahir, kurama mogok tak jauh darinya, ya dan Aku menyelamatkannya yang hampir tertabrak sepeda.
Sampai di pintu caffe aku melihat dimana aku sering duduk, tepat dibelakangnya memang ada kursi lain. Aku duduk di sana dan cukup terkejut, dari sana aku bisa melihat keseluruh caffe, tempat duduk yang biasa kupesan juga sangat terlihat jelas. Tapi, benarkah Hinata sering duduk di sini dan mengamatiku?
"Ah tumben tuan tidak duduk di meja biasanya" tanya seorang pelayan yang sepertinya hapal pada wajahku.
"Apa kau tahu wanita yang sering duduk di sini?"
"Tentu saja tuan, dia pelanggan tetap sekaligus pemilik caffe ini."
"Ah souka."
"Apa sedang ada masalah tuan? " tanya si pelayan.
"Yah masalah besar kurasa" jawabku asal.
"Miss pasti bisa membantu anda tuan. Dia biasa menangani masalah perusahaan"
"Miss?"
Pelayan itu mengangguk. "Aku tidak berbohong. Dia dipuji sekaligus ditakuti karena profesinya. Tunggu aku akan memberikan kartu namanya pada anda" ucap Si pelayan kembali ke dapur dan memberikan selembar kartu nama.
"Apa tidak apa-apa?"
"Miss selalu mengadakan pertemnuan dengan kliennya di sini. Saya rasa tidak masalah jika saya mempromosikannya pada anda. Dia pasti akan senang"
Aku tersenyum dan melihat kartu nama itu. Dan kartu itu mengejutkanku, Miss perfect. Satu hal yang tidak habis fikir, aku bertemu dengan Hinata yang berbeda selama ini. Hana dan Hanabi yang kekanakan tapi menggoda. Hinata yang pemalu, seorang ibu yang hebat, dan Miss perfect yang merupakan wanita karier yang nenekku kenalkan di pesta ulangtahun hotel.
Aku ingin sekali tertawa, astaga benar kata orang. Dunia memang sudah terlalu sempit di huni. Sebaiknya aku pergi sekarang.
Naruto world : OFF
oOo
Suara kertas-kertas yang dibuka cepat terdengar dari atas meja ruang tengah. Hinata sangat sibuk sekarang, membuka dan menganalisis berbagai data yang dia dapat maupun yang kliennya siapkan untuk membantu Hinata.
Ponselnya bergetar di samping telpon rumah. "Moshi-moshi miss sedang sibuk sekarang. " ucap Hinata, ponsel ini memang khusus untuk pekerjaan miss perfect.
'Tunggu Miss! Aku sedang dalam masalah genting sekarang"
"Apa sangat genting?"
'Sangat sangat genting. Aku tidak tahu solusi apa yang harus aku gunakan.'
"Baiklah. Kita bisa adakan pertemuan sore nanti. Kau bisa siapkan berbagai-"
'Aku harus bicarakan ini sekarang di telpon. Tolonglah miss'
Hinata mendengus kesal, "wakatta, aku dengarkan"
oOo
Himawari tersenyum senang melihat pria besar itu berjalan ke arah apartemennya. Himawari baru saja pulang dari sekolah. Telunjuk panjang itu berdiri di depan bibirnya, seolah mengerti Himawari hanya menangguk pelan dan meengucapkan salam sepelan mungkin.
"Begini.."
"Ya? Oh ayolah, kau membuang waktu berhargaku" keluh Hinata yang masih setia duduk di kursi.
"Bagaimana caranya aku mencintaimu?"
"Heh?"
"Bagaimana caranya agar aku juga bisa mencintaimu, Hinata?"
Himawari terkikik pelan disamping pria besar yang merupakan ayah biologisnya ini. Hinata segera berdiri dan berbalik karena suara Naruto bergema dalam ruangan ini.
"Kau bilang kita sedang memainkan sebuah game. Kau mungkin sudah berada jauh di depanku. Tapi pernahkah kau berfikir, kalau aku bahkan belum memulai startku?"
"Naruto"
"Kau adalah Hana. Kau adalah Hanabi. Kau adalah Hinata. Dan kau adalah Miss perfect. Mana diantara mereka yang mencintaiku?"
"Aaku bisa jelaskan semuanya"
"Aku tidak butuh penjelasanmu."
"..."
"Tapi kau harus mendapat hukumanmu, buatlah aku mencintaimu. Buat aku kembali berdebar karena cinta. Itulah tantangan di stagemu saat ini"
Hinata world : ON
Aku tidak mengerti, kenapa Naruto bisa mengetahui semuanya. Nama lain dirinya? Aku menatapnya dengan bingung.
"Kenapa malah diam saja?" tanya Naruto.
"Bagaimana caranya membuatmu jatuh cinta padaku?"
"Aku tidak tahu. Semua kepribadianmu menarik. Apa kau tidak mengalami gangguan?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aku sadar sepenuhnya. Kau mungkin bisa menebaknya"
"Masalah masa lalu?"
Aku mengangguk membenarkan ucapannya. Tanganku berkeringat dingin, rasa takut menyelimuti hatiku. Naruto dengan mudah mengetahui semua namanya. Bagaimana kalau Hizashi juga tahu sebelum persidangan terjadi? Lupakan pria tua itu dulu.
Tubuhku tersentak kaget saat Naruto menarik tanganku dan membelainya. Jantungku tidak mau berhenti berdebar kencang. "Pasti sulit melakukannya? Kau takut identitasmu yang lain diketahui orang lain kan? Hinata, aku tahu karena kau selalu ada di setiap kejadian mengejutkan dalam hidupku. Aku tahu itu dari bukumu"
"Buku?" oh benar, buku itu menghilang dari tong sampah saat aku hendak memungutnya lagi, aku melihat Himawari tersenyum lebar padaku. Anak nakal.
"Apa papa akan tinggal di sini?" teriak Himawari dengan senang. "Apa papa dan mama akan bersama lagi?"
"Hima. Tidak secepat itu" ucapku. "Papa masih punya sedikit lagi masalah"
Himawari terlihat murung dan menekuk bibirnya kecewa. Dia sudah tak sabar ingin melakukan kegiatan ayah dan anak secepatnya. "Nah ganti bajumu dahulu"
Tubuh mungil itu segera masuk ke dalam kamarnya. Aku kembali pada Naruto dihadapanku. "Kau sangat berbeda dengan Hanabi. Hana. Dan miss perfect."
"Aku sudah berusaha sekuat tenagaku agar tak ketahuan, tuan zombie" ucap Hinata dengan nada manja Hanabi.
Mata Naruto melebar seolah hendak menelanku. Telunjuknya menahan daguku lama. Tapi wajahnya tak hendak bergerak mendekat, aku tidak tahu kenapa, tapi dia seperti sedang menahan dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanyaku heran.
Naruto mendekatkan telapak tanganku ke dadanya. "Aku tidak bisa memilikimu hanya dengan gairah ini saja." lirih Naruto memperlihatkan shappire birunya yang terbakar gairah.
Aku merasakan detak jantung Naruto ditelapak tanganku, detak jantung yang teratur, sangat jauh berbeda dengan detak jantungku yang sudah menggila sejak tadi. Aku merasakan hatiku kecewa, tantangan di stage ini begitu sulit dihadapi. "Akan aku coba membuatmu jatuh cinta padaku" bisikku pelan.
"Aku menginginkannya segera terwujud."
Bibirku tersenyum kecil. "Kalau begitu, selamat datang di dalam game." aku menarik surai Naruto agar lebih mendakatiku dan ku kecup pelan bibirnya. Aku harus menahan mati-matian airmataku yang bersiap jatuh, Naruto belum mencintaiku, pandangannya melihatku dengan penuh gairah, apa aku harus menyerahkan cintaku pada gairahnya?
Hinata world : OFF
Tangan Naruto bergerak, mengelitik indra perasa Hinata. Menyentuh pelan, seluruh bagian tubuh Hinata. Naruto tahu Hinata sedang menahan rasa sakit dalam hatinya. Menahan airmata yang menggenang dipelupuk matanya.
Krek! Gigitan kecil dari gigi Naruto, membuat Hinata meringis dan menjatuhkan airmata yang ditahannya mati-matian, "menangislah jika kau ingin menangis" ucap Naruto mengecup kelopak mata Hinata yang tertutup.
Sebuah anggukan kecik diberikan Hinata pada Naruto. "Bolehkah aku memelukmu?"
"Tentu saja"
Pelukan rindu akhirnya bisa Hinata berikan pada Naruto, pelukan dari Semua sisi Hinata. Hangatnya tubuh Naruto, membuat Hinata enggan melepaskannya. "Hima juga mau dipeluk!" teriak Himawari berhambur ke arah Mereka.
oOo
"Shikamaru!" teriak Naruto sembari menggedor pintu apartemen milik Shikamaru.
"Medokusai!" bentak Shikamaru membuka pintu. "Ada apa?"
"Shika! Bagaimana caranya jatuh cinta?!" tanya Naruto antusias dan mengebu-gebu.
"Pfft" Temari menahan tawanya di dapur. "Hahahha" sedangkan Shikamaru tertawa lepas, inilah pertanyaan paling konyol yang pernah dia dengar. "Kau harus bertemu dengannya setiap hari dan membangun rasa cintamu padanya" jawab Shikamaru asal.
"Hah? Tidak jauh beda dengan caraku dulu"
"Itu cara kau mengaet wanita agar dia jatuh cinta padamu, sekarang kau gunakan pada dirimu sendiri!"
"Bagaimana cara itu berhasil pada diriku sendiri?!"
"Oh ya kau benar" ucap Shikamaru memasang wajah serius. "Lalu bagaimana kau jatuh cinta pada Sakura?"
"Itu.. Dia berwajah cantik. Berbody aduhai. Kukunya selalu dicat manis. Dia wanita sempurna untuk seorang pria tapi tidak dengan sikapnya"
"Nah itu salahmu! Benar-benar salah!"
"Salah?"
"Menurutmu kenapa Temari mencintaiku?"
"Kau pintar, hanya sebatas itu"
Temari meletakan cangkir teh dengan kasar di atas meja. "Dia pemalas, mementingkan game, tidak bisa mengurus dirinya sendiri, tukang tidur!" ucap Temari mengabsen kelakuan Shikamaru dengan dahi berkerut. "Dia bukan tipe laki-laki idaman!"
Mendengar itu Shikamaru mengangguk dengan tersenyum. "Kenapa kau mengangguk?" tanya Naruto.
"Itu semua memang kelakuanku" jawab Shikamaru. "Sekarang tanyakan kenapa dia mencintaiku?"
"Kenapa?" tanya Naruto melihat Temari.
"Entahlah. Aku juga sering berfikir kenapa aku bisa sangat mencintainya"
Gubrak! Nato benar-benar tidak paham kemana arah pembicaraan ini. Shikamaru masih tersenyum melihat ke arah Naruto.
"Aku melihat sosok seorang kakak dalam diri Shikamaru. Berada di dekatnya membuatku nyaman dan merasa aman. Dia tidak bisa diandalkan tapi dia pengertian" ucap Temari menggosok dagunya dengan telunjuknya. "Dia pasti sedang melambung sekarang" tambah Temari.
Naruto kembali melihat Shikamaru, senyumannya semakin mengembang. "Kau juga tahu aku mencintai game sepenuh hatiku. Dia seperti jelmaan game dalam kehidupan nyataku. Karena setiap hari bersama, aku semakin mencintainya."
Psst! Wajah Temari merah sempurna mendengar ucapan Shikamaru. Naruto tidak menangkap bagaimana cara jatuh cinta di percakapan ini, tapi mungkin Naruto harus lebih sering bersama Hinata dan melihat apa yang bisa Hinata lakukan untuk memukaunya.
oOo
Sementara itu, Hinata semedi dikamarnya selama berhari - hari. Di atas tempat tidur, berserakan berbagai buku. Seperti; how to love, find your love, memukai pria, dsb. "Aku tidak bisa! Tidak ada literatur tentang cinta!" keluh Hinata.
"Kau sedang apa?" tanya Naruto tiba-tiba muncul di kursi depan pc.
"Astaga! Kau yang asli atau imajinasiku?" teriak Hinata kaget.
"Kau fikir aku bisa masuk tanpa melewati pintu?"
"Kau benar."
"Apa yang sedang kau baca?"
"Buku tentang jatuh cinta"
"Kau akan menggunakannya padaku?"
"Akan aku coba"
"Cinta itu bisa dibuatkah?"
"Dibuat?"
"Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku?"
"Aku tidak tahu. Aku melihatmu hampir setiap hari kecuali sabtu dan minggu di caffe. Aku suka saat kau minum atau makan. Aku suka saat melihat senyummu. " fikir Hinata "rambutmu seolah bersinar seorang diri"
"Huum? Apa kau tahu seperti apa diriku sebenarnya?"
"Dirimu yang sesungguhnya?" Hinata menatap Naruto lama. Shappire yang bergairah, amarah Naruto, sisi lemahnya juga. Semua Hinata baru melihatnya, dan jujur saja Hinata tidak suka semua sikap itu ada pada diri Narutonya.
"Apa kau bisa mencintainya juga?" tanya Naruto serius. "Ada banyak hal yang belum kau ketahui tentang diriku."
"Aku bisa mencin-"
"Cobalah untuk lebih mencintaiku dengan mengetahui aku seutuhnya. Saat kau sudah mencintaiku seutuhnya maka waktu yang akan membuktikan, aku akan menyatakan cinta padamu secara tiba-tiba"
"Apa kau yakin? Maksudku kau menyuruhku membuatmu jatuh cinta, sekarang aku harus mengamatimu saja?"
"Tepat sekali. Good luck"
Naruto menghilang dengan cepat setelah mengatakan good luck. Hinata fikir akan mencoba memukau Naruto sedikit demi sedikit. Tidak salah mencoba sambil mengamati Narutokan?
oOo
"Ohayou" sapa Naruto yang sudah duduk diatas kursi.
Dengan sigap Hinata mematikan kompor, hampir saja dia menumpahkan omelet yang sengaja dia buat untuk bekal Himawari. "Kau membuatku kaget" seru Hinata berbalik dan bersiap mengomeli Naruto, tapj segera diurungkannya niat itu melihat Sarada di belakang Naruto.
"Ohayou mama Hima" sapa Sarada.
"Nee-chan!" teriak Himawari menghambur dari dalam kamarnya. Tangan kecilnya segera memeluk Sarada erat.
"Aku tidak bisa bernafas" keluh Sarada.
Himawari segera melepaskan pelukannya. "Mama mana bekalnya?" tanya Himawari tak sabar.
Hinata segera mengambil kotak bekal yang sudah setelah terisi dan memasukan omelet dari atas wajan.
"Hati-hati di jalan" ucap Hinata mencium pipi Himawari.
"Belajar yang rajin" nasehat Naruto mengacak surai Sarada dan Himawari.
"Kau tidak mengantar mereka?" tanya Hinata heran.
Naruto tersenyum tipis, "hari ini aku cuti. Kau juga harus cuti, oke?"
"Kenapa aku juga harus cuti? Aku ada acara Hanabi hari ini"
"Batalkan."
"Baiklah, tuan besar. Kau mau makan apa?" tanya Hinata berbalik ke arah kompor, semburat kemerahan muncul di pipinya karena Naruto memaksanya cuti hari ini.
"Kau mau memukauku dengan masakanmu?"
"Eh?"
"Apa kau bisa menjamin aku menyukai masakanmu?"
"Eeh?"
"Aku paling sulit dibujuk dengan masakan buatan sendiri"
'Dia kenapa sih.?' fikir Hinata segera menghilangkan semburat merah di pipinya. Namun dirinya segera mengingat perkataan Naruto imajinasinya sebelumnya, kalau Hinata belum tahu Naruto seutuhnya. Hinata mengurungkan niatnya memasak kesukaan Naruto dan hanya membuat telur mata sapi.
"Hanya ini?" tanya Naruto melihat hanya sebuah menu yang Hinata sajikan di atas meja.
"Aku sedang tidak mood memasak" jawab Hinata menyantap sarapannya.
"Makanan sederhanapun kau buat aneh. Lihat sisi telurnya terlalu kering dan kuningnya belum sempurna." komentar Naruto.
Hinata menahan dirinya sendiri dengan mengenggam erat sendok di tangannya. Komentar Naruto benar-benar tidak berguna. "Kalau kau tidak mau, buat sendiri saja" desis Hinata segera menusuk telur itu dengan garpu dan memindahkannya ke dalam piring miliknya.
Tidak ada komentar dari bibir Naruto, tubuhnya segera bangkit dan berjalan ke arah kulkas. Hinata enggan berbalik untuk melihat apa yang Naruto akan lakukan. Suara mentega yang bertemu telur terdengar ketelinga Hinata. Bau harum menyeruak, Hinata sampai tidak bisa menahan gelombang air liur yang siap tumpah. Seumur hidup dia memasak belum pernah dia mencium bau harum seenak ini dari masakan.
Tidak! Hinata tidak akan melihat apa yang Naruto lakukan. Kuatkan dirimu Hinata!
"Silahkan dicoba" ucap Naruto meletakan piring di depan Hinata.
Sejak kapan? Sejak kapan Naruto selesai memasak? Bahkan bau harumnya belum hilang. Hinata memfokuskan penglihatannya pada piring yang baru diletakan Naruto. Apa dia sedang bercanda? Itu telur mata sapi yang sama yang Hinata buatkan untuk mereka.
"Ini hanya telur mata sapi? Kau memasak masakan yang sama denganku" protes Hinata, menepis harum yang menguar dari telur dihadapannya.
"Coba makan saja. Perbedaannya jauh sekali dengan buatanmu"
Hinata menekuk bibirnya ke bawah, dipotongnya telur itu dengan sangat kecil, dari baunya saja sebenarnya sudah membuat Hinata tertarik memakannya, tapi Naruto tidak boleh merasakan kemenangan secepat ini. Eh sejak kapan ini menjadi adu ketangkasan? Perlahan Hinata meletakan potongan telur itu didalam mulutnya, indra pengecapnya merasakan perpaduan rasa telur yang sempurna.
Hinata tidak percaya ini, telur itu seolah bukan olahan telur sederhana. Naruto tersenyum penuh kemenangan dihadapannya.
"Aku akui ini enak. Terima kasih atas masakannya. Aku akan tetap bekerja hari ini" ucap Hinata menghilangkan senyum di bibir Naruto.
"Eh? Kau bilang setuju cuti? Baiklah hari ini aku akan menjadi sopirmu" ucap Naruto.
"Aku bisa bawa mobil sendiri"
"Ayo" paksa Naruto menarik tangan Hinata keluar apartemennya.
Naruto world : ON
Kacau! Semuanya kacau! Kenapa aku harus mengkritik masakan Hinata? Disampingku Hinata duduk dengan wajah kesal. Hell yah aku harus bersamanya seharian ini mungkin beberapa hari kedepan atau beberapa minggu bisa jadi berbulan bulan.
Aku harus bisa jatuh cinta padanya. Harus! Demi masa depan anak-anak dan diriku tentunya. Aku sudah bosan hidup seperti zombie.
"Kau marah padaku?" tanyaku memecahkan kesunyian yang tercipta diantara kami.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau hanya diam saja. Jika kau Hanabi, kau tidak akan diam seperti ini"
"Aku tidak marah"
"Apa kau yakin?"
"Dengar ya! Aku tidak marah hanya kesal! Ups" Hinata segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Aku segera menepikan mobilku, kami harus segera baikan sebelum ini menjadi bencana yang memisahkan kami lebih jauh lagi. "Dengar aku tidak bermaksud apapun tentang sarapan tadi" ucapku tulus.
Aku melihat Hinata membuang wajahnya ke samping. Dia benar-benar kesal rupanya. "Tapi ini juga sebagai bagian dari tantangan di stagemu juga"
"Jangan samakan ini dengan stage yang sedang aku hadapi" suara Hinata terdengar dalam dan pelan.
"Jika kau mencintaiku, kau harus mencintaiku seutuhnya"
Dengan cepat Hinata menatapku dengan tatapan tak percaya, mulutnya terbuka tapi tak mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang salah? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Astaga!
"Maaf" ucapku dengan sangat pelan. Kualihkan tatapanku ke arah kemudi mobil. Aku jadi pengecut lagi. Aku segera meraih kunci mobil. Namun tangan lembut Hinata menahanku.
"Aku kesal padamu. Aku sangat kesal karena tidak bisa memukaumu, kedepannya akan semakin sulit" ucap Hinata, bibirnya entah sengaja atau tidak dia gigit pelan.
Rasanya darahku berdesir sampai ke pangkal pahaku hanya dengan melihatnya mengigit bibir, apa dia tidak sadar atau dia ingin mencoba memukauku lagi?
"Aku belum kenal semua sisi Naruto, sedangkan kau sudah mengenaliku di semua sisi" ucapanya terdengar sangat jauh dari indra pendengaranku. Lagi, dia mengigit bibirnya. Guratan kemerahan tercetak di bibir yang dia gigit. Aku ingin memakan bibir itu segera.
"Akh!" suara jeritan tertahan dari bibirnya saat aku menangkap kedua tangannya dan mengangkatnya ke udara. Hinata menatapku intens. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Hentikan itu"
"Hentikan apa?" tanya nya bingung.
"Mengigit bibirmu."
Bukannya mengerti Hinata malah mengulangi kegiatannya. Aku tak habis fikir hanya dengan gerakan sekecil itu membuat sekujur tubuhku memanas dan aliran panas itu berpusat ke pangkal pahaku. "Apa kita bisa melakukannya?" tanyaku dengan nada yang dalam. Aku ereksi total, mereka sudah berkumpul di ujung milikku yang masih terjepit, aku benar-benar menderita sekarang.
"Tapi ini di jalan dan ini siang hari" ucap Hinata dengan nada takut dan khawatir melihat wajah menderitaku.
Aku mengerang dan melepaskan Hinata, punggungku bersadar dengan tegang. "Beri aku lima menit untuk menangkan diri"
"Apa aku yang harus menyetir?"
"Tidak! Dan jangan sentuh aku dulu" cegahku saat Hinata hendak menyentuhku.
oOo
Aku berdiri jauh dari panggung tempat Hinata berdiri. Tubuhku tak kunjung membaik sejak tadi, malah semakin parah, aku tak sadar Hinata mengenakan rok pendek di atas lutut, masih terlihat sopan tapi lekuk kakinya terlihat jelas, kaki yang terlihat kencang dan kh aku semakin menderita.
Aku harus melepaskannya segera. Sekarang juga, dengan caraku sendiri. Aku hendak pergi saat seorang fans Hinata naik ke atas panggung dan dengan cepat mengecup pipi Hinata sekilas.
Hinata terdiam lama, kemudian tersenyum canggung. Aku segera meninggalkan tempat itu menuju toilet.
Sial! Aku segera mengeluarkan milikku saat aku sampai di salah satu ruang toilet. Dia benar-benar tegang dan panas. Membelainya saja takkan pernah cukup. Aku mulai melingkarkan telunjuk dan ibu jariku diseputarnya. Mulutku mengerang pelan. Gairah ini benar-benar memuakkan.
Aku mencoba memasukan Hinata sebagai objek fantasiku, lagi aku mengerang pelan. Tapi bayangan Hinata yang dicium tadi membuatku menghentikan semuanya. Kenapa aku masih memikirkannya? Kenapa aku harus kesal saat Hinata di cium tadi? Padahal hanya di pipi?
Aku kembali menggerakan tanganku lebih cepat. Meski rasa panas semakin memusat, fantasiku selalu buyar saat Hinata di cium tadi. Aku kesal! Dengan cepat aku memaksa milikku kembali ke dalam, teriakan sesak harusnya terdengar jika dia bisa bicara.
Bruk! Aku kembali terdorong masuk saat melihat Hinata berdiri di depan toilet, dengan cepat dia mengunci pintu, bagaimana bisa dia masuk ke toilet laki-laki. "Ada apa?"
"Aku tahu kau sangat menderita" ucapnya mencoba menyentuhku, aku segera mundur dari jangkauannya. "Jangan sentuh aku dulu, jika kau melakukannya aku tidak bisa menahannya lagi." larangku. Dengan ruangan sempit ini, aku tidak bisa bergerak leluasa untuk menjauh.
"Kalau begitu aku akan menyentuhmu. Aku tidak keberatan melakukannya"
"Tidak, ini sama saja dengan menyakitimu"
"Aku akan mengabaikannya."
"Demi tuhan Hinata, ayo kita keluar dari sini, aku akan mencari cara lain untuk menenangkan gairahku"
"Tidak! Tidak boleh!" teriak Hinata.
"Ssst kita ada di toiler umum."
"Tidak boleh ada yang lain! Aku mencintaimu! Aku tidak mau ada yang lain lagi! Tidak boleh!" teriak Hinata lagi.
Tuhan, dia salah mengartikan ucapanku! Aku menjambak suraiku dengan kesal.
Deg! Aku merasakan jemari Hinata menyentuhku. Aku kembali mengerang, milikku semakin bangun dan kembali ereksi. Aku melihat Hinata dengan tatapan penuh gairah dan bertanya-tanya. "Hinata hentikan." desisku.
Aku bernafas lega saat Hinata menarik tangannya, tapi tangan langsung itu bergerak mengangkat rok selututnya hingga memperlihatkan v dengan renda tipis. "Aku sudah malu melakukan ini. Jangan tolak aku" ucapnya dengan pipi kemerahan, menahan malu.
Aliran darahku semakin deras mengalir, bukan salahku kali ini. Aku menarik wajah Hinata mendekat. Menghembuskan nafas berat milikku ke wajahnya sebelum melumat bibir yang mengodaku tadi.
Aku duduk diatas kloset dan menarik Hinata duduk dipangkuanku. Miliknya sekarang tepat diatas milikkku yang sudah tegang sempurna didalam celanaku. Tidak baik memulai bersenang senang tanpa memanjakan pasanganku dulu.
Telingaku mendengar desahan yang keluar dari mulut Hinata, desahan pelan nan seksi setelah sekian lama aku tak mendengarnya. Tanganku menyentuh seluruh bagian tubuh Hinata, yang membuatnya mengeliat, menggesekan kenikmatan yang membuatku mengerang.
Saat kebutuhan oksigen memaksa kami berpisah, aku mengatakannya saat memiliki kewarasan. "Kita bisa berhenti sekarang, atau tidak pernah berhenti sampai ini selesai"
Hinata hanya mengangguk dan menarik tanganku ke atas miliknya. Basah tapi sejak kapan? "Aku mungkin sakit melakukannya tanpa cinta tapi tibuhku selalu merindukanmu juga."
Perlahan aku membuka pelindung tipis miliknya melalui kaki kiri, Hinata membantuku menarik sleting yang seperti akan macet jika tak dibuka segera. "Milikmu" gumam Hinata menyentuh pelan milikku.
Tanpa di suruh Hinata memposisikan dirinya tepat diatas milikku perlahan turun membenamkan diriku ke dalam dirinya. Aku mengerang merasakan sempit dan panasnya milik Hinata.
"Ah" dengan sempurna milikku tenggelam dalam diri Hinata, perutku terasa bergelenyar. Ini terasa sangat berbeda, aku segera meremas bongkahan kenyal pantat Hinata.
Tubuh Hinata mulai naik turun dengan konstan di bantu tanganku. Lenguhan tak bisa lagi Hinata tahan. Aku ikut mengerang merasakan tusukan-tusukan yang sedang memanjakanku.
Aku berdiri tiba-tiba membuat Hinata dengan cepat melingkarkan kedua kakinya dipinggangku, aku menahannya ke pintu toilet dan mulai menusuk miliknya. Sebelah kakinya berpijak ke lantai sementara kaki yang lain aku tahan agar tetap terbuak lebar, membuatku leluasa memasukinya.
"Hinata," desisku menaikan tempo.
Tubuh Hinata bergerak mengikuti tusukanku, "Na-Naruto"
"As you wish my princess"
Tubuh Hinata bergetar milik Hinata meremas kejantananku dengan sempurna, saat cairan hangat membanjiri kejantananku, aku mengerang menumpahkan sperma milikku dalam dirinya.
Naruto world : OFF
oOo
Hinata memasang wajah sedih, ini sudah berhari-hari sejak kejadian itu terjadi di toilet umum, dengan senang hati Brotherbee dan Shino membantu Hinata menyeterilkan area itu.
Bukan. Bukan itu masalahnya, tapi Naruto! Dia dia menghilang sejak itu, jika Hinata tanya pada Sarada maka jawabannya ayah pergi pagi-pagi sekali dan pulang sangat larut. Dia apa dia menyerah padaa Hinata?
"Hinata? Oy Hi-na-ta~" panggil Ino melambaikan tangan dihadapan Hinata.
"Ino~ aku sedih sekali. Dia menghindariku berhari-hari" lirih Hinata, melepaskan ototnya hingga kepalanya menyentuh meja restoran fast food yang mereka singgahi.
"Dia Tuan Namikaze atau Naruto?"
"Tentu saja Naruto."
"Mungkin dia sibuk di kantor."
"Mungkin.. Huuu..."
"Sudahlah Hinata! Mari dengarkan kasus Hizashi."
"Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu pengadilannya di gelar minggu depan."
"Good job!" puji Ino memberikan 2 jempolnya.
"Jangan memberi jempol dulu" ucap Hinata menurunkan tangan Ino. "Apapun bisa terjadi sebelum hakim mengetuk palu vonisnya"
"Kau benar" ucap Ino. "Hinata lihat! Bukankah itu Sasuke Uchiha? Kenapa dia makan di sini?" tunjuk Ino pada Sasuke yang sedang duduk di meja tak jauh dari mereka. Bungsu Uchiha itu, duduk menghadap ke arah mereka. Di depannya duduk rekan bisnisnya yang terus mengoceh tentang bisnis.
"Mungkin retoran mahal yang selalu di kunjunginya bangkrut" komentar Hinata.
"kau sepertinya tidak menyukai bungsu uchiha itu?" selidik Ino.
"Dia? Tentu saja aku sangat benci dia!"
"Kenapa?"
"Rahasia"
Ino mengomel sendiri, rahasia lagi. Seorang pelayan mengantarkan secangkir es kopi ke meja mereka. "Aku tidak pesan es kopi" ucap Hinata melirik pelayan itu.
"Seseorang menyuruh saya untuk mengantarkan es kopi ini ke meja anda"
Hinata memandang lekat es kopi itu, "ini bencana"
"Heh kenapa bencana? Apa si Uchiha itu yang mengirimnya?" tanya Ino melirik sekilas pada Sasuke.
Hinata tak menjawab pertanyaan Ino, "aku harus kembali kerja."
"Terserah apa maumu" jawab Ino.
Ino membisu selama perjalanan menuju apartemen Hinata, ini tidak benar. Sesekali matanya melirik pada Hinata yang tenggelam dalam lamunannya. "Hinata kita sudah sampai"
"oh benar. Terima kasih Ino" jawab Hinata sembari tersenyum kecil.
"Kau akan segera menemukan jalan keluarnya"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Entahlah, mungkin memberikan semangat padamu"
"Terima kasih, Ino"
Kembali ke restoran tadi. Seringai tipis menghiasi bibirnya, sembari berdecak pelan, bibirnya berkata "keras kepala, seperti yang aku duga"
Tbc...
.
.
.
.
Gomen lama up.. akhirnya shanaz dapet kompie juga makasih do'anya... selain itu shanazz udah mulai sibuk sama kegiatan kampus , shanaz akan usahain up teratur 2 minggu sekali. Chap ini agak gaje, banyak terpengaruh novel harlequen :v
.
.
.
Mind to r&r?
