Previous…

"kenapa kau melakukan Ini padaku, aboji?"

Kemarahan Luhan sudah terkumpul di kepalan tangannya. Kakinya terus melangkah mendekat hingga tanpa sadar Luhan sudah berhadapan langsung dengan sosok yang dulu begitu ia kagumi.

Keduanya melempar pandangan yang berbeda.

Jika Luhan dipenuhi benci dan kemarahan

Maka sang jaksa menatapnya sendu, seolah meminta maaf dan menyesal karena malam mengerikan yang harus Luhan alami saat ini.

"nak."

Kali ini Luhan mengabaikan panggilan lembut ibunya, yang dia lakukan hanya terus menatap murka pada sang jaksa. Tak mempedulikan apapun selain menyuarkan hancurnya hati seorang anak melihat ayahnya disakiti dan diperlakukan layaknya seorang pembunuh.

"ANDA KETRLALUAN JAKSA OH!".

.

.

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

Selama dua puluh lima tahun hidupnya, ini adalah kali pertama Luhan merasa begitu marah, merasa begitu dikhianati karena hal yang sama sekali tak dia ketahui dan membuatnya terlihat seperti orang bodoh.

Terlebih hari ini, memasuki hari kedua ayahnya mendekam di penjara maka tak ada satu hal pun yang dilakukan sang ibu. Tidak menjenguk tidak pula berniat membebaskan ayahnya, membuat satu-satunya darah daging Chen dan Baby itu terlihat geram, khusunya ketika berbicara dengan sang ibu seperti pagi ini.

"Aku berangkat."

"Lu, sarapanmu nak."

Luhan tertawa pahit, sungguh dibanding dengan sang ayah selama ini dia lebih dekat dengan ibunya. Tapi ketika musibah ini terjadi di keluarga mereka dan ibunya hanya diam, Luhan menyeringai kecil. Dia pun tak segan bertanya kasar sementara wajah pucat Baby sudah terlihat, bukan karena suaminya yang mendekam di penjara. Tapi melihat Luhannya begitu marah adalah hal yang membuatnya sangat cemas.

"Bagaimana bisa mama bersikap tenang seperti ini?"

"Lu,"

Luhan meletakkan lagi jas putihnya, kasar. Dia kemudian menghela dalam nafasnya untuk berkata sangat kesal pada ibunya "Lakukan sesuatu Ma! Kenapa mama hanya diam? Suamimu dituduh sebagai pembunuh dan ini yang mama lakukan?"

"Luhan..."

"Mama bahkan tak menangis sama sekali! MAMA TERLALU TENANG DAN LUHAN BENCI MELIHATNYA!"

Blam...

Setelah membanting kasar pintu rumah mereka, Luhan pergi tanpa satu kata pun. Meninggalkan satu-satunya wanita di rumahnya terisak pilu dengan bibir bergetar tanda sangat mengkhwatirkan putranya.

"Nak...hksss."

Baby menghapus cepat air matanya, dengan gemetar dia mengambil ponsel untuk menghubungi salah satu nomor di panggilan cepat yang tertera di ponselnya "angkat Jihyo." Begitulah dia bergumam, wanita yang masih terlihat cantik bahkan di usianya yang sudah memasuki kepala lima itu terisak hebat.

Dia merasa sangat ketakutan, mencoba mengerti posisi Luhan dan memutuskan bahwa Luhan berhak diberitahu rencana yang dibuat suaminya dan suami Jihyo

"Baby?"

"Jihyo, kita harus—hhks."

"Baby tenanglah. Ada apa?"

Wanita cantik itu terisak dengan tangan mencengkram kuat dadanya. Berusaha untuk mengatakan hal yang dilarang suaminya namun tak mungkin dia simpan lebih lama mengingat Luhan begitu benci dibohongi dan dibodohi seperti ini.

"Baby?"

Yang dipanggil namanya terdengar menarik nafas, kemudian dia menenangkan diri sejenak untuk mengatakan "Kita harus memberitahu Luhan malam ini."

.

.

.

.

Blam...!

"Itu dia putra mantan detektif Xi!"

"Kau benar! Ayo kita wawancara dia."

Jujur Luhan datang lebih awal untuk mendapaLuhan baru saja tiba di basement rumah sakit, namun alih-alih mendapatkan ketenangan dia justru harus menghadapi media yang entah mengapa sangat tertarik dengan kasus yang melibatkan sang ayah.

"Apa benar kau putra dari Detextif Xi?! Apa tanggapan anda mengenai status Detektif Xi menjadi tersangka kasus pembunuhan dua puluh tahun lalu?"

Sontak, Luhan terkejut dengan kerumunan wartawan yang menghampirinya. Dan ketika posisi kamera on, Luhan segera menghindar, berusaha untuk segera masuk ke dalam gedung rumah sakit namun sulit karena banyak media yang meliputnya.

"Beri kami sedikit jawaban dokter Xi. Apa yang sebenarnya terjadi? Bisa anda ceritakan?"

Layaknya seorang selebriti, wajah Luhan sudah memenuhi layar kamera. Yang membedakan jika selebriti mungkin menyambut baik rekan media sementara dirinya dibuat geram karena terus mendengarkan pertanyaan-pertanyaan menjijikan dari wartawan.

"Permisi, biarkan aku lewat."

"Jawab kami sebentar Tuan Xi. Apa yang terjadi pada ayah anda? Mengapa seorang mantan detektif terlibat pembunuhan ayah dari Jaksa Oh? Bagaimana tanggapan anda?"

"Permisi."

Seberapa besar Luhan mengelak, maka sebesar itu pula tekanan yang dia dapatkan dari seluruh kru media. Dia bahkan tak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali karena begitu takjub dan tak menyangka bahwa media Korea benar-benar tertarik pada kejadian dua puluh tahun lalu.

"Jika anda hanya diam, itu artinya anda membenarkan pembunuhan yang dilakukan detektif Xi. Benar?"

"brengsek….Berani sekali kau!"

Sret..!

Awalnya Luhan akan mengumpat marah, tapi tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap. Dia juga bisa merasakan seseorang mendekapnya dan membawanya pergi dari kerumunan media yang terus mengganggunya.

Merasa sudah dibawa ke tempat sepi, Luhan meronta. Dihempasnya tangan yang mendekap tubuhnya untuk membuang sejenis mantel yang digunakan untuk menutupi wajahnya "Lepas! Siapa kau? Berani sekali kau-….Professor Yoon?"

Tatkala wajah Doojoon yang terlihat, Luhan begitu terkejut. Dia tak menyangka pria yang menariknya menjauh dari kerumunan adalah pria yang sama yang pernah bertahan hidup dengannya dua puluh tahun lalu,

Ah benar, papa.

Tiba-tiba Luhan teringat janjinya untuk bertanya pada sang papa. Bertanya mengapa dia meninggalkan Doojoon dan hanya menyelamatkannya saat itu "Professor, maaf saya tidak bermaksud-…."

"Apa kau sudah sarapan?"

"huh?"

"Seingatku kau akan menangani operasi besar pagi ini. Jadi apa kau sudah sarapan?"

Luhan terkesiap, lagi-lagi dia tak berani menatap Doojoon dan hanya menggeleng sebagai jawaban "Belum Professor."

"Kalau begitu ikut aku."

"Kemana?"

"Sarapan tentu saja. Cepat! Ada yang perlu aku beritahu padamu."

Refleks, Luhan mengangguk. Dia pun buru-buru mengikuti Doojoon untuk mengetahui hal serius apa yang akan diberitahu Professornya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Berita mengejutkan datang dari Jaksa tertinggi, Oh Insung. Kabar menyebutkan bahwa jaksa tertinggi di kejaksaan agung itu telah menemukan siapa pembunuh yang bertanggung jawab atas kematian Presiden direktur sekaligus calon perdana menteri yang merupakan ayah kandungnya dua puluh tahun lalu, Oh Yunsoo.

Adalah detektif berkebangsaan Cina Xi Lichen yang menjadi tersangka utama. Dan kabar menyebutkan bahwa kasus ini akan mengarah pada hukuman mati mengingat mantan Detektif Xi bersembunyi di negara lain untuk menghindari hukum yang sedang mengincarnya selama dua puluh-…

Pip!

"Mereka pikir aku badut tolol yang sama?"

Kini suara geraman terdengar dari satu-satunya pria keji yang terlibat dari kasus dua puluh tahun lalu. Kasus yang membuatnya harus kehilangan satu mata dan satu-satunya kesempatan untuk menjadi kaya raya hanya karena campur tangan detektif sialan yang secara tiba-tiba mendekam di dalam penjara.

"brengsek! Aku tahu ini jebakan. Berani sekali mereka mencoba memancingku. Sial! Aku akan tetap membunuhmu, Chen. Bagaimanapun caranya, aku akan tetap membunuhmu."

"Presdir Ko."

Pria bermata pirates itu menoleh ke asal suara. Menebak siapa yang memanggilnya hingga seringai terlihat saat melihat Seunghyun, kaki tangannya yang lain tengah berjalan dengan sosok membunuh yang sangat mengerikan di auranya, memberikannya sebuah ide.

"Seunghyunna aku senang kau datang."

"Ada apa memanggilku Presdir Ko?"

"Awalnya aku ingin membawamu ke perjalanan bisnis minggu depan, tapi aku rasa aku memiliki pekerjaan lain untukmu."

"Benarkah? Dengan senang hati aku akan melakukannya."

Lagi-lagi seringai mengerikan yang ditujukan Seunghyun, membuat Ko Donghoon sangat bersemangat dan tak sabar menjadikan dirinya pemenang untuk kasus dua puluh tahun yang lalu.

"Detektif sialan itu sepertinya memiliki rencana dengan Jaksa Oh, aku bisa memastikan mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjebakku."

"Lalu? Apa yang harus saya lakukan?"

Si pria dengan satu mata itu kembali menyeringai, dia kemudian menatap intens Seunghyun dengan satu matanya lalu berkata "Doojoon akan mengurus istrinya, sementara kau akan mengurus suaminya."

"Apa itu artinya kami akan membunuh pasangan suami-istri Xi?"

"yap! Tepat sekali."

Seunghyun bersemangat, rasanya sudah lama dia tidak membunuh. Jadi ketika dia mendapatkan perintah maka rasanya dia bisa melakukan segala cara untuk kembali menjadi tim inti di perusahaan gelap milik Donghoon "Lalu bagaimana dengan putranya?"

Donghoon menyunggingkan senyum pahit lalu berujar sangat geram "Doojoon bersedia membunuh istri detektif sialan itu dengan syarat tak ada yang bisa menyentuh putranya. Selama bocah itu tidak membuat masalah, aku rasa Doojoon bisa memilikinya."

"Dan kau membiarkan dia hidup hanya karena Doojoon menginginkannya?"

"Kita masih membutuhkan si pembangkang itu. Sudahlah, yang aku inginkan malam ini. Kalian berdua membunuh di waktu bersamaan. Tugasmu adalah menyusup ke penjara kejaksaan sementara di waktu yang sama, Doojoon akan menghabisi istrinya dan HAP! Aku menggenggam kemenangan mutlak atas hidup detektif sialan itu! Kau mengerti?"

"Tentu saja! Saya akan melakukannya malam ini Presdir Ko, sampai bertemu nanti malam."

"Pastikan kau membawa kabar gembira untukku."

Bagai Psikopat, Seunghyun menyunggingkan senyum mengerikan untuk mengatakan "Aku akan membawakan darahnya untukmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau tahu kenapa kasus ayahmu ini menjadi sangat menarik?"

Yang tidak Luhan mengerti, sepertinya Doojoon begitu tertarik dengan kasus yang menimpa ayahnya. Karena daripada membicarakan tentang percakapan mereka malam tadi, Doojoon lebih memilih membicarakan detektif yang jelas-jelas meninggalkannya seorang diri dua puluh tahun lalu.

"Apa?"

"Karena Presdir Oh kala itu merupakan kandidat terkuat yang akan maju sebagai calon perdana menteri Seoul."

"Benarkah?"

"Ya."

"Darimana anda tahu?"

Gugup, Doojoon sedikit bergerak cemas. Berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan sementara mata Luhan menyelidiknya dengan rasa ingin tahu "Aku mencari artikelnya."

"Kenapa kau mencari artikel tentang ayahku?"

Sang professor tersenyum pahit, nyatanya selain dokter dia juga seorang pembunuh. Salah siapa itu? Tentu saja salah detektif ternama yang kala itu secara egois hanya menyelamatkan putranya dan meninggalkan dia dengan seorang monster yang merubahnya menjadi seorang pembunuh.

"Karena ayahmu berhutang penjelasan padaku."

"Penjelasan?"

"Alasan mengapa dia hanya datang menyelamatkanmu dan meninggalkanku disana seorang diri, alasan mengapa dia tak pernah kembali dan mengatakan padamu aku telah mati. Aku ingin mendengarnya."

Kali ini Luhan yang bergerak cemas, dia kemudian menatap bingung pada Doojoon untuk mengatakan sangat lirih "Maaf."

"….."

"Aku belum sempat bertanya pada ayahku."

"Tidak masalah. Aku sudah cukup senang bisa bertemu denganmu lagi."

Bohong jika Luhan tidak senang bertemu Doojoon, karena mau bagaimanapun Doojoon adalah teman berjuangnya untuk bertahan hidup di hari penculikan. Jadi ketika Doojoon mengatakan senang bertemu dengannya, maka rasanya Luhan jauh lebih bersyukur karena Doojoon masih mengingatnya "Saya juga senang bertemu dengan anda professor."

"Bicaramu seperti seorang residen."

"Aku memang residen."

"Tapi aku sedang bicara sebagai Doojoon, Yoon Doojoon, temanmu, itu pun jika kau masih mengganggapku teman."

"Tentu saja kau temanku Prof-….Joonie hyung. Kau temanku."

Doojoon tersenyum saat Luhan memanggilnya persis seperti dua puluh tahun lalu. Membuat batinnya sedang memberontak, tak ingin melakukan hal keji yang malam nanti akan dia lakukan pada ibu kandung Luhan, teman pertama dalam hidupnya.

"Lalu bagaimana dengan ibumu? Aku dengar dia juga seorang dokter."

"Ya, dia dokter spesialis anak."

"Hari ini dia bekerja?"

"Entahlah, aku tidak melihat jadwal prakteknya di Hanyang Hospital, ada apa?"

"Tida ada apa-apa. Maksudku, ibumu pasti terkejut saat ayahmu tiba-tiba dimasukkan kedalam penjara."

Tersenyum pahit, Luhan mengatakan sedikit kecewa "Mama terlalu tenang saat papa dimasukkan kedalam penjara."

"Apa kau tahu sesuatu?"

"Tentang apa?"

"Alasan mengapa ibumu terlalu tenang. Pasti terjadi sesuatu."

"entahlah. Aku merasa sangat dikhianati malam tadi."

"Kalau begitu jauhi seluruh keluarga Oh, Jauhi kekasihmu."

Luhan merasa risih, nyatanya Doojoon bicara terlalu banyak tentang keluarganya dan kekasihnya. Jadi ketika Doojoon mengatakan untuk menjauhi Sehunnya, Luhan merasakan orang asing di depannya sudah terlalu jauh meminta "Apa maksudmu? Kenapa aku harus menjauhi Sehun?"

"Karena keluarganya hanya akan membawa bencana di hidupmu."

Sret…!

Rasanya Luhan tak bisa lagi berbicara dengan Doojoon, semua yang dikatakannya menjadi tidak masuk akal dan membuat kepalanya sakit, dia pun segera mendorong kursi untuk membungkuk dan berpamitan pada pria di depannya "Aku rasa aku harus segera bersiap. Terimakasih untuk sarapannya Professor, saya permisi."

Tak lama Luhan benar-benar pergi meninggalkan kafe, membuat pria yang dia tinggalkan tersenyum dengan aura yang begitu mengerikan terlihat di wajahnya "Kalau kau tidak mendengarkan, maka aku benar-benar akan membuatmu membenci keluarga Oh, membenci kekasihmu, Luhan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari

.

Jujur sepanjang hari ini Luhan sama sekali tidak fokus pada pekerjannya. Dia bahkan dileluarkan di operasi besarnya pagi ini karena sangat tidak fokus. Pikirannya hanya tertuju pada sang ayah sementara hatinya tiba-tiba menjerit ingin bertemu dengan kekasihnya.

Ya, malam tadi Luhan berbuat sedikit kasar dengan berteriak pada ayah kekasihnya. Dia juga tak sengaja menampar Sehun hingga hanya tak memiliki keberanian untuk menghubungi Sehun sama sekali.

"Selamat malam dokter Xi."

"Malam."

Luhan membalas asal semua sapa lembut yang menyapa. Yang dia lakukan hanya berjalan menuju basement dan berniat untuk pergi ke penjara kejaksaan agar bisa bertemu dengan ayahnya.

"Selamat malam dokter Xi."

"Malam."

Biasanya dia akan berjalan beriringan dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Tapi sialnya, di saat dia membutuhkan dua sahabatnya maka Baekhyun memiliki jadwal operasi sementara Kyungsoo, lagi-lagi mengambil hari liburnya.

"Malam dokter Xi."

"Malam."

"Malam Luhan."

"Malam-..."

Tap!

Sedari tadi yang memanggilnya selalu menggunakan gelarnya sebagai dokter. Tapi ketika satu suara terdengar familiar memanggil namanya, refleks Luhan menoleh. Terlalu berharap jika yang memanggilnya adalah pria yang sedari tadi hatinya jeritkan minta untuk bertemu.

Luhan terus mencari asal suara, menoleh ke segala arah untuk menemukan sosok tampannya sedang berdiri dengan tangan terlipat seraya tersenyum ke arahnya "Malam dokter Xi, kekasihku."

Rasanya jantung Luhan akan melompat saat melihat kekasihnya, ketakutannya akan kemarahan Sehun seolah dibuat hilang dengan senyum tampan dari pria yang akan segera menjadi suaminya dalam hitungan hari "Sehunna."

"Hey sayang."

Tak hanya menyapa, Sehun bahkan sudah berjalan mendekati Luhan. Memeluk tubuh si mungil sementara dagunya dia letakkan manja di bahu Luhan "Sayangku."

Luhan tersenyum, tak perlu waktu lama pula dia membalas pelukan kekasihnya. Karena daripada marah, Sehunnya terlihat sangat memcemaskan dirinya terbukti dari caranya memeluk dan bertanya "Kapan kau datang?"

"Dua jam yang lalu."

"Kenapa tidak langsung mencariku?"

"Aku takut kau masih marah dan berteriak saat bekerja. Aku takut."

Luhan balas memeluk Sehun, dilingkarkannya lengan di pinggang kekasihnya sementara Sehun mulai menumpukan dagu di kepala kekasihnya "Harusnya itu ucapanku."

"Apa?"

"Kau marah padaku?"

"Untuk?"

"Sikapku malam tadi."

Sehun tersenyum lirih, walau nyatanya dia cukup khawatir dengan kebencian Luhan untuk ayahnya, tapi dia memiliki keyakinan pada Luhan.

Keyakinan bahwa nanti, sebelum hari pernikahan mereka. Hubungan Luhan dan ayahnya akan kembali seperti dulu, harapnya.

"Kau tahu kan? Aku tidak pernah bisa marah padamu."

Diciumnya pucuk kepala Luhan sebelum dua tangan kekarnya mendekap semakin erat Luhan di pelukannya "Apapun yang kau lakukan. Terlepas itu benar atau salah. Aku yang akan selalu datang padamu. Akan selalu meyakinkan bahwa apapun yang kau lakukan, tidak akan pernah bisa membangkitkan rasa marahku."

"Kenapa seperti itu?"

"Ya karena aku mencintaimu. Sangat."

Luhan setengah mendongak di pelukan kekasihnya. Mencari kebenaran dari ucapan Sehun untuk menemukan senyum yang begitu tulus yang sedang diberikan Sehun untuknya "Apa benar-benar mencintaiku?"

Yang lebih tinggi menunduk untuk memberikan peck singkat di bibir si mungil. Mengiggit gemas disana untuk mengangguk dan mengatakan "Sangat."

Jujur hati Luhan merasa begitu hangat tiap mendapat perlakuan dan kata cinta dari Sehun. Merasa dirinya adalah satu-satunya pria paling bahagia di dunia karena memiliki sang kekasih.

Ya, andai kejadian malam tadi tidak mengusik harinya mungkin Luhan akan meminta Sehun menemaninya malam ini. Tapi mengingat sang ayah mendekam di penjara maka hati kecilnya kembali menangis dan tak bisa memungkiri bahwa seluruh pikirannya ada pada sang ayah.

"Kenapa tiba-tiba diam?"

Luhan terkesiap, didorongnya lembut tubuh besar Sehun untuk tersenyum sangat lembut "Tidak apa. Aku hanya sedang berfikir sesuatu."

"Apa?"

Merasa tak enak hati, Luhan menggeleng lalu menjawab berbohong "Bukan apa-apa."

"Mmhh... Apakah bukan apa-apa yang kau maksud adalah Papa?"

"huh?"

Sehun terkekeh, dia menyentil pelan dahi Luhan lalu mengecupnya penuh cinta "Tertulis di wajahmu jika kau ingin bertemu dengan papa."

Yang berparas cantik tak mau lagi mengelak, dia kemudian mengangguk lalu tertunduk sebagai jawaban atas keinginannya "Aku ingin melihat kondisi papa. Aku-...Sehun!"

Seolah tak membuang waktu lagi, Sehun kini menggengam jemari Luhan, sedikit menarik paksa jemari kekasihnya lalu membawanya tak bersuara menuju lobi.

"Sayang apa yang kau lakukan?"

Blam...

Sehun tak menjawab, yang dia lakukan hanya tersenyum sementara Luhan bertanya-tanya di dalam mobil

Blam...

Selang beberapa detik kemudian Sehun duduk di bangku kemudi lalu memasangkan seatbelt untuk Luhan "Sehun kita mau pergi kemana?"

Yang ditanya menampilkan senyum terbaiknya, dia juga mengecup jemari kekasih hatinya untuk memberitahu kekasih mungilnya kemana tujuan mereka pergi "Kita akan menemui papa di penjara kejaksaan."

"Tapi ini belum 48 jam, kita tidak bisa pergi kesana."

"Sstt... Jangan pikirkan apapun sayang. Biar aku yang mengurus segalanya untukmu."

"Tapi bagaimana caranya?"

Kini Sehun memasang seatbeltnya, bersiap untuk menginjak gas seraya menjawab "Aku akan menggunakan hak khususku sebagai keuarga anggota kejaksaan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Waktumu dua puluh menit untuk bicara dengan papa, masuklah."

Dan untuk memenuhi janjinya, maka disinilah Sehun dan Luhan, di dalam kantor penjara kejaksaan tempat ayah Luhan akan menetap untuk sementara. Dan sesuai janjinya pula, maka Sehun benar-benar menggunakan hak khususnya sebagai keluarga anggota kejaksaan untuk membawa Luhannya bertemu dengan sang ayah.

"Apa kau tidak akan terkena masalah?"

Sehun tersenyum kecil, dia mengecup bibir Luhan lalu menggeleng sebagai jawaban "Aku akan menunggu disini, masuklah." Katanya mendorong tubuh si mungil hingga hanya tatapan pasrah yang dilihatnya dari Luhan sebelum sang kekasih benar-benar masuk ke ruangan khusus yang biasa digunakan sebagai tempat antara pengacara dan klien bertemu.

"Gomawo Sehunna."

Sehun hanya mengangkat ibu jari tanda dia menerima ucapan terimakasih Luhan. Detik kemudian terdengar bunyi Klik yang menandakan bahwa Luhan dan ayahnya mungkin sudah bertemu saat ini.

"Setidaknya setelah ini, aku berharap rasa bencimu pada ayahku berkurang sayang."

Harapan seorang kekasih adalah membuat kekasihnya bahagia. Tapi bagaimanapun Sehun tetaplah seorang anak, dan doa terbesarnya sebagai anak adalah melihat hubungan antara kekasih dan ayahnya kembali seperti dulu, jauh sebelum ayahnya melakukan hal berlebihan pada keluarga kekasihnya.

.

.

.

.

Klik…

"Nak?"

Luhan cemas, dilihatnya sang ayah dengan tangan yang tetap di borgol sedang menyapa kepadanya. Hatinya bahkan dibuat sakit saat wajah ayahnya terlihat pucat hingga hanya rasa benci yang dirasakan untuk ayah kekasihnya "Pa! Papa…Bagaimana kabar papa? Papa sehat? Apa ada yang menyakiti Papa? Apa papa makan dengan baik?"

"Nak."

"Katakan padaku pa, aku akan segera mengeluarkan papa darisini, aku janji."

"Nak."

"Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti papa lagi. Aku akan—hkss…"

"Luhan."

Luhan tertunduk, tangannya terus menggenggam erat jemari sang papa sementara air mata cemasnya menetes deras dari matanya yang sudah kelelahan malam ini "Maaf tidak bisa melakukan apapun Pa. maaf."

"Luhan dengarkan papa."

Sedikit kesulitan, Chen mencoba untuk menangkup wajah Luhan, memaska satu-satunya putra yang dia miliki untuk menatapnya walau hanya rasa sakit yang keduanya rasakan "Jangan menangis, papa hanya sebentar berada disini nak." Sang ayah mengusap air mata putranya sementara Luhan hanya terus menatap sendu papanya dengan berlinang air mata "Pasti papa ketakutan."

Chen menggeleng, dia kini menggenggam erat tangan Luhan, mencoba menenangkan darah dagingnya "Papa lebih takut jika kau hidup dipenuhi rasa benci nak."

"Seumur hidupku aku tidak akan pernah memandang hormat padanya lagi. Tidak akan pernah!"

"Luhan, Insung ayah kekasihmu."

"Aku tidak peduli pa, aku hanya mencintai Sehun, bukan keluarganya apalagi jaksa sialan itu. Dia hanya keparat sialan yang melimpahkan kesalahan pada orang lemah seperti kita!"

"Nak."

"Jangan pernah membujukku untuk memaafkannya. Aku tidak akan pernah memaafan dia!"

"Baiklah Lu, sayangku. Kalau begitu janji satu hal pada papa."

Menyadari nada ayahnya sedikit kelelahan, Luhan bertanya-tanya. Dia pun segera mengangguk dan tanpa ragu menanyakan apa yang ingin dikatakan sang ayah "Apa Pa?"

"Jika nanti sebelum pernikahanmu papa sudah bisa keluar dari penjara. Maukah kau berdamai dengan calon mertuamu."

"….."

"Luhan?"

"Lusa aku menikah, lalu bagaimana bisa papa keluar dari penjara?"

"Papa akan keluar dengan segala cara, sungguh."

"Apa? Cara apa?"

Tersenyum lirih, Chen menyesal tak bisa memberitahu putranya "Maaf papa tidak bisa memberitahumu nak."

"Sudahlah."

"Kau sudah berjanji?"

"Baiklah! Jika papa keluar sebelum pernikahanku, aku akan mencoba berdamai dengan jaksa sialan itu! Tapi jika sampai terjadi sesuatu pada papa disini, aku bersumpah demi hidupku sendiri bahwa selamanya aku hanya akan membenci jaksa Oh yang begitu agung dan terhormat itu."

Chen tersenyum. Rasanya dia lega mendengar toleransi dari Luhan, karena jika benar apa yang dikatakan penyidik padanya satu jam yang lalu, maka malam ini Donghoon akan datang dan mereka sudah siap dengan seluruh rencana dan jebakan yang telah dibuat "Baiklah papa janji akan segera keluar."

Tak ada yang bicara lagi saat ini, dua anak ayah itu hanya saling menatap seolah ini hari terakhir mereka untuk bertemu. Luhan yang sama sekali tak mau berkedip, entah mengapa hatinya terus mencelos sakit meskipun lusa nanti ayahnya akan keluar dari penjara sudah dijanjikan, dia tetap merasa sedih.

"Mama bagaimana nak? Apa Mama baik-baik saja?"

"Mama?"

"mmmh.."

Luhan tersenyum lirih, dan secara tiba-tiba, selain ayahnya dia juga sangat merindukan ibunya. Terlebih saat mengingat kata kasar yang diucapkannya pagi ini, membuat Luhan benar-benar akan menangis lagi namun sadar jika hal itu hanya akan membuat cemas ayahnya "Lu?"

"Aku bertengkar dengan mama."

"Lagi?" sang papa tertawa dibalas kekehan oleh Luhan "Lagi."

"Dasar anak nakal. Kapan kau dewasa hmm?"

Luhan menghindari cubitan di hidungnya untuk menjawab asal "Entahlah. Aku tidak mau dewasa, selamanya aku hanya ingin menjadi Lulunya papa dan mama."

"deal! Selamanya kau hanya akan menjadi Lulunya papa dan mama."

Luhan menunjukkan sederetan giginya dan mengangguk bersemangat "deal!"

Sret…!

Bersamaan dengan jawaban Luhan, terlihat petugas yang masuk ke dalam ruangan. Refleks, Luhan melihat Arloji dan tak sengaja mengumpat marah menyadari bahwa dua puluh menit benar-benar sangat cepat "Apa waktuku sudah selesai?" ayahnya bertanya dijawab anggukan oleh petugas.

"Kau dengar Lu?"

"Tapi pa…"

Luhan tak rela, dia terus menggenggam erat tangan papanya hanya agar tidak dipisahkan begitu cepat "Dua hari lagi nak. Papa janji."

Chen yang melepas genggaman Luhan, dia pun segera berdiri dari kursi untuk kembali menasihati putranya "Cepat pulang dan minta maaf pada mama. Dia pasti sedih karena bertengkar denganmu."

"….."

"Luhan."

Luhan ikut berdiri, dia menghela nafasnya dengan tatapan sendu dan hati sedikit marah karena harus dipisahkan dari balik jeruji lagi dengan sang ayah "Baiklah, aku akan segera pulang."

"Jaga mama untuk papa."

"Aku akan melakukannya."

"Anak pintar." Katanya memuji dan membiarkan penjaga memegang lengan kirinya untuk dibawa kembali ke dalam sel "Pa, ingat janjimu!"

"Papa ingat nak."

Chen hanya tersenyum untuk kembali berjalan masuk ke dalam sel. Dan tepat ketika pintu penghalang akan tertutup, maka secara cepat pula Chen meminta sedikit tambahan waktu untuk berlari dan

Grep…

"Pa."

"Bahagialah nak. Papa sangat menyayangimu."

"Kenapa bicara seperti itu?"

"Apapun yang terjadi, hanya dengarkan apa yang Sehun ucapkan. Papa hanya bisa mempercayai Sehun untukmu."

"Pa."

"Kau dengar? Hanya Sehun yang bisa dan boleh memiliki putra papa. Kau dengar?"

Antara senang dan cemas, Luhan mengangguk. Senang karena ayahnya secara tak langsung merestui Sehun untuknya sementara cemasnya karena ucapan sang ayah terdengar seperti perpisahan untuknya. "Luhan? Kau dengar?"

"Aku dengar pa. Hanya Sehun yang bisa dan boleh bersamaku."

"Syukurlah kau mengerti. Papa bisa pergi dengan tenang malam ini."

"Tuan, kita harus segera kembali."

Chen mengangguk, didekapnya erat sekali lagi tubuh Luhan lalu melepasnya perlahan dan terlihat tak rela "Ingat pesan papa. Jangan percayai siapapun kecuali Sehun."

"Ya, hanya Sehun."

"Sampai nanti nak."

Klik…

Belum sempat Luhan membalas, petugas sudah membawa pergi ayahnya. Membuat lagi-lagi air mata Luhan menetes, namun kali ini dipenuhi ketenangan yang luar biasa "Aku menunggu papa." Lirihnya tersedu seraya membuka pintu untuk menemukan Sehun sedang duduk menunduk, menunggunya.

"Hey sayang. Sudah selesai? Kenapa menangis?"

Luhan berjalan menghampiri Sehun, tangan mungilnya dengan cepat melingkar di pinggang sang kekasih sementara wajahnya sudah tersembunyi sempurna di dada bidang yang hanya menjadi miliknya "hksss…." Dia tersedu pilu, hatinya mendadak sesak tapi selalu merasa lebih baik jika Sehun sudah memeluknya.

"Lu…"

"Aku benci ayahmu."

Kali ini Sehun yang menjerit pilu di hatinya. Ternyata pertemuan Luhan dan ayahnya sama sekali tak merubah rasa benci Luhan walau sedikit, karena daripada tenang, Luhan terlihat semakin benci hingga terpaksa Sehun harus menyetujui keinginan Mama Xi untuk memberitahu semuanya tanpa terkecuali pada Luhan.

"Kenapa ayahmu tega sekali? Kenapa dia jahat? Aku benci ayahmu."

"sst…Jika benci tidak perlu menangis sayang. Harusnya kau marah."

"Aku tidak bisa, sial memang! Tapi aku benar-benar tidak bisa."

"Kalau begitu aku akan membuat bencimu sedikit berkurang untuk ayahku. Bagaimana?"

Refleks, Luhan marah. Dia mendorong cepat tubuh Sehun lalu menatapnya penuh kebencian "Apa yang akan kau lakukan? Apa kau memintaku untuk berdamai dengan ayahmu?"

"Luhan aku tidak…."

"Pergi saja! Aku tidak butuh kekasih yang memiliki ayah jahat sepertimu! Aku-….."

"Dua ibu kita yang ingin bicara, bukan ayahku."

Luhan diam, dia bisa melihat gurat kekecewaan dari Sehun, sedikit menyesal namun sungguh dia tidak bisa melakukan apapun selain membuat jarak pada Sehun jika kekasihnya tetap bersikeras membela ayahnya "Apa maksudmu?"

"Tenang sebentar sayang."

Dipeluknya lagi tubuh Luhan, kali ini sedikit erat dan penuh bisikan yang bisa membuat kekasihnya tenang "Perlu kau ketahui, sebenci apapun kau pada ayahku. Aku tidak akan pernah memaksa agar kau berdamai dengannya. Aku tidak akan ikut campur untuk urusan bencimu pada ayah atau pada siapapun. Aku hanya akan ikut campur pada hidupmu tanpa mencampurtangani rasa bencimu."

"Apa artinya kau akan membenciku juga?" lirihnya bertanya dibalas kekehan oleh Sehun "Aku harus melakukan apa agar kau percaya hanya tiga hal yang tidak bisa aku lakukan di dunia ini. Kau tahu apa?"

Luhan menggeleng seraya bertanya "Apa?"

Sehun pun mengecupi gemas bibir Luhan lalu menjabarkan dengan jelas bahwa dia bisa melakukan apapun kecuali tiga hal "Pertama membencimu. Kedua marah padamu. Dan ketiga meninggalkanmu. Kau tahu kenapa?"

Hati Luhan sibuk berdebar sementara telinganya masih ingin mendengarkan seberapa dalam dan seberapa banyak cinta Sehun untuknya "Tidak tahu."

Dengan santai Sehun menjawab "Karena hidupku, sepenuhnya hidupku, sudah milikmu. Jadi aku tidak punya kuasa lagi atas hidupku. Aku bisa mati jika melakukannya."

Luhan memeluk erat kekasihnya, menyembunyikan dalam wajahnya untuk bergumam sebagai rasa terimakasihnya atas cinta Sehun yang begitu besar "Sehunna."

"Sekarang kau percaya padaku?"

Luhan mengangguk lalu bergumam "Percaya."

"Jika sudah percaya. Ayo temui dua mama kita. Kau akan semakin percaya padaku."

"Kenapa?"

"Kau akan tahu segalanya malam ini."

"Segalanya?" Luhan bergumam bingung namun dibalas senyum oleh Sehun. "Kau akan segera tahu."

Kini Sehun menangkup wajah Luhan, menatap dalam-dalam sosok cantiknya lalu menciumi Luhan di seluruh wajahnya, perlahan, begitu dalam dan penuh cinta hingga berakhir di bibirnya. Saling melumat dengan lembut untuk kemudian menempelkan dua kening mereka "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu Sehun."

Rasanya Sehun memiliki perasaan buruk saat Luhan membalas cintanya. Entahlah, seperti perasaan bahwa esok, saat pagi menjelang. Dia tak bisa lagi mendengar ucapan cinta dari Luhan untuknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Masih di tempat yang sama, di kantor sipil kejaksaan, maka terlihat satu-satunya narapidana kejakasaan yang belum di pindahkan ke penjara pemerintahan mengingat statusnya belum ditetapkan sebagai tersangka melainkan masih sebagai saksi.

Pria paruh baya yang usianya sudah melampui setengah abad itu terlihat sedang memejamkan mata dengan kepala tertunduk, berharap rencananya kali ini gagal mengingat dua puluh tahun lalu dia tidak berhasil membekukan penjahat gila yang selalu berusaha menyakiti putra kecilnya.

Sret…!

Buru-buru dia mendongak, berharap itu adalah Insung yang datang dan memberitahu bahwa Donghoon sudah memakan jebakan yang mereka buat agar bisa segera dipenjarakan dan menyelesaikan kesalahpahaman yang memakan waktu selama dua puluh tahun.

"aboji."

Chen terdiam di tempatnya, dia mengenali suara berat yang penuh aksen kemarahan saat memanggilnya dengan sebutan aboji. Bertanya-tanya mengapa pegawainya di toko roti bisa berada disini terlebih memiliki kunci sel yang hanya bisa dimiliki oleh petugas.

"Se-Seunghyunna? Apa yang kau lakukan disini?"

Refleks, Chen memundurkan langkahnya, harus merutuk karena tak ada ruang yang cukup untuk menghindar menyadari bahwa Seunghyun yang biasa dia kenal selalu ramah terlihat sangat mengerikan dengan pakaian hitam dan sarung tangan hitam yang digunakannya,

"Wae? Bertanya-tanya kenapa aku bisa masuk kedalam sini?"

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Ssst…Kecilkan suaramu, percuma tidak akan ada yang mendengar aboji."

"APA YANG KAU—hmmpphh…"

Sekali tarikan, Seunghyun berhasil membekap ayah kandung Luhan. Mencekiknya dibelakang sementara obat bius sudah mulai merenggut kesadaran Chen perlahan demi perlahan "Terimakasih sudah memungutku dan sudah menjadikanku anjing peliharaan di toko rotimu, aboji!"

Dia menjilat pipi Chen sementara pria paruh baya itu sudah menggeliat karena lemas dan tak bisa mengalahkan tenaga Seunghyun "tolong—arrhh!."

Seunghyun menyeringai untuk berbisik dengan keji "Orangmu sudah mati aboji. Hanya tersisa orangku."

Chen meronta sekuat tenaga, namun semakin dia meronta maka obat bius dan cekikan Seunghyun semakin terasa membunuh dan menghentikan nafasnya "relax." Bisikan keji itu seolah membuat Chen tergoda, nyatanya dia sudah setengah sadar ditambah cekikan Seunghyun yang begitu membunuhnya "arrh~..Luhan-…rrhh!"

Dirasa cukup membuat Chen lemas, Seunghyun membuang obat biusnya. Dia kini hanya mencekik dan akan menyelesaikan tugas terakhirnya dalam hitungan detik "Nanti jika sudah waktunya, Luhan akan menjemputmu aboji."

"rrhh—ARRH!"

Wajah Chen sudah berwarna biru di cekikan Seunghyun. Membuat psikopat gila yang kerap disapa TOP itu semakin bersemangat saat melihat maut di depan pria tua yang nyawanya akan segera dia habisi sebentar lagi "sst….Aku akan mengakhirinya aboji. Matilah kau!" bersamaan dengan desisan Seunghyun maka tak lama terdengar

Kriet!

Tanda suara patahan leher terdengar. Dan tak perlu bertanya milik siapa suara yang terdengar sangat mengerikan itu maka bisa terlihat tangan Chen yang terkulai lemas di pelukan Seunghyun diiringi lebam di wajah dan lehernya karena hal keji yang baru dialaminya.

"Selamat tinggal a-boji."

Selesai menidurkan Chen pada posisi miring ke arah berlawanan, Seunghyun menyeringai sangat puas. Dia memastikan sekali lagi bahwa mangsanya sudah meregang nyawa untuk merogoh ponsel di sakunya. Dia mencari nama Yoon Doojoon, partnernya malam ini. Segera menekan dial lalu menunggu Doojoon untuk segera menjawab dan memberi perintah untuk mengatakan

"giliranmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM…!

"Sehun kita dimana?"

Sehun juga tidak terlalu mengenal tempatnya membawa Luhan saat ini, yang dia lakukan hanya membawa Luhan ke tempat yang sudah dipesan oleh dua ibunya tanpa mengetahui dimana persis letak restaurant yang sudah dipesan ibu Luhan malam ini. "Sebentar, harusnya di sekitar sini."

Buru-buru Sehun mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi ibu Luhan sampai suara yang begitu familiar terdengar dan memanggil kekasihnya

"LUHAN! DISINI NAK! MAMA DISINI!"

Dan benar saja, itu Jihyo –ibu Sehun- yang sedang melambai sangat bersemangat di sebrang jalan. Membuat Sehun maupun Luhan mau tak mau tersenyum dan membalas lambaian dua ibunya yang kini menunggu di sebrang jalan "Hey MA!"

Luhan membalas sapaan Jihyo. Dia juga bergegas ingin menyebrang jalan jika sosok lain yang begitu ia benci tidak terlihat. "sial! Kenapa kau disini?"

Sehun menyadari perubahan wajah Luhan, dia juga mendengar umpatan Luhan hingga membuatnya ikut menoleh ke sebrang untuk mendapati ayahnya juga berada disana, sedang bertatapan dengan kekasihnya "Lu."

"…."

Sehun bahkan bisa melihat tangan Luhan terkepal, dia cemas namun nampaknya Luhan sudah dibuat begitu geram hanya karena kehadiran ayahnya "Jika kau ingin tahu kebenarannya, kita harus kesana sayang." Katanya berbisik cemas dibalas jawaban ketus dari Luhan "Selama dia ada disana, maka aku tidak akan pernah sudi bertatapan mata dengannya."

"Lu."

"Aku pergi."

"LUHAN!"

Disebrang sana ibu Sehun terus berteriak. Sepertinya mereka juga menyadari kemarahan Luhan yang tak bisa disembunyikan sedikitpun, membuat Jihyo terus berteriak sementara Baby menatap cemas pada putranya "Nak."

Luhan bahkan sempat bertatapan mata dengan ibunya, namun sayang daripada menyesal karena pertengkaran mereka pagi ini, Luhan justru dibuat semakin marah dan kecewa pada ibunya. Keduanya terus bertatapan dan melempar pandangan yang berbeda. Jika Baby sedang memohon agar bisa menjelaskan pada putranya maka putra kecilnya memberi tatapan berbeda. Terlalu berbeda dipenuhi rasa kecewa, emosi dan marah tanpa mau mendengar penjelasan.

"arhh!"

Dan saat Baby sedang fokus melihat Luhan, seseorang menyenggol kencang lengannya. Membuatnya bisa melihat dengan jelas bahwa saat ini, Jihyo sedang berlari menyebrang ke jalan tanpa menyadari bahwa ada satu mobil yang sepertinya melaju sangat cepat bersamaan dengan Jihyo yang kini berlari ke arah Luhan, mencegahnya pergi.

"Jihyo!"

Keempat pasang mata itu menyadari bahwa ada mobil yang sengaja melaju cepat ke arah Jihyo, membuat Sehun refleks berlari namun tangan Luhan menahan lengannya "LUHAN!"

"Jangan kesana!"

Ckit!

BRAK!

Dan seperti dugaan mereka, mobil itu memang mengincar Jihyo. Suaranya bahkan begitu mengerikan saat berhasil membuat tubuh seorang wanita mungil terpental begitu jauh hingga membentur trotoar jalan

"MAMA!"

Sehun berteriak. Luhan memejamkan mata. Ada sebersit perasaan bersalah karena dia begitu tega membiarkan Jihyo terluka sementara dia hanya diam bahkan melarang Sehun untuk menolong ibunya sendiri.

Katakan dia egois, tapi Luhan tidak bisa melihat Sehun terluka karena Sehun hanya miliknya, selamanya.

"tidaktidak…"

Namun saat kekasihnya berlari meninggalkannya, Luhan secara refleks membuka mata. Melihat ke segala arah sebelum

DEG!

Jantungnya berdegup hebat. Dia yakin mendengar suara tabrakan, dia yakin Jihyo harusnya sudah berada tergeletak di trotoar jalan. Dia begitu yakin.

"tidak mungkin."

Tapi saat matanya melihat ibu kekasihnya terlihat baik dan sedang terisak ketakutan di pinggir jalan, maka secara refleks Luhan mencari kemana Sehun berlari untuk mendengar kekasihnya berteriak "MAMA! SESEORANG PANGGIL AMBULANCE!"

"mama."

Sepertinya malaikat pencabut nyawa tidak berbaik hati mengambil nyawanya saat ini. Karena daripada nyawanya, rasanya malaikat ingin membuatnya lebih menderita dengan caranya yang begitu egois.

"itu bukan mamaku."

Luhan tak bisa mengeluarkan air mata, sungguh.

Dia mencoba berjalan, walau beberap kali terjatuh karena lemas, dia terus mendekati Sehun, semakin berjalan mendekat untuk mengelak bahwa wanita cantik bersimbah darah di pelukan kekasihnya bukan Baby, ibunya. "Itu bukan mamaku."

"MA…BERTAHANLAH!"

Namun semakin dia mendekat, semakin jelas tangisan Sehun, maka semakin jelas terlihat bahwa wanita yang sepertinya tak lagi bernyawa adalah….ibunya

"tidak."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara ambulance itu terdengar pilu membelahnya malam hari. Terdengar sangat terburu-buru seolah menyuarakan kemarahannya agar tak ada yang menghalangi sementara ada tubuh seorang wanita tergeletak tak memberi respon di pangkuan putranya.

BLAM…!

"BERI JALAN! PASIEN DARURAT!"

Tak lama beberapa pasien dan dokter jaga hadir disana. Semuanya menyambut pasien yang baru menjadi korban tabrak lari untuk segera ditangani semampu yang mereka bisa "CEPAT PINDAHKAN PASIEN HATI-HATI!"

Sementara dokter jaga memberi perintah, maka Luhan –yang nyawanya setengah hilang- masih bisa mengenali suara familiar yang merupakan favoritnya saat menghibur jika dia sedang merasa sedih atau saat mereka sedang mendapat jadwal jaga bersama.

"HUBUNGI KELUARGA YANG BISA-…Luhan? Apa yang kau—tidak mungkin."

Baekhyun –sang dokter emergency- terlihat begitu pucat saat bertemu dengan pihak keluarga, tak mengenali siapa korban yang akan dia tangani mengingat wajah wanita itu hancur dipenuhi darah yang sangat mengerikan.

"Bee?" Luhan nyaris tak bernyawa jika Baekhyun tak buru-buru memegang lengannya. Dia ingin bertanya apa yang terjadi namun rasanya tak perlu menyadari keadaan Luhan yang begitu menyedihkan sudah menjelaskan semuanya.

BLAM!

Tak lama satu mobil lain terparkir di depan lobi. Diikuti siapa pengemudinya hingga membuat Baekhyun semakin yakin bahwa pasien yang akan dia tangani adalah seorang Professor yang menginspirasinya untuk mengambil spesialis anak.

"Sehun."

"Baek, tolong mama. Kumohon. Tolong—ma…"

"DIAM!"

Luhan berteriak, Sehun sedikit terkesiap menyadari bahwa tatapan kekasihnya benar-benar dipenuhi amarah yang dia sendiri tak mengerti kenapa. "Sayang."

"PERGI KAU! KAU DAN SELURUH KELUARGA SIALMU! PERGI!"

"Luhan tenanglah!"

Baekhyun mencoba membujuk namun rasanya percuma karena Luhan benar-benar tak bisa mengendalikan diri saat ini "PERGI!"

"Lu…"

"DOKTER BYUN! SEGERA MASUK KE RUANG EMERGENCY!"

Baekhyun mengangguk, dia menangkup wajah Luhan untuk memberi keyakinan pada sahabatnya "Aku akan masuk dan mengupayakan segala cara. Tenanglah kumohon hmm."

Dan tak lama Baekhyun berlari menuju ruang emergency meninggalkan Sehun dan Luhan yang kini sedang dipenuhi rasa marah dan takut hingga ke tulang rusuk mereka "Lu."

"Jika terjadi sesuatu pada mama. Aku tidak akan memaafkan ibumu. HARUSNYA DIA YANG BERADA DIDALAM SANA! BUKAN IBUKU!"

Sehun diam, dia menikmati segala cacian Luhan untuk kemudian mendengar satu kalimat pendek yang diucapkan Luhan namun terasa merenggut hidupnya "AKU MEMBENCI KAU DAN KELUARGAMU OH SEHUN!"

Luhan berteriak murka, dia kemudian berlari ke loker kerjanya untuk memakai jas putih, tak lupa dia mengenakan id card lalu menekan tombol ruangan emergency dan masuk kedalamnya, meninggalkan Sehun yang setengah nyawanya sudah dibawa lari bersama rasa benci Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kadar oksigen menurun hingga 75%."

"Fokus pada pendarahan otak, CEPAT!"

Tiit….tiit…..

"mama."

"PASIEN TIDAK MEMBERIKAN RESPON!'

Luhan melihat bagaimana Baekhyun terlihat panik, sahabatnya juga meletakkan seluruh alat bantu yang akan digunakan untuk menghentikan penderahan. Detik berikutnya Baekhyun beralih melakukan CPR dengan keberhaslan tidak mungkin mengingat kadar oksigen di tubuh ibunya terus menurun.

"satu…dua…satu…dua.."

Baekhyun terus memompa jantung ibu Luhan, dahinya sudah berkeringat hebat namun tak ada tanda respon dari wanita yang selama dua puluh tahun sudah ia anggap seperti ibunya sendiri "Ayo ma! Ayo!"

Tiiit…tiitt…

"Dokter Byun."

"Kejut jantung."

"Tapi…."

"SEKARANG!"

Luhan yang berteriak, membuat Baekhyun ikut menoleh dan terisak tak tega melihat bagaimana kondisi Luhan yang begitu menyedihkan "Minggir Baek, biar aku yang melakukannya."

"Tidak Lu, kau tidak akan bisa. Berikan padaku."

"MINGGIR"

Sret…

"ADA APA INI?"

Adalah sang professor, Yoon Doojoon yang berteriak. Membuat baik Luhan maupun Baekhyun menoleh untuk melihat pembimbing mereka yang terlihat sangat kelelahan atau lebih tepatnya seperti baru selesai melakukan sesuatu yang menguras tenaganya.

"Kondisi pasien kritis."

Perawat senior yang memberitahu, membuat Doojoon buru-buru memakai sarung tangan dan maskernya untuk mengambil alih pekerjaan Baekhyun dan Luhan yang jauh dari kata profesional "KELUAR!"

"Professor Yoon. Pasien adalah…."

"KELUAR!"

"DIA IBUKU!"

Saat Luhan berteriak, Doojoon bisa melihat ketakutan dan kecemasan seorang anak. Membuat nalurinya sedikit bekerja namun tak ada penyesalan terlihat mengingat bahwa dialah yang harusnya bertanggung jawab atas kondisi ibu dari pria yang sangat ingin dia miliki selama dua puluh tahun.

"Aku tahu. Keluar dan serahkan padaku."

Luhan terkesiap, matanya memandang penuh harap. Dia kemudian menyatukan dua tangan lalu memohon dengan harapan pada Profesor yang terkenal dengan keajaiban sebelas detiknya "Aku mohon selamatkan ibuku. Aku mohon…..hyung."

"Luhan kita keluar."

Sementara Baekhyun membawa Luhan keluar, maka Luhan tak hentinya menatap memohon pada Doojoon. Berharap bahwa setidaknya, dari malam yang begitu mengerikan ini dia bisa mendapat keajaiban dari pria yang sudah dia anggap seperti kakak untuknya "aku mohon."

Dan ketika suara memohon Luhan terdengar hingga mengusik hati kecilnya, maka Doojoon menggeleng kuat, dia tidak ingin merasa bersalah. Karena tujuannya adalah membuat Luhan membenci kekasihnya.

"mianhae eomoni."

Dia meminta maaf namun menyeringai. Nyatanya rencana yang dia miliki berjalan terlalu sempurna, dia menjadikan Jihyo sebagai target hanya untuk menarik umpan bahwa target sebenarnya adalah Baby.

Ya, semua terlalu mudah hingga BUM!

Yang akan dikenang Luhan adalah, Ibu Sehun yang harunya menjadi korban, bukan ibunya. Ibu Sehun yang harusnya berada di ruang emergency, bukan ibunya. Dan dari semua kemungkinan, Luhan hanya akan mengingat bahwa yang harusnya meregang nyawa adalah ibu Sehun, bukan ibunya.

Tiit…..tiit…..

Dan untuk membuat kenangan menyakitkan itu menjadi sempurna untuk Luhan, maka dengan senang hati Doojoon melepas seluruh alat bantu hingga tubuh wanita cantik itu mengejang hebat sebelum akhirnya terkulai lemas, tanda sudah meregang nyawa.

"PROFESOR YOON!"

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik…!

Pintu ruang emergency terbuka. Dan seperti dugaan, maka Doojoon sudah disambut oleh Luhan dan pria yang dia tebak adalah kekasihnya, pria yang sebentar lagi akan dibenci Luhan sepenuh hati.

"Professor Yoon. Bagaimana?"

Baekhyun yang bertanya, dibalas diam oleh Doojoon.

Dia hanya tertarik pada Luhan yang kini duduk tertunduk di dampingi dua pria yang memiliki ukuran tubuh sama sepertinya, entahlah, mungkin sahabatnya yang lain. Doojoon tidak peduli. Yang dia inginkan hanya menghampiri Luhan dan mengatakan segalanya

"bagai-…Bagaimana ibuku?"

Luhan bertanya, tangannya sudah mencengkram erat lengan Kai sementara Chanyeol terus mengusap lembut punggungnya "Professor Yoon?"

"JAWAB DIA!"

"yeol…"

Luhan bergumam lirih, memperingatkan Chanyeol untuk tidak berteriak pada satu-satunya pria yang mungkin bisa menyelamatkan ibunya. "Maaf."

"Untuk apa?"

Luhan bertanya lagi, jujur pikirannya kosong. Dia tidak berani menebak apapun sampai Doojoon mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat arloji "tidak…"

Luhan panik, dia tahu arti saat seorang dokter melihat ke arlojinya. Dia tahu apa yang akan dikatakan Doojoon adalah

"Waktu kematian Nyonya Xi pukul sebelas lewat lima menit." Katanya berujar tenang untuk kembali menatap Luhan "Aku turut berduka cita."

"mamatidakmungkin…Tidak-…."

"LUHAN!"

Rasanya seluruh teriakan belum cukup untuknya malam ini, karena disaat nyawanya belum terkumpul karena kematian ibunya maka disaat yang sama Seunghyun menunjukkan dirinya di depan Luhan, terlihat cemas namun matanya terus melirik penuh arti pria yang memakai id Card Yoon Doojoon.

"hyung?"

"LUHAN APA KAU BELUM MENDENGAR BERITA?"

"Apa?"

Lagi-lagi pikirannya kosong, jika bukan karena bisikan Kai dan Chanyeol yang mengatakan dirinya baik-baik saja, mungkin Luhan sudah berniat mengakhiri hidupnya saat ini "Ada apa hyung?"

"AYAHMU DIBUNUH, KEJAKSAAN MENGUMUMKAN KEMATIANNYA MALAM INI!"

DEG!

Luhan jatuh tak sadarkan diri tepat saat Seunghyun memberitahunya. Sementara jeritan memanggil nama kekasihnya terdengar, maka rasanya Sehun dibuat tuli karena semua yang dia dengar berdengung di telinganya.

Semua terasa sepi, itu yang diinginkan hatinya.

Dia tidak tahan lagi mendengar kabar mengerikan, itu kenyataannya.

Karena saat Luhan kehilangan dua orang yang dicintainya secara bersamaan, maka malam ini pula Sehun dipastikan kehilangan hidupnya "aku harus bagaimana?" paraunya menutup telinga karena begitu bising dengan banyak suara.

"Ma…Pa…kenapa meninggalkan Luhan?"

Sehun sama terpukulnya dengan Luhan –tidak- mungkin dia jauh lebih terpukul mengingat setelah malam ini, dia hanya akan hidup dalam rasa bersalah "hkss…Luhan! Lu-…."

BUGH!

Satu pukulan kencang di tengkuknya, Sehun terhuyung

BUGH!

Lalu tak lama dia melihat beberapa orang sedang berbaik hati menghilangkan rasa sakit di hatinya.

BUGH!

Uhuk!

Pukulan ketiga Sehun mengeluarkan darah.

Entah siapa yang sedang memukulinya di basement rumah sakit, dia tidak peduli. Dia hanya akan berterimakasih karena rasa sakit dihatinya dibuat hilang digantikan sakit yang mungkin bisa membayar semua kehilangan yang Luhan rasakan.

BUGH!

Dan daripada melindungi kepalanya, Sehun lebih memilih merentangkan tubuh, membiarkan seluruh bagian vitalnya dipukuli sementara dia hanya tersenyum, berharap setelah ini dia tak lagi membuka mata. "bunuh aku, secepatnya."

BUGH!

"Apa kita harus membunuhnya?"

Samar suara terdengar, Sehun bisa melihat orang yang memberi perintah sedang berdiri dengan pakaian berwarna putih, jas putih dokter tebakannya. Tapi kemudian semuanya terlihat gelap hingga suara itu berkata "Cukup! Ttinggalkan dia sendiri! Dengan atau tanpa kita membunuhnya, dia sudah mati."

"kau benar. Aku sudah mati. Tapi siapa kau? Kenapa suaramu familiar?"

Harusnya dia senang saat bajingan itu pergi meninggalkannya. Bersyukur karena masih diberikan hidup, bukan terisak sendu menahan sakit di seluruh tubuh dan kepalanya saat ini

"hksss…"

Dipenuhi darah di kepala dan bibir, Sehun mencengkram kuat dadanya, terisak seraya mengutuk mengapa bajingan itu tidak membunuhnya. Dia ingin mati, ingin sekali. Sesaknya begitu menyiksa hingga ke tulang rusuk.

"AARGGGHHHH!"

Dia tidak bisa hidup tanpa Luhan. Tapi nyatanya, esok, bisa dipastikan bahwa Luhan dan seluruh luka serta rasa murkanya akan menjadi hal pertama yang harus Sehun hadapi seorang diri.

Seluruhnya gelap untuk Sehun, dan saat kesadarannya mulai direnggut dia bergumam, tersenyum kesakitan dipenuhi air mata untuk berkata.

"Kau harus kuat sayangku, aku janji-….Aku akan tetap hidup sebagai pelampiasan seluruh marahmu. Hanya biarkan aku istirahat sejenak, Aku sakit saat ini."

.

.

.

.

.

.

.


tobencontinued

.


.

Part I

.

Jdwal Update minggu ini

Part II JTV : Jumat

Part II AFB : Minggu

Fixed semua, seeyou :*

jangan ditanya jam berapa karena kalian tau gue siapa :""