9

TANDA-TANDA YANG MUNCUL KEMBALI

.

.

.

"Sebesar apa kutilnya?" Victoria berlutut di sudut belakang tangga Honor yang dihiasi jajaran semak mawar biru. "Yakin kau benar-benar melihatnya?"

Kyungsoo mengangguk cepat, menggigiti kuku-kukunya supaya jarinya berhenti gemetar. "Dia bilang sudah memaafkanku. Dia bilang dia mau pulang–"

"Sudah terlambat." Sambil meringkuk di sampingnya, Amber menghancurkan setangkai mawar biru. "Kau tidak ingat, ya? Kalau gejalanya mulai muncul, dia tidak akan bsia mengendalikan Kejahatan. Kau harus cepat-cepat mencium Kai sebelum dia berubah jadi penyihir. Kalau tidak, kita semua akan mati."

Kyungsoo menggeleng lebih kencang, teringat sosok Soojung yang berwujud perempuan tua jelek, keriput, ompong, dan botak–membunuhi serigala, menghancurkan menara, dan mendatangkan neraka ke hadapan murid-murid. Waktu itu ada tanda-tanda yang mengawali transformasinya: mimpi buruk, letupan amarah, lalu kutil pertama.

Tanda-tanda itu sudah muncul, kali ini Kyungsoo menyadarinya. Lingkar mata akibat mimpi buruk saat di pernikahan. Tatapan dendam di kantor Sader. Senyum jahatnya saat Penyambutan. Dia menyangkal itu semua, yakin bahwa sahabatnya sudah berubah. Namun Soojung belum memaafkannya, dan tidak akan pernah.

Kini sang pangeran adalah satu-satunya harapan.

Kyungsoo mendongak pada Amber. "Berapa lama lagi sampai dia berubah wujud?"

"Beast hanya sekadar peringatan," kata Amber sambil berpikir keras. "Dia belum benar-benar menyakiti siapapun."

"Akan ada tanda-tanda awal lagi," Victoria sependapat. "Tapi Amber benar. Kita aman selama dia belum menyakiti siapapun."

Sambil mengunyah ubi berbentuk tulip, Luna tiba-tiba datang dan menimpali. "Apa berarti Kyungsoo bisa datang ke Klub Buku nanti malam?"

"Itu berarti Kyungsoo masih bisa mencium Kai nanti malam!" bentak Amber, menarik Kyungsoo ke lorong yang ramai. "Tapi kita harus bersikap normal. Tidak ada yang boleh tahu kalau–"

"Tunggu dulu," sela Kyungsoo.

"Amber, tinggal satu ciuman saja dan kita akan kembali ke Kejahatan," Victoria tersenyum lebar, merangkul sahabatnya selagi menembus keramaian. "Pelatihan begundal, jebakan maut, bubur kecebong–"

"Tunggu–" sergah Kyungsoo.

"Baru pertama kali aku sebahagia ini menanti Ruang Jahanam terbuka lebar," Amber menyeringai bersama Victoria.

"Kalian berdua, dengarkan–"

"Klub Buku akan membahas Tetap Keren Tanpa Pangeran," ujar Luna, sepatu haknya berkeletak-keletuk di belakang mereka, mulutnya penuh ubi. "Sayang sekali kalau kau tidak datang–"

"Bisa nggak sih bicara sebentar dengan kalian bertiga?"

"Inilah kenapa perkupulan penyihir tidak beranggota empat orang," kata Amber. "Alasan tambahan kenapa kau harus segera mencium Kai."

"Itulah yang ingin kukatakan pada kalian! Dia tidak bilang bagaimana cara menemuinya," gerutu Kyungsoo seraya memeriksa apakah ada kupu-kupu yang menguping. Dia merendahkan suaranya. "Hanya bilang aku harus menyeberangi jembatan."

"Jembatan Separuh Jalan? Yakin kau tidak salah dengar?" tanya Victoria.

"Mungkin dia bilang 'kudapan'," kata Luna.

"Luna benar. Tidak mungkin dia bilang 'jembatan'," sahut Amber.

Kyungsoo meringis.

"Mungkin itu jebakan?" tanya Luna.

Amber dan Victoria menatapnya.

"Dengar ya," kata Luna, menyibakkan rambutnya. "Sekarang aku percaya diri, jadi kalau kalian bertingkah seperti orang dungu, aku akan pindah ke kamar Suzy dan–"

"Bisa jadi itu muslihat Dekan," sela Amber. "Dia tidak mungkin bisa mengelola sekolah ini kalau Kapten Kelasnya mendambakan pangeran, kan? Bisa disimpulkan kalau dia menampakkan Kai supaya bisa menjebakmu."

"Apa aku masih harus menemui Kai malam ini?" tanya Kyungsoo ragu.

"Kau tidak punya pilihan lain, kan?" ucap Amber lebih lembut sambil menyipit ke atas bahunya. "Pasti kau tidak akan bisa tidur di sebelah dia."

Kyungsoo berbalik dan melihat Soojung bergegas menghampirinya dengan wajah gugup, seolah takut sendirian setelah pelajaran tadi. Tiga ekor kupu-kupu melesat melewati Kyungsoo dan tiga penyihir itu–

"Tapi aku sekamar dengannya!" Kyungsoo terkesiap sambil menoleh ke belakang. "Bagaimana aku bisa keluar tanpa ketahuan dia atau Seulgi–"

Namun Amber dan Victoria sudah menjauh (Luna bahkan sudah tak terlihat di sekitarnya), jari-jari pendar mereka menutup mulut. Sambil tersenyum nakal, mereka meledakkan asap dari ujung jari mereka, kepulan merah dan hijau, yang kemudian melayang-layang ke arah Kyungsoo dan menyatu menjadi:

MALAM INI

Ketiga kupu-kupu tadi menubruk huruf-huruf itu–yang seketika memercikkan api, terbang sempoyongan dan kesakitan, mengincar sesuatu yang bisa didengar sebelum akhirnya menggelepar tak berdaya di lantai.

"Apa para penyihir itu akan membantu kita mendapatkan Storian?" tanya Soojung terengah sambil melompat-lompat kecil di belakangnya.

Kyungsoo menoleh dan terkejut. Soojung menutupi lehernya dengan syal bermotif anak anjing.

"Ini punya Baekhyun," ujar Soojung murung. "Di sini rasanya sedingin es dan kau tahu kan aku gampang kena flu, badan tanpa lemak begini. Tapi leherku gatal sekali, bahannya pasti murahan." Dia memergoki Kyungsoo menatap syalnya dengan pucat pasi. "Jadi, apa rencana kita malam ini?"

Dengan kaki gemetar, Kyungsoo berpegang pada rencananya sendiri. Para penyihir itu benar. Sekarang dia harus berusaha gugur pada sisa tantangan berikutnya untuk hari ini, maka dia akan aman bersama pangerannya sebelum gejala berikutnya muncul.

Terpisah dengan Amber dan Victoria pada pelajaran kedua, Kyungsoo tambah takut duduk di sebelah Soojung yang terus-terusan menggaruk lehernya.

Sama seperti Profesor Ahn, Profesor Dovey juga diawasi oleh Dekan yang hadir di sana untuk mencegah mantan guru Kebajikan itu berbicara dengan Kyungsoo. Tampaknya Profesor Dovey tahu persis apa yang ada di benak Kyungsoo karena dia selalu melemparkan tatapan tajam dan penekanan kata padanya setiap kali membahas sistem peringkat.

"Dan mungkin perlu diulangi," teriaknya dari meja manisan plum, "murid yang tidak lolos tantangan akan jaga malam di pagar Hutan sendirian tanpa guru–"

"Mereka sudah tahu semua itu, Clarissa," erang Dekan.

"Yang berarti tidak akan diawasi oleh guru–"

"Clarissa!"

Profesor Dovey berdeham dan melanjutkan pelajaran, sekali lagi melemparkan tatapan darurat ke arah Kyungsoo.

Kekuatan Tanpa Pangeran hanyalah versi kebohongan dari pelajaran yang dulu diajarkan oleh Profesor Dovey–Kebajikan. Perbedaannya hanya lukisan permen jelly di dinding permen labu yang menampilkan wajah Kyungsoo dilengkapi balon dialog: 'Laki-laki dilahirkan sebagai budak!'.

Kyungsoo menahan diri untuk tidak menghancurkannya. Memangnya tidak cukup sahabatnya berubah menjadi penyihir maut? Sekarang dia jadi model poster yang mengampanyekan perbudakan laki-laki.

"Seorang laki-laki sama-sama mudah dikuasai seperti halnya perempuan. Memang, perempuan memiliki rasa kasih dan sensitif sedangkan laki-laki tidak. Itulah mengapa terkadang laki-laki tampak tidak kompeten–"

Di kursi karamelnya, Kyungsoo melirik Soojung sekilas untuk memastikan belum ada lagi kutil yang tubuh atau belum ada giginya yang tanggal. Selain terlihat gatal-gatal, Soojung masih kelihatan cerah dan cantik seperti biasa. Kyungsoo menjulurkan lehernya untuk melihat apakah kutil di lehernya bertambah–Soojung memergokinya dan Kyungsoo pura-pura mengupil.

Soojung menyelipkan pesan di kertas.

Apa sebaiknya nanti malam kita lewat jembatan?

Kyungsoo tersenyum samar. Untuk bisa menemui Kai, dia harus gugur pada tantangan ini tanpa memancing kecurigaan Soojung, entah bagaimana caranya.

"Untuk bertahan hidup, laki-laki belajar untuk memproyeksikan kekuatan daripada emosi," lanjut Profesor Dovey. "Itulah sebabnya mereka menginginkan sifat lembut dari perempuan. Dengan tetap bersikap lembut, kalian akan membuat mereka lemah. Memahami bagaimana laki-laki adalah harapan terbesar kalian untuk menjinakkan mereka."

"Dan menjadikannya budak," sela Dekan sambil duduk menyilangkan kaki. "Seperti yang kita ketahui, laki-laki bereaksi terhadap rasa lapar dan kekerasan."

"Laki-laki bereaksi terhadap dukungan dan akal sehat, Seohyun," sergah Profesor Dovey. "Dan keyakinan akan cinta antara pangeran dan putri."

Pipi lembut Dekan merona dan dinding ruang kelas bergetar. "Clarissa, yang dibutuhkan anak-anak ini adalah kebahagiaan tanpa babi-babi biadab dan hina–"

"Para gadis ini perlu tahu apa yang membuat laki-laki layak untuk dicintai. Yang dibutuhkan para gadis ini adalah hak untuk memilih akhir kisah mereka sendiri, bukan yang dipilihkan oleh Dekan. Yang perlu diketahui anak-anak ini adalah alasan mengapa Dekan seharusnya tidak berada di sini sama sekali!" ujar Profesor Dovey sengit.

Dekan melonjak dari tempat duduknya. Tangan-tangan dari gula-gula seketika tumbuh secara ajaib dari dinding di belakang Profesor Dovey dan melemparkannya keluar kelas dengan begitu kencang sehingga pintu di belakangnya terbanting, memuncratkan serpihan labu ke seluruh meja.

"Nah, sekarang bisa kita lanjutkan tantangannya?" tanya Dekan sambil berjalan ke depan kelas.

Sambil riuh bergumam, murid-murid kembali ke tempat masing-masing, seolah sudah selayaknya Profesor Dovey diperlakukan begitu karena terang-terangan bersikap tidak hormat. Kyungsoo juga berusaha bersikap tidak peduli karena tahu ibu perinya ingin dia menemui pangerannya dengan segala risiko. Tapi apa maksud gurunya tadi? Apa dia mengenal Dekan Seo sejak dulu?

Lalu disadarinya Soojung yang semakin sibuk menggaruk-garuk lehernya, melewatkan insiden yang baru saja terjadi. Kyungsoo sedikit lebih pucat dan berkonsentrasi untuk gugur.

Setelah menyihir pohon kacang yang tumbuh dari langit-langit ruangan, Dekan Seo menerangkan bahwa untuk tantangan Tuntun Ayun, setiap murid yang akan ditutup matanya dan dibiarkan menggelantung di pohon kacang, harus mendengarkan tuntunan yang diteriakkan teman-teman sekelasnya agar bisa berayun ke tangkai-tangkai lainnya hingga kembali ke tempat duduk masing-masing. Siapa yang bisa kembali ke tempat duduk paling cepat akan mendapat peringkat 1.

Saat gilirannya, Seulgi mendapat arahan dari seluruh teman sekelasnya. Irene dan Reena saling memberi arahan dengan berteriak keras-keras, begitu pula dengan Yeri dan Jennie. Karena takut kejadian Kejahatan tadi terulang, Soojung dengan cermat menuruti teriakan teman-teman sekelasnya agar tetap menjadi Soojung yang Baik–setelah insiden Beast, dan unggul dalam perhitungan waktu pada tantangan ini.

Dia menepis segumpal rontokan rambut dari seragamnya saat kembali duduk. Ketika mendongak, dilihatnya Kyungsoo sedang memperhatikannya sambil gemetar seperti sedang demam.

"Oh, gampang sekali kok, Kyungie," ujar Soojung sambil menyisir rambut pirangnya dengan jemari. "Tinggal dengarkan saja arahanku dan kau akan baik-baik saja."

Dengan kepala membotak, kutil-kutil tersembunyi, dan lebih banyak lagi gejala penyihir yang memenuhi kepalanya, Kyungsoo hampir tidak bisa berkonsentrasi untuk gugur dalam tantangan. Namun dia tetap bisa berpura-pura bingung, tuli, dan disleksia serta memastikan Dekan melihatnya cemberut karena kecewa menerima peringkat terakhir. (Luna tanpa sengaja terlempar keluar jendela, mengunggulinya di peringkat terakhir.)

"Tapi aku sudah teriak keras sekali!" erang Soojung, menggaruk-garuk lehernya sambil berjalan bersama Kyungsoo di lorong. "Kau harus berhasil di tantangan berikutnya, kalau tidak kau akan jaga malam nanti!"

Kyungsoo mengangguk, memaksakan diri untuk terlihat kesal. Ketika Soojung menoleh ke arah lain, dia membungkuk dan mencoba mengintip ke balik syal sahabatnya–

Soojung menoleh, kemudian Kyungsoo membungkuk lebih rendah. "Maaf, aku mau kentut."


Mereka datang terlambat di kelas Pertahanan Melawan Laki-laki; artinya Kyungsoo terpaksa duduk berseberangan dari Amber dan Victoria yang tampak sangat ingin berbicara dengannya. Lady Kwon sepertinya mampu membaca pikiran murid penyihir terbaiknya, jadi saat Soojung memasuki kelas, mantan guru Kutukan dan Jebakan Maut itu berdiri di depan pintu sambil menyipitkan mata lembayungnya, meneliti tiap jengkal–

"Apa ada jerawat di wajahku?" gumam Soojung sambil menggigiti pena bulunya, melonjak dari kursi beku yang didudukinya. Dahinya berkerut selagi duduk kembali seraya memperhatikan ruang kelas berdinding permen es batu dan es sirup yang bergantungan di langit-langit, replika dari kelas Lady Kwon di Sekolah Kejahatan. Lalu dilihatnya Kyungsoo membelalak padanya, terlihat seperti baru saja tertusuk pedang. "Kyungie, kau bertingkah aneh lagi," ujar Soojung sambil membuang penanya yang sudah habis digigiti.

Kyungsoo menarik napas dalam-dalam.

Gigi depan Soojung berubah jadi hitam.

"D-di sini dingin–" Kyungsoo tergagap.

"Kukira kau menganggapku tolol karena pakai syal," gerutu Soojung sambil memalingkan muka.

Kyungsoo melambai-lambaikan tangannya dengan panik ke arah Amber dan Victoria, mulutnya berkata "Gejala! Gejala!" tanpa suara, sampai dia melihat Soojung sedang meliriknya diam-diam, lalu pura-pura sedang mengusir lalat.

Kutil, rambut rontok, gigi busuk... Apa dia akan sempat menemui Kai sebelum penyihir itu muncul?

Mungkin Dekan tahu dia sudah cukup menyatakan sikapnya melalui Profesor Dovey, karena dia tidak hadis di kelas untuk mengawasi Lady Kwon. Sebagai perwakilannya, dia mengutus Pollux duduk di paling belakang, seekor kupu-kupu biru bertengger di bahunya, mengeluarkan suara endusan aneh seolah kehadirannya ingin diperhatikan.

"Laki-laki adalah makhluk yang kotor dan menjijikkan. Itulah sebabnya para gadis Never tidak menikahi mereka," kata Lady Kwon sambil melemparkan tatapan jijik pada para gadis Ever selagi sepatunya berkeletak-keletuk di antara barisan kursi. "Tapi tidak ada alasan untuk membunuh mereka."

"Kecuali kalau mereka menyerang kita," celetuk Pollux.

Lady Kwon mengangkat matanya seolah mencium bau busuk, lalu merunduk. "Membunuh akan membuat jiwamu ternoda, tak peduli apakah kau Ever atau Never. Kalian hanya boleh membunuh murni karena mempertahankan diri atau membunuh Nemesis kalian demi mendapatkan ketenangan. Tapi dua alasan itu tidak akan kalian alami di sekolah ini."

"Kecuali jika terjadi perang, maksud Anda," dengkus Pollux.

"Sepertinya sudah waktunya pembasmian," kata Lady Kwon datar, tidak jelas ditujukan pada siapa.

Anjing itu berhenti menyela.

Lady Kwon menatap Kyungsoo sambil mengerutkan kening saat melewatinya dan menempatkannya pada akhir giliran dalam tantangan, seolah memberinya waktu lebih banyak untuk mencari tahu apa yang perlu dilakukannya supaya gugur.

"Pada tantangan kali ini, kalian harus mempertahankan diri dalam melawan Mogrif bandel. Laki-laki pasti akan mengubah wujudnya untuk menyerbu, maka kalian pun harus siap melakukan hal yang sama," ujar Lady Kwon lantang seraya mengencangkan kepangan rambutnya. "Tapi hati-hati, transformasi membuat kita mengakses insting terdalam kita dalam rangka mempertahankan diri. Jika kalian ternodai oleh Kejahatan yang tidak termaafkan, proses ini akan terganggu." Mata lembayungnya menatap tajam seolah menusuk mata Pollux. "Mari kita jadikan ini sebagai peringatan bagi kalian yang seenaknya bicara soal perang."

Untuk bisa mengalahkan siluman Mogrif, setiap murid harus berubah wujud menjadi hewan. Tahun sebelumnya, ketua Kelompok Hutan mereka sudah mengajarkan cara mengubah wujud menjadi hewan pilihan mereka menggunakan visualisasi. Mantra ini termasuk mudah hingga sudah diperkenalkan sejak tahun pertama, bersamaan dengan mantra Air dan Cuaca.

Ketika beradu dengan ular berbisa, Amber si kepiting dipatuk dengan ganas sebelum akhirnya berubah wujud menjadi musang yang lebih gesit dan mampu mengalahkan si ular. Seulgi si pelikan pergi dengan kikuk tanpa melawan piranha. Luna si anak babi langsung terbirit lari ketika melihat kambing jantan hendak menerkamnya.

Kyungsoo kebingungan mencari cara yang lebih buruk. Maka ketika Lady Kwon menyulap seekor beruang cokelat yang menepuk-nepuk dada di hadapannya, dia hanya berdiri kikuk seraya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.

"A-aku sudah lupa–"

"Lupa cara bermogrif? Gadis yang tahun lalu menghabiskan sekian banyak waktu untuk menjadi kecoak?" tanya Pollux curiga.

"Ingatan Pembaca memang seperti ayakan," desah Lady Kwon, berusaha tidak terlihat senang. "Pasti tidak ada yang bisa menandingi ketidakcakapan ini."

Kyungsoo menelan ludah kasar. Lady Kwon melindunginya, tapi kata-katanya tetap saja setajam silet. Yah, bagaimana pun dia itu mantan Dekan Kejahatan, jadi Kyungsoo memaklumi.

"Sepertinya malam ini aku yang jaga," ujar Kyungsoo pelan sambil mengempaskan diri di samping Soojung.

"B-berarti kita tidak bisa mengambil Storian!" Soojung memucat, giginya tampak lebih hitam.

Kyungsoo mencengkeram tempat duduknya.

"Tidak masuk akal," Soojung merosot di kursinya. "Biasanya kau selalu jago di setiap tantang–" tiba-tiba wajahnya berseri. "Tunggu, bagaimana kalau aku ikut gugur juga? Aku bisa jaga malam bersamamu, lalu kita bisa menyelinap masuk ke sekolah cowok dan pulang!"

"Jangan!" pekik Kyungsoo. "Itu ide buruk–"

Namun sahabatnya sudah terlanjur melenggang ke depan kelas, yakin akan kalah dalam tantangannya. Melihat wajah Kyungsoo, Lady Kwon kemungkinan bisa menebak rencana Soojung sehingga dia menyulap seekor burung merpati gemuk sebagai lawannya. Soojung berubah menjadi seekor kucing merah muda yang glamor dan mengelak dari patukan lemah burung itu.

"Oh, binatang buas," Soojung mengeong, seolah sedang mengikuti audisi drama pertunjukkan sekolah. "Aku bukan tandinganmu!"

Kyungsoo menangkap tatapan panik Amber di seberang kelas. Kalau Soojung jaga malam bersamanya, bagaimana dia bisa menyelinap untuk menemui pangerannya?

"Mohon ampun, wahai burung perkasa!" teriak si kucing pada burung merpati di atasnya. Dengan dramatis, Soojung menempelkan kakinya ke kepala. Kemudian dia berjalan ke tumpukan seragamnya dan memvisualisasikan dirinya menjadi manusia, siap menerima peringkat terakhir–

Namun tidak terjadi apa-apa.

Soojung si kucing mengernyit dan mencoba kembali merapalkan mantranya. Si merpati terbang dan hinggap di atas kepalanya. Teman-temannya cekikikan, kecuali Kyungsoo yang tahu betul seberapa besar kemampuan Soojung untuk mencari perhatian.

"A-aku tidak bisa kembali berubah wujud–" cicit Soojung lemah pada Lady Kwon.

"Konsentrasi!" perintah Lady Kwon, diikuti gelak tawa seisi kelas.

Namun sambil membuka ataupun menutup matanya, Soojung tidak mampu mengembalikan tubuhnya menjadi manusia. "Ini bukan aku–" dia tersenggal. "A-ada yang menghalangiku–" merpati itu mengencinginya. "Toloong!" raungan Soojung tenggelam di antara keriuhan kelas. Bahkan kali ini Kyungsoo tidak bisa menahan dengusannya.

"Hentikan ketololan ini!" erang Lady Kwon, menembakkan mantra ke arahnya untuk menghentikan permainan itu.

Soojung membelalak pada gurunya. Kali ini, saat dia mencoba berbicara, yang keluar hanyalah suara mengeong.

Tawa pun berhenti.

Dengan wajah memerah, Lady Kwon kembali mengulurkan jarinya ke depan untuk mengembalikan suara Soojung, namun muridnya malah mengeong lebih keras. Lady Kwon terbelalak, lalu berputar menghadap kupu-kupu di bahu Pollux. "Panggil Seohyu–"

Pintu kelas menjeblak terbuka dan Dekan masuk seraya mengulurkan jarinya. Sambil menggumamkan mantra yang aneh, dia menunjuk Soojung yang mulai berubah kembali menjadi manusia. Namun, sebelum Kyungsoo dan seisi kelas sempat mengendorkan otot mereka, proses itu berhenti, membiarkan Soojung setengah kucing dan setengah manusia, merintih kesakitan.

Lady Kwon memucat. "Ada yang salah–"

Masih mengulurkan jarinya, Dekan bergumam lebih cepat, tetapi Soojung berubah bolak-balik dari manusia ke kucing, dari kucing ke wujud manusia; tarik ulur yang sengit, sementara Soojung terengah di antara raungan dan ngeong.

"Seohyun, ini tambah parah!" desak Lady Kwon.

Dekan menudingkan telunjuknya lebih kuat lagi. Cahaya memercik di sekelilingnya sementara Soojung semakin cepat berubah wujud. Jiwanya terperangkap di antara dua kekuatan, menjadi sosok kabur tanpa bentuk yang meledak-ledak. Si merpati terbang kebingungan dan menghilang di tengah asap.

Kyungsoo berkunang-kunang, wujud sahabatnya berubah-ubah terlalu cepat; tidak seperti manusia dan tidak seperti binatang–sampai akhirnya dia melihat sesuatu di dalam diri Soojung. Di antara api yang kabur, sesosok bayangan semakin terlihat jelas; kulit keriput dan berkerut, kutil-kutil hitam dan bengkak, kepala yang nyaris botak, serta sisa rambut yang memutih.

Kyungsoo memejamkan mata guna menahan rasa kagetnya.

Dekan menjulurkan kedua tangannya dan melemparkan tembakan cahaya. Soojung terpental ke dinding dan jatuh ke belakang meja.

Perlahan, Kyungsoo membuka matanya dalam keheningan yang menyeramkan. Sementara asap melayang ke atas meja beku, dia dan seisi kelas pelan-pelan mengintip dari atas.

"Aku pasti pingsan tadi," kata Soojung, bulu matanya yang panjang mengerjap-ngerjap, sudah kembali ke wujud manusia dan memakai seragamnya. "Aku hanya ingat berusaha kembali ke wujud manusia, tapi rasanya ada yang menghentikan aku–" Matanya mencari-cari burung merpati yang tidak ada di sekelilingnya. "Aku tidak melukai merpati itu, kan?"

Lady Kwon kelihatan seperti mau menelan lidahnya sendiri. "I-itu berarti–j-jiwamu–"

"Kau perlu berlatih merapalkan mantra penangkal," sela Dekan. "Bukankah begitu, Lady Kwon?"

Lady Kwon mematung, pancaran kelemahan yang ganjil mengisi matanya yang biasanya dingin. "Ya," gumamnya pada Dekan. Dia kelihatan takut, pikir Kyungsoo, nyaris seperti... sedih.

"Bagaimana dengan peringkatku?" tanya Soojung penuh harap.

"Peringkat pertama," ujar Dekan sambil berlalu.

Soojung membuka mulut untuk memprotes, tetapi Lady Kwon cepat-cepat membagikan peringkat untuk yang lainnya dan melesat keluar ruangan ketika Pollux melenggang ke depan untuk mengumumkan bahwa kelas telah usai.

Kyungsoo tak bergerak sedikit pun ketika para gadis lainnya riuh berkomentar betapa beruntungnya Dekan datang untuk menyelamatkan Soojung dari ketidakbecusan Lady Kwon. "Guru-guru hanya iri pada Dekan," desah Reena cuek.

Ketika kelas sudah kosong, Kyungsoo menatap Soojung yang memunggunginya dan mengemas barang-barang. Datangnya Dekan memang sebuah keberuntungan karena gadis-gadis lainnya tidak melihat apa yang dilihatnya: si penyihir terlahir kembali dan tanda-tandanya sudah lengkap. Kalau tadi Dekan tidak mengambil alih pada waktunya–

Kai. Pokoknya temui dia saja, pikir Kyungsoo sambil menyeret langkahnya ke pintu.

"Kyungie, aku tidak bisa jaga malam bersamamu," kata Soojung di belakangnya. "Kau tidak akan pergi menemuiKai, kan?"

Kyungsoo mati kutu. "Apa? Kenapa kau bilang begitu?"

"Karena kau terus-terusan memandangku seperti memandang penyihir."

Kyungsoo menoleh dan melihat Soojung membuntutinya, matanya dingin. Kyungsoo merasakan keringat menyeruak di pori-pori wajahnya, tanda-tanda mau pingsan, sama seperti saat dia jatuh pingsan di pelukan Kai.

"G-gigimu–" katanya spontan, kesadarannya yang hampir hilang kembali lagi.

Soojung melongo tak mengerti. "Gigiku? Ada apa dengan–" Wajahnya mengeras. "Kyungsoo, itu tadi tinta. Penaku pasti bocor, soalnya tadi kumasukkan ke mulut."

"Tapi rambutmu–" Kyungsoo bersikeras. "Aku tadi lihat rambutmu rontok–"

"Terjambak saat di pohon kacang sialan itu!" bentak Soojung. "Lalu kau percaya aku berubah jadi penyihir? Bahwa aku mau menyerangmu setelah semua yang kita alami?"

Mulut Kyungsoo hanya bisa mengeluarkan bunyi kuak.

"Aku percaya padamu malam ini, Kyungsoo. Meskipun kau tidak pernah percaya padaku," ujar Soojung, wajahnya begitu terluka.

Soojung berlalu sambil menarik syal di lehernya. Kyungsoo menatapnya dalam diam dan lemas karena rasa bersalah. Lalu dia teringat kutil itu, maka Kyungsoo mengejarnya untuk melihat lehernya–

Ada tangan yang menariknya ke belakang.

"Lady Kwon bohong," ujar Amber terburu-buru. Dia menutup pintu dan mengunci mereka berdua di dalam ruangan. "Kau dengar sendiri. Jiwa Soojung sudah dirusak oleh Kejahatan yang tak termaafkan. Itu sebabnya dia tidak bisa kembali ke wujud semula! Itu sebabnya Beast keluar dari dalam dirinya! Semuanya sudah jelas sekarang. Kau harus menemui Kai malam ini juga, bagaimana pun caranya."

"Tapi–apa arti itu semua?" tanya Kyungsoo parau, tenggelam dalam rasa takut.

"Artinya kali ini perubahannya akan permanen," jelas Amber. "Setelah Soojung kembali menjadi penyihir, dia tidak akan kembali lagi! Sudah kubilang dia akan balas dendam!"

"Tapi kau bilang sendiri! Dia belum melukai siapapun dan tanda-tandanya juga tidak bertambah parah–"

"Tentu saja tambah parah. Dekan tidak menyadarinya," kata Amber sambil memalingkan pandangannya. "Pokoknya kau harus cium Kai nanti malam."

Kyungsoo menggeleng, masih membayangkan raut wajah Soojung yang terluka. "Tidak bisa, Amber. Aku harus percaya pada sahabatku." Tubuhnya merosot selagi menghela napas. "Mungkin itu bukan kutil. Mungkin aku cuma paranoid, sama seperti aku mengira giginya menghitam. Kita hanya parano–"

Kyungsoo menyadari ke mana arah pandangan Amber.

Di belakang mejanya, siluman burung merpati bersandar di dinding. Namun merpati itu bukan lagi sekadar siluman.

Darah terciprat dari bagian lehernya yang terkoyak di lantai gula-gula.

.

.

.

TBC

Update selanjutnya mungkin akan sedikit terlambat karena saya sedikit lebih sibuk menjelang akhir pekan. Jadi, seandainya minggu depan late update, saya minta maaf : (

Mind to review? : )

ps: mata lembayung di sini artinya warna mata keunguan yaa