Summary :

Semua orang pasti mempunyainya, bukan? Masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam. Masa lalu dimana kau melakukan suatu kesalahan yang tak termaafkan. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau akan berhadapan dengan masa lalumu itu?

Disclaimer :
Semua tokoh - tokoh dalam fanfic ini kecuali tokoh buatan saya merupakan kepunyaan dari Shinohara Kenta-san


Chapter 10 : Showdown Time!

Kimiko duduk. Lalu, dia bangkit untuk mengambil minuman. Setelah minuman itu habis, dia pergi ke toilet. Setelah itu dia pun kembali duduk. Itu pun tidak pernah benar-benar diam. Pasti ada anggota badannya yang bergerak. Entah kepalanya, tangannya, maupun kakinya. Dan kegiatan ini terus berulang-ulang.

"Kimiko-chan! Cukup!" seru Mika-chan, mengambil gelas yang dipegang Kimiko, "Tenangkan dirimu untuk sesaat"

"Tapi, Mika-chan..." kata Kimiko.

"Kau pasti akan baik-baik saja, Kimiko-chan. Kau pasti bisa melakukannya" kata Mika-chan berusaha menenangkan Kimiko. Kimiko tidak terlalu yakin dengan perkataan Mika-chan. Saat Kimiko sudah membuka mulutnya, mereka kedatangan tamu.

"Halo, Kimiko-chan" sapa Bossun. Di belakangnya ikut berdiri Himeko dan Switch... Yang sudah membeli laptop baru.

"Dia benar-benar gugup, ya" kata Himeko melihat Kimiko gelisah. Mika-chan menghela napas.

"Bukan hanya gugup, tapi sangat, amat gugup sekali. Bahkan untuk duduk diam saja dia tidak bisa" kata Mika-chan. Himeko tertawa kecil.

"Yah, wajar juga. Bagaimana pun dia sudah benar-benar mempersiapkan dirinya untuk KTS ini, bukan? Kudengar dia bahkan sampai latihan terus-menerus" kata Himeko.

"Tidak hanya itu saja, Himeko-san. Dia juga sampai lupa makan. Aku harus sampai meminta Switch-kun menyeretnya keluar dari ruang musik hanya untuk makan" gerutu Mika-chan. Tawa Himeko malah semakin keras.

"Jadi... Bagaimana keadaanmu, Kimiko-chan?" tanya Bossun. Kimiko malah berkomat-kamit tidak jelas.

"Kimiko-chan?" panggil Bossun lagi menepuk bahu Kimiko, yang membuatnya terkejut.

"A-Ah! Bossun! Tadi kau bilang apa?" tanya Kimiko.

"Aku tanya bagaimana keadaanmu sekarang, Kimiko-chan" kata Bossun.

"Eh... Aku baik-baik saja. Hanya sedikit gugup, kurasa" balas Kimiko. Dan tidak lama kemudian Kimiko menyenggol vas bunga dekatnya dan hampir membuatnya pecah jika tidak ditahan Switch.

"Kalau ini yang kau bilang hanya sedikit gugup, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau sangat gugup" kata Switch menatap tajam Kimiko.

"Urusai! Aku hanya tidak sengaja, kok!" balas Kimiko malu.

"Ah ngomong-ngomong, mengapa kalian bisa ke sini? Bukannya hanya peserta saja yang boleh ke belakang panggung? Aku saja sampai bersusah payah untuk meminta izin" tanya Mika-chan.

"Karena beberapa kejadian akhir-akhir ini, Tsubaki mengijinkan kami masuk. Yah, walaupun dengan menggerutu juga" jawab Bossun. Mika-chan mengangguk. Setelah Totsuka tertangkap, Kimiko langsung menceritakan semua kepadanya. Harus diakui, dia memang terkejut, tapi pada akhirnya dia tidak mempermasalahkan hal itu. Siapa pun juga pasti terkejut jika temanmu mengatakan, "Hei, adikku meninggal dan orangtuaku dibunuh dan karena itu aku dipanggil Dewi Kematian".

"Jadi, ada apa kalian ke sini?" tanya Kimiko.

"Kami ingin memberikan ini padamu" kata Switch menyerahkan sebuah kotak kepada Kimiko.

"Apa ini?" tanya Kimiko.

"Coba buka saja sendiri" kata Switch.

Kimiko pun membuka kotak itu dengan hati-hati. Begitu melihat isinya, matanya langsung berbinar-binar seperti anak kecil.

"Cheesecake! Kue kesukaanku!" seru Kimiko gembira.

"Dia benar-benar seperti anak kecil saja" pikir semua yang ada di ruangan itu kecuali Kimiko.

"Arigatou, Kazu-kun. Aku sama sekali tidak menyangka kau masih ingat kue kesukaanku" kata Kimiko tersenyum. Switch membalas senyumannya.

"Dan juga Bossun dan Himeko-chan. Terima kasih untuk kuenya" tambah Kimiko cepat-cepat setelah dipelototi oleh mereka berdua. Switch menghampiri Kimiko.

"Lakukan saja seperti biasanya. Jangan terlalu tegang" kata Switch. Kimiko mengangguk kecil. Switch, Bossun, dan Himeko pun berjalan keluar. Tiba-tiba saja Switch menghentikan langkahnya tepat sebelum dia keluar.

"Oh, hampir saja lupa. Ngomong-ngomong kami ikut menonton di barisan depan" tambah Switch dengan santainya.

"Dan kau mengharapkanku untuk jangan tegang?!" seru Kimiko.

"Maa, maa. Tenang saja. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya. Sampai jumpa nanti" kata Switch benar-benar keluar.

"Cih! Dari dulu sampai sekarang, anak itu tetap saja menyebalkan!" gerutu Kimiko.

Mika-chan hanya mendengus geli mendengarnya.


"Ramai sekali di sini" kata Bossun berusaha menembus kerumunan yang ada. Saat ini mereka semua sedang berada di aula sekolah, tempat acara KTS tahun ini digelar.

"Tentu saja ramai. Sebentar lagi acaranya akan dimulai, kan?" balas Himeko.

Akhirnya, setelah perjuangan yang cukup lama, Bossun, Himeko, dan Switch berhasil mencapai tempat duduk mereka. Dan seperti kata Switch tadi, mereka benar-benar duduk di barisan paling depan.

"Tapi, aku sama sekali tidak menyangka kau bisa mendapat kursi di sini. Kudengar semua tiket KTS sudah terjual habis, kan?" tanya Bossun.

"Jangan pernah meremehkan kekuatan internet" kata Switch.

"Ssst! Acaranya sudah mau mulai" kata Himeko menempelkan telunjuknya di depan mulutnya.

Lampu aula yang tadinya terang benderang perlahan-lahan menjadi gelap. Meninggalkan sebuah lampu sorot yang terarah ke panggung. Pembawa acara pun memasuki panggung. Mulut Bossun sampai mau terjatuh saking terlalu lebar menganga. Semua itu karena...

"Tu-tunggu! I-Itu Tsubaki kan?!" seru Himeko menunjuk panggung.

"Dan sepertinya yang ada di sampingnya itu... Saaya?" kata Switch tidak percaya.

"Ehem... Perkenalkan saya Sasuke Tsubaki" kata Tsubaki.

"Dan saya, Saaya Agata" sambung Saaya.

"Kami berdua akan memandu kalian dalam acara... Kaimei Talent Show!" seru mereka berdua bersamaan. Penonton bertepuk tangan.

"Jadi Tsubaki-kun, ada apa saja acara malam ini?" tanya Saaya.

"Tentu saja, sesuai namanya, Kaimei Talent Show malam ini akan menampilkan bakat-bakat dari sekolah Kaimei. Ada modern dance dari kelas 3-C, FlipFlop!" seru Tsubaki yang dibalas sorakkan pendukung FlipFlop.

"Ada juga magic show dari Akitoshi Daimon-san!" seru Saaya yang dibalas sorakkan pendukung Damon.

"Damon? Maksudnya Enigman?!" kata Bossun setengah berteriak karena terlalu berisik. Switch mengangguk.

"Pendukungnya banyak juga" gumam Himeko melihat betapa antusiasnya pendukung Damon yang kebanyakkan didominasi oleh anak-anak perempuan.

"Dia memang tampan, sih..." kata Bossun pelan.

"Lalu permainan taiko dari Chiemi Megumi-san! Penyanyi bersuara emas Okimura Yurin! Dan..." kata Tsubaki.

"Solo piano dari Kimiko Kurebayashi!" sambung Saaya. Bossun, Himeko, dan Switch bersorak.

"Sekarang langsung saja kita sambut, untuk pembukaan acara kita..." kata Saaya.

"Band yang berhasil meraih juara pertama dalam Kaimei Rock Festival..." kata Tsubaki.

"JardiN!" seru Tsubaki dan Saaya bersamaan. Sontak, jeritan histeris terdengar dimana-mana. Seiring dengan masuknya pembawa acara, para anggota band JardiN memasuki panggung dan ke posisi mereka masing-masing.

"Apa kalian siap?!" seru Dante. Teriakkan penonton semakin keras.

"Kami akan menyanyikan lagu terbaru kami... Graffiti!" seru Dante menyibakkan rambutnya. Sontak, bunyi gitar terdengar. Sorakkan penonton membahana keras di aula. Singkatnya, JardiN sangat sukses membuka acara KTS. Begitu pertunjukkan JardiN selesai, Tsubaki dan Saaya kembali masuk ke panggung untuk memandu acara berikutnya.

"Sekarang, langsung saja kita persilahkan, FlipFlop!" seru Tsubaki dan Saaya.

Setelah beberapa waktu, akhirnya 4 dari 5 peserta sudah tampil. Dan harus diakui, mereka semua tampil dengan bagus sekali. Terutama Okimura Yurin. Meskipun penampilannya agak aneh (telinga lancip, gigi bertaring, dan... Ekor?) tapi kualitas suaranya tidak diragukan lagi. Kimiko mendapat saingan yang cukup berat.

"Dan akhirnya, mari kita sambut peserta terakhir kita..." kata Saaya.

"Kimiko Kurebayashi!" seru Tsubaki dan Saaya. Bossun, Himeko, dan Switch langsung bersorak dan bertepuk tangan sekeras yang mereka bisa. Kimiko pun memasuki panggung dan membungkukkan badannya memberi hormat. Jika tadi Bossun yang kaget setengah mati karena melihat Tsubaki, kini giliran Switch. Dengan balutan mini dress merah tua sederhana namun elegan, Kimiko tampak sangat... Mempesona. Rambutnya yang panjang sengaja digerai dan diberi ikal kecil di ujungnya. Perlahan-lahan suasana pun semakin sepi dan akhirnya menjadi tidak ada suara sama sekali. Kimiko mendekatkan mulutnya ke mic.

"Setiap orang pasti pernah melakukan sesuatu yang buruk di masa lalunya. Sesuatu yang tidak akan pernah kau ceritakan pada orang lain. Entah hal itu memalukan, entah hal itu menyedihkan,atau bahkan hal yang kau sesali seumur hidupmu. Kau merasa hilang dan seakan-akan tidak bisa bangkit lagi"

Kimiko mengambil jeda sebentar, sebelum melanjutkan kembali. Dia menarik napas panjang.

"Aku hanya ingin kau tahu bahwa... Kau tidak sendirian. Ada orang-orang di sana yang mengulurkan tangannya padamu, dan selalu ada saat kau butuhkan. Termasuk... Memberikan bahunya sebagai tempat saat satu-satunya yang ingin kau lakukan adalah menangis keras-keras"

Kimiko terdiam lagi. Karena beberapa alasan tertentu, wajah Bossun dan Switch agak memerah saat mendengar perkataan Kimiko yang ini.

"Dan" lanjutnya, "Untuk orang-orang seperti itu... Orang-orang yang selalu ada di sampingku... Lagu ini khusus dibuat untuk kalian"

Kimiko mulai memainkan pianonya. Denting-denting piano pun mulai terdengar.

"Lagu ini... Berbeda dengan yang pernah kudengar saat latihannya" pikir Switch.

Dan untuk membuat keadaan semakin terkejut, Kimiko tidak hanya sekedar bermain piano saja. Dia juga bernyanyi.

I'm on my way now, but if I look far enough back up the gentle slope of the hill,
I'll see the shiny red roof of the house I'm leaving today, wheeling my empty suitcase.

I've always done things this way, no different now than when I arrived.
I'm suited for mornings when the wind is strong. I'll just catch the next current out of here.

Everything I gain, I'll soon lose again.
Though memories slip through my fingers,
my heart will always be with me.
And then, once again, I start walking away.

Everything I gain, I'll soon lose again.
Even if I have to rip out all the pages but the blank ones,
hope shines in my heart, always bright.

Asking "why," I pushed things too far that day and bothered someone special to me.
My dream was ruined, but I thought I saw a place past that wall, and I started thinking too much of myself.

The migrating birds are asleep for the night, resting their wings now,
but, when morning comes, they'll fly far away, leaving their problems behind.

People find happiness over and over
then say farewell to those who are kind enough to remember them.
Imagining my new home, I'm sure,
if I believe in myself, I can make new friends.

Everything I gain, I'll soon lose again.
Even if I have to rip out all the pages but the blank ones,
the hope shining in my heart will never go out.

Rather than considering whether what I'm doing now is right, I'll remember times in my life when I didn't make mistakes,
give a wave in the sunlight, and keep going.

Begitu tuts piano terakhir ditekan, begitu juga penonton bertepuk tangan dengan meriah. Switch bahkan sampai melakukan standing applause, membuat Bossun dan Himeko, bahkan juga Kimiko yang melihat dari panggung, terperangah. Tapi tidak lama. Karena satu per satu, penonton ikut berdiri dan melakukan standing applause juga. Mulut Kimiko sampai terbuka lebar sekali melihatnya. Ini adalah pertama kalinya selama seumur hidupnya, dia mendapatkan standing applause.

"Akhirnya sekarang kita tiba juga di acara yang paling ditunggu-tunggu, Tsubaki-kun" kata Saaya.

"Betul sekali, Saaya-kun. Dan acara itu adalah..." kata Tsubaki.

"Pengunguman pemenang KTS 2012!" seru Tsubaki dan Saaya.

"Dan hasilnya ada di amplop ini" kata Saaya menunjukkan sebuah amplop di tangannya.

"Perlu diingat bahwa pemenang ditentukan oleh hasil voting para penonton yang ada di sini dan oleh karenanya tidak bisa diganggu gugat" kata Tsubaki.

"Nah, Tsubaki-kun, haruskah kita membacakannya sekarang atau lebih baik menungggu chapter berikutnya saja?" tanya Saaya.

"Tidak, tidak. Chapter berikutnya terlalu lama, Saaya-kun. Lagipula author-nya tidak sekejam itu" kata Tsubaki sweat-dropped.

"Apa-apaan mereka ini" pikir semua penonton.

"Yosh! Sekarang kita akan membacakan juara kedua dari KTS 2012. Juara kedua dari KTS 2012 adalah..." kata Saaya. Tsubaki dan Saaya pun membuka amplop itu dan membaca hasilnya.

"Okimura Yurin!" seru Tsubaki dan Saaya. Penonton dengan riuh bertepuk tangan.

"Untuk Okimura Yurin-san, dipersilahkan menaiki ke panggung untuk menerima penghargaan" kata Tsubaki.

Seorang pemuda bertelinga agak lancip pun memasuki panggung. Senyumannya yang lebar menampakkan gigi taringnya. Saaya memberikannya sebuah medali dan piala. Perlahan-lahan, suasana kembali menjadi sepi. Tegang. Mencekam. Penuh antisipasi. Tentu saja karena...

"Dan sekarang, kami akan bacakan juara pertama" kata Tsubaki. Tsubaki dan Saaya kembali membuka amplop. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya.

"Juara pertama, KTS 2012, jatuh kepada..." kata Tsubaki.

"Kimiko Kurebayashi!" seru Tsubaki dan Saaya. Bersamaan dengan itu, confetti pun jatuh dari atas langit-langit. Suasananya sangat meriah. Kebanyakkan penonton sudah bangkit dari kursinya.

"Untuk Kimiko Kurebayashi-san, diharapkan untuk naik ke panggung" kata Saaya.

Bahkan Kimiko saja kesulitan untuk naik ke panggung. Dia harus berdesak-desakkan dengan penonton, yang tidak henti-henti menyalaminya. Dibutuhkan waktu agak lama sebelum Kimiko bisa menaiki panggung. Begitu dia berhasil, Saaya memberikannya medali dan piala. Piala yang jauh lebih besar dari Okimura punya.

"Mungkin ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Saaya menawarkan mic yang diterima oleh Kimiko.

"Hontou ni... Hontou ni... Hontou ni arigato, Minna-san!" seru Kimiko sambil menangis terharu.

"Hey! Switch!" panggil Bossun menyenggol Switch, yang dari tadi hanya terdiam saja melihat Kimiko. Switch akhirnya memutar kepalanya ke arah Bossun.

"Sekarang saatnya" bisik Bossun. Switch menangguk dan ikut pergi menyusul Bossun dan Himeko. Kimiko yang menyadarinya, hanya menatap mereka bingung.

"Apa yang ingin mereka lakukan?" tanyanya dalam hati.

"Sebagai pemenang KTS tahun ini, maka sudah sewajarnya kita meminta Kimiko melakukan show khusus... Betul semuanya?!" seru Tsubaki. Terdengar suara teriakan ya dari penonton.

"Tu-tunggu dulu... Tapi aku sama sekali tidak..." kata Kimiko.

"Dan khusus untuk event kali ini, Kimiko-san akan bermain bersama dengan band. Band ini sudah sangat tidak asing lagi bagi kalian. Mereka berhasil meraih penghargaan lagu terfavorit pada Kaimei Rock Festival! Sudah tahu semuanya?! Mari kita sambut..." kata Saaya.

"The Sketchbook!" seru Tsubaki dan Saaya.

"Apa? Duet? Mereka bahkan tidak memberitahuku sama sekali lagunya! Dan apa itu pula The Sketchbook?" pikir Kimiko.

Tiga orang yang paling tidak disangka Kimiko muncul di panggung. Bossun, Himeko, dan Switch.

"A-Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Kimiko bingung.

Bossun hanya tersenyum padanya dan mengambil mic.

"Selamat malam semuanya! Pada kesempatan ini kami, The Sketchbook, akan membawakan sebuah lagu baru. Judulnya adalah Michi. Selamat mendengarkan!" kata Bossun.

"Nani?! Ja-jadi kalian adalah The Sketchbook? Dan lagu! Aku sama sekali tidak tahu apa-apa lagu kalian!" protes Kimiko.

"Kau jenius musik, kan?" tanya Switch balik.

"Tapi aku tidak sejenius itu untuk bisa memainkan lagu tanpa pernah melihat partiturnya!" balas Kimiko sewot.

"Sebenarnya, Kimiko-chan... Kau pernah membaca partiturnya, kok. Apa kau masih ingat partitur yang kuberikan waktu itu?" tanya Bossun.

"Partitur? Maksudmu partitur yang katanya kau temukan di gudang dan kau memintaku untuk memainkannya? Partitur yang itu?" tanya Kimiko memastikan. Bossun mengangguk.

"Aku masih ingat, sih... Jadi itu lagunya?!" tanya Kimiko baru menyadarinya. Bossun hanya menyengir tanpa dosa.

"Jadi, semua masalahnya sudah teratasi kan?" tanya Bossun. Kimiko mendesah panjang.

"Kurasa bisa dibilang begitu" jawab Kimiko. Bossun tersenyum lebar.

"Yosh! Ayo kita mulai!" seru Bossun. Alunan gitar pun mulai terdengar disusul dengan bunyi drum Switch. Dan meskipun pada awalnya lagu ini tidak di-aransemen untuk piano, Kimiko bisa mengimbangi cukup baik. Bossun mulai bernyanyi.

I've run to this point
Though that's nothing to brag about
I've tripped and fallen over

I'd recklessly chase it
and I know that I'm overdoing it
just to keep the promise that I couldn't hear

I vowed in the past
that I don't want to become
a drifting cloud in the raging wind

I silently locked away
the things that were passed by
Never look down, never look back. Yeah!

on the way to GO
How far does this way go?
Its significance matters more than my pace

on the way to GO
Even if the path is a lonely one
I will reach somebody if I laugh on my way

Bossun mengelap keningnya yang basah karena keringat. Permainan gitar tadi cukup menguras konsentrasinya. Tapi diantara semuanya, Kimiko yang paling capai. Bagaimana tidak? Dia baru saja memainkan lagu yang hanya pernah dimainkannya sekali dan hanya berdasarkan ingatan seadanya saja. Sangat menguras tenaga.

"Encore! Encore! Encore!" seru para penonton saling bersahut-sahutan. Padahal di belakang panggung, Tsubaki sudah memberi isyarat berhenti kepada Bossun. Dia pun menjadi bingung. Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia menghentikan permainannya? Ataukah...

Terdengar bunyi denting piano. Kimiko. Switch menatap Kimiko sesaat, sebelum akhirnya ikut menyusul Kimiko. Bahkan akhirnya Himeko ikut memainkan bagiannya sebagai lead guitar. Bossun menatap Himeko yang mengangguk ke arahnya.

"Kalian ini... Kalau itu ingin kalian semua..." pikir Bossun. Bossun memutuskan untuk ikut bermain dengan mereka.

on the way to GO
How far does this way go?
Its significance matters more than my pace

on the way to GO
Even if the path is a lonely one
I will reach somebody if I laugh on my way

Lagu ini pun akhirnya ditutup dengan epik-nya oleh permainan piano Kimiko. Mereka semua berpandangan dan saling tersenyum satu sama lain. Yah, Tsubaki sangat jelas akan memarahi mereka. Tapi... Hasilnya sepadan, bukan?

Rasanya ingin sekali Kimiko mengabadikan momen ini untuk selamanya.

Andai saja dia bisa.

End of Chapter 10


Author's Note :
Chapter 10! Keep looking for the very last chapter : Epilogue! Just wait it for... As soon as I can?

By the way, the song that Kimiko sang is "Kaze to Oka no Ballad" by Real Paradis. This song is also the soundtrack of Nodame Cantabille : Finale. The song that JardiN sing, Graffiti, is originally sing by Gackt. This very same song is the soundtrack of Sket Dance. And all of the song in this chapter, except Grafitti, was translated into English because I think... It's pretty useless to put it in its original languange, Japanese. Useless because it's hard to understand. So that's why I decided to just put it in English. You can get the feeling just the way I want it!

Lady of Gray