Naruto © Masashi Kishimoto

(I don't take any profit by publishing this fict)

SasuHina/AU/OoC

The Dark Fairy

Chapter X : She is Very Sorry

"Hinata, aku …."

"Sasuke-kun?"

"Aku mencintaimu, Hinata." Suara sang pemuda terdengar berhiaskan vibra. Kepalanya masih menengok sisi luar jendela dan enggan berserobok dengan iris mutiara yang memandangnya dalam kejut.

Dua iris mutiara masih terbelalak meski beberapa detik telah berselang usai pernyataan cinta dari sang pemuda Uchiha. Rona merah terpampang jelas di wajah rupawan milik sang gadis. Namun, seketika mimik Lavender menjadi bermuram-durja. Ia tak menampik rasa bahagia, itu jelas begitu terasa. Akan tetapi, ia pun memikirkan statusnya sebagai Lavender. Ia hanya seorang yang munafik. Bukanlah termasuk klasifikasi gadis baik-baik yang pantas mendapatkan seorang pemuda macam Sasuke.

Hinata meremas selimut. Bibirnya bergetar untuk menyampaikan beberapa kata yang sesungguhnya sulit untuk ia sampaikan. "A-aku. Aku tidak bisa menerimamu, Sasuke-kun. M-maafkan aku."

Sasuke melayangkan kelereng oniksnya. Kecewa dan luka dominan terefleksi di baliknya. "Kenapa?"

Uchiha muda paham ada risiko bila ia telah berani menjatuhkan pilihan untuk mengutarakan perasaannya. Ditolak. Tentu saja, peluang patah hati akan selalu ada. Cinta tak selalu bermuara pada bahagia. Titik menderita pun dapat ditemui juga. Namun, sang Uchiha ingin tahu alasan mengapa ia mendapat penolakan itu. Hinata tak pernah menolak pergi bersamanya, Hinata selalu bersedia bersamanya. Apa gerangan yang membuat sang gadis yang sama melakukan penolakan? Adakah kesalahan yang telah dibuatnya tanpa disadari?

"I-itu karena aku merasa tidak pantas bersamamu, Sasuke-kun. K-kau sempurna. Kau baik hati dan dikagumi banyak g-gadis. Kau seharusnya tidak jatuh p-pada gadis sepertiku."

"Tidak pantas? Hanya karena alasan itukah kau menolakku?" Nada bicara Sasuke meninggi. "Jangan bercanda! Akan lebih baik jika kau mengatakan bahwa aku yang tidak pantas untukmu, bukan sebaliknya!"

Sang Hyuuga mendongak. "Apa itu artinya aku pantas untukmu?"

Sekelebat waktu kemudian, Hinata merasa bahunya dicengkeram dengan kencang oleh sang pemuda. Iris mutiara yang cerah bertemu dengan iris malam yang gulita.

"Dengarkan aku! Dalam cinta tidak ada kata pantas atau tidak! Aku mencintaimu, Hinata! Jika kau menolakku karena alasan kau tidak mencintaiku, aku akan mencoba untuk mengerti. Tapi sekarang apa? Kau menolakku hanya karena pantas dan tidak pantas!"

"S-Sasuke-kun, sakit … l-lepaskan aku."

Sang pemuda tersentak. Ia lekas melepaskan bahu sang gadis dan membiarkan tangan sang gadis menetralisir rasa sakit akibat jemari Sasuke yang mendarat di sana.

"Maafkan aku, Hinata. Aku menerimamu. Aku menerima dirimu bagaimanapun ucapanmu tentang dirimu sendiri. Aku tidak peduli apa kata orang lain. Aku mencintaimu, hanya itulah yang kupahami. Aku mencintaimu sampai terasa sakit. Aku mencintaimu sampai terasa gila. Ini pertamakalinya aku jatuh cinta dan aku tak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan."

Sang Hyuuga terdiam. Tidak menanggapi sang pemuda dengan pengakuannya. Dibiarkan olehnya waktu berjalan dalam keheningan di antara mereka. Setidaknya, saat ini biarkan sang gadis Hyuuga berpikir. Biarkan ia mengerti apakah ia harus menerima Sasuke atau tidak, apakah ia bisa menerima Sasuke atau tidak.

"J-jika memang Sasuke berkata begitu, aku mengerti. A-aku pun memiliki perasaan p-padamu, Sasuke-kun. Aku … m-menerimamu."

Sasuke tersenyum tipis. Ia mendekati Hinata dan membawa wajah sang Hyuuga mendekat ke arahnya. Dalam paduan keheningan, dua bibir menyatu dalam satu sentuhan. Tidak ada lagi kata yang terlontar, hanya perasaan dalam aksi yang tercipta.


BRAK!

Neji dengan murka menendang sebuah pintu belakang sebuah kediaman. Dua bilah pedang berada dalam genggamannya dengan aman. Sepasang lensa mutiara menatap nyalang pada seisi kediaman yang lengang, seolah kedatangannya memang telah menjadi hipotesis bagi sang pemilik.

"Mantan kepala cabang organisasi yang mengundurkan diri dan berjanji untuk tidak membocorkan informasi, tapi nyatanya berencana membunuhku." Neji melangkah dengan pasti, menyadari bahwa sebuah siluet tengah duduk diam di balik sebuah tirai. "Kau keji melebihi tikus got, pengkhianat."

BATS!

Neji menyibak tirai berwarna marun di hadapannya. Menampilkan figur seorang pria yang lantas berbalik menyapa sang tamu tak diundang.

"Selamat datang, Tuan Neji. Atau … kau lebih suka jika kupanggil Taube, eh?" Ia berbicara dengan nada mengejek. Meski dihadapkan pada sosok pembunuh yang tengah beringas, sang pemilik kediaman tampak tak kalut sedikit pun.

"Diam, pengkhianat! Kau tidak pantas menyebut namaku!"

"Eeeh? Jadi aku sudah tidak pantas menyebut namamu? Begitukah? Tenang saja. Walaupun demikian, kau masih pantas menyebut namaku, anak muda."

Gigi Neji bergemeletuk. Ia mencoba meredam emosinya, tapi gagal. "Sialan kau, Shikaku! Sejak awal, ketika tahu bahwa anakmu menjadi polisi, aku telah kehilangan rasa percaya pada janjimu dan ternyata benar, kau pembual!"

Shikaku, sang pria, bangkit dari kursinya. Ia menepukkan tangannya, menjadi penanda untuk memanggil keluar beberapa polisi yang telah bersiaga.

Neji paham, ia telah masuk dalam rencana musuh. Ia telah terbawa emosi dan gagal dalam bertindak. Tapi ia pun bukanlah seorang yang bodoh, ia telah menyiapkan bala bantuannya sendiri. Dengan aba-aba "keluar" darinya melalui wireless, Scorpio, Smile, dan bawahannya yang lain melangkah masuk ke dalam. Senjata lengkap telah berada di tangan masing-masing. Inilah pertaruhan, siapa yang kuat dia yang akan menang dan terbebas dari hukuman atau kematian. Siapa yang kalah dia yang akan merasakan penderitaan.

Neji dan Shikaku siap bertaruh. Antara hidup dan mati.


"Kau sudah baik-baik saja? Apa tidak seharusnya kau mengabari keluargamu …?" Sasuke tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya. Setelah resmi menjadi kekasih sang Hyuuga, pemuda Uchiha berinisiatif mengantarkan sang gadis yang bersikeras pulang meski dokter lebih menyarankannya untuk beristirahat selama beberapa hari.

Hinata mengangguk pelan. "Aku tidak apa-apa, Sasuke-kun. Lihat, aku bisa berjalan sendiri, bukan? Walau begitu, terima kasih sudah mencemaskanku. Selain itu, aku tidak ingin membuat keluargaku jadi panik karena tahu aku terluka."

Untuk bagian itu, Hinata telah berbohong walaupun tidak dapat dikatakan sepenuhnya berbohong. Bagaimanapun Neji termasuk keluarganya dan sang pemuda tentu akan luar biasa panik jika mengetahui Lavender terluka di bahu akibat terkena serangan dari pencuri biasa.

"Aku percaya padamu. Jika begitu, ayo! Kuantarkan pulang." Sang pemuda mengulurkan tangan. Awalnya, Hinata merasa ragu untuk menyambut uluran tangan sang pemuda.

Bayangan dirinya yang lain yang menatapnya dengan pandangan kosong terus berkelebat. Haruskah ia menanggalkan diri seutuhnya sebagai Lavender dan menjadi Hinata? Apakah ia bisa menghapus segala dosanya? Apa yang telah ia lakukan adalah dosa?

Konflik batin Hinata kian rumit. Di satu sisi, ia merasa dirinya yang Lavender tengah mengingatkannya untuk tidak lengah dan melonggarkan kewaspadaan. Di sisi lain ia mendambakannya. Ia mendambakan perasaan hangat ini.

Kelopak mata Hinata terpejam. Alam bawah sadar Hinata membawanya pada suatu dimensi yang gelap. Di sana, ia hanya seorang diri. Tidak, ia tidak benar-benar seorang diri. Satu persona lain berada di depannya. Sosok yang sama dengan yang sekilas lalu ia pikirkan dalam benaknya. Sosok dirinya yang Lavender. Sosok itu mengulurkan tangan kepadanya, dengan pandangan yang kosong, dan ekspresi dingin yang tak absen terpasang. Di sisi lain, di belakang sang Hyuuga sosok Uchiha Sasuke pun tengah mengulurkan tangan kepadanya. Jika Lavender menawarkan kepekatan dan kesendirian, sosok Sasuke hadir di sana dengan menawarkan cahaya dan kehangatan. Sesuatu yang selama ini sang gadis idam-idamkan.

Beberapa sosok lain bermunculan di belakang siluet Lavender. Ada sosok Neji, Sai, Sasori, dan bahkan … Gaara. Seluruh sosok yang ada beriringan dengan Lavender menatapnya dengan pandangan kosong. Tatapan intens itulah yang mau tak mau membuat Hinata melangkah maju. Ia nyaris menerima uluran tangan Lavender, tapi lekas-lekas menelengkan kepala. Ia kembali menengok ke belakang, melihat figur Sasuke yang menjanjikan sebuah cahaya yang begitu terang.

'Maaf Lavender, aku … aku ternyata mendambakan kehangatan. Aku mendambakan cahaya itu. Aku ingin tahu rasanya berada di antara lentera yang cerah, lepas dari jerat kegelapan. Kali ini, aku ingin meraih kebahagiaanku sendiri.'

Hinata membuka mata. Sosok Sasuke yang mengulurkan tangan kepadanya masih menjadi pemandangan yang dilihat oleh sang gadis. Tersenyum, Hinata berlari kecil dan menyambut uluran tangan sang pemuda. Keduanya berbagi senyuman dan berjalan berdampingan dalam hangatnya petang.


Malam telah datang, menjatuhkan gulita di antara lentera yang menyala. Di dalam kediaman Nara, baku hantam masih menjadi opera. Darah segar sebagai ornamen, pekikan sebagai orkestra, dan manusia yang hidup sebagai aktor. Neji melirik tajam pada sisi kiri dan kanan, dua pedang di tangannya kini telah ternoda dengan likuid merah nan kental. Shikaku telah tewas, lebih tepat bila dikatakan telah dibunuh oleh Sai. Pemuda pucat dengan kode Smile tersebut menusukkan injeksi berisi racun ke leher sang pria. Salahkan Shikaku yang menurunkan kewaspadaannya ketika berhasil mendesak Neji. Siapa yang lengah, ia yang celaka. Pepatah tersebut tentu tepat bila diaplikasikan pada kondisi seperti ini.

Kembali pada medan pertarungan. Kubu Lavender kini hanya menyisakan beberapa personil, sama halnya dengan kubu polisi. Namun, Neji yakin bila bala bantuan dari polisi datang lebih dahulu dibanding dengan bala bantuan dari kubunya, ia akan terdesak. Benarlah apa yang sang Hyuuga tidak harapkan. Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas dan menggaung ketika suara sepatu meniti anak tangga yang terbuat dari besi.

Oniks berpapasan dengan lavender. Sirat tajam dan sirat jengah bertemu. Uchiha Itachi dan Hyuuga Neji akhirnya berhadapan.

"Aku tidak menyangka, adikku benar-benar jatuh ke tempat yang salah. Ia jatuh cinta pada iblis berwujudkan gadis muda." Itachi tertawa sinis. SIGP250 berada di tangannya dalam kondisi siap melesatkan peluru.

Di sisi lain, di bawah sana, Neji menyilangkan dua pedangnya dalam posisi siap bertahan dan menyerang. Ia berdecih mendengar metafora yang disebutkan sang sulung Uchiha. "Jangan pernah menyamakan Hinata dengan iblis, orang hina! Kalian tidak berhak mengatakan apa pun soal Hinata!"

DOR!

Itachi menembakkan pistolnya ke arah kepala Neji. Dengan sigap, sang pemuda memakai mayat di dekatnya sebagai tameng sehingga yang pecah bukanlah tengkoraknya sendiri, melainkan tengkorak manusia yang ia jadikan tameng dan berasal dari kubu musuh. Secepat kilat, sang Taube menaiki anak tangga dan menebaskan pedangnya ke arah sang kakak dari Uchiha Sasuke.

BATSSS!


"Hari ini sangat menyenangkan meskipun banyak yang terjadi. Terima kasih banyak, Sasuke-kun." Hinata membungkuk pada sang Uchiha, mengungkapkan terima kasih dengan tulus.

Sang pemilik oniks menyentuhkan tangannya di puncak kepala sang gadis. Diusapnya surai indigo yang ada sehingga membuat Hinata tersipu malu. Sensasi hangat tak henti memenuhi dadanya sedari tadi.

"Aku pun demikian. Terima kasih, Hinata."

Kini keduanya berada di sebuah jalan yang lengang. Beberapa tikungan lagi dan Hinata akan sampai ke rumah kamuflase miliknya. Sayang, tak lama kemudian, beberapa orang yang dikenali Sasuke sebagai polisi menarik siluet Hinata dengan kasar dan mengenakan borgol di kaki dan tangan sang gadis, sedangkan beberapa orang lain tampak menutupkan kain pada mata sang Hyuuga.

"Hei! Apa yang kalian lakukan?!" Sang pemuda tampak tak terima.

Salah seorang dari penyergap lantas maju dan memberikan konfirmasi. "Organisasi pembunuh Lavender dikendalikan oleh keluarga Hyuuga. Hyuuga Hinata disinyalir merupakan ketua dari organisasi tersebut."

"PERSETAN! PERSETAN DENGAN DUGAAN KALIAN! HINATA BUKAN PEMBUNUH!" Sasuke hendak melayangkan pukulan pada sang polisi, tetapi sebuah pergerakan menahannya.

"Hentikan, Sasuke."

"Juugo?"

"Jika kau tidak percaya, ikutlah denganku. kau dibutuhkan untuk membantu Itachi. Hyuuga Hinata akan berada dalam penahanan di bawah pengawasan penuh."

"Ta—"

"Sasuke-kun? S-Sasuke-kun, siapa mereka?" Suara Hinata yang gemetaran mengalihkan perhatian sang Uchiha. Sasuke tak kuasa menahan diri. Ia ingin melepaskan borgol dan kain itu, tapi Juugo melakukan penawaran kepadanya.

"Sasuke, ikut aku sekarang."

Sang Uchiha terdiam. Ia berbalik dan mengikuti Juugo setelah sebelumnya meminta maaf kepada sang Hyuuga.

"Tunggu aku, Hinata. Aku akan kembali."


Di dua tempat yang berbeda, iris hitam dan safir berkilat penuh amarah. Sesaat lalu Shikamaru baru saja menghilangkan segala kecurigaannya pada target, Hyuuga Hinata dan kini ia dihadapankan pada informasi bahwa Hinata memang ketua dari organisasi pembunuh kelas tinggi. Gadis yang telah membunuh Gaara, menyebabkan banyak kasus yang sulit dipecahkan, dan kini telah membunuh ayahnya secara tidak langsung. Di tempat lain, Naruto yang masih setia menunggu sang Haruno siuman dan kembali seperti sedia kala mendapat kabar mengenai penangkapan Hyuuga Hinata dan baku hantam antara pihak organisasi dan polisi yang terjadi di kediaman Nara. Informasi terbunuhnya Shikaku pun tak lepas dari pengetahuan sang pirang.

Hanya satu yang ada di benak mereka saat ini.

"Habisi Lavender dan organisasinya!"


Hinata duduk diam dalam sebuah ruangan yang bahkan tidak diberi ventilasi. Mata sang gadis masih ditutupi oleh kain dan borgol masih belum lepas dari tangan dan kakinya. Beberapa penjaga tampak tidak mengendurkan pengawasan sama sekali karena meski terlihat lemah, objek yang ada di dalam sana adalah seseorang yang disinyalir sebagai ketua dari organisasi mengerikan. Pakaian Hinata telah berganti menjadi pakaian putih polos. Sesaat lalu sang gadis bahkan merasakan bahwa seluruh tubuhnya tidak lepas dari rabaan polisi meskipun oleh sesama perempuan.

Sayangnya, polisi tersebut tak dapat menyaingi akal cerdik sang Lavender. Merasa panik akan nasib Neji dan bawahannya yang lain, Hinata bagaimanapun caranya harus berhasil meloloskan diri secepat mungkin. Oleh karena itu, sang gadis menggunakan kukunya sendiri untuk merobek bagian samping pergelangan tangannya. Di sana, di dalam tubuhnya sendiri, Hyuuga Hinata telah menanam beberapa peralatan yang ia yakini dapat berguna untuknya. Seperti kali ini. Di antara daging pergelangan tangannya, tampak jarum-jarum berukuran kecil yang berjatuhan. Sang gadis menggunakan dua jemarinya untuk meraih satu jarum saja dan mencoba membuka borgol di tangannya dengan teknik Lock Picking. Berhasil! Tak berapa lama, borgol tersebut telah terbuka. Sang gadis menggunakan kesempatan tersebut untuk mendekat ke arah pintu.

"Ada apa? Kau ingin kami memberimu belas kasih? Jangan bercanda!" Seorang pria tua bernama Hanzou menghardik sang gadis. Ia mendekat ke arah jeruji besi untuk memastikan bahwa sang gadis mendengarkan dengan jelas ucapannya. "Pembunuh sepertimu pantas mati."

"Begitukah?"

SYAT!

Hinata secepat kilat merampas pistol yang ada di saku celana sang pria. Dalam sekejap mata, ruangan yang ada di sana telah dipenuhi gelimangan mayat dan jejak langkah milik sang gadis.


Hinata bergegas mengemudikan salah satu mobil milik korbannya sesaat lalu dan dengan menggunakan GPS yang ada di sana, ia bergegas mencari lokasi kediaman Nara yang disebut-sebut sebagai medan pertarungan antara kubunya dengan kubu polisi. Jauh di lubuk hati sang gadis, ada rasa sesal teramat dalam. Andaikan ia tidak jatuh cinta pada Sasuke, andaikan ia tidak berbelas kasih pada Gaara, andaikan ia tidak bersahabat dengan siapa pun, jelas hal ini tak akan terjadi. Sekarang apa? Organisasinya telah tersudut dan mau tak mau akan menjatuhkan banyak korban. Ia benci keadaan ini.

Mencoba mendinginkan kepala, sang gadis mengeluarkan ponsel miliknya yang berhasil ia rebut kembali setelah disita oleh penyergap. Dalam perjalanan menuju lokasi yang dituju, requiem kesukaannya tak henti mengalun. Baginya, ini cara untuk memberikan penghormatan sekaligus tanda duka cita bagi bawahannya yang telah berkorban. Dalam hati ia berharap agar beberapa bawahan yang terdekat baginya selamat. Terutama Neji.


Pandangan Sasuke nanar. Di hadapannya jasad-jasad berserak seperti dedaunan kering di musim gugur. Bau anyir merembes dari jasad-jasad tersebut, membuat sang Uchiha harus menutup hidung dengan tangannya. Tangan kirinya siaga memegang HS2000. Suara riuh telah terdengar bahkan sebelum ia masuk ke dalam kediaman yang terpencil dari keramaian tersebut. Di perjalanan tadi ia telah mendengar banyak informasi, termasuk informasi kematian ayah dari Shikamaru. Hingga saat ini, Sasuke bahkan tak percaya sedikit pun dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Kekasihnya sendiri telah menjadi objek pengawasan atas tuduhan tindakan kriminal kelas tinggi. Segala hal ini benar-benar tidak masuk akal!

Namun, karena tidak masuk akal itulah Sasuke ingin membuktikan dengan mata kepalanya bahwa asumsi orang-orang salah! Bahwa Hinata benar-benar bersih dari segala tudingan yang diarahkan kepadanya. Sayang, pemandangan yang Uchiha muda lihat tatkala ia melangkah masuk menghancurkan segala persepsinya. Menguapkan segala argumennya.

Di hadapannya, Itachi dengan luka di sana-sini tengah berhadapan dengan seorang pemuda yang ia kenal sebagai Hyuuga Neji, kakak sepupu dari Hinata. Sasuke tidak dapat memikirkan hal lain untuk sementara karena sebuah serangan mendadak dari arah kiri memaksanya untuk fokus pada pertarungan.


Hyuuga Hinata bergegas keluar dari dalam mobil. FN 57 berada di tangan kiri sedangkan di tangan kanan digenggam erat sebilah katana ramping kesayangannya. Katana yang ia namai byakugan itu diambilnya ketika sesaat lalu ia kembali ke kediamannya dan memang mendapati bahwa kediamannya telah lengang. Artinya, seluruh manusia yang ada di sana telah melesat kemari, kabur, atau berlindung di tempat yang aman. Hinata bisa saja memilih kabur, tapi eksistensi Neji di dalam sana tidak dapat enyah dari pikirannya. Neji adalah satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. Ia tidak ingin merasakan kehilangan sekali lagi.

Iris mutiara membola. Di depan mata, Neji yang hendak menghunuskan katana ke perut kakak Sasuke tengah diincar oleh seorang polisi. Berlari, Hinata mencari sudut yang tepat sebelum akhirnya melepaskan sebuah tembakan tepat mengenai jantung target.

Sasuke berbalik untuk mendapati gadis yang dicintainya telah berdiri di antara medan pertarungan dengan sebuah pistol dan katana. Sorot mata sang gadis yang dingin seolah nyaris menyamarkannya dan membuat Sasuke tidak mengenali ia dalam sekelebat pandang.

"H-Hinata?" Oniks membulat sempurna. Rasa terkejut tak dapat disembunyikan oleh sang pemuda. Apalagi, ia melihat kejadian tadi dengan mata kepalanya sendiri. Adegan saat Hinata membunuh salah seorang aparat dengan senjatanya.

Hinata tidak menoleh ke arah Sasuke sedikit pun, ia justru mengenyahkan setiap musuh yang ada di depan mata. Mengabaikan pandangan terguncang dari sang pemuda raven. Darah yang terciprat dari tubuh korban mengenai wajah putih sang gadis. Sebuah dekorasi sempurna bagi sosok peri kegelapan yang tengah mengucapkan mantera kematian. Membiarkan beberapa manusia terlena oleh gerakannya yang gemulai, tapi mematikan.

Iris mutiara tampak hampa ketika bertumbu pada sesosok mayat yang dikenalinya. Smile … Sai. Hinata ingin menangis, tapi air matanya tidak dapat keluar untuk saat ini. Ia membungkuk sejenak dan menutup mata dari orang yang telah begitu loyal untuk organisasi dengan telapak tangannya.

Pertarungan terus berlangsung dengan sengit. Menghindar, menyerang, bersembunyi, atau mati. Tidak ada opsi yang aman ketika seseorang berada di tempat yang tidak kondusif. Medan pertarungan bukanlah tempat seseorang dapat menarik napas lega. Salah sedikit saja, nyawa menjadi taruhan. Bisa saja mati, atau hidup menanggung penyesalan atau hukuman.

Di tengah pertaruhan itulah, Neji menyadari sesuatu. Ia sadar mengenai keberadaan sebuah senjata yang berada di sudut ruangan. Senjata yang sedang dijangkau oleh seorang anggota polisi. Menyadari senjata apa itu, Neji yang tahu bahwa Hinata telah datang untuk memberikan bantuan berteriak.

"HINATA, CEPAT PERGI DARI SINI!"

Hinata tersentak. Ia mengalihkan pandangannya dari musuh sejenak untuk memandang Neji dengan tatapan tidak percaya. Sepupunya itu hanya akan memanggil ia dengan namanya di saat tertentu. Memanggil sang gadis dengan nama aslinya ketika berada di medan pertarungan bukanlah karakteristik dari Neji. Sama sekali.

Iris lavender lantas menangkap sesuatu yang mencurigakan. Bebunyian yang mencurigakan. Ia melihat ke belakang dan mendapati salah seorang anggota polisi tengah berjibaku dengan sebuah meriam. Hinata terbelalak. Ini situasi yang berbahaya!

"HINATA! PERGILAH! AKU AKAN MENYUSULMU DENGAN SEGERA!" Hinata melihat Neji yang masih bertarung dengan Itachi. Ketika sang pemuda sulung Uchiha lengah, Neji menggunakan kesempatan itu untuk menghabisi nyawa beberapa orang yang menghalangi pintu keluar.

Ketika sang pemuda hendak berteriak, Itachi kembali bangkit dan menyerang Neji. Membuat sang pemuda terkapar dengan luka tembakan di paha kanan.

"HINATA!"

Hinata terdiam. Ia melihat Neji untuk yang terakhir kalinya. Sang pemuda yang ia kira akan menunjukkan amarah terhadapnya justru tersenyum. Hinata berlari keluar menuruti permintaan sang sepupu, pergi sejauh-jauhnya dari tempat tersebut. Di dalam sana, Neji memandang punggung Hinata yang mulai menghilang ditelan pepohonan. Sang pemuda bersurai panjang terus tersenyum sampai akhirnya ia memejamkan mata. Tanpa sadar, butiran air mata meleleh di pipinya. Ia tahu, setelah ini ia tak akan lagi bisa berjumpa dengan sepupu yang sangat disayanginya itu. Janji untuk menjaga Hinata akan berakhir sampai di sini.

'Selamat tinggal, Hinata.'

Sasuke yang melihat kepergian sang Hyuuga berlari mengejar ke luar kediaman Nara. Itachi melihat punggung sang adik yang bergerak dalam helaan napas.


"HINATA!" Sasuke berlari mengejar sang gadis hingga memasuki kawasan yang penuh oleh pepohonan. Ia tidak mengerti lagi dengan perasaannya. Mengapa ia masih bersikeras mengejar gadis yang terang-terangan telah membunuh orang banyak di hadapannya. Tapi berbicara soal membunuh, bukankah kubunya pun sama saja?

"SIAL!" Sasuke memukulkan kepalan tangannya pada sebuah pohon. Tak peduli pada rasa sakit, sang pemuda benar-benar telah kehabisan akal sehat untuk mencerna segala kejadian ini.

Perlahan, ingatan pertemuannya dengan sang Hyuuga pun kembali berputar. Ingatan ketika Sasuke menemukan Hinata sebagai korban penindasan yang tidak membalas sedikit pun, Hinata yang rapuh, Hinata yang bersedih melihat keadaan sahabatnya, Hinata yang begitu baik hati, Hinata yang dengan berani telah melindunginya. Apakah seorang pembunuh akan demikian? Apakah seorang pembunuh akan tampak seperti seorang peri?

BLARRR!

Suara ledakan menyita perhatian Sasuke. Membuat sang pemuda menoleh dan mendapati kediaman Nara telah dilalap oleh bara api. Seketika pikirannya tertuju pada seseorang.

"Itachi!"


Hinata yang telah berada di kejauhan memandang bara api dengan ekornya yang seolah menari-nari dalam getir. Tak ada ekspresi yang ia tunjukkan. Hanya air mata yang tak henti mengalir di pipi yang menjadi simbol perpisahannya dengan Neji. Neji masih berada di dalam sana. Neji telah memberikannya kesempatan untuk hidup. Neji telah menitipkan ambisinya pada sang gadis. Setidaknya, itulah yang Hinata tangkap.

Kenangan demi kenangan saat ia masih bersama Neji berputar. Ingatan itu memenuhinya. Ingatan itu menuntunnya selama ini.

Sang gadis kembali berbalik dan meneruskan perjalanan tak berselang lama. Tubuhnya menembus pepohonan di antara cahaya yang kian lama kian bias oleh kegelapan. Sinar mata sang gadis tampak menjadi satu-satunya penerang di antara kegelapan. Sayangnya, sinar mata yang terang itu bahkan penuh dengan pancaran dendam.

"Aku dendam dengan kalian semua. Aku benci dengan kalian semua. Kalian merebut harta berharga yang kumiliki berulangkali. Suatu saat tidak akan kubiarkan kalian tersisa. Akan kubalaskan dendam ini pada kalian semua … tanpa terkecuali."

Dengan itu sosok Hinata menghilang ditelan malam. Sosoknya yang meneguhkan hati untuk sebuah tujuan telah membuatnya memiliki alasan untuk tetap hidup. Ya, ia harus tetap hidup untuk mewujudkan tujuan itu.

To be Continued


Thanks for reading!

(Grey Chocolate, 2014)