"Aku ingin mengundurkan diri dari Café ini."
Jinhwan akhirnya mengutarakan keinginannya setelah mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan meja kerja Yunhyeong.
"Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Aku pikir sudah cukup lama aku bekerja di Café ini, aku ingin mencari suasana baru."
"Kau tidak perlu berbohong Jinhwan, aku tahu semuanya. Junhoe menceritakan semuanya padaku"
"Ah iya, tentu saja. Junhoe mengatakan padaku jika kalian berpacaran. Selamat untuk kalian berdua, maaf jika aku terlambat mengucapkannya."
Yunhyeong menghela nafasnya kasar. Disaat seperti ini Jinhwan terdengar seperti sedang mengejek dirinya.
"Aku mengerti tentang perasaanmu saat ini Jinhwan, tapi apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Lalu kau akan pergi kemana setelah ini?"
"Aku juga belum tahu akan pergi kemana nantinya, setidaknya aku ingin menghapus semua kenanganku bersama Hanbin. Termasuk di Café ini, tempat pertama kalinya kami bertemu. Semuanya berawal dari sini."
Jinhwan menatap keluar jendela yang berada di belakang Yunhyeong, pikirannya melayang entah kemana. Semua kenangannya bersama Hanbin begitu jelas tergambar di dalam lamunannya, kenangan indah yang mungkin akan selalu membayangi kehidupannya nanti.
.
.
.
-oOo- JUST GO -oOo-
.
.
.
Author :
Yuta CBKSHH
Title :
JUST GO (BINHWAN)
Main Cast :
Kim Hanbin (30 tahun)
Kim Jinhwan (23 tahun)
Support Cast :
Koo Junhoe (23 tahun)
Song Yunhyeong (22 tahun)
Jisoo (28 tahun)
Bobby (28 tahun)
Other cast (iKON's members)
Rating :
M
Genre :
Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length :
Chaptered
Disclaimer :
Fanfict ini berdasarkan obsesi Yuta terhadap BinHwan Couple dari iKON. Ditulis oleh Yuta sendiri tanpa di bantu oleh siapapun. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa nerima cerita ini dengan baik ^^
Warning :
BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. MATURE CONTENT INSIDE ! NC-21 ! DLDR ! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!
Summary :
[YAOI! NC21!] "Aku tahu hatimu tidak akan pernah untukku. Ini rasanya seperti aku memaksa memeras diriku sendiri di dalam hatimu yang tak memiliki tempat untukku. Pada akhirnya, aku hanya akan menjadi orang bodoh." - Jinhwan. (BINHWAN) Slight JunHwan & JunHyeong! RnR!
Backsong :
iKON – Just Go
~~ HAPPY READING ~~
.
.
.
Para Tamu undangan tampak berdatangan ke Acara Pernikahan Hanbin dan Jisoo hari ini. Mereka semua mengenakan pakaian serba putih. Sesuai dengan dress code yang tertera pada kartu undangan. Tampak para Eksekutif dan Pejabat turut serta memeriahkan Pesta pernikahan tersebut. Tentu saja, karena kedua Orangtua mereka bukanlah orang sembarangan.
Pesta kebun yang mereka adakan di salah satu taman bunga yang sangat luas itu, begitu indah. Altar yang akan menjadi saksi janji suci Pernikahan mereka dipenuhi dengan bunga-bunga nan cantik yang tersusun sedemikian rupa. Semuanya serba putih, ala Pernikahan Isabella Swan dengan Edward Cullen dalam serial Film Twilight.
Sebelum keluar untuk melangsungkan pernikahannya, Hanbin berdiri menatap dirinya di dalam cermin. Meskipun ia terlihat tampan dengan setelan jas berwarna putih, namun tidak ada aura kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"Cepatlah, para Tamu undangan sudah menunggu di luar," Sandara meminta Hanbin untuk segera keluar.
Hanbin hanya menundukkan kepalanya berjalan mengikuti Dara, mereka berjalan menuju Altar Pernikahan. Sudah ada seorang Pastur yang menunggunya di sana, para Tamu undangan yang berbaris rapi di depan Altar tersebut mulai bertepuk tangan menyambut kedatangan Hanbin. Mereka semua kagum melihat sang mempelai Pria yang terlihat sangat sempurna dan tampan di hari yang indah ini.
Beberapa saat kemudian sang mempelai wanita pun datang. Berjalan perlahan di atas karpet merah dengan menggenggam buket bunga dengan kedua tangannya. Para Tamu kerabat mereka mulai menebarkan bunga kepada sang mempelai wanita, senyuman pun mengembang indah di bibirnya. Jisoo terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun pengantin serba putih. Bagian belakang gaun yang ia kenakan terseret indah ketika ia tengah berjalan menuju Altar Pernikahan mereka.
Aura bahagia terpancar dari kedua Orangtua mereka. Tentu saja karena sebentar lagi mereka akan menjadi satu Keluarga, hal yang sudah sangat lama mereka impikan. Kecuali Taeyang, Ayah Hanbin. Ia melihat Putranya tidak bahagia dengan Pernikahan ini.
Hanbin dan Jisoo kini berada di hadapan Pastur yang akan menikahkan mereka. Tanpa menunggu lama sang Pastur pun memulai Upacara Pernikahan mereka.
"Jadi Saudara Kim Hanbin, bersediakah anda, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, bersama wanita di sebelah kanan anda? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sabagai yang utama dari segala hal, menjadi Suami yang baik, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?"
"Sa-saya… bersedia," suara Hanbin terdengar parau.
Semua orang tampak kebingungan mendengar jawaban Hanbin yang seolah tidak yakin dengan Pernikahan ini. Termasuk Pastur yang ada di hadapanya, ia menatap dalam-dalam mata Hanbin. Setelah beberapa detik mengamati, sang Pastur kembali melanjutkan.
"Apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai Istri yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?"
Hanbin terdiam cukup lama. Janji pernikahan yang diucapkan oleh Pastur, terdengar sangat memberatkan bagi dirinya.
Semua orang semakin bingung dan saling berbisik satu sama lain. Jisoo pun menoleh kepada Pria yang sebentar lagi akan menjadi Suaminya ini.
"Kenapa kau diam?" Jisoo setengah berbisik.
Hanbin tampak tidak perduli dengan pertanyaan Jisoo. Ia hanya mematung dengan tatapan kosong. Entah kenapa bayang-bayang Jinhwan tiba-tiba muncul begitu saja memenuhi pikirannya, kepalanya terasa sangat pusing dan akhirnya…
BRUKK!
Ia terjatuh dan kehilangan kesadarannya.
.
.
.
-oOo- JUST GO -oOo-
.
.
.
"Putraku, kau sudah sadar?" Hanbin perlahan membuka kedua matanya. Orang pertama yang dilihatnya adalah Ibunya.
Menatap sekelilingnya, Hanbin sadar jika sepertinya ia tengah berada di dalam salah satu Ruangan Rumah Sakit.
"Kau tadi pingsan di Altar Pernikahan, apa kau ingat?" Taeyang tampak khawatir dengan Hanbin.
Hanbin hanya menatap Taeyang tanpa menjawab pertanyaannya.
"Apakah Ayah terlalu memaksa hingga kau seperti ini?"
Terdengar isak tangis Dara melihat kondisi Putranya saat ini. Hanbin terlihat sangat pucat, tatapannya kosong seperti orang yang tengah berada dalam tekanan yang hebat.
"Kenapa kau diam saja?" Dara mengusap pucuk kepala Hanbin dengan penuh kasih sayang.
"Ayah maafkan aku…" Hanbin menangis dan memeluk Taeyang.
"Ayah mengerti, seharusnya Ayah yang meminta maaf padamu. Ayah terlalu memaksakan kehendak Ayah sendiri tanpa memperdulikan perasaanmu."
"Tidak Ayah, aku akan tetap menikah dengan Jisoo."
Hanbin melepaskan pelukannya.
"Tidak, sebenarnya selama ini Ayah mengetahui segalanya tentang hubunganmu dengan Jisoo. Ayah juga tahu kalau sebenarnya kau jatuh cinta kepada seorang Pria yang bernama Kim Jinhwan"
Hanbin membulatkan matanya setelah mendengar perkataan Taeyang.
"Maaf, selama ini Ayah memerintah beberapa orang untuk mengawasimu. Bukannya Ayah tidak percaya padamu, akan tetapi Ayah tidak ingin menjadi orang yang egois. Ayah ingin mengetahui semua kebenarannya," jelas Taeyang.
Flashback
"Kita batalkan saja Pernikahan ini."
Kedua orangtua Jisoo Park Bom dan Kwon Ji Yong merasa tertohok dengan pernyataan Taeyang, Termasuk Dara Istrinya.
"Apa kau sedang bercanda?" tidak terima, Jiyong bangkit dan berdiri tepat di hadapan Taeyang.
Taeyang menempatkan kedua tangannya pada bahu Jiyong, bermaksud untuk menenangkannya.
"Sepertinya Jisoo bukanlah orang yang tepat untuk Putraku."
"Lalu bagaimana dengan Perjanjian Bisnis kita. Aset yang aku miliki bahkan jauh lebih banyak dari milikmu, apa pantas kau berkata seperti itu?" Jiyong mulai menunjuk wajah Taeyang.
Mendengar itu, Taeyang melepaskan tangannya. "Ini bukan masalah aset, aku tahu Hanbin adalah Pria yang baik. Tapi, entah mengapa masih saja ada orang yang tega mengkhianati dan menyakiti hatinya."
Jiyong hanya diam membisu. Sudah beberapa kali ia memperingatkan Putrinya Jisoo untuk tidak lagi berhubungan dengan Pria yang bernama Bobby yang menurutnya adalah anak berandalan. Namun semuanya sudah terjadi, meskipun kecewa Jiyong akhirnya menerima keputusan Taeyang.
Flashback end
.
.
.
-oOo- JUST GO -oOo-
.
.
.
"Aku tidak tahu."
Yunhyeong memalingkan wajahnya.
"Bukankah kau Manager di sini? Seharusnya kau tahu dimana Jinhwan sekarang."
Setelah Pernikahannya dibatalkan, Hanbin pergi mencari Jinhwan. Entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengannya dan mengatakan bahwa ia mencintainya tanpa rasa ragu lagi.
"Berapa kali pun kau tanyakan keberadaan Jinhwan padaku. Jawabannya tetap sama, aku tidak tahu. Kenapa kau tidak menyuruh orang saja untuk mencarinya. Kau kan orang kaya, punya banyak uang untuk melakukan apapun yang kau mau," jawab Yunhyeong sinis.
"Sudah, tapi mereka masih belum menemukannya."
Hanbin menundudukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Yunhyeong.
Hanbin berpikir keras sambil terus melajukan kendaraannya, ia seperti kehilangan arah setelah mendengar jawaban Yunhyeong. Ketika melewati Toko Sepatu Junhoe ia memutuskan untuk mencoba bertanya kepada Junhoe.
"Aku tidak tahu."
Jawaban yang sama terucap dari mulut Junhoe.
"Bu-bukankah kalian berteman? Apa dia tidak menghubungimu sama sekali belakangan ini?" Hanbin sedikit tergagap, nyalinya sedikit menciut melihat ekspresi marah yang ditunjukkan oleh Junhoe.
"Kau tahu, aku mencintainya sejak kami masih sama-sama sekolah dulu. Dan saat kami sudah beranjak dewasa, aku mencoba mengutarakan perasaanku padanya. Namun dia menolakku, kau tahu kenapa?" Junhoe menatap Hanbin sambil menahan amarahnya.
"A-aku… tidak tahu."
"Karena dia hanya mencintaimu."
Mata Hanbin mulai merah dan cairan bening sedikit demi sedikit memenuhi pelupuk matanya. Ia tidak mengizinkan airmatanya keluar di hadapan Junhoe.
"Aku pikir Jinhwan akan bahagia bersamamu, itu sebabnya aku merelakannya. Ternyata aku salah, aku menyesal telah melepasnya untukmu."
.
.
.
-oOo- JUST GO -oOo-
.
.
.
Umpatan dan makian bertubi-tubi Hanbin lontarkan melalui ponselnya kepada orang-orang suruhannya, yang ia perintahkan untuk mencari Jinhwan. Sesekali ia berteriak dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Tidak ada satupun tempat yang para pesuruhnya lewati di seluruh Korea Selatan, namun mereka belum juga menemukan keberadaan Jinhwan.
Sejak awal Hanbin mendapat informasi jika Jinhwan tidak berada di Rumahnya. Terbesit dalam pikirannya untuk bertanya langsung kepada kedua Orangtua Jinhwan, akan tetapi ia tidak memiliki cukup keberanian.
Malam hari yang dingin dan sepi, keadaan memaksanya untuk pergi menuju Rumah Jinhwan. Hanya ini satu-satunya cara agar Hanbin segera mengetahui dimana Jinhwan sebenarnya. Dengan ragu Hanbin mengetuk pintu Rumah Jinhwan, tidak lama pintu pun terbuka menampilkan sosok Ibu Jinhwan.
"Untuk apa kau datang ke sini?" Ibu Jinhwan tiba-tiba menarik kerah jas yang dikenakan Hanbin dengan kasar.
Hanbin membulatkan matanya, ia tidak menyangka reaksi Ibu Jinhwan sampai seperti ini.
Mendengar keributan, Ayah Jinhwan datang menghampiri mereka. Ayah Jinhwan mencoba melepaskan cengkraman tangan Ibu Jinhwan pada Hanbin.
"Ibu cukup, jangan seperti ini."
Akhirnya Ayah Jinhwan berhasil melerainya.
"Ini semua karena kau! Aku tidak ingin melihat wajahmu. Pergi dari sini!" Ibu Jinhwan mendorong tubuh Hanbin hingga tersungkur di tanah.
Hanbin terdiam, ia tidak mampu membangkitkan tubuhnya sendiri. Melihat reaksi yang ditunjukkan Ibu Jinhwan, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi.
Merasa iba, Ayah Jinhwan lalu membantu Hanbin untuk bangkit.
"Apa kau mencari Jinhwan?"
"Iya Paman, aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi…"
"Jinhwan sudah pergi, dia tidak ada di sini."
"Lalu dimana ia berada? Kumohon beritahu aku Paman."
"Jinhwan pergi ke Jepang."
.
.
.
-oOo- JUST GO -oOo-
.
.
.
Hanbin tengah berada di dalam Pesawat menuju Jepang, ia telah menyuruh orang-orangnya untuk mencari Jinhwan di Jepang. Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka menemukan keberadaan Jinhwan. Setelah mengantongi Alamat lengkap Jinhwan di Jepang. Hanbin semakin gelisah karena ingin cepat bertemu dengan lelaki mungil tersebut.
Flashback
Melihat Ibu Jinhwan yang masih dipenuhi dengan amarah, Ayah Jinhwan mengajak Hanbin untuk keluar dari halaman Rumahnya. Mereka berdua berdiri di bawah lampu jalan yang berada di sekitar Rumah Jinhwan.
"Dengar, saat ini Jinhwan berada di Jepang. Dia pergi ke Rumah sepupunya yang berada di sana."
"Apa yang membuat Jinhwan pergi ke sana? Dan tadi Bibi terlihat sangat marah, sepertinya sesuatu telah terjadi. Aku… semakin merasa bersalah," Hanbin menundukkan kepalanya.
Ayah Jinhwan menepuk-nepuk bahu Hanbin bermaksud untuk menenangkannya.
"Sebenarnya sebelum Jinhwan pergi ke Jepang, ia mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Untung saja saat itu aku masih sempat mencegahnya. Ia… mencoba untuk mengiris pergelangan tangannya."
Hanbin menatap wajah sendu Ayah Jinhwan. Ia tidak sanggup mengatakan apapun. Mulutnya seolah terkunci atas apa yang baru saja didengarnya.
"Aku juga tidak mengerti. Apa sebenarnya yang membuat Jinhwan melakukan hal seperti itu. Aku tahu dan sangat mengenal Anakku, tidak mungkin ia melakukan hal bodoh seperti itu hanya karena masalah percintaan," lanjut Ayah Jinhwan.
"Ini semua salahku, maafkan aku. Aku pun tidak mengerti, semuanya terjadi begitu saja. Tapi aku berjanji akan memperbaiki semuanya."
"Tentu saja, kau adalah Pria yang baik dan bertanggung jawab."
"Kalau begitu bisakah Paman memberikanku Alamat lengkap Jinhwan di Jepang?"
"Masalahnya adalah aku tidak mengetahui Alamat Rumah Sepupu Jinhwan di Jepang. Karena yang menyuruh Jinhwan untuk pergi ke Jepang adalah Ibunya, dan dia adalah saudara sepupu dari pihak Ibu Jinhwan."
"Baiklah tidak masalah, aku akan mencarinya. Aku sangat berterimakasih pada Paman karena telah bersedia memberitahukan keberadaan Jinhwan."
Hanbin membungkukkan badannya.
Hanbin merasa sedikit lega. Ia beruntung beretemu dengan Ayah Jinhwan yang ternyata adalah orang yang sangat baik. Hanbin seperti menemukan setitik cahaya dalam kegelapan, dan ia sangat yakin cahaya itu akan menuntunnya untuk bisa bertemu dengan Jinhwan.
Flashback End
Setelah beberapa jam perjalanan, Hanbin akhirnya tiba di salah satu Daerah pedesaan di Jepang. Menurut informasi yang ia peroleh dari orang-orang suruhannya, Jinhwan tinggal di sebuah Rumah kecil yang berada di Daerah sepi tersebut.
Dengan ramah Hanbin menyapa seorang wanita setengah baya yang tengah menyapu di halaman Rumah tersebut. Setelah ia yakin bahwa Rumah yang ia kunjungi ini sesuai dengan Alamat yang di berikan oleh orang-orang suruhannya.
"Selamat sore," Hanbin menyapa wanita tersebut dengan Bahasa Jepang –salah satu Bahasa asing yang ia kuasai selain Bahasa inggris-.
"Ya, Selamat sore. Maaf anda siapa?" dengan ramah pula wanita tersebut membalas sapaan Hanbin.
"Aku Hanbin. Aku datang untuk mencari Jinhwan. Ayahnya yang memberitahukan keberadaan Jinhwan padaku kemarin, apa aku bisa bertemu dengannya?"
"Apa kau Kim Hanbin?" raut wajah wanita tersebut seketika berubah menjadi sedikit tegang.
"Bibi mengetahui Nama lengkapku."
"Maaf, Jinhwan sudah tidak tinggal di sini."
"Lalu…"
Belum sempat Hanbin meneruskan kalimatnya, wanita tersebut seperti sedang memandang ke arah lain di belakangnya. Penasaran Hanbin pun menoleh dan mendapati seseorang yang sudah tidak asing lagi baginya tengah belari untuk menghindarinya.
Tanpa pikir panjang Hanbin berlari mengejarnya.
"BERHENTI!" Hanbin berteriak seraya terus mengejarnya.
"KIM JINHWAN AKU MOHON!"
Jinhwan menghentikan langkahnya. Dan dari jarak beberapa meter saja di belakangnya, Hanbin turut menghentikan langkahnya lalu menumpukan kedua tangannya pada lututnya akibat kelelahan setelah berlari mengejar Jinhwan. Ia mencoba untuk mengatur nafasnya terlebih dahulu.
"Untuk apa kau datang ke sini?" ketus Jinhwan tanpa membalikkan tubuhnya.
Hanbin lalu bangkit dan melangkahkan kakinya mendekati Jinhwan. Perlahan ia mencoba untuk memeluk tubuh mungil Jinhwan, namun dengan cepat Jinhwan menepis kedua tangannya.
"Aku mohon Tuan, pergilah! Aku sudah tenang di sini," Jinhwan berbicara dengan nada kasar, mencoba untuk membuat jarak antara mereka
Belum pernah sekalipun Hanbin mendengar Jinhwan berbicara dengan nada sekasar ini. Dan apa, Tuan? Mengapa Jinhwan memanggilnya dengan sebutan seperti saat mereka masih belum saling mengenal dulu?
"Aku sangat merindukanmu, Kim Jinhwan."
"…"
"Aku benar-benar merindukanmu, aku datang untuk mencarimu. Aku senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu."
Kali ini Hanbin mencoba untuk menggapai tangan Jinhwan, namun dengan cepat Jinhwan menepisnya lagi.
Jinhwan lalu membalikkan tubuhnya menatap Hanbin, menatapnya dengan penuh kebencian.
"Maaf Tuan, aku bukan lagi Kim Jinhwan si Pria bodoh seperti yang kau kenal kemarin. Kau tidak bisa menyentuhku sesuka hatimu. Aku adalah Manusia bukan Boneka yang bisa kau permainkan sesuka hatimu."
Mendengar itu, Hanbin menatap Jinhwan dengan tatapan sendu. Pria mungil yang ia kenal sebagai pribadi yang sangat ramah dan juga baik hati seketika berubah. Dan ia sadar betul penyebab berubahnya Jinhwan adalah dirinya.
"Aku tahu kau sangat marah padaku. Aku datang untuk menebus semuanya, kesalahan yang telah aku lakukan selama ini."
"Tidak Tuan, kau tidak akan bisa menebusnya dengan apapun. Pergilah!" Jinhwan bersikeras pada pendiriannya.
"Berhenti memanggilku Tuan!"
Hanbin rupanya tidak mampu mengendalikan amarahnya, ia tersulut emosi mendengar Jinhwan memanggilnya dengan sebutan Tuan secara terus menerus.
"Pergilah, aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi."
"Maaf… Aku tidak bermaksud untuk-"
"Tidak apa-apa Tuan, aku sudah terbiasa dengan kemarahanmu. Kau yang selalu datang padaku hanya pada saat kau membutuhkan diriku dan-"
"Aku mencintaimu."
Kalimat singkat yang diucapkan oleh Hanbin, terdengar sangat asing di telinga Jinhwan. Selama ini belum pernah sekalipun Pria itu mengatakannya.
"Pergilah Tuan, aku mohon. Aku tidak butuh apapun darimu, aku hanya butuh kau pergi secepatnya dan jangan pernah kau muncul lagi di hadapanku."
"Aku datang untuk mencarimu. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku…"
Karena emosi Jinhwan dengan cepat memotong perkataan Hanbin.
"Aku tidak butuh uang atau apapun. Aku akan berusaha untuk membesarkannya sediri!"
Jinhwan membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, ia tidak sengaja mengatakannya.
"Apa maksudmu?" Hanbin berhasil menangkup pipi Jinhwan dengan satu tangannya.
Jinhwan terdiam beberapa saat, dan memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya, karena memang secara tidak sengaja ia sudah terlanjur mengatakannya.
"Aku-"
Hanbin mengikuti arah pandang Jinhwan yang memandang ke arah perutnya sendiri.
"Kau hamil?" Hanbin membulatkan kedua matanya.
"Aku adalah Pria aneh, jadi sekarang kau pergi saja. Tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang bisa menerima kondisiku."
Namun di luar dugaan, dengan tiba-tiba Hanbin melompat kegirangan dan melakukan hal-hal konyol mengekspresikan kebahagiaannya.
Jinhwan hanya menatap dengan mengernyitkan wajahnya, merasa bingung dengan tingkah Hanbin saat ini.
"Aku tidak menyangka aku akan memiliki seorang anak, Terimakasih!" Hanbin mendekap tubuh mungil Jinhwan dengan erat.
"Apa kau gila? Kau sudah menikah."
Hanbin lalu melepaskan pelukannya.
"Apa di sini tidak ada Televisi?" ejek Hanbin.
"Tentu saja ada, tapi hanya siaran local," jawab Jinhwan kesal.
"Pernikahanku dibatalkan. Ayahku sudah mengetahui tentang hubungan kita, dan dia yang menyuruhku untuk segera mencarimu."
Ekspresi kebingungan tampak di wajah manis Jinhwan, yang dikatakan oleh Hanbin terdengar tidak masuk akal baginya.
"Maaf jika selama ini kau merasa kupermainkan. Pada awalnya aku memang hanya menjadikanmu sebagai tempat pelarian, karena pada saat itu Tunanganku mengkhianatiku. Tapi pada saat aku mencoba mengucapkan janji suci Pernikahan, aku sadar bahwa aku tidak mencintainya. Pada saat itu hanya ada dirimu di dalam benakku."
Jinhwan lalu meneteskan airmata bahagia, mendekap Hanbin dengan eratnya.
"Aku mencintaimu Kim Jinhwan. Aku mencintaimu... maaf jika aku terlambat mengatakannya."
Jika saja aku mampu memutar balikkan waktu, akan ku berikan cintaku hanya kepadamu. Tapi mungkin setelah semua yang kita lewati, kita memang ditakdirkan untuk bersama. Baru ku sadari, aku membutuhkanmu seperti halnya aku membutuhkan udara untuk bernafas. Kau mengembalikan semua yang pernah hilang dalam hidupku, jangan pernah menyerah untuk mencintaiku, Kim Jinhwan.
.
.
.
-oOo- JUST GO -oOo-
.
.
.
Pesta Pernikahan yang sesungguhnya sedang berlangsung. Namun kali ini tidak banyak Tamu yang datang, hanya Saudara dan Kerabat mereka yang hadir. Tidak ada satupun media yang meliputnya, karena Pernikahan ini memang diadakan secara pribadi dan tertutup.
Taeyang dan Dara merasa sangat lega melihat Putra kesayangannya kini dapat tersenyum dan terlihat sangat bahagia. Di dunia ini tidak ada yang lebih penting bagi mereka selain kebahagiaan Putranya. Mengingat yang terjadi saat pernikahan Hanbin dengan Jisoo, apapun akan mereka lakukan asal Putranya semata wayangnya ini dapat hidup bahagia.
Kedua orangtua Jinhwan pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Taeyang dan Dara. Tidak sedetikpun senyuman luntur dari wajah keduanya. Junhoe dan Yunhyeong juga turut hadir di sana untuk memberikan selamat kepada Hanbin dan Jinhwan.
"Apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai pasangan yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?"
"Saya bersedia!"
Dengan yakin dan penuh semangat Hanbin mengucapkan janji suci Pernikahannya dengan Jinhwan.
Para Tamu undangan pun bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada kepada Hanbin dan Jinhwan yang kini telah menjadi Pasangan hidup yang sah.
"Selamat untuk kalian berdua. Dan kami minta maaf untuk kejadian beberapa minggu lalu, sepertinya kami telah salah paham terhadap dirimu," giliran Junhoe dan Yunhyeong untuk memberikan selamat kepada Hanbin dan Jinhwan.
"Aku tidak bisa memaafkan kalian."
Wajah Jinhwan menegang mendengar perkataan Hanbin.
"Aku hanya bercanda, hahaha."
Hanbin lalu tersenyum dan memeluk Junhoe.
Taeyang, Dara dan kedua orangtua Jinhwan datang menghampiri mereka. Memberikan selamat kepada keduanya secara bergantian memeluk Hanbin dan Jinhwan.
"Jadi, calon cucuku ini perempuan atau laki-laki?" Taeyang menggoda Jinhwan.
"Kau hamil?" Yunhyeong terlonjak mendengar pertanyaan Taeyang.
Jinhwan hanya melemparkan senyuman manisnya kepada Yunhyeong.
"Ya, Jinhwan hamil. Dan aku telah mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus," Hanbin menjawab pertanyaan Yunhyeong.
Semuanya tersenyum mendengar Hanbin, dan mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan penuh kebahagiaan hingga pesta selesai.
"Song Yunhyeong, jadi kapan kita akan menikah?"
"Seharusnya kau yang memutuskannya."
Junhoe lalu berlutut di hadapan Yunhyeong, menumpukan salah satu lututnya di tanah. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam sakunya.
"Maukah kau menikah denganku?" Junhoe membuka kotak tersebut yang ternyata berisi cincin untuk melamar Yunhyeong.
Yunhyeong tak dapat menahan senyuman harunya, dan kemudian ia mengangguk.
"Aku mau."
.
.
.
.
.
END/FIN.
.
.
.
.
.
.
Karena FF ini adalah FF BinHwan perdana yang pernah Yuta tulis, maka Yuta membuat ceritanya seringan dan serealistis mungkin hehe.
Semoga kalian puas dengan akhir FF ini yaa~
Semoga juga masih banyak yang minat untuk membaca FF Yuta yang lain ^^
Terakhir, Yuta mau ucapin terima kasih banyak untuk Kakak Yuta yang sudah membantu menulis FF ini hingga FF ini END. Saranghaeyong my Unnie :*
Ok, last. Yuta minta reviewnya dari kalian yaa!
Yuta tunggu!
Terima Kasih. Saranghae Bbuing~!
