Terasa sudah enam bulan menjadi orang paling dekat pasien 221. Bulan Juni telah menunjukkan batang hidungnya pagi itu. Hangat serta cerah, matahari menyambut gadis yang tertidur pulas dari arah jendela. Rumah sakit resmi dibuka pukul 08:00, namun aku sengaja masuk dengan kunci duplikat.
Aku mencoba sangat keras agar tidak membayangkan apa yang akan dikatakan teman sekamarku bila ia tahu kejadian ini, khususnya sesuatu seperti "Luar biasa! Kau berani masuk ke kamar gadis yang sedang lemah, tak berdaya. Sudah kuduga, kau memang orang mesum yang tak mungkin tertolong."
Adalah sebuah kepastian kalau aku mempunyai alasan jelas dan non-imoral supaya berani nekat. Diriku Cuma ingin membawanya berkeliling kota, terutama sebab hari ini ialah awal minggu-minggu terakhir musim semi.
"Nnngg..." dia membuat suara, mungkin perlahan merasakan hangatnya sinar matahari.
Perlukah aku membangunkannya? Atau menunggu sebentar lagi?
Berserinya muka itu menyebabkan dilemma internal; di satu pihak, aku mau menyegerakannya membersihkan diri, lalu berpakaian untuk tur kota Villnore, dan di pihak lain, aku mau egois menyerap panorama indah di atas ranjang putih, jalan-jalan pun akan kutunda biar dapat melihatya sedikit lebih lama lagi, wajahnya yang damai di alam tidur.
Tetapi jangan! Aku mau kesembuhannya, itu lebih kuutamakan daripada keegoisan pribadiku. Negitu tahu, aku memegang kedua pundaknya seraya memiringkan kepalaku terhadapnya. "Lana, Lana." Kumulai dengan bisikkan halus dan goyangan pelan kepada tubuhnya yang telentang.
Respon tak ada, aku menarih tenaga lebih besar di gelangan tanganku, "Lana, ayo bangun." Ujarku. Balasan tak kunjung kuterima, dan aku mengamati Sol naik, kemudian naik lagi; hari bertumbuh semakin tua setiap detiknya.
Gawat, aku ingat direktur rumah sakit melarangku membawanya keluar lagi, khususnya karena kami berdua pengidap Claustrophobia. Dan juga, pengalaman buruk—aku ingat saat aku membawa pulang gadis itu dari taman ria, peluh keringat menyelimuti kami, dan orang-orang rumah sakit terkesiap melihatku menggemal tangannya begitu mesra layaknya kekasihnya.
Lana dirawat bukan semata-mata karena ia punya phobia akut, sebab utamanya ialah karena dokter kepala tak sampai hati menelantarkan wanita muda tanpa keluarga seperti dirinya. Bijaksana sekali, namun karena itulah dia menjadi sedikit protektif padanya, bak seorang bapak terhadap putri kesayangannya.
Bisa dibayangkan reaksinya ketika aku seperti, mengajaknya berkencan denganku beberapa bulan silam.
"Lana! Lana! Bangunlah, hari ini aku akan mengajakmu keluar." Guncangan kerasku kali ini membuahkan hasil, dia mulai banung.
"Hoehmm...Ada apa, suster— Hah?" usai meregang lengannya, penglihatannya mendadak terbuka lebar waktu mencerap kenyataan bahwa ada laki-laki yang sekonyong-konyong menyusup ke kamarnya.
"Mau apa kau..." berpakaian mata mengantuk, dia menggerutu sebal.
Mengusap matanya lemas, berulang-ulang, dia lalu mengangkat kakinya dan menyibak selimut, barulah menapakkan kedua kakinya di permukaan ubin. Kantuknya terlanjur berkurang, ia tahu betapa sukarnya tidur lagi ketika seseorang menunggumu di samping ranjang.
"Kau bilang... kita mau kemana?" sengau yang melekat pada suaranya telah hilang, dia duduk di sisi kasur dan menatapku fokus.
Waktu memburu kami, aku pun segera berkata padanya: "Keluar, mengelilingi Villnore, sekarang lekas mandi dan kita berangkat secepatnya!" dorongan pelan ke pnggungnya menarik Lana dari pinggir kasur, aku bermaksud mengarahkannya ke luar kamar, masuk ke kamar mandi di dinding utara koridor utama lantai dua.
"Melihat ke arah lain, kubilang!"
"Aku... mencoba."
Gorden kain hijau gelap membatasi kami, dan dengan sapuan angin yang pelan, garis batas yang berupa sehelai kain menjadi sebanding sia-sia.
Sepuluh menit ke pukul delapan tepat, kami pun beradu argumen dengan tubuhku membelakangi pembatas ranjang dan dirinya di sisi lain pembatas, mengenakan pakaian. Dia dapat lebih gesit dari ini—memakai gaun saja semestinya lebih cepat selesai.
"Dasar wanita." Bisik batinku. Walaupun kuyakin dia mengerti waktu kami sungguh sempit, dia masih menyempatkan berdandan dan memilah tumpukan pakaian, aku tahu itu.
Tengokan ke belakang pasti dibalas dengan bentak kencang darinya, jadi cara menyegerakan Lana ialah dengan menyebut tiap menit yang berlalu ke seisi ruangan.
"8 menit lagi menuju pukul 8" seperti itu, merupakan satu jalan membuatnya terburu-buru; staf rumah sakit cenderung tepat waktu, aku tidak ingin rencana kami terganggu.
"Aargh! Bisa kau hentikan itu? Aku kesulitan memilih rok gara-gara konsentrasi yang dibuyarkan olehmu." Bicara gadis yang sedang sibuk mencari mutiaranya di genangan lumpur.
"Aku akan terus meneriakkan waktu sampai kau sadar bagaimana gentingnya situasi kita sekarang!"
Perseturuan ini belum juga mereda. "Hah! Kita bisa terhimpit seperti ini kan sebab ketidakbecusanmu memberithuku tentang rencana ini jauh-jauh waktu- semua salahmu, jadi turutilah perkataanku!"
Egoisnya, tapi aku seyogyanya tidak kembali mengambil umpan berbahaya itu, kecuali jika kami mempunyai masa luang dan aku merasa berniat bertanding beladiri lidah dengan gadis 16 tahun.
"7 menit menuju pukul 8."
"Si-Sial!"
Kudengar tersibaknya lipatan kain dibalik gorden, tersapu udara yang diam ketika dihentakkan guna mengusir satu dua debu yang mungkin terdapat di sekujur pakaian; dia akhirnya menemukan selembar kain itu.
Sejenak, dan lipatan-lipatan kain lainnya menyusup keluar dalam suara sutra. Lamanya memakai aparel dan pernak-pernik kuharap tak selama pertimbangan mengurai baju pilihannya. "Enam menit menuju pukul delapan." Seru diriku, setelah melihat jarum panjang arloji yang melingkari pergelangan tanganku berpapasan angka 12.
"Selesai!"
Dewi fortuna berpihak pada kami, dan aku lalu dikejutkan oleh bunyi tersirapnya gorden hijau kelabu dipunggungku. Bangun dari duduk bersila, kini aku berdiri membelakangi sosok yang kurasa kehadirannya. Sosok yang melangkah pelan mendekatiku.
"tap, tap." Ketukan sepatu hak tinggi, kado suster Valla atas ulang tahunnya, yang tak percaya kulupakan meski menghabiskan hampir setiap sore di bulan-bulan terakhir bersamanya.
Adalah rasa bersalah, pemutar tubuhku di hambarnya keheningan, menyelimuti kami berdua. "Uh, sebelum kita pergi, mungkin aku..." beda penampakan Lana menghentikan utaraanku.
Gadis jelita itu terbungkus baju hangat biru muda. Bahannya tergolong biasa, namun lengan panjang yang dimaksudkan hanya menutupi hingga pergelangan tangan terlanjur menutupi sebuah porsi dari tangan Lana, membuat diriku sedikit lagi terperanjat. Wanita muda ini sekilas terbias sebagai manusia tanpa kedua tangan, tak ubahnya banshee pegunungan timur.
"Mungkin kau..?"
Ditambah rok hitam yang polos di bagian bawah penghangat, sebenarnya aku dapat berpura-pura dirinya tidak lebih dari gadis remaja biasa. Boleh saja berpikir demikian, dengan hak tinggi putih di pijakan tumitnya, dia terlihat manis, terlalu manis untuk menjadi penghuni tetap sebuah rumah sakit.
"Aku minta maaf, tidak ingat meyiapkan kado ulang tahunmu." Ucapan itu sarat penyesalan, sama halnya dengan wajahku yang menunduk. Kemudian aku mendongak tiba-tiba, lalu merebahkan pertahananku. "Tetapi sebagian merupakan salahmu, kau tidak pernah menyinggung, ataupun memintanya."
Air muka dihadapanku campur-campur. Kukira aku mendapati amarah, juga heran, dan kaget dan alis matanya yang naik secara spontan. Dia pun enggan bersua, hanya menunjukkan galeri ekspresi lewat mukanya.
"Ya sudahlah, keluar dari rumah sakit merupakan tujuan awal kita, sebaiknya—"
"Tunggu! Be-Beri pendapatmu dulu!" kencang seruannya menghantam kedua telinga. Jangan katakan dia tidak memakai corong ataupun pengeras suara, karena mempercayainya akan sulit.
Diberikan perintah seperti itu, aku berlindung dibalik ambigunya seruan. "Tentang...?" aku cukup paham keinginan gadis itu, anmun entah kenapa, lidahku bergoyang di arah yang bukan kemauanku. Mengetahui kejaran waktu hampir meraih kami, seharusnya aku tidak memperpanjang percakapan.
Tolehan ke samping menandakan kemasygulan di dalam hatinya, sembari mempertontonkan kepadaku warna merah muda yang berseri melapisi seluruh bagian wajah Lana. Dengan mengepal tangan kiri di depan mulutnya, dan tangan kiri mencekau di sebelah pinggang, dia berkata pelan, "Tentang...aku...bodoh."
Kena.
"A-Ah...kupikir kau tampak...manis?"
Kurasakan detak-detak jantung memacu darah begitu cepatnya, begitu bergeloranya, begitu kuatnya. Kusadari Lana tambah tertutupi oleh rona merah, membuat dirinya mencapai tingkat kecantikan yang berbahaya. Aku melupakan hal-hal lain kecuali pusaran emosi di sekitar torsoku dan bidadari dengan rambut terurai segelap malam bulan baru.
Undangan itu datang sebagai bau harun yang tercium hidung, dia adalah sumbernya. Sengaja, dia menggodaku dan memberi umpan supaya aku berjalan mengejar akhir nafsu ini, mata air gairah menyesatkan ini.
Sialnya, kupikir ia berhasil.
"Lana..." aku hendak menapak langkah pertama menuju dirinya, ketika dia menyebut terperanjat, seraya menunjuk beker dinding.
"Dallas! Sekarang sudah jam 8!"
Kering kerontang seketika sensasi itu, aku terdampar lagi di realita.
Nihil waktu untuk berpusing mengambil keputusan, aku menggamit tangan Lana, lalu menuntunnya keluar kamar.
Tatapan ke kanan dan kriku membuahkan hasil positif, siapapun karyawan yang berjaga pagi itu sudah menghilang dari koridor. Aku melirik Lana, "kita mesti gesit." Dia mengangguk mengerti.
Kami menutup pintu kamar inap 203 rapat, mencoba meredam sekecil apapun suara termasuk ketukan sepatu kami. Berjinjit, saat menuju kamar mandi lantai dua.
"Aman jika kita menggunakan pintu darurat."
"Pintu...darurat?"
Menengok gaids itu di belakang, aku tersenyum kepadanya. "Pintu untuk kondisi darurat; kebakaran, gempa bumi, dan seterusnya."
Membalikkan pandanganku ke depan, aku melanjutkan "Mungkin dalam beberapa bulan ini baru kau dan aku yang memakainya." Dan menatap pintu merah besar dengan engsel logam. Perawakan itu membuatnya terkesan berat, tetapi kami miskin pilihan lain jika ingin keluar dengan meninggalkan jejak sedikit mungkin.
Sehabis tiba di depan pintu, keluaran semua energi di otot lengan dan sekitarnya kugunakan agar engsel logam itu berputar. Teringat usia rumah sakit ini mencapai lima puluh tahun, sangat beralasan bila aku mempunyai prasangka bahwa pintu ini sukar dibuka. Begitupun, kenyataanya ialah...
"Cklik." Kendala itu Cuma maya, membuka pintu darurat ternyata semudah membuka kamar pasien. Berarti kami bukanlah rombongan pertama yang menggunakan pintu darurat selama bulan-bulan terakhir.
Beralas beton lantainya, lalu bercahayakan lampu gantung di setiap rangkaian tangga, yang seperti pintunya, berpendar merah diantara kegelapan yang mengelilingi. Keluar dari sini, melewati pintu belakang, terdapat taman di pinggir kota, rute kaburku, kemudian menunjukkan stasiun kereta di seberang kalan yang dibatasi pagar sepinggul orang dewasa.
"Dak, dak, dak." Pegagan tangan ini takkan kulepas, bahkan di gelapya tangga. Lana secara tak terduga lumayan tenang, mengingat kegelapan biasanya ditakuti oleh orang yang terbiasa disinari cahaya, seperti dirinya, pasien 221, yang kamar inapnya selalu diterangi lampu dikala malam menjemput.
"Cklek." Dibalik pintu dasar set tangga, benar saja, ada taman terluas di rumah sakit ini. Terpisah jalan besar ialah pemberhentian transportasi kereta.
Kilat tampisan sorotan surya Sol itu berasal dari rangkai rel di sisi jalan. Kami berada di rute kaburku, melangkah santai seharusnya tidak apa-apa. Maju, kemudian berlari diantara kanan kiri kami yang merupakan hamparan luas rumpur dan aneka ragam bunga. S
Selama pelarian, aku pun tak kuasa berpikir kalau-kalau pintu darurat tidak sebegitu jarang digunakan, sesungguhnya tidak sejarang dugaanku. Alasannya pun terbaring luas di sekeliling mereka. Dapat saja karyawan ataupun tukang kebun, pastilah ada orang dalam jumlah majemuk, datang kesini setiap hari, merawat apa yang ada di padang subur ini.
Sungguh, kami mesti berlari, kencang penglihatanku belum menunjukkan gelagat si perawat taman, namun kami tak boleh mengendurkan kecepatan.
"Hah...Hah..." di belakangku ada Lana yang terkatung-katung bersama napas sengalnya. Kasihan, aku memaksanya berlari untuk entah sudah berapa lama, tapi kami mustahil berhenti sekarang. Dengan rambut terlanjur acak, sulit menemukan bola matanya saat ku menoleh.
"Bertahanlah Lana, sebentar lagi kita sampai." Anggukan perlahan tiba darinya. Lomba lari ini akan kami menangkan dan kemenangan itu makin jelas ketika pagar kayu setinggi kaki terlihat dari kejauhan.
