PLEASE NOTICE: Entire plot of 'Pelangi Biru' until it's ending is not engineering.
If there are similarities groove, then you realize that plagiarism has occurred. Thank you. :)


「 "Sex isn't hard, but intimacy is terrifying.."

―Tatiana Maslany 」

.

.

.


Chapter 09 : Platina Dew


Aku mengunyah roti di samping Yuuta dan Shun pagi hari berikutnya.

Kulihat mereka begitu bersemangat makan sampai menumpahkan banyak serpihannya di atas meja yang tentu saja langsung kuberi nasehat dengan terampil. Menonton keduanya membereskan remah-remah roti dengan raut wajah penuh penyesalan aku malah ingin tertawa geli.

Kemudian mereka pamit berangkat sekolah dan keluar cepat dari pintu sementara aku baru saja selesai mencuci piring. Mungkin aku ingin menonton sesuatu dulu karena masih ada banyak waktu sebelum pergi ke kombini tempat kerja sambilanku yang baru.

Setelahnya aku juga bersiap berangkat sekolah.

Semua tampak normal.

Andai aku tidak membuka mata, kurasa semua akan tampak normal.

Nyatanya sekarang aku melangkah gontai diikuti napas tersengal dengan dibalut seragam yang sudah compang-camping. Saat ini aku hanya ingin pulang, mandi, lalu beristirahat. Kupaksa menyeret langkah semampuku meskipun harus memakan waktu lama hingga mencapai tempat tujuan.

Aku menolak kenyataan bahwa setelah kejadian itu mereka membuangku dan pakaianku begitu saja di taman sekolah yang sudah sepi (tentu saja, saat ini bahkan sudah malam). Hanya mengandalkan insting agar tetap terjaga, aku mengabaikan bagian tubuhku dari pinggang ke bawah yang rasanya nyeri sekali seperti ditusuk-tusuk.

―seandainya setelah bangun keesokan hari segala kejadian di hari sebelumnya hanyalah ilusi semata.

Menyerah, sepertinya kakiku tidak bisa berjalan lebih jauh.

Meski baru melintasi seperempat perjalanan staminaku sudah terkuras hebat. Aku roboh di sembarang tempat, mengistirahatkan diri sejenak seraya mengatur sedikit penampilanku agar tidak terlalu mencolok di antara pengguna jalan yang lewat.

Ujung jariku menampakkan bercak darah yang masih mengalir dari bagian hidung, semakin lama semakin perih. Kurasa tulang hidungku patah atau semacamnya karena entah kenapa hirup napasku menjadi pendek.

"Bedebah…"

Makian bernada lemah itu kutujukan untuk diriku sendiri, terutama karena aku yakin tidak akan bisa pergi ke sekolah lagi dengan tenang setelah kejadian ini. Kasus kali ini sudah membuatku kehilangan terlalu banyak, mungkin hampir segalanya.

Pertama harga diri. Selanjutnya cahaya harapan. Dan yang terakhir, sebuah kesempatan.

Ketika sekelebat pikiranku teringat pada pertandingan lari yang sudah tidak bisa kuikuti, aku pun ikut teringat sesuatu yang menyakitkan. Kuperiksa keberadaan telepon genggam dalam saku celanaku, untunglah mereka tidak mengambil atau merusaknya.

Dengan gemetar kutekan nomor tuju yang kukenal, mengatur napas sebaik mungkin selama nada panggil masih menyala.

"Halo?!"

Ada senyumku mengembang mendengar suara menenangkan dari seberang.

Kalimat selanjutnya mendesak karena aku tidak segera menjawab, "Halo, Hayato? Ada apa menelepon malam begini?"

"Begini, Sir… lusa, saya tidak jadi ikut lomba. Jangan sia-siakan waktu anda untuk datang…" suaraku terdengar tegar, tapi kenyataannya jauh berbeda.

Aku meneteskan air mata saat mengucapkannya.

Padahal sudah lama aku menunggu saat-saat di mana aku bisa bangga akan hidupku tanpa terbeban masalah apapun. Padahal kukira aku sudah menemukan titik cerah supaya lepas dari segala masalah. Tapi sepertinya Tuhan memang membenciku karena apa yang baru saja kualami merupakan kenyataan paling buruk.

"Hayato, memangnya ada apa?"

Maaf! Maaf! Maaf! Aku berjuang agar bisa mengucapkan kalimat yang lebih panjang daripada sekedar permintaan maaf. Aku ingin memberitahukan semuanya, ingin bercerita supaya dia mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. Mulutku selalu terbuka, siap untuk meneriakkan segalanya, namun kenyataannya…

"Maaf…"

"HAYA―"

PIP.

Sial. SIAL!

Mengabaikan rasa pilu di bagian hati, kumatikan paksa telepon genggamku sebelum mencoba kembali berdiri. Memaksa menyeret langkahku lagi.

Dengan keadaanku sekarang, aku membutuhkan waktu puluhan menit hingga tiba di rumah, karenanya aku tidak ingin membuang-buang waktu karena tidak mau membuat Yuuta dan Shun khawatir seperti yang sering mereka lakukan padaku.

Sayangnya ketakutan karena tidak ingin Yuuta maupun Shun melihat keadaanku sekarang lebih besar sehingga langkahku semakin lambat. Semoga saat aku datang nanti mereka sudah tidur sehingga aku lebih leluasa merawat luka atau melakukan apapun yang kubutuhkan.

Beruntung, ketika sampai ternyata rumah masih kosong. Tebakanku, mereka berdua menghiraukan nasihatku lagi dan menginap di rumah sakit untuk menemani ibu. Khusus kali ini aku memaafkan mereka karena menciptakan kebetulan yang luar biasa.

Memutuskan mandi terlebih dulu, aku membasuh seluruh tubuhku lalu menyikatnya keras-keras tanpa peduli gesekannya akan menimbulkan luka baru. Aku terlanjur marah pada diriku, sehingga semakin keras aku menggosoknya kepalaku malah memutar momen menjijikkan itu lagi dan lagi.

Tidak tahan, aku memuntahkan kapasitas asam dari perutku karena memang belum terisi dari sejak masuk sekolah siang tadi. Aku bahkan tidak yakin bisa memasukkan sesuatu ke dalam mulutku dulu sementara waktu karena masih dihantui trauma temporal.

Setelahnya bagaimanapun aku mencoba beristirahat, tubuhku tidak kunjung santai bahkan rasa sakit yang menusuk di area hidung dan analku menjadi semakin hebat. Walau kupaksa meminum sekitar setengah lusin benzo, tapi tetap saja nyeri itu tidak mereda.

Merasa harus melakukan sesuatu sebelum rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, kuambil pisau di dapur dengan susah payah lalu kuiris pergelanganku seenaknya―tanpa peduli akan kemungkinan menggores di tempat yang sama hingga meninggalkan bekas luka permanen.

Seiris.

Dua iris.

Tiga.

Empat.

Lima.

Walau sudah banyak darah yang tumpah, daerah perut menuju bagian selangkanganku masih terasa lebih sakit. Aku ingin menangis sejadi-jadinya tapi tidak ada suara yang keluar. Sebaliknya, aku malah muntah di tempat sekali lagi dan saat itulah seseorang―atau kurasa berjumlah lebih―mendobrak pintu rumahku.

Pencuri? Aku tidak memiliki waktu berpikir karena kelopak mataku terlanjur berat. Yang aku ingat satu dari mereka meneriakkan namaku.

Nama depanku.


.

.

.

Sadarku terjaga hanya untuk melihat ruangan yang terbungkus dominan putih. Tidak salah lagi, aku sedang berada di rumah sakit karena ada infus di tangan kiriku sementara mulutku ditutup oleh alat bantu oksigen.

Tsk―

Badanku sulit bergerak dan kepalaku pusing, jadi selama beberapa saat aku hanya menerawang ke arah langit-langit.

"Hayato."

Bisik itu lembut. Aku bersusah payah menelengkan kepala ke samping untuk melihat seseorang yang kukenal berdiri tidak jauh. Lagi-lagi Presdir itu. Apa maunya sampai berbaik hati sejauh ini padaku?

"Hayato kau dengar aku?"

Kubiarkan dia melakukan pembicaraan satu arah karena aku tidak bisa merespon terlalu banyak, lagipula alat bantu oksigen di mulutku memendam setiap kata yang terucap. Dia berdiri di sebelahku seraya membelai suraiku dengan hati-hati. Mungkin takut ada bagian yang sakit karena sentuhannya.

"Jangan khawatir, aku sudah mengurus semuanya. anak-anak yang terbukti bersalah sudah dikeluarkan dari sekolah dan sedang diproses hukum…"

Mataku membelalak tidak percaya. Dia menolongku lagi. Sebenarnya apa yang sudah kulakukan sampai dia mati-matian membelaku seperti ini? Bahkan sesama manusia lain saja tidak pernah menganggapku.

"―dan semua bukti-bukti foto serta video sudah dihancurkan. Orang-orangku sudah mengurusnya."

Aku yang terperanjat memaksa gerakan lebih. Aku tergerak untuk bertanya, "Kenapa bisa―" namun yang terlepas dari ujung bibirku hanya udara kosong yang kian menumpuk layaknya embun.

Seakan mendengar suaraku, dia tersenyum hangat, "Untung kau menaruh barang bukti foto di sakumu sehingga prosesnya menjadi lebih mudah."

Ah, ya. Aku ingat memasukkan foto sialan itu ke dalam celana saat dipanggil ke ruang guru, syukurlah aku tidak sempat membuangnya. Saat ini aku benar-benar lega sampai tangisku seketika tumpah.

Sekarang, setelah sekian lama akhirnya aku berterima kasih pada Tuhan.

"Hei, Hayato…" tegurnya lagi, "Aku selalu merasa kau cocok dengan warna biru."

Apa katanya?

Aku tidak paham kenapa dia tiba-tiba mengucapkan hal tersebut, terlebih karena aku sangat membenci warna biru.

Dia mengeluarkan sesuatu dari jasnya, jepit rambut pemberian Yuuta untuk ibu yang sudah berkeping, dengan beberapa serpih masih mengelilinginya.

"Benda ini ada di saku celanamu bersama bukti foto itu. Dia hancur, sepertinya terinjak." aku tahu, karena saat kejadian aku berada di sana, "tapi warna birunya tidak rusak."

Pandangan kami beradu―mungkin sepihak karena fokus mataku terlanjur kabur karena genangan air mata.

"Di antara warna-warna lain yang hancur, biru ini masih tetap utuh. Tapi kau tahu? Sebuah pelangi tidak lengkap tanpa warna biru."

Dia menaruh benda usang itu di atas meja yang berada dekat kepalaku, mengacak lembut rambutku sekali lagi sebelum mengecup keningku.

"Berhenti melukai dirimu. Kuharap kau tegar seperti pelangi biru ini, karena apapun yang terjadi padamu kau akan tetap utuh, bahkan bisa melengkapi warna lainnya,"

"―aku mencintaimu."

Ah, sial. Lagi-lagi kalimat itu.

Aku memang tidak punya pilihan selain terus meneteskan air mata lega untuk saat ini.


.

.

.

Bosan.

Walau tabung oksigen dan selang infus yang mengukungku sudah terlepas, aku masih belum diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit.

Pak Presdir juga jarang menjengukku di hari-hari biasa. Tidak masalah karena kedatangannya yang terlalu sering hanya akan membuatnya posisinya dalam bahaya. Lagipula aku ini kan bukan siapa-siapa baginya jika dilihat dari kacamata orang awam.

Mencoba mencari sudut pandang lain, kuputar badanku ke arah berlawanan demi menghindari visual monoton. Kuperhatikan luka di bagian pergelangan yang sudah tidak terlalu mencolok kemudian sedikit meraba hidungku, mencoba menarik napas dalam untuk memastikan kesembuhannya.

Syukurlah tulang hidungku hanya retak dan aku tidak divonis mengidap penyakit kelamin yang cukup serius. Tapi sebagai gantinya aku harus menjalani rehabilitasi ringan karena efek samping obat penenang yang kuminum selama ini.

Infeksi di bagian rektumku mengharuskanku beristirahat sebentar lagi dalam pengawasan profesional. Bahkan dalam hari-hariku yang membosankan sebagai pasien, sempat ada beberapa petugas yang mengaku dari komisi perlindungan anak datang mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak pernah kujawab jujur.

Pelik.

Di satu sisi aku bahagia karena permohonanku terkabul; ada yang benar-benar menolongku dan memberiku kesempatan berbicara, tapi di sisi lain aku takut efeknya akan menghancurkan roda hidupku. Merusak Zona nyaman yang sudah susah payah kuciptakan, sebuah kondisi ideal yang kupertahankan demi kelangsungan hidupku dan keluargaku.

"Haa~"

Hela napas spontan begitu saja lolos dari mulutku saat melihat ke luar jendela yang tirainya sudah tersibak.

Sepi.

Apa ibu, Yuuta dan sedang Shun sibuk mencariku?

Apa mereka akhirnya tahu apa yang ternyata sudah kujalani selama ini?

Apa setelah ini mereka juga mencampakkanku seperti perlakuan manusia-manusia lain?

Krietttt.

Seseorang membuka pintu ruangan. Tadinya aku diam saja karena kukira yang datang hanyalah suster jaga, tapi menyadari sosok asing berjalan mantap mendekat hingga menyisakan beberapa langkah dari tempat tidurku, aku seketika waspada.

"Matatagi Hayato." namaku diucap jelas dengan sebuah suara berat.

Sebuah tegukan ludah.

Selama ini aku cuma melihatnya dari jauh, itupun sekilas. Ternyata dia sudah cukup tua walau badannya tegap di balik balutan jas putih. Rambut ikal panjangnya terlihat senada dengan pakaiannya diikat

Ada luka bakar jelas di bagian mata sebelah kanan yang berbalut kaca mata hitam.

"S-SIAPA?!" jeritku panik. Tanganku mencari-cari tombol darurat untuk memanggil pertolongan, tapi dia menangkap keduanya cepat.

"Aku hanya ingin bicara." ucapnya tenang sedangkan aku meringis kesakitan, tidak bisa memaksakan diri memberontak di balik cengkeramannya yang menahan keras pasang pergelanganku. Lagipula aku masih belum dalam keadaan pulih. Berdiri saja masih sulit, apalagi berjalan.

"S-siapa…?" ulangku lagi dengan napas terengah, "Saya tahu anda. Anda sering terlihat di sekitar rumah saya. S-saya bahkan memergoki anda memandangi kaca jendela saya beberapa kali… anda juga… anda… yang menyuruh anak tim bola Kaiou untuk mencari saya waktu itu!" mulutku mengurai kalimat panjang dengan terbata-bata. Karena panik, tenggorokanku kesulitan menerima udara.

"Namaku Kuroiwa Ryuusei, aku ingin memberimu penawaran menarik."

Seiring dengan napas yang semakin rileks, bahuku hilang tenaga. Kulemaskan jari-jari tanganku yang sebelumnya mengepal. Sesudah yakin aku tidak akan melawan, sosok berumur itu baru mau melepaskan pegangannya.

"Penawaran apa?" tanyaku singkat sambil mengusap protektif permukaan kulit yang sebelumnya disentuh paksa.

"Aku ingin kau bermain sepak bola bersama Inazuma Japan."

Baiklah, dia sudah tidak waras.

"Maaf, Tuan Kuroiwa… siapa pun anda. Saya rasa Anda salah orang. Saya atlit lari, bukan pemain bola."

"Seingatku kau sudah disingkirkan dari klub atletik Kaiou karena kasus pelecehan. Sekarang kau bahkan tidak punya tempat kembali sama sekali."

Mataku melebar dengan mulut terbuka, terkejut. Brengsek. Entah dari mana dia mendapat informasi milikku yang terlau pribadi.

"Saya tidak bisa bermain sepak bola." ketusku lagi. Sementara ujung bibirnya hanya menyeringai panjang karena berhasil menyudutkanku.

"Kau pasti bisa." heran. Entah dari mana rasa percaya dirinya yang luar biasa itu, "Aku akan datang lagi untuk mengurus dokumen persetujuan dan kontraknya. Semoga cepat sembuh."

Mataku hanya mengerjap saat pria tua bernama Kuroiwa itu berbalik untuk pergi kemudian benar-benar menghilang. Sungguh hari yang sangat aneh.

Sebetulnya peristiwa apa yang menungguku setelah ini?


To be continued...