Luciano Olexandr Labrentsis a.k.a LOL


Naruto by Masashi Kishimoto sensei desuu~

"Novus Ordo Seclorum"

Genre : Adventure, Action, Supranatural, Sci-fi

Rate : M

Sumary : Hidup di masa dimana tatanan dunia baru sedang berlansung, membuatnya berambisi besar untuk ambil bagian. Menggunakan semua yang dia punya, dia pasti akan mencapai tujuannya di dunia baru nanti..

A/N Maaf telat.., LOL-San ada prakerin 3 bulan dari 2 januari sampai bulan maret


Arc 2 : Battle in Takamagahara

Chapter 10. Pertemuan

.

Takamagahara –

.

Ada sebuah tempat indah dan tak terbayangkan oleh manusia, tempat itu bernama Takamagahara. Bagi sebagian orang pengikut reliji Shinto, tempat ini sudah tidak asing didengar, namun juga tidak pernah dikunjungi karena saking khususnya tempat ini. Takamagahara, adalah tempat atau Dimensi lain yang berbeda ruang dengan Dimensi tempat manusia berada, tempat ini adalah kahyangan/ Nirvana atau Surganya Mitologi Shinto. Para Dewa atau Kami tinggal disana.

Pemandangan disana sangatlah menakjubkan dan diluar nalar, bahkan bagi manusia biasa tempat ini mungkin lebih luar biasa dari kota hilang 'Atlantis'. Pulau-pulau melayang dengan jumlah yang tidak sedikit, mungkin mencapai ribuan. Awan dan langit yang indah, dengan warna-warna yang sangat memukau, bahkan ketika malam hari pun keindahannya sangatlah memukau, bintang-bintang indah bergerak cepat dan membuat pola star trail yang indah, bagi mereka yang suka dengan foto indah, maka Takamagahara adalah salah satu rekomendasi.

Selain bentang alam dan kondisi alam yang menakjubkan, Takamagahara masih memiliki keindahan lain yang tak kalah mantep dari lainnya. Lihat saja, banyak rumah atau kastil atau bahkan Istana yang berdiri megah dibeberapa sudut dataran melayang Takamagahara. Yang mewah dan megah itu, khusus milik Dewa dan Dewi dengan status tinggi dan pengikut yang banyak. System di Takamagahara memang begitu, bagi Dewa yang memiliki Kuil dan pengikut yang banyak, maka semakin luas tanah dan megah juga kediamannya. Itulah system dari Kami di Takamagahara.

Berjalan pelan, Naruto sesekali melihat dan mengagumi beberapa bangunan megah juga bentang alam yang indah dan memukau di tempat dimana Touka berasal. Meski kesannya dilangit dan diatas awan, Naruto tak kedinginan sama sekali meski kini memakai Yukata tipis berwarna biru dengan corak Shuriken, alas kaki berupa sandal tradisional menjadi pelindungnya dari tanah. Naruto sengaja memakai pakaian sederhana seperti ini, yaa intinya sih agar relevan dengan suasana dan kondisi tempat juga budaya.

Hari ini, Naruto sengaja pergi ke Takamagahara, karena kata Touka atau Amaterasu ada masalah cukup pelik dan harus segera diatasi di tempat asalnya itu. Bahkan, Touka sendiri pun langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun pada Naruto. Dan beberapa jam kemudian, Naruto didatangi oleh Susano'o agar datang ke Takamagahara untuk membantu masalah mereka. Meski datang dengan wajah asem dan penuh dengki, Naruto tau kalau masalah yang dialami oleh Touka sepertinya sangat serius. Akhirnya dia pun pergi kesana dengan ditemani pengawalnya, salah satu anggota Akatsuki.

Susano'o yang memanggilnya, telah lebih dahulu pergi karena ada pertemuan penting antara Dewa lainnya yang harus dihadiri, terpaksa Naruto menerimanya, meski ada umpatan-umpatan tak enak didengar dari pengawalnya. Sebagai gantinya, Susano'o mendatangkan salah satu Shinki atau Regalia milik Touka untuk menjemput dan memandunya menuju titik pertemuan dengan Touka dan yang lainnya. Shinki itu, dia adalah pria muda berusia kisaran 30-an, dengan wajah berkulit tan, ada luka melintang Horizontal di wajahnya, rambutnya diikat menjadi seperti nanas, pakaiannya sangat resmi dengan kemeja putih juga tuxedo hitam. Pria itu, bernama Iruka.

Iruka memandu Naruto dan mengawalnya dengan baik. Bahkan dia juga tak ragu untuk menjawab dan memberikan informasi Cuma-Cuma pada Naruto. Salah satu informasi yang menarik yang didapat Naruto dari Iruka, adalah penamaan Shinki. Menurutnya, Shinki penamaannya selalu memiliki cirri khas sehingga Dewa lain pun mudah untuk mengenali siapa tuannya meski tidak disebutkan, atau lebih mudahnya Shinki memiliki Klan masing-masing tergantung siapa tuannya. Salah satu contoh, Bishamonten atau Bishamon, dia memiliki Shinki dengan klan 'Ha', diketahui dahulunya juga dia punya klan 'Ma', lalu ada juga Tenjin no Kami yang terkenal dikalangan pelajar mau ujian, dia memiliki Shinki dengan klan 'Yu'.

Sedangkan untuk Amaterasu, dia memiliki Shinki dengan Klan 'Ka'. Jadi dengan alasan itulah, Iruka mendapat nama itu, ada tambahan 'Ka' diakhir namanya. Naruto juga mulai paham, soal kenapa Amaterasu memakai nama Touka. Jadi Klannya, klan 'Ka' yah, sehingga nama 'Tou' pun ditambahi oleh 'Ka'.

"Wooooi.., Naruto-Bangsat! Kapan kita sampainya!? Kakiku sudah pegel tau karena berjalan dari tadi! Tidak bisakah kita pakai Lingkaran sihir, Naruto-Kamvret!"

Dua hinaan dilantunkan manis oleh pengawal Naruto. Pengawal Naruto yang tak lain adalah anggota Akatsuki, memang sedari awal sudah mengeluh-mengeluh dan mengeluh, dan jangan lupakan umpatan juga kata-kata manis dari tarian lidah yang gemulainya, membuat telinga berdengung. Pengawal Naruto, adalah seorang pria muda, tampan kalau tidak cantik dalam memainkan lidahnya. Dia berambut abu atau silver klimis, disisir kebelakang, matanya berwarna hitam dengan alis suka naik turun karena suasana hati yang selalu kesal, pakaiannya adalah jubah khas Akatsuki, dibagian atas sengaja dibuka untuk menunjukan dadanya, dia juga memakai Kalung aneh, senjatanya adalah Sabit bermata tiga yang ada dipunggungnya. Pria pemarah ini namanya, Hidan.

Naruto yang mendengar Mahluk absurd yang merupakan pengawalnya, misuh-misuh terus hanya mengabaikan saja. Hatinya sudah terlatih akan kata-kata manis bagai pujangga dari pria klimis itu. Jadi dia menjawab dengan wajar saja,

"Sudah dikatakan 'kan oleh Iruka-san? Kalau kita harus mengikuti Prosedur disini! Selama tidak genting, kita dilarang memakai lingkaran sihir Teleportasi!"

Namun yang namanya Hidan, meski sudah dijelaskan sekalipun, memang tabiatnya suka cari gara-gara. Bahkan meskipun dia tau itu salah, yang namanya masalah adalah cinta bagi Hidan. Mungkin kalau diibaratkan, Hidan tanpa masalah, bagai taman tanpa pupuk kompos dari eek kambing, juga bagaikan cebok tanpa sabun. Yaaa gak bereslah intinya.

"Kita 'kan bukan penduduk asli sini, Naruto-Bangkee! Jadi buat apa susah-susah ikuti aturan disini!"

Naruto masih sabar, meski kali ini Hidan memanggilnya aneh-aneh lagi. Dirinya sudah hapal, kalau dalam sekali ucapan Hidan selalu memanggil nama orang dengan akhiran manis yang berbeda-beda. Sungguh variatif sekali management kosa kata manisnya. Jadi, kali ini Naruto tak menjawabnya. Toh meski protes, pria itu masih tetap berjalan.

"Haha.., mohon mengerti prosedur disini Hidan-san. Kami melarang sihir Teleporatsi karena itu memang budaya kami. Dan juga, siapapun yang datang kemari wajib untuk mengikutinya. Jadi anda dan Naruto-sama pun, wajib mengikuti aturan itu." Iruka menjelaskan, dimana HIdan malah mendecih. Kalau sudah adu otak, Hidan bakal kalah.

"Oh iya, Iruka-san..," Naruto berupaya mencairkan suasana absurd tadi, perjalanan mereka pun sepertinya masih cukup lama. ".., memangnya masalah apa yang terjadi disini? Amaterasu sampai harus kembali, kurasa itu bukan masalah yang kecil.."

"Aah, anda belum tau yah..," Naruto dan Hidan mengangguk, mereka belum tau masalah apa yang menimpa Takamagahara. ".., beberapa hari lalu, tepatnya 5 hari yang lalu, ada beberapa Dewa yang berkhianat. Mereka mulai melakukan tindakan pemberontakan dan hal berbau kudeta lainnya. Dugaan kami, motif mereka diduga adalah untuk mengambil tahta Ojou-sama atau Amaterasu-sama. Mereka berniat mencuri artefak-artefak peninggalan Izanagi-sama, khususnya Ame-no-Nuboko atau Tombak Surgawi. karena dengan artefak-artefak itulah, kursi kepemimpinan dan kuasa Ojou-sama bisa digeser. Apalagi beliau tak ada disini, para Opositor itu semakin mudah bergerak.."

Melihat dari harinya, kejadian itu bermula setelah misi Naruto dan Touka di Kyoto selesai. Sepertinya, para Oposisi itu tidak tau kemana Amaterasu dan sedang apa dia. Mereka hanya bertindak dengan dasar informasi kalau Amaterasu sedang meninggalkan Takamagahara. Berarti juga, masuk akal kalau yang berkhianat itu adalah golongan Dewa dan Dewinya, karena yang tau soal kepergian Amaterasu adalah pihak internal Shinto.

"Berkhianat? Siapa meraka? Kurasa kalau hanya Dewa dan Dewi dengan status kecil yang berkhianat, mereka tidak mungkin memanggil Amaterasu 'kan?"

Untuk Dewa dengan status atau posisi kecil, tak perlu lah Amaterasi dipanggil kesini. Masih banyak Dewa dan Dewi berkekuatan super dengan anugrah Shinki luar biasa, mereka tentu pasti bisa mengatasi kalau itu hanya golongan kecil. Maka, kemungkinan paling pas adalah para pengkhianat itu pasti bukan Dewa dan Dewi sembarangan, mereka pasti cukup dan sangat kuat. Sehingga Shinto yang masih memiliki Tsukoyomi si Dewi bulan juga Susano'o si Dewa badai, harus juga memanggil Amaterasu, pimpinan tertinggi Shinto.

"Benar. Mereka memang bukan sembarangan Dewa. Kekuatan mereka bisa disetarakan dengan Dewa-Dewi Top Shinto, seperti Bishamonten si God War, Susano'o sang God of Raging Storms and Seas juga tak lupa julukan lainnya, God of Calamity. Bahkan rumornya, mereka pun bisa mengalahkan Shiki fuku jin atau 7 Dewa keberuntungan ditambah Susano'o-sama dengan kekuatan full-powernya."

Kekuatan musuh seperti itu, wajar kalau Shinto kesusahan dan perlu memanggil Amaterasu. Karena menurut kisah, selisih kekuatan tempur antara Amaterasu dengan Susano'o sekalipun, terbentang jurang yang sangat jauh dan sangat sulit dicapai. Analoginya, Amaterasu adalah seorang Singa jantan dewasa, sedangkan Susano'o adalah anak anjing penakut. Belum lagi ditambah, perbandingan kekuatan Susano'o dengan Dewa dibawahnya, peran Amaterasu jadi sangat penting. Namun juga, dikatakan satu-satunya Dewi yang bisa sebanding dengan Amaterasu dari Shinto itu sendiri, adalah saudarinya Tsukoyomi.

"Bahkan..," Naruto menatap Iruka, firasatnya mengatakan kalau musuh punya sesuatu lagi yang lebih hebat. Hidan yang sedang misuh-misuh karena kakinya perlu dioles balsam pun diam dan fokus akan apa yang dikatakan. ".., Musuh mempunyai senjata yang bisa membunuh Dewa dengan mudah. Entah bagaimana mereka mendapatkannya, mereka memiliki Phantom Brush atau Mandate of hell, atau orang-orang sering memanggilnya Kuas ungkapan. Alat suci milik Izanami-sama, yang bisa menciptakan segala sesuatu, lebih di khususkan Ayakashi."

Dikatakan, kalau Kuas ungkapan itu, adalah salah satu artefak suci dan terkuat di dunia. Kekuatan dan keajaibannya sangatlah luar biasa, yang bisa dibandingkan dan disandingkan dengannya mungkin artefak dan barang suci lainnya, seperti True Longinus dan The ark of Covenant. Harus barang yang benar-benar ekslusip untuk menyaingi kuasa dari Phantom Brush itu. Mengejutkan tentunya, kalau pihak oposisi sampai punya senjata semacam itu.

"Ooooi.., Naruto-sialaan, memangnya sehebat apa Kuas ungkapan itu sih?"

Hidan bertanya, Naruto menatap sebentar dan mengelus dagunya. "Bisa dikatakan, Kuas ungkapan memiliki konsep yang sama dengan Sacred gear miliku, Innovate Clear. Namun secara keseluruhan, Kuas ungkapan masih lebih baddas karena Infinity-nya juga penggunaannya yang tidak perlu memakai energy. Intinya, kalau itu Innovate Clear, maka akan diubah namanya menjadi Infinity Clear, karena sipat tak terbatasnya."

"Hah?! Bagaimana mungkin..!" Hidan berekspresi bingung, Naruto menatapnya sejenak. "Senjata sakti yang tidak menggunakan energy?! Bullshit macam apa itu?!"

Iruka menyela, dia yang lebih tau akan menjelaskan. "Emm.., soal itu memang masih menjadi mistery bagi kami sendiri. Namun dugaan kami, itu adalah berkah dari sang Dewa pertama Mitologi Shinto, Kunitokotachi dan Amenominakanushi. Berkah dari mereka memang sangat menakjubkan, Ame-no-Nuboku atau Tombak surgawi pun bisa untuk bersaing dengan True Longinus asli."

"Lalu soal siapa Dewa dan Dewi itu, mereka adalah Yatogami the god of Calamity, Ebisu dan juga-..," saat Iruka akan melanjutkan, didepan mereka tiba-tiba muncul seorang pria muda berambut coklat berkaca mata, dia memakai sebuah seragam seperti seragam sekolah. Pria muda ini, adalah salah satu Shinki dari Bishamonten, namanya Kazuma.

"Maaf Iruka-san, tapi para tamu, khususnya Naruto-sama sudah ditunggu secepatnya oleh Amaterasu-sama.." Kazuma kemudian mulai melihat-lihat, kira-kira siapa tamu yang dituggu oleh Amaterasu-sama, ketika menemukan pria berambut pirang, dia langsung tau kalau dia orangnya. Kalau pria klimis satunya, wajahnya tidak meyakinkan bagi Kazuma.

"Aahh.., sudah terlalu lama juga 'yah…" Iruka sengaja melihat jam tangannya, lalu dia melihat para tamunya. ".., naaah karena keadaan yang mendesak, mari kita pergi secepatnya." Iruka pun membawa mereka pergi dengan sihir teleportasi, Kazuma pun menyusul mereka.

.

Mereka muncul kembali didepan sebuah bangunan megah bergaya ala-ala barat, luasnya tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa karena luasnya bangunan megah ini. dibangunan megah inilah, pertemuan para Dewa Shinto selalu diadakan. Mereka akan rapat disini apabila ada masalah-masalah krusila juga insidential yang perlu diselesaikan.

"Hmmm.., jadi ini istana nya 'yah.." Naruto mengobservasi sekitarnya, tidak buruk. "…, meski aslinya budayanya Jepang, namun arsitektur dan kulturnya ternyata banyak adaptasi dari budaya lain."

"Ha'i Naruto sama!..." Shinki milik Bishamon itu menjawab, kemudian dia kembali berjalan dengan cepat, memandu Naruto. ".., Mari Naruto-sama. Kehadiran anda sudah ditunggu oleh yang lainnya."

Naruto menyusul pria berkaca mata itu, tapi sebelumnya dia menatap pengawalnYa, Hidan. "Hidan! Aku akan rapat terlebih dahulu, kau jangan buat masalah selama aku pergi! Dan Iruka-san.."

Iruka mengangguk. "Ha'i..!"

".., aku titip pria sesat itu." Dan Naruto pun pergi meninggalkan mereka, meski dengan hati agak bimbang, karena sipat Hidan yang menarik kalau sudah ketemu dengan Dewa atau yang berbau Religi.


.

Ditempat pertemuan, adalah sebuah tempat tak masuk akal. Dimana ada puluhan pilar-pilar cahaya emas yang didalamnya ada seseorang, tentu seseorang itu adalah Dewa di Takamagahara. Naruto tau itu, karena dia juga sedang mengikuti pertemuan itu, dia berdiri di pilar cahaya yang sama dengan Amaterasu.

Mata biru pemuda itu terus memperhatikan gerak-gerik Amaterasu yang kini dalam wujud Dewinya, wanita dewasa berambut hitam panjang tergerai dengan Kimono mewah yang sangat anggun. Maksud memperhatikan ini, bukan karena penampilannya, Naruto memperhatikan gerak-gerik Amaterasu karena ingin tau dan menebak keputusan seperti apa yang akan dikeluarkan oleh Dewi matahari itu, terkait permasalahan pelik dalam konflik di Takamagahara sekarang.

Kesimpulan dari pertemuan ini, adalah pembahasan keputusan hukuman dari pihak oposisi yang merupakan salah satu Dewa dan Dewi di Takamgahara. Putusan hukuman ini tentu penting, karena menyangkut tindakan selanjutnya juga seperti apa harus bertindak jika bertemu dengan mereka. Namun sepertinya, hal itu sangat berat diputuskan oleh pemimpin rapat sekarang, Amaterasu.

Mengingat, salah satu yang terlibat menjadi pihak oposisi adalah keluarga terdekat Amaterasu sendiri. Yaaah…, menurut informasi, sang Dewi bulan Tsukoyomi atau saudari perempuan dari Dewi Amaterasu, ternyata ikut terlibat dalam komplotan Oposisi tersebut. Bahkan, dia dikatakan sebagai pemimpin pihak itu. Karena dia satu-satunya yang diketahui terkuat dari yang lainnya. Sisa Dewa dan Dewi yang diketahui adalah, Ebisu juga Yato.

Sejak tadi, Amaterasu terus ditekan oleh Dewa dan Dewi lainnya agar memberikan putusan hukuman mati pada mereka. Namun, sebagai seorang yang sangat menyangi keluarganya melebihi apapun, Amaterasu tidak bisa untuk memutuskan hukuman mati untuk adiknya tersebut. Sedang disisi lain, dia pun harus bertindak tegas sebagai pemimpin disini, atau konflik selanjutnya yang lebih merepotkan bisa hadir di Takamagahara. Dan jujur, Amaterasu tak mau hal itu terjadi.

Maka dari itulah,Dewi berparas cantik dengan rambut hitam itu masih diam dan memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sedangkan diluar, Dewa dan Dewi yang lain mulai mendesak agar Amaterasu segera mengambil putusan agar masalah semakin cepat seesai. Didesak ketika sedang bingung dan bimbang, Amaterasu tak bisa apa-apa untuk menghadapi semua itu.

Tak tega melihat seseorang yang sudah dekat dengannya, Naruto berniat bertindak dan membantu menyelesaikan masalah ini, lagipula, apa gunanya coba dia diundang ke pertemuan ini tapi tidak berbicara sama sekali. Dengan langkah kaki mantap, Naruto mendekati Amaterasu didepannya. Langkah terakhirnya menuju Amaterasu, Naruto mengubah pakaiannya menjadi jubah hitam tertutup untuk menutupi identitas aslinya. Mudah baginya, karena ada Techno magic.

"Touka.." panggil Naruto pelan.

Perempuan itu menengok kesamping, dan bisa melihat pria yang menjadi partner dan pimpinannya dalam misi mereka, kini berdiri disampingnya dengan penampilan tertutup. Dia menautkan alisnya penasaran, apa yang akan dilakukan oleh pemuda ini?.

"Kau tau? Aku ini sangat membenci seorang kakak yang menelantarkan adiknya.."

Mata Touka melebar ketika mendengar ucapan Naruto, hatinya sedikit perih ketika mendengar sindiran itu. Yah sindiran, karena dalam hal ini Touka atau Amaterasu berniat memutuskan hukuman mati pada para pemberontak itu, yang salah satunya adalah adik perempuannya. Memang terdengar kejam, namun sebagai pemimpin ketegasan pun perlu ditunjukan untuk mengantisipasi hal-hal lainnya.

"T-tapi Naruto-dono! Sebagai pemimpin, ketegasan harus ditegakan dan tidak pandang bu-"

"-Yaah! Lalu dengan alasan 'menjadi pemimpin tegas' kau harus membuang saudaramu sendiri! Cihhh.., jangan bercanda! Keluarga bukanlah hal yang bisa ditukar dengan apapun didunia ini!"

Sekilas, Naruto teringat keluarganya. Ayahnya yang sangat kharismatik, ibunya yang penuh kasih sayang juga dia yang selalu menyayanginya dan ada disisinya. Namun karena kenyataan pahit, mereka semua mati. Hanya menyisakan Naruto dengan adik satu-satunya Naruko. Mereka adalah harta paling berharga juga paling ingin dilindungi oleh Naruto.

Namun..

Saat ini Amaterasu ingin mengorbankan saudarinya sendiri hanya karena alasan 'Pemimpin tegas'? jangan bercanda! Sekejam dan Segilanya Naruto, dia tak akan pernah mengorbankan atau membiarkan keluarga tercintanya mati! Bahkan jika harus berhadapan dengan mahluk terkuat sekalipun, Naruto akan berani jika dia mengusik keluarga Naruto.

"Aku tau aku tidak pantas mengatakan ini. pembunuh sepertiku yang tak punya belas kasih untuk melakukan genoseida juga pembantaian ras, mungkin tak pantas memberikan nasihat ini padamu, Touka.." Mata Naruto menajam, Techno magic sudah digunakan dari tadi untuk meredam suara dan pembicaraan di sini. ".. Tapi Touka! Keluarga bukanlah hal yang bisa kau abaikan begitu saja dengan alasan apapun! Tak perduli kau seorang pemimpin Mitologi, atau kau seorang manusia ambisius. Keluarga tetaplah nomor satu! Dan tak perduli itu Dewi loli Naga atau Dewa botak sekalipun, keluarga harus kau lindungi dengan maksimal!"

Naruto menarik napas panjang, jubah hitamnya sedikit berkibar keren padahal tidak ada angin. Tatapan matanya mulai menajam, sekilas dia melihat wajah Touka yang sedikit dialiri air mata. Dengan pelan dan lembut, Naruto mengelap air mata itu sembari mengatakan, "Jangan menangis, Touka…,"

Setelahnya pemuda itu melangkah pelan dan mantap kedepan. Jubahnya tetap berkibar keren padahal angin pun tidak ada. Touka sedikit takjub akan kata-kata dan aksi Naruto, sedikit demi sedikit pandangannya soal pemuda kejam dan sebagainya, digantikan oleh pemuda yang perduli akan keluarga juga rela berkorban untuk orang yang berharga baginya.

"…, SAAT PRIA KEREN BERTERIAK PRIA KEREN!"

Pilar cahaya emas yang melingkupi tempat pijakan Touka dan Naruto menghilang begitu saja saat Naruto berteriak. Teriakan yang keras juga hilangnya pilar cahaya itu, membuat para peserta rapat lainnya yang masih dalam pilar cahaya masing-masing, bisa melihat dengan jelas kehadiran sosok misterius dekat Amaterasu. Jubah hitam yang terus berkibar keren tak ada angin membuat mereka tak bisa melihat wajah aslinya.

"S-siapa kau?!"

"A-apa yang kau lakukan disini?!"

Berbagai macam pertanyaan dilontarkan oleh peserta rapat ketika sadar dari keterkejutan mereka. Kehadiran Naruto dalam rapat ini tentunya cukup mengejutkan, mengingat ketatnya keamanan rapat ini. Namun bagi sebagian Dewa dan Dewi, ada juga yang bersikap cuek dan biasa terhadap kehadiran sosok misterius, Naruto. Mungkin hanya Susano'o yang tersenyum menyeringai karena pria kamvret itu mau keluar dan menunjukan eksistensinya.

"Yare-yare…, tidak adakah pertanyaan anti-mainstream padaku? Chee.., semuanya hanya pertanyaan membosankan.." Suara Naruto sedikit berbeda, mungkin karena sihir khusus untuk menyamarkan suara dan identitasnya. ".., dan tentu saja tak akan kujawab pertanyaan-pertanyaan kalian!"

"Penjaga! Mana penjaga! Tangkap penyusup itu sekarang! Heeeei..! mana penjaga?!"

"Hentikan.."

Tak ada yang tek terkejut ketika Amaterasu mengeluarkan perintah mutlaknya. Bagaimana tidak terkejut, pemimpin mereka malah membiarkan penyusup itu tetap berkeliaran ditempat pertemuan penting ini.

"Hentikan semua tindakan kalian. Dia adalah tamu khususku. Jadi tak ada yang boleh untuk mengganggunya, siapapun itu.." Perintah Mutlak Amaterasu membuat semuanya terkejut untuk yang kesekian kali, namun daripada mengekspresikannya, mereka hanya bisa diam dan menuruti karena diancam oleh tekanan kekuatan Amaterasu yang sangat gila.

"Baiklah, Uzumaki-san…" Amaterasu memanggil Naruto dengan nama samarannya, selanjutnya mungkin Naruto yang akan mengambil alih. "…, Selanjutnya kuserahkan pada anda."

"Yo, Minna-san? Bagaimana kabarnya? Kalian tak perlu tau siapa dan darimana aku.., yang perlu kalian tau adalah…" Hawa dingin mulai terasa mengusik indra setiap Dewa dan Dewi yang hadir disana, bulu kuduk mereka bahkan ada yang sampai berdiri karena ketegangan dari aura mengerikan milik Naruto.

Susano'o bahkan merasakan apa itu ketakutan ketika merasakan aura kematian juga kengerian dari tekanan kekuatan Naruto. Sekarang Susano'o sadar, kekuatan dari manusia yang berbicara tadi, memang berada jauh diatasnya. Meski kodratnya sebagai manusia dibawah para Dewa, namun prinsip Dominasi miliknya berhasil mengantarkan manusia biasa menjadi mahluk sekelas Dewa bahkan lebih. Diam-diam Susano'o menyeringai senang karena membayangkan apa yang akan terjadi dengan si tua Odin yang dulu mengancamnya jika dia berhadapan dengan mahluk mengerikan semacam Naruto.

"…., Mewakili Amaterasu! Hukuman kematian atas nama Tsukoyomi juga yang lainnya, tidak akan ditangguhkan juga diterima!"

"A-apa maksudmu!?"

"kau pikir siapa kau ini!?"

Banyak suara protesan pada Naruto. Semuanya hampir sama, mereka mempertanyakan putusan itu. Apakah benar atau tidak. Apalagi yang mengatakannya bukanlah Amaterasu sendiri. Namun selain itu, sepertinya ada juga pihak-pihak yang memang dari awal tidak setuju kalau para Oposisi itu dibebaskan begitu saja, sepertinya mereka adalah para Dewa dan Dewi dengan ideology kolot juga pikiran konservatif, macam Hideyoshi.

"Maa Maa…, kalian ini berisik juga bodoh ternyata." Merasa dihina, banyak Dewa yang semakin menyuarakan protesnya pada Naruto atas ucapannya. ".., Apa kalian ini bodoh kah? Dewi yang sudah lama mengabdi dan terbukti kesetiaanya, dan saat dengan misterius membelot juga berkhianat. Kalian dengan mudahnya memvonis itu kesalahan besar dan harus dihukum mati? Maaah..! otak kalian ditaroh di dengkul yah?!"

Maksud Naruto, tidak akan mungkin dan sangat aneh kalau seorang Dewi sekaliber Tsukoyomi yang sudah ribuan tahun mengabdi pada Shinto dan juga sudah terbukti kesetiaannya, membelot dan berusaha menggulingkan Amaterasu. Yaahh.., meskipun kelakuan beringasnya ketika dulu pada salah satu Dewa, tapi Tsukoyomi akan tetap loyal pada Shinto juga kakak perempuannya. Kalaupun berkhianat, pasti ada penyebab atau dalang dibalik semua ini. mungkin saat ini Naruto tidak tau, tapi…

'… Aku pasti menemukan dalang dibalik semua ini!'

Sejenak, mulai ada Dewa dan Dewi yang sadar dan menelan kata-kata Naruto. Rata-rata dari mereka adalah Dewa dan Dewi berpikiran terbuka dan skeptis. Namun Dewa dan Dewi berpikiran kolot masih ada dan tetap dengan pendiriannya untuk membasmi pengkhianat siapapun itu. Naruto tersenyum dalam jubahnya, dia jadi teringat dengan si Hideyoshi yang Kolot dan susah diajak kerja sama ketika melihat para Dewa dan Dewi kolot disini. Sama-sama susah diajak kerja sama.

"Bagaimana?" semua Dewa dan Dewi mengalihkan perhatian mereka pada Naruto, Amaterasu juga disadarkan dari lamunannya tentang pria yang sudah membantunya itu. "Apa kalian akan tetap kukuh dengan Ideologi kolot dan Kuno kalian? Apa kalian akan tetap kukuh untuk memberikan hukum mati untuk mereka? Kurasa kalau menggunakan pertanyaan ini, bakal ketahuan siapa yang bego siapa yang cerdas 'kan?"

Sementara ada beberapa Dewa dan Dewi yang menggeram marah, banyak juga Dewa dan Dewi yang menyetujui usulan Naruto. Pikiran mereka lebih terbuka dan lebih bisa menerima usulan juga saran yang bagus, tidak semata menggunakan Egoisme, mereka lebih condong berpikir dengan Logika dan realita. Berbeda dengan Dewa dan Dewi kolot, mereka lebih suka memutuskan sesuatu hal sesuai keputusan mereka tanpa diganggu gugat, Golongan muda bagi mereka tidak punya hak dan suara untuk memutuskan sesuatu, dan sebisa mungkin mereka akan menciptakan keadaan dimana golongan muda terkekang dan tak bebas. Seperti itulah mereka. Meskipun kenyataannya sekarang, justru golongan tua lah yang kalah oleh golongan muda karena dibantu kehadiran Naruto yang misterius.

Naruto semakin melebarkan senyumnya ketika mendengar persetujuan untuk yang kesekian kalinya atas usulannya untuk membantu Amaterasu juga menjadi aksi baginya untuk menyelidiki dalang dibalik semua ini. dengan suara sebanyak ini, maka keputusan sudah jelas dan kemenangan ada ditangannya. Bagi Naruto hal ini tentunya sudah biasa dan sangat mudah, mengingat pengalamannya yang sering juga memenangkan Voting ketika rapat bisnis diadakan atau dalam memenangkan tender dengan kata-kata manisnya, bahkan dengan kekuasaanya Naruto bisa mempengaruhi putusan kebijakan Parlemen US. Mudah baginya, karena semuanya akan bisa diatur jika si hijau berbicara.

Tapi, meskipun kemenangan sudah dipegang..

"Kenapa kami harus mengikuti arahanmu? Kau bukanlah siapa-siapa disini, mahluk misterius!"

Salah satu Dewa berbicara, suaranya didukung oleh golongannya. Pengecohan dilakukan untuk mengalahkan Naruto. Ibarat dalam sebuah persidangan, maka mereka yang tidak puas dengan putusan konsideran sidang, akan berusaha sebisa mungkin untuk menagangkat masalah juga hal-hal lainnya untuk mempengaruhi putusan induk, atau lebih tepatnya mereka berusaha mewujudkan, peninjauan ulang. Naruto tentu sadar hal ini, musuh-musuh politiknya juga orang-orang yang tidak suka dengan semua keputusan yang dia rancang pasti akan melakukan hal seperti ini, tindakan licik untuk melawan tindakan licik. Naruto tersenyum karenanya.

"Aku.." Susano'o , Dewa badai itu menyeringai senang ketika melihat kelihaian kata-kata juga Retorika Debat yang dikeluarkan Naruto. Menurutnya, dari semua Dewa disini bahkan Amaterasu sendiri, tak ada yang lebih Kharismatik juga lihai dalam Politik selain manusia pirang itu. Susano'o dengan hormat mengakui itu. Dia dari tadi menyeringai senang ketika melihat kelicikan Naruto, dan saat pemuda itu akan meneruskan kata-katanya Susano'o dibuat penasaran.

"…, Adalah calon suami Amaterasu!"

!?

Semua Dewa yang ada terbelakak terkejut juga menganga karena Deklarasi Naruto. Selain karena Deklarasinya, mereka juga jelas melihat kalau pimpinan mereka, Amaterasu tiba-tiba digandeng dan dirangkul manis oleh Naruto. Lebih terkejut lagi, ketika mereka melihat wajah memerah Amaterasu yang jarang dilihat oleh siapapun, lebih jarang daripada melihat Tenjin lupa pakai semvak. Yang paling terkejut adalah Susano'o, Dewa tampan berambut hitam panjang itu menganga lebar sampai-sampai ada lalat keluar masuk mulut lebarnya. Sumpah! Demi kakek legend yang sering diucapkan manusia, Susano'o baru melihat lagi Amaterasu yang bertingkah seperti itu. Apalagi manusia kamvret itu berani mengaku calon suami kakaknya?! Cihhh.., lebih baik dia jadi Dewa legend seperti Kakek legend dibumi sana.

Amaterasu, Dewi matahari itu sedari tadi sudah masuk zona sebentar lagi pingsan, kalau diteruskan tidak kuat bertahan. Err.., apa tidak salah zona?

Yang pasti, Dewi matahari itu sangat terkejut dengan tindakan pemuda yang sedang mengandengnya manis itu. Wajahnya memerah sebagai reaksi dari semua tindakan Naruto, badannya sungguh sangat lemas ketika diperlakukan seperti ini. Sumpah, demi cucu-cucu kakek legend yang sering dibicarkan Susano'o! ini kali pertama Amaterasu dilanda kegugupan tingkat Dewa!

"A-A-apa yang anda maksud, Naruto-dono?!" Cicit kecil Amaterasu hanya bisa didengar oleh Naruto. Dan sumpah, demi-

'.. Err.., please jangan sumpah seperti itu lagi.'

"Tenanglah Touka.." Naruto sama-sama mencicit pelan agar tak didengar Dewa dan Dewi lainnya. Menggandeng wanita cantik dan anggun, sungguh membuat Naruto sedikit gugup juga. Meskipun tekad dan cintanya masih berlabuh pada dia, tapi Naruto juga manusia yang punya hasrat dan nafsu, coy! Dia bukan kak-

'.. Oke! Entah kenapa mahluk legend itu selalu muncul dikepala setiap orang sih?'

"…, Ini hanya rekayasa belaka, jadi kumohon ikuti permainan ini. jika kita bukan calon suami-istri, maka mereka akan menjatuhkanku dan menggagalka semua rencanaku, kau tau? Jadi kumohon ikuti permainan ini."

"Ugh.., baiklah.."

Menghilangkan kegugupannya, mereka berdua dengan posisi masih saling menggandeng menatap dengan senyuman kaku kedepan. Dari tadi, Dewa dan Dewi lainnya menunggu konfirmasi dari Amaterasu. Karena mau bagaimanapun, pengakuan Naruto tidak bisa dipercaya sama sekali. Mungkin saja 'kan, si Uzumaki ini hanya seorang jones gak laku yang sukanya ngaku-ngaku 'kan?!

"Ah.., ahahahaha.., iya betul. Kami adalah Calon suami-istri."

Bagai petir disiang bolong, semua Dewa dan Dewi dilanda terkejut masal karena pimpinan mereka ternyata sudah punya calon pasangan. Hanya Susano'o saja yang paling tidak ikhlas juga ridho kalau Anee-samanya dinikahi oleh manusia bejat seperti Naruto! Namun keluar dari keberatan Susano'o, sepertinya pertemuan ini sudah bulat keputusannya dan juga tidak ada tinjau ulang dengan alasan apapun itu. Mengingat sudah jelas kalau Naruto itu ternyata calon suami Amaterasu.


.

Rapat sudah diselesaikan, dan para Dewa sudah boleh kembali ke kediamannya masing-masing. Para Dewa itu pulang dengan kondisi hati yang beragam, ada yang biasa saja, senang sumringah bagai taman dengan bunga, atau mereka yang kecewa berat karena rencana tersendat oleh sebuah skakmat, dari Naruto. Mereka pulang dengan wajah asem yang gak enak dipandang. Hanya Susano'o yang beda..

.. yah karena sedari tadi, Dewa badai itu sedang berusaha mencari Naruto untuk memberikannya salam adik ipar, karena sudah mengklaim dengan sengaja bahwa dia calon suami kakaknya. Ohhh.., kali ini kemarahan Dewa badai itu sudah mencapai ubun-ubun karena tindakan kamvret Naruto. Namun sayang bagi Susano'o dan untung bagi Naruto, karena sedari selesai rapat mereka sudah berpisah. Dan Susano'o sama sekali tidak menemukan keberadaan Naruto.

Naruto sendiri, dia sedang berjalan bersama salah satu Shinki milik Amaterasu. Kali ini bukan Iruka si pria kantoran yang nyentrik dengan bekas lukanya, kali ini adalah seorang gadis remaja dengan dua balon didada cukup besar, gadis seperti gadis sma itu berambut hitam dengan gaya rambut Twintails, matanya berwarna biru dengan kaca mata kotak ber-frame merah dihidungnya. Gadis manis ini, namanya Tohsaka. Namun katanya, dia kukuh ingin dipanggil Rin-chan. Baaaah.., jangan bercanda!

"Hooooi..! Gadis Tsundere berdada besar! Bisa tidak kau tidak menggangguku?!" Naruto berujuar sinis, dirinya sudah kesal karena sedari tadi dia diikuti dan diganggu oleh setan Tsundere didepannya. Amaterasu mengatakan, kalau ini konsekuensi karena ngomong sembarangan saat rapat. Haahhhh.., aku bingung, kenapa si Touka malah langsung pergi ketika diajak mencari Iruka dan si sesat itu?

"Whaaaat?! Kau bilang apa Ossan mesum perebut Nee-sama?! Bukannya kau yah yang mengganggu Nee-sama dengan kehadiranmu?! Cihhhh.., semua laki-laki sama saja.. Hemmph."

Ngomong-ngomong, penampilan Naruto kini tak memakai jubah lagi. Penampilannya memakai penampilan aslinya, Pemuda tampan berambut pirang dengan kulit putih tanpa sedikit goresan juga mata shapire yang indah. Berbeda sekali dengan penampilannya di Dunia manusia, yang rambutnya merah dan tanda lahir kumis kucing. Naruto pun menyamarkan namanya kalau menggunakan penampilan ini, dia menggunakan nama Uzumaki Menma.

"Siapa yang mesum, Bocah! Dan siapa juga yang mengganggu kehidupan Touka!"

"Whaaat?! Berani sekali kau memanggil Nee-sama dengan nama itu?! Kau itu siapa sih?! Mengaku-ngaku calon suami Nee-sama! NGIBUL..!"

"Terserahmu."

Naruto pun berlalu pergi meninggalkan gadis Tsundere yang sedari tadi mengganggunya. Telinganya terasa sangat panas, bahkan lebih panas daripada mendengar kata-kata puitis dari Hidan. Dia meninggalkan Tohsaka yang masih dalam keadaan kesal, tanpa memperdulikan raut wajah gadis itu yang marah juga tertekuk kesal.

"Oooooi..! kau mau kemana, Ossan mesum?! Urusan kita belum selesai!" Tohsaka membalas dan ikut mengikuti Naruto di sampingnya. Naruto dibuat menepuk dahi lagi. Perempuan ini..

"…, Kau mau ku perkosa yah?"

"Tuh kan! Kau ini Ossan mesum! Hentai! Pedofil! Lolicon! Milf-Lovers ! Gigolo! Dasar Sugioonooooooo..!"

Naruto dibuat melongo keras. Niat hati ingin membuat gadis ini malu dan terkejut dengan ucapannya, malah dia lebih keras menghina dan mengatainya. Dan lagipula, dari mana gadis Tsundere ini hapal istilah-istilah berbahaya semacam itu! Dan…

'… Kenapa Kakek legend itu selalu muncul sih!'

"Horaaa..! kau kaget karena aku tau semuanya 'kan?! Hemmmpph.., itu wajar bagi Rin-chan-sama untuk mengetahui kebusukan Pedofil-Gigolo seperti dirimu, Ossan.."

Grrr.., Naruto merasa sangat geram sekarang. Daripada meladeni gadis Tsunder ini, Naruto lebih baik meladeni kelakuan aneh bin somvlak para Akatsuki.

"Hahhhh.., jadi intinya, kau mau apa Bocah?"

"Kau…" Tohsaka berdiri didepan Naruto, tangannya menunjuk wajah Naruto yang datar-datar saja dari tadi. "…, Harus.." Gadis itu berputar searah jarum jam dengan gaya elegant dan cantik.

"…, benar-benar mencintai Nee-sama!"

Hah?! Jadi hanya ini?!

"Jadi kau hanya ingin bilang ini, Bocah.." Mendapati anggukan semangat dan wajah dengan ekspresi tsundere yang kental, Naruto menghela napas. "…, Buang-buang waktu saja."

Dan Naruto pun berlalu pergi, meninggalkan Tohsaka yang menundukan kepalanya karena mendapati respon seperti itu dari orang yang dia anggap calon-suami Nee-samanya.

"Berhenti.." Naruto sedikit berhenti dan menoleh, namun dia kembali melanjutkan lagi jalannya karena hanya melihat gadis tsundere itu menundukan pandangannya. "Kubilang berhenti, Uzumaki-san.."

Naruto menghentikan langkahnya, namun tubuhnya masih memunggungi gadis itu.

"Apa kau tau.. Apa kau tau, Uzumaki Menma? Kalau selama hidup yang keduanya ini, Nee-sama selalu melupakan diirinya sendiri! Apa kau tau itu, Uzumaki!?"

Tohsaka mulai berteriak, suaranya cukup bisa didengar jelas oleh Naruto. Namun Naruto masih bertindak seolah mengabaikannya dengan masih memunggungi gadis itu.

"Dia…, Nee-sama pernah hidup sekali dulu. Dia.., dia pernah bersuami dengan Tsukuyomi-sama. Namun karena tindakan brutal suaminya, Nee-sama selalu mengalami tekanan juga cacian dari Dewa lainnya. Puncaknya.., adalah ketika jamuan dari Dewa makanan, Ukemochi-sama. Karena tindakannya, Tsukuyomi sama dengan brutal membunuh Dewa penting itu. Nee-sama tertekan, dia mendapati tekanan dari Dewa lainnya. Saat itu Nee-sama bingung, apakah dia harus menghukum Tsukuyomi, suami sekaligus saudaranya, ataukah dia harus melawan Dewa dan Dewi lainnya."

Menurut legenda, memang Amaterasu pernah di per-istri oleh Tsukuyomi. Namun, kelakuan Tsukuyomi yang brutal melebihi Susano'o, membuat kehidupan rumah tangga mereka selalu didatangi masalah. Dan benar kata Tohsaka, puncak permasalahan itu adalah ketika penjamuan dari Ukemochi, si Dewa makanan. Dengan brutalnya, si Dewa bulan membunuh Dewa makanan itu. Inilah legendanya, kalau pangan sangat dibutuhkan di Bumi ketika itu.

"Dan tebak! Ternyata yang dipilih Nee-sama adalah mengusir Tsukuyomi-sama! Dia tak memihak keduanya! Baik Dewa lainnya atau cintanya dengan Tsukuyomi-sama, Nee-sama tidak pernah mengkhianatinya. Namun meski begitu, konsekuensinya dia mulai merasa yang namanya kesepian juga kesendirian. Susano'o-sama adik satunya, dia lebih suka bertempur dan berulah di Bumi. Nee-sama sendirian.., dia yang hanya wanita rapuh itu terus ditekan dalam kesendiriannya.. hingga akhirnya, beliau memilih bunuh diri dan berniat menunggu reinkarnasinya."

Dalam system kehidupan Dewa Shinto, mereka punya kemungkinan untuk hidup lagi atau ber-Reinkarnasi. Namun tentunya dengan jiwa baru, karena jiwa lamanya sudah mati. Selama ada Manusia yang menyembah juga mengingat namanya, maka Dewa itu bisa eksis dan ber-Reinkarnasi. Itulah kodratnya Dewa dan Dewi Shinto.

".., Mengetahui Nee-sama bunuh diri, Tsukuyomi-sama pun mengikuti hal tersebut. Mereka berdua sama-sama bunuh diri dan membunuh masa lalunya masing-masing. Beberapa waktu kemudian, Mereka bereinkarnasi. Nee-sama kembali hidup untuk memimpin Shinto, dan Tsukuyomi-sama kembali hidup lagi. Namun kini dengan keanehan, bukannya ber-Reinkarnasi dengan penampilan lamanya, Tsukuyomi atau Tsukoyomi-sama, malah berubah menjadi Gadis seperti Amaterau-sama. Pribadinya pun berubah, dan membuatnya diterima kembali di Takamagahara. Mulai saat itu, ketiga saudara yang dilahirkan oleh Izanagi-sama setelah beliau berziarah ke Yomi, kembali berkumpul dan mulai hidup baru dengan bahagia.."

Naruto diam saja, matanya terpejam mendengar semua cerita yang disampaikan Tohsaka. Pikirannya berkecamuk ketika mengetahui masa lalu Amaterasu atau dia lebih suka memanggilnya Touka. Sedikit senyuman tipis terpasang di wajah tampannya, dari lirikan mata dia bisa melihat Tohsaka yang sedikit sesenggukan setelah menceritakan masa lalu Touka. Naruto tersenyum ketika gadis tsunder itu akan berbicara lagi,

"Makanya…! Jangan sakiti perasaan Nee-sama! Dia sud-,"

"Aku tau!" Tohsaka menghentikan perkataanya ketika pemuda tampan itu memotong perkataannya, kemudian dia melihat Naruto yang berbalik kearahnya dengan keren, kain Yukata ditanganya berkibar keren ketika itu. "Aku tau itu! Dan jangan khawatir, Touka adalah salah satu orang yang kuanggap berharga. Jadi apapun ceritanya, aku akan melindunginya. Kau tenang saja, Rin."

Tohsaka bisa melihat cahaya blink-blink ketika Naruto mengatakan hal keren tadi. Matanya tak berkedip barang sejenak ketika melihat senyum mentari di wajah tampan itu. Ahhhh.., sepertinya pesona dan Kharisma Naruto memang tak bisa ditolak.

Duaaaaaar..!

"Ledakan? Dimana itu?"

Naruto merespon cepat ketika mendengar sebuah ledakan disekitar sini, kemampuan sensornya diaktifkan untuk memeriksa dimana sumber ledakan itu berasal. Matanya membola ketika merasakan ada pancaran energy dari pengawalnya, Hidan disana. Dia langsung menoleh cepat ke Tohsaka yang sepertinya juga menyadari hal ini.

"Itu.., sumber ledakan itu berasal dari Istana Izanagi-sama. Tempat Pusaka disimpan.."

"Gawat..!"

Naruto langsung membuat sihir teleportasi, kordinat tempat sudah dia dapatkan dengan cepat. Sedari datang kemari, Naruto sudah mulai menganalisa kordinat-kordinat spot penting disini untuk antisipasi. Sehingga, berpergian ke Istana Izanagi yang merupakan salah satu tempat penting, mudah dilakukan oleh orang baru seperti Naruto.

"Tunggu aku.! Aku ikut, Ossan.."

Sebelum benar-benar pergi, Tohsaka masuk sembarangan ke lingkaran sihir dan ikut terbawa juga menuju tempat tujuan teleportasi itu. Dan dengan cahaya terang, mereka berdua menghilang dari sana.

.

Istana Izanagi, yang awalnya bangunan bergaya Jepang Kuno dengan beberapa pagoda menjulang tinggi, kini cukup kacau karena beberapa kerusakan dimana-mana. Tempat yang menyimpan berbagai Pusaka sakti itu, banyak bergelimang mayat-mayat para penghuni Takamagahara. Darah menggenang bagai lautan disetiap sudut tempat itu, potongan organ manusia baik luar atau dalam berserakan dimana-mana. Yang terlihat masih utuh, adalah seonggok tubuh pria berusia kisaran 30 tahun dengan luka melintang diwajah, dia adalah Iruka yang dalam keadaan cukup sekarat dengan luka-luka yang banyak.

Tap.

Naruto dan Tohsaka berpijak dalam sebuah genangan darah yang berbau amis khas. Namun pengalaman berat mereka telah melatih untuk kebal dari aroma, pemandangan juga perasaan terror ini. mereka adalah pro untuk yang namanya pertarungan dan pembunuhan, jadi hal ini adalah hal kecil untuk mereka.

"Iruka-senpai..!"

Tohsaka langsung bergegas menghampiri Iruka yang tergeletak lemas dengan luka-luka parah ditubuhnya. Gadis tsundere itu berusaha mengobati Iruka dengan beberapa ilmu medis yang dia ketahui. Naruto mengabaikan itu, dia lebih memilih melihat sekitar. Darah dan kumpulan mayat, tak ada yang aneh dan special disini. Sampai Naruto bisa melihat seorang Perempuan cantik berambut perak panjang dengan Kimono putih, wajahnya cantik dengan pesona tersendiri yang dia miliki. Diwajahnya, ada beberapa bercak darah yang mulai mengering. Dia adalah..,

"…, Dewi Tsukoyomi, Moon of the God. Dewi yang mampu setara dengan Amaterasu, Saudari sekaligus mantan suaminya.., kau sekarang sering dipanggil, Kaguya 'kan?"

Tsukoyomi tak merespon, tatapan matanya sangat kosong dan menarik siapapun pada kehampaan, jelas sekali kalau kekuatan Dewi itu tak main-main dilihat dari sikapnya. Berniat mengabaikan kedatangan Naruto, Tsukoyomi hanya berbalik dan mulai membuat lingkaran sihir untuk pergi dari sini, karena tugasanya sudah selesai. Dirinya sudah berhasil mencuri Kotak suci milik Izanagi, tinggal lanjut ke rencana selanjutnya, maka semua rencana akan berhasil.

"Menma 'kan?" suara kosong terdengar jelas ditelinga Naruto. ".., Datanglah besok sore, kami akan menambah persediaan Phantom Brush kami. Kurasa kau tau yang ku maksud.."

Dan Dewi beraura mengerikan itu hilang ditelan sihir teleportasinya.

Naruto mengabaikan itu, bukan karena takut dia sampai tidak menghentikan pelariannya. Namun karena sadar situasi dan kondisi, Naruto menunda pertarungan dan membiarkan musuhnya lolos. Toh, dia memberikan informasi Cuma-Cuma soal aksi berikutnya.. jadi tidak rugi-rugi juga lah.

Naruto kembali mengobservasi sekitar, pasca perginya Kaguya tak ada hal special yang dia temukan kecuali ratusan potongan organ yang berserakan dimana-mana. Sampai mata birunya bisa melihat, sebuah tubuh dengan beberapa potongan tubuh disekitarnya. Tubuh berotot dengan jubah khas Akatsuki juga Kepala berambut perak klimis yang terpisah jauh dari lehernya, tak salah lagi..

".., Belum 24 jam, kau sudah mati juga Hidan."

.

And cut!

Chapter 10. Pertemuan, End!


LOL-San Note :

Beribu maaf saya ucapkan karena ketelatan saya update. Baik fic ini atau yang satunya.. kondisi dimana sekarang saya sedang prakerin kerja lapangan 3 bulan membuat saya susah dapat waktu ngetik juga faktor tidak adanya laptop sebagai senjata andalan author, mengingat sya yang get dari rumah. Maa.., intinya hampura (bahasa sunda) juga maaf karena sudah selama ini..

Kayanya juga gak banyak yang akan saya bahas.., balas review dan bahasnya mungkin di chap depan yang in syaa allah 1 minggu dari sekarang.., mungkin akan sya ulas chap sekarang aja..

Naaahh nah nah.., kita sudah masuk arc : takamagahara…, disini, fokus kita adalah dewa-dewi Shinto juga rencananya, akan menjadi awal hubungan manis Naru-Touka.., kebangetakn 'kan? Kalau sudah sejauh ini, Naruto masih menutup hati dan Touka masih terjebak masa lalu? Dan emmm.., gimana tanggapannya untuk chap ini? jujur saya merasa aneh dengan feel nya bahkan merasa gak ada sama sekali.. karena nulis setengah ini, 2 minggu yang lalu.., dan diterusin sekarang agak aneh aja gitu… lupa2 gimana…

Hmmm.., sekarang anggota Akatsuki yang unjuk gigi adalah Hidan. Dan wahahahaha… dia sudah mati duluan padahal belum 24 jam.. hmmm.., lalu karakter baru dari anime lain muncul, Iruka juga Tohsaka rin (anime Fate series)…, karena namanya ada 'ka' saya ambil aja deh jadi Regalia atau Shinki Touka.. silahkan sarannya bentuk shinkinya apa mereka? Apakah pedang, kimono atau apa.. sudah saya tentukan 2 kemarin…

Lalu klarifikasi dari sekarang deh.. bagi yang tau Noragami, pasti tau kalau Dewa bisa reinkarnasi kalau udah mati. Dan kasus sebenernya sih reinkarnasinya menjadi wujud kehidupan saya pengecualian untuk Tsukoyimi, masa dia jadi laki lagi? Ya Amaterasu diembat lagi lha! Naruto terus sama siapa dong!? Dan muehehehe.., mungkin aja 'kan si Tsukoyomi yang penampilannya kaguya-hime (masih cantik belum jadi iblis) itu bakal jadi pair Naruto juga… maa, siapa yang tau…

Yosh., itu balasan untuk Danna semua. Saya gak bisa ngasih apa-apa pada kalian semua yang sudah berbaik hati dan sudi membaca fic saya dan memberikan apresiasi, huhuhuu.. saya do'a kan semuanya baik dan sehat lagi tetap dilindungi tuhan.

Jangan lupa berikan saran, kritik atau komentnya di Review atau melalui PM, agar fic ini semakin baik. Saya mohon, kalau tiap chap nya mengalami kemunduran dan semakin jelek, reader peka dan memberikan masukan dan solusinya. Agar saya semakin bagus menyediakan konten dan membuat Danna semakin terhibur. Apakah benar membiarkan sebuah keburukan berlangsung terus menerus? Orang beragama pasti mengerti. GRATIS kok

Terakhir, jangan lupa pula dukung fic saya dan sebarkan agar yang lain tau, dengan fav atau foll. Ingat, sekali lagi GRATIS kok.

'….Kami berkarya tidak dibayar sama sekali. Sangatlah kejam, ketika

Anda hanya melihatnya saja. Tidak bermoral, ketika sikap Apresiatif

Atau saling menghargai tidak ada…'

Bye Bye…

Salam LOL