Naruto miliknya Kishimoto Masashi-sensei

Hinata Hyuuga dan Uchiha Sasuke

OOC, Typos.

What is Love?

Chapter 10: Cinta itu Menghancurkan Pemiliknya

Wanita paruh baya itu memeluknya dengan berlinang air mata. Dan Hinata hanya bisa terisak di bahunya. Selepas tangis, banyak yang mereka bicarakan. Semuanya berputar dalam lingkup kabar dan alasan kenapa Hinata tidak pernah lagi dating. Ketika Hinata berkata bahwa hubungan mereka suah selesai, wanita itu memeluknya lagi. Mengusap-usap punggungnya seraya berkata, "Shikamaru memang merepotkan, Hinata. Kau pasti tidak tahan. Maafkan dia ya."

Hinata hanya bisa menatap tepian meja, dan bingkisan yang belum dibuka. Ia membawa satu kotak besar Ichigo Daifuku dan Taiyaki.

Hinata terus berbicara tentang mereka yang masih memiliki hubungan baik dan perpisahan mereka bukan atas dasar kebencian atau sakit hati. Mereka benar-benar berpisah untuk menapaki jalan sendiri-sendiri. Pada wanita ini, Hinata tidak bisa berbohong.

Hinata disergap selaksa masa lalu ketika Nyonya Nara pamit ke dapur untuk memeriksa kue. Dulu, ketika Hinata benar-benar masih baru berkencan dengan Tuan Membosankan Shikamaru, ia pernah membuat kue bersama wanita itu. Untuk Hinata yang tinggal terpisah jauh dengan sang Ibu, momentum itu benar-benar bisa menjadi obat baginya.

Hinata tengah menatap potret keluarga Nara. Shikadai Nara, Ayah Shikamaru adalah orang yang hampir mirip dengan Hiashi. Bedanya Shikadai ketika luang suka sekali main Shogi bersama Shikamaru, sedangkan Hiashi akan bersemedi. Hinata pernah sangat gugup ketika pertama kali berbicara dengan kepala keluarga Nara. Luka-luka di wajah pria itu menambah kesan menakutkan dalam benak Hinata. Tetapi ketika berbicara, mereka bisa tertawa dalam waktu kurang dari setengah jam saja. Kata Shikamaru, itu suatu rekor baru.

Nyonya Nara dating dengan semangka potong bersama secawan garam dalam keramik. Kemudian kembali memulai pembicaraan yang berkaitan dengan hal-hal romantik. Berujung pada; "Hinata, sekarang pacarmu siapa?"

Garam dalam keramik seperti berpindah ke hatinya. Di tabur di atas luka yang masih basah. Perih, dan panas, menjalar sampai ke pelupuk mata. "Tidak ada," ujarnya parau.

Wanita itu tersenyum menenangkan, kemudian memeluk Hinata penuh saying. Hangat. Itulah yang Hinata perlukan sejak ia melangkah keluar dari gelembung yang Sasuke ciptakan.

Tuan Shikamaru Nara tiba.

Atmosfer berubah.

Nyonya Nara mendadak punya banyak kesibukan dengan dapur dan jemuran kering. Hinata paham dan Shikamaru mengajaknya ke atas.

"Kau tidak bilang dulu."

Hinata membalikkan badannya. Semula ia tengah menatap pekarangan rumah keluarga Nara yang ditanami dua pohon sakura, menjadi menghadap pintu kaca. Tubuhnya bersandar pada trails balkon.

"Kalau aku bilang, memangnya kau mau membawa buah tangan?"

"Aku akan mempercepat waktu pulang."

Hinata tersenyum paksa.

Pukul enam Shikamaru baru tiba. Ia sebenarnya berniat pulang sebelum malam, tetapi tidak enak jika ia lakukan. Sebab tadi ia bilang bahwa ia dan Shikamaru baik-baik saja, kalau pulang ketika pemuda itu tiba, Ibu-nya bisa berspekulasi yang tida-tidak.

"Hinata, kau baik-baik saja?"

Sebab ketika Shikamaru tiba, ia tengah menangis dalam pelukkan ibunya.

"Aku tidak baik-baik saja."

"Kau memang yang paling jujur."

Hinata tersenyum, kali ini lengkungannya lebih halus, Hinata tersenyum lebih tulus.

'Aku tidak suka melihatmu dengan Temari.'

'Aku tidak suka jika kau merokok.'

'Aku bertemu Gaara. Kau tahu? Dia lebih tampan darimu!'

'Jangan menghilang, kau tidak tahu kalau aku menangis beberapa malam, kan?'

Ketika menjalin hubungan, mereka tidak pernah memberi makan ego dan menyanjung gengsi. Sehingga pertengkaran adalah hal yang mustahil terjadi. Tidak bisa dipungkiri lagi, hubungan yang terlalu mulus adalah pemicu mereka untuk memilih jalan berbeda. Benar ata orang di luar sana, pertengkaran adalah perekat dalam suatu hubungan. Itulah yang tidak mereka dapatkan.

"Kudengar, kau berpacaran dengan Uchiha Sasuke, ya?"

Hinata menantang jelaga di atas sana, dan pemikirannya yang dangkal. Semula ia menduga, jika Sasuke yang menghujamnya dengan satu tusukan mematikan akan lebih mudah daripada pemuda itu menyayatnya pelan-pelan. Nyatanya, tusukan itu menciptakan memar yang menjalar, hatinya bukan hanya ngilu, tapi juga berlubang. Kopong. Dan kosong.

"Sudah berakhir."

Air matanya lolos.

Shikamaru pura-pura tidak peka. Pemuda itu serius mencari awan putih yang menjadi kesukaannya pada lazuardi yang tengah marah.

"Itu bagus. Aku tidak mau kau berkencan dengan seorang kriminal."

Hinata menyerah pada gravitasi. Di samping pot bunga yang berisi empat tangkai suzuran, ia menangis sesenggukkan.

Lukanya baru saja ditabur garam, dan Shikamaru seperti criminal sesungguhnya yang melukai Hinata ketika dalam kondisi tidak prima. Atau…Shikamaru adalah pengecut yang sebenarnya?

Shikamaru, yang mengganti seragamnya dengan kaos oblong dan celana kain, menyamakan tubuhnya dengan Hinata. Shikamaru memeluknya erat. Kalau bisa, Hinata ingin memaksa Shikamaru untuk tetap berdiri. Menjadi orang dungu, atau orang brengsek yang membuat perempuan menangis juga tidak masalah. Saat ini, pelukan Shikamaru bukan terasa seperti menguatkan, melainkan sedang menancapkan pedang.

Hinata menyerah pada aroma pinus di tubuh Shikamaru. Ia membalas pelukan Shikamaru, lebih erat dari milik pemuda itu. Hinata ingin berpegangan, ia takut jika mati sekarang. Hinata seperti dibawa pada beberapa waktu silam, ia diminta menonton beberapa adegan yang bisa membuat ia menyerah pada kehidupan. Ia punya banyak luka sayatan.

"Bermalamlah di sini, Hinata."

Apapun. Apapun yang Shiakamaru minta, akan ia lakukan. Hinata benar-benar butuh pegangan sekarang.

Dari dulu, Shikamaru adalah pemuda yang paling paham apa yang Hinata butuhkan meski tidak gadis itu katakan.

Tidak seperti Sasuke, yang menghancurkan dirinya.

To be continued.

A/N : Mohon doanya, saya sedang mencoba peruntungan menjadi copywriter tidak hentinya saya ucap syukur dan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyukai membaca mengomentari dan memfavoritkan cerita ini.

.

.

Nunaly, 8 Feb 2018