A/N:

Hai-hai cerita yang ini lanjutan dari yang BIOLOGI yaa ^^


Disclaimer:

Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari NARUTO karya Masashi Kishimoto


ForgetMeNot09

present

.

.

.

BASKET

.

.

.

Ia kesal, berkali-kali menggerutu. Disepaknya bola berbahan karet tersebut penuh emosi. Tentu saja yang terjadi berikutnya bisa ditebak. Kakinya terasa sakit, meskipun sudah terlindungi oleh sepatu sport berkualitas tinggi. Bagaimana pun, bola basket memang dibuat bukan untuk ditendang bukan?

Ia meringis, berjongkok dan membuka sepatunya. Memijit pelan ibu jari kaki yang sepertinya mulai memerah.

Saat hendak meniup, tangannya malah tersenggol bola yang sudah kembali setelah ia tending tadi.

"Aduh …."

Ia mengeluh.

Dalam hati merutuk, kenapa ia sangat payah dalam hal olah raga? Terutama apa pun yang berhubungan dengan bola. Maaf saja, sebab untuk berenang atau pun karate, ia adalah sang jawara.

Ia merebahkan badan pada lantai lapangan yang kasar. Dipejamkannya mata dan pikirannya berkelana. Minggu lalu, ia terpaksa izin dari pelajaran olah raga yang sedang sampai pada materi basket. Bukan sengaja, ia izin karena saat itu harus mengulang ulangan Biologi yang memang sempat ia tinggal. Sekarang, di saat siswa yang lain pulang ke rumah, ia harus belajar sendiri teknik-teknik bermain basket, agar bisa mendapatkan nilai bagus pada tes praktek besok. Hahaha jika diingat rasanya seperti reaksi berantai. Mungkin setelah ini aka nada mata pelajaran lain yang ia tinggal dan harus ia ganti pada jam pelajaran lain dan begitu seterusnya.

Tuk

Ino membuka mata cepat. Dahinya mendadak menerima ketukan ringan. Mata akuamarin itu membelalak melihat apa yang tengah terulur padanya.

Sebuah wadah kaca kecil bertutup merah, dengan lambang sebuah klan tertentu di sana.

Ino terlonjak duduk. Keputusan yang salah karena justru sekarang kepalanya terantuk kepala lain.

"Aduh …."

"Auch …."

"Ma-maaf," ujar Ino buru-buru. Terlebih setelah melihat siapa pemilik kepala yang baru saja ia bentur.

"I-Inuzuka?"

Yang dipanggil mengernyit tak suka. Ino menelan ludah gugup. Ia takut si preman sekolah itu akan memarahinya, memukulnya, menyayat nadinya, memotong mayatnya dan …

"Jangan berpikiran macam-macam!"

tidak jadi.

"Maaf, saya tidak sengaja."

Pemuda itu menyodorkan wadah kecil itu kepada Ino dan menarik bola basket dari tangan sang gadis.

"Cepat olesi lukamu dan mulailah berlatih."

Ino tertegun. Saking tertegunnya ia sampai terdiam.

"Jangan bengong, mumpung ada yang mau melatihmu secara gratis."

Dan penuh semangat Yamanaka Ino bangkit berdiri, sampai lupa mengoleskan salep pada kakinya. Yah, sepreman-premannya Inuzuka Kiba, dia tetap pemain basket terbaik yang dimiliki sekolah ini. Kesempatan yang tidak boleh disia-siakan bukan? Apalagi, mengingat jasa Kiba pada nilai ulangan Biologi Ino.

"Terima kasih, Inuzuka-san!" teriak Ino kegirangan.

"Kiba."

"Huh?"

"Panggil aku Kiba."

.

.

.

TAMAT