Baekhyun mengambil izin hari ini.
Alasannya hanya satu, Taeoh.
Anak itu masih dititipkan dengannya hingga sekarang, bahkan semalam anak itu menginap. Jongin ㅡyang entah darimana mendapatkan nomor ponselnyaㅡ menelpon pagi ini, mengatakan bahwa ia tidak bisa menjemput Taeoh hari ini karena harus menghadiri pers.
Baekhyun bangun lebih pagi dari biasanya, sedangkan Taeoh masih tidur di kamar Baekhyun dengan nyenyak. Anak itu semalaman memeluk Baekhyun, membuat Baekhyun bangun dengan pegal diseluruh badannya karena gerakannya terhalang oleh pelukan Taeoh yang lumayan erat.
Setelah membuka gorden kamar dan juga membersihkan apa yang bisa ia bersihkan, Baekhyun beralih ke dapur, berniat membuat nasi goreng seafood. Ia suka sekali seafood dan semoga Taeoh juga suka karena ia berniat membuatkan untuk mereka berdua.
Ia telah siap dengan semuanya, tangannya bekerja dengan lincah seakan telah terbiasa saat memotong bawang dan vahan lainnya. Kini semua telah tercampur rata, bahkan wangi yang sangat sedap itu sukses mengganggu tidur Taeoh yang sekarang telah membawa dirinya melangkah keluar kamar, mencari dimana sumber wangi yang sangat sedap itu berasal.
Anak itu menuju dapur dan melihat sepasang kaki dihadapannya. Dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih, Taeoh memeluk kaki itu.
"Ibu, aku ngantuk sekali." ucapnya dengan mata setengah terpejam. Membuat Baekhyun yang mendengar itu langsung menegang.
Anak itu baru saja memanggilnya ibu. Apa Taeoh sedang mengigau? Atau ia lupa bahwa ibunya telah tiada?
Baekhyun mengusak rambut anak itu yang memang telah acak-acakan dengan lembut, lalu ia berjongkok dan memperhatikan wajah Taeoh dan benar anak itu masih setengah tidur.
Diraihnya tubuh kecil itu dan ia bawa ke gendongannya dan dengan otomatis Taeoh menjatuhkan kepalanya di bahu anak itu dan memeluk lehernya erat.
Ia menepuk pelan punggung Taeoh dan dengan susah payah sambil sesekali memindahkan nasi goreng yang sudah matang ke piring.
Setelah di rasa siap, Baekhyun mendudukan diri di kursi makan disana sampil memangku Taeoh.
"Taeoh-ya, tidak ingin sarapan?" tanya Baekhyun lembut sambil berusaha membangunkannya.
Taeoh menggeliat dan mengangkat kepalanya dari bahu Baekhyun dan mengucek matanya. "Ibu."
Baekhyun tertegun tak tau harus menjawab apa. Ia tersenyum sendu, "Ini aku, Baekhyun. Kau mau sarapan? aku membuat nasi goreng, kau suka nasi goreng?"
"Kau bukan ibu? Dimana ibu?"
Taeoh lupa jika ibunya telah tiada. dan itu membuat Baekhyun prihatin akan anak itu.
"Ayo kita sarapan, tapi kau harus cuci muka dulu. Akan kutemani." Baekhyun menurunkan Taeoh dan berdiri lalu berjalan ke kamar mandi dengan Taeoh yang menggenggam tangannya.
Setelah selesai dengan urusan mencuci muka dan menyikat gigi, mereka kini duduk di kursi makan dengan tenang. Segelas susu hangat khusus milik Baekhyun dan juga milik Taeoh telah tersedia di hadapan masing-masing.
Baekhyun memulai makannya, namun Taeoh tampak hanya diam menatap apa yang ada di hadapannya. Sayuran.
"Tidak ingin makan? atau kau ingin makan sesuatu yang lain? aku akan buatkan." ucap Baekhyun pelan.
Anak itu menggeleng lalu meraih sendoknya, dan menyingkirkan beberapa wortel, meletakkannya di tepi piring. "Aku tidak suka wortel. Biasanya ibu tidak akan meletakkan wortel dipiringku karena ia tau aku tidak suka." ucapnya namun nadanya terdengar...sedih.
Baekhyun tersenyum, anak itu ternyata sudah kembali ingat jika ibunya telah pergi. Pria itu menyendokkan wortel yang ada di piring Taeoh dan meletakkannya di piringnya sendiri.
"Aku akan mengingatnya. Sehabis ini bagaimana jika kau menuliskan semua hal yang tidak kau suka? agar aku bisa mengingatnya." usul Baekhyun. Anak itu mengangguk dan mulai memakan nasi goreng buatan Baekhyun dengan tenang.
"Ini enak, terima kasih paman." ucap anak itu di sela kunyahannya.
Baekhyun tersenyum, mengacak dengan sayang rambut Taeoh. Sepertinya ia mendapatkan satu lagi teman untuk menemani dirinya yang selalu sendiri di apartemen. Baekhyun berharap agar Taeoh sering-sering menginap disini.
ㅡ
Mereka berjalan bergandengan tangan. Tangan kiri Baekhyun menggenggam tangan Taeoh, sementara tangan kanannya mendorong troli belanjaan. Keduanya berada di supermarket sekarang. Persediaan bahan makanan di apartemennya habis, begitu pula dengan susu hamilnya. Maka dari itu Baekhyun berbelanja dan sekalian mengajak Taeoh jalan-jalan.
"Taeoh ingin membeli apa? katakan saja." ucapnya pada anak berumur 6 tahun itu yang sekarang sedang membawa pandangannya ke sekitar.
"Apa aku boleh membeli es krim, paman?" tanyanya pada Baekhyun dengan hati hati. Baekhyun memang menawarkan, tapi ia juga takut jika Baekhyun melarangnya untuk membeli es krim.
Baekhyun menatapnya kemudian tersenyum dan mengangguk, "Kau akan mendapatkannya. Tapi kita harus membeli susu terlebih dahulu, oke jagoan?"
Mereka melanjutkan langkahnya, membeli beberapa sayuran dan daging, susu untuk Taeoh dan juga susu hamil untuk Baekhyun, lalu di tambah dengan beberapa cemilan dan buah-buahan. Baekhyun sesekali berbicara dan membuat lelucon, sehingga membuat Taeoh tertawa, walaupun anak itu kadang tak mengerti apa yang dibicarakan Baekhyun.
Baekhyun mendorong troli menuju kasir dan membiarkan petugas disana menghitung totalnya. Ia terus mengoceh dengan Taeoh, tanpa sadar seseorang di belakangnya terlihat serius mendengarkan apa yang ia bicarakan dengan anak itu.
"Paman, kapan adik bayi akan lahir?" tanya Taeoh yang sekarang tampak memegang perutnya yang masih rata.
"Masih lama. Kenapa bertanya begitu?" jawab Baekhyun kembali.
"Aku tidak sabar ingin mempunyai adik. Ayah pasti sangat senang jika itu perempuan."
Baekhyun terdiam. Ia tentu mengerti apa yang baru saja anak itu ucapkan. Tapi yang ia tidak mengerti yaitu maksud dari perkataan anak itu.
Tidak sabar ingin punya adik katanya? Apa Taeoh menganggap anak yang di kandungnya adalah adiknya? Tapi kenapa? Bagaimana bisa?
Baekhyun berdeham berusaha menetralkan suaranya, "Bagaimana jika laki-laki? Ia akan tumbuh menjadi anak yang tampan sepertimu." ucapnya ragu.
"Tapi, Ayah menyukai anak perempuan. Paman tidak suka anak perempuan ya?"
"Tentu saja suka." jawab Baekhyun cepat, "Hanya saja, Chanyeol pasti senang jika dia laki-laki."
Setelah mengucapkannya, Baekhyun bungkam. ia tidak tau mengapa dirinya berucap demikian. Sungguh bodoh. Baekhyun memaki dirinya dalam hati mengapa ia bisa berkata begitu. sungguh tidak masuk akal.
Syukur-syukur jika Chanyeol menerima kehamilannya, jika tidak?
"Ingin bayar menggunakan kartu kredit atau uang tunai?" pertanyaan petugas supermarket tersebut menyadarkannya. Ia meraih salah satu kartu di dompetnya dan memberikannya pada petugas tersebut.
"Terimakasih." ucap Baekhyun meraih kantung belanjaannya dan ingin berlalu, namun sebelum sebuah suara yang ia kenal menghentikan langkahnya.
"Apapun jenis kelaminnya, ia tetap anakku."
Baekhyun menegang ditempat. Genggamannya pada tangan Taeoh semakin erat. Baekhyun berbalik, menatap Chanyeol yang telah berdiri dengan santai sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari troli agar dihitung oleh petugas.
"Aku tidak tau kenapa kau menghindariku dan sekarang aku tau." ucap Chanyeol sambul mengeluarkan dompetnya, ia berbicara tanpa menatap Baekhyun. "Tunggu aku dirumah. Kita harus bicara dan jangan mencoba untuk menghindariku lagi kali ini." ucapnya tegas.
Baekhyun berbalik dan menyeret Taeoh kembali melangkah meninggalkan Chanyeol yang sedang memandang punggung sempit itu.
Chanyeol menarik napas dalam dan membuangnya dengan pelan. Kenyataan yang baru saja ia dengar membuat perasaannya menjadi tak karuan. Namun satu yang ia sadari, ia merasa dirinya bahagia.
Iya, mungkin saja dia mulai mencintai pria mungil itu.
ㅡ
"Angkat telponnya, Jisung!" ucapnya di sela-sela gerakannya yang berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemennya. Setelah tiba dirumah, ia mendudukan Taeoh di sofa ruang tengah sedangkan dirinya sekarang tampak panik dengan ponsel yang berada di telinga kanannya.
"Sial! Apa anak itu sedang latihan? ia tidak menjawab satupun panggilanku!" ucapnya frustasi.
Taeoh hanya diam saja dengan semangkuk besar es krim di pangkuannya. Ia tidak mengerti apa-apa dan tentu saja ia diam. Ingin bertanya namun terlalu takut setelah melihat wajah Baekhyun yang memerah.
Baekhyun mendudukan diri di sofa dan memejamkan matanya, ia tidak tau bagaimana ia harus bicara dengan Chanyeol tanpa adanya Jisung, karena hanya anak itu yang bisa membantunya. Sahabatnya? tentu saja itu merupakan pilihan terakhir dari yang terakhir. ditambah lagi tidak ada satupun dari mereka bertiga yang tau bahwa Chanyeol-lah yang telah menghamilinya.
Bel apartemennya berbunyi dan Baekhyun rasanya ingin mati saja. Pria itu menoleh, melihat Taeoh yang tampak cuek dengan kehadirannya.
"Taeoh bisa pindah ke kamar saja? paman memiliki tamu." ucapnya pelan.
Anak itu mengangguk sebelum meminta Baekhyun untuk menghidupkan TV yang ada di kamar karena ia berniat menonton di kamar saja.
Baekhyun menurutinya dan kembali menuju pintu yang sedari tadi di ketuk dengan tak sabaran oleh seseorang yang tentu saja ia tau siapa.
Ia meraih knop pintu dan Chanyeol ada di hadapannya. Menatapnya dengan pandangan sendu, sedih, lega, dan... bahagia. Semua bisa Baekhyun lihat melalui mata pria itu.
Tanpa menunggu apapun lagi, Chanyeol langsung meraihnya ke dalam pelukan dengan tiba-tiba. Membuat Baekhyun hampir saja terjatuh jika Chanyeol tidak menahannya. Pria itu masih setia memeluknya dan rasanya Baekhyun ingin sekali membalas pelukannya.
Baekhyun merindukan Chanyeol. Ia sangat merindukan ayah dari anak yang ia kandung sekarang. Baekhyun rasa matanya tiba-tiba saja memanas, ia tidak tau mengapa ia menjadi cengeng sekarang, air matanya mengalir begitu saja diiringi dengan isakan yang mulai terdengar.
Tangannya ia bawa membalas pelukan Chanyeol, tak peduli jika nanti Chanyeol berbuat hal yang bisa saja menyebabkan ia kehilangan bayinyaㅡia teringat perkataan Jisung.ㅡ yang terpenting kini rindunya telah terbayarkan.
Prianya ada di hadapannya sekarang. Sangat tampan dan wanginya yang memabukkan membuat Baekhyun mengeratkan pelukan mereka. Mungkin itu keinginan anak mereka yang memang belum pernah bertemu sang ayah sejak ia hadir di dalam tubuh Baekhyun.
"Aku merindukanmu. Aku merindukanmu." ucap Chanyeol berulang kali. Pucuk kepala Baekhyun ia cium tak terhitung banyaknya. Ia sangat merindukan pria mungil itu hingga rasanya ia mau mati saja.
"Aku sudah tau semuanya. Semuanya dan aku tak akan melepaskanmu. Aku tau kau sudah tau perihal diriku dari Jisung dan aku bersumpah demi anakku, anak kita, aku tidak sebodoh itu untuk berbuat hal yang sama seperti apa yang aku lakukan pada mereka. Kau berharga untukku. Kau mengandung anakku."
Baekhyun menangis, ia tidak tau harus membalas apa. Jadi apakah ini alasan Jisung tidak mengangkat telponnya? Karena anak itu sedang bersama Chanyeol dan memberi tau semuanya? Jika iya Baekhyun bersumpah akan menarik telinga anak itu nanti. Ia belum terlalu siap akan semuanya, Chanyeol tidak seharusnya tau sekarang perihal kehamilannya. Setidaknya Baekhyun butuh waktu untuk mendekatkan diri dengan Chanyeol. Ia tidak tau orang seperti apa Chanyeol itu dan itu membuat dirinya cukup was-was dengan kehadiran Chanyeol disekitarnya. Ia hanya tidak mau kejadian buruk menimpanya dan bayinya. Chanyeol memang ayah dari anaknya tapi itu tidak menjamin pria itu tidak melakukan apapun yang bisa mengancam mereka. Baekhyun belum terlalu mengenal Chanyeol. Ingat itu.
Yang lebih kecil melepas pelukannya tiba-tiba dan berjalan menjauh, bahkan terlalu jauh dengan meninggalkan Chanyeol yang masih di depan pintu menuju ruang tengah. Ia tidak tau harus berbicara apa pada pria yang perlahan mengisi hatinya itu. Ia senang bertemu Chanyeol dan disatu sisi ia juga takut.
Perkataan Jisung benar mempengaruhi dirinya. Bagaimana jika Chanyeol berniat melenyapkan bayinya? Bagaimana jika Chanyeol menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya? Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Maka dengan keberanian yang ia punya, Baekhyun menatap Chanyeol yang kini secara ajaib telah berada di hadapannya.
"Jangan mendekat." suaranya terdengar serak karena menangis. namun ia berusaha biasa saja walaupun air matanya terus mengalir.
Chanyeol tidak mengindahkan kalimat Baekhyun membuat pria itu kembali bersuara, "Jangan mendekat, Chanyeol. Kumohon." suaranya terdengar lirih.
"Baby," panggil Chanyeol pelan.
Baekhyun menggeleng kuat, "Tidak."
"Baekhyun..." Chanyeol berjalan pelan tak peduli Baekhyun yang berjalan mundur menjauhi Chanyeol, "Baekhyunee, maafkan aku."
"Kenapa kau melakukan itu?" pertanyaan yang tak sedikitpun Chanyeol mengerti Baekhyun tanyakan padanya. Pria itu menyerngit bingung dan Baekhyun yang melihat itu, menjelaskan pertanyaannya. "Kenapa kau melenyapkan mereka yang mengandung anakmu?!" suaranya terdengar marah.
"Aku..." Chanyeol gugup. Dirinya tak tau harus menjawab apa, lebih tepatnya bagaimana cara menjelaskannya.
"Kau tak bisa menjelaskannya?"
"Tidak, tentu saja. Hanya...beri aku waktu."
"Waktu? untuk apa?" Baekhyun menatap Chanyeol dalam. "Kau pikir siapa dirimu, Chanyeol? Kita tak memiliki hubungan apapun." jelasnya.
Chanyeol membeku ditempat. Baekhyun benar. Siapa dirinya? Apa hak nya untuk meminta waktu kepada si mungil yang sudah di cintainya itu?
Ia bodoh tentu saja. Hubungannya dengan Baekhyun hanya sebatas pria itu mengandung anaknya. Tidak lebih. Ia juga tidak ingan kapan dirinya menjadi seperti ini. Setiap hari tidak pernah ia tidak memikirkan Baekhyun, bahkan disela-sela kesibukannya, ia masih sempat memikirkan pria itu.
Semua itu beralasan, karena foto yang Jisung kirimkan padanya. Dan penjelasan anak itu yang berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia dapatkan sekarang, jangan lupa ingatkan ia untuk menghabisi Jisung nanti.
"Keluar dari rumahku." perintah Baekhyun tegas. Ia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, namun ia merasa sangat marah sekarang. Melihat kehadiran pria itu membuat kemarahannya tersulut.
"Baekhyun, dengarkan aku."
"Tidak." jawab Baekhyun cepat. "Kau dengarkan aku." ucapnya. "Keluar dari rumahku. Sekarang."
Chanyeol mulai bosan. Kesal lebih tepatnya. Bukannya sekarang Baekhyun harus menjelaskan sesuatu padanya? Kenapa pria itu malah mengusirnya? Apa salahnya? Apa karena ia telah menghamili Baekhyun maka pria itu sangat membencinya?
"Tidakkah kau harus menjelaskan sesuatu padaku, Baekhyun?"
"Menjelaskan tentang apa?" tanya Baekhyun dengan tatapan menajam. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "Ah, maksudmu tentang aku yang mengandung? Ya memang benar aku mengandung."
"Aku mengandung anakmu, Park Chanyeol. Lalu apa? Kau akan melenyapkanku juga seperti mereka diluar sana yang juga mengandung anakmu?"
Chanyeol menggeleng kuat sebanyak yang ia bisa, tidak, Baekhyun kau salah mengerti. Chanyeol tidak akan pernah bisa melakukan itu karena kau berbeda.
Chanyeol mencintai Baekhyun.
Tepat di hari pertama mereka bertemu, mata sipit itu berhasil membuat dirinya jatuh cinta. Chanyeol jatuh cinta dengan sangat cepat pada Baekhyun. Seakan ia merasa bahwa saat melihat Baekhyun, hatinya berkata, 'dia orangnya.'
"Tidak. Kau salah paham!" sanggah Chanyeol cepat. "Aku mencintaimu, dan kau pikir aku gila untuk melenyapkanmu dan bayi kita?!" Chanyeol membentaknya dengan suara yang meninggi membuat Baekhyun berjalan mundur perlahan. Kembali menjauhi Chanyeol yang tampak sangat marah.
Seharusnya Baekhyun yang marah, kenapa jadi Chanyeol?
Disaat hendak kembali berbicara, sebuah siara pintu di buka mengalihkan perhatian mereka. Keduanya bersamaan menoleh kearah pintu dan mendapati seseorang disana.
Oh Sehun.
Dan Oh Sehun telah mendengar semuanya.
Maka dari itu pria itu berlari ke arah Chanyeol dan melayangkan pukulan pada wajah pria itu. Chanyeol terjatuh di lantai dan Sehun tidak melewatkan kesempatan untuk memperlancar aksinya. "Brengsek! Setelah menghamilinya dan sekarang kau akan melenyapkannya? Keparat!" Sehun menghajar Chanyeol berkali-kali hingga dirasa tangannya sendiri kebas. "Mati kau, keparat! Pria sepertimu sangat tidak pantas untuk Baekhyun!"
Seakan tersadar dengan apa yang sedang terjadi, Baekhyun menarik Sehun menjauh dari Chanyeol. Mendorong pria itu kuat lalu Baekhyun melihat Chanyeol yang telah babak belur.
Baekhyun dengan cepat duduk di sisi Chanyeol, membantu pria itu untuk duduk dan membaringkan kepala Chanyeol di pahanya. Ia tidak tau apa yang tengah dilakukannya namun satu yang ia tau; ia harus menyelamatkan ayah dari bayinya.
"Menjauh, Sehun." perintah Baekhyun menatap Sehun tajam. Ia benar-benar kecewa atas apa yang telah Sehun lakukan.
"Hyung, kau dengar sendiri apa yang ia katakan! Dan kau membelanya?" Sehun membelalakan mata tak percaya. Jawaban tak ia terima dari Baekhyun membuatnya percaya bahwa pria itu serius. "Wow, kau memnuatku terkesan, hyung. Terserah. Aku tak akan peduli lagi."
Sehun hendak berlalu sebelum Baekhyun bersuara, "Kau benar-benar tidak mengerti aku, ya, Oh Sehun?"
Sehun terdiam. Langkahnya terhenti sedangkan ia tak berniat hanya untuk memutar tubuhnya.
"Seharusnya disaat seperti ini kau menemaniku. Kau menjadikan dirimu sandaran untukku. Kau tentu tau aku tidak memiliki siapapun di dunia ini." Baekhyun tersenyum miris. "Dan sekarang kau memilih untuk pergi dan membiarkan aku sendirian dengan semua ini. Kau benar-benar kejam."
Sehun tidak menjawab. Merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Baekhyun benar, seharusnya ia ada disana untuk pria itu. Seseorang yang telah ia anggap seperti hyungnya sendiri. Namun karena hanya emosi yang menggelapkan hatinya, ia mengambil tindakan ceroboh seperti tadi.
Disaat hendak berbalik, satu kalimat dari Baekhyun membuat Oh Sehun bungkam dan saat itu juga tau, bahwa,
Hari itu, hari terakhir dimana ia bertemu Baekhyun. Untuk selamanya.
eaeaeaeaea
