I'm just a…

Pernahkan kau mendengar pertanyaan dari dalam kepala tentang, siapa aku? Dan kenapa aku disini?...

"Menikahlah denganku!" Rudal dalam rongga dadanya meledak gila – gilaan. Jantungnya memacu anarkis mengetuk – ngetuk labirin syarafnya. Jongin hampir pingsan mengatur nafasnya yang menggebu keluar masuk.

"Sehun…" Dan matanya sudah berkaca – kaca malihat kedalam manik sehitam jelaga milik sang terkasih. "Tentu Sehun! Tentu!" Kemudian Jongin benar – benar meneteskan air matanya sekarang. Ia menjadi sangat sensitive di masa kehamilannya ini.

"Jongin?" Dan Sehun sudah membola sempurna. Ia sudah bisa menebak jawaban Jongin dan pasti 'Ya' adalah satu – satunya jawaban yang keluar dari mulut Jongin. Tapi entah kenapa, rasanya masih sangat mengejutkan. Euphoria kebahagiaannya tak dapat diungkapkan. Sehun begitu saja berhambur memeluk Jongin erat dan memberikan ciuman bertubi pada kekasihnya.

"Kau dengar, nak? Sebentar lagi Ayah akan menikahi Ibumu!" Jongin justru terkekeh geli ditengah tangis harunya ketika Sehun mengucapkan kalimat itu didepan perut Jongin.

"Ya, Ayah akan selalu menjagamu dan Ibumu!" Mencium perut buncit Jongin sekali lagi, sebelum menangkup pipi Jongin dan kembali memagut dalam bibir serasa tequila Jongin.

_I'm Me bagian 10_

Terlelap dan bermimpi. Tempat dimana refleksi ketentraman dan kesejukan berada. Alunan lullaby menyenangkan mampu membawa perasaan tentram. Kai berjalan di antara rumput ilalang. Mimpinya yang kedua setelah lima tahun sama sekali tak menjelajah lewat alam bawah sadarnya. Alunan musik klasik dari sang Amadeus Mozart mengiring langkah. Lagu – lagu instrumental yang pernah beberapa kali ia dengar ketika Jongin mengikuti kelas terapinya di tempat dokter Luhan. Dandelion berterbangan melewatinya, menerbangkan poni serta menerpa wajahnya lembut.

Kai berhenti sejenak. Didepan sana. Tepat dibawah pohon ek yang besar dan rindang. Ia melihat visualisasi dirinya. Tidak! Tapi Jongin kecil bersama ibunya. Dari kejauhan, Kai hanya tersenyum miris melihatnya. Sebuah visitation dream kedua yang dialaminya.

Dua kali bermimpi, dan dua kali pula Kai selalu memimpikan Ibu Jongin dengan parasnya yang ayu, tengah tersenyum hangat pada Jongin kecil. Kai tahu bahwa ia sama sekali tak memiliki ingatan apapun tentang Ibu Jongin. Ia hanya beberapa kali melihat foto Ibu Jongin lewat satu lembar kertas usang yang disimpan Jongin diantara buku – buku klasiknya. Jujur saja, ia merasa amat sangat iri dengan Jongin yang masih sempat menikmati hangatnya pelukan seorang Ibu.

Kai menemukan bebatuan besar. Ia duduk disana sendirian. Masih melihati tawa ceria dari Jongin kecil ditempat duduknya. Tawa seorang anak kecil yang lepas, tanpa beban dan begitu tulus. Tak terasa setitik air mata menghias pipi Kai bagai permata. Berkilauan terpancar sinar mentari sore.

Siapa dia? Dan mengapa ia disini sekarang? Adalah beberapa pertanyaan yang berteriak didalam kepalanya. Meraung – raung bagai gema menyebalkan. Dia adalah Jongin. Dan Jongin adalah dirinya. Kata – kata itu yang selalu ia dengar dari si wanita tambun di dalam kepalanya.

Kai menangis seorang diri diatas bebatuan besar. Menenggelamkan wajah diantara lututnya. Ia sadar bahwa selama ini ia sendirian. Ia hanya parasit ditubuh Jongin dan ia telah merusaknya. Jongin sudah terlalu baik padanya hingga mengijinkannya berbagi dalam tubuh yang sama. Hanya saja pribadi mereka berbeda. Ingatan mereka berbeda, meski mereka ada dalam satu cinta.

Usapan lembut Kai dapatkan ketika isakannya semakin kencang. Ia mendongak dengan hiasan permata di pipi. Entah bagaimana, tahu – tahu Ibu Jongin sudah berada didepannya dan mengusap lebut surai hitamnya.

Tak ada kata. Hanya seulas senyum seorang Ibu. Hangat dan sangat nyaman melihat guratan tulus itu. Kai begitu saja menghambur memeluk sang Ibu. Menangis dan tertawa disaat bersamaan. Diwaktu yang sama pula, Jongin kecil ada disana, menepuk – nepuk paha dan tersenyum memperlihatkan gigi jendelanya.

Sang Ibu melepas pelukannya. Mengusap air mata Kai dengan lembut dan menyuruh Kai memeluk Jongin kecil setelahnya. Kai tentu saja tak mengerti. Namun, perasaan sayang begitu besar ketika ia melihat Jongin kecil. Ia menunduk, menyamakan tinggi dengan Jongin kecil. Menatap mata yang menenangkan itu seolah melihat Sehun disana. Jongin kecil tersenyum hangat padanya. Menunjukkan dua giginya yang lepas, setelah itu memeluk leher panjang Kai. Melebihi apapun, rasa kasih tulus dalam hatinya berdebar kala memeluk Jongin kecil. Ia begitu menyayanginya.

...

Matanya terbuka, nafas memberat yang kian melembut deti demi detik. Lehernya dingin karena keringat. Melihat gordyn jendela yang masih tertutup dan gelap. Ia tahu bahwa hari masih terlalu dini untuk bangun.

Nafas hangat membelai sisian wajahnya. Kai menoleh, melihat wajah damai Sehun yang tidur disampingnya, juga tangan yang memeluk perutnya. Kai bergerak, mengusap lembut rahang Sehun dan mencium bibirnya. Ada satu rasa sakit ditengah kebahagiaan yang ia rasakan. Sehun telah melamar Jongin semalam. Kai tahu. Kai yang berada disana. Sejak pertama dialah yang terbangun, bukan Jongin. Biarlah orang – orang mengira dirinya sebagai Jongin sekali saja, ia juga menginginkan kasih sayang yang Jongin dapatkan, dan rasanya menyenangkan.

"Bahagiakan Jongin, Sehun!" Bisik Kai ditengah air mata yang menetes setitik dari sudut matanya.

"Aku mencintaimu, sayang!" Alunan nada isakan tercekatnya menyedihkan. Kai selalu mengalah, ia hanya terbuai dalam diri Jongin selama beberapa saat, dan ia menyadari bahwa ia salah. Jongin adalah sosok yang rapuh. Namun, Kai jauh lebih rapuh dari itu. Ia hanya bayangan. Hanya khayalan dan seorang parasit.

"Jongin?" Sehun terbangun kala jari – jemari Kai mengusap lembut punggung tangan Sehun yang berada diatas perut buncitnya.

"Hm? Kau bangun, Sehun?" Terlebih dulu Kai mengusap air matanya. Kemudian tersenyum hangat kearah Sehun.

"Kenapa?" Sehun bertanya. Ia mendengar suara pribadi yang dianggapnya sebagai Jongin tengah bergetar.

"Aku hanya terbangun ditengah malam." Lalu memandang kedalam mata Sehun yang sangat ia rindukan. Ia ingin sekali berteriak didepan Sehun bahwa dirinya adalah Kai. Namun, Kai tak ingin Sehun kecewa karena ia muncul kembali. "Sehun!" Suaranya masih bergetar dan sedikit tercekat.

"Hm?" Sehun tersenyum menanggapi. Membawa tangannya keatas untuk membelai pipi Kai.

"Bercintalah denganku, Sehun!" Kening Sehun berkerut, ia tak mengerti. Yang ia tahu bahwa Jongin tak akan memintanya terlebih dahulu. Pemuda itu adalah pemalu.

"Bercintalah denganku malam ini! Sekali ini saja, kumohon!" Kai memandang mata Sehun sendu. Ia merindukan kekasihnya. Merindukan kecupan juga sentuhannya. Hanya Sehun, hanya dia yang mampu membuat seorang Kai merasa begitu dicintai dan merasa aman. Dan untuk sekali ini saja, ia menginginkan perasaan nyaman itu lagi.

"Tapi Jongin! Kau sedang hamil, sayang!" Kai menggeleng pelan, memejamkan mata untuk beberapa detik.

"Kita lakukan pelan – pelan." Tersenyum sebentar, sebelum mencumbu bibir Sehun lebih dulu. Melumatnya perlahan dan penuh kerinduan. Sebelum akhirnya Sehun ikut andil dan mencumbu Kai dalam.

Sentuhan – sentuhan Sehun begitu perlahan dan penuh kelembutan. Sensualitas ia bawa dalam balutan kasih cinta yang mendalam. Mengecupi seluruh bagian wajah Jongin yang begitu ia damba. Tak Sehun sadari, bahwa nama Kai kini telah tergantikan oleh Jongin secara perlahan dan pasti. Sejak percintaannya dengan Jongin tempo lalu, rasa sayang Sehun pada Jongin memiliki kuantitas yang sama besar akan cintanya pada Kai, atau mungkin lebih dari itu.

Kai mendongak menatap langit – langit, tatkala Sehun menghentakkan dirinya lebih dalam. Mencumbui Kai dimanapun. Sentuhannya memabukkan dan menggetarkan. Kai merindu. Kemudian membawa bibir Sehun yang tengah mengecup lehernya bertarung dengan bibirnya.

"Sehunnn!" Kai menggeram rendah ketika Sehun berhasil menemukan titik kenikmatannya.

Inginnya menjadi binal dan membawa Sehun pada sebuah percintaan yang keras. Namun, Kai teringat akan Jongin. Terlebih ia sedang mengandung.

Lima ribu lima ratus dua puluh detik kemudian, Kai dibawa ke awan oleh Sehun ketika cairan putih mereka keluarkan bersamaan. Masih bertarung lidah dan saling memagut dalam. Kai berteriak dalam diri lewat ciuman. Mengatakan bahwa ia adalah Kai. Kekasih Sehun.

"Aku mencintaimu, Sehun!" Bisik Kai ketika Sehun mengecupi pipinya.

"Aku juga sangat mencintaimu, Jongin!" Dan air mata Kai sukses menetes deras. Ya, Sehun akan menjaga dan melindungi Jongin nantinya. "Kau kenapa, sayang?" Tanya Sehun keheranan saat mendapati Kai menangis.

"Tidak ada. Aku hanya terlalu bahagia." Kai tak sepenuhnya berbohong. Karena ada satu kebahagian yang membeludak dalam diri Kai, meski ia sendiripun tak mengerti apa itu. "Jagalah anak kita, Sehun!" Sembari mengusap pipi sang terkasih, Kai tersenyum begitu manis. Sebuah senyuman yang Sehun begitu sukai dari seorang Kai maupun Jongin. Ya, mereka orang yang sama.

"Tentu, Jongin! Tentu, sayang! Aku akan melakukannya tanpa kau minta sekalipun!" Lalu keduanya kembali bercumbu sebelum kembali terlelap dan jatuh kedalam mimpi masing – masing.

"Hai, Chan!" Keesokan paginya. Jongin masih saja terbangun sebagai pribadi Kai. Tak disia – siakan, Kai meminta ijin pada Krystal untuk mengunjungi teman lama setelah Sehun pergi ke kantornya. Terjadi perdebatan yang cukup alot antara dirinya dan Krystal, mengingat wanita itu sungguh cerewet dan berlebihan terkadang.

"Kai?" Mata bulat Chanyeol membola sempurna. Melempar kain lap secara asal diatas meja pantry, kemudian menghampiri Kai yang datang. Café masih sepi di jam sepagi ini. "Ini benar Kai?" Tanya pria tinggi itu seraya memutar – mutar tubuh Kai.

"Hei! Hei! Hei! Aku pusing, Chan!" Protes Kai dan Chanyeol langsung menghentikan aksinya dan menyunggingkan senyum idiot dia yang tak pernah berubah.

"Aku merindukanmu, Kai! Nomormu sama sekali tidak aktif dan kau juga tak pernah membalas e-mailku. Aku telah mencarimu hingga keujung dunia, kau tahu?" Dan anak ini masih saja hiperbolis. Dia berlebihan, dan hal itu sukses membuat Kai tertawa.

"Hei, aku tak menerima e-mail satupun!" protes Kai sambil menunjukkan tampilan system UI pada ponselnya. Memberitahukan Chanyeol bahwa taka da satupun notifikasi e-mail masuk.

"Emm… maksudku, sudah beberapa kali aku mengirimimu pesan e-mail, jika saja aku tak melupakan passwordku!" Dan Chanyeol terkekeh jenaka kemudian. Mendapatkan satu tinjuan sayang dari Kai pada perutnya.

"Dasar kau!" Meski terkadang menyebalkan dan bertingkah idiot. Namun, Kai begitu menyayangi Chanyeol sebagai sahabatnya. Harusnya Kai tak melupakan fakta bahwa masih ada sahabat – sahabat yang begitu menyayanginya.

"Ngomong – ngomong, Kai!" Chanyeol memegang kedua pundak Kai. Memerhatikan Kai dari atas kebawah. "Err… Kau terlihat lebih berisi sekarang" Dan cengiran kuda itu, tak pernah sekalipun terlepas dari wajah Chanyeol. Sebuah jenis senyum yang membuat empunya seperti idiot. Ya, Chanyeol memang idiot.

Kai gelagapan. Diantara semua temannya, belum ada yang tahu bahwa dirinya tengah mengandung anak Sehun. "Oh iya, kemana Yixing Hyung dan yang lainnya?" Kai mengalihkan pembicaraan. Setidaknya ia akan mengaku, tapi bukan sekarang.

"Yixing Hyung ijin masuk siang, Taejoon mengantarkan neneknya ke Samseong-dong, sementara Kibum dia pasti molor lagi." Tak ada yang berubah. Mereka tetap saja absurd dan idiot. "Dan, oh! Jimin sedang di Busan. Ada turnamen dance disana!" Dan Kai juga merindukan menari. Dimana ia bisa merasa bebas dan lepas hanya dengan menari. Tapi kini ia seakan tak bisa leluasa lagi. Dirinya terbangun di waktu yang tak bisa ditentukan kini.

"Setiap hari kami menunggumu, Kai! Terutama Jimin, ia yang akan selalu menanyakanmu!" Chanyeol membawa secangkir latte dari meja baristanya. Jongin memilih bangku favoritnya di ujung ruangan.

"Terimakasih! Berapa tarif untuk satu ini? Jangan terlalu mahal, aku tak ada uang untuk membayarnya." Lalu keduanya terkekeh. Kai begitu merindukan momen – momen seperti ini.

"Kau tenang saja! Untukmu gratis!" Chanyeol terkekeh sekali lagi sambil menyodorkan waffle panas di hadapan Kai. Sejak kapan lelaki ini membuatnya? "Tapi aku akan memberikan tagihannya pada Sehun!" Dan benar – benar tertawa setelahnya, diikuti juga oleh Kai. Teman – temannya selalu menggoda dia dan kekasih kayanya.

Triinggg…

Pintu terbuka secara kasar. Kai dan Chanyeol menoleh bersamaan. "Chan, maaf! Aku… ke…siangan lagi!" Itu Kibum. Keringatnya sebesar biji jagung meluncur bebas dari dahinya. Kai dan Chanyeol tahu, pasti anak itu habis melakukan marathon.

"Oh? Kai?" Mengabaikan nafasnya yang tersenggal dan terburu. Kibum begitu saja menghampiri meja Kai dan memeluk Kai dari belakang. "Kaiiii… kemana saja kau, sayang? Aku begitu merindukanmu, baby!" Kibum itu salah satu dari sekian jenis manusia idiot di café ini yang tingkat kewarasannya paling mengkhawatirkan. Kai mengusap lengan Kibum. Ada perasaan hangat yang selalu menyapanya. Tempat ini, adalah tempat yang akan selalu menjadi tempat favoritnya.

"Berkencang dengan Robert Pattinson ke Antartika!" Balas Jongin tak kalah ngawurnya.

"Sekedar pemberitahuan dan peringatan kembali, Kai. Bahwa, ketiak Kibum saat berkeringat menjadi sangat bau!" Ucap Chanyeol yang malah membuat Kibum mengeratkan pelukannya pada pundak Kai. Kai hanya terkekeh. Ia merindukan teman – temannya juga. Kekhawatiran yang menghantuinya semalam, begitu saja lenyap ketika ia berkumpul kembali dengan para sahabatnya.

"Kalau begitu, cepat buang sampah di dapur, aku belum sempat membuangnya, Bum!" Chanyeol memerintah seolah ia atasan. Tapi memang, saham terbesar memang dimiliki Chanyeol atas café ini. Tapi Chanyeol hanya main – main dengan Kibum yang lagi – lagi bangun kesiangan.

"Aku lagi? Kemarin dan lusa aku juga yang bertugas, Chan!" Protes Kibum tak terima. Ia mengerucutkan bibirnya seolah anak kecil yang tak mendapatkan permen kapasnya.

"Aku bantu, Kibum!" Lalu Kai beranjak dari tempat duduknya.

"Hei – hei, Kai! Kau tamu disini!" Cegah Chanyeol sebelum Kai benar – benar membantu Kibum.

"Tak apa! Lagipula aku sudah hiatus dari pekerjaan ini terlalu lama!" Ungkap Kai dan akhirnya mau tak mau Chanyeol ikut – ikutan berdiri dari kursinya dan membantu Kibum serta Kai membuang sampah.

Mereka tertawa – tawa, menertawakan hal yang entah apa itu. Chanyeol dan Kibum adalah seorang pelawak handal yang mampu mencairkan suasana dan melantunkan tawa jenaka untuk semua orang.

Tak Kai sadari, ada sebuah mobil disebrang jalan yang sudah terparkir sejak ia datang di café Chanyeol. Penumpangnya tengah memerhatikan dia. Mengulas satu senyum yang sulit ditebak.

"Dia tengah mengandung anak Sehun!" Ucap wanita itu lirih. Membuat asisten disampingnya mengernyit keheranan.

"Sehun mengaku padaku bahwa ia telah menghamili kekasihnya!" Senyum miring itu diperlihatkan pada sang asisten. Kemudian menatap kaca jendela mobilnya untuk kembali memerhatikan Kai yang dikiranya Jongin yang kini telah memasuki café kembali.

_To Be Continued_

Eh? Apaan ini?

Makin lama udah kek drama Indosiar ini ff tu…

Maklumin ya, saya pengen ngedrama di ff ini lah XD

Sebagai bonus karena tadi siang aku upload yang bukan apdetan XD

Aku lagi kobam liat moment ChanKai di yutub :')

Mereka gemesin, but as bromance XD

Kemaren malem itu lo, si Kai manis banget

Moment HunKai tu Cuma seiprit doing. Mereka jauhan, tapi liat – liatan, gitu aja aku baper :')

Btw, dengerin Classical music for Relaxationnya mbah Mozart atau instrumental dari pianis tersohor bang Yiruma, rekomended buat chap ini XD

Semoga suka XD

(Best Regards… Caesarinnn)