Tittle : Nae Aegya

Chapter : 10 of ?

Disclaimer : Semua pemain milik diri mereka sendiri, Tuhan, dan orang tua mereka tentunya. Saya hanya meminjam nama, dan FF ini pastinya milikku. Mohon maaf jika ada kesamaan alur atau ide, tapi ini murni karangan saya, tidak ada campur tangan orang lain di dalamnya.

Pair : Yunjae

Another Cast : Hangeng, Heechul, Changmin, Yoochun, Junsu, and Hyunjoong

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort, Family, Drama, Romance, Friendship

Warning : Yaoi, MPREG, OOC, Typo, Miss-Typo, GS!Heechul, dan lain-lain.

.

Don't Like YAOI or MPREG? Just get out by click the X button!

.

Yunho merebahkan dirinya di atas ranjang setelah menempuh perjalanan satu jam dua puluh satu menit lamanya. Ah, sepertinya beberapa tulangnya patah. Ia merasa sangat lelah sekarang. Waktu saja sudah menunjukkan waktu sore, dan ia baru akan beranjak mandi setelah keringatnya berkurang.

Yunho membuka koper hijau miliknya perlahan, tenaganya terasa terkuras habis dalam perjalanan kali ini. Perjalanan dari Seoul ke Kyoto ini terlalu melelahkan baginya, karena belum sampai dua hari ia pulang dari China, kini ia sudah harus terbang dengan penerbangan siang hari, tapi ia menepis rasa lelah itu saat ia ingat bahwa sebentar lagi ia akan bertemu dengan Jaejoong.

"Jaejoongie, apa yang kau lakukan sekarang? Kalian baik-baik saja kan? Bogoshippo, Jaejoongie…"

Ah, jika saja Jaejoong mendengar ucapan Yunho barusan, ia pasti langsung berlojak kegirangan saat itu juga. Sayangnya kata 'rindu' belum bisa tersampaikan secara langsung dari bibir Yunho maupun Jaejoong. Malangnya kisah cinta mereka, ne?

TRING

Handphone touch screen milik namja tampan itu berbunyi nyaring di kamar yang sepi itu. Dengan cepat Yunho menyambar handphone yang tergeletak di samping tubuhnya yang tengah terlentang di ranjang king size itu. Sebuah pesan singkat tertera pada layar besar itu, dan ia langsung membacanya.

From : Yoochun

Yah! Kau pergi tidak mengajakku?! Aku itu masih sahabatmu atau bukan hah? Pergi tiba-tiba, seperti menghilang ditelan bumi, kau tahu?!

Yunho terkikik membacanya. Ah, sahabatnya yang satu itu memang sedikit sensitive, tapi terkadang bisa berubah menjadi pabbo juga. Dengan gerakan lincah, jari-jari namja tampan itu mulai mengetikkan balasannya.

To : Yoochun

Pabbo! Kau kira aku akan bilang dulu padamu, lalu kekasihmu yang cerewet itu merengek ikut dan akhirnya menghambatku, eoh?

TRING

From : Yoochun

Cih, kau selalu saja menyebutku pabbo. Jika kemarin aku pabbo, mana mungkin sekarang kau tahu dimana keberadaan Jae Hyung, huh?!

Yunho tersenyum mengingat tujuan utamanya datang ke Jepang ini. Dengan semangat ia membuka kopernya cepat-cepat dan mulai mengeluarkan satu setel pakaian rumah santai untuk dipakainya malam ini. Tak lupa ia mengeluarkan figura foto yang ia bawa dari rumahnya di Seoul. Entah, walau perjalanan kali ini tidak lama seperti liburan, ia merasa harus membawa benda itu kemana pun. Ia tersenyum lagi dan menaruh figura itu di atas meja nakas tepat di samping handphonenya.

"Ah benar, lebih baik aku berendam sekarang, sebelum malam!"

Dan ia beranjak ke dalam kamar mandi dan dengan cepat mengambil sebuah handuk putih bersih yang tersedia di dalam lemari penyimpanan kamar mandi, yang terletak di bawah wastafel. Dan dengan siulan-siulan penuh kegembiraan, Yunho memasuki bathtub besar, ah sepertinya itu Jacuzzi, pemandian besar khas Jepang. Ah, sudah lama ia tidak mencobanya lagi.

.

.

.

Sementara namja bermata musang itu tengah memanjakan diri dengan hangatnya air di dalam Jacuzzi. Jaejoong duduk di atas tempat tidurnya dengan lemas. Tenaganya seakan terkuras habis untuk terus memikirkan kata-kata Hyunjoong di taman pagi tadi. Malam ini rasanya ia tidak berminat makan malam, ia hanya akan ke dapur untuk membuat susu hamil yang biasa dikonsumsinya nanti. Tangannya mengelus perutnya yang membuncit dengan leluasa, karena penghalangnya sudah ia singkap sedikit. Ia menselonjorkan kakinya dan punggungnya ia senderkan pada kepala tempat tidur yang telah ia taruh dua bantal empuk sebagai penyangga. Entah karena factor kehamilan atau apalah itu, kakinya sedikit membengkak, mungkin wajar karena ia jarang berjalan-jalan keluar seperti tadi pagi. Jika saja Yunho percaya akan kehamilannya, saat ini pasti suaminya itu memijat betisnya yang pegal-pegal. Ah, ia jadi sedih lagi memikirkannya.

"Yun, bogoshippo. Uri aegya juga merindukanmu. Bogoshippoyo, Yunho–ya…"

.

.

.

Dan setelah satu setengah jam terlewati oleh Yunho di dalam kamar mandi. Namja manly itu keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk putih yang tadi ia ambil di sekitar pinggang kebawah. Pundak serta punggung, juga dadanya yang sixpack masih sedikit mengkilap karena basah. Ditambah dengan Yunho yang tersenyum penuh pesonanya. Ah, pemandangan erotis. Jika seorang yeoja melihatnya, pasti mereka langsung menjerit histeris betapa kerennya Yunho. Setelah selesai mengeringkan tubuh dan rambutnya yang basah dengan handuk lain, ia memutuskan untuk duduk di tepi ranjang dulu sebelum memakai pakaian yang telah siap di atas ranjang.

Tapi senyumnya pudar saat suatu perasaan sesak memenuhi rongga dadanya. Ia meremas ujung handuk yang masih melilit di pinggangnya, seolah perasaan sesaknya ini menyakiti dirinya. Mencoba menghindar dari rasa sesak dengan melakukan hal yang membuatnya sedikit teralihkan. Ia ingat kalau pesan singkat Yoochun belum ia balas. Ia memutuskan untuk mengambil handphonenya yang tergeletak begitu saja di atas meja nakas.

PRANG

Yunho tertegun. Figura fotonya dan Jaejoong terjatuh ketika tangannya akan mengambil handphonenya yang tepat disebelah figura itu. Ia tidak merasa menyenggolnya sama sekali. Dan kaca yang melapisi foto tersebut pecah menjadi serpihan-serpihan yang terpisah.

"Ada apa ini? Kenapa foto ini jatuh tiba-tiba? God, kenapa dadaku sesak begini…"

.

.

.

Pikirannya seolah melayang, memikirkan kembali ucapan Hyunjoong yang sempat membuatnya berdebar, juga membuatnya seolah jantungan. Mungkin sebenarnya ini salahnya, salahnya karena ia tidak memberitahukan perihal pernikahannya dua tahun lalu dengan Yunho. Ia jadi merasa bersalah sekarang, apalagi dengan mengatakan semua kejujuran pada Hyunjoong. Yang akhirnya membuat Hyunjoong tertegun dan diam mendengarkan.

"Mianhae, Hyung. Aku sudah menikah dari dua tahun lalu. Tapi sepertinya sebentar lagi pernikahanku akan hancur, tinggal menunggu waktu sampai anakku lahir, kami akan bercerai. Mianhae Hyung, jeongmal mianhae…"

"Mianhae, jeongmal mianhae. Karena dulu aku tidak bisa menjawabnya lebih cepat, Hyung. Jika saja aku menjawab 'aku mau jadi kekasihmu' saat kau menyatakan cinta padaku, pasti sekarang aku bahagia ne, Hyung. Kau perhatian padaku, baik, ramah, sopan, dan yang lebih penting, kau mencintaiku…"

"Kau tahu, dulu aku juga menyukaimu, ah ani, mencintaimu, bahkan sangat. Tapi kau harus pergi ke Amerika karena Appamu sakit, dan setelahnya kau tak pernah memberi kabar lagi. Hyung tahu rasanya seperti apa? Seperti bagian dari dirimu ikut terbawa arus waktu, yang lama kelamaan bukannya pudar, malah semakin mengekang hati dan pikiranmu. Membuatku sempat frustasi. Tapi itu dulu, Hyung…"

"Kau tahu, disaat aku hampir seperti orang gila, seorang namja bermarga Jung mendatangi rumahku, dan bilang kalau ia menyukaiku. Ia juga meminta izin orang tuaku agar kami bisa mulai berkencan. Entah kenapa, walau aku belum mengenalnya sama sekali, aku mengiyakan ajakan kencannya. Dan akhirnya aku bisa kembali tersenyum juga tertawa lagi saat kencan kami yang ketujuh kalinya."

"Mengingat semua itu, membuatku hanya bisa tertawa miris sekarang, Hyung. Disaat seharusnya kami bahagia karena aku hamil, ia malah menganggap ucapanku hanya lelucon. Ia juga bilang kalau ia menyayangiku dari awal kami bertemu, manis bukan? Namun setiap cerita indah, pasti terdapat cerita 'sesungguhnya', cerita pahit. Dan ternyata kenyataan pahitnya adalah, ia tidak mencintaiku…"

Tangan halusnya kembali mengelus perutnya yang entah kenapa terasa nyeri, seperti diremas kencang dari dalam. Berharap rasa sakitnya hilang, namun semakin menjadi. Ia sedikit mengelus bagian bawah perutnya, dan sedikit demi sedikit sakit itu menghilang.

"Baby, jangan nakal ne? Apa kau lapar? Atau kau marah pada Eomma? Mianhae, baby…"

GREK

"Hyung, aku mau beli camilan ya! Hyung – "

Suara Changmin dari luar kamarnya membuat Jaejoong cepat-cepat menoleh pada pintu yang kini mulai terbuka. Menampakkan Changmin yang menatap horror kekaki namja cantik itu. Jaejoong mengernyitkan dahinya bingung, dan hidungnya sedikit mencium bau anyir. Lalu ia melihat apa yang dilihat Changmin di bagian kakinya.

"Hyung! Kau – kau, darah, Hyung!"

Dan setelahnya Jaejoong tak sadarkan diri.

.

.

.

TBC


A/N : Ah, update malam aku nih, hehe. Mian kalau ini tetap sedikit, tapi memang hanya segini yang bisa aku kasih kalau sehari update. Review menurun ne? Nggak ada lagi yang ngasih kritik, sebenarnya aku lebih senang kritik, tapi yang membangun lho, hehe. Oh ya aku ngga tau kenapa lagi niat lanjut chapter ini, tapi cuman segini yang jadi :( Mungkin karena lelah, dari pagi sampai sore aku wisuda lho! Pakai jas, hehe, adakah yang bisa membayangkan ketampananku? Hahaha. Ada yang tadi nonton On The Spot? Ada Jaejoong lho, di nominasikan sebagai salah satu cowok cantik alami tanpa operasi! Emang cantik sih... Ah, yang lagi nganggur, adakah yang mau menemani aku? No! Jangan pervert dulu ne, maksudnya chating aja, lewat whatsapp hehe. PM please :) See ya later!

.

Review ne? Please :)

.

Jeongmal Gomawo 8/6/2013 8:45 PM

.

Jason