Chapter 10
"Kapan kau datang Hinata?" tanya Kiba setelah Shino dan Kiba bergantian memeluk Hinata.
"Kemarin pagi"jawab Hinata manis. Naruto terpaku melihat Hinata. Ia bingung dengan apa yang harus ia katakan. Apa ia harus menyapa Hinata atau menunggu Hinata menyapanya terlebih dahulu. Ia tak tahu bahwa Hinata juga dibingungkan dengan hal yang sama.
Melihat Naruto hanya diam mematung, Hinata pun mengambil inisiatif.
"Maaf saya datang tak diundang hokage sama" kata Hinata tenang. Shikamaru harus menyikut Naruto agar Naruto segera tersadar dan memberikan respon pada Hinata.
"Oh...eh...tentu saja tak apa Hinata chan...kau boleh bergabung, kau kan juga bagian dari kami" kata Naruto gugup, "kapan kau pulang?" tanya Naruto sambil mengendalikan kegugupannya. Mereka semua mengernyit.
"Kiba sudah menanyakannya hokage sama, kau tidak mendengar ya?" sahut Ino heran.
"Oh...eh ...benarkah aku tak ingat?" kata Naruto gugup. Semua orang bisa melihat kegugupan Naruto.
"Kalau kehadiran saya mengganggu saya mohon pamit saja hokage sama" kata Hinata sopan sambil membungkuk mohon pamit
" TIDAK...!" teriak Naruto, semua orang sampai berjengit kaget, "maksudku aku akan senang sekali kalau kau mau tinggal" kata Naruto. Ia mati-matian mengatur kegugupannya. Semua orang menatap Naruto heran.
Acara makan berlangsung ramai mereka bertukar cerita dan saling meledek satu sama lain. Apalagi mereka lama sekali tidak berkumpul seperti ini. Naruto lah yang hanya diam sambil sesekali melirik Hinata. Ia benar-benar ingin bicara berdua dengan Hinata. Ada banyak hal yang harus dibicarakan. Naruto tidak tahu bagaimana Hinata akan menanggapi permintaannya, tapi ia akan mengupayakan segala daya upaya.
"Tumben kau diam saja Naruto?" tanya Sakura. Sakura bisa melihat beberapa kali Naruto curi-curi pandang pada Hinata. Ia juga bisa melihat betapa gugupnya Naruto tadi saat Hinata datang.
"Astaga Sasuke...pipimu itu...hahaha aku tak tahu kau bisa memukul teman mu sekeras itu Hinata chan" kata Kiba sambil menahan tawa.
"Hn..." Sasuke berusaha untuk cuek.
" Jangan mengejek Sasuke kun, Kiba kun" Hinata menasehati, "aku melakukannya karena Sasuke kun sudah berbohong padaku bahwa ayahku sakit keras, aku jadi terpaksa pulang ke konoha" lanjut Hinata.
Semua aktivitas makan langsung berhenti. Mereka semua menatap Hinata.
"Apa?" tanya Hinata heran melihat tingkah teman-temannya.
"Jadi kau sebenarnya tidak berniat pulang?" tanya Kiba
"Ng...ya sebenarnya aku belum berniat pulang, masih banyak urusan yang harus diselesaikan" kata Hinata menghindari tatapan mata teman-temannya.
" Jadi kau akan kembali lagi ke Roppan?" tanya tenten tak percaya
"Banyak yang harus kuselesaikan tenten chan" kata Hinata.
"Ka...kapan kau kembali ke Roppan?" tanya Ino pelan, ia baru saja mendapatkan sahabatnya kembali sekarang harus melepaskannya lagi.
"Mungkin lusa" kata Hinata. Hinata belum tahu harus mengatakan pada ayahnya agar ayahnya memberikan izin, tapi ia akan berusaha sebisanya. Ia sudah kangen berat dengan Arata dan Kanata.
Mereka semua menatap Hinata kasihan. Hinata yang ditatap sedemikian malah heran.
" Kalian kenapa? Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Hinata heran. Teman-temannya mengira bahwa Hinata belum bisa melupakan Naruto dan masih menghindari Naruto. Apalagi dengan gelagat aneh Naruto sejak Hinata datang. Pasti ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua sebelum Hinata pergi ke Roppan.
"Kau tahu Hinata, kau sudah cuti selama 4 tahun, jika kau cuti sebagai kunoichi selama 5 tahun kau harus mengikuti tes lagi jika kau ingin aktif lagi sebagai kunoichi."kata Sakura
"Benarkah?aku tidak tahu ada peraturan seperti itu?" tanya Hinata polos
"Lebih baik kau ambil misi sekali saja Hinata, setelah itu kau boleh cuti lagi bagaimana?"tanya Ino.
"Iya Hinata aku yakin hokage kita bisa memilih misi yang mudah dan cepat sehingga kau bisa segera pergi ke Roppan"kata tenten sambil melirik Naruto.
"Aku bisa menganggap kepergianmu ke Roppan kemarin sebagai misi diplomasi dengan Roppan" tawar Naruto lembut. para Shinobi disitu hanya ternganga melihat Naruto. Naruto memang orang baik, namun jika menyangkut misi ia bisa sangat ketat dan disiplin. Ketika Naruto menawarkan kemudahan yang sangat 'keterlaluan' tentu merupakan hal aneh untuk para Shinobi ini.
" Terimakasih hokage sama, tapi saya menolaknya. Saya pergi ke Roppan karena kepentingan keluarga bukan untuk kepentingan desa. Jadi tidak adil jika itu dikategorikan sebagai misi" jawab Hinata halus. Mereka semua bisa melihat raut muka Naruto yang kecewa.
Tiba-tiba Sasuke bangkit dari duduknya dengan cepat, ia berlari ke belakang restourant. Semua orang menatap heran melihat kepanikan Sasuke. Sasuke yang mereka kenal selalu bersikap tenang dalam keadaan apapun. Bahkan pada perang Shinobi pun Sasuke tetap bersikap tenang.
Belum ada 3 menit Sasuke keluar restourant Sasuke kembali masuk dengan wajah penuh rasa bersalah yang ditujukan pada Hinata.
" Hinata, ada masalah di Roppan" kata Sasuke. Mendengar itu seketika Hinata dan Naruto memucat. Mata Hinata kini berkaca-kaca. Hinata merasa lemas bahkan ia sulit menggerakkan tubuhnya. Bayangan Arata dan Kanata yang terluka, sakit atau diculik datang silih berganti.
Melihat ekspresi Hinata teman-temannya langsung khawatir sekaligus penasaran. Sasuke segera membantu Hinata berdiri sempoyongan. Ia benar-benar lemas. Ia tak bisa melangkahkan kakinya. Apalagi tangan kiri Sasuke juga masih cedera gara-gara dihajar Hinata tadi, melihat itu Kiba beranjak dari tempat duduknya untuk membantu Sasuke. Namun sepertinya Kiba kalah cepat dengan Naruto. Kini Naruto sudah membopong Hinata ala bride style.
"Aku akan membawa Hinata kerumahnya... bilang pada pemilik restourant untuk mengirim tagihannya ke kantor hokage " kata Naruto. Sebelum seseorang menjawab perintah Naruto. Naruto sudah menghilang dengan hiraishinnya.
Begitu berada didepan kediaman Hyuga ia segera minta antar ke kamar Hinata. Awalnya kedua penjaga hanya saling menatap bingung, menunjukan kamar nona mereka atau tidak. Tapi melihat keadaan Hinata yang lemas dan terisak lirih dalam gendongan hokage salah satu penjaga bergegas menunjukkan kamar Hinata.
Hinata segera di baringkan di futon yang telah di gelar oleh salah satu pelayan Hyuga. Naruto lega setelah beberapa saat isakan hinata mereda.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU!" bentak Hiashi begitu masuk kamar Hinata dan melihat putrinya meringkuk di futon sambil terisak. Naruto yang ditanyai Hiashi seperti itu hanya membuka dan menutup mulutnya, bingung akan mengatakan apa.
" Hiashi san itu bukan salah rokudaime sama" kata Sasuke tiba-tiba masuk. Hiashi yang tadi mencengkram kerah baju Naruto pun melepaskannya. Tapi tatapan tajam Hiashi masih belum lepas dari Naruto.
"Lalu apa yang terjadi dengan putriku?" tanya hishi heran sambil melihat kearah Hinata yang sekarang mencoba menenangkan diri.
" Peliharaan Hinata sakit, sepertinya ia tidak suka dirawat oleh pelayan disana."kata Sasuke mencari alasan
"Peliharaan?" kata Hiashi, Naruto dan Hinata bersamaan. Melihat Hinata ikut bertanya Naruto dan Hiashi sekarang memberikan pandangan bertanya pada Hinata.
"Erm...mak...maksudku peliharaan yang mana?hiks...aku punya banyak peliharaan " kata Hinata sambi menahan agar air matanya tak jatuh lagi.
"Erm...burung hantumu mm...Arata, erm...sepertinya suhu badannya lebih panas daripada biasanya" kata Sasuke
"Kau memelihara burung hantu?" tanya Hiashi heran, waktu kecil Hinata memang pernah merengek minta kelinci untuk peliharaan namun Hiashi tak mengijinkannya. Sekarang malah memelihara burung hantu.
"I...iya..." jawab Hinata pelan, kecemasan Hinata bertambah mendengar Arata sakit.
"Jangan terlalu cemas Hinata, mungkin burung hantunya kepanasan di Roppan, katanya Roppan sangat panaskan?" hibur Hiashi, "kalau burung hantunya mati nanti ayah carikan lagi burung hantu yang lebih cantik bagaimana?" tawar Hiashi semangat, bukannya tersenyum manis seperti yang Hiashi harapkan air mata malah meluncur deras. Sasuke dan Naruto hanya berpandangan bingung.
"A...aku ha..harus kembali ke rop...pa...hiks...pan secepatnya a...hiks...yah..." kata Hinata terbata-bata. Hinata tak menyadari tatapan kecewa Hiashi. Baru 2 hari Hinata dirumah setelah 4,5 tahun ia pergi sekarang ia akan kembali pergi jauh lagi. Melihat Hinata sedih seperti itu sepertinya Hiashi tak punya pilihan lain.
" Baiklah...segera kau selesaikan urusan di Roppan lalu secepatnya kau kembali ke konoha sambil membawa semua barang dan peliharaanmu, karena jika kau kembali ke konoha maka kau akan tinggal permanen di konoha." kata Hiashi tegas. Mata Hinata membulat, tapi akhirnya Hinata mengangguk. Hiashi sepertinya tidak mau dibantah kali ini.
" Baiklah...sekarang kau istirahat sehingga kau bisa segera kembali ke Roppan" kata Hiashi sambil beranjak keluar dari kamar. Hiashi masih sempat menatap tajam kearah Sasuke dan Naruto sebelum menutup pintu kamar.
"Apa dia selalu menatapmu seperti itu jika kau berkunjung kemari?" tanya Naruto pada Sasuke.
" Ya...dia sepertinya menyalahkanku karena aku sekarang bertunangan dengan Hanabi" kata Sasuke.
"Apa sakitnya parah?"tanya Hinata sambil berkaca-kaca pada Sasuke, ia sama sekali tidak memperdulikan kehadiran Naruto.
"Tidak...kata manda hanya panas biasa karena kemarin mereka berdua diam-diam bermain hujan saat manda tidur" kata Sasuke menjelaskan. Ada sedikit kelegaan yang tersirat pada wajah Hinata.
"Apa Kanata juga sakit?" tanya Hinata lagi, Hinata benar-benar sekuat tenaga menjaga agar ia tidak panik.
" Tidak, hanya Arata, sepertinya anak bungsumu benar-benar menuruni sifat ayahnya yang usil dan tak pernah sakit" kata Sasuke sambil melirik Naruto yang juga serius mendengar penjelasan Sasuke tentang kedua anak kembarnya. Melihat Sasuke melirik Naruto, Hinata baru tersadar jika Naruto ada di kamarnya.
"Eh...hokage sama?" kata Hinata heran, untuk apa dia disini.
"Eh...erm...a...aku ikut panik mendengar ada masalah di Roppan" jawab Naruto gugup. Naruto menghindari tatapan Hinata. Naruto tahu apa arti dari tatapan Hinata. Dulu Naruto tak menginginkan Arata dan Kanata mengapa sekarang ia tiba-tiba peduli.
"Hinata...sekarang yang penting bagaimana agar kita secepatnya pergi ke Roppan, Arata tak mau makan jika bukan masakanmu" kata Sasuke, ada nada kepanikan disana. Hal itu wajar, Roppan bisa ditempuh dalam waktu 4 sampai 5 hari dengan perjalanan ala Shinobi. Mereka tak punya waktu sebanyak itu, apa jadinya Arata jika ia tak mau makan selama 4 atau 5 hari.
Tiba-tiba Sasuke punya ide.
" Hei dobe...bagaimana jika kau mengantar Hinata ke Roppan dengan hiraishinmu, pasti tidak sampai satu hari sudah sampai ke Roppan" kata Sasuke pada Naruto. Mendengar itu Hinata jadi panik. Tidak...hal itu tak boleh terjadi. Ia sudah membesarkan Arata dan Kanata sendiri selama 4 tahun tanpa bantuan dari Naruto, ia tak akan mulai minta bantuan Naruto akan membuktikan bahwa ia mampu mengurus kedua putranya dengan baik, sendiri.
"Tidak perlu...aku yakin hokage sama punya banyak urusan yang lebih penting yang harus diselesaikan, pasti ada jalan lain" kata Hinata keras kepala. Ia mengatakan itu tanpa memandang Naruto. Naruto hanya menghela nafas melihat kekeras kepalaan Hinata.
"Aku akan melakukannya, sebaiknya kau berkemas Hinata...kita akan berangkat sesegera mungkin." Kata Naruto tegas. Naruto menggunakan nada hokagenya yang tidak bisa di bantah.
"Hokage sama..."
"Hinata aku mohon...kita harus mengesampingkan urusan kita nanti, Arata jadi prioritas sekarang..."kata Naruto memotong Hinata yang akan mendebatnya. Akhirnya Hinata memalingkan wajahnya dalam diam. Naruto tahu itu menandakan Hinata setuju dengan apa yang Naruto katakan. Naruto segera pergi ke rumahnya menggunakan hiraishin. Sekarang hanya Sasuke dan Hinata berada dikamar Hinata.
"Kau memberitahu dia tentang Arata dan Kanata" kata Hinata dingin. Sasuke menghela nafas.
"Bertahun-tahun ia mencemaskanmu nee san, dia bahkan diam-diam mengirim Shinobi untuk mencari tahu tentangmu dan anak-anak. Tapi karena penjagaan disana terlalu ketat dan kau terlalu sulit untuk dimata-matai, maka para Shinobi suruhan Naruto hanya pulang tanpa membawa kabar tentangmu."
Hinata hanya diam. Apa yang Naruto rasakan tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan selama bertahun-tahun.
.
.
.
.
###
helloooo...semua...
makasih...udah pada review and baca fic gw ya...
bwt setsuna yami: bnyak persiapan ?gak juga...gw cuma mikir ni genrenya romance family...tapi romancenya blm kerasa pas chapter2 awal...jadi anggap aja itu prolog
me yuki hina : hinata ooc?menurut gw nggak juga...coba deh lo bayangin punya anak trus lo terpaksa ninggalin anak lo eh ternyata lo di boongin...lo pasti marah jg kan( keinget ma mama gw yang ngamuk ma tetangga gara2 anak tetangga bikin gw nangis hehehe padahal nyokap gw itu putri solo bgt...)
reny anggraini : sakura sama sapa ya...?er...ada yang mau? *kali aja ada cowok yang baca fic gw...*
and bwt semua yang minta update ma di panjangin... ni udah gw update...kalo panjangin nanti deh mungkin abis chapter 12 ya...coz chapter ni mpe 12 terlanjur dah jadi...
n yang pada penasaran kenapa sasuke bisa gt bgt ma hanabi...tu kan udah hampir 5 tahun hinata pergi...jadi ya wajar aja sasuke udah akrab ma hanabi...
pokoknya makasih bwt readers and reviewers...
jangan lupa review...
