Saat tangan-tangan takdir mulai bergerak.

Bahkan akupun tak akan sanggup untuk menghentikannya.

Dan ketika tangan kita terkotori oleh warna pekatnya darah.

Yakinkan aku untuk tetap menguatkan hati dan memandang wajah damaimu.

Karena kau adalah kedamaianku.

Seluruh hatiku.

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

OC : Mai Uchiha and Hime Haruno

Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina

Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.

.

.

.

"Kau sudah memberitahu Naru-nii soal kematian itu?" tanya gadis bersurai perak yang duduk di atas atap salah seorang rumah penduduk sinambi mencatat sesuatu pada buku catatan berwarna hitam gelap. "Lalu bagaimana reaksinya?"

Sasuke yang berdiri di bawahnya hanya dapat bergumam pelan sambil mendengus kesal. "Aku menyuruhnya tidur dan meninggalkannya untuk tugas jaga malam ini." Jawabnya sambil menggeram pelan. "Bodoh sekali aku yang tak berfikir panjang saat mengatakannya."

"Ya. Kau memang bodoh."

Sasuke langsung melemparkan pandangan tajam ke arah adik perempuannya itu. "Setidaknya katakan kata-kata manis yang mengibur, Mai. Apa kau ini benar-benar seorang wanita?" tanyanya pada sang gadis.

"Aku memang wanita. Tapi aku juga adalah seorang Uchiha." Kata gadis berwarna Mai Uchiha sambil meloncat turun dari atap rumah itu dan berdiri di samping kakaknya dengan tenang. "Dan seorang Uchiha tak pernah berkata manis."

Mendengar kata-kata adiknya, Sasuke hanya mendengus geli. "Padahal kau selalu menolak mengakui kodratmu sebagai seorang Uchiha. Meskipun begitu, kau selalu memakai kenyataan jika kau adalah 'Uchiha' untuk memperlancar aksimu."

"Jangan tertawakan aku. Aku hanya ingin membuktikan pada Tousan kalau aku mampu." Kata Mai dingin. "Akan kubuktikan kalau aku bisa menjadi Uchiha yang sama baiknya denganmu dan Ita-nii." Tambahnya.

"Kupikir dengan bertambahnya umur kau akan semakin dewasa." Kata Sasuke menghina. "Dua hari lagi kau akan berusia seratus tahun. Namun tampaknya kau tak berminat untuk melepas semua trauma masa kecilmu."

Mai terkikik mendengar ejekan kakaknya. "Resikoku karena memiliki dua kakak laki-laki yang sangat sempurna. Meski begitu, tetap saja aku benci dibandingkan. Apalagi dengan kalian berdua yang aku tahu tak akan mungkin aku kalahkan."

"Pesimistis."

"Bukan pesimistis, Sasu-nii. Tapi realistis."

Sasuke menatap tajam adik yang usianya sangat jauh darinya itu. "Kau salah. Karena kau memiliki mata itulah, Tousan sangat berharap padamu."

"Tapi tampaknya dia harus kecewa." Jawab sang gadis sambil memasukkan catatannya ke dalam sela-sela gaun gothic yang dikenakannya. "Bahkan memakai teknik paling rendah seperti Goukakyuu no Jutsu-pun tak sanggup kulakukan dengan baik." Dengusnya membodoh-bodohi dirinya sendiri.

Setelah mendengar kata-kata itu, Sasuke hanya mampu tersenyum sedikit. "Fisik dan sifatmu sangat mirip dengan Kaasan. Tapi aku yakin sifat keras kepala dan keteguhan pendirianmu itu adalah warisan dari Tousan."

"Jarang-jarang aku mendapatkan pujian darimu." Jawab gadis itu sambil menoleh pada sang kakak dan tersenyum lembut. "Yah… mungkin saja setelah ini, Nepal akan segera terkena musim panas abadi dan Hawai akan mengalami zaman es." Tambahnya dengan nada sinis.

"Sebenarnya aku merasa jika Tousan…"

"Sudahlah." Potong Mai. "Kita sudah saja pembicaraan ini. Seandainya diteruskan kita hanya akan mengulang-ulang pertanyaan dan jawaban yang sama. Dan itu hanya akan membuat mood-ku semakin buruk saja" Kata gadis itu sambil bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari tempat kakaknya. "Aku pergi."

Sasuke hanya mengamati gadis itu berjalan pelan dengan kaki yang masih cedera. "Mau ke mana kau?"

"Mencari sesuatu yang dapat menyelamatkan warga desa ini. Lagipula aku malas bicara denganmu, Sasu-nii." Katanya sambil pergi menjauh.

"Terserah kau sajalah."

Gadis itu melompat-lompat dari dahan ke dahan dengan sedikit kikuk, menyesali luka di kakinya yang masih belum sembuh seratus persen. Andai saja kakinya tak sedang cedera, pasti dia akan dapat melakukan lompatan yang jauh lebih baik.

Tubuhnya dirapatkan pada sebuah batang pohon saat melihat sebuah gua tersembunyi di antara sesemakan. Dia mengawasi daerah di sekitarnya dengan pandangan mata menyelidik. "Aman." Gumamnya lirih sambil kembali mengarahkan atensinya pada lubang di hadapannya.

"Pintu yang buruk untuk sebuah markas rahasia." Gerutu gadis itu sambil menerjunkan tubuhnya ke dalam lubang berukuran sedang itu. Namun di dalam hati dia mengakui kecerdikan para pembelot itu.

'Lubang ini hanya terlihat seperti lubang buatan hewan liar, tak akan ada yang curiga. Dan mereka juga telah memasang segel dan penghilang bau yang mampu mengecoh. Mengagumkan.' Pikir gadis itu sambil menyusuri gua yang cara pembuatannya sangat kasar dibandingkan dengan gua yang ditemukannya di Rusia beberapa waktu silam.

Diliriknya sinis, dua penjaga yang langsung mengeluarkan taring dan cakar mereka saat melihat kedatangan Mai, bersiap jika seandainya mereka harus bertempur dengan bungsu Uchiha itu.

"Terserah jika kalian mau membunuhku. Tapi kupastikan nyawa kalian akan merenggang di tangan pimpinan kalian sendiri." Ancam gadis itu dingin sambil melepas soft lens yang dikenakannya dan merubah mata obsidiannya dengan rubi merah lengkap beserta tiga tomoe yang berputar di dalamnya. "Katakan pada Your Majesty jika Mai Uchiha datang untuk menemuinya." Titah gadis itu sambil memamerkan taring putihnya.

Mereka hanya saling tatap ragu, namun setelah mendengar geraman tak sabar dari sang gadis, salah satu dari dua orang yang bertugas menjaga gua persembunyian itu langsung berlari memberitahu raja mereka mengenai kedatangan gadis bergelar Lady itu. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil membungkuk hormat. "Your Majesty sudah menunggu kedatangan anda, Lady Mai Uchiha." Katanya sopan sambil membukakan pintu.

Gadis itu melenggang masuk dengan segala kesombongan dan keangkuhan yang telah menjadi ciri khas keluarganya. Lagi-lagi ruangan super mewah, itulaah yang dipikirkan gadis itu saat masuk ke pusat utama gua. 'Entah bagaimana caranya Your Majesty membawa seluruh barang ini masuk.' Pikirnya.

Dilihatnya sesosok pria berambut pirang indah sedang berdiri membelakanginya sambil menyesap secangkir darah yang bagi Mai tercium sangat menggoda. Sekali lagi, Mai harus langsung bertatap wajah dengan Raja dunia vampir yang berstatus sebagai penghianat dan buronan kerajaan itu. "Salam hormat dari saya, Your Majesty. Semoga Tuhan selalu melindungi anda."

"Tak perlu bersikap formal padaku, Lady Mai Uchiha. Lagipula seperti yang kau tahu : 'Aku tak percaya pada Tuhan'."

Mai hanya mengangguk mengerti saja. "Rencana anda berjalan dengan lancar, Your Majesty." Kata gadis itu memberi laporan. "Namun penyebaran virus ini harus segera dihentikan agar virus tak menyebar lebih jauh ke luar desa." Tambahnya.

"Kata siapa aku akan menghentikan virus ini, Lady Mai?" tanya pria bernama Minato Namikaze itu sambil memainkan segelas darah yang dipegang di tangan kirinya. "Tampaknya kau masih tak terlalu mengerti arti dari rencanaku sebenarnya."

Mai mengerjabkan matanya beberapa kali. "Bukankah ini salah satu usaha kalian untuk mengalihkan perhatian para Knight dan bangsawan lainnya untuk meruntuhkan monarki vampir yang selama ini dilksanakan?" tanya gadis itu tak mengerti.

"Ternyata kau memang masih hijau, Lady Mai," tawa pria itu sambil menuangkan darah yang dipegangnya ke lantai yang berlapiskan permadani persia. "Ini bukan pengalih perhatian. Ini adalah pemberontakanku yang sebenarnya."

Mai tersentak mendengar kata-kata sang Raja. "Jangan-jangan… rencana anda adalah…" gadis itu menghentikan kata-katanya dan menutup mulutnya dengan tangan tanda bahwa dia tak mempercayai pikirannya sendiri. "A…anda tak bermaksud untuk memusnahkan ras manusia dan merubah mereka menjadi vampir bukan?" Tanya gadis itu dengan suara bergetar.

"Kau memang seorang Uchiha."

Mai membulatkan matanya kaget, namun sejurus kemudian dia langsung menyipitkan matanya marah. "Anda menipuku." Desisnya tajam.

"Namun bukankah ini juga yang kau inginkan, Mai Uchiha? Bukankah kau membenci keluargamu yang memisahkanmu dari manusia itu? Bukankah kau melakukan ini semua juga untuk memenuhi janjimu pada manusia bernama Inuzuka Kiba agar tak ada lagi batas di antara ras manusia dan ras vampir?" tanya pria itu degan nada sing-a-song yang tedengar memuakkan. "Terima saja semua ini, Lady. Karena sejak awal aku sudah meyadarinya. Menyadari jika kita 'sama'."

"Tapi bukan ini yang seharusnya terjadi!" teriak Mai mulai emosi. "Bukan ini juga yang diinginkan Uzumaki Kushina pada anda!" teriak gadis itu marah sambil melepas wignya menampilkan rambut berwarna dark blue gelap. "Anda pikir dengan cara ini Kushina Uzumaki akan bahagia di alam sana?" tanyanya sinis sambil memasang cakar-cakar vampir di tangannya siap untuk bertempur dengan sang Raja.

"Bukankah kau dan kakakmu sama saja?" sindir pria itu dengan nada tajam. "Kalian juga berusaha untuk merubah putraku menjadi vampir bukan?"

Mai mencelos mendengar kata-kata Minato. "I… itu… itu berbeda." Lirihnya sinambi memalingkan wajahnya menatap motif karpet Persia yang tak menarik perhatiannya. "Apa yang kami lakukan berbeda dengan yang anda lakukan. Sangat berbeda…" lirih gadis itu lagi.

"Tak ada yang berbeda. Meski Halfblood. Tetap saja darah Naruto lebih dominan terhadap manusia." Kata pria itu dengan kejamnya. "Bahkan cara yang kalian gunakan pun jauh lebih kotor daripada yang kugunakan. Kalian akan membunuhnya."

"Dari mana anda mengetahuinya?"

"Mata dan telingaku ada di mana-mana, Lady Mai. Bahkan keluarga Uchiha dengan darah murni dan intelegensi yang tinggipun mampu aku susupi."

"Ah…" gumam Mai mengerti. "Tentu saja, Konan. Jika tida salah dia adalah kekasih dari Sir Pain bukan? Salah satu kesatria kesayanganmu?" kata gadis itu yakin. "Atau jangan-jangan Paman Obito yang melakukannya?"

"Ya, Konan." Jawab Sang raja tersenyum puas setelah mendengar kata-kata Mai. "Mengagumkan. Kecerdasan seorang Uchiha memang belum ada tandingannya di sini. Kau bahkan langsug bisa menerka jika 'Tobi' adalah Obito Uchiha. Mengagumkan."

"Terima kasih atas pujian anda. Tapi maaf sekali, aku sama sekali tak tersanjung." Kata gadis itu sinambi merubah matanya kembali ke warna obsidian dan menghilangkan cakar dan taringnya. "Aku tak akan menolong atau melawan anda lagi, Your Majesty. Tapi… " gadis itu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "…jika anda memang tak berniat meyelamatkan para manusia yang terserang virus itu, maka akulah yang akan melakukannya. Aku akan menemukan antidot untuk virus itu dan menyelamatkan ras manusia."

"Kau tampak sangat optimis, Lady. Tak terpikirkah kemungkinan lain bagimu?" jawab Minato Namikaze sinis.

Mai menghela nafas panjang, lalu tersenyum mengerikan. "Namun jika aku gagal menemukannya, maka akan kubunuh semua warga desa itu."

"Kau memang gadis yang sangat mengagumkan."

Gadis itu menatap tajam mata sang Raja sebelum akhirnya pergi berbalik dan menjauhi ruangan itu tanpa berkata satu patah katapun lagi.

"Mai Uchiha. Gadis yang menarik." Kata sang raja sambil mengambil agi sebuah gelas kristal dan menuangkan darah ke dalamnya. "Namun sayang sekali, umurnya tak akan panjang. Semua orang yang menolak penawaranku harus mati."

"Kau dari mana?" tanya Sasuke saat melihat adiknya melenggang masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang seolah siap menelan siapapun yag membuatnya marah. Bahkan gadis itu tak mengenakan wig dan soft lens yang sudah menjadi trade mark-nya selama ini.

"Sasu-nii berikan semua data mengenai virus, wabah dan cara membuat antidot serta segala sesuatu yang berhubungan dengan wabah ini baik sekarang atau lima ratus tahun lalu." Kata sang gadis panjang lebar tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.

Sasuke hanya menggeleng pelan sambil mengambilkan beberapa buku dari rak yang ada di samping meja kerjanya. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sebelum ini kau tampak malas-malasan melakukan penelitian ini."

"Kali ini aku sudah memutuskan untuk serius melakukannya."

"Kurasa aku tak punya hak untuk menanyakan motivasimu. Tapi apa penelitian yang kau lakukan menghasilkan suatu indikasi medis yang sangat buruk?" tanya Sasuke lagi. Diberikannya sebuah buku tebal pada sang adik sambil menunjukkan sebuah tulisan.

"Tidak. Aku belum berani mengindikasikan apapun. Lalu…Apa ini?"

"Ini buku harian kakek buyut kita, Madara Uchiha. Dia juga sempat melakukan penelitian yang sama sebelum meninggal. Tapi seperti yang kau tahu, banyak penelitiannya yang terdengar amat sangat mustahil." Terang Sasuke.

"Lebih baik dibanding tak ada data apapun." Mai hanya menggumam lirih saja. "Selama dua hari terakhir sebelum kita kembali ke mansion. Aku ingin melakukan penelitian secara intens di laboratorium. Menurut perkiraanku, kita hanya dapat mencegah virus ini menyebar selama satu bulan. Tidak lebih."

"Berarti benar yang dikatakan Sakura, daya reproduksi dan penyebaran virus ini ada dalam tahap mengerikan. Sudah dua warga desa yang terpaksa di eksekusi mati karena telah berubah menjadi vampir."

Mai mengangguk-angguk mengerti sambil membuka buku penelitian milik Lord Madara Uchiha, yang juga merupakan kakek moyangnya sendiri. "Ada banyak hal yang membingungkanku di dalam buku ini, tapi ada juga yang terlihat masuk akal dan mungkin untuk dicoba." Gumam gadis itu sambil membaca beberapa halaman buku itu dengan cepat. "Apa mandragora memang sudah punah?" akhirya dia bertanya pada kakak lelakinya.

"Akan kuberikan kuasa penuh padamu, Mai. Tapi ajak Naruto juga. Lalu untuk Mandragora, di bagian selatan pegunungan Alpen masih dapat ditemukan, mau kusuruh orang untuk mencarikannya?" tawarnya.

"Tentu." Mai mengangguk. "dan kau memang benar-benar naif, kau menyuruhku mengajak Naru-nii agar dia terhindar dari bahaya jika ada pertempuran di sini bukan?" tanyanya dengan suara iseng menggoda. "Rupanya kau memang benar-benar jatuh cinta padanya, ya?"

"Bukan hanya itu. Itu juga untuk melindungimu." Jawab Sasuke sambil menyerahkan sebuah kunci pada gadis di hadapannya. "Sebagai seorang peneliti, keselamatanmu akan sangat dipertaruhkan. Apalagi yang kita hadapi adalah Raja kita sendiri yang sudah terkenal kejeniusan dan kecerdasannya."

"Tapi… apa benar tak apa-apa jika itu adalah Naru-nii?" tanya Mai tampak ragu.

"Ya. Dia adalah pilihan terbaik saat ini. Selain karena kemampuannya sebagai mantan seorang vampir hunter, dia juga adalah putra Raja sendiri. Tak ada pilihan lain yang lebih baik daripada dia." Jelasnya.

Mai mengangguk setuju. "Aku akan langsung ke laboratorium satu jam lagi. Segera katakan pada Naru-nii." Aku menunggunya di kaki gunung bersama Hime dan Sakura Haruno." Kata gadis itu sambil pergi berlalu.

"Apa benar tak apa-apa jika aku pergi bersama para Lady?" tanya Naruto sambil memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.

Sasuke mengangguk. "Ya, kau bertugas untuk mengawal mereka." Jawab pemuda bersurai raven itu sinambi membantu Naruto mengepak pakaiannya. "Dan satu lagi, Naruto. Aku mohon kau tak usah terlalu memilkirkan kata-kataku semalam. Lakukan saja apa yang bisa dan ingin kau lakukan." Kata pemuda itu sambil mengusap rambut Naruto. "Karena, apapun dirimu, siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu."

Naruto mengangguk mengerti dan memeluk Sasuke erat. "Aku mengerti, Sasuke. Sekarang aku memang belum siap. Namun suatu saat nanti pasti…"

"Jangan memaksakan dirimu. Aku jatuh cinta padamu karena kau adalah kau." Kata Sasuke sambil balas memeluk Naruto. "Aku aka merindukanmu, sampai jumpa dua hari lagi, Naruto."

"Ya." Jawab Naruto sambil melepaskan pelukannya pada Sasuke. Dia berjalan menjauh dari pemuda itu dan sudah siap keluar dari kamar yang digunakannya selama dia berada di Nepal ini.

"Naruto!" panggil sasuke sebelum pemuda yang akan segera menjadi tunangannya itu keluar ruangan. "Mai, dia wanita Uchiha pertama yang berhasil mengaktifkan saringannya… dia harta yang berharga. Jaga dia, Naruto." Pesan Sasuke

Naruto mengangguk mengerti, "Ya, tentu saja." Katanya sambil memamerkan senyum manis yang selalu sukses membuat Sasuke merasa tenang. "Sampai jumpa dua hari lagi, Sasuke." Katanya sambil berlari pergi.

"Dia memang sangat manis, tak tahukah dia bahwa yang dilakukannya saat ini dapat membahayakan nyawanya?" pikir pemuda itu sambil menggelengkan kepala pasrah. "Dia selalu memikirkan orang lain dahulu tanpa memikirkan dirinya sendiri, padahal bersikap sedikit egoispun tak akan membuatnya terlihat buruk." Pikir pemuda itu sambil menatap punggung yang kian menjauh, mencoba memahami perasaan pemuda bersurai pirang itu.

"Yah… tapi memang itulah yang membuatku jatuh cinta padanya."

Naruto menatap adik kekasihnya dengan pandangan menyelidik. Gadis bernama Mai Uchiha itu tampak sangat berantakan dan kacau tak seperti imagenya selama ini.

"Hime, apakah kau tahu apa yang terjadi pada Mai?" tanya pemuda bermata sapphire itu pada gadis bersurai coklat yang sedang mencampurkan beberapa tetes ramuan ke dalam tabung kimia yang dibawanya.

Hime hanya melirik sedikit pada sahabatnya sambil mengangkat bahu tak peduli. "Dia hanya sedikit terobsesi saja. Kau tak usah memikirkannya terlalu jauh. Sebentar lagi dia pasti akan kembali ke mode Mai yang biasanya." Jawab gadis itu sambil mengambil sebuah wadah kecil yang berisikan bahan misterius yang sudah dibubukkan. "Mai serbuk mandragora yang kau pesan sudah datang." Teriak gadis itu pada Mai.

"Kalau begitu. Buat larutan dengan konsentrasi 2 Mol dan dalam tekanan 2 atm. Suhu dibuat sesuai dengan suhu ruangan lalu amati apakah terjadi endapan atau tidak dalam waktu 200 sekon." Kata gadis itu memberi perintah.

Hime memutar matanya malas. "Semakin lama sikapmu semakin mirip saja dengan Uchiha." Gerutunya sinambi melakukan perintah Mai di ruangan khusus di samping ruang laboratorium ini berada.

Naruto hanya menghela nafas. "Istirahatlah sebentar, Mai. Besok adalah hari ulang tahunmu. Kau pasti tak mau muncul dengan kantung mata sehitam dosa manusia kan?" katanya sinambi mendekati gadis yang sekarang tampak seperti salah seorang professor gila yang muncul dari dalam film horor jelek.

"Iya, Naru-nii. Namun ini adala hari terakirku di sini sebelum pulang. Aku ingin melakukan apa yang aku bisa dahulu." Kata gadis itu sinambi tersenyum pelan. Lalu dia kembali berkonsentrasi pada bahan-bahan yang ada di depannya. "Kumohon tinggalkan aku sendiri Naru-nii. Ada yang ingin kulakukan." Kata gadis itu pelan.

Naruto mengangguk. "Baiklah. Kalau ada yang kau butuhkan tinggal panggil saja aku ya." Pesannya.

Mai tertawa mendengarnya. "Kau di sini adalah pengawalku, Naru-nii, bukan pelayanku." Guraunya.

"Yah, sekali-sekali tak apa kan? Asal tidak terlalu sering." Jawab Naruto sambil keluar dari ruang utama laboratorium itu.

Sesaat setelah pintu ruangan tertutup, wajah manis gadis bersurai perak itu langsung berubah suram, tawanya menguap entah ke mana bersamaan dengan lepasnya topeng di wajahnya. Sebuah tawa sinis yang sarat akan kegilaan berkumandang di ruangan itu.

Mai memukulkan tangannya ke atas meja hingga meja itu terbelah menjadi dua akibat kekuatan vampir yang dimilikinya. Tawanya masih belum juga reda meski nada kasar dan sinis semakin terdengar di dalamnya.

"Apa yang sebenarnya kulakukan ini?" tanyanya pada diri sendiri. "Bodohnya aku… bodohnya…" rurtuknya sambil menangkup wajahnya dalam tangan-tangan pucat miliknya.

Dia nenunduk membiarkan air mata kekecewaan dan kesedihan yang bercampur dengan kemarahan meleleh dan jatuh ke pipi pucatnya. Wajahnya mengeras dan matanya berubah menjadi semerah darah. "Brengsek! Aku tak dapat menemukan penetralisir virus itu! Cuma cara itu yang ada… hanya cara itu…"

.

.

.

TBC

.

.

.

Cukup panjang nggak chapter ini? Semoga nggak kepanjangan deh ^_^

Ngomong, ngomong soal panjang. Kalau FF ini dibuat persis versi originalnya maka mungkin akan sampai 55 chapter lho. Tapi berhubung Hime memutuskan untuk memangkasnya sampai seperempat bagian, banyak kisah yang akhirnya nggak diceritakan di sini. Misalnya kalau di Nvel aslinya, Sakura tidak langsung mengalah begitu saja pada Naruto. Lalu sebenarnya calon Ratu di kerajaan itu adalah Mikoto, namun karena ditolak oleh Minato, jadi Mikoto menikah dengan Fugaku. Dan karena alasan itulah Keluarga Uchiha sangat membenci keluarga Namikaze.

Lalu di Novel sebenarnya Hanabi suka dengan Sai dan langsung melabrak Mai jika ada kesempatan. Dan yang paling penting di novel sebenarnya Sai dan Mai adalah saudara satu ayah beda ibu, jadi sebenarnya keluarga Uchiha itu insest. Tapi berhubung keterbatasan chapter yang ditentukan Hime, terpaksa semua adegan itu dipangkas ^_^.

Yah daripada ndengerin cuap-cuap Mai, mending balas review aja ya.

Guest: Persahabatan yang manis? Antara siapa? Aku dan Hime ya? Hehehe bukannya manis ini malah menggelikan lho. Bahkann kadang disangka Yuri segala -_-"

Lee Kiamho: Siap ^_^ akan tetap kami lanjutkan kok.

Kalau yang login akan dibalas via PM ya ^_^

Behind the Story.

Hime: (Ngetik sambil bersenandung) Kosokkan watu ning kali nyemplung ning kledung…

Mai: (mendeongak dari tugas kimia yang lagi dikerjain)STOP! Lagu apa yang kamu nyanyiin tuh?

Hime: Mmmm 'Kuncung'.

Mai: Hah? Ganti lagunya deh, please.

Hime: ? ya baiklah. (menyanyi lagi) Sewo kutho uwis tak liiiiiiwatiiiii. Sewu ati tak takoni. Naging kabeh pada ra ngerteniiiii…

Mai: …. (Inner: aneh, kesamber apa si Hime ini? Biasanya dia nyanyi lagunya avril atau britney. Parah-parahnya evanescence. Tapi kok sekarang jadi lagu campursari sih?)

Hime: Kok diem sambil ngeliatin orang sih?

Mai: Aaaano, itu… em…. Coba lagu cewek aja deh.

Hime: Wez hewez hewez dikandani ora nggrewes, nganyelke atiiiiiiiiiiiiiiiii

Mai: …(Cengo, sweatdrop dan jaw drop sekaligus. Inner: Gawaat! Beneran Gawat! Dia pasti kesamber rohnya Manthous tuh! Hiiiii serem!)

Hime: Aku nggak kenapa-kenapa kok. Cuma besok kamis aku ulangan campursari aja kok.

Mai: Oh… (inner: dia pasti bisa baca pikiran deh.)

Hime: udah berapa kali aku bilang? Aku nggak bisa baca pikiran.

Mai. (Inner: Pasti bohong tuh. Memangnya di dahiku ada tulisannya apa?)

Hime: Aku. Nggak. Bohong. Dan satu lagi, di dahimu nggak ada tulisan apapun. Kamu kan bukan Gaara.

Mai: … (Pokoknya besok Hime harus kubawa ke RSJ nih.)

Hime: aku belum gila.

Mai: Hiiiiiiiiiiiiiiiiiii!

Hahaha, mungkin itu hanya karena Mai sangat mudah dimengerti ya -_-" tapi tetep aja serem.

OK, yang penting review ya minna-san ^_^