.

Last

Chapter 10

[KOOKV]

Terakhir

.

Setelah hari itu, Jungkook tak pernah melihat Taehyung lagi.

Sehari dua hari, Jungkook masih bertahan bersama egonya. Ji Eun sudah disetubuhi sekali malam. Jungkook bergerak memenuhi janji tanpa disadari. Meski niat sebenarnya hanya ingin menjadikannya sebagai pelampiasan.

Tepat pada malam ketiga semenjak mogok bertemu dengan sang kekasih, Jungkook mulai cemas. Sudah tiga hari penuh ia tak melihat Taehyung dimana-mana. Baik pucuk kepala hingga batang hidung pun tak pernah menampakkan diri.

Pada hari keempat, Jungkook tak kuasa lagi menahan rindu. Tak kuat lagi menahan rindu yang kian lama kian membunuh. Merindu bagaimana sang kekasih selalu siap sedia melayani kebutuhannya setiap hari dari pagi hingga malam. Merindukan senyum manisnya, aroma, dan segalanya.

Jungkook yang butuh Taehyung, bukan sebaliknya.

Maka dari itu, pada sore hari keempat, Jungkook melangkah menuju kamar Taehyung. Sebongkah rangkaian mawar merah yang merupakan peliharaan Taehyung berada dalam genggaman. Tanpa ragu, ia ketuk pintu kamar kekasih.

"Tae?" Jungkook menunggu jawaban.

"Tae sayang?" Jungkook lagi-lagi tak mendengar jawaban. Lantas ia ketuk lagi pintu tersebut.

"Sayang.. Buka pintunya.." Rengeknya dari depan pintu.

"Tae.. Hyung? " Jungkook kaget ternyata pintu tak dikunci.

Ketika melangkah masuk, Jungkook justru dihadapkan oleh keadaan kamar yang rapih tak berantakan sama sekali. Seperti tidak ada yang pernah menghuni sebelumnya. Jantung sang raja berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun ia tak mau cepat berpikir negatif. Lantas Jungkook mendudukan diri pada pinggir ranjang masih mengenggam rangkaian bunga tersebut.

Satu dua jam tak disangka berlalu. Kini matahari sedang beranjak pulang ke rumah. Jungkook betul-betul berfirasat tidak baik. Hatinya terus gelisah lantaran menunggu sang kekasih yang tak kunjung pulang. Ia begitu merindukan Teaehyung. Ingin sekali cepat-cepat rengkuh tubuhnya dan tak pernah ia lepaskan lagi.

Untuk menyembunyikan rasa gundah, akhirnya dia berdiri. Berjalan menuju meja yang biasa digunakan Taehyung untuk belajar dan menulis. Ia duduk diatas kursi sambil membuka laci meja. Terlihatlah sebuah buku berselip secarik surat. Di sebelahnya terdapat pula buku sketsa tersusun rapih. Jungkook tak sadar menyunggingkan senyum.

Yang pertama dilakukan Jungkook ialah mengambil buku sketsa. Tentu isinya sudah bisa ditebak. Hanya ada potret sosok dan wajah Jungkook terlukis.
Dia senyam-senyum sendiri menatap potret diri sendiri yang digambar oleh sang kekasih. Dalam hati bangga dan senang melihat hasil karya. Entahlah ia bertanya-tanya mengapa Taehyung tak pernah memperlihatkan karyanya pada dia.

Setelah puas mengagumi sketsa, Jungkook beralih mengambil buku yang tampaknya merupakan buku harian sang kekasih. Di dalam buku tersebut terselip sebuah surat. Lantas ia mengambil surat tersebut membuka dan membacanya.

Teruntuk tuanku,

Yang mulia Raja Jeon Jungkook.

Tuanku..
Aku ingin mengucap kasih berulang kali kepadamu. Atas kebaikan hati dan segalanya yang telah engkau berikan padaku.

Karena tuan, aku jadi tahu bagaimana rasanya diinginkan dan dicintai. Tuan mengajariku untuk mencintai diriku sendiri. Yang mulanya aku tak pernah sekalipun suka dengan wajah apalagi tubuhku.

Ini dosaku tuan. Ini dosaku telah berusaha melawan takdir dan ketentuan, dosaku karena telah berani mencintai sang maharaja. Tidak tuan.. Ini murni kesalahanku. Hanya aku yang berhak dan wajib menebusnya.

Dugaanmu salah,tuan. Aku tak pernah sedikitpun menginginkan harta benda apalagi tahtamu. Aku mencintaimu sungguh dengan tulus, Jungkook. Aku menyukai segala hal tentangmu.

Hanya ada satu yang jadi keinginanku tuan.. Hamba hanya ingin tuan hidup bahagia jauh dari orang aneh sepertiku.
Aku minta maaf atas segala yang telah merepotkanmu, aku minta maaf atas semua kekacauan yang telah kuperbuat.

Aku, semakin kuat perasaanku, semakin besar dosa yang telah kuperbuat. Aku meminta maaf tuan, tolong jangan cari aku. Aku hanya akan jadi penghalang bagimu. Aku tak pantas untuk dicintai, terutama olehmu tuan. Tuan berhak mencintai dan dicintai oleh seorang yang lebayak. Yang tentu jawabannya bukanlah aku.

Tuanku, sekali lagi aku meminta ampun. Biar hamba sendiri yang menebus segala dosa ini.

Aku berdoa agar tuhan selalu melindungi tuan dimanapun tuan berada.
Aku mencintaimu tuan, jangan lupakan janjimu.

Tertera,

Kim Taehyung.

Jungkook diam membatu selagi meremas selembar kertas tersebut. Dia tertawa renyah sambil menggelengkan kepala, menganggap ini semua hanyalah lelucon belaka. Kemudian ia mengangkat bokong berjalan keluar kamar. Kali ini ia akan buktikan kalau Taehyung tidak pergi dan meninggalkan dirinya.

Dia berlari secepat jantungnya berdegup. Seluruh pintu istana telah ia jamahi. Namun yang dicari tak pernah terlihat.

Jungkook berhenti pada lokasi terakhir tempat favorit Taehyung bersembunyi. Hutan taman belakang.

"Taehyung? aku tahu kau ada disini sayang.." Jungkook celingak-celinguk meneliti sekitar. Memendarkan pandangan ke seluruh penjuru. Namun tentu saja, Kim Taehyung telah pergi mungkin untuk selamanya.

"Tae.. aku mohon.. aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku sendir-i." Tangis Jungkook tak dapat terbendung lagi. Ia menangis sendiri di bawah rindangnya dedaunan selagi terus menyebut nama sang kekasih.

Berharap Taehyung seketika muncul lagi dihadapannya dengan senyum paling manis, memeluk tubuh dan membelai suraiannya. Berkata seakan segalanya akan baik-baik saja.

Sayang, itulah kali terakhir Jungkook menangis. Ia harus menelan pahit-pahit bahwa Taehyung telah pergi meninggalkannya seorang diri.

Kim Taehyung mungkin saja telah selamanya. Ialah cinta pertama dan terakhir bagi Jeon Jungkook.

Terakhir. Satu kata yang dapat dimaknai dengan baik dan buruk. Namun bagi Jungkook, Taehyung adalah yang terakhir dan kekal selamanya.

Entah itu berarti baik atau tidak.
.