Langit cerah kota seoul mengatarkan Chanyeol ke tempat nongkrongnya akhir-akhir ini. Restaurant cina yang berada di pusat pertokoan. Chanyeol ke sana bukan untuk makan atau apa. Ia hanya ingin menemui Baekhyun. Seakan bersama Baekhyun saja sudah cukup. Ia tidak ingin yang lain.
Chanyeol melangkahkan kakinya dengan riang di trotoar yang lumayan sepi siang itu. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Baekhyun berlari di seberang jalan. Chanyeol membulatkan matanya terkejut. "baek?" gumamnya. Baekhyun tampak sedang menangis. Ia terus berlari sampai hilang dari pandangan Chanyeol.
Chanyeol segera mengikutinya. Ia ikut berlari mengejar Baekhyun yang sangat gesit. Berkali-kali ia memanggil nama Baekhyun namun Baekhyun tidak mendengarnya. Chanyeol kehilangan jejak Baekhyun. Ia berhenti di depan sebuah taman. Taman kecil yang sederhana. Dulunya hanya ada bangku, semak-semak, pepohonan juga danau kecil. Sekarang taman itu sudah memiliki beberapa fitu seperti toilet umum, halte dan beberapa permainan anak-anak, ayunan misalnya.
Meskipun sudah berubah, Chanyeol masih ingat dengan taman itu. Kakinya melangkah masuk ke sana. Seperti panggilan hati, ia terus melangkah masuk ke sana. Sekitar lima belas tahun yang lalu, ia pernah melakukan hal yang sama. Saat itu juga Chanyeol yakin Baekhyun pasti sedang berada di taman ini. Karena taman ini adalah tempat pelarian yang strategis.
. . .
Baekhyun menjatuhkan dirinya di bangku taman. Kedua tangannya tertangkup di wajah. Isakan-isaka masih terdengar dari bibirnya. "wae? Kenapa dia harus muncul lagi? tidak kah dia paham bahwa kami tidak membutuhkannya lagi?" gumam Baekhyun menangis histeris sendirian di sana. Ia kesal, marah, sakit hati, sedih, bercampur menjadi satu.
Sambil mengusap wajahnya untuk meredakan tangisan, Baekhyun menatap sekitarnya. Ia tadi hanya berlari saja, ia tidak tahu kalau ia akan berakhir di taman ini. Baekhyun masih sesegukkan. Lima belas tahun yang lalu ia juga berlari ke taman ini sambil menangis. Lalu seorang anak laki-laki datang untuk menghiburnya.
Baekhyun langsung ingat dengan sapu tangan yang lima belas tahun terakhir terus di di simpannya. Ia merogoh saku celana dan bajunya. Tetapi Baekhyun tidak menemukannya di sana. Baekhyun berasumsi sapu tangan itu pasti tertinggal di dalam tasnya. Sedangkan tasnya masih berada di restaurant. Baekhyun mendesah kecewa.
"uljima." Ucap seseorang mengulurkan sapu tangan. Baekhyun menatap sapu tangannya itu, sapu tangan yang selalu di simpannya. Baekhyun langsung mendongakkan kepala menatap orang yang mengulurkan tangan. Baekhyun merasakan dejavu.
Pandangan Baekhyun mungkin kabur, ia pun mengusap matanya dan ia melihat sosok Chanyeol berdiri tegap di hadapannya. Chanyeol yang mengulurkan sapu tangan untuknya terlihat sama persis dengan anak laki-laki bertubuh gempal dan berkacamata lima belas tahun yang lalu. Penampilan mereka begitu berbeda. Tetapi ada sesuatu yang berbisik pada Baekhyun bahwa Chanyeol dan cinta pertamanya lima belas tahun yang lalu adalah orang yang sama.
Baekhyun tertegun. Cahaya matahari begitu menyilaukan. Baekhyun pun bangkit dari kursinya. "kau.. siapa?.. sebenarnya, kau ini siapa?" gumam Baekhyun. Chanyeol tersenyum tipis.
. . .
"kau siapa?" tanya gadis itu. Chanyeol hanya tersenyum.
"aku bukan siapa-siapa, ini." Chanyeol kecil menyerahkan sapu tangan miliknya pada Baekhyun kecil. Baekhyun menerima sapu tangan Chanyeol. Chanyeol kembali mengulurkan tangannya. "bajumu akan kotor kalau kau terus-terusan duduk di situ, ayo." Baekhyun menerima uluran tangan Chanyeol untuk membantunya berdiri.
Chanyeol mengajaknya untuk duduk di bangku panjang. "jangan menangis.." ucap Chanyeol lagi mengusap-usap kepala Baekhyun. Ia melakukannya karena mendiang ibunya selalu melakukan hal yang sama saat ia menangis. Ibunya akan mengusap-usap kepala dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan untuknya. Hal itu akan membuat Chanyeol merasa baikan.
Baekhyun masih sedikit terisak. "ibuku pergi meninggalkanku.. ibuku jahat." Ucap Baekhyun kecil menunduk sedih.
"ibuku juga, bahkan ia pergi bersama ayahku." Ucap Chanyeol mengangguk. Baekhyun menatap Chanyeol bingung. "tapi bukan karena mereka jahat, karena pamanku yang jahat." Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya menatap polos Chanyeol. Usia Baekhyun baru menginjak enam tahun. Ia sama sekali tidak paham maksud perkataan anak laki-laki yang duduk di sampingnya ini.
"ibu ku pernah bilang, menangis tidak akan memperbaiki segala yang sudah terjadi, maka dari itu, jangan menangis." Ucap Chanyeol mengusap kepala Baekhyun sekali lagi. Baekhyun memejamkan matanya. Ia merasa nyaman saat Chanyeol mengusap-usap kepalanya.
"terima kasih." Gumam Baekhyun. Anak laki-laki dengan tubuh berisi itu hanya tersenyum.
"Baekhyun!" seru Hankyung entah muncul dari mana. Hankyung muda bersimbah keringat. Nafasnya memburu. Ia segera mendekati Baekhyun dan memeluknya. "kau di sini rupanya, papa mencemaskan mu." Ucap Hankyung dengan nada super lega.
Chanyeol hanya menatap diam Baekhyun yang di peluk oleh ayahnya. "ayo kita pulang." Ajak Hankyung pada Baekhyun. Baekhyun mengangguk mengiyakan, ia mengusap wajahnya dan menggandeng tangan Hankyung. Baekhyun sempat berbalik menatap Chanyeol yang hanya memandangnya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"papa, tunggu." Baekhyun menahan tangan Hankyung setengah jalan meninggalkan taman. Hankyung menatap putrinya bingung. "ada apa, sayang?" Baekhyun melepas pegangan tangannya pada Hankyung. Ia berbalik pada Chanyeol yang masih duduk di kursinya.
"ini milikmu, terima kasih sudah meminjamkannya." Ucap Baekhyun tersenyum manis menyerahkan sapu tangan putih dengan bordiran inisial di sisinya. Chanyeol menggeleng pelan.
"untukmu saja, berikan padaku saat kita bertemu lagi." ucap Chanyeol. Baekhyun tersenyum senang. Ia mengangguk setuju. "baiklah, akan ku simpan, sampai nanti!" seru Baekhyun sudah kembali riang.
Hankyung dari kejauhan tersenyum, ia kembali menggandeng tangan kecil putri tersayangnya. "apa dia temanmu?" tanya Hankyung. Baekhyun mengangguk. "iya, dan kami akan bertemu lagi." ucap Baekhyun dengan yakin.
Sayangnya, sejak hari itu Baekhyun tidak pernah lagi bertemu dengan anak laki-laki itu. Baekhyun melupaka satu hal yang penting dari sebuah pertemuan. Baekhyun lupa menanyakan siapa namanya dan bagaimana mereka akan bertemu kembali. Cinta pertama Baekhyun pupus begitu saja.
. . .
Tetapi cinta pertamanya tidak benar-benar pupus. Lima belas tahun sudah terlewati, kini laki-laki yang selalu di tunggunya muncul di hadapannya. Tanpa ia tahu, laki-laki itu sudah mengisi hari-harinya beberapa minggu terakhir.
Mata Baekhyun kembali berair. Baekhyun memukul dada Chanyeol cukup keras. "aw." Chanyeol mengaduh kesakitan. Baekhyun menatapnya marah. "Wae? Kenapa kau bersembunyi? Kemana saja kau selama ini?!" sembur Baekhyun dengan tangisannya. Chanyeol menatap diam Baekhyun.
"mian.." gumam Chanyeol.
"bodoh, lima belas tahun aku menunggumu!" bentak Baekhyun. Chanyeol hanya bisa meneguk ludah melihat ledakan amarah Baekhyun. Baekhyun bersiap membuka mulutnya untuk meluapkan kembali amarahnya. Chanyeol dengan cepat menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Ia memeluk Baekhyun lagi.
Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan tenang. "jangan menangis." Gumam Chanyeol mengusap kepala Baekhyun lembut. "tapi jika itu membuatmu merasa lebih baik maka lakukanlah." Lanjut Chanyeol. Baekhyun kembali menangis histeris. Ia menumpahkan semuanya di pundak Chanyeol. Di dalam dekapan yang hangat, Baekhyun merasa lebih baik.
. . .
Chanyeol kembali dengan membawa dua kaleng minuman. Yang satu untuknya yang satu untuk Baekhyun. Mantelnya sudah terselimut dengan rapi di punggung Baekhyun. Chanyeol mengulurkan tangannya memberikan kaleng minuman pada Baekhyun.
"untukmu."
"terima kasih." Balas Baekhyun langsung membuka dan meneguk minuman dingin. Rasanya seperti menyiram gurun pasir, tenggorokannya kering setelah menangis.
"aku melihatmu berlari ke arah taman ini." Ucap Chanyeol sebelum Baekhyun bertanya bagaimana ia bisa menemukan Baekhyun disini. Baekhyun menghela nafas.
"ini semua karena ibuku." Ucap Baekhyun menunduk. Chanyeol menengok wajah Baekhyun. "ibumu? Kali ini apa yang ia lakukan padamu?" tanya Chanyeol penasaran apa yang embuat Baekhyun semarah dan sesedih ini.
"dia datang ke restaurant."
"lalu?"
"aku mengusirnya tetapi papa malah membelanya." Ucap Baekhyun dengan raut kesal. Chanyeol mengangguk mengerti.
"lalu, kau menangis karena kau merasa kesal pada ibumu?" tanya Chanyeol. Baekhyun meliriknya sekilas kemudian menghela nafas. "entahlah, aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang kurasakan sekarang. Minggu-minggu ini sungguh terasa berat, ibuku, ayahku, dan sekarang.. kau."
"jadi aku adalah masalah?" tanya Chanyeol dengan nada tersinggung. Baekhyun menggeleng cepat. Wajahnya memerah. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "bukan begitu.. bukan.. maksudku.. ah, bagaimana mengatakannya." Ucap Baekhyun bingung sendiri. Chanyeol terkekeh pelan.
Ia mengusap lagi kepala Baekhyun. "arraseo, arra, aku hanya bercanda.. oh iya," Chanyeol meneggakkan punggunggnya. Baekhyun mendengus.
Chanyeol menunjuk sapu tangan miliknya yang sudah menguning itu di tangan Baekhyun. "kau berjanji akan mengembalikannya saat bertemu denganku tapi kenapa kau malah menjatuhkannya?"
"aku menjatuhkannya?" Chanyeol mengangguk. Baekhyun langsung mendecak. Menyesali kebodohannya.
"untung saja aku yang memungutnya kan?" ucap Chanyeol percaya diri. Baekhyun mengangguk. "kalau saja itu orang lain mungkin akan menganggapnya sampah, hah.."
Suasana menjadi hening. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. "terima kasih sudah menyimpannya." Chanyeol bersuara kembali. "ku pikir kau akan membuangnya." Lanjut Chanyeol.
Baekhyun menatap wajah Chanyeol yang menatap lurus ke depan. Chanyeol menoleh dan tatapan mereka saling bertemu. Semburat merah menghiasi pipi Baekhyun. "bagaimana bisa aku mebuangnya, aku masih harus mengembalikan ini pada pemiliknya." Ucap Baekhyun. Chanyeol menatap lurus mata bening Baekhyun. Walaupun sedikit bengkak karena menangis, mau di tatap seperti apapun mata itu tetap terlihat cantik. Chanyeol tersenyum samar.
"sekarang, kau akan mengembalikannya?" tanya Chanyeol. Baekhyun hanya diam. Chanyeol menunggu jawabannya.
"boleh aku menyimpannya lagi?" tanya Baekhyun dengan tatapan penuh harap. Chanyeol mengangguk pelan. "aku bisa memberimu yang baru." Ucap Chanyeol. Baekhyun menggeleng.
"aku suka yang ini." Ucap Baekhyun lagi. Chanyeol lagi-lagi tersenyum. Ia menggenggam tangan Baekhyun yang menggenggam sapu tangan miliknya. "sekarang itu milikmu." Ucap Chanyeol dengan senyuman hangat. Senyuman yang membuat hangat hati Baekhyun. Baekhyun merasa lebih baik sekarang.
. . .
Di tempat lain, pemuda berkulit kecoklatan tengah berkeliling-keliling mansionnya yang seluas stadium olahraga. Berkali-kali ia menyerukan kata 'ibu'. Sejak pulang setelah menemui noona bermata besar itu Kai langsung mencari ibunya, Heechul. Ia benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Remaja 19 tahun ini begitu penasaran. Ia ingin tahu apa benar sebelum ibunya menikah dengan ayahnya, ibunya itu pernah menikah dengan orang lain dan memiliki seorang putri.
"apa kalian melihat eomma?" tanya Kai pada salah satu pelayan. Pelayan wanita itu menggeleng pelan. "mungkin nyonya ada di kamarnya, permisi tuan." Ucap pelayan itu membungkuk hormat kemudian berlalu. Kai menghela nafas. Ia pun bergegas menuju kamar ibunya yang ada di lantai dua.
Kai mengetuk kamar ibunya. Tidak ada jawaban. "eomma, ini aku." Ucapnya lagi tetapi tidak ada jawaban. Kai pun mencoba membuka knop pintu dan ternyata kamar tidak terkunci. Kai langsung masuk namun ia tidak mendapati Heechul ada di sana. Hanya ruangan luas yang kosong.
"eomma," Kai menengok kamar mandi dalam yang tebuka, tidak ada siapa-siapa juga di sana. Kai menghela nafas lelah. Ia pun duduk di kursi tamu yang ada di kamar orang tuanya. Lelah berkeliling rumah yang sangat luas ini.
Kai mengedarkan pandangannya sekeliling rumah. Lalu pandangannya terhenti pada sebuah kotak kayu yang teronggok di atas meja tamu. Bentuk kotak itu aneh dan tampak tua. Karena penasaran Kai membukanya.
Matanya membulat begitu melihat isi kotak itu. Terdapat dua buku catatan bersampul kulit. Juga beberapa album foto. Otaknya mengatakan bahwa ini adalah barang rahasia ibunya, tidak sepatutnya ia menyentuh barang-barang ini tanpa seizing ibunya. Namun hati Kai berkata lain, hatinya memaksa Kai untuk membuka buku catatan itu sekarang juga. Batinnya mulai berbicara sendiri.
Mungkin kau akan mendapatkan jawaban dari sana. Bisik lubuk hati Kai. Kai menoleh kanan kiri, memastikan tidak ada siapa-siapa di sana dan pintu sudah di tutup rapat. Kai mengambil satu persatu buku catatan dengan inisial KKB di pojok kiri atasnya juga buku catatan bersampul biru langit kemudian menyembunyikannya di balik kaus.
Perlahan Kai keluar dari kamar ibunya. Ia langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya sendiri. Kai mengunci rapat pintu kamarnya. Di keluarkannya buku catatan itu dari balik kausnya. Bukunya sedikit berdebu dan memiliki bau khas buku lama.
"maafkan aku eomma, tapi aku sudah besar, aku harus tahu semuanya." Ucap Kai bermonolog duduk di pinggir kasurnya.
Kai membuka buku catatan pertama yang memiliki inisial KKB. Keningnya mengerenyit. Bukankah ibunya bernama Kim Heechul? Mengapa inisialnya KKB? Kai semakin penasaran, ia pun membuka halaman pertama.
Baru halaman pertama ia sudah di suguhi oleh selembar foto keluarga. Ayahnya dalam versi lebih muda, Suho kecil, dan seorang wanita cantik dengan rambut panjang. Suho kecil duduk di antara mereka berdua. Ketiganya tersenyum bahagia di foto itu. Sayangnya Kai tidak tahu siapa wanita yang ada di foto itu. Mungkin kah dia ibu kandung Suho? Istri pertama ayahnya?
Kai semakin bingung. Ia membuka sembarang halaman awal dari buku catatan itu.
Meskipun Siwon oppa tidak mengatakannya, aku tahu ia sedang jatuh cinta dengan pelayan baru itu, Kim Heechul. Terlihat dari tatapan mata dan perhatiannya..
Kai membulatkan matanya membaca kalimat itu. Seketika waktu terasa berhenti. "pelayan?" gumamnya. Kai membali halaman.
Hari ini aku dan Siwon oppa bertengkar..
Pertengkaran ini di sebabkan oleh ku sendiri, hari ini aku pergi ke kantor oppa dan mengatakan padanya agar jujur dengan perasaannya.. aku senang ia jatuh cinta dengan wanita lain, itu artinya ia akan menemukan pengganti diriku lebih cepat setelah aku pergi.. dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang.
Jantung Kai semakin berdegup kencang. Semakin di baca, diari miliki mantan istri ayahnya yang kemungkinan sudah tiada ini semakin misterius.
Aku mengatakan pada Dokter Changmin, bahwa aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit penyakit yang sudah lima tahun lebih bersarang di tubuhku ini, aku ingin menyerah tapi..
Dokter Changmin mengatakan aku harus tetap hidup, demi dirinya.. dia menyatakan cinta padaku. Jujur terhadap perasaanku, aku juga mencintainya. Hubungan kami, tiada yang tahu.
Kai menghela nafas berat. Di lihat dari tanggal di buku catatan itu, wanita berinisial KKB ini menulis curahat hatinya kurang lebih Sembilan belas yang tahun yang lalu. Sejauh ini, Kai bisa menyimpulkan bahwa buku catatan ini adalah diari milik mantan istri ayahnya, ibu kandung Suho. Wanita ini menderita penyakit parah dan juga berselingkuh dengan dokter yang merawatnya. Kai tidak habis pikir. Kai kembali melanjutkan penelusurannya.
Tanganku bergetar, aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih.. hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang mengandung adik dari Suho..
Jantung Kai kembali berhenti berdegup. Ia membeku membaca kalimat itu. Mendadak ia merasakan getaran di tubuhnya. Wanita ini mengatakan ia sedang mengandung. Tanggal yang tertera sekitar 19 tahun yang lalu. Tepatnya delapan bulan sebelum tanggal lahir dirinya. Kai memberanikan diri untuk membaca kelanjutannya.
… tetapi, aku tidak bisa mengatakan ini pada Siwon oppa sekarang.. aku hanya mengatakannya pada Heechul, pelayanku yang sudah seperti kakakku sendiri.. Heechul eonni mendesakku untuk mengatakannya pada Siwon oppa.. aku tidak bisa, tidak bisa, karena bayi ini bukan bayinya.. bayi ini buah cintaku bersama chanmin.. Siwon oppa maafkan aku..
Kai langsung menutup buku itu. amarah menyelimuti dirinya. Setelah Sembilan belas tahun ia hidup dengan tenang baru sekarang ia mengetahui kenyataan pahit. Kenyataan yang memusingkan. Terlalu rumit untuk di jelaskan. Kai bangkit dari duduknya dan bergegas pergi keluar kamar.
. . .
Tanpa permisi, Kai masuk menerobos kamar Suho. Ia mendatangi Suho yang ada di ruangan pribadinya di bawah lantai kamar. Ruangan kecil yang mirip dengan ruang kerja pribadi. Sekelilingnya terdapat banyak rak buku juga rak pajangan. Di sisi kana nada televisi dengan layar yang besar juga beberapa sofa di sana.
Kai melangkah masuk. Keningnya berkerut, langkahnya menghentak. Kai langsung membanting buku harian yang di bacanya tadi di meja tempat Suho duduk sekarang.
Suho dengan malas melepas earphonenya. Ia mendelik Kai tidak suka. "bisa kah kau sopan sedikit?" sindir Suho. Namun Kai tidak peduli. Ia menunjuk buku harian yang di bantingnya tadi.
"kau pasti tau soal ini." Ucapnya dengan emosi yang tertahan. Suho mengerenyitkan keningnya menatap buku bersampul kulit dengan inisial KKB itu. Suho mengambilnya dan terkejut ketika melihat isi dari buku itu. buku itu milik ibunya. Ia tidak pernah tahu ibunya menulis buku harian seperti ini.
"darimana kau mendapatkan ini?" Suho menenteng buku itu. Kai mendecak. "kau tidak perlu tahu aku mendapatkannya darimana, yang terpenting adalah kau pasti tahu itu milik siapa kan? Siapa? Katakan padaku! Aku ingin penjelasan." Tantang Kai.
Suho menarik nafas. Ia masih tidak percaya Kai bisa menemukan barang penting ini. "apa yang ingin kau tahu?" tanya Suho dengan nada dingin seperti biasa.
"eomma.. eomma itu bukan ibu kandung kita kan?" Suho mengangguk. Kai mengepalkan tangan. "lalu appa.. dia juga bukan ayah kandungku?" kali ini Suho diam. ia menatap lekat Kai.
"apa yang kau katakan?" tanya Suho tidak mengerti. Kai mendengus. ia menunjuk buku harian di tangan Suho. "wanita yang menulis buku itu yang mengatakannya, dia menulis itu di sana, dia berselingkuh dari appa!" Suho berdiri menghadap Kai.
"jangan menyebut ibu kita seperti itu! ibu tidak mungkin melakukan hal seperti itu! dia hanya korban! Appa lah yang berselingkuh! Dia menikahi pembantu itu setelah kematian ibu!" emosi Suho memuncak. Ia menatap nyalang Kai.
Kai menggeleng. "wanita itu yang berselingkuh, aku adalah bukti perselingkuhan mereka, Heechul eomma tahu itu, wanita itu menuliskannya di sana bahwa ia meminta Heechul eomma merahasiakan kehamilannya karena aku adalah anak haramnya!"
Plak!
Kepala Kai terputar ke samping. Suho menamparnya cukup keras. Kai langsung terdiam. Nafas Suho menderu. Dadanya naik turun menahan emosi. "berhenti menyebut ibu dengan sebutan 'wanita itu' dia bahkan rela menukar nyawanya hanya untuk dirimu, kau.. anak yang tidak tahu di untung." Ucap Suho pelan penuh penekanan.
Kai menatap kakaknya tidak suka. "pergi dari sini." Usir Suho menunjuk pintu. "baik, aku akan pergi, tetapi kau harus membaca kebenaran yang ada di buku itu." ucap Kai sebelum ia berbalik meninggalkan ruangan Suho.
Blam!
Pintu di banting cukup keras oleh Kai. Suho terduduk kembali di kursinya. Ia mengusap wajahnya dan mendesah lelah. Delapan belas tahun ia menahan emosi dan sekarang terluapkan. Suho tidak habis pikir dengan adiknya yang satu itu. tidak cukupkah dia membuat onar di sekolah? haruskah membuar onar juga di rumah?
"aish!" umpat Suho. Matanya melirik ke arah buku harian milik ibunya. KKB, artinya Kim Ki Bum, nama lengkap wanita yang pernah di panggilnya dengan sebutan ibu, ibu yang paling di cintainya juga yang paling membuatnya sedih. Mendadak ia merindukan ibunya. Tangan Suho terulur untuk mengambil buku harian itu. di usapnya pelan sampul kulit yang sedikit berdebu.
Ia tidak pernah tahu ibunya menulis buku harian. Karena ibunya selalu tampak tenang dan sabar. Suho sedikit bersyukur Kai menemukan buku harian ini. Dengan begitu, Suho bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian ibunya. Bisa jadi apa yang di katakan oleh Kai tadi benar adanya. Ayahnya selalu mengelak saat ia bertanya apa yang terjadi.
"eomma, bogoshipta." Gumamnya mengusap buku itu.
. . .
Jarum jam sudah menunjukkan pukul Sembilan. Mansion tampak sepi. Dan memang selalu sepi. Heechul baru kembali ke rumah malam itu. ia melangkah gontai menuju kamar. Ia mencium sedikit bau tubuhnya berharap bau alcohol tidak terlalu keciuman. Karena Siwon akan marah mengetahuinya minum-minum. Heechul bersyukur ia bisa menahan diri karena hanya minum beberapa gelas. Tidak sampai habis satu botol.
Heechul menengok pintu kamarnya dengan bingung. Pintu kamarnya renggang. Seingatnya sebelum pergi ia sudah menutup rapat. "mungkin Siwon sudah pulang." Gumamnya masuk ke kamar. Tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Kening Heechul mengkerut. Di pandangnya sekeliling.
Matanya membulat begitu melihat kotak rahasianya berada di atas kursi. Ia langsung berlari memeluk kotak itu dan mengecek isinya. Heechul semakin panik begitu mengetahui buku harian milik Kibum menghilang. Heechul langsung berkeliling kamarnya yang luas untuk mencari.
Barang-barang terhambur, berserakan. Berantakan seperti penampilan Heechul sekarang. Jantung Heechul berdegup kencang. Ia ketakutan. Ia takut buku harian itu berpindah tangan. Seseorang di rumah ini akan membacanya maka semua akan terungkap. Heechul tidak ingin itu terjadi, janjinya pada Kibum akan patah jika hal itu terjadi.
"Ini gawat." Gumam Heechul.
. . .
To Be Continue
. . .
