:: The Omega ::

.

.

.

.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Aku duduk bersandar dengan nyaman di dadanya selagi dia membelai perut besarku, menikmati sisa hari. Mendongak untuk melihat rupa luar biasanya lalu tersenyum ketika dia juga tengah melihatku.

"Teman-teman ingin bertemu denganmu." Dia memberitahu.

Tidak mungkin, terakhir kali aku berkumpul dengan teman-temanku dengan perut membuncit seperti ini aku hanya mendapat godaan yang menjengkelkan. Apalagi tempo hari lalu aku bertemu dengan Yixing dan Junmyeon, jika pertemuan kami normal itu tak masalah namun ini? Demi tuhan aku tak bisa bertemu dengan mereka!

"Kurasa tidak, mereka harus mendapat nilai bagus untuk lulus, bukan?"

"Mereka akan berkunjung untuk menjengukmu."

Aku mendesah pasrah, bergerak memeluk pinggangnya lalu menenggelamkan wajahku di dadanya. "Kapan mereka berkunjung?" Tanyaku teredam dadanya.

Kurasakan dia bergeser sebelum menjawabku. "Sore ini, jadi kita masih punya waktu." Aku menatapnya tak mengerti.

Dia menyeringai lalu melakukan sesuatu yang membuatku memerah. Dia mencengkram kejantanannya dari balik celana pendeknya, oh aku tahu sekarang alasannya menggunakan celana itu.

"Kau tahu, kemarin kau tak menggunakan pengaman dan parahnya sex in public?" Aku duduk dengan tegak, menatapnya skeptis. "Kandunganku? I'm sorry Mr. Park i can't do that"

Aku tersenyum, menyingkirkan tangan besarnya dari selangkangan yang sudah menggembung itu, mengambil alih kejantanannya lalu meremasnya. Menurunkan celana pendeknya, aku menggenggam batang penisnya.

Aku kesulitan untuk membungkuk dan dia tahu itu, dia bergerak ke tepi tempat tidur, duduk di sana dan aku duduk di lantai tanpa menyakiti perut dan bayiku. Menggenggam kejantanan perkasanya dengan kedua tanganku, meremasnya dengan lembut sebelum mengarahkannya pada mulutku untuk ku lahap.

Menjulurkan lidah aku mempermainkan kepala penisnya, terus meremas batang kerasnya hingga pada bola kembarnya. Dia menggeram saat aku melumat kepala penisnya seperti lolipop.

"Hmm sejak kapan kau pandai memanjakannya seperti ini, sayang?" Dia memuji. Aku tersenyum sebelum melahap seluruh batang kerasnya tak peduli aku tersedak karenanya.

"Perlahan sayang, itu milikmu."

Memejamkan mata menikmati betapa penuh mulutku diisi oleh miliknya, menghisap dan meremas sisa yang tak bisa ku masukan. Aku bangga pada diriku sendiri, aku bisa memuaskannya tanpa membuatnya membenamkan miliknya pada lubangku. Kupikir?

Plop!

Aku mengeluarkan batang penisnya dan tak lama setelah itu dia menyemburkan cairannya, mengenai wajahku mengalir ke sudur bibirku dan aku menjilatnya.

"Kau jalangku." Dia meraih wajahku, tersenyum puas lalu mengusap pipiku.

.

.

.

"Kau kaya dan tempatmu sangat nyaman, jadi bagaimana jika kita memulai untuk melupakan tepi sungai dan pindah ke sini?"

Jaemin memakan camilan keju dengan kaki disilangkan di atas meja, seolah dia adalah tuan rumah. Jika aku jadi Chanyeol aku mungkin saja akan menendang bocah itu keluar dari rumah.

"Hai Baek, perutmu keren." Jaemin mengacungkan ibu jari penuh bumbu keju itu.

Aku sudah akan meraih botol soda di atas meja dan melemparkannya pada Jaemin jika saja Yixing tak bersuara. "Uhm jadi kau tinggal di rumah Chanyeol?" Tanya Yixing.

"Oh? Tidak aku hanya menginap." Jawabku.

Aku menoleh pada Tao yang sedari tadi menatap perutku. "Ekhem!" Aku berdehem. "Ada yang ingin kau katakan?" Tanyaku pada Tao.

"Apa... Apa perutmu sakit?" Tanyanya.

"Oh? Tidak," Jawabku lalu mengusap perutku. "Kenapa kau bertanya?"

"Aku pikir itu terlihat menyakitkan," Dia mengusap tangannya terlihat gemas pada perutku. "Boleh aku menyentuhnya?"

Aku terkekeh lalu mengangguk. "Tentu."

Tao terlihat bersemangat, dia menghampiriku dan mendorong Jaemin agar memberi sedikit tempat untuk bokongnya. Jaemin menggerutu karena ulah lucu Tao. "Santai bung, kau seperti tak pernah melihat orang hamil saja."

Tao mengulurkan tangannya, bergerak untuk menyentuh perutku. Tangannya bergetar, itu terlihat manis betapa gugupnya Tao hanya karena akan menyentuh perutku.

Aku menarik tangannya, mempertemukan telapak tangan Tao pada perutku. Dia tersentak, mata bak panda manisnya membola lucu. "Wow!" Dia berseru.

"Ini luar biasa!"

Yeah teman-teman tak mengejekku lagi ternyata. "Ngomong-ngomong," Aku menjeda aktifitas Jaemin dan camilannya, Tao yang terkagum-kagum dengan perutku, Yixing dan Chanyeol yang tengah mengobrolkan sesuatu. "Di mana yang lain?"

Hanya ada Jaemin, Tao, dan Yixing.

"Kau tahu Mark, bukan?" Yixing bergeser agar lebih dekat denganku, wajah seriusnya ketika tengah menceritakan seseorang kembali. "Aku tidak tahu bagaimana bisa Haechan berpacaran dengan Mark."

"Ya ya ya, dan aku juga tidak tahu bagaimana Zhang Yixing bisa berpacaran dengan Kim Jun-"

"Apa masalahmu Jaemin?"

"Aku? Bagaimana bisa kau menceritakan orang lain saat hubunganmu tak ada bedanya dengan-"

"Aku tidak!"

"Hei, hei, tenang teman-teman." Chanyeol melerai. Kau tahu, biasanya Jongdae yang akan melakukan itu.

Oke kembali pada topik yang tengah dibicarakan. Hell? Aku tak tahu apapun! Oh kecuali Yixing, aku tahu karena tempo hari lalu aku bertemunya di mall bersama Junmyeon, itu tentunya adalah kencan karena Junmyeon membelikannya beberapa pakaian.

"Bagaimana bisa kalian sejahat ini padaku? Aku tak diberi informasi apapun!" Protesku.

Aku melirik Chanyeol, aku tak berharap dia akan menceritakan hal-hal seperti ini, dia terlalu tidak peduli dengan hal seperti ini. Tapi aku peduli, oh tuhan aku tak ingin ketinggalan berita tentang teman-teman! Mengingat kami akan segera lulus dan memiliki hidup baru membuatku benar-benar akan menyesali ini.

"Aku, aku!" Tao mengangkat tangannya mengintrupsi. "Aku dekat dengan gadis kelas dua apa kalian tahu?"

"Hubunganmu dengan Yiyang itu tak menarik." Jawab Jaemin membuat Tao cemberut.

"Hei itu tidak adil!" Protes Tao.

"Benarkah itu Tao?" Aku bertanya penasaran.

Tao ingin menjadi perhatian dan bahan perbincangan di sekolah tapi dirinya tak pernah sekalipun mendapatkannya.

"Ya! Yiyang dan aku dekat!" Dia menjawab senang.

.

.

.

Sore menjelang lebih gelap, Teman-teman yang lain; Jongdae, Haechan, dan Minseok datang membawa bingkisan untukku. Mereka beralasan untuk keterlambatan mereka karena bingung membelikan hadiah untukku.

Ini seperti pertemuan terakhir sebelum mereka akan disibukan dengan universitas yang akan mereka pilih. Kami membicarakan hari libur yang sebentar lagi datang seusai ujian,

membicarakan keluh kesah betapa sulitnya ujian dan menggoda satu sama lain, seperti biasanya kami ketika berkumpul.

Ini menyenangkan.

Kami berada di ruang santai, berbaring di karpet beludru lembut sembari menonton acara televisi, ah drama tepatnya.

Aku bersandar sembari memeluk lengan kokoh Chanyeol, Haechan dan Jaemin menikmati camilan mereka, Minseok dan Yixing mereka tengah berbicara pelan berdua sementara Tao berada di sampingku dan Jongdae di samping Chanyeol.

Beberapa saat kemudian bunyi gaduh camilan beradu dengan mulut berisik Jaemin dan Haechan berhenti, hanya ada bunyi televisi. Aku mengerjap, menoleh pada Tao di sampingku dan aku melihat pemuda jangkung itu tengah terlelap.

Apa mereka semua tertidur?

Aku menyentuh lengan Chanyeol dan dia menoleh padaku, tersenyum lalu mengecup bibirku dengan lembut. "Ada apa sayang?" Dia bertanya.

"Apa mereka akan menginap?" Aku bertanya dengan berbisik hati-hati takut mereka terbangun.

"Tidak," Dia mengedarkan pandangannya melihat teman-teman. "Tapi jika mereka mau mereka bisa tidur di sini."

Jongdae di sampingnya bergerak, duduk bersila dengan tegak lalu protes. "Hei bukankah kau orang kaya, di atas ada kamar lain."

"Kau tahu, itu ayahku." Chanyeol berkata acuh.

Dia bersandar pada kaki sofa, merentangkan tangannya untuk meraihku lalu dipeluknya dengan lembut. "Pulanglah, ayahku akan pulang sebentar lagi." Dia berkata.

Chanyeol bersikap agak kasar pada teman-teman, dia mengusir mereka. Bahkan Chanyeol menarik masing-masing kaki Jaemin dan Haechan agar mereka bangun. Aku hanya tertawa melihat itu, itu menghiburku ngomong-ngomong.

Jongdae duduk di sampingku dan menonton apa yang Alpha-ku itu lakukan pada teman-teman.

"Hei kalian menyerah saja!" Teriakku lalu terkikik geli.

Aku tidak tahu kenapa mereka begitu memaksa untuk menginap di sini. Lihat Jaemin dan Haechan yang memeluk kaki panjang Chanyeol, Yixing dan Minseok yang berusaha keras mendapat jawaban 'Ya' dari Chanyeol, mereka semua agak janggal kau tahu.

"Wow Chanyeol ereksi."

Aku menatap Jongdae di sampingku dengan wajah tidak mengerti. "Hah?"

"Kau tahu kenapa Chanyeol bersikeras mengusir kami?" Jongdae bertanya.

"Karena kalian mengganggu..." Jawabku defensif.

Aku mulai memperhatikan celana Chanyeol, aku memerah ketika melihat gundukan besar di sana. Oh tidak!

Aku berdiri sedikit kepayahan dari sofa, berjalan terburu sembari memegang perut besarku menghampiri Chanyeol. Aku berusaha melepaskan cengkraman Jaemin dan Haechan pada kaki Chanyeol, aku tak ingin mereka melihatnya!

"Hei kalian pulanglah!" Aku berhasil melepaskan tangan Jaemin namun dia memeluk kaki Chanyeol dan semakin dekat dengan gundukan itu.

"Na Jaemin!" Jeritku saat Jaemin hampir menyentuhnya.

Mereka menatapku yang bernafas tak beraturan dengan wajah kesal pada Jaemin, aku menyadari sesuatu ketika Chanyeol menoleh dan menatapku. Aku memerah malu. "A-aku bilang pulang saja dan datang lagi besok." Kataku memecah keheningan yang membuatku ingin kabur.

Jaemin melepaskan pelukannya pada kaki Chanyeol dan sekarang tepat di depan selangkangan Chanyeol. Sebelum Jaemin melihatnya aku dengan cepat menutup matanya dan menariknya menjauh.

Dan semakin membuat mereka curiga.

Aku rasanya ingin memukul Chanyeol karena tak mengerti juga, seharusnya dia cepat menutup itu setelah melihatku menjauhkan Jaemin!

"Hati-hati sayang jangan bergerak seheboh itu." Dia mengingatkanku.

Aw sialnya setelah mendengar itu aku jadi merasa sedikit sakit di perutku.

"Chan!" Cicitku sembari melirik tajam pada selangkangannya.

Chanyeol dengan idiotnya menatap selangkangannya dan membuat yang lain otomatis melihat ke sana.

Jongdae bersiul, Tao mengerjap polos, Yixing menepuk keningnya, Minseok menggeleng, dan Haechan melotot. Oh kau tahu aku masih menutup mata Jaemin.

"Park Chanyeol kau memalukan!" Jeritku lalu berjalan cepat meninggalkan semua orang.

Aku terkadang kesal pada hormon Chanyeol yang melonjak saat kehamilanku, namun kau tahu aku juga terangsang.

.

.

.

.

Udah? Mau lagi? Udah aja lah ya masa banyakan extra sih wkwk :v

Eits! ada last extra kok, saya up jam 12 teng pas pisiway ultah begimandose? ah siapa yang baca jam segitu? mbak kunti yang fujo kali yang baca :'vgak jadi apa jadi up jam segitu? :')