Painful Hidden
Disclaimer : Digimon milik Akiyoshi Hongo – Toei Animation
~Mimi's PoV~
Astagaaaa! Apa yang kulakukan? Hampir saja aku membawa Taichi-kun ke daerah rumahku, dan lagi dia itu… kenapa harus mencium pipiku segala, siih? Yamato-kun juga memelukku begitu, bikin orang deg-degan aja! Tapi…
Aku senang.
Ini pertama kalinya aku merasakan mempunyai sahabat seperti mereka, mudah-mudahan aku juga bisa dekat dengan Sora. Alangkah senangnya kalau punya sahabat cewek, apalagi secantik Sora.
"Hihihihi..."
"Mimi…"
"Ah… Mama," panggilku yang melihat mamaku berada didepan gerbang rumahku yang bisa dibilang cukup... eerrr… mewah.
"Astaga Mimi, ke mana saja kamu? Sudah jam berapa ini? Cepat masuk dan langsung ganti pakaianmu, untung saja Papa belum datang."
Mamaku memang sangat mengkhawatirkan aku. Ya, habis mau bagaimana lagi? Aku terpaksa pulang terlambat karena aku sangat khawatir pada Yamato, aku tidak bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti itu.
Aku memasuki kamarku dan disitu sudah ada adikku yang sedang bermain barbie-nya dikasurku.
"Hai Izumi," sapaku sambil menggantungkan tas dibelakang pintu.
"Onee-chan kenapa baru pulang? Untung Papa belum pulang, aku takut sekali kalau Onee-chan sudah dimarahi Papa."
"Hihihihi… Papa marah karena sayang sama Nee-chan," jawabku sambil mengelus kepalanya.
"Tapi Papa tidak pernah marah padaku, berarti Papa tidak sayang padaku dong?" Polos sekali, ya? Adikku ini memang masih kelas 3 SD sih, jadi dia belum terlalu mengerti apa-apa.
"Bukan begitu, Nee-chan kan kadang-kadang pulang larut. Nah, perempuan itu tidak baik pulang larut, makanya ayah memarahi Nee-chan dengan maksud baik," jawabku yang akhirnya jongkok agar menyamai tinggi badannya.
"Nah, kalau sudah besar nanti, Izumi jangan seperti Nee-chan yah, harus patuh pada Mama dan Papa."
Adikku tersenyum lebar saat mendengar penjelasanku, dia memang sangat lucu, mungkin agak mirip denganku, hihihi. Ngomong-ngomong soal lucu, aku lupa memberi makan Pii-chan, aku berlari ke dapur menuju kulkas dan mengambil 2 biji-bijian untuk Pii-chan lalu memberinya makan, melihat Pii-chan sangat lahap memakan biji-bijian itu… aku jadi merasa lapar.
~End of Mimi's PoV~
o-o-o-o-o
~Yamato's P.o.V~
"STRAIGHT! HAHAHA aku menang lagiii!"
"Cih! Menyedihkan sekali aku kalah dengan anak kecil," desis Taichi yang wajahnya sudah cemong dengan bedak.
"Hahaha, kau ini memang payah kalau main kartu," ejekku sambil melumeri wajah Taichi dengan memakai bedak.
"Sudah! Aku tidak mau main lagi, aku selalu kalah."
Malam itu aku mengira akan menjadi malam kelabu, namun kenyataannya sekarang malah menjadi malam yang sangat ceria. Mungkin berkat Taichi, aku dan Takeru bisa tertawa seperti ini.
Saat Takeru dan aku sedang asyik menertawakan wajah Taichi yang saat ini abstrak bentuknya, HP-ku bergetar diatas meja, kuraih HP itu dan kulihat ada pesan masuk. Siapa, ya?
Ketika aku buka… mataku terbelalak, aku tidak menyangka saja dia mengirimku pesan duluan, padahal aku janji akan mengabarinya, langsung saja kubalas. Kuketik balasan tersebut dengan cepat, secepat anak-anak SMA jaman sekarang.
'Yamato-kun… bagaimana sekarang perasaanmu?'
'Aku sudah jauh lebih baik, terima kasih, yah, Mimi?'
'Sama-sama. Apa Taichi sudah sampai di rumahmu?'
'Taichi? Kok kau bisa tahu Taichi disini?'
'Tadi aku memintanya agar menemanimu malam ini, aku takut terjadi sesuatu padamu, maaf yah sudah lancang.'
Aku terdiam sejenak membaca pesan terakhir itu, Taichi datang kesini karena diminta oleh Mimi? Jadi sebelum kesini dia bertemu Mimi? Ah! Perasaan kesal apa lagi ini? Apa ini yang dinamakan… cemburu?
'Tidak apa-apa, terima kasih sudah khawatir padaku.'
Itulah yang kubalas pesan dari Mimi, namun sudah berapa menit ini dia tidak juga membalas pesanku, sampai akhirnya aku mengirimnya sekali lagi.
'Hei, kau sudah tidur yah?'
Tidak juga dibalas, ya sudahlah… mungkin dia sudah tidur, aku juga tidak mau mengganggunya tidur, aku tidak mau kalau besok dia datang ke sekolah dengan wajah yang kurang tidur. Hem… berlebihan, ya, aku ini?
"Yamato, kau mengirim mail pada siapa, sih?" tanya Taichi sambil mengelap mukanya memakai handuk yang dibasahi oleh Takeru.
"Mimi," jawabku dengan singkat sambil mengambil gitar dan memainkannya.
Bisa kurasakan Taichi menjadi diam sejenak ketika aku jawab nama Mimi dan aku mempunyai firasat… firasat yang sangat bodoh namun sepertinya kali ini instingku… tidak salah!
"Takeru, ke sini sebentar." Kuperhatikan Taichi sedang memasang wajah serius pada Takeru. Oh tidak… jangan-jangan…
"Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Hikari?"
Benar! Dugaanku benar, Taichi ingin menginterogasi Takeru tentang Hikari, namun… heii, sekarang bukan waktu yang tepat, apa dia tidak memikirkan kondisi Takeru yang akan berpisah denganku dan ayahnya?
"Aku?"
Kulihat Takeru duduk di sebelah Taichi, dan tiba-tiba dia memasang wajah serius juga? Hancurlah semuanya…
"Aku dan Hikari berpacaran."
Jawaban yang bagus, Takeru!
…
…
Keheningan tercipta di kamarku yang sempit ini, aku yang tadinya bermain gitar kini menghentikan petikan gitarku dan meletakkan gitar tersebut di kursi, lalu kuhampiri mereka berdua.
"Sejak kapan?"
Itulah kata yang keluar dari mulut Taichi.
"Sudah sebulan."
Dan Takeru dengan cerdasnya menjawab dengan sangat jujur, kenapa dia tidak mengaku baru pacaran seminggu atau kemarin saja? Kenapa harus jujur?
"Kenapa salah satu dari kalian tidak ada yang memberi tahuku?"
Kini kudengar nada Taichi berubah menjadi datar, langsung saja kupotong…
"Taichi, mereka sudah besar, jangan terlalu ikut campur urusan mereka."
"Apa kau bilang? Adikku itu masih kelas 2 SMP, Yamato! Mereka masih terlalu dini untuk menjalin hubungan seperti itu!"
Aku tidak mengerti, kenapa Taichi semarah ini kalau menyangkut tentang Hikari sih? Dasar sister complex!
"Mereka tidak terlalu dini, umur mereka sudah 14 tahun, sudah cukup untuk mengenal hal seperti itu," jawabku dengan santai.
"Kau tidak mengerti karena adikmu itu laki-laki! Coba kalau Takeru itu perempuan, pasti kau akan sama khawatirnya sepertiku," ucap Taichi yang makin terdengar menekan.
"Kau terlalu berlebihan," ucapku yang mulai terpancing oleh omongan Taichi, entah kenapa Taichi menjadi begitu menyebalkan.
"Berlebihan? Heh… bukankah kau yang berlebihan? Berlagak sok cool didepan semua orang, tapi menunjukkan sisi lemahmu pada wanita yang baru saja kau kenal."
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Sora? Kau menggantungkan perasaannya dan sekarang kau ingin Mimi menjadi korban ketampananmu itu? Hah?"
"Taichi! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!"
Di saat kami beradu mulut, aku melihat Takeru yang perlahan meninggalkan kamarku, bukan karena dia takut, tapi dia mengerti, inti dari permasalahan ini adalah aku dan Taichi.
"Tidak mengerti? Biar kuberi tahu agar kau mengerti! Aku tahu bahwa kau tahu Sora menyukaimu, dan kau! Kau menggantungkannya tanpa memberi kepastian, kan?"
"Tidak! Kau salah paham, aku tidak pernah menyukai Sora di jalur itu, kau berpikiran seperti itu karena kau menyukai Sora, kan?" tebakku langsung sambil membentak Taichi.
"Ya, aku menyukainya! Kau sudah merebut Sora dariku, dan kini adikmu merebut Hikari dariku! Apalagi yang mau kau rebut dariku, Yamato? Apa Mimi juga akan kau rebut dari…"
"Mimi?" potongku yang terkejut mendengar kata Mimi terucap di mulut Taichi… sejak kapan dia peduli akan Mimi, tentang Taichi menyukai Sora aku memang tahu, tapi… ini apa hubungannya dengan Mimi?
"Ah, sudahlah! Lupakan saja" sewot Taichi.
"Tunggu dulu… Taichi, kenapa Mimi? Jelaskan padaku!" tanyaku yang sangat penasaran akan jawabannya.
Taichi terdiam, bisa kulihat wajahnya sangat kesal saat itu.
"Kutanyakan satu hal padamu Yamato… apa kau menyukai Mimi?"
A…
Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab iya atau tidak. Kalau aku menjawab iya, bagaimana reaksinya? Kalau aku menjawab tidak, aku tidak mau tidak jujur pada sahabatku sendiri.
Maka dari itu…
Apapun resikonya, aku akan menjawabnya dengan jujur.
"Ya, aku menyukainya."
BRUUKK!
Tubuhku tiba-tiba terdorong ke bawah dan kulihat Taichi berada di atasku sambil mencengkeram bajuku dengan wajahnya yang kesal.
"Ke mana Yamato yang kukenal? Kenapa kau bisa menyukai wanita yang baru saja kau kenal? Bukankah kau tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama?"
"Aku tidak tahu… semua terjadi begitu alami…" jawabku dengan tenang.
"Alami apa? Bisa-bisanya kau membeberkan masalah keluargamu pada Mimi! Selalu bersamanya, bahkan Mimi mengkhawatirkanmu! Bahkan dia sampai memintaku untuk menemanimu malam ini!"
"Kalau begitu kenapa kau menurutinya?" tanyaku dengan datar.
Ya, itu dia yang ingin aku tahu… kenapa Taichi menuruti permintaan Mimi? Dan juga, walaupun awalnya dia protes tentang Sora, tapi kenapa makin ke sini dia malah protes tentang Mimi?
Lihat, kan? Taichi tidak bisa menjawab pertanyaanku.
"Apa kau juga mulai menyukainya?" tebakku sambil menaikkan tubuhku dan menyingkirkan tangan Taichi yang mencengkeram bajuku.
Bisa kulihat wajah Taichi yang kebingungan, apa yang sedang dibingungkannya? Jelas-jelas dia menyukai Sora, seharusnya dia bisa langsung menjawab 'tidak', kan?
"Aku mau tidur." Itulah jawaban yang keluar dari mulut Taichi.
Dia tidak mau menjawab? Ya, sudahlah, aku juga tidak mau memaksanya untuk mengaku. Kuambil selimutku dan kututupi seluruh badanku, aku dan Taichi tidur dengan saling membelakangi satu sama lain. Ehm, tolong jangan salah paham. Taichi itu tidur di bawah memakai kasur tambahan.
Keesokan paginya, ketika aku membuka mataku, aku sudah tidak melihat sosok Taichi lagi di lantai, dan begitu aku keluar, tidak ada siapa-siapa di luar, bahkan Takeru pun tidak ada. Hhh… sendiri itu memang tidak enak! Aku jadi malas sarapan! Lebih baik aku langsung siap-siap saja ke sekolah.
Aku berjalan bersama kekasihku, ehm.. gitar maksudku. Sudah kuputuskan untuk tidak mengikuti pelajaran pertama, aku sedang tidak ingin melihat Taichi maupun Sora. Kenapa Sora bisa dibawa-bawa? Karena percakapan tadi malam, apalagi aku akan tahu sekali kalau Sora pasti akan menanyai kenapa suasana hatiku dan Taichi tidak bagus. Aku malas menjawabnya, makanya sekarang aku menuju ke…
Ruang musik.
Ketika kujelajahi lorong saat itu, aku mendengar suara alunan piano yang sangat indah, namun terdengar agak memilukan. Dan… ada yang bernyanyi! Siapa? Suaranya sangat merdu! Eh… tapi sepertinya aku pernah mendengar suara ini, langsung saja aku berlari dan membuka pintu geser ruang musik, dan ternyata yang sedang memainkan piano itu adalah…
"Mimi?"
"Ah… Ohayou, Yamato-kun," salam Mimi dengan senyumnya.
Pagi ini dia terlihat sangat ceria dan tumben sekali dia memakai sweater, tapi jadi terlihat manis karena dia sangat modis.
"Ohayou. Kau bisa bermain piano?" tanyaku sambil menghampirinya.
"Ya, sedikit-sedikit, dulu aku pernah diajari oleh sepupuku," jawabnya sambil merenggangkan tangannya, sepertinya dia merasa pegal.
"Lagu apa tadi?" tanyaku penasaran.
"'Tomadoi'," jawabnya sambil tersenyum padaku.
"Bisa kau mainkan sekali lagi?" pintaku sambil membuka case gitar dan bersiap menyamakan nadanya.
"Oke!" jawab Mimi dengan ceria, aku sangat suka kalau dia menjawab dengan cara seperti itu.
~End of Yamato's P.o.V~
o-o-o-o-o
~Sora's P.o.V~
"Taichi, ke mana Yamato?" tanyaku sambil mencolek lengannya.
"Tidak tahu," jawab Taichi seadanya.
"Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, mau bantu aku mencarinya?" tanyaku pada laki-laki yang sepertinya sedang bad mood ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Taichi sampai-sampai dia bisa bad mood seperti ini.
"Yaah, ayo."
Dan lagi, Taichi sedikit berubah, dia tidak pernah menjawabku dengan nada malas-malasan seperti itu, sebenarnya ada apa dengannya?
Aku mencari Yamato bersama Taichi ke mana-mana, sampai pada akhirnya kami mendengar suara dentingan piano dan petikan gitar.
Indah…
Sangat indah.
Aku dan Taichi saling tatap dan setuju untuk memeriksa ruangan itu, begitu kami mengintipnya.
Tidak!
Hatiku terasa seperti dicambuk, sakit sekali… aku melihat Yamato memainkan gitarnya mengiringi Mimi yang tengah bernyanyi sambil memainkan piano.
Sakit!
Sakit sekali… tanpa sadar, aku telah mengeluarkan air mata dan pergi meninggalkan Taichi sendiri di sana.
"SORAAA!"
Aku bisa mendengar Taichi memanggilku, tapi aku tidak bisa menoleh mungkin inilah pertama kali Taichi melihatku menangis, kakiku terus menerus berlari ke satu tujuan, yaitu..
"Jyoouu!"
"Sora? Astaga ada apa?" tanya Jyou yang langsung menghampiriku.
"Tidak kuat… aku tidak kuat lagi menahan rasa cemburu ini… aku harus bagaimana?" pintaku pada Jyou sambil menangis.
"Sora… apakah Yamato lagi?" tanya Jyou sambil memberikan tempat duduk padaku.
Aku mengangguk pelan dan menceritakan semuanya pada Jyou.
"Sora… apa kamu tidak lelah seperti ini?"
"Lelah?"
"Ya, mengejar seseorang yang tidak memperhatikanmu?"
Lelah? Aku tidak pernah merasa lelah… atau jangan-jangan aku tidak sadar kalau ternyata tangisan ini adalah tangisan lelahku pada Yamato? Tidak, aku masih sangat menyukainya.
"Begini, sebentar lagi kan akan ada acara musik disini, bagaimana kau nyatakan perasaanmu pada Yamato? Biar lebih jelas dan kamu juga tidak perlu bimbang terus menerus seperti ini," usul Jyou sambil memberikan tissue padaku.
"Menyatakan perasaanku?"
"Tenang saja, kalau ditolak ada aku yang akan menemanimu," ucap Jyou sambil tertawa.
Ah iya… aku sampai lupa kalau aku ingin menyatakannya pada Yamato, benar juga… aku akan menyatakannya sebelum dia tampil saat acara musik nanti.
"Jyou… Terima kasih, ya?" ucapku sambil mengenggam tangan Jyou.
Entah mengapa, selalu saja setiap aku menangis karena masalah hal ini lalu aku bercerita pada Jyou… perasaanku langsung lega.
Aku sangat bersyukur ada orang yang benar-benar bisa mendukungku sepenuh hatinya.
~End of Sora's P.o.V~
***TBC***
A/N : kayaknya lagi nggak bisa banyak omong. Cuma... mau minta maaf karena keterlambatan mengupdate DX Tapi gantinya, kami akan update dua chapter sekaligus! Uhyeah! XD
Dan buat semua yang udah review chapter sebelumnya, arigatou, yaaa?
Like before, please review this chapter also.
Arigatou,
Devil Foxie
