Namjoon sedang kalang kabut di dalam kamarnya. Bukan tanpa alasan. Kekasih manisnya sudah tiga hari sama sekali tidak dapat dihubungi. Pesan tak terbalas, telepon tak diangkat. Dia baru saja menyelesaikan jadwalnya hari ini tepat saat jam makan siang tetapi profesor mata kuliah pagi ini benar-benar menguji kesabarannya. Ditambah kekasihnya yang tanpa kabar.
Rasanya nyaris gila.
Jadwal kuliah super padat beserta bonus tugas dengan deadline mencekik leher, belum pula jarak Daejeon-Seoul yang harus ditempuh sekitar dua jam, adalah alasan mengapa Namjoon tidak segera bergegas menemui Seokjin di rumahnya atau dimanapun ia berada di detik pertama sambungan telepon tak dijawab sang penguasa hati setelah ratusan pesan yang ia kirim tak mendapat balasan.
Namjoon buntu. Otak cerdasnya memang selalu semenyebalkan ini jika ia sedang berada di situasi genting yang berhubungan dengan lelaki manis kekasih hatinya, Kim Seokjin.
Woojin hyung juga sama sekali tidak membantu. Lebih tepatnya tidak dapat dipercaya. Karena balasan yang Namjoon dapat setelah memborbardir aplikasi pesan milik kakak kekasihnya hanya seputar Seokjin sibuk menyelesaikan tumpukan tugas akhir semester. Mana mungkin kekasih manisnya itu bisa mendiaminya berhari-hari meski sedang sibuk sekalipun?
Namjoon membuka kembali pesan terakhir yang ia kirim untuk Seokjin. Kemudian menggeser layar ponsel pintarnya ke bawah demi mencapai pesan terakhir yang dikirim sang kekasih. "Selamat malam, Namjoonie 3", yang dikirim pukul satu dini hari tiga hari yang lalu.
Namjoon justru menggerang kesal setelah membaca ulang pesan Seokjin.
Tidak bisa dibiarkan.
Namjoon menarik kasar tas ransel dari dalam lemari, memasukkan beberapa potong pakaian, alat mandi, dan dompet ke dalamnya. Masih memakai pakaian yang ia kenakan saat pergi ke kampus, celana jeans hitam dengan atasan kaos katung hitam yang dilapisi blazer motif vintage, Namjoon bergegas keluar kamar asrama.
Dia harus menemui kekasihnya -yang kadang keras kepala- itu. Anggap saja sekaligus pulang ke rumah setelah tiga bulan mengendap di KAIST dan mengabaikan rengekan rindu ibunya setiap kali bertukar kabar melalui sambungan telepon. Peduli setan dengan kesempurnaan presensinya yang belum pernah tercoreng selama lima semester kuliahnya. Kabar Seokjin jauh lebih penting saat ini -menurutnya.
Namjoon memutuskan makan siang di dalam kereta. Ah, jam makan siang sudah lewat dan bahkan perutnya sama sekali tidak merasa lapar.
Ia mengambil jadwal kereta pukul dua lewat tiga puluh menit. Jadi perkiraan ia akan tiba di rumah kekasihnya saat hari belum gelap.
Ya. Namjoon juga bisa tidak sewaras itu jika Seokjin adalah topik utamanya. Bukan pulang ke rumahnya lebih dulu untuk sekedar menyapa ibunya, tujuan utamanya tanpa basa basi langsung menuju rumah Seokjin begitu tiba di Seoul.
Yang dilakukan Namjoon sepanjang perjalanan adalah kembali membanjiri pesan masuk ponsel pintar Seokjin dan tentu saja mencoba meneleponnya. Sambungannya terhubung, hari kemarin pun demikian, tapi tidak ada respon dari si pemilik ponsel. Dan yang semakin membuat Namjoon resah hati, mengapa kekasihnya itu tidak menghubunginya balik setelah mendapat teror darinya?
Namjoon bergegas menuju halte terdekat begitu kakinya keluar dari gerbong kereta di stasiun Seoul. Bergerak gelisah dalam duduknya saat bus yang akan mengantarnya ke rumah Seokjin tak kunjung datang. Mengabaikan lirikan orang-orang yang sedang menunggu bersamanya.
Belum pernah seumur hidupnya merasa semenit seperti berjam-jam.
Namjoon jadi yang pertama berdiri di tepi halte bahkan saat bus masih cukup jauh. Masih bergerak gelisah karena hell, kenapa busnya berjalan selembat siput?
Namjoon masih terus meneror kekasihnya dengan pesan-pesan yang ia kirimkan.
"God damn, Kim Seokjin! Dimana kau sebenarnya?" Namjoon mengumpat pelan karena kesabarannya hanya tinggal seujung kuku. Jika sampai rumah kekasihnya dan Seokjin tidak bisa ia temukan juga di sana, entah apa yang akan ia lakukan untuk melampiaskan kesabarannya yang meledak.
Namjoon mengangkat pandangannya dari layar ponsel, dan saat ia mengenali lingkungan di luar jendela bus, kakinya tanpa sadar sudah berdiri dan berjalan mendekati pintu keluar. Berjalan cepat keluar bus dan memasuki gang perumahan menuju rumah Seokjin, mengabaikan lubang di tengah jalan yang hampir membuatnya tersungkur. Jantungnya semakin berdegup tak karuan seiring langkahnya mendekati rumah yang selalu menjadi salah satu tempatnya pulang.
Diketuknya sabar pintu rumah berwarna gading di depannya, masih mengingat sopan santun, -tapi lupa bel rumah di sisi pintu.
Namjoon sudah mengetuk beberapa kali, menunggu beberapa saat tetapi pintu rumah di hadapannya tak kunjung terbuka. Namjoon mencoba menarik napas, berusaha mengumpulkan kembali kesabaran yang sudah tercecer di sepanjang perjalanan tadi.
"Oh, Namjoon Hyung?" tiba-tiba sebuah suara menarik perhatian Namjoon dari ritualnya menenangkan diri.
"Ternyata benar." itu Park Jimin, tetangga sebelah Seokjin yang sudah mengenal Namjoon sejak awal hubungannya dengan Seokjin. Bahkan keluarga Jimin juga.
"Jiminie. Syukurlah." Namjoon menghela napas penuh syukur dipertemukan bocah menggemaskan yang tidak sesuai umurnya itu. Jimin hanya dua tingkat di bawah Namjoon dan Seokjin, ngomong-ngomong.
"Mencari Seokjin hyung ya?" Bocah itu memastikan, meski ia jelas tahu jawaban yang akan ia dapatkan.
"Kau tahu dimana Seokjin? Kenapa rumahnya juga kosong? Bibi Kim biasanya selalu di rumah." Namjoon melemparkan pertanyaan bertubi yang membuat Jimin sedikit bingung.
"Seokjin hyung tidak memberi tahumu? Woojin hyung, bibi atau paman juga tidak?"
Namjoon mengernyit, "Memberi tahu apa?"
"Seokjin hyung masuk rumah sakit tiga hari lalu."
"Apa?"
"Seokjin hyung ma. . ."
"Aku mendengarnya, Jim, hanya terkejut." Nah kan bocah di depannya memang masih menggemaskan. "Kenapa?" Namjoon melanjutkan.
"Woojin hyung bilang dia memaksakan diri ingin menyelesaikan tugas yang batas pengumpulannya masih lama, jadi dia bisa pergi ke KAIST untuk menemuimu akhir minggu ini tanpa beban tugas. Bibi juga bilang bahkan Seokjin hyung hanya tidur dua jam sehari selama beberapa hari sebelum ambruk."
Namjoon menggerang kesal, pada kekeraskepalaan Seokjin dan pada dirinya sendiri. Woojin hyung juga berhak mendapat kekesalannya karena telah menutupi keadaan Seokjin.
"Beri tahu aku dimana Seokjin dirawat, Jim!"
"Keberatan jika aku mengantarmu, Hyung? Eomma juga menyuruhku mengantar bubur untuk Seokjin hyung tadi. Aku hanya perlu mengambilnya. Mau mampir dan istirahat sebentar? Kau terlihat er. . sedikit berantakan." Jimin menutup kalimatnya dengan sebuah cengiran.
"Yeah?" Namjoon menukik alisnya jahil.
"Uh-huh."
"Terima kasih, Jim. Tapi sebaiknya aku menunggu di sini. Kau tahu, aku sedikit terburu-buru."
"Baiklah, aku mengerti." senyuman Jimin terukir sama jahilnya. "Tunggu sebentar, ya, Hyung." Dan Jimin berlari masuk ke dalam rumahnya untuk beberapa saat kemudian kembali berlari keluar dan berteriak, " Eomma, aku pergi." dan Namjoon mendengar teriakan lain dari dalam rumah "Hati-hati, jangan berlari. Sampaikan salam Eomma untuk Namjoonie."
"Kau dengar, Hyung?" Napasnya tersengal begitu berhenti di depan Namjoon. Namjoon tersenyum geli dan mengangguk. "Jadi sudah tersampaikan." Dan tawa keduanya pecah bersamaan.
"Ayo, Hyung."
Namjoon hanya diam sepanjang jalan menuju rumah sakit. Jimin sempat meliriknya beberapa kali dan tersenyum lembut. Pancaran mata Namjoon sama sekali tidak bisa ditutupi bahwa ia sedang khawatir, tentu saja karena keadaan Seokjin.
Jimin selalu tahu, sejak awal Seokjin mengenalkannya pada Namjoon, lelaki tinggi dengan lesung pipi itu teramat mencintai tetangganya yang kelewat manis.
"Keadaan Seokjin hyung sudah semakin baik. Dokter bilang ia hanya kelelahan dan perlu beberapa asupan gizi." Jimin memecah hening di antara keduanya saat berjalan melewati pintu depan rumah sakit.
Namjoon mencoba tersenyum menanggapi info yang ia dapatkan dari Jimin, meski nyatanya terlalu dipaksakan untuk suasana hatinya yang semakin kacau.
Jantungnya semakin menggebu-gebu saat Jimin berhenti di depan sebuah pintu. Jimin menuntunnya masuk setelah suara yang begitu dikenalnya sebagai suara calon ibu mertua mengizinkan pelaku pengetuk pintu untuk masuk.
"Namjoon? Ya Tuhan." Eomma Kim berjalan mendekati Namjoon dan langsung memeluk kekasih putranya itu erat begitu matanya menangkap sosok Namjoon di belakang si bocah gembul.
Dari tempatnya berdiri, Namjoon jelas melihat bagaimana selang infus mengular dan berakhir di atas punggung tangan kekasihnya yang terlelap.
"Kapan tiba di Seoul?" Eomma bertanya begitu pelukannya ia lepas dan menuntun Namjoon duduk di sofa panjang di sisi ruang inap Seokjin.
"Kurasa Bibi bisa menilainya dari penampilan Namjoon hyung." Jimin menanggapi, diakhiri cengiran maaf karena menginterupsi perbincangan orang yang lebih tua.
"Pasti langsung pergi ke rumah dan pulang?" Eomma Kim memicing, berujar setelah selasai memindai penampilan Namjoon dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Terlalu khawatir, Bi. Seokjin tidak bisa dihubungi tiga hari berturut-turut." Ekspresinya dibuat sesendu mungkin. Alibi agar tidak dimarahi.
"Kebiasaan." Eomma mencubit main-main lengannya. "Bisa-bisa ibumu tidak jadi merestui Seokjin kalau kau bahkan lebih mementingkan Seokjin daripada dirinya."
"Kujamin seratus satu persen tidak akan. Aku bahkan ragu eomma lebih menyayangiku atau Jinseok."
"Ah, aku selalu suka saat kau memanggil bayi kecilku Jinseok." Namjoon tersenyum malu-malu saat sadar panggilan apa yang baru saja ia gunakan untuk Seokjin.
"Kenapa tidak memberi tahuku, Bi?"
"Seokjin memaksa kami tutup mulut. Aku hampir menekan tombol panggil pada kontakmu saat Seokjin diujung kesadarannya berujar lirih untuk merahasiakannya darimu. Hah, anak itu," matanya menatap sang putra di atas tempat tidur, sebelum melanjutkan "keras kepalanya memang tidak tahu situasi dan kondisi." Namjoon membenarkan dalam hati.
"Bi, dimana paman dan Woojin hyung?" Jimin lebih dulu mengutarakan pertanyaan yang ingin Namjoon tanyakan.
"Sedang menemui dokter untuk mendengar perkembangan Seokjin." Jimin mengangguk-angguk mengerti.
"Bi, biarkan aku menemani Jinseok malam ini. Bibi, paman dan Woojin hyung pasti lelah."
"Bukan masalah. Sudah tanggung jawab kami merawatnya. Tapi jika kau memaksa, baiklah." Diakhiri dengan tawa jahil.
"Seokjin baru saja makan dan minum obatnya, jadi mungkin dia akan bangun besok pagi. Kau bisa istirahat juga, Namjoonie. Pasti lelah sekali ya, menempuh perjalanan jauh Daejeon ke Seoul dengan perasaan khawatir?" Tangan hangat eomma menggenggam dan mengelus punggung tangannya halus.
Alasan lain mengapa Namjoon juga menjadikan rumah kekasihnya sebagai tempatnya pulang.
Eomma Kim jelas tahu Namjoon butuh waktu berdua dengan putranya. Meski Seokjin hanya akan terlelap damai di atas tempat tidurnya, berdua dengan Seokjin pasti akan mengurangi rasa cemas sekaligus rasa bersalahnya.
Appa Kim dan Woojin hyung sama terkejutnya dengan eomma saat masuk ke kamar Seokjin dan menemukan Namjoon duduk di sisi tempat tidur Seokjin.
Namjoon otomatis berdiri begitu pintu terbuka menampilkan appa, memberi salam sebelum kemudian appa Kim juga memeluknya.
"Aigoo, calon menantuku." Namjoon tersenyum kikuk membalas pelukan beliau. Orang tua kekasihnya memang selalu semenyenangkan itu.
"Hai, Namjoon." Woojin hyung menepuk bahunya pelan.
"Namjoon bilang dia yang akan menjaga Seokjin malam ini, jadi sebaiknya kita bersiap pulang." Eomma Kim sedang menata pakaian kotor dan beberapa barang yang harus dibawa pulang.
"Hubungi kami jika sesuatu terjadi." Appa Kim mengingatkan.
"Jangan khawatir, Paman. Hati-hati di jalan. Selamat malam."
"Hyung, aku juga pulang." Jimin juga ikut pamit.
"Hm. Terima kasih, Jim. Kau dan sifat malaikatmu." Ditepuknya sekali bahu Jimin.
"Bukan masalah. Daa, Hyung." Jimin melambai dan berjalan keluar kamar bersama keluarga Seokjin.
Namjoon langsung mendudukkan diri di kursi dekat tampat tidur Jinseoknya setelah menutup pintu. Digenggamnya tangan Seokjin tanpa infus, dikecupnya penuh penghayatan dan rasa bersalah.
Bibi bilang memaksakan diri, tapi memaksakan diri seperti apa hingga kelelahan dan masuk rumah sakit? Karena sepengetahuan Namjoon, fisik kekasihnya tidak lemah. Bahkan setelah dikerjai habis-habisan saat ulang tahunnya di tingkat dua sekolah menengah dulu. Atau saat belajar sepanjang waktu untuk tes masuk universitas. Tidak pernah sampai tumbang dan masuk rumah sakit begini.
Setidaknya dia sudah ada di sisi kekasihnya itu saat ini.
Lama dipandanginya wajah damai Seokjin. Matanya kian lama kian memberat. Tak dipungkiri, benar kata bibi, perjalanan jauh dengan hati cemas cukup menguras tenaganya. Jam di atas pintu kamar mandi baru menunjuk angka delapan. Namjoon putuskan untuk istirahat sebentar, menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur di sisi tubuh kekasihnya. Barangkali Seokjin membutuhkan sesuatu tengah malam, jadi dia akan terbangun saat kekasihnya bergerak bangun. Tangannya belum bosan menggenggam jemari yang memang terlihat lebih kurus milik pujaan hati.
Tengah malam Namjoon terbangun karena leher dan punggungnya terasa sakit. Dilihatnya Seokjin masih tertidur amat damai dan tidak ada tanda-tanda ia akan terbangun dalam waktu dekat. Jadi Namjoon memutuskan untuk berpindah pada sofa, meletakkan punggungnya yang serasa remuk. Dilepasnya blazer yang kemudian hanya menyisakan kaus katung melekat tubuh atletisnya.
Namjoon dan kebiasan tidurnya, tidak peduli ruangan cukup dingin karena hembusan angin AC, tidur dengan kaus katung bagai sebuah keharusan baginya.
Namjoon benar-benar kelelahan karena begitu punggungnya menyentuh permukaan sofa yang empuk, matanya langsung terlelap.
Seokjin bergerak ringan dalam tidurnya sebelum matanya perlahan mulai terbuka pagi harinya. Berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dari celah tirai. Matanya bergulir mengamati tabung infus yang bersisa sedikit kemudian berpindah pada langit-langit kamar.
"Berapa lama aku tidur?" Tanyanya pada diri sendiri.
Tak lama seorang perawat masuk dengan troli berisi sarapan serta obatnya dan setabung infus baru.
"Selamat pagi, Tuan." Sapanya ramah.
"Selamat pagi." Uh, suaranya pecah sekali karena tidur terlalu lama.
Si perawat memindahkan sarapannya ke atas lemari pendek di dekat tempat tidur, kemudian tangannya dengan telaten mengganti infus.
"Kemarin malam bukan Tuan Kim yang menunggu?" si perawat bertanya karena dia tidak menemukan Tuan Kim duduk dengan koran pagi ini. Tangannya masih sibuk dengan infus.
"Maaf?" Seokjin tentu saja bertanya bingung.
"Lelaki yang tidur di sofa sana, sepertinya bukan Tuan Kim atau Tuan Woojin." Perkataan si perawat membuat Seokjin menolehkan kepalanya dan matanya membulat terkejut melihat sosok yang masih tertidur di atas sofa.
"Ah, ya. Dia kekasihku." Seokjin menggaruk tengkuknya malu.
"Wah manis sekali." pujinya sepenuh hati. Dan wajah Seokjin gagal ia pertahankan agar tidak merona.
"Habiskan sarapannya dan jangan lupa obatnya, Tuan. Saya permisi."
"Terima kasih."
Mata Seokjin mengikuti langkah si perawat keluar kamar. Saat pintu tertutup, Seokjin turun dari tempat tidur perlahan, mendorong tiang infus berjalan mendekati kekasihnya.
"Dasar monster tidur. Memangnya tidak dingin tidur tanpa selimut? Dan apa-apaan kaos katung itu?" Seokjin hanya menggeleng tidak habis pikir dengan kebiasaan tidur kekasihnya.
Seokjin berjalan kembali ke tempat tidurnya, menarik selimut dari sana dan menatanya di atas tubuh Namjoon yang langsung menggeliat nyaman begitu mendapat kehangatan. Seokjin tersenyum dari tempatnya berdiri mengamati.
Tiba-tiba tangannya tergelitik untuk mengambil ponsel dan mengabadikan sisi menggemaskan kekasih berandalnya. Tapi sebelum itu, senyumnya kembali terukir geli melihat berapa pesan dan panggilan tak terjawab yang dikirim Namjoon. Tiga hari di rumah sakit yang ia lakukan hanya makan, minum obat, langsung tidur setelahnya, dan urusan ke kamar mandi, kemudian kembali tidur. Karena itu Seokjin tidak membalas pesan maupun panggilannya. Keluarga Seokjin tidak mungkin mengangkat panggilan dari Namjoon setelah peringatan dari Seokjin untuk tidak memberi tahu Namjoon.
"Dasar menggemaskan." Seokjin terkikik pelan melihat hasil foto yang ia ambil.
Namjoon terbangun saat Seokjin selesai sarapan dan menelan obat terakhirnya. Tanpa basa basi mengumpulkan nyawa, kakinya berjalan cepat ke arah kekasihnya yang duduk di atas tempat tidur dengan senyum terkembang manis sekali. Mengabaikan pening di kepala karena langsung berdiri begitu bangun tidur.
"Dasar keras kepala, kenapa tidak memberiku kabar kalau masuk rumah sakit?" Namjoon memeluk tubuh kurus kekasihnya erat sekali. Ingin menyampaikan jika dirinya rindu dan khawatir setengah mati.
"Karena aku tahu kau pasti akan rela meninggalkan kuliah. Yah, meskipun berakhir demikian karena kau berada di sini saat ini." Seokjin membalas pelukannya tak kalah erat, dengan senyuman gelinya.
"Jangan lakukan lagi." Pelukannya belum ia lepaskan. Masih rindu.
"Apa?"
"Semuanya." Namjoon melepas sejenak pelukannya, alisnya menukik tidak suka, kemudian kembali memerangkap Seokjin dalam pelukannya.
"Jangan menghilang tanpa kabar, jangan memaksakan diri karena aku, dan jangan menutupi apapun dariku. Demi Tuhan, Jinseok, aku bisa saja mati karena khawatir."
"Jangan bicara begitu." Seokjin memukul punggung kekasihnya.
"Serius, Jinseok. Rasanya sulit sekali bernapas berhari-hari tidak mendapat kabar darimu."
"Berlebihan." Keduanya tertawa bersama.
"Jika kau masih menyembunyikan sesuatu dariku, berarti kau belum sepenuhnya percaya padaku." Namjoon melanjutkan.
"Aku percaya, Namjoon. Aku percaya."
"Berjanji padaku tidak akan melakukannya lagi, tidak akan menutupi apapun lagi, Sayang!"
"Aku berjanji. Kau puas sekarang?" Tanyanya jahil. Namjoon hanya terkekeh gemas dengan sikap kekasih hatinya.
"Ah, aku jadi ingin cepat-cepat lulus."
"Kenapa?" Seokjin melepas pelukan keduanya, bertanya bingung, dahinya mengernyit tidak mengerti.
"Agar bisa cepat-cepat menikahimu juga." Alisnya terangkat jahil. Seokjin di depannya jelas tersipu-sipu merona.
"Apa, sih?" Seokjin mendorong pelan bahu Namjoon, kepalanya tertunduk malu. Lihat telinganya, astaga, merah sekali.
"Aku mencintaimu, Jinseok sayang. Sangat." Namjoon kembali memeluk Seokjin, tidak tahan karena gemas.
"Aku tidak mencintaimu." Namjoon hampir melepas pelukannya, sebelum Seokjin melanjutkan, "Tapi sangat sangat mencintaimu." Diakhiri kekehan geli.
Di luar ruangan, Eomma Kim sudah menjerit tertahan mendengar percakapan manis putra dan calon menantunya. Eomma dan appa datang membuka pintu tepat saat Namjoon berjalan cepat untuk memeluk Seokjin tadi. Jadi mereka memutuskan untuk melangkah mundur dan menutup pintu, tapi menyisakan sedikit celah untuk menguping.
"Kenapa mereka selalu menggemaskan seperti ini? Woojin melewatkan drama manis pagi hari." Eomma berujar masih menahan pekikan gemasnya.
.
.
.
.
END
.
.
.
Yeah, aku kembali dengan series lain cerita papa namjoon dengan mama seokjin jaman pacaran muehehehe
ingat postingan jinnie di twitter pas ultah namjoon?nah ya betul, foto yang diambil seokjin ya foto yang sama dengan foto itu ^3^
Ayo ayo ditunggu reviewnya teman-teman, semoga kalian terhibur :* :*
Review? ;)
