Untuk pertama kalinya, Chanyeol berlari disepanjang koridor rumah sakit layaknya orang kesetanan. Ia adalah orang yang berpendidikan, dibesarkan dengan terdidik, pemimpin dari sebuah perusahaan raksasa yang sangat berpengaruh di pasar Korea. Namun satu pesan yang masuk ke ponselnya, berhasil membuat ia berlari disepanjang koridor rumah sakit seperti orang awam yang tidak tau tatakrama.

Membuat beberapa perawat maupun pasien rumah sakit menghidarinya karna ia dengan jelas berlari seperti orang yang paling tergesa-gesa didunia, sesaat setelah ia membaca pesan masuk di ponselnya.

Message from:

Baekboom

Baekhyun sudah sadar.

Satu kalimat singkat yang mampu membuatnya seperti orang gila.

Sudah tiga hari..

Tiga hari semenjak ia menyaksikan sendiri bagaimana tubuh kecil itu terpental begitu saja saat sebuah mobil dengan sengaja menabraknya.

"BYUN BAEKHYUN!"

Chanyeol tercekat ditempatnya, matanya membulat dengan sempurna saat ia melihat bagaimana tubuh ramping itu terpental saat sebuah mobil menabraknya dengan kencang. Tubuh mungil itu terlempar beberapa meter dan jatuh menyentuh kerasnya apal sesaat tubuh rapuh itu berguling dan akhirnya berhenti disusul dengan lelehan kental berwarna merah pekat yang mengalir dari sudut kepalanya.

Kedua kakinya bergerak secara otomatis tanpa perintah dari otaknya. Saat melihat tubuh itu tak bergerak, Chanyeol segera melangkahkan kedua kaki panjangnya, berlari menerobos beberapa orang yang terdiam melihat kejadian tabrak lari. Tenggorokannya serasa tercekik saat ia mendudukan dirinya pada aspal dan segera meraih tubuh tak sadarkan diri itu.

Matanya merah memanas, dan ia segera menolehkan kepalanya melihat mobil hitam yang berlalu menjauh, dan mata bulatnya berhasil menangkap beberapa angka yang tercetak pada plat mobil si pelaku,

-08

Tidak semua angka yang bisa ia lihat, karna mobil itu semakin berlalu menjauh. Segera ia mengembalikan fokusnya, matanya kian memanas saat kepala yang berada pada pengkuan kedua lengannya tak kunjung membuka mata.

"Baekhyun.. Byun Baekhyun kau bisa mendengarku?"

Tangannya bergetar saat cairan merah pekat itu mengotori talapak tangannya yang besar. Ia mengelus surai coklat itu kemudian mengangkup kedua pipi pucat yang dihiasi beberapa lebam berwarna biru keunguan,

"Baekhyun.. Baekhyun buka matamu, kau bisa mendengarku bukan?"

Sebenarnya itu pertanyaan yang sama, ia telah mengatakan kalimat itu sebelumnya. Namun sepertinya fungsi otaknya sedang tidak bekerja dengan baik sekarang. Padahal ia sendiri melihat dengan jelas tubuh itu sudah tak sadarkan diri, namun entah kenapa ia ingin melihat mata yang terpejam itu terbuka dan tersenyum kearahnya.

"Ambulans- seseorang, tolong panggilkan ambulans!"

Tidak pernah ia merasakan panik seperti ini sebelumnya. Entah kenapa semuanya berjalan tidak sesuai kerja otaknya. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Yang ada dikepalanya sekarang hanyalah,

Baekhyun.

Dan yang bisa dilakukan oleh dirinya sekarang hanyalah memeluk erat kepala gadis yang berada dipangkuannya, mengelus surai panjang itu lembut, dan membisikkan sesuatu disana,

"Kau tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja, aku bersamamu Baekhyun, bertahanlah untukku."

Tujuh menit setelahnya, Chanyeol berada didalam sebuah ambulans, bersama dengan Baekhyun yang terbaring pada sebuah stretcher dengan selang oksigen yang dipasangkan pada hidung sigadis agar gadis itu bisa terus bernafas.

Selama perjalan menuju rumah sakit, Chanyeol tidak pernah melepaskan pegangan tangannya pada jemari lentik gadis yang tidak sadarkan diri, ia menundukkan kepalanya dan terus memanjatkan doa,

Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada gadisnya.

Sesampainya dirumah sakit, Baekhyun segera disambut oleh seorang dokter dan beberapa suster yang segera membawa Baekhyun pada sebuah ruangan dengan tulisan Accident and Emergency berwarna merah yang tercetak pada pintunya. Membuat Chanyeol tidak bisa menemani gadis itu dan akhirnya ia duduk seorang diri pada sebuah kursi ruang tunggu.

Pikirannya belum sepenuhnya kembali normal, masih banyak hal yang menjadi pertanyaan dalam dirinya. Namun ia sadar masih ada satu hal penting yang harus ia lakukan sekarang.

Menghubungi keluarga Baekhyun.

Ia bahkan masih tidak percaya jika sebelumnya yang ia lakukan adalah mengirim pesan singkat untuk membahas urusan pekerjaan dengan Baekboom, namun kali ini yang ia lakukan adalah memberitau Baekboom jika adik satu-satunya itu berada dirumah sakit karna seseorang menabraknya.

"Sial."

Chanyeol mengumpat saat selesai melakukan panggilan pada Baekboom, ia segera teringat pada kejadian yang barusaja disaksikan sendiri olehnya.

Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa ia menabrak Baekhyun?

Sepintas terpikirkan olehnya,

"Kenapa harus Baekhyun?"

Chanyeol bergumam saat ia kembali mengingat-ngingat apa yang telah dilihatnya.

Jika dipikir-pikir, Baekhyun menyebrang saat jalanan benar-benar sepi, bahkan terdapat lampu lalu lintas disana. Tidak mungkin orang itu sengaja menabrak Baekhyun untuk melanggar lamu lalu lintas bukan?

Pengemudi itu bisa saja menghindari Baekhyun jika memang berniat untuk menerobos lampu merah,

Lalu kenapa harus Baekhyun?

Bukan hanya Baekhyun yang akan menyebrang pada saat itu, tentu saja terdapat beberapa orang disana karna itu kawasan ramai yang banyak dilalui orang.

Apa pengemudi itu mengenal Baekhyun?

"Tapi siapa?"

Chanyeol kembali bergumam saat ia tidak menemukan jawaban atas apa yang ia pikirkan. Ini terlalu aneh baginya. Tidak masuk akal, tidak mungkin ini semua terjadi karna ketidak sengajaan,

"Park Chanyeol!"

Seseorang yang memanggilnya membuat Chanyeol menolehkan kepalanya dari sebelumnya yang hanya menatap ubin lantai rumah sakit.

Itu Baekboom, dengan pakaian rumahan yang terlilhat sedikit berantakan.

Chanyeol segera beranjak dari duduknya saat kedua matanya melihat sosok lain yang menghampiri dirinya.

Tuan dan Nyonya Byun.

Wanita berumur itu segera menutup mulut dengan sebelah tangannya saat ia melihat kedua tangan dan baju Chanyeol yang ternodai darah.

Pikirannya segera tertuju pada putri satu-satunya yang tidak ia temukan diruang tunggu.

"Astaga Baekhyunnie! Yatuhan- apa yang terjaadi pada anakku?!"

Nyonya Byun segera terisak, badannya melemas yang segera ditopang oleh Tuan Byun dan segera memeluknya.

"Chanyeol apa yang terjadi? Dimana Baekhyun?!"

Baekboom yang sama panik seperti dirinya segera menanyakan keberadaan adik yang sangat disayanginya, tanpa mempedulikan nafasnya yang masih terengah sehabis berlari.

"Seseorang menabraknya, aku yakin orang itu secara sengaja menabrak Baekhyun. Baekhyun sedang ditangani oleh dokter sekarang."

"Yatuhan tolong selamatkan Baekhyun-ku, kenapa orang itu melakukan hal ini pada putri ku-"

Nyonya Byun kembali terisak yang segera ditenangkan oleh Tuan Byun. Sedangkan Tuan Byun lebih memilih dengan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, entahlah- mungkin beliau juga merasakan hal yang sama seperti yang dialami semua orang yang berada diruang tunggu.

"Apa kau sudah melaporkan semua ini pada polisi Chanyeol? Aku ingin pelaku itu segera ditangkap, kenapa ia melakukan ini pada adikku!?"

Baekboom kembali berujar, terlihat sekali jika lelaki yang seumuran dengannya itu sangat khawatir dan juga panik, terlebih yang menjadi korbannya adalah adiknya sendiri.

"Aku akan melaporkannya, dan aku sendiri yang akan mengurusnya, aku juga tidak akan membiarkan pelaku ini bebas begitu saja, tenang saja, akan kupastikan aku menemukan siapa pelaku sebenarnya."

Chanyeol berkata dengan penuh penekanan, ia tidak akan membiarkan pelakunya pergi begitu saja. Akan ia pastikan bahwa dirinya sendiri yang akan menangkap pelaku yang telah melukai gadisnya.

Chanyeol menepuk pundak Baekboom, meremasnya pelan bertujuan untuk menenangkan rekan bisnisnya, lalu ia menatap pada Tuan Byun yang sama menatapnya, Chanyeol menganggukan kepalanya, meyakinkan Tuan Byun agar percaya pada dirinya. Tuan Byun akhirnya menganggukan kepalanya dan kembali menenangkan Nyonya Byun yang masih terisak pada kursi ruang tunggu rumah sakit.

Hingga akhirnya setelah empat puluh lima menit berlalu, dokter yang menangani Baekhyun segera keluar dan disambut pertama kali oleh Baekboom.

"Saudari Byun Baekhyun tidak mengalami luka yang serius, beruntung segera dibawa ke rumah sakit, ia hanya mengalami patah tulang leher dan terdapat retakan pada tulang pinggul, beruntung tidak sampai tahap patah tulang pinggul jadi pasien tidak memerlukan operasi. Tidak ada luka serius pada kepala, hanya terbentur aspal dan mendapatkan tiga jahitan. Sekarang Byun Baekhyun telah kami berikan obat dan belum sadarkan diri, pasien dapat menerima tamu setelah ia dipindahkan ke ruang inap."

Dan Chanyeol dapat bernafas lega setelah sebelumnya ia menahan nafas saat dokter itu memberikan penjelasan mengenai keadaan Baekhyun. Meskipun ia tidak bisa mengnggap yang dialami Baekhyun bukanlah luka serius.

Yang benar saja?!

Bagaimana bisa patah tulang leher dan retak tulang pinggul lalu tiga jahitan dikepala termasuk bukan luka yang serius?!

Dan setelah itu ia bisa melihat Baekhyun yang terbaring pada sebuah ranjang rumah sakit dibawa untuk segera dipindahkan keruang inap.

Chanyeol sedikit bergidik ngilu saat ia melihat sebuah gips yang meghiasi leher Baekhyun dan juga perban yang membalut kening dan bagian kepala gadisnya.

Pada saat itu pula Chanyeol benar-benar tidak bisa menahan dirinya, ia ingin sekali menangkap pelaku yang telah melukai gadisnya hingga seperti ini.

Orang itu harus mendapatkan balasan yang lebih atas apa yang telah dilakukannya.

Hari itu Chanyeol kembali kerumah sakit setelah dirinya berganti pakaian dan melakukan laporan pada kepolisian mengenai tabrak lari yang dialami Baekhyun.

Namun, hari itu Baekhyun masih belum membuka matanya..

"Kurasa dia masih belum ingin bangun, tenanglah, meskipun ia gadis yang manja, tapi aku percaya padanya, dia akan baik-baik saja."

Chanyeol menerima minuman kaleng yang diberikan oleh Baekboom, ia kembali melirik Baekhyun yang masih dalam keadaan yang sama seperti terakhir kali ia meninggalkan nya.

Gadisnya belum terbangun dari tidur panjangnya.

"Aku sudah menulis laporannya, dan memberikan kesaksian ku pada pihak polisi, kuharap pelaku bisa secepatnya ditemukan. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa orang itu melakukan ini semua pada Baekhyun?"

Chanyeol meminum minuman kalengnya dengan pandangannya yang masih ia tujukan pada gadis cantik yang tak sadarkan diri.

"Aku mengerti, terimakasih Chanyeol-ah. Akupun tidak mengerti, kenapa ini terjadi pada Baekhyun, kenapa harus Baekhyun dan kenapa orang itu harus melarikan diri? Kupikir jika orang itu tidak sengaja menabraknya, setidaknya orang itu akan berhenti hanya sekedar untuk melihat keadaan korban, tapi yang ia lakukan adalah melarikan diri, bukankah itu hanya akan memperpanjang masalah?"

Benar juga, bukankah itu hanya akan memperpanjang masalah?

Hal ini membuat Chanyeol semakin penasaran dengan identitas pelaku yang sebenarnya,

"Kurasa aku akan kembali ke rumah sekarang, masih ada sesuatu yang harus kukerjakan."

Baekboom menatap lelaki yang memiliki perbedaan tinggi badan dengannya segera beranjak dari duduknya.

Kenapa tiba-tiba?

"Oh baiklah, terimakasih sekali lagi Chanyeol-ah akan kukabari jika Baekhyun sudah siuman."

"Tentu, aku permisi kalau begitu."

Hingga akhirnya, hari itu Chanyeol meninggalkan rumah sakit dan segera pulang.

Dirumah, Chanyeol berdiam diri diruang kerjanya. Ia kembali memikirkan apa yang sebenarnya dialami oleh Baekhyun sekarang.

Hingga ia teringat sesuatu, ia segera meraih ponsel nya dan melakukan sebuah panggilan.

"Ya sajangnim?"

Itulah hal pertama yang ia dengar saat panggilannya tersambung dengan seseorang disebrang sana.

"Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu Jongdae-ah, tadi pagi aku melakukan laporan insiden tabrak lari ke kepolisian, aku ingin saat pihak polisi menemukan pelaku utama, jangan dulu melakukan penangkapan, aku ingin melihat surat laporan terlebih dahulu, dan tugasmu, aku ingin kau menyelidiki lebih lanjut mengenai identitas pelaku, semuanya, dan segera berikan laporannya padaku."

"Baik sajangnim."

Itulah akhir dari panggilannya pada sekertaris yang paling dipercaya olehnya.

Chanyeol merupakan CEO muda dari perusahaan raksasa, dengan ribuan pegawai dan cabang-cabang besar yang tersebar diseluruh Korea maupun negara tetangga.

Memiliki akses dimana-mana, bukankah kejadian seperti ini merupakan hal yang sepele untuknya? Ia akan menemukan siapa pelaku utamanya bukan?

Dan- tidak salah untuk memanfaatkan akses nya agar ia menemukan tersangka dari kejadian ini.

"Aku akan segera menemukan mu, dan bersiaplah untuk mendapatkan balasan yang lebih mengerikan dari apa yang telah kau lakukan."

Kembali pada dirinya yang kini berada dirumah sakit.

Setelah tiga hari, akhirnya ia bisa menemui gadisnya yang sudah tersadar.

Nafasnya memburu, dengan dasi longgar yang sedikit kusut saat ia memasuki ruang rawat inap. Membuka pintu dengan tidak sabaran, dan segera memasuki ruangan dengan bau tajam khas obat-obatan.

Tubuh tingginya segera menghampiri satu-satunya ranjang yang berada disana.

Ia melihat gadisnya.

Tubuh itu semakin kurus saja.

Sejak kedatangannya, gadis itu menolehkan kepalanya, menatap kehadirannya. Kepalanya berbalut perban serta gips yang menghiasi lehernya membuat dirinya mengernyit ngilu, betapa menyakitkan hal itu jika itu terjadi padanya.

"Baekhyun.."

Sebenarnya itu kalimat tanya, namun entah bagaimana cara ia mengucapkannya. Ia hanya terlalu bodoh untuk mengucapkan kalimat tanya itu.

Namun gadis itu hanya menatapnya tanpa mengucapkan kata. Mata sipit yang indah itu menatapnya, manik coklat yang bergerak menelisik wajah dan juga tampilannya, menatapnya seperti orang asing, seolah menscanning dan mengingat-ngingat siapa dirinya sebenarnya.

Lama-lama tatapan itu membuatnya takut.

Gadisnya tidak mungkin melupakan dirinya bukan?

"Kau.. mengenalku Baekhyun?"

Bibir tipis itu masih terkatup, tertutup rapat enggan untuk mengucapkan kata.

Chanyeol tidak pernah mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih menatapnya asing. Ia bisa melihat bagaimana bekas luka itu membiru menghiasi tulang pipinya. Ia bersyukur karna sebelumnya itu lebih parah hingga mengeluarkan darah. Kemudian ia bisa melihat bagaimana bibir tipis itu tergores luka, karena ia bisa melihat sobekan tipis disana, menyisakan warna merah yang kentara dengan kulitnya yang pucat.

Lama terdiam, akhirnya gadis itu membuka mulutnya dan berujar,

"Tentu saja aku mengenalmu, kenapa ahjussi terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur lalu mengikuti lomba lari? Apa aktingku benar-benar seperti orang yang kehilangan ingatan? Whoa- berarti ahjussi itu korban ke, ehmm.. kedua! Setelah oppa, appa dan eomma yang berhasil ku kelabui."

Chanyeol melongo tidak percaya, saat yang ia lihat setelahnya ialah bagaimana gadis itu tersenyum hingga kedua matanya terpejam, namun setelahnya gadis itu mengernyit sakit karna sobekan pada bibirnya menimbulkan rasa perih.

"Ahh bibirku."

Sebelah tangannya yang dihiasi selang infus terangkat untuk meraba bagian bibirnya yang sobek,

"Aishh, kenapa harus disini, perih sekali."

Sedangkan Chanyeol masih tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya sekarang. Hatinya berdegup senang sekaligus bersyukur karena gadisnya ini baik-baik saja.

Namun ada hal lain yang sedari tadi ditahan oleh dirinya, dan sepertinya ia sudah tidak bisa menahan perasaan itu, ia telah menghembuskan nafasnya berkali-kali , namun tetap saja hal itu masih menganjal dalam dirinya,

"Aishh sialan, kemari kau!"

Dengan tubuh besarnya, Chanyeol menghampiri gadis yang terbaring diranjang rumah sakit, memeluk tubuh kurus itu erat, ia tidak bisa menahannya lagi, semenjak ia memasuki kamar inap ini, ia sungguh ingin memeluk gadis itu, menyalurkan rasa bersyukurnya, karna demi apapun, ia sangat khawatir.

"Aahh tubuhku! Sakit- sakitt.."

Chanyeol memejamkan matanya dan memeluk tubuh itu semakin erat, menyalurkan hangat tubuhnya pada gadis yang meronta dalam dekapannya.

"Kau tidak apa-apa.. kau baik-baik saja."

Chanyeol bergumam dan entah kenapa itu berhasil membuat gadis yang berada dipelukannya berhenti memberontak. Gadis itu terdiam, membiarkan lelaki yang lebih tua enam tahun darinya memeluknya erat dan semakin erat.

Namun entah kenapa,

Baekhyun sepertinya pernah mendengar ucapan itu, tapi ia tidak terlalu yakin, apa itu hanya bagian dari mimpinya saat ia tak sadarkan diri?

Baekhyun merasakan kehangatan yang diberikan lelaki yang tengah memeluknya, entah suruhan darimana sebelah tangannya mengelus pelan punggung tagap si lelaki.

Sepertinya lelaki ini begitu mengkhawatirkan nya,

Dan entah kenapa pula pemikiran itu berhasil membuat simpul tipis pada ujung bibirnya.

Baekhyun merasa senang.

Dan itu membuat jantungnya berdegup kencang.

"E-eishh ahjussi lepaskan aku! Kau membuat badanku sakit bodoh!"

Setelah melewati detik-detik mendebarkan yang dirasakan olehnya, Baekhkyun segera mendorong pundak si lelaki agar lelaki itu segera melepaskan pelukannya.

Sebenarnya ia melakukan hal itu agar Chanyeol tidak merasakan jantungnya yang semakin lama semakin berdegup kencang setiap kali ia memikirkan hal-hal yang aneh.

Dorongan pada pundak yang Chanyeol dapatkan membuat dirinya segera melepaskan pelukan pada tubuh yang lebih kecil darinya. Sebenarnya Chanyeol masih belum mau mengakhiri acara berpelukan sepihak itu, karna kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan langka seperti beberapa saat lalu?

Dasar lelaki tua pencari kesempatan!

Tapi Chanyeol tidak berbohong, ia begitu bersyukur sekarang. Baekhyun nya tidak apa-apa, dan mungkin Chanyeol menjadi orang pertama yang paling berterimakasih pada Tuhan,

Setelah keluarga Baekhyun.

"Apakah sesakit itu? Bagian mana yang sakit?"

"Semua tubuhku terasa sakit! Sepertinya seluruh tulang dalam tubuhku patah. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan kepala ku, ini sangat menyakitkan!"

Entah itu benar atau tidak, tapi sebenarnya Baekhyun bisa menolehkan kepalanya saat Chanyeol memasuki ruangan ini.

Tapi bagaimana jika itu benar? Bukankah itu memang akan sangat menyakitkan?

"Apa dokter sudah memeriksamu? Dimana Baekboom?"

"Dokter sudah memeriksaku sebanyak dua kali, mereka bilang yang paling penting sekarang adalah aku yang sudah sadar dan semuanya hanya tinggal menunggu keadaanku hingga membaik dan aku akan membaik jika aku memakan obatnya secara teratur lalu aku diperbolehkan pulang. Dan Baekboom oppa sedang membelikan jus strawberry untukku, kurasa sebentar lagi ia akan kembali."

Baekhyun kembali menjadi Baekhyun seperti biasanya. Meskipun dalam keadaan seperti ini gadis ini masih bisa banyak bicara seperti biasanya.

Lihat? Bukankah ia tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit? Meskipun dengan keberadaan gips dan juga perban yang membalut kepalanya.

"Aku tidak menyangka ahjussi akan datang, apa ahjussi tidak bekerja?"

"Aku sedang istirahat."

"Jam delapan pagi?"

Baekhyun bertanya dengan raut wajah bingung yang menggemaskan, Chanyeol hanya terkekeh ringan dan segera mengambil posisi duduk pada sebuah kursi pinggir ranjang.

Sebenarnya Chanyeol baru sampai dikantornya pukul tujuh tigapuluh, namun ia rela kembali menerobos jalanan padat demi menemui gadisnya yang telah sadarkan diri.

"Hey apa kau sudah sarapan?"

"Hmm sebenarnya belum, mungkin sebenar lagi perawat akan memberikan jatah sarapanku. Ahjussi cepatlah kembali bekerja, aku baik-baik saja."

"Apa kau mengusirku? Baekhyun, aku ingin meminta maaf atas apa yang terjadi padamu."

"Kenapa ahjussi harus meminta maaf? Apa jangan-jangan ahjussi yang menabrak ku?"

"Tentu saja tidak bodoh! Maksudku- jika saja aku bisa menjagamu, ini karena aku yang kurang memperhatikanmu, harusnya aku menemani mu kemanapun kau pergi, saat itu kau adalah tanggung jawab-"

"Ahjussi aku ini bukan anak kecil, lagipula aku tidak terlalu suka jika harus diikuti kemanapun aku pergi."

Baekhyun memotong ucapan Chanyeol dengan bibir bawah yang sengaja dimajukan.

"Tapi kau tertabrak."

"Aishh- bisakah ahjussi mengalah sekali saja? Mana kutau jika tiba-tiba saja ada mobil yang melaju padahal sudah jelas-jelas itu lampu merah, dan jika ahjussi berada dalam posisi ku saat itu apa ahjussi bisa menghindarinya?"

Chanyeol terdiam, ia melihat gadisnya berdecih kesal, dengan kepalanya yang sengaja dipalingkan lengkap dengan ekspresi marah yang dibuat-buat olehnya.

Bukankah itu akan lebih baik? Jika saja saat itu ia yang tertabrak, sehingga Baekhkyun tidak usah mengalami rasa sakit seperti sekarang..

"Whoah.. aku tidak meyangka akan mendapatkan tamu sepagi ini."

Suara itu memecah keheningan yang tercipta diantara keduanya.

Baekhyun segera memalingkan kembali kepalanya, menatap senang kehadiran kakaknya dengan sebuah kantong plastik berisikan jus strawberry yang ditunggu-tunggu olehnya.

"Oppa! Jus strawberry ku!"

Kedua matanya berbinar senang saat akhirnya penantian panjangnya berbuah hasil.

Baekhyun rasa ia sudah menginginkan jus strawberry itu sejak ia tak sadarkan diri. Karna tak lama setelah ia bangun, ia terus menerus merengek minta dibelikan jus strawberry.

Beruntung dokter memperbolehkan Baekhyun mengkonsumsi minuman penuh vitamin itu. Dan sekarang rasanya meminum jus strawberry seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

"Ini dia pesanan anda tuan putri habiskan pelan-pelan."

Baekboom segera mengeluarkan jus strawberry yang telah dibeli olehnya. Dengan sigap Chanyeol segera membantu dengan menaikkan posisi ranjang dan membantu mendudukan Baekhyun agar tidak tersedak saat minum.

"Terimakasih."

Ucap gadis itu riang entah untuk siapa.

Karna dengan jelas ada dua lelaki diruangan itu membantunya.

Entah untuk jus strawberry yang menyegarkan, atau untuk lelaki yang membantunya bangun dan membenarkan posisi ranjangnya.

"Kupikir kau tidak akan datang secepat ini Chanyeol-ah. Kau tidak bekerja?"

Pertanyaan sama yang diajukan oleh kedua adik kakak ini.

"Aku hanya terlalu khawatir jika terjadi sesuatu yang parah pada bocah ini, jadi aku segera kemari untuk memastikan ia bisa bernafas dengan benar atau tidak."

Bohong.

Padahal sudah jelas-jelas lelaki itu sangat mengkhawatirkan kondisi gadisnya sehingga ia rela melajukan mobilnya layaknya seorang pembalap dan berlari seperti seseorang yang tidak mengetahui tatakrama disepanjang koridor rumah sakit.

Baekhyun mendelikkan matanya, berusaha tidak peduli dan lebih memilih menikmati jus strawberry yang menyegarkan.

Meski terasa agak sakit saat ia menelan cairan berwarna merah muda itu, dikarenakan lehernya yang terluka.

"Bagaimana perkembangannya Chanyeol-ah? Apa masih belum ketemu?"

"Belum. Sampai saat ini belum."

Raut wajah Chanyeol berubah menjadi lebih serius sekarang. Pertanyaan Baekboom yang menyinggung siapa tersangka yang menabrak Baekhyun belum tertangkap hingga sekarang. Pihak kepolisian belum menghubungi Chanyeol terkait laporan kejadian tabrak lari yang Chanyeol laporkan tiga hari yang lalu.

Itu membuat Chanyeol sedikit geram. Entah kenapa, ia ingin sekali segera mengetahui pelaku utamanya, menangkapnya dan memberi hukuman yang lebih dari yang Baekhyun dapatkan sekarang.

"Apa? Ketemu siapa? Sesuatu hilang?"

Itu Baekhyun,

Baekhyun menjadi satu-satunya orang yang tidak diberi tau tentang pelaku yang menambrak nya tempo hari. Chanyeol dan keluarga Baekhyun hanya tidak ingin membebani pikiran gadis itu tentang insiden yang membuatnya harus tinggal dirumah sakit untuk beberapa hari.

Mungkin setelah pelakunya ditangkap mereka akan segera memberitau Baekhyun, tapi untuk sekarang, biarkan Baekhyun tidak memikirkan hal seperti itu dan fokus untuk kesebuhannya.

"Bukan apa-apa, oh lihat, sarapanmu sudah sampai tuan putri."

Beruntung seorang suster mamasuki ruangan dengan seporsi sarapan untuk pasien. Membuat Baekhyun melupakan apa yang sebelumnya membuat dirinya penasaran. Akan sangat merepotkan jika gadis itu bertanya ini-itu mengenai apa yang tengah mereka bicarakan.

"Bubur?"

Binar pada mata sipit itu hilang saat Baekhyun melihat semangkuk bubur sebagai sarapan paginya.

"Iya, pasien Byun Baekhyun belum diijinkan memakan makanan berat ataupun keras, jadi untuk saat ini anda hanya diperbolehkan memakan makanan dengan tekstur lembut seperti bubur."

Suster cantik itu tersenyum seraya meletakan semangkuk bubur dan air hangat pada meja ranjang Baekhyun. Setelahnya suster itu memberitau Baekhyun akan diperiksa kembali dua jam setelah sarapan untuk mengetahui keadaannya.

"Semoga lekas sembuh."

Setelah mengucapkan kalimat itu, akhirnya suster itu segera melenggang meninggalkan kamar inap Baekhyun, menyisakan dua orang lelaki dewasa dan seorang pasien patah tulang leher yang menatap sarapannya tidak minat.

"Bisakan setidaknya aku mendapatkan seiris daging atau telur oppa? kenapa hanya bubur polos? Ini tidak akan membuatku bertahan hanya untuk lima menit, aku tidak mau memakannya."

Seperti biasa, Baekhyun yang sadar adalah Baekhyun yang banyak protes dan banyak mengeluh, apalagi dengan segala luka pada tubuhnya membuat Baekhyun semakin manja dan melebih-lebih kan tentang apa yang dirasakan olehnya.

"Kau tidak dengar? Suster itu bilang tenggorokanmu belum bisa menerima makanan berat dan keras, dan dua jam lagi kau akan kembali diperiksa, itu berarti kau harus segera meminum obat, dan itu berarti kau harus makan terlebih dahulu. Mengerti tuan putri? Sekarang, makanlah."

Baekhyun melengkungkan kedua ujung bibir tipisnya kebawah. Sebuah bentuk protes atas perintah yang diberikan Baekboom.

Tapi untuk saat ini, bentuk protes Baekhyun tentu saja tidak akan diterima, meski ia merajuk sekalipun, Baekboom tidak akan termakan rengekan menggemaskan dari adiknya yang sakit itu.

"Suapin!"

Baekhyun akhirnya menyerah. Sepertinya oppanya itu telah membangun tameng disekitar tubuhnya hingga acara merajuknya gagal.

"Kau ini sudah besar, kau bisa makan sendiri bukan? Tidak mau. minta saja pada Chanyeol untuk menyuapi mu."

"APA?!"

Keduanya berkata secara berasamaan. Dan setelahnya mereka hanya saling melirik satu sama lain.

"Kau harus mengajak tamu mu berbicara Baekhyunnie, tidak baik jika kau membiarkannya seorang diri."

Baekboom terkekeh kemudian segera mengambil jasnya yang sengaja ia letakkan pada sofa rumah sakit.

"Eomma akan datang sebentar lagi, dan ini sudah lewat dari jam masuk kerjaku. Aku akan segera berangkat ke kantor sekarang."

Baekboom kemudian memakai jas kerjanya dan menatap Chanyeol yang hanya berdiri disebelah ranjang Baekhyun tanpa melakukan apapun.

"Chanyeol-ah bukankah kau juga harus segera kembali? Tidak apa, tidak perlu mengkhawatirkan Baekhyun, dia akan baik-baik saja."

Tapi Chanyeol melihatnya.

Chanyeol melihat bagaimana gadis cantik itu memajukan bibirnya hingga menyentuh hidung kecilnya. Baekhyun sama sekali tidak meyentuh sarapannya. Dan gadis itu hanya menatap mangkuk yang berisi bubur yang mendingin.

"Lalu Baekhyun disini sendirian?"

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun menolehkan kepalanya dan mentap Chanyeol. Sedangkan Baekboom merapikan setelannya lalu mengambil tas kerjanya.

"Ya, hanya untuk beberapa saat, eomma akan datang, mungkin empat puluh menit lagi."

Baekboom mengecek jam tangannya kemudian menghampiri Baekhyun yang masih tidak melakukan apapun.

"Kau tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan dirimu selama empat puluh menit kedepan bukan? Makanlah sarapanmu, aku harus segera berangkat."

Baekboom mengelus pipi sang adik sayang, membuat Baekhyun sedikit meringis karna setiap persendian dan tulangnya terasa begitu ngilu.

Dan Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang berada diruangan sana yang tidak tega melihat keadaan Baekhyun, ditambah gadis itu akan menunggu sendirian diruangan membosankan ini dan memakan sarapan pagi yang tidak enak itu seorang diri.

"Sepertinya tidak apa-apa bagiku tidak kembali ke kantor sekarang. Kurasa aku masih bisa menemani Baekhyun hingga Nyonya Byun datang."

Chanyeol tersenyum. Sebuah senyuman yang mengisyaratkan 'tidak apa-apa serahkan saja semuanya padaku'.

Membuat Baekboom menganggukan kepalanya kemudian kembali menatap adik satu-satunya yang terlihat lebih baik dari tiga hari yang lalu.

"Aku berangkat sekarang. Chanyeol akan menemanimu jadi makan sarapanmu kau mengerti?"

Baekhyun hanya menganggukan kepalanya lemah lalu mendapatkan sebuah kecupan pada pucuk kepalanya.

"Maafkan aku karna lagi-lagi aku merepotkanmu Chanyeol-ah, terimakasih, aku akan berangkat sekarang."

Baekboom memberikan seulas senyumnya pada Chanyeol lalu segera melangkahkan kakinya keluar kamar inap Baekhyun.

Namun ia berhenti saat ia menutup pintu ruang inap itu, bersandar pada pintu lalu tersenyum.

Bukankah perkiraan nya memang benar?

Ada sesuatu diantara adik dan rekan bisnisnya itu.

Perkiraan itu semakin jelas saat respon Chanyeol yang segera mengunjungi rumah sakit sesaat setelah Baekboom memberitaunya tentang keadaan Baekhyun yang sudah sadarkan diri.

Baekboom memang sengaja, tapi ia tidak menyangka mangsanya akan memakan umpannya secepat ini.

Awalnya Baekboom hanya ingin memastikan tentang prediksinya, apa yang akan Chanyeol lakukan jika rekan bisnis nya tau adik cantiknya itu telah sadarkan diri, maka dari itu ia sengaja memberitaunya pagi hari saat jam kerja, tidak seperti dugaannya, ternyata Chanyeol bergerak cepat, karna lelaki jangkung itu segera mendatangi rumah sakit tidak lama setelah Baekboom mengirimnya pesan singkat.

Woah apakah adik perempuannya lebih penting dari pekerjaannya?

Belum sepenuhnya yakin, Baekboom melakukan hal lain untuk memastikan prasangkanya mengenai hubungan yang terjadi diantara rekan bisnis dan adik semata wayangnya, kakak kandung Baekhyun itu kini berdalih harus segera berangkat ke kantor karna sudah lewat jam kerjanya, dengan alibi eommanya yang akan segera datang setengah jam lagi. Padahal dalam perjanjian nya semalam, eommanya akan datang pukul sembilan nanti, itu berarti masih satu jam lagi dari sekarang.

Semalam eomma nya telah bermalam dirumah sakit untuk menjaga Baekhyun, pagi ini beliau meminta Baekboom untuk berkunjung kerumah sakit terlebih dahulu, ia dipinta untuk menjaga Baekhyun sebelum ia kembali kerumah sakit setelah beliau membawa baju ganti dan membuatkan sarapan untuk kepala keluarga.

Tuan Byun sendiri sudah mengijinkan Baekboom datang terlambat karna ia bisa maklum anak sulung nya harus menjaga terlebih dahulu putri bungsunya dirumah sakit.

Namun siapa sangka ia akan mendapatkan bantuan tak terduga?

Rekan bisnisnya teryata sangat bisa diandalkan, dia datang tepat waktu, tentu saja itu memudahkan tugas Baekboom.

Sebenarnya Bekboom tidak keberatan jika ia harus menjaga Baekhyun, bahkan sebelumnya ia rela mengerjakan tugas kantor dengan bermalam dirumah sakit sembari menjaga adik kesayangannya yang belum sadarkan diri.

Tapi untuk kali ini, akan sangat canggung sekali jika ia berada diantara kedua orang yang sedang menjalani status yang tidak dimengerti olehnya.

Baekhyun bahkan berterus terang jika gadis itu tidak menyukai 'ahjussi mesum' yang telah melecehkan dirinya dulu.

Baekboom terkekeh jika ia kembali mengingat hal itu.

Baekhyun mungkin tidak menyukai Chanyeol, tapi ada sesuatu lain yang Baekboom lihat, justru datang dari Chanyeol.

Dan sekarang sepertinya Baekboom sudah mendapatkan jawaban yang ia cari.

"Baiklah Park Chanyeol, buat aku terkesan."

Dan setelah itu Baekboom benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit setelah ia mengirim pesan singkat pada eommanya bahwa Chanyeol telah mengantikan dirinya untuk menjaga Baekhyun.

Kembali keruang inap dimana seorang pasien masih terdiam tanpa melakukan apapun,

Pasien itu sebenarnya hanya terlalu bingung, apa yang harus ia lakukan dengan kehadiran seorang lelaki yang lebih tua enam tahun darinya?

Sebenarnya situasi canggung ini tidak perlu menyelimuti mereka, karna sebelumnya mereka selalu bertengkar, saling meneriaki, mempermasalahkan hal yang sepele ataupun beradu argumen.

Mereka bahkan pernah tinggal serumah selama satu minggu,

Lalu kenapa mereka berdua saling terdiam tanpa ada seorang pun yang berniat membuka pembicaraan?

"Ahjussi.. kau bisa kembali bekerja, tidak usah mengkhawatirkanku, aku tidak apa-apa jika ditinggal sendiri, lagipula bukankah eomma ku akan segera kemari?"

Akhirnya si pasien memilih untuk mengalah, karna ia sendiri tidak menyukai situasi canggung yang entah sejak kapan meyelimuti mereka,

"Tidak, aku sudah terlanjur mengatakan aku akan menemanimu disini hingga eomma mu datang, jadi tidak usah khawatir, aku tidak akan melarikan diri."

"Aku tidak menyuruhmu untuk melarikan diri bodoh, aku hanya memintamu untuk kembali bekerja, kupikir menjadi pemimpin sebuah perusahan membuatmu memiliki banyak pekerjaan, tapi kurasa kau lumayan santai untuk ukuran seorang CEO."

Jika kau tau Byun Baekhyun, aku memiliki lima pertemuan dengan kolega penting hari ini, kaulah yang membuatku menjadi orang santai, jadi jangan membuatku menyesal dengan memutuskan untuk menemani mu disini.

Chanyeol hanya tersenyum menutupi rasa kesal dalam hatinya, bukankah Byun Baekhyun tetaplah Byun Baekhyun?

Sehat ataupun sakit tetap saja bocah ini selalu menyebalkan.

"Bukankah oppamu sudah menyuruh mu untuk menghabiskan sarapanmu? Itu akan semakin dingin jika kau tidak cepat-cepat menghabiskannya. Makanlah, dan segera minum obatmu."

"Tidak mau! itu tidak enak, aku yakin bubur itu tidak memiliki rasa, pasti terasa pahit, dan itu hanya akan membuatku mual."

"Ingin kusuapi?"

Baekhyun kembali terdiam, sebenarnya bukan keinginannya untuk diam, tapi kini jantungnya kembali berdetak kencang tanpa sepengetahuannya.

Kenapa ia harus merasa gugup hanya karna satu kalimat singkat yang diucapkan oleh Park Chanyeol?

"Aku bukan anak kecil, aku bisa makan sendiri!"

Jadi itulah yang dilakukan olehnya untuk menutupi rasa gugup dan debaran yang terus dihasilkan oleh jantungnya.

"Aku tidak tau jika orang dewasa yang mengatakan itu sebelumnya merengek pada oppanya untuk disuapi."

Chanyeol menahan senyumnya saat bocah itu meliriknya dengan tatapan sinis seolah bisa membuatnya terluka dengan tatapan yang sebenarnya sungguh menggemaskan.

"Sudah kubilang ahjussi lebih baik kembali bekerja saja, kau hanya akan mengejekku jika terus disini!"

Dan Baekhyun menyesali debaran jantungnya, karna nyatanya lelaki tua ini hanya ingin mengerjainya.

"Hahaha, baiklah maafkan aku tuan putri, jadi, ayo habiskan sarapanmu."

"Ish- jangan memanggilku dengan sebutan itu!"

"Kenapa?"

"Terasa aneh jika kau yang mengatakannya, kau tidak bisa menyamai cara oppa eomma dan appa-ku."

"Bukankah aku pernah mengatakan hal itu sebelumnya Baek?"

"Benarkah? Kapan?"

"Saat kau berenang dipantai Jeju bersamaku."

"Oo.. HAHAHAHA- kurasa aku melupakannya."

Baekhyun tertawa canggung setelahnya, dengan menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Padahal yang sebenarnya, Baekhyun tidak ingin mendengar Chanyeol yang memanggilnya seperti itu, karna itu akan mendatangkan kembali jantungnya yang berdegup kencang.

.

.

.

.

.

-Be Mature With Me-

.

.

.

.

.

Pada akhirnya Chanyeol bisa kembali ke kantornya pukul sembilan tigapuluh. Nyatanya, Nyonya Byun kembali kerumah sakit pukul sembilan, dan Chanyeol tidak segera meninggalkan kamar inap Baekhyun.

Ia berbincang beberapa saat dengan Nyonya Byun, beliau bilang seharusnya Chanyeol tidak usah repot-repot menemani Baekhyun, karna beliau sudah tau, pastilah Chanyeol orang sibuk yang memiliki segunung pekerjaan yang harus dikerjakan, tapi Baekhyun dengan santainya berucap,

"Tenang saja eomma, ahjussi ini sama sepertiku, dia hanya orang santai seperti kebanyakan orang."

Ya. Orang santai yang membatalkan pertemuan pertamanya dengan orang penting karena terlambat datang kekantor.

Sebenarnya kedatangan Chanyeol kekantor tidak bisa ditolelir sebagai keterlambatan.

Terlambat tiga jam dari waktu yang telah ditentukan tidaklagi disebut terlambat bukan?

Beruntung Chanyeol menduduki posisi paling tinggi di tempat kerjanya.

Tidak ada yang bisa menegurnya.

Jadi yang ia lakukan adalah meminta sekertarisnya untuk mengatur ulang pertemuan yang tidak dihadirinya dan berusaha mendapatkan persetujuaan dari orang penting yang akan bertemu dengannya.

Bukankah itu hal yang mudah? Lagipula Chanyeol tidak perlu repot-repot mengaturnya, itulah tugas yang harus dikerjakan oleh sekertarisnya.

Namun Chanyeol tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, tak masalah jika ia harus menemani Baekhyun seharian penuh dirumah sakit, ia bahkan bersedia jika diminta untuk bermalam disana.

Ia senang bisa menemani Baekhyun, dan ia lebih senang lagi saat mengetahui gadisnya itu tidak apa-apa.

Ponselnya bergetar saat ia membaca beberapa dokumen yang menumpuk dimeja kerjanya.

Tanpa melihat siapa yang mengirim pesan singkat untuknya, Chanyeol segera membuka pesan singkat yang masuk keponselnya dan membaca sederet kalimat yang ditampilkan dilayar ponselnya.

"Hey aku merindukanmu, kapan kau memiliki waktu luang? Sepertinya eommaku juga merindukanmu Chanyeol-ah."

Tanpa membaca siapa pengirim pesan singkat itu, sudah pasti Chanyeol mengetahuinya.

"Sial."

Entah kenapa lelaki jangkung itu mengumpat saat ia selesai membaca pesan singkat yang ia terima,

Lelaki itu melupakan keberadaan seseorang yang harus ia urus.

Kejadian yang menimpa Baekhyun membuatnya melupakan sesuatu yang penting.

Ia terlalu menghabiskan waktunya dengan mengkhawatirkan keadaan Baekhyun tanpa ia sadari, ada hal penting yang harus diselesaikan olehnya.

Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?

"Sajangnim?"

Chanyeol mengangkat kepalanya setelah beberapa saat ia menundukan kepalanya yang mendadak pening, kedua matanya menatap kehadiran sekertarisnya,

Kim Jongdae.

Lelaki yang seumuran dengannya itu membawa sebuah amplop disebelah tangannya yang kemudian meletakkan amplop yang entah apa isinya pada meja Chanyeol.

"Ini hasil laporan kepolisian, aku menerimanya pagi tadi. Itu berisi tentang informasi dari beberapa plat mobil yang sajangnim laporkan. Karna sajangnim hanya bisa mengingat beberapa dari nomor plat mobil pelaku, pihak polisi memberikan beberapa informasi pemilik mobil yang dicurigai sebagai pelakunya. Namun ada sesuatu yang janggal disana."

Sembari mendengarkan penjelasan dari sekertarisnya, Chanyeol segera membuka amplop berwarna coklat muda dan mengeluarkan isinya yang berupa lembaran kertas.

Terdapat foto identitas diri dan foto mobil yang disertakan disana. Tercetak juga beberapa nama dari orang-orang yang memuat informasi didalamnya.

Chanyeol membuka lembaran kertas itu karna dirasa ia tidak mengenal orang dan juga foto mobil yang tertera disana.

Dan saat ia membuka lembaran kelima, kedua alisnya bertemu.

"Jung Jaemin?"

Chanyeol kemudian memfokuskan penglihatannya pada foto mobil yang tercetak disana.

Mobil yang sama yang ia lihat tiga hari yang lalu.

Mobil yang sama yang menabrak Baekhyun tiga hari yang lalu.

Lalu plat mobilnya?

1308

Karna Chanyeol tidak begitu yakin dengan angka yang tidak ia ingat, ia segera menanyakannya pada sekertaris kepercayaannya.

"Kau sudah menyelidiki Jaemin?"

"Ya sajangnim."

Ucap sekertarisnya tanpa keraguan.

"Kami menemukan jika akhir-akhir ini Nyonya Jaemin sering melakukan pemeriksaan rutin kesebuah rumah sakit di daerah Apgujeong."

"Rumah sakit?"

Kedua alisnya semakin mengernyit bingung.

Apa yang dilakukan Jaemin dirumah sakit? Pemeriksaan apa?

"Pemeriksaan apa yang kau maksud?"

"Kami kurang begitu yakin sajangnim, karna pihak rumah sakit tidak bisa memberikan informasi diluar dari keluarga pasien. Tapi yang dapat kami pastikan adalah Nyonya Jaemin sering melakukan pemeriksaan pada spesialis kandungan."

"Apa?!"

Chanyeol meninggikan suaranya, membuat Jongdae sedikit terlonjak dari tempatnya.

"Beri aku alamat rumah sakit yang kau maksud sekarang."

Chanyeol segera beranjak dari kursi kepemimpinannya, kembali mamasukkan lembaran kertas pada amplop dan segera meraih kunci mobilnya dan segera berlalu melewati sekertarisnya.

"Tapi- sajangnim, pertemuan yang harus kau hadiri-"

"Batalkan semuanya. Aku mungkin tidak akan kembali lagi kemari jadi kuserahkan semuanya padamu."

Tanpa menoleh, Chanyeol segera melangkahkan kakinya secara tergesa. Memasuki lift dan segera melesat keluar dari kantor perusahaannya dan memasuki mobil mahalnya.

Ia memberhentikan mobilnya diparkiran rumah sakit Hallym Medical Center seperti yang diberitau Jongdae melalui pesan singkat.

Sebenarnya Chanyeol masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang membuatnya tidak mengerti, ia juga tidak mengerti kenapa ia berada disini sekarang.

Pertama kali yang ia datangi adalah meja resepsionis. Chanyeol menyebutkan nama Jung Jaemin, dan segera petugas rumah sakit mengetikkan sesuatu pada mesin komputer.

"Nyonya Jaemin tidak memiliki jadwal pemeriksaan untuk sekarang. Beliau memiliki jadwal dua minggu lagi."

Pernyataan yang dikatakan petugas itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Apa yang sebenarnya terjadi yang tidak diketahui oleh Chanyeol?

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Maaf, bisakah aku meminta hasil laporan pemeriksaan Nyonya Jaemin?"

"Maaf tuan, kami tidak bisa memberikan informasi terkait pasien pada orang lain selain keluarga pasien yang bersangkutan."

"Aku bagian dari keluarganya."

"Kalau boleh tau, siapa anda?"

"Aku-"

Chanyeol menghentikan ucapannya, ia pun tidak begitu yakin bagaimana ia memberitau identitasnya pada petugas rumah sakit ini.

"Kalau begitu bisakah kau memberitauku siapa dokter yang menangani Jaemin? Bisakah aku bertemu dengannya?"

"Tentu, beliau sedang ada pasien sekarang, anda bisa menunggunya beberapa menit lagi."

"Baiklah kalau begitu, terimakasih."

Kini Chanyeol menunggu pada sebuah kursi rumah sakit.

Belum ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

Pikirannya mengira-ngira kemungkinan apa yang bisa terjadi.

Jaemin tidak mungkin hamil bukan?

Well, itulah prasangka pertama yang memenuhi pikirannya. Ditambah bukti yang menunjukan jika Jaemin menjalani pemeriksaan rutin ke spesialis kandungan.

Tapi, kalaupun Jaemin hamil, kenapa wanita itu tidak memberitaukan hal ini pada Chanyeol?

Tidak bisa dipungkiri memang, selama tiga tahun ini mereka menjalani hubungan yang bisa dibilang bukan sebuah hubungan yang dijalani seperti anak remaja atau semacamnya.

Mereka telah melakukan hubungan intim yang sejatinya dilakukan oleh suami istri bukan hanya sekali atau dua kali.

Pertanyaan baru kembali memenuhi kepalanya.

Jika memang sudah selama itu..

"Kenapa baru sekarang?"

"Park Chanyeol-ssi?"

Suara itu membuat Chanyeol beranjak dari duduknya.

Dihadapannya adalah seorang lelaki mengenakan jas putih dengan stetoskop yang tersimpan disaku jas dokternya.

"Perawat itu mengatakan jika saya memiliki seorang tamu, senang berkenalan dengan anda."

Dokter itu mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Chanyeol, meski ia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang dilakukannya sekarang, Chanyeol hanya memberikan senyum wibawanya.

"Sepertinya akan lebih santai jika kita melanjutkan pembicaraan ini diruangan saya, ini pertama kalinya saya melihat anda, Jaemin-ssi bilang suaminya sangat sibuk mengurus pekerjaan, kurasa saya bisa melihatnya dengan jelas."

Dokter itu tersenyum simpul setelah ia menelisik pakaian formal Chanyeol, bisa disimpulkan jika Chanyeol adalah seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan, begitulah perkiraan sang dokter.

Sudut alis Chanyeol berdenyut. Dokter itu tidak salah bicara bukan?

Sepertinya dokter ini memang mengenal sosok Jaemin, tapi apa yang ia maksud dengan suami?

Menampung pertanyaan baru dikepalanya, Chanyeol memilih untuk tidak banyak bicara dan mengikuti langkah sang dokter yang membawanya pada ruangan pribadinya.

Chanyeol berharap ia akan segera mendapatkan jawaban dari semua kenyataan yang tidak diketahui olehnya.

Chanyeol kemudian memasuki sebuah ruangan bertuliskan spesialis kandungan yang tertera pada pintu.

Ia kemudian mendudukkan dirinya pada sebuah meja yang berhadapan langsung dengan sang dokter dan berharap bisa segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Jadi, apa yang bisa saya bantu?"

Pertanyaan dokter itu membuat Chanyeol semakin kebingungan ditempatnya.

Sebenarnya Chanyeol juga tidak tau apa yang harus ia tanyakan terlebih dahulu.

"Bagaimana keadaan Jaemin sekarang?"

Setelah terdiam dan menimang-nimang apa yang seharusnya Chanyeol tanyakan, akhirnya satu pertanyaan itu terlintas dalam kepalanya.

Sebenarnya Chanyeol hanya tidak ingin membuat hal ini semakin rumit. Jika rumah sakit akan memberti tau apa yang terjadi hanya pada keluarga pasien, jadi mari kita ikuti permainan mereka.

"Apa istri anda tidak memberitaukan apa yang sedang dialami oleh istri anda?"

Kata 'istri' membuat Chanyeol semakin yakin, apa Jaemin menggunakan identitas dirinya sebagai suami.

"Ia tidak mengatakan banyak hal, dan itu yang membuat saya semakin khawatir. Akhir-akhir ini prilakunya juga tidak seperti biasanya, jadi sepertinya akan lebih baik jika saya mencari tau sendiri penyebabnya."

"Mengenai hal itu, saya memang sudah memberitaukan perihal ini pada Jaemin-ssi, sepertinya istri anda terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, itu membuatnya stress, dan itu sangat memperngaruhi pada terapi yang sedang dijalani olehnya. Maka dari itu saya menyarankan mungkin akan lebih baik jika kalian bisa mengkomunikasikan perihal ini secara bersama-sama, atau akan lebih baik jika anda bisa menemani istri anda pada saat melakukan terapi. Sebenarnya hal-hal sederhana seperti itu bisa sangat membantu sekali."

"Lalu, bagaimana perkembangan terapinya?"

"Sebeneranya untuk kasus Jaemin-ssi tentu bisa memakan waktu yang cukup lama. Infertilitas yang diderita istri anda memang memerlukan kesabaran terutama dalam hal waktu. Infeksi ovarium yang menyebabkan ovariumnya rusak membuat beliau harus menjalani terapi dalam waktu yang cukup lama. Jika Infertilitas pada umumnya bisa sembuh dalam waktu kurang lebih 6-9 bulan setelah melakukan terapi, mungkin akan memakan sedikit waktu lebih lama bagi istri anda. Tentu saja kondisi tubuhnya menjadi faktor penting bagi kesembuhannya. Beliau harus lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi, hindari rokok dan juga minuman keras serta hindari stress yang bisa membuat keadaan nya memburuk."

Chanyeol merasakan pening yang luar biasa saat mendengar penjelasan dokter dihadapannya.

Semuanya seperti semakin tidak masuk akal saja. Sepintas terpikir olehnya,

Apa semua ini lelucon?

"Selalu ada harapan dan juga kesempatan untuk sembuh, akan lebih baik jika anda bisa lebih sering memperhatikan kondisi istri anda. Mungkin dengan begitu akan mengurangi beban pikiran istri anda."

Dokter itu kembali tersenyum, namun tidak dengan Chanyeol. Ia ingin segera pergi dari sini dan memastikan secara langsung kenyataan yang baru saja diketahui olehnya.

"Maaf dokter, tapi bisakah aku mendapatkan laporan dari hasil terapi Jaemin selama ini? Akhir-akhir ini ia tidak mau membicarakan soal terapinya kepada saya."

Chanyeol menatap kosong pada meja berbahan kayu itu. Sorot mata yang tidak bisa ditebak apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan.

Sorot mata yang penuh tanya, namun terlihat menakutkan, seperti tengah menahan sebuah amarah besar didalamnya.

Berbagai hal memenuhi kepalanya. Dan sesuatu didalam dirinya berteriak marah.

Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?

Setelahnya Chanyeol menerima amplop putih dengan bagian atasnya yang bertuliskan nama rumah sakit yang ia kunjungi sekarang. Chanyeol segera beranjak dari duduknya setelah bergumam terimakasih dan akhirnya ia segera melenggang pergi dari sana.

Didalam mobil, Chanyeol kembali terdiam.

Ia segera membuka amplop yang baru saja ia dapatkan. Berisi lembaran kertas yang cukup tebal karna lembaran kertas itu cukup banyak.

13 November 2016

Jung Jaemin

20 Novermber 2016

Jung Jaemin

26 November 2016

Jung Jaemin

02 Desember 2016

Jung Jaemin

Hingga pada lembar terakhir,

24 Mei 2017

Jung Jaemin

Chanyeol membaca deretan huruf pada kertas itu, terdapat beberapa kata yang tidak ia mengerti dan juga sebuah diagram yang entah apa maksudnya.

Kata Infertilitas menjadi kata yang membuat kepalanya berdenyut pusing.

Ia kembali melihat lembaran-lembaran kertas sebelumnya. Semuanya adalah hasil pemeriksaan Jaemin, calon tunangannya. Wanita itu bahkan melakukan pemeriksaan rutin seminggu sekali.

"Tujuh bulan.."

Chanyeol bergumam dalam duduknya. Selama tujuh bulan wanita itu menyembuyikan hal ini darinya, atau mungkin sebenarnya lebih lama dari itu?

Kenyataan itu membuat kepalan pada tangannya menguat, meremas pinggiran kertas yang membuat kertas itu kusut.

Menyalakan mesin mobil, Chanyeol segera meninggalkan rumah sakit, ia mengirim pesan singkat diperjalanan.

Ada seseorang yang harus ia temui sekarang.

Ditempat lain,

Seorang wanita tengah sibuk dengan pekerjaannya.

Wanita cantik itu sibuk membalutkan kain pada patung dihadapannya, menusukkan jarum sebagai penanda kemudian kembali menyelimuti patung itu dengan kain berbeda warna.

Ini merupakan karya yang kesekian kalinya.

Design pakaian barunya akan ia pamerkan pada sebuah acara penting mendatang. Tentu saja ia merasa senang sekaligus bangga, bukankah ia sangat beruntung dengan bakat yang ia miliki?

Gebrakan dipintu membuat wanita itu terlonjak kaget di tempatnya. Ia membalikkan badan dan mendapati lelaki jangkung memasuki ruang kerjanya.

Jarang-jarang lelaki jangkung itu mengunjungi dirinya ditempat kerja.

Oh bukankah sekarang jam kerja?

Namun semua itu tidak menjadi masalah, ia merasa senang dapat melihat lelaki jangkung yang sangat dirindukan olehnya.

Meskipun ia bingung dengan ekspresi si lelaki jangkung yang terlihat mengerikan tidak seperti biasanya.

"Chanyeol-ah.. kau berkunjung? Kenapa tidak memberitau dulu jika kau akan datang?"

Si wanita tersenyum begitu cantik. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang nya saat lelaki yang dicintainya datang mengunjungi dirinya.

Namun lelaki itu tidak bergeming dan terus menatapnya, membuat wanita itu bingung dengan raut wajah si lelaki jangkung.

Jika boleh jujur, raut wajah itu sangat menakutkan.

Sebelah tangan si lelaki terulur, melemparkan sebuah amplop berwarna putih pada meja kerjanya, menutupi lembaran kertas dibawahnya yang merupakan gambar design nya.

Kedua iris si wanita menatap amplop yang berada di atas meja kerjanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan silelaki jangkung.

Namun deretan huruf pada amplop itu membuat tubuhnya menegang.

Hallym Medical Center.

"Bukankah itu milikmu?"

Tubuh wanita itu menegeng ditempatnya.

Ia kehabisan kata-kata.

"Jelaskan padaku."

Suara berat yang menuntut itu membuat dirinya terpojok dan bergidik takut.

Tidak mendapat respon dari wanita yang hanya terdiam, si lelaki kembali mengeluarkan suaranya.

"Seorang dokter berkata mengenai sesuatu yang tidak masuk akal padaku, kupikir semuanya lelucon, hingga aku mendapatkan semua data itu bertuliskan namamu, bukankah ini terlihat konyol?"

Suara wanita itu seperti lenyap entah kemana, lelaki jangkung itu mengintimidasi dirinya, membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

"JELASKAN PADAKU JUNG JAEMIN!"

Hingga bentakan keras dari si lelaki jangkung membuat kedua kakinya lemas, ia melangkah mundur, punggung nya menabrak patung yang dijadikan model untuk pakaiannya jatuh, dan sekarang ia semakin terpojok tidak bisa melakukan apapun.

"Chan.. Chanyeol.. ak- aku.."

Saat suara itu keluar, saat itu juga genangan air dimatanya menumpuk. Suaranya bergetar, ia sangat takut sekarang.

Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan, sesuatu yang selama ini ia simpan sendirian, sesuatu yang selama ini ia rasakan sendirian,

Kenapa lelaki ini bisa mengetahuinya?

Kenapa harus lelaki ini yang mengetahuinya?

Selama ini ia menyembunyikan hal ini agar lelaki itu tidak tau, ia bahkan rela menderita seorang diri asalkan lelaki ini tidak tau, lelaki ini adalah satu-satunya orang yang ia hindari atas kebohongan yang ia lakukan

Tapi kenapa?

Kenapa malah lelaki ini yang mengetahui semuanya?

Kenapa lelaki yang dicintainya yang mengetahui semuanya?

Jaemin takut.

Bukan ini yang diinginkan olehnya.

Meskipun Jaemin belum mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, ia begitu takut. Takut jika lelaki ini akan meninggalkannya.

Calon tungannya itu kembali melemparkan amplop ke meja kerjanya, amplop dengan warna yang berbeda dari sebelumnya.

"Kau yang melakukannya bukan?"

Dengan ragu, Jaemin meraih amplop berwarna coklat dan mengeluarkan isinya,

Lembaran kertas lain yang membuatnya membulatkan mata dengan kedua tangannya yang bergetar.

"Byun Baekhyun, tiga hari yang lalu, kau yang menabraknya bukan?"

Dan kali ini air matanya benar-benar jatuh.

Ia tidak bisa berbuat apapun sekarang, seperti terpaku ditempat,

Apakah semuanya berakhir disini?

"Chanyeol.. de-dengarkan aku dulu.."

"KAU MENCELAKAI ORANG JUNG JAEMIN!"

"DIA MENCOBA MEREBUTMU DARIKU CHANYEOL!"

Bentakan yang ditujukan Chanyeol padanya, membuatnya secara tak sadar ikut meninggikan suaranya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

"Dia mencoba merebutmu dariku Chanyeol.."

Suara itu melemah, terdengar begitu lirih dan menyakitkan.

Sedangkan Chanyeol terpaku ditempatnya, bagaimana bisa semua ini terjadi?

Chanyeol menatap wanita yang telah dikenalnya sejak lama itu menangis, menangis dengan matanya yang memerah,

Wanita yang telah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun itu terisak dalam tempatnya, dengan air mata yang terus mengalir seolah tak mau berhenti.

Wanita itu membuat dirinya seperti dibohongi,

Wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya,

Wanita itu.. yang melukai gadisnya.

"Tidak Jaemin.. bukan dia yang mencoba merebutku. Tapi aku yang mencoba membuatnya menjadi miliku."

Kalimat itu membuat hatinya berdenyut sakit.

"Chanyeol.."

Jaemin berujar lirih, ia menggerakkan kedua kakinya yang terasa lemas menghampiri lelaki jangkung yang sangat dicintainya. Ia meraih lengan kokoh itu, menatap sosok yang terlihat begitu marah.

"Kemasi barangmu, kita pulang. Aku telah memberitau eomma ku mengenai ini, kita akan membcarakan ini bersama keluargamu."

Lingkaran tangan pada lengannya terlepas. Wanita itu berjalan mundur menjauhi dirinya.

Ia menggelangkan kepalanya pelan,

"Tidak.. tidak boleh seperti ini.."

Air matanya semakin berdesakkan keluar dari kedua matanya yang mulai sembab, tubuhnya kembali menabrak sesuatu dibelakangnya, ia menabrak meja kerjanya.

"Segera kemasi barangmu Jung Jaemin!"

Chanyeol kembali membentak, suara berat dan tingginya membuatnya semakin takut dan tidak bisa berbuat apa-apa,

"TIDAK!"

Jaemin menjerit, mengambil gunting kain dimeja kerjanya lalu mengarahkannya pada bagian samping lehernya.

"Tidak.. kau tidak bisa melakukan ini padaku Park Chanyeol!"

Jaemin kembali menggelengkan kepalanya pelan, dengan gunting yang digenggam erat olehnya yang mengarah tepat pada lehernya.

Seorang karyawan yang berada disana menjerit dengan apa yang dilihatnya.

Beberapa saat yang lalu memang beberapa karyawan menghentikan pekerjannya saat mendengar sebuah bentakan yang berasal dari kantor atasannya.

Hingga bentakan itu terus berlangsung, salah satu karyawan berinisiatif memastikan apa yang sedang terjadi.

Dan betapa mengejutkannya saat keryawan itu melihat atasannya yang menangis dengan sebuah gunting yang mengarah pada lehernya, atasannya itu mencoba melukai dirinya sendiri.

"APA YANG KAU LAKUKAN!?"

.

.

.

Keesokan harinya Jaemin duduk pada sebuah kursi dibagian departure. Pesawatnya akan lepas landas kurang lebih duapuluh lima menit lagi.

Ia tidak mengenakan riasan pada wajah cantiknya. Kedua matanya masih terlihat sembab dan bibirnya terlihat pucat.

Ia hampir menghilangkan nyawanya sendiri kemarin, jika saja lelaki jangkung yang berada bersamanya tidak segera merebut gunting yang berada ditangannya, mungkin gunting itu sudah menembus lehernya.

"Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku!"

Jaemin memberontak saat Chanyeol berusaha menjauhkan gunting yang sedari tadi digenggam erat olehnya.

Lelaki itu mendekapnya dari belakang, berusaha menghentikan dirinya yang berontak, hingga kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi.

Kedua sisi gunting itu terbuka, dan salah satu sisinya berhasil menyayat telapak tangan si lelaki jangkung yang mencoba menyelematkan dirinya.

Hingga dalam hitungan detik, cairan kental berwarna merah itu menetes mengotori lantai.

"Chan- Chanyeol.. tangan- tanganmu.."

Air matanya kembali menetes dipagi yang dingin.

Kilasan peristiwa kemarin masih terlihat jelas olehnya. Seolah menjadi mimpi buruk baginya.

Kejadian itu terus berputar didalam kepalanya.

Setelah dirinya membuat telapak tangan calon tungannya terluka tanpa sengaja, Jaemin akhirnya bisa diajak pulang.

Yang lebih mengejutkan lagi, dirumahnya kedua orang tua dan orang tua Chanyeol telah berkumpul di ruang tengah.

Nyonya Park terlihat panik saat melihat tangan anaknya dihiasi perban dengan cairan merah yang merembes dipermukaannya.

Pertemuan keluarga itu menjadi pertemuan keluarga yang paling tidak diinginkan olehnya.

Chanyeol mengatkan semuanya.

Lelaki itu memberikan semua bukti mengenai hal yang selama ini disembunyikan olehnya dan juga fakta jika dirinya telah menjadi seorang krimial karna dengan sengaja menabrak seseorang.

Nyonya Jung tentu saja menangis tidak percaya atas apa yang dialami dan dilakukan oleh putri kesayangannya.

Seharusnya Jemin menyerahkan dirinya ke kepolisian, bukan menunggu jadwal penerbangannya ke kota New York, Amerika.

Ini karena kedua orang tuanya, dan mungkin ini merupakan jalan terbaik baginya, meskipun disetiap pilihan terbaik selalu ada pilihan terburuk.

Kenyataan pahit yang diterimanya kemarin adalah,

Kedua pihak keluarga setuju untuk tidak menyerahkan Jaemin pada pihak kepolisian, sebagai gantinya, ia akan melakukan pengobatan pada psikis nya, dan juga menjalani terapi untuk Infertilitas yang dideritanya di New York, Amerika. Dan hubungan diantara keluarganya dan keluaga Park berakhir saat itu juga.

Entah Jaemin harus bersyukur atau tidak.

Ia memang tidak mendekap pada gelapnya sel penjara, tapi kenyataan bahwa ia kehilangan Chanyeol, dan dirinya yang merasa seperti diasingkan dengan dikirim ke negeri orang, membuatnya merasakan sakit dan marah yang mendalam.

Apa ini merupakan balasan atas apa yang telah ia lakukan?

Entah sudah berapa banyak air mata yang telah ia keluarkan, ia tidak bisa untuk berhenti menangis,

Ini terlalu menyakitkan.

Ia bahkan tidak peduli jika seseorang telah duduk disebelahnya.

Rasanya, akan lebih baik jika ia mengakhiri hidupnya kemarin.

"Oh, Jaemin-ssi?"

Seseorang yang duduk disebelahnya memanggil namanya, membuat Jaemin mau tidak mau menolehkan kepalanya tanpa membenarkan tampilan wajahnya yang dihiasi air mata yang telah mengering dan matanya yang sedikit memerah.

"Itu benar-benar anda, apa yang anda lakukan disini? Apa anda akan pergi kesuatu tempat?"

Tanya orang itu menyadari sebuah koper dengan ukuran besar berada disebalah wanita itu.

Orang itu ternyata dokter yang selama ini menangani terapinya,

Lee Jae No.

"Dokter Lee? Aku akan pergi ke New York, apa yang anda lakukan disini?"

Jaemin sedikit bingung, kenapa ia bisa bertemu dengan dokternya disini?

"Wahh apa ini sebuah kebetulan? Aku dipindah tugaskan, dan kali ini aku ditempatkan disalah satu rumah sakit di New York. Kurasa kita akan saling bertemu setelah ini."

Dokter itu tersenyum, senyum yang biasa Jaemin lihat, sebuah senyum yang bisa menenangkan sedikit perasaanya.

"Ya. Kurasa saperti itu dokter Lee."

"Tidak-tidak, tidak usah memanggilku seformal itu, panggil saja aku Jeno."

.

.

.

.

.

-Be Mature With Me-

.

.

.

.

.

Baekhyun mengeliat dalam tidurnya. Gips yang terpasang dilehernya membuatnya sedikit tidak nyaman. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk membuka matanya dan mengakhiri tidurnya.

Ia mengerjapkan kedua matanya, membenarkan penglihatannya yang masih buram selepas bangun tidur.

Namun sesuatu terasa berbeda. Rasanya seperti ada oranglain yang menemani dirinya, maka dari itu Baekhyun menolehkan kepalanya.

Setelahnya, iya tidak menyangka akan mendapatkan kejutan sepagi ini.

"Se- Sehun?"

Baekhyun yakin jika ia sudah terbangun dari tidurnya, atau mungkin sekarang ia masih bermimpi?

Apa mimpi bisa sejelas ini?

Baekhyun dapat melihat mantan kekasihnya itu hanya menatapnya dalam diam.

Sejak kapan dia ada disini? Apa orang ini sudah ada sejak ia masih tertidur?

Tunggu-

Bukankah seharusnya Baekboom yang menjaganya dipagihari? Kemana oppa nya itu?

"Di- dimana Baekboom oppa?"

"Dia sudah berangkat limabelas menit yang lalu, saat kau masih tertidur. Dan dia menitipkan mu padaku hingga eomma mu datang."

"A- apa?"

Sekarang Baekhyun yakin jika ia sudah sepenuhnya terbangun dari tidurnya. Dan sudah dapat dipastikan jika yang sedang duduk dipinggir ranjangnya adalah Sehun.

Mantan kekasihnya.

"Darimana- darimana kau tau jika aku disini?"

"Semalam aku kembali mengirimu pesan singkat, setelah kau menghindari pesan dan panggilanku, pagi ini akhirnya kau membalas pesan singkatku. Kupikir itu dirimu, ternyata Baekboom yang membalas. Dia memberitau jika kau mengalami kecelakaan empat hari yang lalu. Kenapa kau tidak memberitau mengenai hal ini padaku Baek?"

Baekhyun segera mengalihkan pandangannya pada objek lain selain Sehun.

Sepertinya semalam ia tidur lebih awal, ia menjadi sering tertidur, mungkin itu salah satu efek dari obat yang dikonsumsinya.

Ia bahkan tidak tau jika semalam Sehun kembali mengirimnya pesan singkat, dan sialnya, kenapa oppanya memberi tau orang ini tentang apa yang dialami olehnya?

"Baekhyun.."

Baekhyun berusaha bangun dari posisi tidurnya, ia menolak bantuan yang akan diberikan Sehun, karna ia menghindar saat lelaki itu mencoba menyentuhnya dan membantunya bangun.

Kepalanya masih berdenyut saat ia mencoba bangkit dari tidurnya, tapi kondisinya kini lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

"Bisakah sekarang kau mendengarkan apa yang akan kubicarakan Baek?"

Baekhyun masih enggan menatap Sehun, ia lebih menatap kedua kakinya yang terbalut selimut.

Sial, ia tidak bisa kabur sekarang.

Dan lebih sialnya lagi, tidak ada seorangpun yang bisa dimintai tolong olehnya.

Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa karna saat pertama kali ia membuka mata, orang itu sudah ada disebelahnya.

"Tidak taukah betapa aku mengkhawatirkanmu Baek? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

"Bukankah oppa sudah memberitaukannya padamu? Aku tertabrak mobil."

"Bagaimana bisa kau tertabrak mobil? Seingatku kau bukanlah anak kecil yang tidak tau bagaimana caranya menyebrang jalan."

"Mana mungkin aku tau! Kau bisa menanyakan pada orang lain yang ikut menyebrang bersamaku, tanyakan pada mereka kenapa mereka tidak ikut tertabrak juga! Apa karna mereka bukan anak kecil?!"

Entah kenapa Baekhyun merasa ia begitu emosi sekarang.

Namun berbanding terbalik dengan kedua matanya yang memanas hingga ia bisa merasakan cairan bening yang mulai memburamkan penglihatannya.

"Kau tidak tau bagaimana aku melewatkan kelas pagiku saat aku menerima berita itu dari Baekboom hyung. Kau membuatku khawatir."

"Aku tidak menyuruhmu untuk melewatkan kelas pagimu dan tidak menyuruhmu untuk datang kemari."

Baekhyun berujar ketus tanpa ada niatan untuk menolehkan kepalanya.

"Baekhyun.."

Suara itu melembut saat ia melihat tangan berinfus itu mengusap lelehan bening yang mengalir membasahi pipi pucatnya.

"Maafkan aku.. aku benar-benar khawatir padamu, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, mengertilah, aku ingin kau baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja, tidak usah mengkhawatirkan ku, kau bisa pulang sekarang."

Sehun menghembuskan nafas beratnya, sepertinya Baekhyun benar-benar menolak kehadiran dirinya.

Mungkin ini memang salahnya, datang sepagi ini dan berhasil membuat gadis cantik itu menangis dipagi hari,

Bukankah harusnya ia datang dengan membawa bingkisan atau buah-buahan?

"Apa kau masih marah padaku? Apa aku menyakitimu seburuk itu? Aku tidak tau yang kulakukan bisa membuatmu seperti ini, aku hanya tidak ingin kau semakin tersakiti olehku Baek."

"Lalu kenapa kau masih disini? Kau hanya membuatku semakin tersakati. Jika yang kau putuskan saat itu adalah agar tidak menyakitiku, seharusnya kau tidak berada disini bukan? Seharusnya kau pergi meninggalkan dan menjauhiku bukan?"

"Bukan begitu Baekhyun, dengarkan aku dulu-"

"Apalagi yang harus kudengarkan Sehun? Kau hanya semakin membuat semua ini menjadi rumit, jangan permainkan perasaanku, seolah-olah kau peduli dan kembali padaku, kau tidak usah memperlakukan ku seperti ini dan membuatku salah paham dengan perlakuanmu Sehun."

Sehun tercekat dalam duduknya.

Ia kembali melihat gadis itu menangis dihadapannya, seperti waktu itu.

"Bukankah kau sudah memilih orang itu? Lalu kenapa kau kembali? Jika kau pikir aku akan berubah pikiran dan merasa senang saat kau kembali, kupikir itu salah. Aku tidak bisa melakukannya Sehun, saat itu aku mungkin tidak bisa menerimanya, aku bahkan melarikan diri hanya untuk menghindari dirimu. Tapi itu terlalu menyakitkan, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi."

Sorot mata indah itu terlihat begitu terluka.

Untuk kedua kalinya, Sehun melihat kejadian yang sama.

Seperti sebuah flashback, namun terasa lebih menyakitkan.

Inikah yang dirasakan Baekhyun dulu?

"Kupikir aku mulai bisa mengerti dengan apa yang kau maksud saat itu, maka dari itu aku mencoba untuk mulai melepaskanmu. Tapi tidak dengan kau yang terus berusaha menemuiku. Kau tau? Setiap kali aku mendapat pesan dan panggilan darimu, aku tidak tau harus berbuat apa, dan saat aku kembali melihatmu, aku merasa takut."

Dan itu semua membuat Sehun terdiam tanpa tau harus berkata apa.

"Bukankah aku harus bersikap dewasa? Aku bukanlah anak kecil lagi sekarang. Jadi bukankah yang kulakukan ini benar? Aku sudah berusaha untuk menerima kenyataan dan mengerti dengan apa yang menjadi keputusan mu Sehun."

"Dan aku sudah memaafkanmu."

Mata itu kini melengkung, menjadi sebuah bentuk bulan sabit yang begitu indah.

Bibir pucat itu kini tersenyum.

Senyuman yang sungguh menawan.

Namun itu membuat hatinya terperas sakit.

Lihatlah apa yang telah kau lakukan Oh Sehun.

"Baekhyun aku-"

"Tak apa Sehunnie, aku baik-baik saja."

"Baekhyun maafkan aku.."

Ia merasa malu pada dirinya sendiri, kenapa ia begitu bodoh?

Sekarang ia bahkan tidak berani menatap gadis yang merupakan pasien rumah sakit. Sehun memilih menundukkan kepalanya.

"Bukankah aku sudah bilang aku memafkanmu? Lagipula apa kau tau? Aku sudah menepati janjiku padamu. Aku telah mengikuti ujian tes masuk ke Universitas yang sama sepertimu, seperti yang kukatan dulu."

Sehun mengangkat kepalanya,

Jadi benar, Baekhyun mengikuti ujian masuk ke universitas yang sama seperti dirinya?

"Berkat orang itu, aku melakukan semuanya berkat bantuan orang itu."

Alis tajamnya bertemu, maksudnya..

"Park Chanyeol?"

"Eung.. Park Chanyeol. Orang itu yang melarangku melanjutkan kuliahku diluar negeri, orang itu bilang padaku jika aku melakukan hal itu sama seperti aku lari dari masalah, dan masalah itu tetap tidak akan selesai saat aku kembali."

Entah apa yang membuat Baekhyun tersenyum saat ia mengucapkan hal itu.

"Orang itu yang menemaniku selama ini. Bahkan orang itu adalah orang pertama yang menemukanku saat aku menagis ditengah hujan. Sebenarnya dia orang yang menyebalkan seperti yang aku katakan dulu. Tapi entah kenapa ia menjadi orang pertama yang menghampiri pikiranku saat aku kembali bertemu denganmu. Aku bahkan berharap kali ini orang itu berada disini, sehingga aku bisa kembali bersembunyi padanya karna aku takut bertemu denganmu."

Kini Baekhyun terkekeh pelan, seperti yang dibicarakan olehnya adalah sesuatu yang lucu.

"Kupikir kalian menjadi semakin dekat."

"Hmm.. akupun tidak mengerti, tapi tidak apa-apa, aku senang bisa selalu bertengkar dengannya, dan jika kupikir-pikir lagi orang itu orang yang baik, dan mungkin tidak semenyebalkan seperti yang aku pikirkan."

"Sebenarnya dulu aku tidak berbohong saat aku mengatakan aku cemburu pada orang itu, dan aku masih merasakannya saat aku kembali melihat orang itu bersamu beberapa hari yang lalu."

"Tapi kau tidak akan memintaku untuk menjauhi orang itu bukan? Lagipula meskipun kau mengatakan akan melakukannya, kau tidak berhak melarangku dan aku tidak ingin menjauhinya, dia terlalu baik untukku."

Gadis itu kembali tersenyum, objek yang indah saat tersenyum.

"Aku mengerti. Aku tidak akan melakukannya. Aku merasa senang jika kau menemukan seseorang yang bsia membuatmu senang. Terimakasih Baekhyun, aku akan kembali dan membawakan buah-buahan untukmu."

"Tidak perlu, kurasa aku akan segera membaik dan cepat pulang setelah ini."

"Baiklah, maafkan aku karna telah mengganggu waktu istirahatmu, semoga lekas sembuh."

"Tak apa, terimakasih telah mengunjungiku Sehunnie.."

Baekhyun tersenyum untuk kesekian kalinya. Pamggilan itu membuat Sehun merasa berat untuk pergi.

Tapi gadis itu telah menolaknya..

"Kalau begitu aku pergi sekarang."

"Hmm, hati-hati."

Setelah itu Sehun benar-benar beranjak dari duduknya. Tidak ada kecupan seperti yang selalu ia lakukan saat ia akan pergi meninggalkan gadis mungil itu.

Sehun hanya berlalu begitu saja, meninggalkan gadis cantik yang tersenyum menatapnya pada ranjang rumah sakit.

Dan saat Sehun menutup pintu kamar inap itu, dirinya disambut dengan sosok yang lebih tinggi darinya. Bersandar pada dinding rumah sakit entah sejak kapan.

"Kau sudah mendengar semuanya bukan? Kau memang orang yang beruntung karna telah mendapatkan hatinya."

"Terimakasih padamu, berkat kau, aku bisa mendapatkan hatinya."

"Berjanjilah padaku untuk tidak menyakitinya."

"Tidak, kau yang berjanji padaku, berjanjilah agar tidak kembali menyakitinya seperti apa yang telah kau katakan padanya dulu."

Sehun menyunggingkan senyumnya,

"Tentu, Park Chanyeol."

Seperti inilah ia melepaskan Baekhyun nya. Sepertinya Sehun memang bukan lelaki yang tepat yang bisa menjaga Baekhyun, jika begitu, semoga lelaki dihadapannya tidak menyakiti gadisnya seperti yang ia lakukan dulu.

Setelahnya Sehun benar-benar berlalu, dan sepertinya Chanyeol tidak bisa langusng menemui gadisnya. Karna yang dilakukan gadis itu sekarang adalah menangis tersedu sendirian di kamar inapnya.

Gadis itu berkali-kali mengusap kedua matanya.

Namun tetap saja gadis itu tidak bisa menghentikan tangisannya.

Dan Chanyeol mengerti untuk tidak masuk dan memberikan sekeranjang buah-buahan dan juga jus berwarna merah muda. Ia mengerti jika saat ini Baekhyun memerlukan waktunya seorang diri.

Chanyeol tau betul bagaimana rasanya, itu sangat menyakitkan.

Dan ia sudah mendengarkan semuanya.

Niat awalnya ia akan menemani Baekhyun seperti yang ia lakukan kemarin, tapi siapa sangka seseorang mendahuluinya. Jadi ia hanya menunggu dan siapa sangka ia akan mendengarkan sebuah pengakuan yang ditujukan untuk dirinya?

Siang ini terasa sangat sejuk. Langit yang indah dengan angin yang berhembus sejuk. Awan putih itu menghalangi sinar matahari yang bersinar begitu terang.

Cuaca yang tepat untuk jalan-jalan.

Tapi tidak untuk seorang gadis yang duduk disebuah kursi roda.

Ia menatap orang-orang yang berpakaian sama sepertinya berlalu lalang dihadapannya.

Pasien rumah sakit yang menikmati cuaca indah ditaman rumah sakit.

Gadis itu menyedot jus favoritnya.

Rasanya yang manis dan sedikit masam mengalir pada tenggorokannya yang terasa kering dan juga pahit.

Sensasi segar ia rasakan saat lidahnya kembali mengecap cairan berwarna merah muda itu.

"Ahjussi mau?"

Ucapnya pada seseorang yang tengah duduk pada kursi taman menemaninya.

Orang yang ditawari olehnya menggeleng pelan,

"Aku membelikannya untukmu, jadi habiskan saja semua, lagipula aku tidak begitu menyukai strawberry."

"Benarkah? Padahal strawberry itu sangat enak, kenapa ahjussi tidak menyukainya?"

"Karna itu hanya untuk perempuan."

Gadis itu menghentikan acara menikmati jusnya dan mengernyit bingung,

"Apa hubungannya?"

"Strawberry itu berwarna pink, dan pink itu untuk perempuan, para lelaki tidak meminumnya."

"Jadi ahjussi meminum minuman berwarna hitam karna itu identik dengan warna laki-laki begitu? Ahjussi meminum tinta?"

Memang tidak bisa dipungkiri, lelaki disebelahnya selalu saja membuatnya kesal, selalu saja ada hal yang membuat mereka beradu argumen.

"Tentu saja tidak bodoh. Aku menyukai alphonso, bukankah itu terlihat hitam?"

"Terserah kau saja dasar aneh."

Si gadis kembali memilih untuk mengalah. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu indahnya dengan berdebat mengenai hal yang tidak penting.

Tidak ada yang lebih menyenangkan saat dokter mengatakan jika ia diperbolehkan untuk pergi keluar kamar dan berjalan-jalan. Meskipun hanya sekitar rumah sakit dan memakai kursi roda, ia tidak mempermasalahkan nya. Bukannya dengan berada dikursi roda ia tidak perlu repot-repot berjalan yang bisa membuatnya kelelahan?

Dan lebih menyenangkan lagi, karna lelaki ini selalu datang pada waktu yang tepat. Lelaki itu bilang ia berkunjung karna mendapatkan jam makan siang yang cukup lama. Ditambah lelaki itu membawa sebuah bingkisan berisi buah-buahan dan juga jus favoritnya.

Ia tidak ingin membuat eommanya kelelahan dengan mendorong kursi roda dan berjalan-berjalan mengeliilngi rumah sakit dengannya. Jadi ia mengandalkan orang beruntung yang menjenguknya.

Dan disinilah mereka sekarang.

Menikmati udara sejuk siang hari ditaman rumah sakit.

Cuaca yang tidak panas membuat gadis itu ingin berlama-lama diluar, karna ia akan merengek bosan saat ia kembali ke kamarnya.

"Baek, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."

Gadis itu menoleh, menatap lelaki dengan ekspresi serius di wajahnya.

"Tentu, katakan saja ahjussi, apa itu?"

Lelaki itu beranjak dari duduknya, ia kemudian menjongkokan tubuhnya dihadapan gadis yang terduduk di kursi roda.

"Oh! Tanganmu! Sejak kapan ini disini? Apa yang terjadi?"

Gadis itu berujar panik saat ia melihat sebelah tangan si lelaki berbalut perban. Terlihat sekali jika gadis ini tidak sadar dengan tampilan awalnya, kenapa baru sekarang ia menyadari tangannya yang diperban?

"Dengar, ini suatu hal yang serius, jadi dengarkan aku."

Sepertinya ini memang hal yang serius, jadi gadis itu menganggukan kepalanya.

"Orang yang menabrakmu, aku sudah menemukan siapa pelakunya."

Si gadis sedikit menegang dalam duduknya, itu mengingatkannya pada kejadian dimana ia tertabrak beberapa hari yang lalu.

Lelaki itu kemudian menggenggam kedua tangan sigadis, meremasnya pelan, menimbulkan rasa perih pada telapak tangannya akibat luka yang ia dapatkan kemarin.

"Itu Jaemin, Jung Jaemin. Wanita yang pernah kau lihat disebuah butik dulu, wanita calon tunangan ku."

"A-apa?!"

"Ia yang melakukannya, ia sengaja melakukannya karna ia berpikir kau akan merebutku darinya. Ia bahkan berusaha melukai dirinya sendiri kemarin."

"Apa dia yang melakukan ini padamu ahjussi?"

Gadis itu kemudian menatap perban yang membalut telapak tangannya.

"Ya. Dan dia menyembunyikan sesuatu dariku. Fakta bahwa dirinya menderita Infertilitas membuatku merasa dibohongi."

"Infertilitas? Tunggu, sepertinya aku tau apa itu.."

Gadis itu terdiam beberapa saat, lalu mata sipit itu membola tidak percaya.

"Yatuhan.."

"Kedua keluarga kami sepakat untuk tidak menyerahkannya kepihak polisi, sebagai gantinya, hari ini dia berangkat ke New York untuk menjalani pemeriksaan pada psikis dan melanjutkan terapi Infertilitas nya disana. Dan aku sudah tidak menjalin hubungan apapun lagi dengannya. Apa itu tidak apa-apa Baek?"

"Apa maksud ahjussi tidak apa-apa? Bukankah itu terlalu berlebihan? Maksudku, New York? Apa dia tidak akan kenapa-napa disana?"

"Aku tidak bisa membuatnya mendekap dipenjara atas apa telah ia lakukan padamu Baekhyun. Dia pantas mendapatkannya."

"Dia pasti merasa tertekan, aku turut bersedih mendengarnya."

"Kau terlalu baik Bekhyun, lihat apa yang dilakukan dia padamu. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menyakiti orang tak bersalah seperti mu."

Tangan berbalut perban itu kini mengelus pipi putih sigadis yang sudah tidak dihiasi lebam. Ia bersyukur keadaan gadisnya semakin membaik.

"Ahjussi, aku tidak apa-apa.."

"Tidak Baekhyun, kau tidak apa-apa."

Mata bulat itu menatap mata yang lebih sipit. Bagaimana bisa gadis ini menyembunyikan nya?

Bagaimana bisa gadis ini terlihat baik-baik saja?

Tangan besar itu membenarkan helaian rambut coklat yang menghalangi wajah si gadis.

Siang ini angin berhembus begitu menyejukkan.

Entah kenapa ia berubah menjadi lelaki yang tidak tau malu.

Karna dengan keadaan sadar, ia memajukan kepalanya, mendekatkan wajahnya pada sigadis yang tidak berbuat apa-apa.

Hingga kedua belah bibirnya berhasil mengecap bibir tipis yang terasa lembap.

Ia menyesap belahan bibir tipis itu perlahan, dan merasakan rasa manis seperti strawberry pada bibir tipis itu. Mungkin karena sigadis meminum jus strawberry.

Siapa sangka sang gadis memejamkan matanya dan membalas ciuman yang diawali oleh dirinya?

Gadis itu menghisap bibir bawahnya perlahan, membuat ia tersenyum senang dan memperdalam ciumannya.

Ia mengelus pipi kurus yang menyesap bibirnya.

Sapuan lidah ia berikan pada bibir sigadis, membuatnya melenguh pelan, dan kembali memagut bibir semanis strawberry itu.

Ciuman yang begitu lembut.

"Byun Baekhyun, jadilah kekasihku."

.

.

.

.

.

-To Be Contiue-

.

.

.

.

.

Or End?

YEAY!

/pukulin bedug/ :")

Oke man teman, mohon dibaca catatan biku dibawah ini yaa~

Wuhuuuw, hadiah mau puasa jadi biku update! Wkwkw

Gimana nih? Ini cocok kok kalo dibikin end wkwkw, atau masih belum puas dan ingin tau kelanjutannya?

Biku sih gimana kalian ajaa, biku gapapa mau end disini aja atau mau lanjut juga boleh :")

Kenapa kayak ngajak putus ya?

Lah galau lagi.

Jadi siapa yang tebakannya betul?

Yess! Jaemin is officially gone.

Ayeyy~

Jaemin hilang dan mendapatkan apa yang telah ia perbuat /?

Biku gatega sebenernya, yaa maskipun jaat, tetep aja kasian :") woiyaa karna dulu-dulu ada yang bilang kirain Jaemin itu member NCT biku jadi keidean, yaudah biku pasangin aja sama Jeno NCT itu ngedadak kepikirannya, dan itu juga biku nanyain dulu ketemen karna biku gatau orang-orang di NCT itu siapa aja.

Tapi tenang, seperti kata pepatah,

Mati satu, tumbuh seribu.

HAHAHAHA.

Ps: semua penyakit yang ada di ff ini murni imajinasi biku yaa, dan itu juga hanya bermodalkan informasi dari internet, jadi maaf jika tidak sesuai dengan kenyataan nya.

EXO KE JAKARTA WEH!

Oke itu oot. :")

Jadi terimakasih lagi buat temen-temen yang masih mantengin ff ini, sampe sekarang, dan makasih buat yang udah nagih, semalem biku galau, mau ngetik tapi bapak biku stel film tembak tembakan :")

Jadi ini biku minta saran kalian, mau tetap dilanjut atau end saja? Chanbaeknya udah bersatu kan?

HAHAHAHA.

Sama biku minta saran lagi ke teman-teman kesayangan biku semuanya, kemaren-kemaren biku udate ig /? Nah itu biku curhat, biku ingin bikin ff baru cuman takut gakeurus :V judulnya "La Bella e La Bestia" atau judul lainnya itu Beauty and The Beast.

Itu bukan remake teman-teman. Nah biku galau, biku ingin publish ff baru cuman yang ini aja belum kelar, (kalo masih belum pada mau kelar itu juga) belum lagi yang satu lagi yang udah kayak bangke dikasih pengawet gamaju maju /?

Jadi biku minta sarannya ya man teman, bagi yang penasaran, biku share teaser (main-main) nya di ig wkwkw.

Sekalian follow juga ig bikuu biikachu_

udah dehh, udah pegel :") jadi gitu, biku minta suara terbanyak saja ff BMWM mau sampai disini saja atau lanjut, sama biku lebih baik publish ff baru atau nunggu kelas satu-satu?

Kritik dan saran sangat biku tunggu, jangan lupa juga buat review! Biku sadar diri kok review nya jadi sepi, ini balasan karna biku slow update kan /? Maap (T – T)

Kuyy deh review lagii! Makasih buat semuanya! Ayok mengobrol sama biku!

Dann- selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya..

Itu masih banyak typo yang bertebaran, jadi maafkanlah :")

I LOVE YOU GUYS, THANKYOU SOMUCH FOR THE PRECIOUS TIME WITH YOU! 3

Regards,

-biku-