Part 9: Foto
Length: Chaptered
Rating: PG13
Genre: Romance, Angst, Friendship
Main Cast:
Uzumaki Naruto
Hyuuga Hinata
Inuzuka Kiba
Enjoy!
Malam itu hujan, Hinata sedang duduk di tempat tidurnya – album foto yang tua dan berdebu kini ada di pangkuannya. Ia lalu menarik napas dan meniup debu-debu yang membungkus album foto itu. Hinata menarik napas panjang saat jarinya membelai tulisan warna putih dari white marker yang ada di sampul buku. "Hinata dan Obito," si gadis berbisik, air mata kembali jatuh di pipinya.
Jarinya meraih ujung dari sampul tebal buku itu dan membaliknya, menunjukkan foto seorang bocah tinggi berambut hitam pekat yang berantakan, berdiri tepat di samping gadis berambut biru tua yang panjang dan tampak begitu bahagia – dirinya yang dulu. Tertulis dengan huruf kanji yang hampir tidak bisa dibaca, "Ini aku," Hinata berbisik, air matanya terjatuh di halaman album yang kekuningan.
Gadis muda itu tampak berjalan keluar dari pintu gerbang sekolahnya, tampak mengamati sekeliling untuk melihat apabila orang yang dicarinya ada disini. Ia menggembungkan pipinya karena orang itu tidak disini. Ia memainkan rambut birunya yang panjang seraya menunggu dan melihat gerombolan siswi dengan seragam pelaut berjalan melewatinya.
Sepasang tangan tiba-tiba menghalangi penglihatannya, dan gadis itu menjadi tegang. Kulit yang kasar itu menyentuh kulit lembut si gadis – dengan merasakan permukaan tangan itu, gadis itu tahu siapa orang ini. "Siapa ya?" gadis itu bernyanyi, bibirnya melengkung ke atas. Tawa yang berat terdengar dari si pemilik tangan.
Bocah itu menarik tangannya dan membalikkan si gadis. Gadis itu kini bisa melihat seorang laki-laki tinggi dengan seragam hitamnya yang berantakan. Si gadis tersenyum saat melihatnya dan jemarinya meraih pipi si bocah, menelusuri bekas goresan yang panjang di wajahnya, sebelum si bocah menarik tangan si gadis dan memberi sebuah kecupan singkat di pipinya.
"Ini aku, Obito."
Hinata tersenyum akan kenangan yang mampir di benaknya seraya ia memejamkan matanya. Ia lalu menggosokkan ujung jari telunjuknya ke kelopak matanya – sedikit mengenang akan sentuhan darinya. Ia lalu membuka matanya dan membalik langsung ke tengah-tengah album foto, melewati beberapa halaman.
Di tengah-tengah halaman, tampak selembar foto yang memenuhi halaman album itu. Terlihat seorang gadis tersenyum, pipinya kemerahan dan ia memakai gaun musim panas berwarna putih selutut. Rambut biru panjangnya diikat asal-asalan dengan pita berwarna biru muda.
"Kau terlihat cantik." puji bocah tinggi itu, melingkarkan lengannya di sekitar pundak si gadis dan menariknya. "Jangan bohong. Aku terlalu pendek untuk gadis seusiaku, dan bahkan rambutku tak ditata seperti tren yang sekarang. Okaasan bahkan tidak mengizinkanku memakai pakaian yang sedang tren!" protes si gadis muda, menunjuk ke gaun musim panas yang dikenakannya.
"Meskipun begitu, kau tetap cantik. Seperti bunga-bunga itu – tidak, maksudku bahkan you're more beautiful-er." bocah itu menunjukkan cengirannya, menyenggol lengan si gadis. "Bahasa Inggrismu benar-benar kacau, dan tidak ada yang namanya kata "beautiful-er" tahu!" protesnya, namun si bocah menggeleng.
"Aku yang membuat kata-kata itu, jadi aku bisa mendeskripsikan kecantikanmu."
Hinata tersenyum akan kenangan yang kembali melintas di pikirannya. Ia lalu menoleh ke depan untuk melihat cermin yang tingginya sama dengannya. Dari cermin, ia dapat melihat seseorang yang tidak ia kenal – seorang gadis berkulit putih seputih porselin, rambut yang diikat rapi, dan bibir pucat yang tidak pernah lagi tersenyum.
Hinata kembali mendesah saat ia membalik halaman album foto itu lagi. Halaman ini berisikan lebih dari dua foto – paling tidak ada tujuh foto. Semuanya tidak berisikan foto Hinata maupun Obito. Semuanya adalah foto bunga.
"Obito-kun, apa itu?"si gadis muda dengan penasaran mengintip dari punggung si pemuda dan menunjuk benda yang ada di dekapannya. "Ini adalah pot," ujarnya, sebenarnya cukup jelas. "Maksudku, apa yang ditanam disana, Obito-kun!" protes si gadis, merasa kesal karena ia menganggapnya seperti anak kecil yang penasaran. "Yang kutanam itu bunga," jelas si bocah, membuat Hinata semakin kesal.
"Ayolah," Hinata melipat tangannya. "Baiklah, ini namanya bunga Krisan," jelas si bocah. Ia lalu berdiri dan menunjukkan pot berisi bunga berwarna kuning. "Kirei," ujar si gadis kagum, suaranya hampir selembut sebuah bisikan.
"Kau bisa memilikinya! Tapi rawat baik-baik, mengerti? Karena harganya cukup mahal – kau beruntung karena aku bergabung dengan klub berkebun," bocah itu tersenyum menyeringai saat melihat si gadis mengamati pot bunga itu dengan seksama. "Kita akan merawatnya bersama supaya bunga itu tumbuh dengan baik," tambah si bocah.
"Kau mau kan, Hinata?"
Hinata menyandarkan kepalanya, lalu menatap pot bunga kuning miliknya yang sedang mekar. Cukup sulit untuk merawat mereka sepanjang tahun, dan ini pertama kalinya untuk Hinata dalam merawat bunga di dalam rumah sebab awalnya cukup susah – dan inilah satu-satunya cara untuk menjaga mereka tetap bermekaran.
Hinata lalu membalik selembar halaman lagi – halaman terakhir dari album ini, tepatnya. Di halaman paling belakang, tampak foto Hinata dan Obito lagi – yang terakhir.
Rambutnya tampak berantakan, dan senyuman yang begitu cerah di wajahnya. Ia sedang meringkuk dalam baju tidur warna lavendernya yang bermotif karakter kartun, matanya tertuju pada layar televisi di depannya. Hinata menautkan alisnya saat memandangi foto ini. Ini adalah pertama kalinya ia membuka album foto ini, tapi ia sudah melihat seluruh foto yang ada di dalam album ini, kecuali foto ini. Bagaimanapun juga, ia mengingat kenangan yang dibawa oleh foto ini.
"Benar-benar hangat dan nyaman," bisik si gadis sambil menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Ia tak mendengar apapun dari pemuda itu, tapi ia bisa melihat Obito tersenyum. "Baumu seperti bunga lavender," ujar bocah itu tiba-tiba, seraya mencium dahi si gadis dan menghirup aromanya.
Sunyi mengambil alih, dan mereka berdua bertahan dalam posisi itu di sofa ruang tamu milik si gadis. "Aku akan merindukan ini," bisik bocah itu, kepalanya terbenam di balik rambut si gadis yang berantakan. "Kita bisa melakukan ini lagi besok, atau lusa. Jika kita menikah nanti, kita bisa melakukan ini seharian – dimana kau bisa melupakan kekhawatiranmu di rumah." jawab si gadis dengan polos, sementara si pemuda hanya membalas si gadis dengan senyuman pahit.
"Hinata," pemuda itu membisikkan namanya, bibirnya menggesek daun telinga si gadis, menghembuskan napas yang hangat. Si gadis hanya merintih sebagai jawaban, memperbaiki tempat duduknya supaya bisa memeluk leher kekasihnya dan menatapnya. "Hinata," ulang si pemuda, dan gadis itu menyukai bagaimana namanya keluar dari bibir si pemuda.
Laki-laki itu memiringkan kepalanya dan mendekat, dahinya bersentuhan dengan si gadis supaya ujung hidungnya bisa bertemu ujung hidung Hinata. "Hinata," ia mengucapkannya sekali lagi, bibir mereka berdua sangat dekat sehingga bibir mereka bisa bersentuhan saat si gadis membisikkan nama si pemuda. Gadis itu tersenyum dan langsung menarik si pemuda untuk sebuah kecupan yang polos.
Mereka memutus ciuman mereka dan tersenyum, menatap satu sama lain. Ia bisa merasakan jari si pemuda ada di garis rahangnya, menyentuh dan menelusurinya dengan lembut. "Hinata," ia kembali berbisik dengan lembut, sebelum kembali mengecup bibir si gadis lagi. Mereka mulai saling bergerak dalam irama, seraya mereka berbagi sebuah ciuman – tidak terlalu romantis maupun erotis, hanya dua bibir bergerak menjadi satu.
"Aku mencintaimu."
Kini, air mata sudah membanjiri pipi Hinata. Ia masih bisa merasakan bibir lembut Obito bergerak di bibirnya. Ia masih bisa mendengar suaranya memanggil namanya seakan-akan itu adalah kata terindah yang pernah ditemukan. Ia masih bisa merasakan jemari Obito menari di garis rahangnya. Ia masih bisa merasakan ujung hidung Obito bersentuhan dengan miliknya, dan dahinya yang menekan dahi Hinata.
Ia masih bisa merasakan Obito, dengannya.
Mata Hinata sudah berkaca-kaca dan dibanjiri oleh air mata, namun ia berusaha untuk membaca tulisan yang ada di bawah foto keras-keras. Ia terbatuk dan menyingkirkan sesuatu yang mengganjal tenggorokannya sebelum ia membaca tulisan Obito yang berantakan.
"U-untuk o-rang yang paling k-kucintai, d-di hidup-ku," ia berhenti sebentar, "kau harus berjuang untuk melanjutkan h-hidupmu. Tolong dirimu sendiri apabila tak ada yang menolongmu. Saat kau membaca tulisan ini, aku hanyalah kenangan yang terkubur dalam di hatimu." Kini, air mata jatuh tak terkendali di pipi Hinata. Ia lalu menghapus air matanya dengan kasar dan kembali membaca.
"J-jangan, lupakan a-aku, sayangku. T-tapi, jangan biarkan aku, m-menghalangimu u-untuk terus hidup. Carilah seseorang yang akan mencintaimu lebih dari aku mencintaimu, s-seseorang yang akan menghargaimu lebih dari aku menghargaimu," suaranya kini hanya berupa bisikan lemah, terhalang oleh ganjalan yang ada di tenggorokannya.
Baris terakhir, gadis muda itu tak bisa membacanya keras-keras – tapi ia melihat apa yang ditulis dan itu membuatnya makin menangis. "Kau masih mencintaiku, bukan?" Hinata berbisik dengan senyuman pahit sambil membaca kalimat itu lagi dan lagi.
"Hinata, jangan pernah lupa bahwa aku mencintaimu"
Note:
Beberapa mungkin ada yang penasaran dengan Obito :3 disini, Obito adalah mantan pacar Hinata dulunya. Dan saya tekankan, ini NaruHina. Kalau beberapa ada yang protes tentang bagian NaruHina-nya, fanfict ini sudah mencapai bagian klimaksnya. untuk beberapa chapter kemudian, akan disertai beberapa penjelasan tentang siapa Obito ^^ mungkin ada yang berpikir, Hinata itu playgirl, ya? Tapi nggak, dia bukan gadis seperti itu. :)
Terima kasih sudah membaca sejauh ini, yoroshiku onegaishimasu ^^
