a/n: Bismillah, sudah lama sekali rasanya tidak menyapa reader sekalian, kalau vea ngga salah hitung, mungkin ada sekitar hampir dua tahun sejak vea memutuskan berhenti menulis fanfic lagi. Namun, karena berbagai hal, Januari kemarin vea memutuskan untuk kembali menulis fanfic lagi namun dengan proyek yang baru. Walau begitu, vea akan berusaha untuk melanjutkan fanfic vea yang belum vea selesaikan di sini.
Vea benar-benar mengucapkan terima kasih banyak untuk reader semua yang selama ini memberikan dukungan dan terus menantikan kelanjutan fanfic vea. Maaf telah membuat kalian menunggu selama ini :)
Vea juga minta maaf jika chapter kali ini lebih pendek dari chapter sebelumnya, hampir dua tahun tidak menulis fanfic agaknya membuat kemampuan menulis vea menurun drastis :/
Dan ah, terakhir, apakah di sini ada penggemar fanfic dengan tokoh idol? Jika ya, semoga kita bisa bertemu kembali di proyek baru vea ;)
Devil Love Angel
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Devil Love Angel © Invea
"—Jadi kakak belum mengatakannya?"
"Bodoh! Bagaimana bisa aku mengatakannya saat keadaannya trauma seperti ini?"
Aku terbangun mendengar suara ribut di lantai satu. Suara yang sangat tak asing di telingaku. Itu pasti suara Kazune yang tengah bertengkar dengan Kazusa.
"Tapi, kalau kakak tidak memberitahu, nanti—"
"Dengar, Kazusa! Kau harus merahasiakan ini dari Karin. Sebisa mungkin, ia jangan sampai mengetahuinya!"
"Tapi kan—"
"Aku akan berusaha semampuku agar semuanya bisa kembali seperti dulu,"
"Huf!" Kudengar Kazusa menghela nafas pelan. "Baiklah, baiklah, aku juga akan berusaha membantu,"
"Kuharap semua akan baik-baik saja, setidaknya Karin harus baik-baik saja,"
Eh—? Apa dia bilang tadi? Memangnya apa yang telah terjadi? Atau jangan-jangan gara-gara kejadian Jin itu? Aku berusaha untuk semakin menajamkan telingaku. Mereka terdengar hening sesaat sebelum Kazusa dengan ragu kembali berbicara pelan.
"Kak,"
"Apa?"
"Apa kau akan terlebih dulu mengutamakan Karin daripada keluarga kita?" tanya Kazusa sedikit ragu-ragu dari nada bicaranya. Aku jadi semakin tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah keluarga Kazune telah mengetahui peristiwa aku diserang Jin dan lantas membatalkan pertunangan di antara kami? Hei, itu kan tidak adil! Jin yang salah, bukan aku!
"Maafkan aku, Kazusa. Ayah dan ibu pun mengerti. Kita pernah mengalami hal ini dulu. Kita pernah merasakan hidup seperti ini dulu. Tapi, tidak dengan Karin. Kau mau mengerti kan Kazusa?"
"Ya, aku mengerti kok,"
"Terima kasih. Maaf karena keegoisanku, aku malah jadi mengorbankan hidupmu, ayah dan ibu,"
"Aaah! Sudahlah, berhentilah meminta maaf. Dulu kita dapat melewatinya bersama, kenapa sekarang tidak?"
"Ya, kita akan melewatinya bersama,"
"Oh ya, bagaimana dengan nasib pernikahan kalian?"
"Aku tidak tahu, Kazusa. Aku akan berusaha menyelamatkan dulu keluarga Karin baru keluarga kita. Jika keluarga kita juga selamat, pernikahan akan tetap dilanjutkan. Namun, jika ternyata dalam batas waktu aku hanya dapat menyelamatkan keluarga Karin mungkin pernikahan ini harus kita tunda," gumam Kazune dengan nada sedih. Aku semakin tercekat. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kepalaku kini terasa semakin pening. Dan kurasakan pandangan di sekitarku mulai menggelap.
.
.
"Ng?" Perlahan aku membuka kedua kelopak mataku. Kepalaku terasa begitu berat sekarang.
"Ah, Karin-nee-san, apa aku membangunkanmu?" tanya gadis berambut pirang panjang yang datang seraya membawa sebuah nampan berisi makanan.
"Tidak kok."
Ah, melihat gadis ini, aku jadi teringat akan percakapan dia dan kakaknya tadi. Kakaknya? Oh ya, di mana Kazune? Aku berusaha mengalihkan pandanganku dan mencari sosoknya di sekitar tapi, pemuda itu tak jua ada di sana. Apa dia ada di bawah? Apa ia baik-baik saja?
"Nee, di mana Kazune?" tanyaku kemudian.
"Ah, eeto, Kazune sedang pergi belanja ke supermarket sekarang. Dia memintaku untuk menemanimu selama dia pergi," jawabnya kemudian.
"Aa, begitu rupanya."
"Nee-san mau pudding?" tawarnya kemudian. Aku menggeleng pelan dan lantas tersenyum padanya.
"A—ano, nee-san,"
"Hm?"
"Apa kau menyukai kakakku?"
"He—?" Wajahku langsung memerah padam saat Kazusa mempertanyakan hal itu. Ya Tuhan, apa yang harus kujawab sekarang? Aku sendiri masih belum mengerti perasaanku. Whuaaa!
"A—Apa kau akan tetap menikah dengan kakak sekalipun keadaan kakakku saat ini—"
"Cukup, Kazusa,"
Kazune tiba-tiba datang dengan sekantung penuh barang belanjaan di tangannya. Kazusa tampak sangat terkejut dengan kehadiran kakak kembarnya yang sangat tiba-tiba tersebut. Dengan sedikit kasar, Kazune lantas menarik lengan Kazusa dan membuat gadis berambut pirang tersebut menjauh dariku. Dengan mata yang tajam, Kazune berkata tegas,"Kita perlu bicara,"
Kazusa tampak menanggapinya dengan bola matanya yang ia alihkan menatap sekeliling. Sementara itu, aku hanya dapat terdiam menatap mereka. Di samping karena kepalaku yang masih terasa berat, bisa dibilang aku sangat terkejut melihat sosok Kazune yang seperti ini. Ini memang bukan kali pertama aku melihat Kazune memperlakukan Kazusa dengan sedikit buruk, namun kali ini, dia tampak begitu marah pada adik kembarnya tersebut.
Sambil mendorong tubuh Kazusa mendekati pintu kamarku, Kazune berbalik sejenak dan menatapku dengan tatapan lembutnya. Ia lalu tersenyum ramah padaku—seperti yang biasanya ia lakukan,"Karin, beristirahatlah dulu. Aku akan segera kembali,"
Aku hanya tersenyum lemah. Dia kemudian mendorong punggung Kazusa—membuat gadis itu mau tak mau keluar dari kamarku. Setelah itu, dia lalu menutup pintu kamarku dengan pelan. Samar-samar kudengar mereka tampak berdebat diiringi dengan suara langkah kaki menuruni tangga.
Kalau boleh jujur, aku sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Melihat dari pembicaraan mereka sebelumnya, ditambah dengan wajah Kazune benar-benar menyiratkan bahwa ada hal yang sangat serius yang mereka sembunyikan dariku. Aku ingin sekali kembali menguping pembicaraan mereka, namun tubuhku tampaknya sama sekali tidak ingin bekerja sama denganku. Kepalaku terasa sangat berat dan sekujur tubuhku serasa begitu lemas.
Tak ingin terlalu lama memikirkan semua itu, aku lantas menutup mataku.
.
.
"Ah, maafkan aku. Apa aku membangunkanmu?"
Samar-samar kudengar suara Kazune ketika aku mengerjapkan kedua mataku. Kurasakan tangan halus yang tadi tengah mengelus keningku perlahan menjauh. Dan seketika kesadaranku mulai pulih. Mata emerald ku kemudian memantulkan sosok Kazune yang tengah terduduk di samping tempat tidurku. Ku rasakan salah satu tangannya menggenggam tangan kananku dengan erat.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya cemas. Aku hanya tersenyum—mencoba mengatakan padanya bahwa aku sudah baik-baik saja dan ia tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.
"Mana Kazusa?" tanyaku. Dia menghela nafas dan malah mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berkata,"Saat ini kau jauh lebih perlu mengkhawatirkan dirimu sendiri dibandingkan dengan mengkhawatirkan orang lain. Kau masih tampak sangat pucat, apakah kau masih trauma? Adakah yang sakit?"
Aku sedikit menggeleng. "Aku baik-baik saja, Kazune. Di mana Kazusa? Kau tidak mengusirnya, bukan?"
Kulihat Kazune tampak meneguk ludahnya sebelum menjawab ragu,"Er, sebenarnya aku tidak mengusirnya sih hanya memintanya untuk pulang ke rumah, tidak lebih." Dia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku lantas menggembungkan pipiku.
"Kau harus bersikap lebih baik pada Kazusa. Dia sangat menyayangimu," seruku. Dia tersenyum geli.
"Baiklah, baiklah, semoga aku bisa melakukannya nanti," gumamnya dengan nada sedikit terpaksa. Aku tersenyum. Dia lalu mengusap pelan kepalaku.
"Kau pasti lapar bukan? Apa kau ingin memakan sesuatu?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng pelan. Dia tampak sedikit menaikkan alisnya seolah bertanya Apa aku yakin? Dan aku langsung menganggukkan kepalaku—menjawab ya. Dia kembali tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
"Ne, Kazune-kun, aku tidak ingin sekolah lagi," gumamku pelan. Dia lalu kembali mengusap kepalaku.
"Kau masih trauma dengan kejadian itu?" tanya Kazune hati-hati. Aku menggangguk.
"Aku takut pada Jin," ujarku. Lengan Kazune kemudian melingkar di kepalaku. Dia lalu membantuku setengah bangun dari posisi berbaringku dan lantas menempelkan kepalaku di dadanya. Dengan lembut dia mengusap kepalaku. Ya Tuhan, kenapa jantungku berdetak dengan sangat menggila.
"Jangan khawatir, aku akan selalu melindungimu," hiburnya. Kurasakan wajahku memerah. Apakah ini karena demam?
"Jangan jauh-jauh dariku!" gumamku kemudian. Astaga! Apa yang baru saja kukatakan? Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku mengatakan hal yang sangat memalukan seperti tadi? Kurasakan Kazune sedikit tersentak mendengar hal itu. Jelas, dia pasti merasa heran pula aku mengatakan hal semacam itu.
Namun, detik berikutnya, kedua tangannya menyentuh telingaku dan membuat wajahku berhadapan dengan wajahnya. Ya Tuhan, ini terlalu dekat! Jika lebih dari ini, aku bisa meledak! Dengan segera aku lantas memejamkan mataku. Akan tetapi, baru saja aku menurunkan kelopak mataku, dengan lembut dia memanggilku,"Karin, lihatlah aku,"
Dengan nafas tertahan, aku kemudian membuka kembali mataku. Kulihat dia tersenyum sangat lembut.
"Lihatlah kedua mataku, aku hanya ingin kau memastikan bahwa aku sungguh-sungguh mengatakan ini," pintanya kemudian. Aku lantas menurutinya. Ku alihkan kedua bola mata emerald ku menatap kedua bola mata biru safirnya. Tak lama, aku mendengar kembali suara lembutnya.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu, selalu di sisimu. Aku janji,"
Detik berikutnya, kurasakan bibir tipisnya mengecup keningku. Setelah itu, dia kembali menatapku.
"Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, oke?"
Aku hanya tertunduk mendengarnya. Ya Tuhan, mengapa semakin lama aku menjadi seperti ini? Mengapa aku jadi terlihat seperti sebuah boneka yang senantiasa terhipnotis akan pesonanya? Tuhan, jangan katakan kalau kini aku benar-benar mencintainya!
.
.
To Be Continued
Review Please?
