Sakura's Side

"Sa-sasuke-kun" ucapku sedikit terkaget karena tindakan lelaki berjubah seragam universitas memelukku dengan erat.

Ini adalah pertama kalinya, aku memang tak pernah dipeluk oleh lelaki mana pun, kecuali ayahku. Jadi, jika tiba-tiba diperlakukan seperti ini, aku kan jadi grogi! Dan kenapa dia masih saja tak menghiraukan panggilanku yang sudah hampir menghabiskan akal sehatku agar tidak panik.

"Lepaskan aku!" sentakku sembari melepaskan pelukan eratnya dengan paksa.

Aku sudah tak perduli lagi, aku hanya memilih meninggalkan dia di depan pekarangan universitas. Meskipun ia tetap saja berseru, "Chotto matte, Sakura!" tak kuhiraukan panggilannya itu. Dia keasikan memeluk cewek mungkin ya, sampai tak sadar bahwa Itachi-sensei mempelototi kami seakan mengingatkan tentang peraturan sekolah yang melarang para mahasiswa untuk bermesraan dilingkungan sekolah.

Apalagi aku sudah mengetahui kalau sensei 'sok kegantengan' itu memiliki jelmaan iblis, jadi tatapan dan aura iblisnya sangat terasa sampai radius 10 KM. MENGERIKAN! Aku sampai salut dengan Konan-sensei sudi mencintai lelaki iblis seperti dia. Hmm?


"Sakura, Sakura!" seru Ino, sahabatku sembari tergopoh menghampiriku. Seakan ada hal gawat, atau hal lain dari biasanya telah terjadi.

"Nan desu ka?" sahutku singkat.

"Ada seorang gadis berambut senada dengan warna bermata seperti Sai-kun" jelas Ino menggerakkan kedua tangannya sembari mempraktekkan bentuk tubuh orang yang ia maksud.

"Kulitnya putih pucat seperti Sai-kun, tubuhnya tinggi seperti Sai-kun dan.."

Kata-kata ' seperti Sai-kun' itu sangat menggangu telingaku, wajahku mulai berubah bentuknya dari penasaran menjadi jengkel.

"Sudah! Seperti Sai-kun, seperti Sai-kun, itu terus yang kau katakan, pig! Dan lagi, apa hubungan gadis yang seperti Sai-kun itu denganku haa?!" seruku dengan nada marah.

"Eto.. gadis itu mencari-carimu di setiap kamar yang ia temui, karena merasa terganggu, Tenten mengantarnya ke kamar kita" sahut Ino mengubah nada bicaranya sedikit lebih rendah.

"Oh, sou desu ka" ucapku tanpa mencerna kata-kata Ino terlebih dahulu. "APA?! KENAPA KAU BISA-BISANYA MEMBIARKANNYA MASUK KE KAMAR KITA, PIG?! KALAU DIA MENCURI BARANG-BARANG KITA, BAGAIMANA?!"

Mendengar teriakan makianku, Ino kepanikan dan menyumpal mulutku dengan kedua tangannya, wajahnya berubah keringat dingin saat menyadari bahwa suaraku mengambil perhatian orang banyak disekitar kami.

"Kecilkan suaramu, forehead! Ini bukan rumah kita, seharusnya kau mengerti. Jadi, jaga sikapmu itu!" seru Ino dengan nada lirih namun masih tetap setia dengan tangannya di depan mulutku.

"Ha'I, ha'i! aku mengerti, sudah! Aku mau menemui gadis aneh itu" ucapku berjalan lebih dulu dari Ino menuju kamar kami.

Cklek!

Aku membuka pintu kamar dengan perlahan, memandangi setiap sudut kamar 'Apakah ada yang mencurigakan'. Dan yaa, satu-satu hal yang mencurigakan adalah seorang gadis yang bersembunyi dibalik selimut milik Ino.

"Ino, bisa tinggalkan kami berdua saja?" ucapku lebih tepatnya mengusirnya.

Ino hanya mengangguk dan berjalan mundur lalu menutup pintu kamar dengan perlahan-lahan dan hati-hati.

BLAM!

Cih! Itu bukan pelan-pelan, namun kuat-kuat pig! Dasar!

Aku berjalan menghampiri kasur Ino yang bersebelahan dengan kasurku sendiri. Aku memperhatikan 'hal' yang bersembunyi di dalam selimut berwarna kuning keunguan itu.

"Hei, keluarlah! Kau mencariku, kan?" ucapku dengan siap siaga jika ia adalah semacam makhluk buas atau sejenis itulah.

Grasak!

Perlahan-lahan dihadapanku, tampaklah sesosok gadis bersurai hitam dengan jidat yang lumayan tak lebar dariku. Emerald milikku kini membulat dengan sempurna memperhatikan setiap lekuk tubuh gadis dihadapanku, mirip seperti seseorang yang kukenal.

"SASUK.." namun ucapanku terhenti saat gadis itu tiba-tiba saja menutup erat-erat mulutku dengan tangannya yang mungil (?)

"Jangan teriak-teriak, iya! ini aku. Jadi, tenanglah!" bisik gadis itu sembari memperhatikan pintu kamar, berharap tak aka nada orang bodoh yang mendobrak pintu itu tiba-tiba.

"Kenapa kau berpenampilan seperti, pfft..!" dan kini akulah yang menutup mulut agar menahan gelak tawaku sendiri.

"Ugh..!" ucap gadis itu dengan gusarnya mengacak-acak rambut raven miliknya sendiri.

Aku tak lagi memperhatikan wajahnya yang kini tampak frustasi, melainkan melihat suatu daerah yang biasanya datar kini tampak menonjol.

'Kenapa bagian dadanya lebih besar milik padaku, padahal dia kan laki-laki?!' gumamku sembari membandingkan miliknya dengan milikku.

Entah kenapa aku merasa Onyx itu memperhatikan tingkah anehku, jadi dengan santainya aku mengalihkan pandanganku dan menghentikan kegiatan anehku.

"Jadi, kenapa kau bisa seperti ini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Ini sihir aneh ajaran si dobe itu" jawabnya dengan frustasi atau lebih tepatnya risih dengan bagian yang menarik perhatianku tadi.

"Lalu, untuk apa kau menggunakan sihir anehnya?" ucapku melipat kedua kaki menyilang ke depan.

Dan tentu saja pertanyaanku itu membuatnya semakin frustasi, seperti pencuri yang sedang di introgasi oleh polisi. Kini ia beralih menatap sesuatu yang ada dibalik selimut yang ia gunakan untuk bersenyembunyi. Dan mengambil 'sesuatu' itu kemudian menyodorkannya di depan mataku.

"Ada larangan partner masuk ke asrama, bukan?" dan kini pandangannya tak lagi padaku. "Makanya aku menggunakan sihir aneh ini"

"Usagi?" ucapku memandangi sesuatu yang digenggamnya. "Boneka sihir yang tadi?!"

"Untukmu" sahutnya singkat.

"Tapi.." aku menatap matanya yang tak menerima penolakan. "Aku kan gak minta.."

"Anggap saja, hadiah pemberian sebagai partner" potongnya memaksaku memegang boneka sihir berbentuk kelinci manis itu.

"Bukankah ini berlebihan.."

Sebuah pisau tajam tak kasat mata menusuk tepat di dada Sasuke, tanpaku sadari.

"..membuang-buang uang.."

Dan kini pisaunya sudah ada dua yang menancap masuk ke dada gadis bersurai hitam itu, dan yang kedua itu masuk dari belakang.

"..Itu pemborosan, tau!"

And finally, sebuah meriam melesat menghampiri tubuh gadis bermata Onyx itu membungkuk lemas. BOAM! Mentalnya kini sekarang pecah menjadi bagian terkecil layaknya piring pecah.

"Tapi, arigato" sambungku mengecup pipinya dengan spontan.

TRING! DEG!

.

.

.

.

.

Magic University of Hokkaido

Ujian Pertama (?)

.

.

.

.

.

"Sakura!" seru seseorang mendobrak pintu secara tiba-tiba mengejutkanku dan Sasuke meloncat masuk dalam selimut di kasur sebelah milikku. "Hee? Kemana dia?"

"Kau mengagetkannya, pig!" ucapku sesudah menghela nafas dan mengangangkat selimut yang digunakan Sasuke. "Sebaikanya kau pulang saja, tak aman jika tiba-tiba sihirnya sudah mencapai batas waktu"

"Kau benar, ya sudah aku pulang" sahutnya lalu menghilang dibalik kabut asam hitam.

"Sihir? Sihir apaan? Dan dia itu siapa? Lalu, kenapa dia cantik sekali?" Tanya gadis bersurai pirang yang mendobrak pintu kamarku secara tiba-tiba tadi.

'Kalau aku mengatakannya dia seorang lelaki, pasti ino langsung jatuh pingsan. Sebaiknya aku tak mengatakan sejujurnya' gumamku sembari memikirkan reaksi teman sekamarku.

"Ah, bukan apa-apa. Dia itu putri dari teman ibuku" dustaku sedikit menyengir ria.

"Oh, lalu kenapa dia kesini mencarimu?" tanyanya lagi.

"Hanya menanyakan kabarku, dan menyampaikan salam ibuku" tambahku semakin berbohong. 'Astaga!'

"Oh, sou desu ka~" ucap Ino menekan kata terakhir yang ia ucapkan seakan tak mempercayai ucapan kebohonganku tadi.

Aku hanya mengangguk dan menyembunyikan keringat dinginku dengan senyuman palsu ala Sai yang gagal total. Ino menghempaskan badannya ke kasurnya dan memeluk selimut miliknya dengan erat.

DEG!

'Kenapa hatiku terasa sakit ya? Apa karena aku terlambat makan ya?' pikirku sembari mengikuti gerakan Ino tadi namun di kasur milikku sendiri.

"Oyasumi, pig" ucapku mematikan lampu di meja kecil diantara kasur kami.

"Oyasumi, forehead" sahut Ino terdengar sudah setengah sadar.

Sakura's Side End


Ini adalah hari pertama untuk para mahasiswa menjalani pembelajaran kuliah bersama partner mereka masing-masing. Namun, mereka belum tau pasti 'Bagaimana cara belajar yang akan dituntut oleh para sensei mereka'. Banyak dari mereka yang tak begitu peduli dengan hal itu, karena mereka berfikir akan belajar seperti biasanya. Ada beberapa dari mereka yang panik, berfikir pembelajaran mereka makin sulit apalagi waktu yang mereka punya untuk belajar di universitas itu hanyalah seminggu lagi. Itu sangat membuat frustasi.

Dan setelah beberapa jam dari waktu biasa untuk memulai pembelajaran, para mahasiswa memang sedang melaksanakan jam bebas. Namun, tiba-tiba saja teralihkan dengan kehadiran Kurenai yang tiba-tiba muncul di depan mading sekolah, lalu menghilang kembali secepat kilat.

Dan dengan sigap para mahasiswa berlarian menghampiri mading dan membaca sebuah lembaran kertas yang cukup besar yang terpapang di papan berukuran sedang itu. Seperti gulungan kertas bertemakan kerajaan dan ada pita biru muda dan biru tua yang melekat di bagian kiri bawah kertas tersebut.


'PENGUMUMAN'

'Karena kalian sudah memiliki partner masing-masing, jadi untuk selanjutnya kalian dapat mengembangkan sihir kalian bersama partner kalian. Dimulai dari hari ini, kalian akan dinilai dan di uji apakah kalian pantas untuk diluluskan atau tidak. Untuk hal yang akan diujiankan pada hari ini adalah MEMBELAH PERUT KATAK yang terdapat di halaman belakang universitas. Paling lambat sampai pukul 12 malam kalian sudah harus menyelesaikan tugas ini bersama partner kalian. Sekian dan terimakasih.'

'Rektor Universitas Sihir Hokkaido'

'Namikaze Minato'


Dan itulah isi kertas pengumuman yang terpasang di mading universitas itu. Setelah selesai membacanya, para mahasiswa berpencar keseluruh penjuru melaksanakan tugas yang diberikan. Namun, ada seorang gadis bersurai merah muda yang masih terpaku dengan pengumuman dengan raut wajah yang aneh melihat kertas putih itu.

'Membelah katak? Memang belajar biologi, kenapa ujiannya terdengar semudah ini yaa?' pikir gadis itu berlipat tanga di depan dada.

"Apa yang kau tunggu?" Tanya seseorang dari belakang dan membuat gadis itu sedikit terkejut. "Sebaiknya kita segera menyelesaikan tugas hari ini, Sakura"

"Hn" sahut gadis itu seakan tak memperdulikan ajakan lelaki berambut raven itu. "Apa kau tak merasa aneh dengan ujian hari ini, Sasuke-kun?"

Sasuke melirik kata-kata yang menggunakan huruf capital di dalam isi pengumuman, lalu mengangkat alisnya sebelah dan menghela nafas sejenak. "Kita tak akan tau, jika belum melihat objek ujiannya" lelaki bermata onyx itu menarik tangan Sakura yang menatap punggungnya.

Mereka berjalan sedikit terburu-buru menuju tempat tujuan mereka, dan tak ada satu pun kata yang terucap dari mulut mereka. Bahkan tak ada pertanyaan tentang hal-hal yang masih belum diketahui, seakan dibiarkan digangtung dengan rahasia masing-masing.

"Dimana katak itu?" Tanya Sakura mencari-cari keberadaan sang katak dibalik semak-semak yang terbilang tak cukup tinggi.

Sasuke hanya mengikuti Sakura yang masih asik mencari keberadaan hewan amfibi itu.

Beberapa jam kemudian.

"Kenapa kau tak membantuku mencari, haa?!" seru Sakura yang sudah mulai kesal tak mendapatkan yang ia mau. "Kau hanya berdiri mengikutiku ke sana kemari tanpa ikut mencari"

"Memang kau mencari apa?" Tanya Sasuke dengan tampang tak berdosanya namun tetap saja dengan wajah yang datar.

Gubrak!

"Yaa, mencari katak yang akan kita belah, Sasuke!" teriak Sakura yang sebisa mungkin ia redam, Sakura mulai kesal dengan Sasuke. Ini memang belum memasuki sore hari, tapi sudah lebih dari 3 Sakura mencari. Namun, tak kunjung ia dapat. Seakan mencari di tengah samudra luas, sangat sulit mencari seekor katak di halaman belakang universitas itu.

"Oh, kalau itu.." Sasuke memainkan tangannya sedikit menjauhi tubuhnya. Menunjuk sesuatu yang ada di dekatnya. "Disebelah sana"

Sakura berusaha keras mencari sesuatu yang ditunjuk oleh partnernya itu. Dan kini iris jamrud miliknya seakan-akan ingin keluar bebas dari lingkaran mata gadis bersurai merah muda itu. Sakura berusaha keras menggosok-gosok matany ayng tak pedih sama sekali, dan berulang kali menyadari dirinya sedang ternganga sempurna melihat hal yang dipertunjukan oleh lelaki berambut raven tersebut.

"I-ini.." Sakura masih tercengang bahkan tak mampu melanjutkan kata-katanya menjadi kalimat yang sangat sempurna. "Beneran katak, kan?"

"Hn" sahut Sasuke singkat sembari menatap seekor katak di hadapan mereka.

Glek!

Sakura mengelap keringat dinginnya dan menelan air ludahnya dengan mata masih sengaja terbuka lebar. Bukan tanpa alasan mengapa gadis bermahkota merah muda itu bersikap aneh begitu. Karena yang akan dihadapinya adalah seekor katak yang bisa dibilang..

"MONSTER KATAK..!" jerit Sakura berlari, bersembunyi dibalik sebuah pohon besar di belakangnya.

"Jadi, kau akan menyerah begitu saja?" Tanya Sasuke bersilang dada disamping Sakura yang sedang bersembunyi.

"Gyaa..!" jerit Sakura menatap Sasuke yang menaikkan alisnya sebelah, karena tiba-tiba saja muncul. "Kau mengejutkanku, Sasuke! Tentu saja tidak, aku hanya memikirkan strategi saja"

"Memang strategimu apa?" Tanya Sasuke mengalihkan pandangannya ke tubuh hewan amfibi bertubuh jumbo itu.

"Etto.."

.

.

.

"Aku tidak tau, heheh" ucap Sakura menyengir ria.

Gubrak!

Sasuke menghela nafasnya sejenak, berjalan mendekati Sakura lalu menggenggam tangan mungil gadis beriris emerald itu. "Kau ikuti aba-abaku, tugas ini akan dinyatakan berhasil jika kita menyelesaikannya bersama"

Meskipun masih ragu, Sakura hanya mengangguk berharap semua rencana partnernya berjalan lancar. Sasuke dengan sigap berlari mendekati katak raksas itu dan melompat ke depannya, lalu melemparkan bola transparan berwarna hitam keabu-abuan yang berasal dari tongkatnya ke wajah sang katak.

"Serang kakinya..!" seru Sasuke berlari menjauhi sang katak yang sudah kesakitan menerima serangan lelaki berambut raven itu.

"Hn!" sahut Sakura meyakinkan dirinya sendiri. Lalu, menggenggam tongkatnya dengan erat menggunakan kedua tangannya yang dihadapkan ke depan mengarah ke katak besar itu. Dengan menarik nafas dalam, Sakura mulai membaca mantra sihirnya. "Balls of Magic..!"

Sring!

Sebuah bola sihir berwarna soft green muncul dari tongkat milik Sakura, berukuran 2 kali cukup besar daripada milik Sasuke. Melesat menghempas tubuh hewan raksasa itu sehingga terhempas ke tanah dengan bagian perutnya ke arah langit. Tanpa pikir panjang, Sakura melesat berlari hingga berdiri di atas tubuh objek sihirnya. Sakura mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi sehingga cahaya soft green menari-nari di perut katak itu dan merobek kulit lembab hewan itu. Maka, tampaklah bagian dalam atau isi dari perut katak itu.

Melihat isi perut katak, Sakura mengerti apa maksud dari tugas yang diberikan oleh senseinya. Sebuah pantulan cahaya matahari tampak dibalik organ tubuh milik hewan berukuran super besar itu. Dengan tangan kosong, Sakura merogoh benda mengkilap itu.

"Permata Ruby?" ucap Sakura menatap benda yang sekarang digenggamannya.

Swush!

Tiba-tiba saja tubuh raksasa itu menghilang seakan tertiup oleh angin senja. Dan begitu juga tubuh mungil Sakura yang seakan selembar kertas yang jatuh ke tanah.

"Heeeh.. kenapa kepalaku pusing sekali yaa?" Sakura mendapati tubuhnya menyentuh tanah dengan tangannya memegang kepala bagian atasnya. "Tubuhku ju.. gaa"

Brug!


Tada~ chapter 10 update lumayan cepat (?) Di chapter ini, kenapa ane jadi curhat yee? Maklumin, author masih sekolah, jadi mikir ujian besok, OH NO! #abaikanGak terasa udah chap 10 yaa, semakin membuat ane membuat ceritanya yang see~makin melenceng jauh dari rencana awal XD #AuthorGaJe

Jaa nee, minna-san. Sampai ketemu di chap 11 yaa? \^o^/