Eye-witness
Himkyu's Present
SVT Fiction_Mingyu x Wonwoo (Meanie)
Genre : Romance Hurt/Comfort
Disclaimer : SVT cast are owned by Pledis Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 10
Berbekal alamat yang diberikan Bibi Ahyeol, aku begitu percaya diri melangkah mendekat ke sebuah rumah besar yang telah diarahkan taxi.
Rumah itu besar, 5x lipat dari rumah Mingyu. Aku belum pernah menginjak kaki di rumah besar dan seluas ini.
Dibilang nyaman? Tidak. Bulu kudukku meremang, memuncak adrenalin ketika pagar masuk sudah kulewati. Beberapa belasan mata menengok ke arahku. Badan mereka besar-besar, menakutkan. Siap menimpaku jika aku berbuat macam-macam. Siap mengigitku, jika aku merongrong membuat masalah.
Bahkan bau pembunuhan merangsang inderaku. Tidak ada yang rapih dan senang dirawat di sekelilingnya. Mereka tidak takut mempertontonkan parang dan kayu tumpul seperti aksesoris sehari-hari di genggamannya.
Entah aku telah diundang, atau tamu manapun bisa dipersilahkan masuk selayaknya turis asing memasuki sebuah lokasi wisata, mereka tidak menerjangku dengan pelarangan masuk. Mereka hanya awas memperhatikan pergerakanku seperti singa lapar.
Langkah kakiku lemas justru karena merasa diijinkan bebas maju sampai ke dalam.
"Kenapa rumah besar seperti ini tersembunyi dekat daerah hutan?" gumamku, hampir tidak didengar siapapun.
Rumah ini memang kuakui tertutup sebagian besar batang pohon besar, dan tidak dekat pemukiman yang padat penduduk. Tempat seperti ini pasti tak ingin jadi daya tarik, tapi untung taxi masih mengenal alamatnya.
"Mau bertemu siapa?"
Langkahku terhenti, dicegat seorang pria plontos dengan badan menjuntai menghadap di depanku. Ia bersidekap, matanya tajam, siap membelah siapapun yang tidak bisa menjawab benar.
"Tu-Tuan Jisung." aku tidak bisa menahan rasa takut. Segera kusodorkan kertas dengan tulisan acak-acakan di dalamnya. Itu hasil tulisanku yang sedang menanggung emosi. Tidak punya waktu menyalurkan hasrat pada jari-jariku saat itu untuk menulis rapih.
"Saya datang untuk melunasi hutang-hutang panti asuhan Bibi Ahyeol."
Pria plontos bertubuh besar itu mendelik. Reaksi yang cepat apabila ia megenal sesuatu dari Bibi Ahyeol.
"Ikut aku." ucapnya dengan nada begitu berat. Dengan gontai aku hanya mengikut, walaupun aku tidak akan berdua saja bersamanya untuk masuk. Kehadiranku menghadap Tuan Besar mereka juga diantar dua asisten lainnya. Total aku diawasi 3 orang sekaligus, yang kuperhitungkan, bahkan tidak bisa kuambruki dengan tangan kosong.
Mungkin aku sudah menghajar banyak orang.
Mungkin juga aku sudah melempari mereka dengan barang-barang berat.
Mungkin sudah pernah dilaporkan polisi.
Mungkin juga aku sulit memasang wajah takut pada siapapun.
Tidak setelah aku berhadapan dengan semua orang di dalam rumah ini yang lebih mengerikan dari monster sekalipun. Mereka menghantuiku dengan tatap awas mereka. Menjilat tubuhku dengan udara pengap berisi asap rokok. Juga kulihat beberapa benda pukul dan tajam dengan berani mereka bawa-bawa.
Mereka ini apa? Yakuza? Mafia? Buronan?
Aku dibawa ke sebuah Tempat kerja seseorang ramai dengan berkas-berkas tak tersusun selayaknya dimana-mana. Terasa sekali hidup dalam keputusasaan.
Aku tak sengaja mencium bau darah? Atau perasaanku saja. Semoga salah satu yang membawaku tidak pernah jadi algojo.
Tubuhku didorong, disuruh mendekat ke sisi meja di tengah ruangan. Ku berani mendekat ke sebuah kursi hampir bobrok di depan. Berhadapan dengan meja itu, sebuah kursi kerja putar yang belum berani menghadap padaku. Seseorang duduk di belakangnya, sambil mengepulkan asap yang menyembul ke udara.
Tampilan seperti apa si 'Tuan Besar' ini? Aku sudah sangat penasaran, hingga berkali-kali mencoba mencuri pandang ke baliknya.
Kursi kerja itu akhirnya memutar,
sosok yang sepertinya senang mempermainkan siapapun itu, menyungging senyum tak enak padaku. Aku sama sekali tidak menganggap itu adalah sambutan yang ramah. Sebaliknya, itu semakin membuatku sangat jengkel.
"Jadi ini yang namanya Jeon Wonwoo?"
aku langsung berkerut kening. Maksudnya apa ini?
"Kau tau namaku?"
"Tentu saja." Ia menyalakan pemetik api nya. Menyalakan cerutunya yang baru dan masih segar. "Kami mencari taunya sendiri."
Pernyataan barusan sontak membuatku terbangun dari bangku. Kuperhatikan lekat-lekat dua maniknya yang menghinaku...
"Tunggu. Jadi, selama ini kau yang..." aku mengebrak mejanya. Amarahku berkilat-kilat, tersulut emosi. "Apa maumu?!"
Tiba-tiba suara pelatuk pistol terdengar.
Kulihat sekeliling, kerumunan orang-orang semakin banyak saja berada di ruangan ini bersama kami. Beberapa dari mereka dengan serius, mengacungkan pistol ke arahku.
Perasaan tidak enak tentu saja menggeluti, hinga akhirnya, aku putus asa dan kembali duduk tenang di kursiku. Menatap kebencian pada lawan bicara ini, sebagai pelampiasan.
"Tenang saja, Nak. Kedatanganmu ini sebenarnya untuk melunasi hutang bibi angkatmu hari ini, kan?"
Aku mendecih. Jijik kalau ingin melanjutkan pembicaraan bersamanya. Ia terlalu banyak tahu tentang urusanku hingga membuatku tidak senang.
"Atau kutawarkan sesuatu yang lebih baik?"
Dahi berkerut gemas. Masih tak paham dengan yang dimaksud orang ini. Aku masih sulit mempercayainya jika ia masih saja menyungging senyum jenaka di situasi seserius ini.
"Aku akan menawarkan kebebasan ayahmu, dan membebaskan hutang Bibimu.
Setelah kau melakukan apa yang kuinginkan.."
.
.
.
.
.
#1st Day
Mingyu's POV.
Aku sangat sulit menelan bubur merah buatan Ibuku.
Ingatanku terhadap masalah Wonwoo, orang yang telah mengikutinya, masa lalunya, keterlibatannya dengan kisah tragis yang terjadi 13 tahun lalu,
membuatku semakin penasaran hingga terbawa seharian.
Bagaimana keadaannya?
Apa dia bisa menanggungnya sendiri lebih lama lagi?
Apa aku harus diam?
Apa dia marah kalau aku membantunya?
Tuk
"AWWW! Apa-apaan sih Minji?!"
"Ayah, Ibu.. Mingyu ngelamun lagi!" ucapnya setelah berhasil memukulku dengan sendok panjangnya saat aku lengah. Ia berani memelet pada kakaknya sendiri. Tingkah pengaduannya menyebalkan sekali.
"Mingyu. Kan sudah Ibu bilang berkali-kali jangan melamun saat makan. Kau tidak punya waktu lagi. Nanti telat." Ibu memarahiku sambil menyendokkan ayam untuk Ayah yang memang tadi meminta.
Aku hanya mengerucut bibir, sebal dan kesal. Kulirik Minji, ia puas dengan cekikikannya yang tak berdosa. Aku kembali melanjutkan santapanku dengan mood tak baik.
Memangnya tidak boleh mengkhawatirkan orang yang kucintai?
Tak lama kemudian,
kurasakan senggolan pundak dari orang di sebelahku. Ia berbisik kecil,"Psst.. Wonwoo Oppa kenapa?"
Rupanya ia terlambat sadar bahwa lamunanku ini ada artinya tentang Wonwoo.
Aku mendelik kesal padanya. Ini bukan keadilan namanya jika langsung kutanggapi setelah sebelumnya membuatku jadi bahan omelan.
"Ibu, Ayah.. Minji ganggu makanku!"
Ibuku mendelik dengan tatapan tajam yang tak bisa ditentang,"Minji..."
Minji terhentak, langsung larut menelan makanannya lagi tanpa protes.
Kalau tidak ada Ibu, aku sudah pasti akan tertawa keras.
Beralih dari keributan tak berarti tadi, aku kemudian mulai mengingat sesuatu selama waktu makan-makanku. Kulirik Ayah, yang masih konsen dengan koran dan makanannya.
"Ayah."
"Hmm?" beliau menegak teh panasnya.
Aku terdiam beberapa saat, mencoba mencari ide bagaimana membicarakannya pada ayahku.
"Ayah punya kenalan polisi, tidak?"
"Tentu saja. Banyak. Memangnya kenapa?"
Aku terbawa suasana sendiri hingga hampir melompat dari kursi. "Ayah, kenalkan aku!"
Semua penghuni di meja makan melirik padaku. Mereka pasti tak mengira aku bisa sangat segegabah ini.
"Loh, kenapa?"
"Aku mau tangkap penjahat!"
PFFT...
Minji hampir menyemburkan susunya. Ayah ibu sama-sama membelakak kaget, kemudian saling melirik.
"Pe-penjahat?! Astaga! Kau seharusnya tidak terlibat-" Beliau langsung menyentak korannya, ia sudah beraut ingin membentakku kalau aku melakukan kenakalan.
"Makanya Ayah! Aku butuh bantuan polisi. Kalau ayah punya kontaknya, aku minta, ya. Aku gak nakal kok."
Ayah saat itu tidak bisa bersikap apapun, masih heran. Akalnya semrawut. Wajar jika seorang ayah akan panik jika mendengar salah satu anaknya tidak angin tak ada hujan, tiba-tiba ingin dikenalkan dengan seorang polisi kalau tidak dengan alasan yang jelas.
Tapi bedanya, Ayahku ini selain mengangguk dengan wajah terherannya, ia sudah berniat mencari sesuatu dari hp nya tanpa ba bi bu lagi. Mungkin rasa khawatirnya cepat melunak kalau aku sudah membujuknya untuk daijobu (bahasa jepang : "tidak apa-apa")
"Namanya Yongguk. Dia sudah bekerja sebagai polisi selama kurang lebih 3 tahunan, satu SMA dengan Ayah."
Ayahku mengulurkan HPnya , mempertunjukkan deretan angka. Aku secepat kilat menuliskannya di kulit tanganku dengan pulpen yang selalu kusangkutkan di kantung seragam.
"Mingyu, kalau kamu buat macam-macam, Ibu akan menghukummu.." Ibu tiba-tiba menghardikku yang tengah sibuk menulis. Beliau memang yang paling sensitif jika dikenai masalah yang melibatkan dua anaknya. Namun aku tidak terlalu konsen untuk menanggapi.
"Makasih, Ayah!" ucapku setelah mendapatkan apa yang kuinginkan. "Aku pasti akan jadi anak yang membanggakan."
"Apa yang bisa ayah banggakan dari anak yang bermasalah dengan seorang polisi, Anak Nakal!?" Ayah ternyata mulai marah setelah sadar dengan apa yang ku lakukan. Kenapa harus memberikan nomor seorang polisi pada anak yang tidak memberikan alasan yang jelas?
Tapi aku tidak ingin menjelaskan apapun dulu.
"Aku bisa telat! Aku pergi dulu, Yah!" aku langsung beranjak dan pergi tanpa menoleh.
"Mi-Minji juga!" dan tanpa sadar adikku juga ikut-ikutan, aku tidak peduli.
Dan ini kali kedua aku dan Minji melarikan diri dari rasa penasaran Ayah dan Ibu.
.
.
.
.
.
.
Normal's POV
Mingyu telah lama memperhatikan foto yang berhasil ia ambil saat berada di apartemen Wonwoo. Foto anak dan ayah yang senyuman mereka itu pun lebih sekedar dari bahagia.
Pikirannya banyak teka-teki, banyak penalaran. Bahkan sebodoh-bodohnya dia, ia masih cukup cerdik untuk menakar ukuran berbagai frame demi frame kejadian yang terlibat dalam masa lalu Wonwoo untuk menjadi sebuah petunjuk.
"Kejadiannya 13 tahun lalu. Umurnya kala itu masih 5 tahun." Mingyu memejam mata. Ingin fokus daripada meladeni orang-orang di perpus itu yang berlalu lalang kesana kemari di hadapannya. "Ayahnya pernah bekerja dengan seorang majikan yang kaya raya? Tapi Wonwoo tidak bilang namanya siapa, atau macam perusahaan apa. Ia hanya paham kalo orang itu sangat kaya."
"Ia diikuti sejak beberapa minggu ini. Dan anehnya, Wonwoo curiga orang itu punya penampilan yang sama dengan orang yang waktu itu menusuk majikannya.
Entah dari segi wajahnya memang mirip, atau Wonwoo sekedar membenam pemikiran bahwa tampilannya mirip sehingga ia menduga begitu. Aku tidak tanya, apa orang yang mengikutinya kemarin ia lihat wajahnya dengan jelas. Ia terlalu terguncang."
Ia kembali membuka matanya, dan mulai melurus tajam ke atas meja. Ia hampir ingin menggigit daging tangannya sendiri, karena gemas telah berusaha berpikir banyak. Ia tidak ingin bertingkah seperti detektif, tapi ia ingin membantu Wonwoo.
Kalau memang jasanya tidak akan diterima Wonwoo, lebih baik ia mempelajari sendiri masalahnya secara diam-diam tanpa si korban tahu.
Ah, Di antara pemikiran sulit ini, ia jadi terbesit rasa rindu dengan Wonwoo.
DrrrrtttDrrrrttt
Secepat kilat, tangan Wonwoo langsung meraih telepon. Dibaca sms yang terkirim padanya.
Ia mengulas senyum setelah membaca balasan yang diharapkan.
.
.
.
.
.
.
Taman itu terlihat cukup ramai.
Anak-anak senang bermain di petak pasir atau bahkan bermain di atas lapangan sekedar kejar-kejaran.
Orang dewasa lebih suka bercengkerama mengawasi anak-anak mereka, atau yang masih single terlihat berfoto ria atau main skateboard sebagai pemecah waktu luang. Ada juga beberapa seniman jalanan, melakukan perform di tengah keramaian.
Mereka semua menikmati sore itu. Namun Mingyu lebih suka larut dengan rasa gelisah, karena orang yang ditunggu tidak juga tampak. Atau bahkan ia canggung, kalau harus berhadapan dengan orang penting.
Ini polisi loh yang mau ditemui. Bukan guru nya yang suka ia jaili diam-diam.
"Hei, Anak Muda."
Suara cukup dalam masuk ke indera nya , membuatnya sedikit terhenyak dari rasa melamun. Ketika ia menoleh, muncul seorang pemuda berseragam yang tak dibayangkan Mingyu.
Ia terlihat seperti,
pria normal?
Maksudnya, tidak berseragam... Tidak terlihat seperti penampilan seorang polisi pada umumnya.
Pria bertubuh cukup tegap tinggi itu, mengendong seorang anak laki-laki berumur 3 tahunan di dekapannya. Bermain dengan 2 robot yang ia adu satu sama lain dengan lucunya.
"Kau pasti anak dari Yunhwa sunbae."
Mingyu membungkuk. "Nama saya Mingyu, Yongguk-ssi."
Mingyu bangun dari bungkukkannya , sambil melirik anak kecil di dekapan pria gagah itu. Yongguk melihat tatapan Mingyu pada sang Anak sudah pasti tahu apa yang tengah dipikirkan anak muda di depannya itu.
"Ia Yonggi. Anakku."
Mingyu mengerjab. Benarkah? "Anda tidak terlihat setua itu."
"Haha.. umurku dengan ayahmu hanya terpaut 2 tahun,loh." Yongguk menurunkan gendongan anaknya, "mainlah nak, jangan jauh-jauh. Ayah ingin bicara dengan kakak ini."
"Ya, ayah!" ucapnya dengan nada nyaring bahagia. Ia berlari dengan kaki kecilnya ke dekat peti pasir, berisi anak-anak seusianya. Ayahnya sudah yakin anaknya cukup pintar menjaga diri tanpa ayahnya awasi.
Mingyu dan Yongguk akhirnya mendudukkan diri di bangku terdekat. Mingyu menelan air ludah, dengan suasana yang nyaris hening. Ia mencoba untuk memulai pembicaraan, namun ia takut. Sekali ia menoleh, yang ia dapati adalah lekuk wajah lelaki berkarisma itu yang tegas dan gentar, yang di bayangkannya dirinya sering berkutat dengan kasus kejahatan membuatnya menjadi mahluk yang tidak bisa mengampuni jika menemukan 1 kesalahan.
Nyali Mingyu langsung ciut kembali.
"Jadi," Yongguk akhirnya mengajak Mingyu bicara. Mingyu secara gelisah, hanya tergagu beriya-iya saja. "kau bilang ada sesuatu masalah yang ingin kau bahas?"
senyum beliau sangat tulus, bisa buat jatuh cinta. Mingyu saja yang laki-laki hampir terpincut, namun ia tahu satu-satunya laki-laki yang cintai hanya Jeon Wonwoo.
Ia menggeleng kepala, menyudahi pikirannya yang sangat konyol.
"Ah, iya. Pak! Ma-maksudku, Yongguk-ssi." Mingyu menoleh ke arah lain, membelakangi Yongguk. Mengutuk diri, kenapa ia sangat memalukan sekali.
"Jangan takut, Mingyu. Aku ini sengaja datang tanpa seragamku justru agar kau tidak khawatir. Aku justru disini ikhlas ingin membantu jika ini serius."
Ucapan yang ramah itu membuat rasa ragu Mingyu berujung terlucut. Mingyu menghembus nafas, mencoba meneguhkan diri. Jangan sampai kesempatan ini ia sia-siakan.
"Saya ingin Anda bisa mencari data-data tentang kasus kejahatan yang terjadi 13 tahun lalu." Mingyu mengeluarkan HP nya, memperlihatkan sebuah foto. "Tentang pria ini, yang bernama Jeon Wonhee."
Yongguk mengamati lama. 13 tahun adalah kasus yang sangat berlalu sekali, bahkan ia belum terlibat dengan dunia kriminal saat itu. Masih bau bujang.
"Kenapa, Mingyu? Kenapa dengan kasus ini?"
Siapkan dirimu, Mingyu. Kau akan diinterogasi dalam-dalam..
Mingyu sudah menduga bahwa tak secepat itu seorang polisi menerima petuah. Apalagi menyangkut masalah kriminal yang sangat privasi, dan tidak dibayar pula, atau tidak dijamin kalau sampai ketauan petinggi kepolisian.
Tapi Mingyu tidak bisa apa-apa tanpa meminta dari yang sudah terjerumus di bidang ini.
Mingyu mengambil nafas dalam. "Ini menyangkut sahabatku, Yongguk-ssi." Mata Mingyu menatap sungguh-sungguh foto Wonhee yang mendekap Wonwoo kecil. Memang tidak terlihat seperti seorang penjahat sama sekali. "Beliau adalah pelaku pembunuhan yang dituduhkannya, sekaligus seorang ayah."
Mingyu menatap lurus, berbayang gambaran kembali Wonwoo dan ayahnya yang-jika saja kasus ini tidak menimpa-mungkin sedang lari-lari bersama di sekitar taman ini. Atau bercengkerama tentang masa muda.
Sungguh kasihan..
"Kasus kejahatan itu dilemparkan tanpa ada kesaksian kuat. Dan langsung dijatuhkan yang membuat beliau dijebloskan pada kejahatan belum tentu dilakukan.
Sahabat saya sendirilah saksi utama dalam kasus itu. Bahkan jika bulan malam itu-yang diceritakannya padaku-bisa berbicara, aku yakin akan bersaksi hal sama di pengadilan waktu itu.
Namun ia hanya seorang anak 5 tahun, yang bahkan hanya dianggap penganggu saat membela ayahnya sendiri."
Yongguk tidak akan menulikan pendengarannya. Seakan berhadapan dengan kasus penyidikan yang sehari-hari ia kerjakan, ia tulis semua pernyataan anak di sebelahnya betul-betul dalam ingatannya sendiri, tanpa ada yang meleset. Ia mereka berbagai kemungkinan, selayaknya detektif.
"Intinya, kau ingin kasus ini diungkit kembali setelah 13 tahun tidak diusut? Untuk keadilan beliau?"
Mingyu memberikan balasan tatap. MungkinkahYongguk membaca hatinya? Atau itu hanyalah intuisi seorang polisi? "Benar sekali, Yongguk-ssi. Bukankah itu hak manusia? Mendapatkan keadilan?"
"Sahabat saya mengingat kisah buruk ini selama 18 tahun dirinya hidup. Sangat mustahil seorang anak 5 tahun yang dianggap mereka tidak mengerti apa-apa, akan mengingat ini begitu kental, bahkan hingga terbawa mimpi. Itu berarti dia bukan lagi anak-anak yang polos dan bodoh waktu itu.
Saya kenal dia, dia anak yang sangat pintar. Bahkan mungkin saat aku 5 tahun, aku masih minta mainan tempur-tempuran, dan dia sudah ingin dibelikan buku keilmuan."
Mingyu tersenyum, terpaksa. Ia mencampurkan rasa antusiasnya, dengan rasa miris. Bukankah bercerita kisah baru dengan ending buruk, selalu menggugah banyak emosi pada siapapun yang mendengar maupun yang bercerita?
"Tapi kau sudah tahu bukan, menemukan data-data kasus ini pun tidak akan menjadi bekal yang kuat untuk maju ke pengadilan."
"Aku tahu. Aku hanya ingin mencari tahu tentang beberapa hal kecil lainnya, yang mungkin masih bercabang dari sebagian kecil data-data yang ditemukan. Dan itu bisa membantu untuk menemukan jalan keluar."
Yongguk memejam mata. Ia mengambil nafas. Bergulir dalam dilema, sama dengan Mingyu saat ini. Mengigit bibirnya, sambil menyilangkan dua jarinya.
Keputusan ada di tangan Yongguk...
"Tidak semua berkas kasus akan kuberikan padamu, Nak. Tak apa? Mungkin data korban juga identitas pelaku. Itu pun hanya beberapa hal kecil. Hal penting lainnya, adalah privasi pihak polisi yang sangat disimpan erat." Yongguk tersenyum. "Apa itu sudah cukup?"
"Tentu saja, Yongguk-ssi!" Mingyu melompat dari kursi. Ia berdiri sambil membungkuk berkali-kali. "Terima kasih banyak! Terima kasih banyak!"
"Hei, Nak! Jangan melakukan hal itu! Sudah-sudah.." Yongguk terkekeh, mengulurkan tawaran untuk Mingyu duduk kembali di bangkunya. Semangat muda benar-benar di luar jangkauannya.
"Aku memiliki pertanyaan terakhir untukmu. Agar aku semakin yakin, aku tidak sia-sia membantumu.."
Mingyu memperhatikan Yongguk yang tanpa cela. Lelaki baik di sampingnya ini berhak diberi sambutan terakhir.
"Kenapa kau begitu besar harapan ingin menolong sahabatmu? Apakah dirinya tahu tentang peranmu ini? Seharusnya dia bersamamu menceritakan sendiri padaku..."
Mingyu mengangguk pelan. Ia telah menyiapkan jawaban terbaik untuk kemungkinan pertanyaan ini.
"18 tahun ia sendirian mencari orang-orang terpercaya untuk bisa membantunya, dan sia-sia. Aku akhirnya bertemu dirinya, dengan rasa pesimis yang sudah terbentuk. Ia mungkin sudah lelah berharap.
Jadi aku ingin membuatnya seperti 'duduklah, kawan. Beristirahatlah, dan biarkan aku membantumu'."
Mata Yongguk seakan bergelimang haru dan hasrat melihat ketulusan dari nada bicara Mingyu.
Gadis yang beruntung, ucap Yongguk demikian dalam benaknya. Bukan sahabat lagi kalau begini , dia mengira.
"Dan dari semua itu. Aku seperti kebanyakan lelaki yang terkena cinta buta, sesungguhnya."
Ya, aku mengerti, nak. Kau sedang jatuh cinta.
"Saking cintanya pada dia, aku bisa saja berbuat bodoh. Bahkan teman dekatku mengira aku sudah terlalu bodoh sejak awal, karena mencintainya...
mencintai anak laki-laki bermasalah seperti dirinya hingga aku mau terlibat hal-hal semacam ini."
Yongguk pun seketika hening diliputi keterkejutan.
.
.
.
.
.
.
.
#2nd Day
Wonwoo membuka mata.
Tubuhnya terasa sakit semua.
Ia mencoba bangkit, namun sangat sulit.
Entah berapa banyak pukulan diterimanya waktu itu, hingga berhasil melumpuhkan tubuhnya sampai esok hari. Bahkan sampai sore ini, ia masih berbujur kaku di kamar entah berantah ini.
Bau ruangan itu usang, busuk-bagi siasat bencinya pada apapun yang berada di rumah ini, ia akan terus mengutuk-Tidak layak diberi emblam 'kamar tidur'.
Ia mencoba mengingat kejadian sehari lalu, sebagai hiburan selama ia melemaskan tubuhnya dulu di ranjang kaku ini.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku akan menawarkan kebebasan ayahmu, dan membebaskan hutang Bibimu.
Setelah melakukan apa yang kuinginkan.."
Wonwoo sudah sekian mendengar perjanjian busuk ini. Orang-orang yang pernah menawarkan hal sama, akan melakukannya...
Namun apa? Terbukti, ia masih dikatakan anak 'pembunuh' selama sisa hidupnya..
Wonwoo terbakar emosi, sudah terlanjur dan tidak bisa dihalangi kalau hanya dengan ancaman pistol di berbagai penjuru. Ia tidak takut. Ia sudah pernah kena hujaman pisau, atau lemparan batu, demi membela diri. Dan Tuhan masih mempertahankannya hidup..
..untuk ditertawakan lebih lama. Ia sudah kebal bahkan pada Tuhannya sendiri yang sedia mempermainkannya.
Ia bangkit, menerjang ke depan meja, dan meraih kerah baju itu yang ingin ia koyak dengan tangan kosongnya.
"Jangan main-main kau, Brengsek! Kau kira aku percaya dengan permainanmu!? Lebih baik kubayar dengan uangku! Kau kira aku tidak bisa melunasinya!? Besok semuanya lunas! Dan aku tak peduli dengan apa yang kau tau tentang ayahku, dan omongan besarmu! Berikan saja kebebasan panti itu!"
Emosi Wonwoo membuat orang-orang memegang pistol lebih tinggi dan semakin menekan pelatuk lebih dalam, siap meletupkan peluru. Namun mereka mendapat instruksi dari gaya tangan Boss mereka. Menunggu dan tak gegabah, itu maksudnya.
"Sayang sekali, permintaanmu tidak ada di dalam pilihan yang kutawarkan."
Wonwoo berkerut kening. Apa maksudnya?
"Kuingin kau melunasinya hari ini juga. Tapi kau menawarkan besok. Itu diluar perjanjian."
"A-apa..."
"Dan ada tawaran lain, kau malah menolaknya."
Wonwoo semakin bulat ingin segera meninju wajah renta di depannya itu karena telah tersenyum sambil mengisap rokok ganjanya dengan santai tanpa memikirkan situasi yang ada.
"Jangan gegabah. Pikirkan baik-baik dulu."
"Tidak, Brengsek! Aku tidak mau berpikir banyak untuk orang sinting sepertimu!"
"Oh begitu?" Tanpa disadari Wonwoo , pria di hadapannya tengah melakukan instruksi lainnya. Entah ditujukan pada siapa. Ia tak tahu ada pria gempal menunggu di belakang punggungnya sedang mengayun sebuah tongkat baseball. "Kalau begitu, biar ku bantu memudahkannya."
"Aku harus memaksamu memilih tawaran yang terakhir."
BUKKKKK
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo tidak ingat lagi apapun selain merasakan denyutan sakit di punggungnya.
Ia mengucapkan umpatan berkali-kali memenuhi ruangan kosong itu, berharap ada pendengar yang merasa terkutuk setelah mendengarnya.
Ia memaksakan diri untuk bangun. Ia bangkit, ia lihat cermin. Ada memar di ujung bibirnya.
Sialan, mereka pasti memukulku saat aku tidak sadarkan diri.
Kemudian, Wonwoo mencari sesuatu untuk bisa membuatnya melarikan diri.
Ruangan yang ditempatinya berada di lantai kedua, setelah ia mengintip dari jendela yang dihalangi batang besi. Ia seakan dipenjarakan disini. Tapi ia yakinkan, tidak lama lagi.
Ia mencari barang dengan ujung tajam. Mungkin pulpen? Jarum? Atau kalau beruntung, langsung saja obeng.
Tapi belum berhasil, malah sudah terlanjur pintu terbuka untuknya.
Ia bergerak mundur, bergerak awas melindungi dirinya sebelum sesuatu akan menerjangnya.
"Kau tidak usah repot-repot melarikan diri. Hari ini pun kau sudah boleh meninggalkan tempat."
Wonwoo mengerut, tidak yakin. Ia tidak merasa aman dan harus percaya kalau ia berujar demikian sambil ditemani 2 orang besar di sisi kiri kanannya , dengan tatapan ingin membunuh.
"Hanya saja, kau perlu melakukan sumpahmu padaku untuk melakukan apa yang kuminta, maka kau bisa pergi."
Wonwoo mendecak. Ia banyak pikiran. Apa ia harus kabur saja, ya? Menerobos pengamanan dua orang besar, jika saja ada celah untuknya, dan tak ia temui pria-pria bertubuh besar lainnya di tempat lain nanti, mungkin bisa membuatnya keluar dari tempat ini.
Kemungkinan nya tidak sampai 10%.
"Kau lebih suka mana? Bertahan disini dan meninggalkan orang tercintamu selamanya, atau melakukan apa yang kuminta, dan terbebas selamanya."
"Jaminanmu.."
Sepatah ucapan Wonwoo membuat alis Pria di depannya terangkat.
"Kau bilang kau ingin membebaskan keadilan ayahku.. Dengan cara apa? Kau harus menjamin bahwa kata-katamu itu benar bisa kupercaya."
"Itu mudah.. Ikut aku."
Dua pria besar itu tiba-tiba hendak menahan tangan Wonwoo, namun tentu sebagai seseorang yang tidak ingin dianggap buronan atau penjahat, ia menghindar. Dan keduanya tidak keberatan selama Wonwoo tidak melakukan pemberontakan.
"Kau pasti kenal dengan orang ini."
Wonwoo terkejut ketika pertemuan di sebuah ruangan kerja, mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang dikenalnya.
Laki-laki itu wajahnya sangat cemas, dan tak mau bertemu pandang dengan Wonwoo walaupun hanya sekali saja. Ia dikepung dua pria besar lainnya, agar ia tak bisa lari.
"Kau..."
"Ya, dia penusuknya. Dan juga yang akan menyerahkan diri dengan sekali perintah dariku."
Wonwoo tak bisa menahan kebingungan dari segala teka-teki acak yang terbentuk tiba-tiba di otaknya. Problema macam apa ini?! Ia tak paham.. kenapa semrawut. Kenapa ada laki-laki ini, kenapa dnegan pria bangsat ini, kenapa dengan ayahnya, kenapa dengan bibinya,
dan kenapa dirinya langsung terlibat...pada suatu yang tak pernah ia bayangkan.
Kenapa tak diduga-duga... ia seperti terlibat kembali dalam kejadian 13 tahun lalu, yang direka ulang agar terlihat lebih jelas.
Beberapa menit ia mencoba menerka banyak hal,
akhirnya ia mengerti.
"Sebenarnya aku tak menduga hal ini akan merenggut nyawa musuh bebuyutanku.
Aku senang saja, tapi aku merasa bersalah denganmu, nak."
Dada Wonwoo kembang kempis. Ia sedang berusaha menyembunyikan monster dalam dirinya melompat memunculkan diri.
"Karena itu, aku akan menyerahkan anak buahku yang bodoh ini ke polisi. Tapi, tentu saja itu tidak bisa kulakukan cuma-cuma. Karena pembunuhan si brengsek Shim Go Hyun, tidak bisa mengembalikan hak ku. Dan aku sangat sabar 13 tahun untuk bisa mendapatkanmu, Jeon Wonwoo."
Wonwoo mendengarnya dengan segala kebencian yang ada dalam dirinya. Rasanya jadi omong kosong, tapi mendengar penjelasan kasus yang seharusnya benar dibuktikan dalam pengadilan itu, membuat dia semakin jelas ingin membawa perkara ini kembali secepatnya.
Mereka bisa membantu ayahnya kembali pada keadilan...
"Kau pasti kenal dengan Yungsik."
Wonwoo menoleh cepat. "Ada apa dengan beliau?! Apa kau tidak cukup melibatkan orang-orang terdekatku?!"
"Wah, jadi kalian sudah dekat? Bagus. Tidak kusangka, menjebakmu untuk bisa masuk di tempat kerjanya adalah ide brilian."
Wonwoo berkerut sangar. Ia benar-benar tak habis pikir dengan orang ini. Kenapa banyak hal yang terasa terusik akibat ucapannya.. Permainan apa yang tengah ia mainkan untuknya?
"Orang itu adalah saudara dari Go hyun bukan?"
Wonwoo tak sudi mengangguk. Kalau memang iya, kenapa? Hal berbahaya apa yang tengah direncanakan pria sialan ini pada Boss nya itu.
"Jadi pekerjaanmu mudah karena kau sudah cukup dekat dengannya."
"Apa maumu..."
Pria itu menyungging senyum. Picik dan mengengat di hati Wonwoo.
"Kau tidak kusuruh membunuhnya,
hanya mengambil sesuatu yang ada di tangannya. Yang 13 tahun telah dicuri Go Hyun keparat itu. Dan kini dipindah tangankan pada saudaranya yang sama-sama keparat itu."
.
.
.
.
.
.
#3rd Day
Menu pagi itu cukup berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Begitu juga suasana yang tercipta.
Yunhwa begitu bergegas, sudah menggeret beberapa kopernya.
Wanita idamannya tidak kalah sibuk, membawakan barang-barang suaminya yang serba ketinggalan.
Tidak ada lagi ketenangan di meja makan, tidak ada lauk pauk yang serba ada. Sekedar ramen yang simple terbuat sudah dihidangkan.
Mingyu setelah selesai berpakaian serta mengabaikan kekacauan dua orang tuanya yang berlarian kesana kemari, ia menyusul ke meja makan. Rupanya sudah ada Minji yang telah mengambil mie nya sendiri.
"Kak" Minji menegur pertama, Mingyu yang masih mengeringkan rambut, menoleh pada si gadis berjaket merah muda itu. "Kabar Wonwoo oppa gimana? Aku kangen setelah Wonwoo oppa gak kemari lagi."
Manik pemuda itu sinis terlempar ke adik sendiri. Bagaimana bisa adiknya berlaku sewenangnya merindukan lelaki yang dia incar? Walaupun gadis itu telah mendeklarasikan diri sebagai cupid untuk mereka berdua, tentu deklarasi memberi perhatian cukup Mingyu saja.
Mingyu mudah cemburuan..
"Dari kemarin aku tidak sempat kencan dengan Wonwoo." ucap Mingyu seenaknya kali ini, karena percuma orang tuanya tidak akan dengar. "Dia juga tidak cari aku."
"Ih, gimana sih kak. Yang cinta itu kan kakak, bukan Wonwoo oppa!"
"Hei, bocah!" Mingyu menunjuk-nunjuk dengan sumpitnya. "Belum, ok. Jangan katakan seolah dia tidak akan menyukaiku."
"Ya kalau begitu, jangan berharap Wonwoo oppa mau mencari Kakak duluan. Kak Mingyu yang harus dekati dia, beri perhatian, tanyain dia 'udah makan belum', 'mau pulang bareng gak?'. Jangan biarkan Wonwoo oppa sendirian..
Jadi seme tuh yang bener dong!"
Mingyu terdiam, argumennya dikuras abis dari pernyataan adiknya sendiri yang sudah masuk level jauh dari dunianya. Bahkan sebagian kata-kata tidak bisa ia terjemahkan, yang membuatnya hanya berkerut kening dan linglung.
"Terus yang kemarin, kenapa? Wonwoo oppa kena masalah sama polisi?"
Pertanyaan yang tak diharapkan akhirnya diucapkan. Mingyu sejak kemarin mencoba melarikan diri dari permintaan aneh-aneh adiknya itu, namun sepertinya belum berhasil.
Walaupun begitu, Mingyu masih ingin melarikan diri. Sesungguhnya, ia tak mau adiknya menjerit histeris tahu bahwa Wonwoo punya kisah tragedi memilukan dan membuatnya terjerat perkara hukum sewaktu-waktu.
"Aku mau melaporkan tentang orang mesum yang terus membuntuti Wonwoo."
"Apa!?" Minji menggebrak meja. Matanya terbelakak fokus dan mematikan, minta penjelasan lebih jauh. Tak ada yang boleh menyentuh Oppa-ku, mungkin artian siratan matanya. "Siapa?! Pingin kuhajar dia!"
"Mau tau siapa?"
Minji mengangguk semangat dan berani. Ia siap melakukan apapun demi Oppa tersayangnya itu.
"Namanya..." Wonwoo mengambil ancang-ancang. "Kim Minji..."
"KAKAKKKK!"
Mingyu berlari kembali ke kamarnya, disusul Minji yang ingin menusuk badan kakaknya itu dengan garpu.
Yang kemudian, diteriaki Ibu mereka untuk tenang dan tidak membuat kekacauan di tengah kejadian bikin stress yang menimpanya.
.
.
.
.
.
Mingyu's POV
Aku teringat terus dengan yang dikatakan Minji tadi pagi.
3 hari tanpa Wonwoo ternyata membuatku jadi kesepian.
Ada benarnya yang dikatakan Minji..
Setelah bel istirahat , aku langsung melesat keluar dari kelas dan bermaksud menyusuli ke kelasnya Wonwoo.
Wonwoo kenapa tidak pernah datang ke kelasku atau ia muncul di depanku sekali saja? Aku sempat heran begitu. Tapi, aku terlalu konsen dengan beberapa hal.
Minji benar, aku harusnya lebih perhatian padanya karena aku bahkan belum tahu perasaan aslinya padaku. Dia mungkin lumayan keras kepala atau rada pemalu.
Sampai di kelasnya, aku menengok kesana kemari, dan tak melihat yang kucari. Ia tidak terlihat tertidur lagi di atas mejanya. Apa ia ke kantin?
Saat berkeliling pandang ke setiap penjuru, seseorang tiba-tiba menepuk bahuku dari belakang. "Sedang cari siapa, ya?"
Lelaki di hadapanku itu memasang wajah heran.
"Eum, apa kau tahu dimana Wonwoo?" aku bertanya setengah hati. Apakah laki-laki cantik ini bahkan mau menjawabku? Teringat dengan murid lain pada waktu itu yang langsung kabur saat aku bertanya hal serupa.
"Wonwoo tidak masuk 3 hari." ucapnya dingin. Wajahnya datar, dan tidak tertarik.
"Ti-tiga hari?"
"Ya. Apakah kau Mingyu? Anak-anak bilang ada teman dekatnya Wonwoo yang bernama Kim Mingyu." ucapnya demikian, dengan ekspresi tak berubah. Ada apa denganku?
"Kukira justru aku bisa bertanya keadaannya kenapa tumben sekali ia tidak masuk."
"K-kau siapa nya, ya?" aku menatap curiga. Orang ini kenapa perhatian sekali dengan Wonwoo? Oh tidak, jangan cemburu terus, Mingyu~
"Aku ketua kelasnya, Yoon Jeonghan."
Mataku mengerjab. Laki-laki cantik ini kelihatannya tak bersemangat, atau dia malas bicara, entahlah. Tapi itu tidak sepenting pernyataan yang barusan kudengarkan. "Kalau kau bertemu dengannya, tanyakan kabarnya. Dia tak masuk tanpa alasan apapun."
Setelah itu, Jeonghan masuk ke kelas tanpa mengumbar apapun lagi. Aku menggaruk tengkuk kaku. Mulai dipenuhi banyak pikiran.
Berlaku khawatir, aku kembali ke kelas dengan perasaan hampa. Melamun disaat aku berjalan di antara keramaian lorong, adalah ide yang tidak bagus. Aku hampir tertabrak banyak murid.
"Kemana dia?"
aku terlalu konsen dengan hal lain dan sekali tak memperhatikannya, ia sudah menganggapku seperti orang asing hingga mengabaikanku? Atau ada sesuatu yang menimpanya namun aku tak tahu?
Wonwoo itu kan penuh teka-teki. Penuh rahasia... Perlu dipancing, jika ingin membuka kedoknya.
"Aku akan membiarkanku diikutinya lagi. Pasti aku bisa memancingnya untuk ditangkap."
Langkahku langsung terhenti.
Saat kulihat ke arah jam terdekat, detik-detik yang terasa lambat, membuat tanganku terkepal tak tenang.
"Jangan-jangan dia..."
Aku langsung berdoa semoga bel pulang lebih cepat dari yang ku duga.
.
.
.
.
.
.
.
Malam sebelumnya...
Wonwoo's POV
Kulihat rumah kokoh itu, yang pilar-pilarnya sudah usang. Kebunnya masih terasa hijau, suka dirawat. Namun dinding putihnya lebih suka dibiarkan hingga sedikit menguning.
Aku mengambil nafas panjang. Melihat dari luar rumah tua ini, tidak lagi dengan perasaan serupa. Semangat atau bahagia. Ada rasa lain. Gelap, dan sunyi. Hampa dan takut.
Langkah kakiku akhirnya maju, semakin ke dalam. Suara hiruk pikuk anak-anak kecil berlarian, atau rengekan lainnya, mengiris hati. Berapa lama lagi aku akan mendengar hal ini? Kuingin menikmatinya setiap waktu. Ramainya suara anak kecil, adalah mimpi-mimpi yang kujaga sejak ku ditinggal pergi Ayah. Agar aku tidak pernah merasa kesepian.
"Hyung?"
Belum sampai ke ruang inti, sudah ada yang menyambut.
Jeno, si anak yang semakin lama setiap waktu terlihat lebih dewasa, terkejut sambil membawa nampannya di tangan. 1 cangkir teh, yang kutahu akan disuguhkan ke siapa.
"Hai, Jeno."
"Hyung!" Pekikannya mengudara, disambut anak-anak kecil yang juga ikut-ikutan menyusul. Mereka semua memelukku. Aku tentu tidak mungkin menolak. Rasanya seperti pulang ke rumah setelah berlama di dunia lain yang tak kukenal.
"Bagaiman-" Kurasakan jari mungil mengusap ujung bibirku. "Hyung terluka?"
"Ah!" aku teringat. Luka dari si Brengsek itu tidak akan langsung sembuh dalam waktu beberapa jam. Tapi aku sudah terlanjur mempertunjukkannya. "Tadi jatuh pas kemari."
"Hyung tidak bohong, kan? Hyung tidak dipukul mereka?"
Mata-mata berlian saling melempar penasaran. Ada bayangan iba, takut, khawatir bersatu padu. Tak tega sekali aku untuk membohongi mereka, namun juga mengakui sesuatu kebenaran adalah kesalahan besar.
"Semuanya baik-baik saja." kusungging senyum, cukup sebagai pesan baik untuk mereka semua.
"Bibi Ahyeol ada di ruangannya? Beliau sudah membaik?"
"Bibi baik-baik saja. Hanya perlu istirahat, tubuh beliau sudah sehat bugar. Kemarin Bibi sempat siram tanaman-tanaman di kebun, dan membuatkan makanan untuk anak-anak." jawab anak panti paling besar ini.
"Baiklah, aku ingin membawakan kabar gembira untuk beliau." ucapku, sangat meyakinkan. Anak-anak langsung melompat dengan bahagia. "Kalian istirahat saja, ya."
"Baik, kak!"
Aku pun meninggalkan hiburan itu, dengan melangkah ke ruangan lain. Kini dua jariku hanya perlu bersilang, meminta keberuntungan dari Tuhan.
"Bibi?" panggilku setelah mengetuk pintu. Kutengok ke dalam, dan melihat Bibi tengah melihat berkas-berkas.
Ia menengok, kami saling bertatapan dengan lama karena Bibi pasti perlu kesadaran untuk memastikan kehadiranku bukanlah halusinasi semata.
"Wonwoo!" Bibi menghampiriku cepat dan segera memeluk, kami saling berbagi kehangatan. "Kau baik-baik saja, Nak?" Ia memperhatikanku, dari atas sampai bawah. "Kau terluka, nak?"
"Ini hanya bekas lukakarena aku jatuh di tengah jalan." aku mengeles. "Semuanya baik-baik saja. Malah ingin mengabarkan hal baik."
Sepertinya pengalihan bicara tadi berhasil membuat Bibi tak mempermasalahkan luka di bibirku. "Benarkah? Kabar baik apa itu, Nak?"
Kupegang kedua bahunya dengan keteguhan. Menyalurkan kepercayaan, yang akan disambut baik olehnya. Agar rasa keraguan dan segala permasalahan yang selalu dipikirkan wanita paruh baya yang telah mengabdi untuk merawatku ini, tidak lagi dipikirkannya...
"Hutang panti ini sudah lunas."
Dan kedua mata beliau yang sayu, menjadi terbelakak. Ada ketidakpercayaan, juga sebuah harapan yang besar.
Aku hanya bisa tersenyum,
menyedihkan.
.
.
.
.
.
.
Author's POV
"Hyung."
Jeno mengulurkan segelas teh hangat pada pemuda yang berbeda 5 tahun darinya itu.
"Makasih ya, Hyung. Bibi Ahyeol jadi terlihat tidak cemas lagi soal ancaman orang-orang jahat itu. Ia malah terlihat banyak tersenyum malam ini. Kuharap anak-anak lain setelah tahu, akan bersorak gembira pula."
Wonwoo mengangguk. Ia yang saat itu duduk di daun jendela, sambil menatap ke arah langit malam, justru tidak terlihat seperti merasakan suka cita yang serupa. Ia mengambil segelas teh, dengan perasaan yang tak diketahui siapapun, masih terasa dingin.
Jeno perhatikan ada yang salah dari sikapnya. Ia meneleng kepala, mendalami gerak-gerik Wonwoo untuk ia cari tahu apa masalahnya.
"Hyung baik-baik saja?"
Malam itu , di ruangan tersebut, hanya mereka berdua. Jeno bukannya diberi kamar khusus dan bisa berleha sendirian. Kamarnya usang, hampir seukuran gudang, banyak barang simpanan. Jeno hanya tidak kebagian kasur empuk dan bagus di kamar lainnya seperti yang anak-anak lebih muda darinya dapat. Dan ia tak keberatan mengalah menempati kamar yang kecil ini, walaupun sudah ditawarkan Bibi untuk tidur di ruang kerja nya yang masih ada sofa.
Kamar itu tidak akan sepi kembali karena suka ditempati berdua bersama Wonwoo jika ia ingin menginap.
"Baik." ucap Wonwoo singkat. Ia menoleh ke arah lain setelahnya, seolah tatapan Jeno mengumbar banyak tuntutan yang tidak bisa Wonwoo jawab.
Dengan desiran udara yang cukup dingin, Wonwoo merajuk. Ia pura-pura merasa kedinginan, lalu melompat dari tempat duduknya, dan menggapai bantal yang sudah disuguhkan di atas kasur tipis yang tak empuk. Ia tak mengeluh, lalu terlelap tidur-'Berusaha' tidur.
Jeno yang hanya diam memperhatikan, seperti barusan menonton acara bisu. Yang tahu-tahu sudah usai saja, dengan membawakan cerita ambigu yang belum dipahaminya. Wonwoo pasti membawa banyak cerita di benaknya, yang biasa cerewet mengalir begitu saja dan asik didengarkan Jeno.
Namun kali ini, setelah perihal 'berita pelunasan' yang dibawa-bawanya, ia menjadi usai dan pendiam.
Sungguh, Jeno penasaran.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya..
"Hei, Dek!"
Jeno yang sore itu sedang menyapu halaman, mendongak menatapi seorang pemuda jangkung berlari ke arahnya.
"Ya, Kak?"
Mingyu sejenak ambil nafas karena terlalu terburu-buru berlari mendekat pada Jeno dengan perasaan serba gelisah. "Apa kau melihat Wonwoo?"
"Hyung?" Jeno perhatikan baik-baik Mingyu. Ada rasa curiga, penasaran. Baru kali ini ada yang mencari Wonwoo di panti. Kalau dilihat dari seragamnya, Mingyu ini sepertinya satu sekolah dengan Wonwoo.
Mingyu pakai seragam sore itu, berarti hari ini masih waktu sekolah...
Tapi kenapa Wonwoo sendiri tidak masuk sekolah?
"Hei, Nak?"
Jeno terlalu banyak diam, hingga membuat Mingyu perlu menyadarkannya. Kesadaran Jeno telah kembali, ia menjawab seramahnya, "Kak Wonwoo bilang, ia mau pergi kerja."
"Kerja?" Mingyu berdecak. Rupanya pencarian baginya kembali gagal setelah ia berkelana hampir ke berbagai tempat demi menemukan pemuda itu. Rupanya ke panti pun, sosoknya masih belum ditemukan. Dan kabar buruk lainnya, ia pun belum tahu dimana Wonwoo bekerja.
"Kakak temannya Wonwoo hyung?"
anak yang hampir seumuran Minji itu, membuat rasa bingung Mingyu teralihkan. "Eh, iya."
"Kak Mingyu.. Kak Wonwoo kenapa, ya?"
Pertanyaan yang diutarakan pemuda itu sontak membuat Mingyu mengerut kening.
"Sejak kemarin malam, sifat Kak Wonwoo jadi ada yang aneh. Entahlah, apa cuman perasaanku aja."
Mingyu hanya terdiam. Ia cukup menerka keanehan dari penyataan barusan.
"Kalau Kak Wonwoo kenapa-napa, Kak Mingyu bisa kan jagain Kak Wonwoo? Karena aku gak pernah tahu siapa temannya. Jadi aku bersyukur ternyata ada 1 teman yang baik bisa jagain Kak Wonwoo di sekolahnya."
Wajah Jeno tersenyum cerah dan teduh. Ia memperbesar harapannya kepada pemuda asing bernama Kim Mingyu yang sangat dipercayakannya itu. Mingyu sendiri hanya bisa tersenyum agak dipaksakan. Walaupun ia tidak bisa percaya dengan diri sendiri...
Apalagi yang terjadi dengan anak itu...
.
.
.
.
.
.
Wonwoo's POV
Kulihat sekitar, tempat yang penuh dengan fatamorgana sementara. Bau-bau rokok, miras, dan celotehan tak berguna, dimana-mana. Suara musik berdentum tak karuan. Orang-orang asik dengan dunianya, dan aku hanya diam tidak ikut larut dengan suasana.
Kemudian kulihat Sung sunbae, disana ia sudah berjaga di belakang bar seperti biasa.
"Sunbae."
Ia hampir berjengit kaget. "Astaga kau mengejutkanku."
"Apakah panggilanku satu-satunya yang mengejutkanmu, Hyung?"
Ia mendecih kesal. "Karena aku sedang memikirkan banyak hal hari ini, dan tiba-tiba kau mengacaukannya, jadi tentu saja kehadiranmu mengejutkanku." Ia menaruh botol yang sedari tadi menemaninya melamun. "Tidak usah tanya masalah apa yang terjadi padaku. Yang terpenting, kenapa wajahmu muram sekali hari ini? Sampai aku ingin mengelap wajahmu dengan serbet."
Aku tersenyum, tidak bersemangat. "Tidak apa, Hyung. Hanya sedang tidak enak badan."
"Sejak kemarin? Kau tidak masuk 2 hari ini."
"Ya, mungkin."
Sung sunbae memperhatikanku lekat-lekat. Tampaknya sikapku terlalu berlebihan.
"Boss kemana? Hari ini aku ingin minta maaf karena absen."
"Kau akhirnya sadar sudah cari mati untuk absen setelah dapat gaji pertamamu. Beliau ada di ruang kerjanya."
"Ruang kerja?" Ada ruang kerja disini?
"Tentu saja. Ruang pribadinya. Sedang menyambut seseorang. Pria pelontos bertopi dan berjas panjang seperti seorang detektif mengerikan. Kau bersembunyi saja. Kalau dia polisi dan kau tertangkap, klub ini akan ditutup otomatis."
Aku menukik alis. Malah semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
"Aku akan ke ruang ganti, untuk berganti seragam."
Namun sebelum bangkit dari bangku, "Ei! Sudah kubilang tidak usah. Tunggu saja sampai orang pelontos itu pergi." Sung Sunbae menarikku kembali, hingga aku tak bisa kemana-mana.
"Belum tentu itu polisi. Aku harus bayar upah setelah 2 hari tidak masuk."
"Keras kepala sekali hari ini kau."
Sung sunbae sepertinya tidak bisa melepasku. Aku hanya bisa tergugu diam di tempat mencari akal untuk bisa pergi.
"Boleh aku ke kamar mandi?"
Sung sunbae yang kala itu sedang membersihkan gelas-gelas, melirik padaku dengan aneh.
"Kalau aku kelamaan disini, nanti ada yang godain aku."
Berjengit jijik kepadaku, ia menggertak. "Dasar Bocah! Pergi kau sana!"
Aku hanya terkekeh melihat sikap Sung Sunbae, dan beranjak segera ke tempat yang ingin kutuju.
Ruang kerja Yunsik-ssi.
.
.
.
.
.
.
Aku sudah beberapa minggu bekerja di tempat ini, dan tidak mengetahui banyak tempat yang ada di klub ini selain bar, toilet, dan ruang ganti.
Baru pertama kali ini aku menelusuri hingga ke dalam klub malam ini, dan melewati beberapa ruangan, bahkan kulewati kamar mandi begitu saja.
Semakin jauh aku memantau lokasi klub, aku semakin sadar bahwa keadaan menjadi lebih tenang. Tidak berisik dengan pengangnya lagu diskotik.
Berjalan sedikit lagi, kutemui ada belokan setelahnya, yang dihalangi sebuah pintu bening. Kukira terkunci, tapi tidak. Sepertinya di dalam sangat sepi. Rupanya tak ada yang lancang untuk melewati papan Dilarang Masuk yang ditempel di pintu bening ini, kecuali aku.
Aku menjadi tidak peduli, dan membuka pintu itu perlahan.
Suara obrolan 2 orang terdengar.
Kututup perlahan pintu dan mulai berjinjit lambat-lambat mendekati ruang inti.
Aku bersembunyi dibalik sebuah dinding yang menghalangi keberadaanku dari 2 orang yang sedang berbincang di meja bangku dekat dengan rak buku di ujung ruangan. Beberapa meter jauh dariku. Mereka tidak akan sadar.
"Bagaimana dengan penanganan pembunuhan itu? Sudah menemukan titik terang?"
Kulirik , melihat sekilas. Keberadaan Yunsik-ssi lebih jelas terlihat daripada tamunya yang terhalang sebuah tiang lampu. Aku tidak bisa banyak bergerak untuk melihat lebih jelas.
"Kau masih menyimpan dokumen mereka?"
"Masih. Sebentar."
Ketika Yunsik-ssi akan bangkit untuk mengambil sesuatu, aku hanya bisa mendorong tubuhku sendiri untuk lebih melekat ke dinding, bersembunyi di balik bayangan.
"Kusimpan baik, di laciku ini."
"Menyimpan di tempat seperti itu? kau benar-benar tidak bisa cari aman."
"Hei, jangan begitu, Minhyun. Ini tempat kerjaku yang paling sukar didekati orang jahat manapun. Penjagaku lebih ketat menjaga klub malam ini." Kudengar suara laci kayu berderit. "Dokumen berisi angka-angka keuangan perusahaan mereka buktinya masih terjaga setelah 13 tahun berlalu."
Ekspresi wajahku langsung berubah. Terkejut, padahal masih menghadap ke dinding seperti seekor cicak.
Bukankah 'itu' yang mereka incar?
"Hmm, coba kulihat."
Lekas kudengar suara kibasan kertas halaman. Sepertinya ada beberapa lembar. 5 atau 6 lembar kalau aku tidak salah hitung? Persis seperti yang diciri-cirikan orang jahanam itu..
"Apakah kau yakin ini bisa jadi bukti kuat?"
"Tidak juga. Ini hanya akan jadi sebagian bukti. Yang terpenting adalah saksi mata."
"Aku belum menemukan saksi mata itu."
"Jika saksi dan bukti terkumpul, mereka akan dijebloskan lebih cepat dari yang kita duga."
"Benar juga."
Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan.
"Kalau begitu, biar kupegang dulu dokumen ini."
"Kau yakin bisa menjaganya dengan baik?"
"Hei, kau telah mempercayakanku selama 5 tahun ini. Kau masih belum puas dengan service ku?"
"Ya, ya. Terserah kau saja."
Obrolan yang hampir usai itu membuat jantungku berdegup tidak tenang. Aku merasa tak aman, dan ingin segera pergi. Berbahaya jika aku menahan diri sampai obrolan mereka benar-benar selesai..
"Baiklah, aku pergi dulu. Minuman mu itu membuatku rada mual , tahu!"
Kemudian aku segera mengendap pergi, tidak mau tau percakapan seterusnya atau sambutan sampai jumpa lainnya.
Aku segera berlalu, dan dengan tenang sudah bisa mengeluarkan diri dari situasi menegangkan tadi.
Ha ha ha...
Di luar ruangan, aku langsung mendekap mulut sambil menahan nafas. Tubuhku sontak mematung ketika melihat pasangan sejoli keluar dari dalam toilet dalam keadaan limbung. Mereka tidak sadar, dan tertawa riang keluar begitu saja.
Keberadaan mereka yang muncul tiba-tiba di depanku, membuat jantungku hampir ingin berhenti. Semoga tawa mereka tidak melesak sampai ke dalam karena efek membuka pintu tadi. Kalau sampai iya, orang di dalam ruangan tadi akan tahu bahwa ada yang membuka pintu barusan dan mengusik percakapan mereka.
Aku panik bukan kepalang, dan mulai berpikiran tidak-tidak.
Tak ingin menelan hal terpait. Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk menyembunyikan diri...
.
.
.
.
.
.
.
"Yunsik bodoh. Sudah kubilang, aku tidak kuat menikmati kualitas birnya yang aneh itu. Atau aku saja yang norak?"
Kudengar gema suaranya dari dalam bilik yang kumasuki. Jantungku benar-benar berdentum terlalu kencang. Nafasku tersengal-sengal lemah, aku benar-benar panik.
"Aku jadi agak mabuk."
Tak berapa lama, kudengar suara pintu bilik terbuka..
Cklek
..dan kemudian ditutup.
Mataku melirik gegabah. Apakah ia sedang buang air kecil?
Aku segera membuka bilik milikku, dan menengok. Tidak ada siapapun.
Keberadaanku yang semakin lama di kamar mandi hanya akan membuat situasiku dalam bahaya. Aku ingin segera melarikan diri.
Namun, aku melihat tas cokelat tergeletak begitu saja di samping westafel.
Mendadak langkahku yang bersemangat jadi berhenti.
Aku memperhatikan sekitar, mendengar juga suara sendawanya berkali-kali. Ia sepertinya asik dengan buaian alkohol, sambil buang hajat atau entahlah, di dalam salah satu bilik.
Merasa tidak dalam situasi yang sempit, aku berani merogoh isi tas itu...
Kuberi kau waktu...
Kata-kata orang sialan itu terpikirkan terus selama aku melakukan hal berdosa ini.
Kulihat isi tas. Hanya 1 dokumen, beberapa buku. Kertas-kertas acak yang semrawut seperti lekas dipakai. Hal-hal lainnya yang tidak kumengerti. Hanya sebuah dompet yang membuat tas ini terlalu berharga untuk ditinggali si pemilik yang ceroboh.
Semakin cepat kau mendapatkan dokumen itu, maka semakin cepat masalah ini selesai..
Itu dokumen apa?
Oh, hanya angka-angka kesuksesan kami. Hasil hitung masukan perusahaan kami yang menjadi sumber keuangan. Anak kecil sepertimu tak akan mengerti.. Cuman hal itu yang akan membangkitkan kembali perusahaan ku yang hancur, dan kehidupanku yang terenggut..
Kau tinggal ambil saja, tidak usah banyak protes..
Aku menggeleng kepala. Aku berusaha tidak memikirkan banyak hal, asalkan aku tidak larut dalam permasalahan ini terus menerus sampai penghujung umurku. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, secepatnya... Dan melupakannya. Itu saja yang terhentak di otakku.
Aku mengambil 1 dokumen itu. Merapatkan kancingan tas cokelat genggam tersebut baik-baik seperti sedia kala.
Saat kudengar suara pulasan air wc, aku langsung mengendap keluar, seperti seekor tikus pencuri keju yang beraksi dalam keheningan...
.
.
.
.
.
.
To Be Continue..
i think , this story should be ended in the next chap? wdyt? :0
Review,Fav,Follow kalian , memberikan semangat buat saya untuk melanjutkan! ;)
