Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Ichie Ishibumi.

Presented by : A Viscount

Rating : M [For Scane Blood and Leguage]

Genre : School Life Magic, Action, Modern Life, Alternatif Universe, Fantasy and Etc.

Warning : Typo... Mainstream... Oc... Ooc... EYD... Gaje... MultiCharaAnime... Bahasa sangat Kacau... And Etc

.

.

.

Summary : Nidaime Rikudou Sannin, Ninja penuh kejutan, segelintir julukan dari anak manusia pemilik marga Uzumaki dan Namikaze itu. Dengan kemampuan regenerasi Naruto terlalu membebani tubuhnya, dia harus rela bahwa dia hidup sebagai orang memiliki umur panjang atau secara harfiahnya adalah Immortal.

.

.

.

Opening Themes Song : Sympathy by Larval Stage Planning

.

.

.

Chapter 9 New Arc : Kyoto Academy

Pagi yang indah menyinari kota Tokyo dengan berbagai warna warni kegiatan manusia manusia yang bervariasi. Tokyo Academy terkenal dengan julukan sekolah untuk Prodigy terlihat begitu ramai mengingat jam sudah menunjukan waktu pelajaran jam pertama di mulai.

Di salah satu kelas tahun ajaran pertama. Seorang remaja yang akhir akhir ini menjadi bahan perbincangan setelah mengalahkan salah satu bawahan Senju duduk dengan santai menatap luar lewat jendela yang hanya di tutupi oleh kaca tipis transparan. Ia tidak memperdulikan jika guru sedang mengajar terlihat serius menerangkan materinya.

Untuk sesaat, Naruto menghela nafas ringan menunjukan kebosanannya sudah melebihi kapasitas. Sungguh, di awal dirinya pulang dari rumah sang istri. Ia harus menerima ujian semacam ini setelah merasakan apa itu kehangatan dunia dari sosok bidadarinya itu.

"Dafuq aku kelaparan." Ujarnya lirih. Ia memang kelaparan mengingat ia baru saja sampai langsung di berikan materi omong kosong dari guru menyebalkan di depannya. Ia terus menatap luar ruangan kelasnya tanpa menyadari guru memiliki perawakan wanita 20 tahun bersurai perak keuangan menatapnya dengan pandangan kesal.

"Arashi-san. Jika kau di sini tidak bisa menghargaiku sebagai gurumu, kau bisa keluar dari ruangan ku sekarang." Ucapnya merasa tidak di anggap ada oleh Naruto. Untuk segala ucapannya, ia tidak peduli jika Naruto akan tinggal kelas karena materinya tidak sampai ke murid memiliki nama Naruto Arashi ini.

Merasa namanya di panggil dengan formal. Naruto melirik Senseinya menggunakan ujung mata tanpa sedikitpun menggerakkan kepalanya. "Rossweise-sensei. Kenapa anda begitu kesal padahal saya tidak melakukan perbuatan yang bersifat melarang?" Tanya Naruto sangat santai di hadiahi tatapan melotot dari seluruh siswa siswi kelas 10B seakan mengatakan 'Kau punya hobi yang buruk, Naruto'.

"Ada tiga peraturan untuk seluruh siswa dan siswi ketika kelasku di laksanakan. Satu, di larang mengatakan sesuatu yang menganggu kegiatan mengajar, dua tidur di dalam kelas dan tiga, tidak menghormati ku sebagaimana aku menjadi pembimbingmu ini." Ucap Rossweise sengit.

"Oh.." Hanya keluar dari mulut licin Naruto. Guru yang mengajar bagaimana bisa menjadi penyihir pemula yang baik itu terlihat begitu kesal terbukti dengan perempatan berkedut tercetak di ujung pelipisnya.

"Dengar murid baru. Jika kau merasa bosan berada di kelasku, pintu keluar ada di sebelah sana dan silahkan keluar." Naruto sama sekali tidak mengindahkan Rossweise berteriak kesal ke arah nya. Tatapan mata violet itu masih tetap ke dunia luar seakan Rossweise tidak ada di situ.

Karena merasa di abaikan. Rossweise menyiapkan balok balok sihir berukuran mini dari telunjuk jarinya membuat seluruh kelas heboh karena jarang sekali guru yang memiliki kepribadian lembut ini memberikan pelajaran berlebihan kepada muridnya.

Sring!

Dengan gerakan simple, Naruto memiringkan kepalanya sedikit menghindari balok sihir yang melewati 1cm di sebelah telinganya. Semua terkejut, meskipun sihir ini hanya mampu memberikan daya seperti di pukul oleh tenaga lumayan namun dengan kecepatan nya itu tentu sangat sulit di hindari apalagi Naruto tanpa melihat.

Balok sihir setelah melewati Naruto langsung menghantam meja di belakangnya membuat suara seperti meja di pukul terdengar ke penjuru kelas. "Kekerasan di jam pelajaran. Aku tak pernah ingat sekolah menghapus peraturan di larang mengeluarkan sihir di lingkungan sekolah untuk menyakiti. Kau dalam masalah, Sensei." Ujar dingin Naruto seperti biasa.

Sedangkan Rossweise mengetahui pelajarannya berhasil di hindari hanya mendecih kesal. "Lain kali aku akan kembali belajar supaya tidak meleset, murid baru."

Naruto tidak memperdulikan tatapan aneh dari seluruh kelas kepadanya seakan itu sudah sering terjadi. Ia menghela nafas ringan, "Aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi, Sensei. Asal anda tahu saja, selama telinga saya masih berfungsi dengan baik, apapun yang anda terangkan bisa dengan mudah ku pahami." Naruto tidak berbicara omong kosong karena itu lah yang dia miliki.

"Oh kalau begitu jelaskan semua materi baru saja ku keluarkan." Tantang Rossweise membuat Naruto memutar matanya bosan. "Sama seperti hari pertama materi anda, Sensei. Anda hanya menjelaskan apa yang seharusnya di lakukan penyihir awam dan menjelaskan semua yang seharusnya di ketahui penyihir awam. Seperti posisi bertarung untuk seorang penyihir jarak jauh dan langkah langkah menjadi penyihir terbaik di masa depan. Semua telah di kemas di otaku dalam satu rangkuman." Naruto memotong penjelasannya membuat seluruh kelas kembali menatap dirinya penasaran.

"Namun penjelasan anda terlalu membingungkan bagi murid memiliki kapasitas otak menyedihkan. Secara singkat dan padat, aku hanya memiliki satu kalimat dari setiap pembelajaranmu ini, Serang, bertahan dan kalahkan." Selanjutnya butuh waktu 5 menit Naruto menjelaskan pelajaran awal bagi seluruh penyihir pemula di tingkat SMA dan beberapa sejarah yang baru saja Rossweise terangkan.

"Kau murid yang cepat tanggap. Tapi setidaknya hormatilah gurumu." Ujar Rossweise merasa puas oleh penjelasan singkat dari keturunan Kirroi Senko itu. Naruto sendiri mengangguk singkat dan kembali memandang luar jendela.

"Akan ku usahakan Sensei."

"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran. Secara garis besar, sihir memang di bedakan menjadi beberapa bagian yang masing masing memiliki keunikan dalam hal penggunaan atau dampak dari ..." Pelajaran terus berlanjut meski dengan terpaksa Naruto harus mendengarkannya hingga akhir.

Dan entah kenapa Naruto merasakan sesuatu datang kepadanya akibat ulahnya ini.

.

.

.

.

"Midzypiar"

.

.

.

.

Jam sekolah berakhir dengan bunyi bel menggelegar kan telinga. Waktu istirahat tiba, dan para murid membatin 'Penyiksaan berakhir' dengan bangga dan bahagia secara bersamaan. Jika di pikir sejak awal, seharusnya mereka merasa senang memiliki kesempatan untuk belajar di sekolah paling berpengaruh di Jepang, tapi karena para cowok yang ogah ogahan menatap papan tulis berjam jam dengan ocehan para guru menyebabkan penyakit paling berbahaya abad ini bernama membosankan, akhirnya mereka bersorak seperti setelah memenangkan sebuah peperangan dan ngacir ke Kantin atau ke kamar mandi sekolah untuk stor hari ini.

Termasuk Shinobi kekal Naruto Namikaze atau di sekolah banyak orang mengenal keturunan Akai Ichiso no Habenero ini dengan nama Naruto Arashi. Remaja paling aneh menurut mereka, coba di bayangkan saja. Apakah orang akan bertahan hanya memakan makanan yang sama sekali gak ada gizi dan di temani sekotak susu pabrik masih di pertanyakan keasliannya.

Namun sepintas saja. Meskipun Naruto memiliki sisi buruk di mata murid murid Tokyo Academy. Naruto tidak pernah pamrih ketika satu atau dua murid bertanya sesuatu mengenai pelajaran. Namun seakan itu adalah pekerjaan bagus, cowok itu sempat kembali berpikir, kenapa dari ratusan dan puluhan guru dan staf Tokyo Academy, kenapa juga Naruto yang harus menjadi guru les privat mereka.

Ketika Naruto kembali berpikir ulang. Dengan rasa ge-er yang menghawatirkan, Naruto menilai bahwa cowok abadi ini sudah jenius dari lahir, padahal mencari tahu kerja Jutsu Hiraishin saja Naruto masih kesulitan jika Nidaime Hokage tidak menjelaskan secara rinci ke cowok ini.

Jika bukan karena orang orang paling Naruto sayangi dan memiliki keberuntungan dapat di jaga oleh Naruto. Mungkin Naruto sudah mati dari dulu karena kebosanan dalam menjalani hidupnya. Ini cowok hokinya gede banget sumpah.

Naruto pernah berkata dengan dramatis kepada anggota Club yang kemarin di masuki oleh Rock Lee. Ketika Naruto menonton mereka semua berlatih, sempat ada ajakan Lee untuk ikutan, tapi Naruto menjawab dengan nada malas sambil memakan makanan terigu giling yang di kasih minyak bercampur bumbu bumbu lalu di beri guyuran air panas bernama kaldu, atau singkatnya ini makanan ramen dengan jawaban, 'Ah itu, jika aku berlatih, aku akan bertambah kuat, jika aku bertambah kuat, maka cewek cewek akan menyukaiku sebagai cowok keren, lalu jika para cewek menyukaiku, maka cowok cowok Academy akan merasa iri dan tersaingi, jika mereka Sudah merasa tersaingi, maka mereka akan menantangku bertarung, jika mereka kalah dalam pertarungan, maka mereka memiliki dendam kepadaku, jika mereka memiliki dendam, sudah di pastikan mereka akan menambah jumlah di pertarungan berikutnya, kalau mereka beraninya geroyokan pasti aku akan kalah dari mereka, jika aku tidak di berikan ampun, pasti mereka membunuhku. Begitulah jika aku berlatih. Latihan = Kematian' Namun meskipun Rock Lee memaklumi nya, tapi kesan pertama gadis Yandere bernama Erza sangatlah menakutkan.

Seperti sekarang. Banyak murid tidak menyukai Naruto karena beberapa hal hingga menantang Naruto dalam duel. Karena Naruto orang tidak ingin berlama lama membuang energi, akhirnya arena menjadi menarik dengan duel 10 vs 1 di Arena 2 dengan model bangunan sangat modern seperti Studion music. (Arena pertarungan Anime Rakudan Kishi no Cavalry)

Seperti biasa. Banyak murid mengelilingi Arena duduk dengan rapi dan Snack atau Camera di tangan mereka masing masing untuk mengabadikan momen langka ini. Ada yang mendukung murid tahun kedua sebagai lawan tanding Naruto, atau bahkan ada beberapa teman satu kelas berteriak semangat ketika Naruto memiliki keunggulan dalam berbagai aspek.

"Haaaa seharusnya aku tahu ini akan lama. Kalian sungguh menyebalkan tahu, matilah." Seluruh lantai arena langsung di penuhi dengan elemen Es memikat kaki seluruh lawan nya yang menampakan wajah kurang percaya, hoi memang siapa yang percaya anak tahun pertama dapat melakukan ini? Apalagi sudah hampir sepuluh menit Naruto harus menggerakkan tubuh yang katanya cuman membuang buang energi saja.

Naruto mengambil satu digger seperti kebanyakan Ninja gunakan di film film action biasa muncul di bioskop terdekat. Setelah Naruto mengucapkan beberapa suku kata, digger yang awalnya cuman satu secara mengejutkan membelah dirinya menjadi ratusan tanpa satu orang pun tahu teknik keren macam apa ini.

Dengan wajah yang menurut Naruto menunjukan kekonyolan, para anak kelas dua enggak tahu diri itu menganggu acara makanannya di kantin mengajak Naruto berduel, seperti beberapa paragraf di atas sudah di jelaskan, Naruto tidak mau membuat buang energi, jadi Naruto memutuskan untuk melawan orang orang ini dalam satu kali battle. Bodo amat dengan kelas tiga yang menunjukan ketertarikan terhadap dirinya, yang pasti Naruto ingin ini cepat berakhir dan kembali memasukan makanan para dewa ke mulutnya. Mereka berteriak meminta ampun ketika para pasukan kunai bergerak turun bagaikan hujan besi mengerikan.

Tepat dua meter digger di atas mereka. Secara tiba tiba angin misterius entah dari mana datangnya melempar seluruh digger yang bersiap memberikan sensasi takan mereka dapatkan jika tidak melawan Naruto dan membawa mereka memasuki kandang singa yang mengharuskan mereka memakan makanan tak ada rasa untuk beberapa hari kedepan.

"Pemenangnya Uzumaki Naruto!" Suara berasal dari pengamat pertandingan menggelegar bersama suara ketidakpercayaan dari siswa kelas dua yang mengetahui 10 musuh Naruto memiliki tingkat yang berbeda. Tapi bagi Naruto, sungguh menyebalkan. Pertandingan ini hambar.

"Mengalahkan 10 murid satu kelas di atasmu tanpa merasa kesulitan, Naruto Arashi, memenuhi kriteria menjadi bawahanku." Kata kata ambisius ini keluar dari murid cewek dengan body mengharuskan laki laki menengguk ludah padahal tidak haus dan bertahan dalam godaan keimanan mereka. Bibir perempuan ini pink Natural dengan tatapan seperti menemukan mangsa tepat lurus mengarah ke tempat Naruto mulai berjalan meninggalkan Arena dengan gaya malas dengan tangan di kantung bahkan dia mengabaikan ikatan dasi hampir lepas, perempuan ini yakin, komisi yang bertugas dalam hal kesiplinan siswa dan siswi bisa mendatanginya kapan saja.

"Naruto Arashi-kun ufufu~" Seperti layaknya perempuan Yandere yang menemukan kekasihnya berduaan dengan gadis lain, ia tertawa menyeramkan, sungguh. Tatapan mata silver itu tidak berhenti memandang satu arah hingga objek fokusnya menghilang dari Arena. Oh jangan salah, Ootsutsuki Kaguya adalah perempuan yang ambisius. Ia tidak akan melepaskan sesuatu yang sepantasnya menjadi milik Kaguya, Egois, sikap bagaimana kebanyakan bangsawan, mungkin bisa di kategorikan sebagai sifat turun temurun.

Naruto. Entah kenapa ia sendiri heran dengan para Senpai menantang dirinya tanpa melihat sejauh apa musuh mereka. Naif, jangan mentang mentang mereka senior bisa berbuat sesuka mereka dengan junior di sini. Kemampuan mereka menyedihkan, Naruto tahu itu. Tapi entah kenapa, sesuatu yang bakal merepotkan dirinya akan datang bertubi-tubi sejak ia berdebat sedikit dengan Sensei nya tadi, yare yare.

Memikirkan itu bukan sekali gayanya. Ia lebih memilih berjalan menuju kantin dan melanjutkan acara makan sempat tertunda tadi. Ia kelaparan, orang lapar biasanya menjadi lebih agresif dari ketika mereka dalam kondisi baik. Naruto mengumpat, ia akan menghancurkan siapa saja yang menghancurkan acara makannya.

Namun baru saja keluar dari Arena. Secara ajaib alunan melodi indah memasuki gendang telinganya Bell tanda istirahat telah berakhir, dengan tampang masam, Naruto melirik menggunakan ujung matanya tepat ke menara pusat tak jauh dari Arena 2 berada. Bahkan beberapa siswa yang melewati Naruto harus merinding dan berjalan menjauh melihat tampang masam dan aura membuat siswa dalam radius 5 meter menjerit ketakutan dengan hawa tidak mengenakan jelas sangat bisa di rasakan.

"Bangsat kalian kepala peniti! Jika ada kesempatan atau waktu, ku hancurkan menara itu!" Tentu saja Naruto tidak bisa berteriak apalagi melakukan sesuatu yang siap mengeluarkan Naruto dari sekolah. Ia dalam masalah, perutnya belum benar benar terisi, ia hanya makan seprempat dari keseluruhan Ramen yang dia pesan. Selama perjalanan menuju kelasnya, Naruto hanya menunduk dengan umpatan kasar lirih tidak bisa di dengar oleh siapapun. Ia tidak sarapan gara gara bangun agak kesiangan setelah pulang dari rumah istrinya dan sampai di sekolah tepat pada jam 4 pagi, ia hanya tidur 3 Jam.

Akhirnya Naruto dengan berat hati menghela nafas panjang supaya dia tidak melepaskan kekuatan bersekala besar ke menara pengawas sekolah hanya gara gara hal sepele seperti dia kelaparan atau bell tanda masuk terlalu cepat. Sudah di putuskan kemana ia akan pergi selanjutnya, ia akan meminta makanan di Club tempat biasa dia nongkrong bebas di sana. Hei Naruto tidak ngemis, ia hanya meminta secara paksa. Pemaksaan dan mengemis tentu saja beda?

0o0o0o

Brak!

Hampir saja Naruto loncat karena terkejut dengan suara seperti tembok di pukul tepat ketika Naruto ingin masuk ke Club terkenal sebagai Club atau bisa di sebut sebagai party di dunia Games bertemakan RPG atau MMORPG. Ia menghela nafas, ada gerangan apa di dalam hingga terdapat keributan semacam ini, namun jika keselamatan putrinya di pertaruhkan, ia tidak akan segan segan.

"Shion. Aku tidak pernah tahu selama melakukan misi jangka panjang ia memanfaatkan itu dengan menghancurkan apa yang sudah menjadi milikku." Suara tertahan oleh amarah bisa dengan jelas Naruto dengar, bahkan jika tembok menghalangi. Ia menaikan alisnya heran, ini jelas suara laki laki, apa ada anggota baru? Ah dia jelas tidak peduli.

"Reinhard-kun, tenanglah. Kau bisa menghancurkan fasilitas Club jika setiap amarah kau lampiaskan dengan benda sekitar." Suara cewek menenangkan jelas Naruto tahu siapa pemilik suara ini. Gadis Tsundere membuat kepala Naruto pusing mendengar celotehnya setiap hari, siapa lagi kalau bukan pemilik siswi tempo hari yang Naruto selamatkan dari bahayanya ancaman sang Kaicho, Shion. Tapi Naruto lebih suka menyebut Shion sebagai kutu air.

"Mungkin aku tidak tahu menahu dengan alasan kau semarah ini, Taicho. Namun sebagai inti, Shion adalah masalah Club. Kami hanya murid rendahan tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menunggu." Naruto berdehem. Ada masalah apalagi ini. Kenapa setiap dia mau makan selalu ada penggangu, 'Secara otomatis tanganku ingin sekali menunjuk Shion dengan jari tengah dan mengucapkan Fuck You.' ya ini hanya batin Naruto.

"Dari seluruh anggota Club. Hanya kau memiliki kedudukan penting sebagai pemilik peringkat 7 dan bebas dari segala apapun yang berhubungan dengan Shion. Tapi kau tidak mungkin selalu menjaga kami, kau tidak salah, Reinhard." Ya Naruto pikir bakat putrinya untuk menenangkan hati seseorang adalah kemampuan turun temurun dari Yondaime Hokage. Naruto tidak menyangkal apapun, ayahnya memiliki Bacot no Jutsu lebih hebat dan mutahir dari Naruto.

'Oke apapun yang terjadi di dalam merupakan konflik berhubungan dengan si Jalang, Shion. Idiot, seharusnya aku tahu, anak manja selalu bersembunyi di ketiak ibunya akan selalu seperti ini dan terus seperti ini. Payah.' Naruto menarik tangan kanannya dari saku, ia kemudian mengibaskan poni rambutnya beberapa kali. Ia sudah tidak memiliki nafsu makan lagi. Ia benar benar sudah enek dengan sikap Shion seperti raja, bergerak semau yang dia bisa.

"Aku akan menemui Shion. Jika tidak ada yang bisa di bicarakan lagi, kegiatan Club hari ini selesai, kalian bisa bebas kemanapun." Meskipun sempat ada penolakan dan cegahan untuk pria ini pergi menemui Shion. Tapi tampaknya keputusan pria adalah harga mutlak tidak bisa di tarik lagi. Akhirnya pintu terbuka dengan keluarnya remaja asing bahkan mengabaikan Naruto yang berdiri di samping pintu tanpa melakukan apapun.

Remaja itu di tafsir memiliki usia 18 tahun dengan rambut merah acak acakan dan mata biru laut. Meskipun sangat tergesa gesa, tapi tak dapat Naruto pungkiri remaja itu memiliki kharisma seorang bangsawan kelas tinggi. Namun jika Naruto bisa menebak, orang ini memiliki kepribadian jauh dari kebanyakan bangsawan yang menyombongkan pengaruh mereka sebagai bangsawan. Bagi Naruto, mereka sampah.

Karena penasaran. Akhirnya Naruto pun memasuki ruangan Club tanpa harus membuka knop pintu setelah orang itu membuka pintu, jelas bukan untuknya. Di sana, ada Lee, Erza dan Rin tengah duduk gelisah di bangku mengabaikan kedatangan Naruto.

"Wajah kalian kenapa? Kalian terlihat menyedihkan dengan wajah itu. Tahu." Karena merasa di abaikan, Naruto lebih memilih membuka suara dari pada diam tanpa melakukan apapun lebih seperti patung pajangan ruangan. Meskipun ada glare mematikan dari Erza, namun tatapan Naruto masih terlihat biasa saja.

"Mau ku bunuh kau?" Peraturan dunia paling teratas jelas mengatakan, jangan mengajak bicara wanita sedang PMS atau konsekuensi lemparan beberapa balok sihir dan berakhir dengan tidur seharian tanpa melakukan apapun di rumah sakit. Sepertinya Naruto memang harus di beri pelajaran mengenai kepekaan diri.

Naruto membuang muka, "Dih ngeggas, aku kan hanya tanya." Rin karena tidak mau menambah keributan apalagi dengan sahabat merahnya ini sedang dalam keadaan bertemperamen tinggi langsung menyuruh Naruto duduk di samping Lee. Naruto meminta penjelasan, maka Rin akan menjelaskan meskipun Naruto bukan anggota Club tapi Naruto sudah mereka anggap sebaliknya.

5 menit adalah waktu singkat Naruto duduk dan memasang telinga baik baik mendengarkan Rin menjelaskan dari A sampai Z dan beberapa kali Lee menambahkan. Meskipun Lee merupakan anggota baru Club, tapi Lee sudah mengetahui semuanya dari cerita cerita yang Rin berikan. Ekspresi Naruto terlihat biasa saja setelah mendengar cerita, namun tidak untuk hatinya sedang dongkol karena sesuatu.

"Jujur saja, aku masih tidak mempercayai Shion melakukannya hanya dengan waktu 3 bulan. Dia Jalang di balik muka polosnya." Rin maupun seisi ruangan sepertinya setuju dengan julukan Shion pemberian Naruto. Ia juga merasakannya, beberapa hari belakang ini banyak sekali masalah yang menimpanya tanpa ia tahu akarnya, dan satu satunya akar dari segala masalah menimpanya adalah Shion. Yare yare, perempuan memang mengerikan.

"Berarti cowok tadi baru saja keluar adalah ketua kalian sekaligus pendiri Club?" Rin mengangguk, namanya adalah Reinhard Van Astrea. Naruto sudah tahu dari cerita Rin, ia hanya memastikan. Kemudian Erza menambahkan, meskipun hatinya masih jengkel. "Reinhard-kun merupakan anak dari bangsawan berpengaruh besar di Jepang. Keluarga Van Astrea bukan bangsawan seperti pada umumnya, mereka lebih mencolok pada perkembangan Ilmu berpedang dari pada sihir. Namun Reinhard berbeda, baik Sihir ataupun seni berpedang, ia mencolok pada kedua hal itu." Erza menambahkan.

"Karena kekuatannya itulah, Reinhard-kun menjadi satu satunya murid angkatan pertama menduduki peringkat 7 dari Ten Strongers Generation of Miracle beberapa bulan sebelum ujian kenaikan kelas. Ia bebas melakukan apa yang dia mau di sini, bahkan Ten Strongers Generation of Miracle memiliki kedudukan lebih tinggi dari kepala sekolah. Reinhard-kun memanfaatkan itu untuk menolong murid murid tertindas oleh Shion ke bawah naungannya, yaitu Club ini." Rin melanjutkan. Lee hanya diam menyimak dan Naruto sesekali mengangguk mengerti.

Ten Strongers Generation of Miracle adalah julukan bagi sepuluh murid memiliki kemampuan khusus di Tokyo Academy. Seperti perkataan Rin, kedudukan mereka lebih tinggi dari Kepala sekolah atau bahkan murid dari keluarga bangsawan manapun. Jika ke sepuluh pemegang julukan Generation of Miracle sepakat, maka tanpa basa basi menggulingkan kepala sekolah bukan lagi hal yang mustahil.

Jika Reinhard berada di posisi tujuh. Naruto pikir orang itu memiliki kekuatan besar di usia muda. "Sepertinya kalian lagi kesulitan. Ya aku akan membantu sedikit." Naruto berdiri dari tempat duduknya. Ia merapihkan celananya sedikit kusut lalu mulai bergerak ke suatu tempat.

"Mau kemana, Naruto-kun?" Lee bertanya bingung. Ia tidak tahu kenapa kepribadian Naruto berubah menjadi seseorang dengan kepedulian tinggi secara mendadak. "Ingin membersihkan kecoak kecil." Naruto pergi tidak memperdulikan seluruh tatapan menuju kearahnya.

Line Break.

"Shion!"

"Ara Reinhard-kun. Kau sudah kembali dari misimu? Aku senang kau terlihat baik." Tatapan kesal bercampur marah, Shion hiraukan justru menatap Reinhard dengan tatapan penuh akan ambisi. Tanpa basa basi, Reinhard masuk ke ruangan OSIS di mana Shion mengerjakan sesuatu di laptopnya sendirian, entah kemana sekretaris biasa berdiri di samping Shion.

"Aku ingin menyelesaikan masalah di antara kita, Shion." Tatapan tajam tidak membuat Shion takut. Ia tersenyum tertarik, dengan pelan, anak Senju itu berjalan ke arah Renhard yang berdiri tidak jauh dari mejanya. Tatapan centil ini menjengkelkan, Reinhard sudah tidak tahan berada di ruangan ini untuk 5 menit saja.

Reinhard hanya diam ketika Shion membelai lembut pipinya bahkan mungkin jika para murid melihat ini mereka takan percaya Kaicho terkenal dingin bisa mengeluarkan suara seseksual ini tanpa ragu sedikitpun.

"Humn so, kau berubah pikiran dan mau menerima sebagai wakilku, Reinhard-kun~" Lagian, nada apa apaan itu. Reinhard tahu perempuan sinting ini menyukai nya sejak SMP mengingat orang tua Reinhard juga dekat dengan kepala sekolah ini, atau orang tua dari Shion.

Tapi siapa yang menyangka rasa cinta anak anak menjadi ambisi yang begitu besar. Reinhard seharusnya lebih memilih menjauh dari seorang perempuan gila seperti Shion ini. Harus di akui Reinhard, Shion adalah gadis cantik di sepantaran usianya, namun yang di benci oleh Reinhard dari Shion adalah perempuan itu terlalu egois menganggap semua bisa di dapatkan dengan harta. Pathetic.

"Dengar Shion. Aku tidak tahu apa masalahmu menganggu semua anggota Club dalam naunganku dan dari segala apapun yang kau inginkan, aku adalah pengecualian." Reinhard memegang kedua bahu Shion lalu menjauhkannya dengan paksa, bahkan Reinhard mengabaikan wajah kesakitan dari Shion ketika Reinhard menekan bahu Shion lebih keras.

"Akh Reinhard-kun, kau menyakitiku." Shion meringis. Ia tahu Reinhard adalah satu dari satu digit angka orang berani melakukan ini kepadanya. Tidak main main, remasan bahu di alirkan sedikit mana sehingga cengkraman Reinhard sangat menyiksa bahunya.

Reinhard tidak peduli. "Aku sudah berulang kali mengatakan ini padamu, Senju Shion. Jangan libatkan orang orang terdekatku dari masalah di antara kita. Mereka tidak mengetahui apapun, kau dan aku adalah masalah utama. Jika Ayah dan Ibumu tidak memohon untuk diriku tidak keluar dari sekolah, mungkin kau tidak bisa menemuiku selamanya, ingat selamanya." Ancaman Reinhard tidak main main. Dia sudah muak dengan sikap Shion yang seenaknya memberikan ketidak adilan kepada murid tidak mengetahui apa apa. Reinhard tau Shion melakukan itu agar Reinhard mau menjadi wakilnya, namun Shion salah, salah besar karena sampai kapan pun, Reinhard akan melawan sikap Shion terlalu kekanak-kanakan ini dengan kekuatannya.

"Hun tapi aku sangat menginginkanmu, apa salah jika aku bersikap berlebihan untuk mengejar apa yang ku inginkan seperti kebanyakan manusia pada umumnya." Shion berteriak tidak kalah mememakan telinga. Namun Reinhard sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya justru bertambah kuat seiring dengan waktu membuat Shion kembali memekik menahan sakit. Mungkin jika bukan Reinhard, Shion sudah memberikan perlawanan sedari tadi. Cinta memang mengerikan.

"Tentu saja kau salah. Itu bukan keinginan, kau hanya terlalu termakan oleh ambisi gilamu. Kau egois Shion, kau egois." Bentakan remaja berambut merah itu tidak main main. Mereka masih sibuk dengan kondisi mereka hingga mengabaikan seseorang berdiri di ambang pintu melihat perdebatan ini dengan tatapan bosan.

Sebenarnya Naruto ingin menjadi penengah di antara keduanya. Tapi selain karena Naruto tidak ingin di cap sebagai orang yang tukang ikut campur, ia hanya bisa diam melihat pertikaian ini. Ia tidak berhak menghentikan. Biarkan mereka berdua mencari jalan keluar sendiri.

"Kau mengatakan itu ambisi? Aku akan menunjukan apa itu Ambisi, Reinhard-kun." Shion melepaskan dirinya dari cengkraman Reinhard tanpa kesulitan sedikitpun. Ia menatap Reinhard tajam, setajam silet. "Aku menantangmu dalam duel Rating Game di Final nanti. Kau harus menjadi wakilku jika kelompokmu tidak mencapai Final atau tidak bisa mengalahkan kelompokku, Reinhard-kun."

Reinhard sempat memandang Shion terkejut. Tidak biasanya perempuan ini menantang seseorang secara langsung karena setiap ada pertandingan berhubungan dengan Shion, pasti salah satu bawahan Shion sebagai penantang. Bahkan di Rating Game sebelumnya Shion tidak menunjukan kemampuannya itu, ia hanya menonton di balik layar tanpa mengotori tangan dan bajunya.

"Jika kau kalah. Kau harus menjauhkan tanganmu dan anak buahmu dari teman temanku apapun yang terjadi tanpa terkecuali." Reinhard menerima tantangan. Mungkin ini klimaks dari masalah antara dirinya dengan Shion. Ia berharap setelah ini teman temannya aman dari segala ancaman yang Shion berikan. Lagipula ia tidak akan kalah.

Naruto melihat pembicaraan berakhir langsung menyingkir dari bersembunyi di balik tembok lalu tak lama kemudian sosok Reinhard berjalan menjauh dari ruangan meninggalkan Shion berteriak teriak bak orang kesurupan dan meneriaki sumpah serapah dengan sesekali menyebut nama Reinhard dan di akhiri dengan kata kata, 'Kau akan menjadi miliku, Reinhard-kun, kau akan menjadi miliku, tak ada satu perempuanpun untuk mendapatkanmu.' Jelas tanpa Naruto lihatpun wajah Shion tersenyum licik, sangat licik hingga ingin sekali Naruto menghancurkan Shion sampai ke akar akarnya.

Dengan ini, Naruto menghilang dalam kilatan merah meninggalkan kandang singa sedang mengamuk. Mungkin sudah saatnya ia untuk bergabung ke kelompok Reinhard untuk menghentikan konspirasi gila yang tidak pernah di ketahui oleh orang luar Academy.

Line Break.

"Huaahh jadi ini Tokyo Academy., Sugoii" Melupakan kejadian di ruangan OSIS. Tepat tiga orang menggunakan seragam dari Kyoto Academy memandang sekolahan berbinar binar. Jelas Tokyo Academy memiliki model bangunan tidak katro. "Di banding Kyoto, Tokyo memiliki sekolah yang tampak modern. Berbeda dengan sekolah kita di penuhi oleh tembok marmer warna kegelapan, mereka pikir kita Wizard pengguna sapu apa." Remaja satunya lagi menimpal mengingat sekolahnya mirip dengan sekolah di salah satu Novel terkenal di dunia. Dengan model menyeramkan, tembok hanya di penuhi oleh warna hitam bahkan lorong sekolah tak ada lampu, hanya ada penerangan alami dari matahari walaupun segala fasilitas tidak jauh berbeda dari sekolah pada umumnya.

"Diamlah Menma. Kedatangan kita ke Tokyo bukan untuk menganggumi sekolah lain. Kita datang karena Quest, ingat. Aku harap kau tidak mengacaukannya kali ini." Remaja bernama Menma itu menatap remaja satunya kesal. Lagian, apa salahnya menganggumi sekolah lain. Lagipula sekolah tidak memiliki larangan untuk menatap penuh daya tarik. "Ayolah, apa kau pikir Quest hanya untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita? Celoteh guru di kelas membuat kepalaku sakit, kau tahu. Quest satu satunya tempat untuk bersantai santai."

"Onii-sama. Aku harap kau tidak berniat menantang murid Tokyo Academy. Kau akan mendapatkan masalah, Otou-sama akan memarahimu." Di antara keempat remaja itu mencoba menenangkan kakaknya terlalu bersemangat. Sedangkan Menma mendapatkan adiknya tidak membantu justru menambah buruk suasana. Ia mendengkus kesal.

"Naruko, semua materi yang sekolah ajarkan sudah ku pelajari semua. Bahkan beberapa sihir Otou-sama sudah ku kuasai, ini membuat hidupku terasa sia-sia jika menuruti segala ucapan mu." Naruko sang adik hanya menghela nafas. Ia sudah pusing melihat tingkah laku seenak nya sendiri kakaknya. Bahkan Menma miliki prinsip sendiri membuat teman sekelompoknya harus menenangkan Menma jika bertemu dengan Wizard kuat. 'Lawan aku atau ku hancurkan kau.'

"Naruko, kali ini dengan segala kemampuanmu. Tolong tenangkan kakakmu yang gila bertarung ini. Aku tidak mau Quest menjadi berantakan hanya karena tindakan bodohnya. Ini misi Rank A dengan jangka waktu lebih dari seminggu, ini Quest bagus untuk menguji sejauh mana kemampuanku." Quest ada berbagai macam jenis. Ada Quest jangka pendek atau Quest jangka panjang biasanya Quest ini ada di jajaran Quest Rank A ke atas. Contoh sederhana dari Quest jangka panjang adalah Quest yang di kerjakan Reinhard membutuhkan waktu 3 bulan lamanya.

"Kau sialan. Aku bukan orang berkebelakangan mental tck. Lagipula kenapa harus kita meminta bantuan Tokyo Academy padahal ku yakin ini terlalu mudah hanya harus melakukan pengontrolan sebuah Magical Forest." Menma tampak tidak terima. Ketiga remaja lainya hanya mendesah pelan dengan kebiasaan Menma selalu meremehkan musuhnya. Padahal Academy sudah menjelaskan berkali kali, 'jangan meremehkan musuhmu, jika kau tidak ingin melawan dirimu sendiri.'

"Sepertinya aku memang harus menyuapimu pukulan surga untuk membuatmu diam, Namikaze. Kepalaku pusing meskipun baru sekali melakukan Quest denganmu. Aku tidak bisa membayangkan kalian yang selama ini dekat dengan si bodoh ini." Pertanyaan konyol keluar dari mulut seorang pria cantik. Ia yang baru saja mendapatkan misi bersama Menma sepanjang perjalanan harus mendengarkan celoteh tidak ada guna dari Namikaze ini. Seharusnya ia tahu, anak memiliki kepribadian yang menonjol pasti akan merepotkan.

"Kami menyerahkannya pada, Naruko. Jangan salah faham, meskipun kami adalah teman satu party, kami sama sekali tidak dekat." Salah satu remaja dari mereka memiliki rambut emo pantat unggas, remaja memiliki wajah paling menarik di antara mereka berempat. Menma tampak tidak menerima itu, dengan tampang kesal ia bersiap menerjang ke arah remaja tadi namun rantai berwarna biru menyala terlebih dahulu mengikat tubuh Menma dari tangan, kaki sampai dadanya.

"Gaahhh lepaskan aku Naruko, biar ku hajar wajah sok keren itu, bangsat kau Teme." Menma memberontak namun rantai yang berasal dari Naruko itu tampak tidak bisa membiarkan Menma lepas begitu saja. Naruko mendesah pelan, padahal keluarga kelas atas Bangsawan Namikaze sudah mengajarkan untuk bersikap tenang dalam situasi apapun. Ya selama ini Naruko hanya bisa mengatakan satu hal, Menma memiliki darah Uzumaki yang lebih kental.

"Ya baguslah begitu, aku juga tidak menyukaimu." Perkataan cuek bebek meluncur dari mulut licin 'Teme' itu. "Bacot Sialan!" Menma berteriak, ia terbang ketika rantai Naruko mengangkat Menma untuk memaksanya berjalan.

"Hentikan tindakan bodoh kalian. Kita akan segera masuk ke Academy, aku tidak mau kalian mempermalukan nama Kyoto Academy dengan sikap kalian terlalu kekanak-kanakan, dan Naruko. Hilangkan rantaimu. Kau tidak ingin kita terlihat mencolok, bukan?"

"Ha'i, Kapten." Naruko menghilangkan rantainya. Menma sudah mulai tenang lalu membersihkan seragamnya yang kusut. Mereka mulai berjalan memasuki bangunan utama Tokyo untuk melakukan sesuatu yang di tugaskan dalam Quest mereka.

Line Break.

"Kami menghadap Tsunade-sama." Reinhard menundukkan kepalanya hormat di depan istri kepala sekolah Tokyo Academy. Baru saja ia mendapatkan panggilan untuk kelompoknya dari Tsunade untuk melakukan sesuatu. Bersama Erza, Lee dan Rin, mereka akhirnya dengan berat hati menuruti itu. Setelah mendapatkan intrupsi dari Tsunade untuk menegakan tubuh mereka, keempat remaja itu kembali mengangguk dan menuruti.

"Aku dengar kau sudah kembali dari Questmu, Reinhard. Mengenai kenapa kalian ku panggil. Ada utusan Kyoto Academy melakukan kerja sama Quest dengan Academy kita. Selain tugas kalian menyelesaikan Quest, aku memberikan kalian tugas tambahan dengan melindungi putriku yang juga mengikuti kerja sama Quest ini." Kemudian tatapan Reinhard tertuju pada seorang gadis berdiri di samping Tsunade sedang tersenyum manis kepadanya. 'Anak manja.' Reinhard membatin bosan.

"Apa kalian bisa?" Tanya Tsunade, ia juga tidak bisa memastikan keselamatan putrinya pada murid tidak menonjol seperti mereka kecuali Reinhard. Tapi karena permintaan egois putrinya untuk mengikut sertakan kelompok yang di buat oleh Reinhard, dengan berat hati ia akhirnya menuruti permintaan Shion ini.

"Saya akan berusaha, Tsunade-sama." Namun Tsunade menunjukan ekspresi tidak puas. Ia menatap Reinhard heran, "Jangan di usahakan, aku ingin kepastian." Berbeda dari ekspresi Reinhard terdengar biasa saja, tapi bagi anggota kelompoknya ini beban mental, bahkan ada tatapan tidak percaya dari ketiganya.

"Itu tergantung bagaimana Shion mau di jaga atau tidak. Keputusan ada di tangan Shion." Ia tidak suka ini. Menjaga Shion adalah Quest terakhir yang ingin ia kerjakan dari beberapa Quest untuk menjaga anak bangsawan, ia baru kali ini mendapatkan tekanan.

"So? Kalau begitu, aku bisa menjamin Shion mau berkerja sama." Tsunade mengangguk puas. Kemudian wanita tua itu mengambil dokumen dari balik laci mejanya, itu dokumen yang harus di bacakan mengenai Quest kerja sama antara Tokyo Academy dan Kyoto Academy.

"Beberapa Minggu belakangan ini. Magicial Forest mendapatkan lebih dari 20 kasus kematian para Wizard ingin mengikat kontrak antara Wizard dan Megicial Beast. Kematian mereka tergolong sama, yaitu mati mengenaskan dengan masih masing anggota tubuh menghilang dan di temukan 100 meter dari tempat kejadian. Menurut penjaga Magicial Forest, ini bukan di akibatkan oleh Magicial Beast, karena pembunuhan tergolong rapi dan hanya bisa di lakukan oleh Hunter." Reinhard berserta anggota kelompoknya bahkan Shion membulatkan mata mereka terkejut.

Hunter adalah pembunuh berdarah dingin dengan kepribadian psychopath mereka. Hunter biasanya adalah Wizard terbuang dan memilih tempat persembunyian dan membunuh siapa saja yang dengan lancang memasuki wilayah kekuasaan mereka. Namun siapa yang menyangka Hunter satu ini memiliki kebiasaan gila dengan menghuni Magicial Forest sebagai rumah, padahal Magicial Forest di penuhi oleh monster monster mengerikan bahkan di antara mereka bisa di bilang buas.

"Menurut beberapa penyelidikan. Ada lebih dari 5 atau 10 Hunter mendiami Magical Forest sejak beberapa minggu yang lalu dan beberapa dari mereka merupakan Wizard kelas [Emperor]. Ku harap kalian berhati hati, aku tidak ingin murid muridku menjadi korban selanjutnya." Penjelasan berakhir. Tak ada pertanyaan dari kelompok Reinhard maupun Shion karena menurut mereka, penjelasan Quest dari Tsunade sudah dari cukup untuk membuat mereka berpikir, Ini gila.

Knock! Knock! Knock!

"Permisi, aku tidak tahu apa yang ada di dalam. Namun aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Azazel-sama kepada Tsunade-sama." Lalu pintu di buka oleh remaja yang akhir akhir ini menjadi topik perbincangan Tokyo Academy. Tsunade menatap remaja bernama Naruto itu seram, apalagi sekarang. Ia berjalan melewati teman temannya lalu berhenti di depan meja Tsunade.

"Na-Naruto!" Naruto melirik menggunakan ujung matanya ke tempat Rin, Erza maupun Lee berada. Berbeda dari ketiga anggotanya, tatapan Reinhard kepada Naruto karena penasaran, bagaimana anggota Clubnya bisa mengenali pemuda ini?

Naruto meletakan secarik kertas di atas meja Tsunade. Sejenak, kepala sekolah beroppai jumbo itu membaca surat tersebut lalu menyeringai tanpa di sadari oleh siapapun. "Isi surat ini adalah surat perizinan untuk menambah anggota Quest. Artinya kau akan ikut Quest ini, Arashi-san." Naruto memutar matanya bosan. "Aku tahu aku tahu, meskipun pada awalnya aku sempat menolak, namun dengan bayaran yang lumayan, akhirnya aku menyetujui juga."

'Ya dan kau tidak akan menikmati bayaranmu.' Tsunade menyeringai dalam hati. Jika ia berpikir Naruto akan mati dengan mudah, maka dia salah besar. Lagian Naruto juga tahu apa yang ada di kepala Tsunade. Jelas wanita ini masih membencinya akibat kejadian waktu lalu. Hah padahal Tsunade di masanya tidak se-temperamen ini.

"Baiklah, karena secara peraturan syarat syarat sudah lengkap, kita hanya menunggu perwakilan Kyoto Academy datang. Seharusnya tidak lama lagi, karena menurut kabar dari kepala sekolah Kyoto, mereka sudah berangkat sejak 30 menit yang lalu menggunakan kereta." Sepertinya benar. Karena tak menunggu lama, sekitar 5 menit. Assisten Tsunade membawakan empat murid perwakilan Kyoto Academy dan membawa mereka masuk menemui Tsunade.

Tatapan Naruto hanya tertuju ke salah satu remaja di antara mereka. Namun tak lama kemudian, tatapannya kembali netral seperti biasa setelah menyadari orang di depannya adalah orang yang berbeda. Jelas berbeda dari beberapa aspek, beda masa, beda masa lalu dan mungkin saja kepribadian mereka berbeda. Karena menurutnya, orang yang Naruto pikirkan sangatlah dingin dan tidak memiliki ikatan apapun.

'Sasuke.'

And Done.

Jika di kampung. Saya hanya butuh waktu 3 hari untuk menyelesaikan satu chapter. Tapi jika di kota, saya butuh waktu tahun untuk menyelesaikan satu chapter. Yare yare, Internet membuat seseorang melupakan sesuatu.

Yoo Saya kembali. Tulisanku menjadi ampas karena lama gak nulis lagi, namun karena ide sedang mengalir sayang kalau gak di tulis. Jadi dengan kemampuan seadaanya dan bermodal nekat, akhirnya chapter 10 selesai di tulis.

Setelah Arc ini, adalah Turnamen tingkat sekolah Tokyo Academy. Mungkin untuk saat ini hanya beberapa murid saja yang mencolok, tapi sebelum Turnamen, ada beberapa siswa ataupun siswi mengikuti Turnamen akan muncul.

Reinhard berasal dari Anime Re:Zero. Seharusnya kalian sudah tahu mengingat anime yang satu ini sudah cukup terkenal. Namun kembali lagi, akan ada sedikit perubahan dari kepribadian Chara yang satu ini.

Sebagai bocoran. Ada pertarungan yang melibatkan masa lalu Naruto dan ada hal menarik menunggu Shion, ini sebenarnya bukan 100% ide dari ku. Namun sebagian besar ide untuk Shion dari Senpaiku yang beberapa waktu lalu PM di Facebook.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya