Hy^^v

perhatian... chap ini sepertinya ooc parah. Kalimat berantakan. Dan membosankan tapi chap ini susah banget loh nulisnya... saya ngerombaknya sampai 3 kali... dan jadinya tetap seperti ini... *pundung* dan terima kasih atas semua reviewnya di chap kemarin, maaf kali ini saya gak bisa balas ^^v

Moga suka!

.

.

Summary : 2 tahun setelah perang dunia shinobi keempat berakhir, Sasuke, Kakashi, Sakura, dan Sai mendapat misi untuk mencari Naruto yang menghilang saat perang berakhir. dengan Mangekyo milik Sasuke, mereka berempat melompati lubang hitam dan sampai di dimensi lain. sebuah Konoha yang sangat berbeda dengan Konoha tempat asal mereka. dimana disini Minato, Kushina, Obito, Rin bahkan Itachi masih hidup. dan Naruto yang mereka temui di dunia itu adalah seorang perempuan. jadi dimana Naruto yang sesungguhnya mereka cari?

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei.

Warning : OOC, OC, Gaje, Typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

Pairing : SasuFemnaru!

I Don't Own Naruto!

.

.

Langit terlihat lebih gelap pagi itu meski fajar mulai bersinar di ujung cakrawala. Berwarna orange keemasan dibawah langit biru gelap yg mendung. Sesekali angin akan berhembus, membawa hawa dingin beserta uap kabut yg masih menggantung di udara.

Disalah satu ruangan di kediaman Namikaze, di dalam kamar yg gelap meski seluruh dindingnya berwarna orange terang, sosok sang putri Namikaze itu terlihat duduk di sudut ranjang merapat di dinding. Rambut pirangnya yang terurai terlihat berantakan diantara selimut biru gelap yang membungkus tubuhnya seperti kepompong.

Wajah sang putri menunduk dengan dagu yang menyandar di atas lututnya. Membuat poninya yang panjang menutupi wajah dan menyembunyikan safir di dalam matanya.

'tok tok tok '

"Naru-chan... "

Sosok itu sama sekali tak bergerak mendengar suara sang Ibu yang memanggil dari balik pintu.

"Aku tahu di luar masih terlihat gelap, tapi ini sudah jam 6 lebih... kalau tak segera bangun kau akan terlambat ke akademi,"

Sedikit kilauan di wajahnya menandakan safir itu melirik langit sebelum kembali menunduk.

Hening selama beberapa saat.

"Kalau kau merasa tak enak badan kau boleh tidak masuk hari ini... tapi setidaknya keluarlah untuk sarapan... Kaa-san masak ramen untuk hari ini..."

Masih tak ada jawaban.

Di balik pintu, Kushina berdiri dengan raut wajah khawatir... tangannya sudah berada di handle pintu. Setelah beberapa saat diam tak bergerak, Kushina melepaskan tangannya dan menarik nafas pelan kemudian tersenyum.

"Cepat keluar! Atau aku akan menghabiskan semuanya nanti!" teriak Kushina. Saat ia berbalik pergi, senyum itu memudar seketika.

Di dalam, angin dingin berhembus masuk. Meniup korden tipis berwarna orange lembut yang menghiasi jendela. Dan membuat bayangan gelap berdansa di wajah sang putri.

.

.

.

## Searching for The Sun ##

By : Ayushina

.

.

Chapter 10

.

Dengan langkah pelan sang Uzumaki berambut merah panjang itu kembali berjalan menuju ruang makan yang bersandingan dengan dapur. Dan mendapati sang suami segera menoleh ke arahnya saat mendengar ia mendekat.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Minato dengan raut wajah khawatir.

Kushina perlahan duduk di samping Minato dan menyandarkan kepalanya di atas sebelah tangan yang di topang di atas meja,

"Dia tak menjawab," jawab Kushina pelan.

Minato melirik ke arah kamar sang putri kemudian memeluk pinggang Kushina.

"Dia akan baik-baik saja," bisik Minato pelan.

Setelah kejadian di kantornya kemarin... Naruto sama sekali tak mau bicara. Tidak tersenyum ataupun menangis. Dia terlihat seperti boneka. Dan itu membuat Minato khawatir setengah mati.

Semalam ia juga sudah menceritakan semuanya pada Kushina, tentang kejadian 2 tahun lalu, tentang orang yang dicari tim 7, tentang nasib mereka di dunia yang lain... tentang Naruto yang lain. Dan semalaman ia harus menahan Kushina untuk tidak pergi menghajar Kakashi karena menyembunyikan itu semua darinya.

"Biarkan ia menenangkan diri dulu... kalau nanti ia tak keluar juga, aku akan memanggil Itachi," kata Minato sambil mengusap lengan Kushina.

Kushina mengangguk pelan. Sikap Naruto itu sama seperti saat ia masih kehilangan ingatan. Dimana ia hanya akan memasang wajah kosong dan menghabiskan waktu memandang bulan di danau. Dan kebiasaan itu mulai berkurang setelah ia bertemu Itachi hingga ingatannya kembali.

"A-apa kau pikir ia akan kembali-"

'Klek'

Minato dan Kushina sontak menoleh saat mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup perlahan. Dan keduanya hanya bisa terdiam saat melihat sosok putri semata wayang mereka berjalan ke arah mereka kemudian duduk di depan meja makan. Wajah berkulit tan itu terlihat lebih pucat saat mengenakan jaket panjang berwarna darkblue dengan garis hitam di sisi lengan.

"Ohayou... Tou-san, Kaa-san!" sapa Naruto sambil tersenyum lebar.

"Waaaah... Rameeeeen!" teriak Naruto sambil membalik mangkok dan mengisinya dengan makanan favoritnya itu. Dengan cepat ia menghabiskan makanannya lalu buru-buru bangkit.

"Gyaaaa... aku terlambat! Aku berangkat dulu! Jaa!" teriak Naruto sambil berlari keluar diikuti bunyi pintu yang ditutup keras.

Meninggalkan Minato dan Kushina yang masih terdiam membeku di depan meja makan. Memandang kursi tempat sang Putri sebelumnya berada tanpa mengedipkan mata.

"Minato-"

"Aku akan segera memanggil Itachi," jawab Minato segera berdiri dan mengecup pipi Kushina cepat.

"Tenanglah... semua akan baik-baik saja," kata Minato lagi sebelum menghilang dalam kilatan kuning.

###

"Hoek! Ugh... gwaaah!"

Sosok berambut pirang itu terlihat berjongkok di bawah pohon sambil memuntahkan makanan yang baru saja ditelannya. Sebelah tangannya mencengkeram dada sementara sebelah tangan yang lain berpegangan pada pohon. Menjaga agar tubuh berbalut jaket darkblue itu tidak tersungkur di tanah.

"Hime-sama?"

Naruto dengan cepat berdiri dan berbalik sambil melangkah mundur. Sebelah tangan tangannya dengan segera menutup mulut. Mencoba membersihkan sisa cairan perut yang baru saja ia keluarkan.

"I-Iruka-sensei," gumam Naruto saat melihat sosok ninja berambut coklat dengan bekas luka melintang di atas hidungnya itu.

"Anda baik-baik saja?" tanya Iruka sambil memegang lengan Naruto yang tiba-tiba terlihat agak limbung. Ia segera membantu sang putri Namikaze itu duduk di sebuah ayunan yang berada di balik pohon.

"A-aku baik-baik saja, j-jangan khawatir!" jawab Naruto cepat. Ia berusaha berdiri sebelum kembali duduk sambil memegang dahinya.

"Kupikir kau 'tidak' baik-baik saja, Naruto," kata Iruka dengan nada tegas. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan mengusapnya di bibir dan dagu Naruto.

"Aku baik-baik saja, hanya... sedikit gangguan perut," jawab Naruto sambil menunduk. Ia memang paling lemah kalau berhadapan dengan 'mantan' sensei-nya itu. Di seluruh desa, selain ayah dan ibunya, tak ada seorangpun yang berani memanggilnya dengan nada tegas seperti itu. Ia justru senang. Karena itu berarti ia telah diakui sebagai Naruto. Hanya Naruto. Tanpa embel-embel hime atau –sama. Itulah salah satu alasan ia merasa kehilangan saat dipindahkan ke akademi umum.

"Baiklah... kau baik-baik saja. Ingin aku mengantarmu pulang?" tawar Iruka sambil tersenyum.

Naruto menggeleng dengan cepat.

'Teng... teng... teng...'

"Sudah masuk, Iruka-sensei... murid-muridmu pasti sudah menunggu," kata Naruto tersenyum sambil memandang gedung akademi ninja yang berada tak jauh di depannya.

Iruka memandang gedung akademi sebelum kembali menatap Naruto dengan khawatir.

"Kau yakin? Aku bisa memanggil orang untuk mengantarmu," tawar Iruka.

"Tidak perlu, aku akan istirahat disini sebentar. Setelah itu aku akan segera pergi," kata Naruto. Hal terakhir yang ia inginkan adalah sang Ayah tahu mengenai keadaannya yang menyedihkan.

"Baiklah... aku ada di dalam kalau kau butuh sesuatu. Jangan terlalu lama di luar, sebentar lagi turun hujan," kata Iruka sambil mendongak menatap langit yang mendung.

"Yup!" jawab Naruto sambil mengangguk dan tersenyum.

Dengan ragu Iruka berbalik dan berjalan pergi.

Naruto hanya diam memandang punggung Iruka yang semakin menjauh sebelum menghilang di dalam gedung bercat hijau muda itu. Dari tempatnya duduk, Naruto bisa mendengar suara para murid calon ninja yang terdengar ribut dan suara Iruka yang menggelegar, memarahi muridnya yang nakal. Naruto bahkan bisa membayangkan bagaimana kepala sang sensei yang seolah-olah akan membesar beberapa kali lipat karena marah.

Naruto menggenggam tali ayunan dan menyadarkan kepalanya. Mengingat kembali saat ia masih bersekolah di dalam bangunan itu.

Betapa ia ingin kembali ke masa itu. Saat ia masih bisa berharap ia akan menjadi ninja yang hebat. Saat ia masih bercita-cita akan menjadi Hokage.

Naruto masih menatap gedung akademi saat satu tetes air jatuh di atas hidungnya. Dan ia mendongak saat tetesan lain mulai turun. Sesaat ia hanya menatap langit mendung berwarna kelabu gelap diatasnya, sebelum tiba-tiba bayangan sosok itu kembali terlintas di matanya.

Saat itu juga hujan...

Naruto kembali memegang kepalanya yang kembali terasa pusing.

Siapa?

Tanpa sadar tubuh Naruto mulai gemetar. Ia bahkan tak bisa menggerakkan ujung jarinya saat ia berusaha bangkit. Tetesan air itu terus turun. Menciptakan hawa dingin dan kabut tipis disekitarnya. Naruto mencengkeram ayunan itu semakin erat.

Ia benci hujan.

Segala hal buruk selalu terjadi saat hujan.

Saat nii-chan pergi juga hujan...

Tak tahan lagi dengan perasaan sepi yang tiba-tiba mencengkeram hatinya. Naruto berdiri dan berlari pergi.

Meninggalkan ayunan kecil yang bergerak pelan, dengan tetesan hujan dan daun hijau kekuningan yang berguguran.

###

Saat sadar, sang putri Namikaze itu sudah berdiri di atas gunung hokage, dengan baju yang mulai terasa lembab dan nafas yang tak beraturan karena lari sekuat tenaga. Mata biru itu dengan cepat memandang sekeliling. Dan nafasnya tercekat saat melihat sosok itu duduk disana. Memandang seluruh desa dengan punggung yang membelakanginya. Butiran hujan membuat rambut hitam kelamnya sedit merunduk.

Untuk sesaat gadis itu hanya terdiam mematung di tempatnya, memandang sosok itu yang tiba-tiba berdiri.

'Bruk!'

"Jangan pergi!" teriak Naruto. Tanpa sadar ia sudah berlari dan memeluk punggung Sasuke. Mencegah sang raven untuk melompat pergi. Menghilang. Meninggalkannya.

Naruto bisa merasakan punggung itu menegang. Dan Naruto semakin mengeratkan pelukannya.

"Kumohon..." bisik Naruto.

"Apa maumu?" tanya Sasuke dalam bisikan. Dengan lengan terkulai di samping tubuhnya.

"A-aku tak tahu," jawab Naruto.

Keduanya terdiam. Sementara gerimis itu mulai melebat dan membasahi keduanya.

"Lepas," perintah Sasuke. Naruto menggeleng cepat di punggungnya.

Sasuke mengepalkan tangannya, "Kubilang lepas," desisnya.

"A-aku minta maaf!" jawab gadis itu sambil memejamkan mata sementara tubuh Sasuke berubah kaku.

"A-aku minta maaf... gara-gara aku... Kiroi-nii-" Naruto tak melanjutkan kalimatnya. Ia menelan ludah dan mendongak menatap punggung Sasuke.

"D-dia orang yang k-kau cari bukan? Y-yang berharga bagimu... d-dan... dan a-aku sudah..."

Hujan yang semakin deras itu membuat Naruto sulit bernafas dan bicara. Dan menenggelamkan suaranya yang seperti bisikan.

"A-aku minta maaf... kalau saja s-saat itu aku tak m-memohon seseorang datang..." Naruto kembali menelan ludah untuk menghentikan isakan yang mulai terdengar dalam suaranya.

"Hanya... J-jangan membenciku," pinta Naruto, jangan meninggalkanku...

Sunyi... hanya suara angin, dan derasnya hujan.

"Huh... HAHAHAHAHAHA!"

Naruto melepaskan pelukannya saat Sasuke tiba-tiba tertawa. Dan ia hanya bisa melangkah mundur saat sang raven berbalik dengan seringaian di wajahnya.

"Apa kau bilang? Minta maaf?" tanya Sasuke dengan tatapan tajam. Hujan yang lebat membuat surai hitam itu membingkai wajah Sasuke dengan sempurna.

Naruto hanya terdiam menatap wajah itu.

"Kau pikir ini semua gara-gara kau?" tanya Sasuke sambil melangkah mendekat. Membuat Naruto refleks melangkah mundur.

"Huh... biar kuberitahu kau satu hal..." kata Sasuke dengan wajah dingin.

"Akulah yang membunuhnya,"

Wajah berkulit pucat itu terlihat serius saat mengatakan kalimat yang membuat seluruh tubuh Naruto membeku. Sesaat sekelilingnya berubah warna menjadi perak saat kilat menyala di atas langit.

"Akulah yang membuatnya sampai di dunia ini... yang membuat luka di tubuhnya..."

Naruto melangkah mundur. Mengingat luka menganga di dada sang 'kakak'.

"Apa kau ingin tahu bagaimana rasanya saat melihat percikan darah itu di depan mataku?"

Gadis berjaket biru itu menggeleng dan memejamkan mata.

"Apa kau ingin lihat bagaimana wajahnya yang terkejut dan menahan sakit?"

Sasuke terus melangkah hingga punggung sang gadis membentur sebuah pohon dan membuatnya tak bisa mundur lagi.

Naruto membuka mata dan menatap sosok Sasuke yang berdiri di atasnya. Safir dan onix itu bertemu. Di bawah guyuran hujan dan kilatan petir yang menggemuruh.

"Kau bohong," bisik Naruto tanpa suara.

Sasuke menunduk menatap gadis itu.

'Buk!'

Sebuah kepalan tangan mendarat di pohon disamping wajah Naruto.

"Kau-tak-tahu-apapun," desis Sasuke dengan sepasang mata semerah darah sebelum berbalik dan menghilang. Meninggalkan sang gadis yang perlahan merosot di tanah menatap kepergian sang raven.

Langit itu masih bergemuruh.

###

Uchiha Fugaku, sang kepala klan Uchiha itu memasuki ruangan Hokage dangan wajah datar sebelum alisnya sedikit terangkat saat memandang dinding di salah satu sisi kantor yang terlihat di tambal dengan beberapa papan kayu. Ia melirik sosok sang Hokage yang terlihat sibuk seperti biasanya di belakang meja kerja. Jendela lebar di belakangnya terlihat beruap karena hujan.

"Jangan tanya soal hal itu," kata Minato tanpa mendongak. Tahu apa yang ada di benak sahabatnya itu. Dan ia tak ingin membahas tentang ninja gila yang sudah merusak kantornya. Saat suara petir kembali menggemuruh, refleks Minato menoleh keluar jendela dan berdoa semoga Itachi sudah menemukan putrinya dan membawanya pulang.

Fugaku ikut melihat arah pandang Minato dan duduk sambil mengawasinya kembali bekerja tanpa mengatakan sepatah katapun.

Selama beberapa saat Minato hanya melanjutkan pekerjaannya seolah Fugaku tak ada, hingga perlahan tiga sudut siku-siku mulai terbentuk di dahinya. Merasakan tatapan Fugaku yang sama sekali tak beralih darinya. Minato meletakkan dokumen yang dibacanya lalu balas menatap Fugaku.

"Apa?" tanya Minato kesal. Ia sudah menduga cepat atau lambat ia akan mendapat kunjungan dari teman lamanya itu.

Keduanya saling tatap selama beberapa saat.

"Ada seorang ninja bernama Sasuke," kata Fugaku datar.

"Lalu?" tanya Minato sambil berusaha untuk tidak memegang dahinya yang mulai terasa pusing mendengar nama itu.

"Aku ingin tahu tentang dia," kata Fugaku.

"Maaf, aku tak bisa memberitahumu," kata Minato kembali pada mode : Hokage-nya.

Fugaku hanya diam sambil menatap Minato tanpa berkedip.

"Apa ada alasan kenapa aku tak boleh tahu?" tanya Fugaku lagi.

"Ada banyak hal yang tak harus kau ketahui," jawab Minato datar.

Fugaku masih menatap Minato. Memperhatikan setiap ekspresi yang muncul di wajah tan itu saat mendengar apa yang akan ia katakan.

"Dia seorang Uchiha." Kata Fugaku. Ia mengatakan itu dengan nada final. Seolah tak menerima penolakan. Ia melihat dengan mata kepala sendiri saat pemuda berkulit pucat itu 'kabur' dari rumahnya dan sempat bersitegang dengan Itachi di depan kompleks Uchiha

'Damn!' batin Minato sambil berusaha untuk tidak menjedukkan kepalanya di meja. Namun ekspresi yang tampak di wajahnya hanya kedutan kecil di atas sebelah alis, dan Fugaku tak melewatkan setitik ekspresi itu.

Fugaku terdiam lagi. Bersiap untuk mengatakan sesuatu yang telah mengganggunya sejak kejadian itu, ia masih belum yakin tapi dia ingin memastikan hal itu. Ia tahu Minato tahu.

"Apa dia putraku?"

'Shit!'

Kali ini Minato benar-benar menjedukkan kepalanya ke meja. 'Dasar Uchiha, dan otak mereka yang kelewat jenius' runtuk Minato dalam hati.

"Bagaimana bisa?" tanya Fugaku dengan suara yang sedikit bergetar. Ia tahu dugaannya benar-benar gila. Tapi melihat sikap Minato ia tahu ia benar.

Minato sedikit mendongak untuk mengintip wajah Fugaku, dan apa yang dia lihat membuatnya tertegun sesaat sebelum menghela nafas. Ia bisa menghitung dengan jari kapan ia bisa melihat sahabatnya itu menampakkan ekspresi di wajahnya yang sedatar tembok.

Minato membuat beberapa segel dengan tangannya. Mengaktifkan segel agar tak ada yang bisa mendengar percakapan selain mereka berdua.

"Apa yang akan kuberi tahu adalah rahasia level S," kata Minato dengan wajah serius sebelum menceritakan semuanya.

'Ini akan jadi hari yang panjang,' batin Minato.

###

Hujan itu masih mengalir dari langit. Dihiasi kilatan perak di langit yang hitam kelabu.

Sosok berjaket biru itu masih terduduk di bawah pohon sambil memeluk lutut. Rambut pirangnya yang basah terurai berantakan di punggungnya yang kecil.

"Kau bisa demam kalau terus duduk diam disini," kata sebuah suara diikuti sebuah payung yang terulur di atas kepalanya.

Sesaat Naruto tak merespon. Sebelum perlahan ia mendongakkan kepala menatap bayangan yang menjulang tinggi di atasnya. Mata biru itu menyipit mencoba melihat lebih jelas di antara pandangannya yang memburam. Hingga ia melihat wajah yang familiar.

"Itachi-nii..." panggil Naruto. Perasaan nyaman yang familiar itu dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. Perasaan bahwa ia 'aman'.

Ia pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.

Itachi perlahan berlutut di hadapan gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu. Mengusap aliran air di wajahnya kemudian menyusupkan lengan di bawah lengan dan lutut Naruto. Sambil tetap memegang payung ia menggendong Naruto yang langsung menyandarkan kepalanya di pundak Itachi.

"I'm so tired-ttebayo," bisik Naruto pelan.

"Ya, istirahatlah... Nii-san ada disini," kata Itachi sambil menunduk menatap wajah Naruto yang terlihat pucat.

Saat keduanya menghilang dalam pusaran angin kecil, Naruto sudah terlelap.

###

"Kau tak seharusnya bersikap seperti itu,"

Sasuke berhenti melangkah di lorong penginapan tempat tim7 sementara menginap.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke tanpa menoleh pada sosok jonin berambut silver yang berdiri bersandar pada dinding. Lalu kembali berjalan tanpa mengatakan apapun lagi.

Kakashi hanya memandang punggung sosok berompi jonin itu. Sebelum menunduk menatap tetesan air yang membasahi lantai yang telah dilewati Sasuke. Ia tahu apa yang terjadi antara Sasuke dan Naruto di gunung Hokage barusan. Kakashi tak bisa melakukan apapun saat itu mengingat ia tahu hubungan rumit antara Sasuke dan Naruto. Kedua Naruto. Dan ia hanya berharap semoga semua ini akan berakhir baik. Meski kemungkinan itu terlihat sangat jauh.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Sakura yang juga berdiri di sisi lain lorong itu. Hanya menunduk tanpa menatap sosok Sasuke yang semakin menjauh. Di sampingnya, sosok Sai perlahan muncul dari kegelapan.

"Kita tunggu hingga kondisi Sasuke membaik, kita membutuhkan Mangekyo Sasuke untuk kembali," jawab Kakashi.

'Itu jika kita bisa kembali,' batin Kakashi.

Ia tahu apa yang sudah Sasuke lakukan agar dapat menyempurnakan Mangekyou-nya. Semua itu agar dapat pergi ke dunia ini dan menemukan Naruto. Dan dia yakin Sasuke tak akan menyerah apapun yang terjadi, meskipun kenyataan yang menyakitkan sudah ada di depan mata.

Pasti ada sesuatu, yang bisa ia lakukan. Ia hanya harus mencarinya.

"Dia tak memperbolehkanku memeriksa matanya," kata Sakura sambil mengepalkan tangan,"Si bodoh itu..."

"Apa kita akan pergi dan menyerah?" tanya Sai dengan wajah tanpa ekspresi.

Ketiganya terdiam.

"Ada tiga kemungkinan, yang terjadi pada Naruto..." kata Kakashi dengan pandangan serius.

"Satu... Naruto sudah mati, dengan meninggalkan segel ingatan atau segel Kyuubi pada Naru-chan, walau aku tak tahu ia bisa melakukannya, tapi aku tak akan meremehkan sifat tak terduganya, meski begitu, kemungkinannya juga tipis... Sensei pasti menyadari sesuatu jika ada segel asing pada diri putrinya, dan Kushina-nee masih menjadi jinchuriki Kyuubi disini,"

"Kedua... Naruto masih hidup. Kemungkinan itu juga kecil, mengingat ia pasti kembali ke desa jika selamat. Tak peduli ini dunianya atau bukan. Kecuali ia benar-benar terluka parah, dan kita harus membayangkan separah apa lukanya hingga belum sembuh juga meski hampir 2 tahun telah berlalu apalagi ia memiliki Kyuubi... dan yang ketiga..." Kakashi menghentikan kata-katanya dan menatap dua rekan timnya dengan serius.

"Dia 'disembunyikan',"

Sakura dan Sai menatap Kakashi.

"Tapi, jika apa yang dikatakan Naru-chan benar. Pilihan pertama adalah yang paling mungkin terjadi. Aku benci mengakuinya, tapi yang dikatakannya benar-benar seperti Naruto. "

"Hal terakhir yang bisa kita lakukan adalah bicara dengan Yondaime dan Kushina. Kita harus bisa membujuknya untuk memeriksa segel yang ditanam Naruto pada Naru-chan. Dan kita juga harus meminta Kushina bicara pada Kyuubi di dalam tubuhnya. Mengingat Kushina-nee tak memiliki hubungan yang baik dengan Kyuubi seperti Naruto, hal itu akan sulit."

"Tapi untuk saat ini... biarkan Sasuke menenangkan diri. Akan buruk jika dia lepas kendali lagi di depan Yondaime," kata Kakashi sambil menoleh ke arah Sasuke menghilang.

Sakura dan Sai mengikuti arah pandangnya. Menatap lorong yang menyembunyikan sang raven dalam kegelapan.

###

.

.

.

Hujan...

Butiran air itu jatuh di sekelilingku, membasahi tubuhku... dan membuatku kedinginan...

Awalnya aku hanya diam memandang riak-riak kecil melingkar di atas permukaan air tempatku berpijak... riak kecil itu sama sekali tak bisa menghalau aliran sungai yang terus melaju di bawah kakiku... dan mengalir semakin menjauhiku...

Aku mencoba mengambil nafas... merasakan oksigen perlahan memasuki tubuhku... mencoba menghiraukan perasaan dingin itu...

Aku merasa sangat kesepian...

Tapi kemudian aku merasakan seseorang mendekatiku... kaki yang memakai sandal shinobi itu kini berdiri di hadapanku... menciptakan riak lain di aliran abadi ini...

Lewat mata yang setengah terbuka... aku sedikit mendongak dan tertegun melihat sosok itu...

Hey... –sebuah senyuman kecil-

Apa akhirnya aku bisa mengejarmu?

Apa... –sebuah harapan-

Kau kembali untukku?

Aku mencoba menyeimbangkan tubuhku yang tiba-tiba terasa limbung dan jatuh di pelukanmu... dan benar-benar mendongak kali ini...

Dan untuk pertama kali, akhirnya aku bisa melihat wajahmu dengan jelas, tak lagi buram seperti kaca yang beruap...

Wajah pucat itu... meski dengan tanda aneh yang menghiasinya

Senyum itu... walau sangat berbeda dengan yang sebelumnya kulihat

Dan mata itu... yang menatapku penuh arti dan semerah darah...

Sasuke...

-san?

Dan senyumku memudar saat melihat sekelilingku...

Dan keadaanku...

Dengan pandangan yang bergetar aku berpaling dari wajahmu dan menunduk

Menatap lenganmu yang menembus jantungku...

.

.

.

###

Sambil tersentak, sepasang safir itu terbuka diikuti tubuhnya yang langsung terduduk dari posisi berbaring. Sambil mencengkeram jantungnya, gadis itu memandang sekeliling dengan panik. Mendapati kamarnya yang remang oleh lampu kecil di sudut ruangan.

Diluar, langit telah menggelap meski hujan mulai mereda.

"Hanya mimpi..." bisik gadis itu sambil berusaha meredakan detak jantungnya yang bertalu. Ia perlahan mengatur nafasnya dan melonggarkan cengkraman di dadanya.

Naruto kembali memandang sekeliling lalu menunduk menatap piama berwarna orange yang ia pakai.

'Akulah yang membunuhnya,'

Safir itu melebar saat mengingat apa yang terjadi. Dia –Sasuke-san- yang telah melukai Nii-san? Itu tidak mungkin kan? Kemudian mimpi itu kembali terlintas di matanya. Ia masih bisa merasakannya...

Perasaan dingin itu...

Dan rasa hangat saat lengan itu menembus jantungnya...

Sakit sekali...

Ia bahkan masih bisa merasakan denyut sakitnya. Mimpi seharusnya tak sesakit ini kan?

Gadis itu menunduk dan mencengkeram dadanya. Perlahan kilauan air terlihat menuruni pipinya dan jatuh di atas selimutnya.

Kenapa kau melukainya?

Kenapa kau melukaiku?

Nafas Naruto mulai terlihat tak beraturan. Ia memandang sekeliling dan kepalanya terasa berputar.

Perlahan gadis itu bangkit dan berjalan ke arah jendela. Dan tanpa pikir panjang ia melompat keluar dan berlari pergi. Hanya berlari tanpa memikirkan tujuan. Segala hal disekitarnya terasa memburam, dan ia tak peduli lagi. Yang ia rasakan hanya sesak. Rasa sesak yang seakan menyumbat jantungnya. Ia ingin melakukan apapun agar perasaan itu hilang. Meskipun ia harus harus mengoyak jantungnya agar ia tak merasakan sakit itu lagi.

Jadi Naruto terus berlari. Hingga tanpa sengaja kakinya tersandung dan membuatnya jatuh terjerembab di tanah. Air lumpur yang menggenangi jalan itu membasahi tubuhnya dan menodai wajahnya yang penuh air mata.

Naruto mendongak. Menatap langit gelap dia atasnya. Tak jauh di depannya ia bisa melihat sebuah jembatan yang familiar. Pandangan Naruto berubah kosong.

Sebuah bayangan berwarna merah 'Kau terlambat, Naruto-baka!'

Sebuah senyuman yang tak terlihat 'Maa...maa... Naruto, kau lebih telat dari aku.'

Sebuah dengusan dan tatapan tajam 'Jangan merepotkanku, Dobe,'

Selama beberapa saat Naruto tetap dalam posisi itu. Kepalanya terasa sakit sekali dan ia tak bisa bergerak. Seakan semua tenaganya lenyap. Dan ia tak peduli.

"Huh... lihat! Betapa beruntungnya kita,"

Seseorang tiba-tiba berkata, diikuti langkah kaki yang mendekat. Perlahan Naruto mendongak, mencoba melihat sekeliling dengan pandangan yang berputar.

"Kita sudah susah payah membuat rencana agar bisa memancingnya keluar dan lihat, kita tak melakukan apapun... dan ia sudah ada dalam genggaman kita,"

Beberapa sosok bayangan keluar dari kegelapan dan perlahan berjalan mendekati sosok Naruto yang masih terbaring di tanah.

Sesaat sang rembulan mengintip di sela awan mendung, dan cahayanya yang keperakan menerangi jubah hitam bermotif awan merah yang mereka kenakan.

Dua ANBU yang menjaga Naruto segera muncul di depan sang Putri dan menutupinya dari pandangan segerombol ninja asing yang kini mulai berjalan mendekati Naruto.

"Apa yang kalian lakukan selarut ini di Desa Konoha?" tanya salah satu Anbu.

Gerombolan ninja itu berhenti melangkah. Jubah awan merah mereka terlihat berkibar saat angin bertiup.

"Apa yang kami lakukan?" tanya salah seorang dari mereka sambil maju selangkah.

"Kupikir... kalian akan segera tahu," kata sosok itu sambil menyeringai. Matanya yang seperti ular berkilau penuh antusias.

'Klank!'

Salah satu ANBU itu segera menangkis serangan Orochimaru dengan sebuah kunai. Topeng putih bergambar kucing itu hanya berjarak sejengkal dari wajah pucat Orochimaru yang masih menyeringai lebar.

Dibelakangnya, ANBU yang lain segera mengangkat tubuh Naruto dan berusaha kabur sebelum sebuah sabit besar berujung tiga mengayun kearahnya dan membuat ANBU bertopeng beruang itu melompat menghindar sebelum sebuah tendangan mendarat di tubuhnya. ANBU itu terdorong mundur dan membuat Naruto terlempar ke arah berlawanan. Gadis itu hanya mengerang pelan tanpa berusaha bangkit.

ANBU bertopeng beruang itu segera bangun dan berusaha meraih sang putri sebelum sebuah benda runcing menembus dadanya. Membuat tubuh berjubah hitam itu sedikit terangkat ke udara dengan tetesan darah yang mengalir dari balik topeng yang di kenakannya. Tubuh itu berayun sebelum terlempar dengan kasar membentur sebuah pohon. Di belakangnya sosok berambut merah itu hanya menatap tanpa ekspresi saat boneka berbentuk setengah kalajengking yang ia kendalikan mengayunkan ekornya yang penuh darah.

Disisi lain, bunyi gesekan daging terdengar diikuti tubuh ANBU yang kini terbelah menjadi dua bagian. Sosok Orochimaru berdiri tenang sambil menjilat darah dari pedang yang ia pegang.

"Pengganggu sudah dibereskan," kata sosok ular itu menyeringai. Ia perlahan melangkah mendekati Naruto diikuti anggota Akatsuki yang lain. Tanpa mereka sadari sang ANBU bertopeng beruang yang kini tergeletak menggerakkan sedikit jarinya dan sekejap kemudian sebuah kembang api kecil muncul di langit dengan bunyi yang memekakkan. Sang ANBU itu tak bergerak lagi saat sebuah pedang besar menghancurkan kepalanya.

"Huh... tikus memang paling susah dibasmi," gumam sosok berkulit biru yang mengayunkan pedang besarnya. Membuat darah memercik ke segala arah.

"Tapi ini sesuai rencana," kata Orochimaru sambil menatap sekeliling, sekejap saja seluruh area itu sudah dipenuhi ninja Konoha yang datang saat melihat dan mendengar isyarat darurat.

Sosokberambut orange itu memasang wajah tanpa ekspresi saat sebuah perisai pelindung muncul di sekitar mereka dan menghalangi para ninja Konoha itu mendekat. Dengan mudah ia mengangkat tubuh Naruto yang penuh lumpur.

"Kita hanya perlu menunggu, dan menyelesaikannya dengan cepat,"

###

Seluruh anggota tim tujuh tengah berada di dalam penginapan saat mendengar suara itu. Suara letupan keras diikuti warna yang pecah di atas langit. Mereka mengenalinya sebagai isyarat darurat yang digunakan saat perang dunia dulu. Tapi itu tidak mungkin bukan? Di dimensi ini tidak ada perang, lagipula mereka berada di tengah desa Konoha.

"Sesuatu terjadi," bisik Sakura saat melihat banyak ninja yang berlari menuju arah suara berasal. Mereka saling pandang sesaat sebelum sekejap kemudian menghilang. Mereka berempat muncul di atap dan segera berlari ke arah dimana asap kecil berwarna putih yang masih membumbung di langit.

Mereka sampai di tempat itu dan menyadari sekempulan ninja yang mengelilingi satu area. Sebuah perisai pelindung memumbung tinggi membentuk persegi dan mencegah mereka mendekat. Dalam satu lompatan, keempat ninja dari dimensi lain itu mendarat di samping Yondaime yang telah berdiri di depan perisai dan mencoba masuk sebelum sebuah kilatan cakra petir membuatnya kembali terdorong mundur. Ia bahkan sempat mencoba masuk lewat segel Hiraishin namun barier itu kembali menolaknya.

"Brengsek!" runtuk Minato saat menyadari kekai di depannya bukan sesuatu yang bisa dilewati dengan mudah. Pastinya barier itu dibuat khusus agar ia tak bisa masuk.

"Jika mereka melakukan sesuatu yang bodoh pada Naruto, Aku bersumpah akan menghabisi mereka hingga mereka menyesal pernah hidup!" ancam sang Yondaime sambil membuat serangkaian segel di tangannya.

Kata-kata itu membuat seluruh tim tujuh menoleh dan memandang ke tengah kekai. Mendapati seluruh anggota akatsuki yang telah mati –di dunia mereka- berdiri di tengah Kekai. Dengan sosok Naruto yang terbaring di tanah di depan mereka.

Tanpa berpikir, keempat ninja itu mengarahkan jurus mereka ke arah kekai.

"CHIDORI!"

"SHANNARO!"

Diikuti sebuah ledakan dan getaran saat sebuah sosok raksasa terbuat dari tinta, sebuah tinju berselimut chakra dan dua chidori membentur permukaan kekai.

Kekai itu bergetar sesaat sebelum berbalik menyerang dengan aliran petir yang membuat keempat ninja itu terlempar kebelakang sebelum mendarat di tanah.

"What the f*ck are you doing?" maki Minato sambil memberi mereka berempat deathglare.

"Barier ini tak akan hancur dengan serangan seperti itu! Bahkan aku perlu waktu untuk menghancurkannya dengan Fuuinjutsu*!" teriak Minato penuh amarah saat rangkaian segel yang sebelumnya ia buat jadi percuma karena serangan yang dilakukan tim tujuh. Dan ia harus mengulang proses itu dari awal.

Minato kembali membuat rangkaian segel dari tangannya, kali ini dengan kecepatan yang bahkan tak bisa dilihat mata. Sementara itu di dalam barier, sekumpulan anggota akatsuki itu bahkan tak menoleh untuk melihat apa yang terjadi.

Minato semakin berkonsentrasi membuat segel saat sang ketua akatsuki berambut orange itu mengangkat Naruto dengan sebelah tangan. Perlahan sebelah tangan yang lainnya ikut terangkat menampakkan kilauan kunai yang terarah pada sosok sang putri yang bahkan tak bergerak. Ia tak akan sempat menyelamatkannya. Ia tahu itu.

Saat Minato mulai merasa putus asa, tiba-tiba udara menjadi terasa lebih dingin diikuti tekanan aura membunuh yang membuat bulu kuduknya berdiri. Minato menoleh, dan sesaat terpana saat melihat sesosok monster berwarna ungu gelap yang tercipta di sekeliling tubuh Sasuke.

"Susanoo," desis ninja raven itu dengan pupil berbentuk bintang, makhluk di atas Sasuke menggeram sambil mengarahkan senjata mirip busur ke arah barier. Dalam hitungan detik, panah itu melesat menembus barier, menghancurkannya hingga berkeping-keping, dan melaju tepat ke arah sosok berambut orange yang mencengkeram Naruto.

Detik kemudian, sebuah ledakan terdengar dan Sasuke segera berlari mendekat, menangkap sosok berpiama orange yang terlempar karena efek ledakan. Langkah Sasuke agak terhuyung saat Susanoo-nya menghilang. Namun ia tetap berlari dan berhasil menangkap sosok Naruto yang tak sadarkan diri.

Minato segera berlari mendekat dan memeriksa keadaan Naruto dalam dekapan Sasuke yang setengah berlutut di tanah. Dan tanpa sadar menghela nafas saat menyadari keadaan Naruto yang baik-baik saja meski ada beberapa luka lecet di wajahnya.

"Itu mengejutkan," sebuah suara bicara saat asap ledakan perlahan menghilang. Menampakkan beberapa anggota akatsuki yang masih berdiri tanpa terluka. Namun di tengah kawah ledakan terlihat ceceran daging dan tubuh yang hancur milik anggota Akatsuki yang tak bisa menghindar.

Dan berdiri di hadapan mereka Orochimaru, Hidan, Sasori, Konan, Kakuzu, Deidara dan Kisame. Sepertinya Pein tidak selamat.

"Sepertinya, kita memang harus membereskannya sendiri," kata Orochimaru.

Sekejap kemudian, barier berwarna ungu itu kembali muncul. Menghalangi ninja lain yang ingin menolong.

"Aku tak tahu apa alasanmu menyerang..." kata Minato sambil berdiri, jubah putih hokage-nya melambai pelan.

"Apapun itu... Aku akan menghabisimu," lanjut Minato dengan aura membunuh yang pekat. Di sekelilingnya berdiri Kakashi, Sakura, Sai, Itachi, dan Obito. Mereka berhasil masuk sebelum barier kembali aktif.

Sekejap kemudian mereka menghilang. Diikuti ledakan dan dentingan senjata yang bertubrukan.

###

Kakashi merasa Dejavu saat berdiri berhadapan dengan Hidan dan Kakuzu. Bayangan pertempuran mereka di masa lalu kembali berputar. Dan bagaimana kegagalannya membuat mereka kehilangan Asuma.

"Yosh, Kakashi! Ayo kita habisi mereka berdua!" teriak Obito penuh semangat disampingnya.

Suara itu membuat Kakashi tersadar dan menoleh. Menatap sosok sahabat yang tersenyum lebar. Senyum yang berbeda dengan saat sosok itu menjadi Jinchuuriki Juubi dan berniat menghancurkan dunia. Ia memang masih belum percaya sepenuhnya pada sosok sahabat dari dimensi ini. Tidak setelah apa yang ia perbuat di dimensinya, meski di akhir ia telah menyelamatkannya. Lagi. Meski Kakashi tahu, semua itu adalah salahnya. Salahnya karena tidak bisa melindungi Obito. Salahnya karena tak bisa menjaga janji dan melindungi Rin.

Lagipula Rin masih hidup di dunia ini. Jika di dunianya Obito bisa sadar setelah kehilangan Rin, tak ada alasan untuk membuatnya menjadi seorang Uchiha gila yang terobsesi dunia palsu di dimensi ini.

Untuk pertama kalinya setelah sampai di dimensi ini, Kakashi mengenyahkan setiap kecurigaan pada sahabatnya itu. Ia menatap sosok itu beberapa saat sebelum tersenyum di balik masker dan ikut memasang posisi bertahan.

"You bet, scaredycat,"

...

"Senang bertemu denganmu lagi, Sasori-san," kata Sai sambil tersenyum menatap sosok Sasori yang masih terlihat muda dengan tubuh bonekanya. Di sebelahnya Konan berdiri angkuh dengan wajah tanpa ekspresi.

"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak penting, Sai," kata Sakura sambil memasang sarung tangan hitamnya. Dan menatap sosok Akatsuki di depannya.

"Begitukah?" kata Sai, senyuman di wajahnya hilang saat mengingat pertempuran terakhirnya dengan sosok berambut merah itu, "Aku hanya senang bisa menghajarnya lagi," lanjutnya dengan wajah serius. Ia masih mengingat apa yang dilakukan sosok itu pada 'tubuh' sang kakak. Sebenarnya ia ingin melawan Deidara, tapi sepertinya ia harus puas dengan lawan yang didapatnya kali ini.

Sakura memutar bola matanya.

Dan kedua ninja itu mulai menyerang.

...

Sasuke masih menggendong Naruto dalam pelukannya saat ia melompat dan menghindari bom yang dilempar anggota Akatsuki itu disekelilingnya. Dengan kedua tangannya yg menggendong sang gadis, mau tak mau Sasuke hanya bisa melompat menghindar.

Sasuke kembali menggeram kesal, saat melompat menghindar dari sebuah bom tak terduga yg bersembunyi di dalam tanah. Ia tak percaya harus melawan si gila ledakan itu sekali lagi.

Sang raven itu sempat kehilangan keseimbangan saat pandangannya memburam sesaat. Dan ia akan jatuh tepat di atas tanah liat berisi bom kalau saja sebuah tangan pucat tak menariknya.

"Perhatikan langkahmu, Baka Otouto," kata Itachi sambil membantu Sasuke berdiri tegak.

"Bukan urusanmu, Baka Aniki!" bentak Sasuke balik sebelum terdiam saat sadar apa yag telah dikatakannya. Ia memandang sang kakak selama beberapa saat sebelum kembali melompat saat sebuah pedang besar mengayun ke arah mereka berdua.

Sasuke dan Itachi melompat mundur menjauhi dua sosok Akatsuki yang berdiri berdampingan.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Sasuke tanpa memandang Itachi.

"Aku juga ada di ruangan Hokage kemarin," Jawab Itachi sambil menatap Kisame dan Deidara bergantian, "Dan tak sulit untuk menebaknya,"

Sasuke tak menjawab selama beberapa saat sebelum perlahan menurunkan Naruto dari dekapannya dan membaringkannya di bawah sebuah pohon sambil menyilangkan tangannya dan menggumam 'Kagebunshin no jutsu'. Satu klon yang identik segera muncul di samping Sasuke dan segera memposisikan dirinya di depan Naruto.

Sasuke berdiri di samping Itachi dan ikut menatap dua anggota Akatsuki didepannya.

"Lets get rid of them," kata Sasuke sambil berlari menyerang. Berusaha menjauhkan mereka dari Naruto. Sosok sang Kakak mengikuti dari belakang.

...

Minato melompat dan dengan sebelah tangan menebas seekor ular yang terjulur ke arahnya. Kunai berujung tiga terlihat bertebaran di sekelilingnya, diikuti kilatan kuning saat ia menggunakan jurus Hiraishin untuk menghabisi setiap sosok Orochimaru yang ia lihat. Hal itu terlihat percuma saat setiap sosok yang ia tebas berubah menjadi ular dan kembali menyerangnya. Sesaat kemudian sekelilingnya sudah dipenuhi ular, dan Minato harus melompat ke sebuah pohon untuk menghindari ular-ular itu.

Dengan wajah penuh konsentrasi Minato menganalisa keadaan dan merasakan sesuatu yang ganjil.

Sang Yondaime Hokage itu melihat semua ular berkumpul dan membentuk sesosok tubuh.

"Aku tak percaya kau melakukan semua ini, Orochimaru," kata Minato dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

Sosok Orochimaru itu tertawa meremehkan. Mata emas itu menatap Minato penuh benci.

"Kenapa?" tanya Orochimaru balik. "Ternyata kau tak sepintar yang kukira, Hokage,"

Minato menyipit mendengar kata-kata itu.

"Kau bukan Orochimaru," kata Minato.

Sosok itu masih tersenyum, "Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanyanya menantang.

"Itu tak penting," jawab Minato sambil memposisikan kunainya di depan wajah,

"Karena sebentar lagi kau akan mati,"

###

'Ini bukan hal yang bagus,' batin Kakashi sambil memandang dua anggota akatsuki yang masih dalam keadaan segar bugar sementara dirinya sudah mulai terengah. Sebelumnya, ia menghadapi mereka berdua dengan bantuan tim Asuma, itupun ia menggunakan sharingannya sejak awal.

Ya, sejak awal pertarungan ini, ia sama sekali tak menggunakan Sharingan, walau hal itu sedikit menyulitkan karena ia harus menggunakan mata itu saat akan menggunakan Chidori, mata normalnya takkan bisa mengikuti kecepatan jurus petir itu. Saat ini Kakashi baru sadar betapa ia sangat bergantung pada mata pemberian sang sahabat.

Sang sahabat yang kini masih bernafas di sampingnya.

Mungkin ia memang egois, tapi Kakashi benar-benar tak ingin Obito mengetahui apa yang tersembunyi di balik ikat kepala di mata kirinya.

"Huh, kenapa ia tak mati juga?" tanya Obito heran saat melihat Kakuzu masih hidup meski setelah ia menghantamkan sebuah rasengan ke jantungnya.

"Dia punya 5 jantung," jawab Kakashi sambil kembali memasang posisi bertahan saat melihat 4 monster bertopeng yang keluar dari tubuh Kakuzu.

"Apa?" teriak Obito dengan wajah kaget. Sesaat mengingatkan Kakashi pada ekspresi Naruto. Hal itu mau tak mau membuat Kakashi tersenyum.

"Kau tak tahu tentang itu?" tanya Kakashi dengan nada menyindir.

"Berisik, kami tak pernah melawan anggota Akatsuki sebelumnya," bantah Obito dengan wajah merah.

Kakashi tak menjawab kata-kata Obito karena kini ia harus kembali melompat mundur dan menghindari sabit milik Hidan yang kini menyerangnya membabi buta. Suara 'Klank klank' terdengar jelas saat kunai miliknya berbenturan dengan sabit merah milik Hidan. Sambil terus bertukar serangan dengan missing nin berambut abu-abu itu Kakashi menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang berbeda.

Suara ledakan terdengar saat salah satu monster bertopeng milik Kakuzu menyerang Obito dengan elemen petir, Obito berhasil melompat menghindar dan balas menyerang dengan jurus api Gokakyuu miliknya. Namun ia tak menyadari saat salah satu monster bertopeng yang lain muncul di belakangnya. Saat sang Uchiha itu berbalik, ia mendapati monster itu sudah bersiap melancarkan jurus elemen api ke arahnya.

Melihat itu, konsentrasi Kakashi menjadi teralih dan hal itu dimanfaatkan oleh Hidan untuk menendang sang Hatake dan membuatnya terlempar membentur sebuah pohon. Sekejap kemudian ia sudah berdiri di hadapan Kakashi dan mengayunkan sabitnya. Dan percikan darah terlihat sebelum sosok Kakashi itu menghilang dalam kepulan asap.

Cip cip cip cip.

"Chidori!"

Sosok Kakashi tiba-tiba muncul di belakang monster yang menyerang Obito dan menyarangkan Chidorinya tepat ke tengah topeng dimana jantung berada.

Sepasang Sharingan milik Obito membulat saat tubuh monster itu perlahan ambruk dan memperlihatkan sosok Kakashi yang berdiri dibelakangnya, dengan sebelah mata terpejam dan sebuah sharingan di mata satunya. Kilatan petir dari jurus itu masih berkilau dan menciptakan bayangan di wajah sang Hatake.

"Sebenarnya aku tak ingin kau melihat ini,"Kata Kakashi sambil menatap Obito dengan mata Sharingannya, "Tapi itu terlalu bodoh, dan tak sebanding jika aku harus melihat kematianmu lagi,"

Obito kehilangan kata-kata.

Mereka saling bertatapan sebelum keduanya harus melompat bersamaan saat Kakuzu dan Hidan kembali menyerang.

"What the hell happenned in your world?" bentak Obito sambil melirik Kakashi yang kini beradu punggung dengannya.

"Kuceritakan nanti," jawab Kakashi sambil menatap Kakuzu yang berdiri tak jauh di depannya.

"Sebaiknya kau tak mati kali ini, Brengsek,"

"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Idiot,"

...

Seperti yang ia duga, bertarung bersama dengan Itachi bukan sesuatu yang sulit. Gaya bertarungnya tak jauh berbeda dengan sosok kakak yang ia kenal. Penuh perhitungan dan tepat sasaran.

Sambil melirik sosok Itachi yang tengah berhadapan dengan Kisame, Sasuke mengalirkan cakra petir ke Chokuto miliknya dan menebas beberapa tanah liat yang dilemparkan Deidara padanya. Membelahnya dan mencegah tanah itu meledak dengan cakra petir miliknya.

Semuanya berjalan lancar hingga Deidara membuat sebuah tanah liat berbentuk burung besar yang familiar. Akatsuki berambut blonde itu kini terbang di atas tanah liat buatannya itu sambil melemparkan boneka tanah liat lain yang berukuran sedang.

Berhubung Sasuke tak memiliki segel gaib Orochimaru lagi, ia menggunakan Susanoo untuk melindungi dirinya dari ledakan, Dan menyerang balik tanah liat itu dengan panahnya. Dalam satu lompatan, Sasukebersiap menyerang Deidara yang kini terjatuh dari tanah liat yang kini terlihat berlubang di salah satu sisi..

Dengan Mangekyou Sharingan yang menyala di matanya, Sasuke sudah bersiap menghabisi Deidara untuk kedua kalinya sebelum kedua matanya berdenyut dan membuat Susanoo miliknya kehilangan wujud sebelum menghilang samasekali. Sasuke mendarat di tanah sambil memegangi kepalanya yang kini berdenyut nyeri, dengan cairan merah yang perlahan menetes dari kedua matanya.

Hal itu dimanfaatkan Deidara yang kini melompat dan melemparkan C4 miliknya ke arah Sasuke yang masih berlutut di tanah.

Bum

Blarrr!

Sebuah ledakan besar terlihat diikuti hempasan angin yang membuat seluruh ninja di dalam kekai itu menoleh dan segera melompat menghindar. Semua ninja yang berada di luar kekai memasang ekspresi horor saat seluruh area di dalam kekai terselimut kabut debu yang tebal. Fugaku Uchiha berada di antara mereka dan hanya mengerutkan alisnya dan mengepalkan tangannya melihat peristiwa itu. Tak dapat membantu dari balik kekai yang sama sekali tak bergeming menerima gelombang ledakan.

Saat kabut mulai menipis terlihat sebuah kawah ledakan yang lumayan besar dimana Sasuke sebelumnya berada. Tak jauh dari tempat itu, sebuah barier lain yang terbuat dari tanah merekah terbuka dan menampakkan Yondaime dan Kakashi yang tengah menempelkan tangannya di tanah. Di belakangnya Obito, Sakura, dan Sai berdiri sementara Itachi terlihat berlutut di hadapan Sasuke yang memasang pose yang sama. Di belakangnya klon Sasuke berdiri sambil menggendong sosok Naruto sebelum terlihat limbung dan menghilang dalam kepulan asap. Minato secepat kilat menangkap tubuh sang putri sebelum membentur tanah.

"Kau baik-baik saja?" tanya Itachi sambil menarik tangan Sasuke yang mencoba menutupi matanya.

"Serahkan padaku," kata Sakura sambil ikut berlutut di di depan Sasuke dan segera meletakkan tangan berselimut cakra miliknya ke mata Sasuke yang terpejam.

Gadis berambut pink itu tersentak, "Sasuke-"

"Diamlah, Sakura," potong Sasuke sebelum gadis itu bicara lebih banyak.

"Tidak! Kau yang harus diam, dasar bodoh! Kau pikir semua akan lebih baik jika kau menyembunyikan lukamu seperti ini?" bentak Sakura marah. Ia kembali berkonsentrasi dan mengalirkan cakra penyembuhnya ke mata Sasuke.

"Berhentilah jadi orang brengsek dan biarkan kami membantumu, bukankah kita satu tim? Naruto juga akan marah kalau melihatmu seperti ini!" kata Sakura lagi.

"Jangan bawa-bawa dia," desis Sasuke sambil menyentakkan tangan Sakura dan menatapnya tajam dengan sepasang onix yang terlihat marah.

Sakura terdiam sebelum wajahnya melembut.

"Aku minta maaf," kata Sakura pelan sebelum tersenyum sedih, "Tapi setidaknya kau juga harus menjaga kondisimu, matamu, bukankah itu pemberian yang berharga?" lanjutnya sambil melirik Itachi.

Sasuke hanya diam dan memalingkan muka.

"Sementara ini, jangan gunakan mangekyou, meskipun Sharingan biasa tak apa," kata Sakura sambil kembali meletakkan tangannya di mata Sasuke yang kini tak lagi melawan.

"Maa... Sensei, sepertinya kita membutuhkan strategi," Kata Kakashi sambil berdiri dan menatap anggota Akatsuki yang kini berdiri tak jauh dari mereka, "Strategi yang bagus, aku sarankan," tambah Kakashi.

Minato menunduk menatap sosok sang putri yang tak sadarkan diri sebelum menatap kedepan penuh konsentrasi.

Semuanya tersentak saat tiba-tiba barier yang mengelilingi mereka hancur berantakan. Di antara kilauan pecahan kekai itu, beberapa bayangan berkelebat dan mendarat di depan kelompok Yondaime dan Kakashi.

Kibaran jubah hitam dengan motif awan merah mereka terlihat mencolok di tanah lapang yang tandus karena ledakan.

Seluruh ninja Konoha di tempat itu menatap sekelompok ninja yang baru datang itu lalu beralih menatap kelompok lain yang terlihat identik.

"Apa kau merindukanku,Minato?" sapa Orochimaru sambil menyeringai dengan mata emasnya yang berkilau.

.

.

To be continue...

.

.

Hy^^

Saya tau ini sudah beberapa lama, dan maaf chap ini pendek. Apalagi dengan beberapa kalimat yang sepertinya tidak cocok saya sisipkan *gomen... bahasa inggris saya payah, tapi saya kebanyakan baca fic inggris dan kesulitan mengartikannya dalam bahasa indonesia ^^a maaf ya* ada yang bisa bantuin saya benerinnya? mohon kritiknya ya ^^v

Chap depan akan ada kejutan yang saya siapkan^^, saya harap bisa segera menulisnya =.=a.

Semoga suka chap ini^^

Review please...