"Siapa?"

"Huh?"

"Siapa yang melakukannya, Chullie?"

Heechul terdiam sejenak, lalu melempar pandangannya keluar jendela kamar rumah sakit. Menatap kosong gedung-gedung yang kemerlip lampu malam itu.

"Kau tahu siapa dia, Yunho-ya."

Mata musang Yunho bergerak kekanan-kekiri, mencari siapa tahu yang dimaksud Heechul. Ketika tepat menemukan satu yang mampu dilacak otaknya, matanya seketika membulat tidak percaya. Yunho menatap kakak dari orang yang dicintainya, "Dia…"

.

.

.

Siwon berjalan mantap melewati koridor kantornya. Sesekali membalas sapaan para karyawannya yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Senyum sumringah membuat wajahnya semakin terlihat tampan.

Dilihat sekertarisnya langsung berdiri lalu membungkuk sebentar.

"Saya sudah menyiapkan laporan untuk bulan ini, Sajangnim."

Lee Sungmin, sekertaris Siwon langsung membukakan pintu untuk atasannya masuk. Kemudian meletakkan map berwarna biru dan merah.

Siwon mulai kembali menekuni dokumen-dokumen membosankan itu sampai pada akhirnya ia menatap kaget laporan yang tertera pada kertas-kertas diatas mejanya. Dibongkar semua map dengan kasar, membuat sebagian berserakan dilantai.

"I-ini… tidak mungkin…"

Sungmin yang menyadari ada yang tidak beres dengan Sajangnim-nya memunguti kertas yang jatuh. "Apa ada yang salah dengan laporannya, Sajangnim?"

"A-ani!" Kini kepala Siwon penuh dengan pertanyaan.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi begitu cepat?

Jung Group membatalkan seluruh perjanjian, menarik kembali asset ataupun saham yang awalnya ditanam di perusahaannya. Belum lagi sebagian insvertor meminta ganti rugi karena kehilangan uang yang tidak sedikit akibat perbuatan Jung Group.

Jika ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan perusahaan yang bertahun dirintis keluarganya akan hancur seketika. Pengaruh Jung begitu kuat. Melakukan kesalahan kecil saja mampu menjadi fatal.

Yang ada dalam benaknya kini hanya pertanyaan, 'Kesalahan apa yang sudah ia perbuat pada Jung Group?'

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

"Masuklah!"

Changmin membungkuk sebentar, lalu mempersilahkan Siwon memasuki ruangan atasannya dengan tidak sabar.

"Apa maksud dengan penarikan saham yang anda lakukan?" Siwon sepertinya tidak berniat untuk berbasa-basi dengan Yunho. Dia langsung berjalan kedepan meja Yunho.

Pria musang itu menatap Siwon sekilas, lalu pandangannya kembali terarah pada berkas yang sedang dia tanda tangani. Setelah selesai, dia melepas kacamatanya lalu menghela nafas ringan.

"Aku hanya baru sadar, telah melakukan hal bodoh dengan bekerja sama dengan Choi Group."

"Apa maksudmu?!"

Yunho berdiri dari duduknya, beralih kehadapan Siwon dengan bertumpu pada meja. Kedua tangannya tersilang didepan dada. Tatapannya datar. Tidak ada ekspresi apapun diwajah tampan pria kaya itu.

"Hampir sebagian masalah keuangan dipegang oleh kami, membuat biaya yang seharusnya kalian keluarkan menjadi sedikit. Hutang untuk pembangunan department store pun seluruhnya ditanggung oleh Jung Group. Bukankah ini sangat menguntungkan untuk kalian, tapi merugikan kami? Bodoh sekali aku bisa terkecoh oleh ucapanmu dulu, Siwon-sshi."

"Mwo? Hanya itu?! Apa karena hanya itu?!"

Siwon yang merasa emosinya semakin menjadi ingin menghajar Yunho namun ditahan Changmin. "Ya! Lepaskan aku!"

Yunho terkekeh kecil melihat siapa sebenarnya pria sukses yang sempat mendapat kepercayaan darinya. Dimata Yunho sekarang, Siwon hanyalah serangga kotor yang dengan hebatnya berani mengotori putranya. Dalam hati ia mendecih.

"Aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya, bawa dia keluar kantorku, Changmin-sshi."

"Ye, Sajangnim."

"Ya! Aku belum selesai denganmu, Jung Yunho! Ya! Lepaskan aku!"

Dengan sekuat tenaga, Changmin menarik tubuh yang hampir sama besar dengan tubuhnya itu keluar dari ruangan atasannya.

Yunho yang melihat hal itu kembali menatap angkuh pintu yang telah tertutup. Tangannya mengepal kuat, membuat urat-urat tangannya nampak, berusaha menahan gejolak emosi yang sejak kemarin meninggi.

"Akan kuhancurkan hidupmu, sama seperti kau hancurkan hidup putraku, Choi Siwon." Desisnya tajam.

.

.

.

Yunho menyusuri lorong rumah sakit dengan tangan yang menenteng kantong berisi buah-buahan. Setelah tahu keadaan putranya yang teramat lemah, dia langsung mengatur pola makan Kyuhyun. Beruntung pengalamannya menangani Jaejoong yang dulu juga mengalami masalah daya tahan tubuhnya.

Jungsoo juga mengatakan bahwa rendahnya daya tahan Kyuhyun disebabkan keadaan Jaejoong saat sedang mengandung dulu. Mengalami depresi dan sempat koma beberapa hari karena keracunan.

Yunho memutuskan kontak dengan Umma-nya tidak peduli jika wanita itu tengah sekarat dan memintanya untuk pulang. Yang terutama adalah Kyuhyun.

Kyuhyun-lah prioritas utamanya kini.

Dulu ia kehilangan Jaejoong karena kesalahannya, dan kali ini dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Cukup rasanya betapa dulu ia ingin menceburkan diri kelaut atau melompat dari gedung pencakar langit, agar bisa selamanya bersama Jaejoong.

Namun sekarang dia bersyukur tetap hidup. Mungkin inilah alasan dari tiap kemunculan Jaejoong. Menuntunnya pada Kyuhyun.

Yunho membuka pintu kamar inap Kyuhyun, mendapati Heechul sedang mengupas buah jeruk. Sedangkan putranya masih memejamkan mata. Sekali lagi Yunho menghela nafas, meredakan emosi yang selalu meningkat tak terkendali jika mengingat penyebab utama Kyuhyun hamil, dan trauma yang dideritanya.

Tidak semua kesalahan Heechul. Dia tahu itu. Tapi tetap saja pria itu tidak bisa menjaga Kyuhyun-nya dengan baik.

"Apa dia sudah bangun?"

Heechul menoleh, lalu tersenyum tipis. "Tadi sempat membuka matanya, tapi dia tertidur lagi."

Yunho meletakkan kantong yang dia bawa kedalam lemari pendingin. Kemudian menghampiri ranjang Kyuhyun dan duduk sambil menggenggam tangan kurus putranya.

"Mianhae, Yun…"

Yunho tersenyum tanpa menatap Heechul. Matanya selalu ingin menatap raut polos putranya ketika tidur. "Gwencahana. Kita sudah memutuskan untuk tidak membahasnya lagi, Chullie." Yunho mengecup punggung tangan Kyuhyun dan tangan satunya mengelus lembut pipi yang tetap terlihat berisi.

Tak berapa lama sunyi, Yunho merasakan tangan Kyuhyun mulai bergerak dan tubuhnya menggeliat ringan. Sampai akhirnya kelopak mata itu terbuka perlahan dan sesekali mengerjap.

"Kyu…" Sergah Yunho dan Heechul bersamaan. Mereka langsung menatap lekat wajah Kyuhyun, sedangkan yang di tatap hanya memasang raut bingung.

"Aku panggil Jungsoo dulu." Heechul langsung beranjak keluar kamar.

Yunho tak henti-hentinya mengecup lembut tangan Kyuhyun dan keningnya.

"Ap…pa…"

"Ne?"

Kyuhyun mengulas senyum teramat tipis. Ternyata ia tidak sedang bermimpi lagi. Ketika tidur tadi, dia sempat memimpikan Jaejoong. Sosoknya begitu berbeda dengan yang selama ini ia temui.

Jika selama ini sosok Jaejoong dalam mimpinya adalah remaja berusia enam belas tahun, maka tadi ia melihat Umma-nya dengan sosok seorang pria tinggi yang lembut dengan wajah cantiknya yang sedikit berubah.

Suaranya bahkan terdengar lebih berat dan terlihat sedikit otot perut dibalik kemeja putih tipis yang dikenakannya. Dalam mimpi, Jaejoong banyak bercerita tentang masa lalunya dan Yunho. Wajah yang menampilkan begitu banyak ekspresi ketika bercerita entah kenapa membuatnya menjadi ingin memiliki keluarga utuh.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Kyuhyun-ah?" Jungsoo yang baru datang langsung mengecek keadaan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mengedipkan mata beberapa kali sambil tetap tersenyum.

"Bisa tinggalkan kami berdua, Yunho, Chullie?"

"Mwo?"

"Aku ingin bicara sebentar dengannya. Kalian tahu keadaan mental Kyuhyun sekarang."

Mengerti, keduanya segera keluar kamar meninggalkan Kyuhyun dan Jungsoo.

"Nah, bisa kau ceritakan perasaanmu sekarang, Kyu?" Jungsoo duduk ditempat Heechul tadi.

"H-hyung…"

"Hm?"

"Da-dadaku sesak…" Ucap Kyuhyun dengan suara yang bahkan nyaris berbisik.

"Wae? Ceritakan saja semua yang kau rasakan sekarang." Jungsoo menepuk pelan lengan Kyuhyun sambil tersenyum.

"Sa-saat di pesta… dadaku… sakit… rasanya ingin melihatnya seperti dulu… senyumnya… tapi kemarin… dia seperti orang asing… me-menakutkan, Hyung…" Kyuhyun bercerita sambil memejamkan mata. Mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan seorang Choi Siwon bertahun-tahun yang lalu. Ketika dadanya bergetar aneh melihat senyum manis pria yang selisih usia sepuluh tahun darinya. Tanpa Kyuhyun tahu, airmatanya meleleh perlahan.

"Kau mencintainya, Kyuhyun-ah?"

"Eh?" pemuda manis itu langsung membuka matanya, menatap tidak percaya dokter disampingnya.

"Airmata ini buktinya." Tangan Jungsoo menghapus jejak air dipelipis Kyuhyun. "Tanpa kau sadari, kau mencintainya selama ini…"

"A-aku…"

"Kau benar-benar mirip Jaejoong dulu. Yang berbeda hanyalah orang seperti apa yang kalian cintai. Usia bukan patokan seseorang untuk jatuh cinta, Kyu…"

"Hyung… apa Appa tahu… kondisiku?"

"Yunho sudah tahu semuanya. Kau tahu, dia sangat mencintai Jaejoong dan kau dulu. Jangan pernah berpikir kau sendiri, Kyuhyun-ah. Akan selalu ada kami yang menyayangimu… Mulai sekarang, tetaplah sehat. Untuk kami, dan untuk Uri Aegya yang kini tumbuh dalam tubuhmu… Dia pasti sedih melihatmu."

.

.

.

Kyuhyun mulai membuka matanya. Tautan kedua tangannya merenggang, kemudian menghela nafas ringan. Sekilas, kenangan masa kecilnya hadir. Kenangan ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di Seoul. Saat pertama kali bertemu Siwon. Saat ia mulai rajin kegereja bukan hanya untuk berdoa tapi juga ingin melihat Siwon.

Sejak dulu ia berfikir jika cukup hanya melihatnya dari kejauhan. Sebenarnya bisa saja ia mengatakan untuk menikah dengan Siwon. Toh itu termasuk perkara gampang untuknya yang mewarisi darah seorang Jung. Tapi rasanya akan sangat menyakitkan jika nanti bayinya lahir, dan menghetahui jika sang ayah adalah orang yang paling menolak keberadaannya.

Tangannya perlahan merogoh ponsel pada saku jaketnya. Menatap sendu sosok Siwon yang berhasil ia tangkap di kamera ponselnya.

"Siwon-sshi, kau sungguh tampan dengan kemeja putih itu." Kyuhyun tersenyum sembari mengelus pelan layar didepannya. "Tapi… Aku sulit menjangkaumu…" cairan bening mulai menggenang ditepi mata karamelnya.

"Aku akan mendoakan kebahagiaanmu… dengan siapapun kau bersama… kau harus bahagia…"

Perlahan, Kyuhyun mendekatkan layar ponsel pada bibirnya, mengecupnya lama. Matanya juga menutup, membuat genangan bening itu tumpah dan menyusuri pipi bulatnya. Di pelupuk matanya ia bisa melihat, betapa senyum Siwon sangat manis ketika bersama seorang wanita cantik saat di kantor dulu.

Kyuhyun akhirnya menekan tombol 'Delete'. Karena setelah ini, dia akan menghapus keberadaan Siwon dalam hatinya, sama seperti ia menghapus foto pria itu dari ponsel putihnya.

Bukankah sejak awal ia sendiri sudah menyerah tentang Siwon?

Kyuhyun mulai beranjak dari duduknya dengan hati-hati memegang perutnya yang sudah terlihat membesar karena usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Sesuai janjinya dulu, ia akan menjaga bayinya dengan baik. Ia tahu, yang mengharapkan bayi itu terlahir selamat bukan hanya dirinya.

Namun Yunho dan Heechul juga mengharapkan hal yang sama. Dia sudah begitu merepotkan Ayah dan Pamannya, inilah yang bisa ia lakukan untuk orang terpenting dalam hidupnya.

Kyuhyun melangkahkan kakinya keluar gereja. Berbalik sebentar, menatap gedung penuh kenangan indah untuknya.

Bibirnya tersenyum getir, "Selamat tinggal… Choi Siwon…"

.

.

.

Siwon melangkahkan kakinya memasuki gereja dengan lesu. Entah kenapa, dia kembali merasa seperti beberapa bulan yang lalu, ketika tiba-tiba jiwanya terasa kosong. Seolah sesuatu yang penting kembali pergi.

Pria Choi itu duduk dengan tatapan hampa kearah mimbar gereja. Ditolehkan kepalanya kesisi kanan, lalu mengelus dudukan disampingnya. Bibirnya kembali mengulas senyum tipis.

Dia ingat, dulu ada seorang bocah yang tengah khusuknya berdoa disampingnya. Bocah itu terlihat begitu menggemaskan dan sangat lucu ketika gugup.

Siwon terkekeh pelan. "Hei, adik kecil, bagaimana kabarmu? Mianhae…"

Airmata kembali jatuh tiba-tiba saat aroma camomille yang lembut, wangi khas bocah itu saat pertama bertemu, kembali menyapa indera penciumannya.

Kini Siwon menangis frustasi. Betapa bodoh dan jahatnya ia setelah sekian banyak luka yang ditorehkannya pada bocah sekecil itu. Di hentakkan kepalanya pada sandaran kursi didepannya beberapa kali sampai terlihat memar bahkan mungkin membiru.

"Mi-mianhaemian… Kyu, Mianhae…" Siwon sadar semuanya sudah terlambat dan hal yang dilakukannya percuma. Mengoceh tentang maaf pun tidak ada gunanya.

Keterlambatan adalah kesalahan terbesarnya.

Ketika ia tahu siapa Kim Kyuhyun yang sebenarnya. Seseorang yang dianggapnya 'Pelacur' selama ini.

Ketika ia mengingat memori-memori kecil yang terserak berantakan dalam kepalanya. Mulai ia ambil dan susun kembali layaknya puzzle.

Ketika ia menyadari, sosok kecil itu telah menawan hatinya sejak dulu.

Tanpa Siwon sadari, sosok lain tengah menatapnya perih. Sakit yang Siwon rasakan mampu diterimanya, membuat bulir-bulir cahaya jatuh dari tiap sudut mata indahnya.

'Jangan menangis, Siwon… Kumohon…'

.:::.

.:::.

Five years later

.:::.

.:::.

Siwon terbangun dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya memburu tidak beraturan. Sedangkan matanya melotot tidak percaya. Perlahan, nafasnya kembali teratur dan dia mulai beranjak untuk duduk.

Diusap wajahnya yang masih mengeluarkan keringat dingin akibat mimpi buruk yang selalu menghantuinya.

Entah sejak kapan juga, kejadian bertahun-tahun yang lalu menjadi mimpi paling menakutkan dalam hidupnya. Ia sadar kesalahan apa yang dilakukannya, dan ini adalah hukuman untuk hidupnya.

Dibawa tubuh kekarnya menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri karena setelah ini dia harus menjemput Umma-nya lalu kembali bekerja.

Hidupnya seperti kaca tipis, yang sekali dihentak akan pecah seketika.

Perusahaan besar keluarganya hancur dalam jentikan jari. Mendapati kekasihnya tidur dengan pria lain. Bahkan Ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal dua tahun yang lalu.

Dulu ia begitu kacau. Untung saja Hwang Group, keluarga Umma-nya masih bisa bertahan tanpa terkena efek kehancuran yang didapat keluarganya. Setidaknya sedikit membantu Siwon ketika harus merintis kembali semuanya sejak awal.

Sekarang dia berdiri didepan cermin yang seukuran tubuhnya, memakai baju formalnya kembali setelah sekian lama. Sangat sulit baginya untuk seperti sekarang karena hampir semua perusahaan menolak proposal ajuannya. Mereka tahu Siwon pernah gagal, dan tentu saja mereka tidak ingin ambil resiko untuk ikut gagal.

Meski wajahnya tidak secerah dulu, Siwon perlahan kembali pada dirinya sebelum semuanya terjadi.

Ya, dirinya sebelum kisah ini dimulai…

.

.

.

.

.

"Halmeoni… Halmeoni…" Seorang bocah laki-laki berlari kecil keluar dari gereja, mengejar seorang wanita paruh baya yang terus berjalan kearah taman kanak-kanak.

Wanita tua itu merasa mendengar sesuatu, lalu menoleh. Ia seperti melihat putranya ketika kecil dulu, berlari kearahnya. Sampai didepannya, bocah laki-laki itu menumpukan tangan pada kedua lututnya, berusaha mengatur deru nafas yang tidak stabil keluar-masuk.

"O-omo!"

Bocah itu mengangkat tubuhnya lalu tersenyum lebar, "Halmeoni meninggalkan dompet ini digereja."

"A-ah… Gomawo, ne…" Wanita tua itu berjongkok, hingga tubuhnya dan tubuh bocah itu setara. Dielusnya pipi bulat dan rambut hitamnya. Benar-benar seperti duplikat putra kecilnya dulu.

"Hyunnie…"

Panggilan itu menginterupsi keduanya.

"Umma!" melihat sang Umma mendekat, dia langsung berlari dan menubruk, memeluk pinggang Umma-nya.

"Apa yang kau lakukan disini, heum? Sudah Umma katakan untuk menunggu digereja, ani?" merasa gemas, orang itu mencubit pipi gembul putranya.

Wanita tua itu menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Kyuhyun-sshi? A-apakah dia… putramu?" Tanya wanita tua itu pada orang yang baru saja melamar menjadi guru ditaman kanak-kanak miliknya. Hanya tidak menyangka jika laki-laki yang tadi pagi baru ia temui telah memiliki anak diusianya yang masih dua puluh tahun.

Laki-laki itu tersenyum manis, "Ye. Dia putaku, Jung Wonhyun."

Next (?)

Akhirnya bisa update~

Saya ketawa puas liat review chap lalu XD

Siwon kelewat antagonis saya bikin ya? =w=a *SungkemSiwon

.

.

Guest – Dulu itu Yunho Cuma disuruh dateng kerumah sakit tmpt Siwon abis dihajar Heechul. Jd Yunho Cuma tau keadaan Siwon udah babak belur.

Orchid siwonest fadhlan wonkyu – emang ruwet =_= saya aja pengen cepet2 meng-ENDING-kan ini ff ;p

Everadit – ini review marathon jg kyknya ^^a efek fantasy ilang sejak kepergian JJ T_T. soal kemiripan Kyu dan YunJae selain kulit JaeKyu, pipi Kyu juga chubby sama kyk bapaknya tuh :D

Jawaban kebingunganmu Cuma 1, Cemburu. Awalnya Siwon memang sadar, tapi pas liat Kyu dateng sama Yun, hatinya panas (brb kipasin *plak!) dan yahh~ begitulah… siwon jd berpikiran macem2. singkatnya yg ada di otak(pabbo) Siwon itu "Gak dapet Choi, masih ada Jung".

Moceng – makasih suggest-nya ^^

Yujin Rei – saya berusaha nampilin chara sesuai wujud(?) asli mereka XD

The punishment for Siwon is begin~ *ikut evilsmirk

Yunho dan Jessica sodaraan tp gak deket. Soal typos, Mianhae~ *senyum innocent* masih berusaha lebih teliti dan meniadakan typos ^^v

Shixiel – Im glad if you love the plot ^^ Dan soal Karma, let see together~ ufufufufu~

GaemGyu92 – lama?! Padahal baru kemaren saya update *dirajam rame2

Wonkyushipper – bingung? Saya juga bingung gimana jelasinnya T^T *author pabbo!

Buat New Readers~ Annyeong Hasseo~ ^o^/

Semoga kalian menikmati Fanfic yg sangat membosankan ini. Mian saya gak balesin satu2, tapi review kalian saya baca semua kok ^^v

Afterword… mind to REVIEW again? ^^V