Ghost? Trust me or not , im fall in love with ghost

Chapter 10 "Where love begins to come alive"

Pairing: Gray X Juvia

Rated : T

Genre: Mystery, Romance, School life

"Gray, sampai kapan kau akan menyembunyikannya" Gumam Erza memandang ke bawah dengan mata berwarna merah darahnya.

Chapter sebelumnya..

Lucy yang menganggap semua perkara horror yang ia lalui bersama yang lain sudah selesai pergi merayakannya ke taman hiburan. Bagaimana cerita yang terukir nantinya di taman hiburan?

Hola, im back , sudah berapa lama aku meninggalkan fanficku? Ampun minna, bukan mauku, namun tugas yang diberikan juga tak kira-kira dari sekolah.

Pinggangku rasanya retak, dan otakku rasanya terkeluar minna. Maklum juga sih udah kelas 12, makanya dikasih tugas ini dan itu. Ok , daripada banyak curcol , lebih baik saya membalas review dari kalian semua

Juliani Scarlet : hayo, baca dulu nih XD iya xD hohoho xD maklum otoko normal XD sip, thanks reviewnya :3

Himiki-chan : hehehe, mungkin XD sip, thanks reviewnya :3

RyuuKazekawa : Hollaa~~ oro opo-opo XD #plak itu masih menjadi rahasia.. boo XD ya, hoho.. Erza mantep and thanks reviewnya :3

Kuze Scarlet Fernandes : Hehehe, thanks reviewnya ya :3

pidachan99 : heheh XD ok ok siap ojou sama , thanks reviewnya :3

Animers Lawliet : Okie, thanks reviewnya :3

Niha - chan The Nekoni : Hohoho XD makasih, mkasih juga masukkannya, diusahakan akan lebih baik lagi, ok ok akan kudatangi dan kuhantui kalau ada waktu , karna sibuk banget Thanks reviewnya salam neko XD

aderaHeartfilia : Heheh, :) iya, hoho.. sip.. akut ada devil #plak XD thanks reviewnya ya :D

Ok, kelar, saatnya back to story , jangan lupa rewiewnya ya karna dari review kalian yang bisa membangun saya, No Review, No juga lanjutin chapternya XD

WARNING: OOC, Alur abal dan kecepatan, Typo bertebaran, etc

L

O

A

D

I

N

G

...

Ghost, Trust Me Or Not, Im Fall In Love With Ghost Chapter 10

...

Setelah itu, Erza pun mengangkat wajahnya dan menunggu 2 insan yang membeli minuman itu kembali. Gray yang tak ingin jadi obat nyamuk untuk Erza dan Jellal pun sedikit menghindar.

"Ano.. Erza aku ke kamar kecil sebentar, tak lama, hanya beberapa menit, tunggu saja" Pamitku pada Erza dan berlari ke arah kamar kecil yang diikuti Juvia, aku ngos-ngosan dan mulai mengatur napasku kembali, perlahan tarik napas dan keluarkan.

"Juvia, kenapa kau mengikutiku?" Tanyaku padanya.

"Kalau tidak, aku takut kejadian tadi terulang kembali, Erza-san seperti bisa melihatku dan menatapku jelas Gray-sama" Jawab Juvia.

"Souka, apapun yang terjadi, ingat kau harus tetap di sampingku" Balasku padanya yang dapat anggukan kecil dari kepalanya.

"Ayo kita kembali, aku hanya tak ingin jadi obat nyamuk bagi mereka berdua" Ajakku pada Juvia, berjalan santai.

"Jadi Erza-san dan Jellal itu berpacaran ya?" Tanya Juvia.

"Ya, bisa dibilang begitu, namun sifat Erza itu susah ditebak, ia punya pemikiran aneh yang ada di otaknya sendiri" Jawabku sambil menopang kedua tanganku ke belakang kepalaku.

"Sou, langitnya cerah" Ucap Juvia mengalihkan pembicaraan.

"Ya, begitulah" Jawabku dan kami pun kembali, kebetulan Lucy dan Natsu juga baru sampai.

Setelah puas dengan minuman dan memesan makanan dan makan di sekitar tempat itu, kami pun mulai berpetualang mengitari taman bermain ini, dari permainan ringan seperti komedi putar sampai yang..

"Beneran ni jet coaster?" Tanya Natsu.

"Iya dong" Seru Lucy yang langsung memesan ticket untuk 5 orang.

"Aku bisa mati mual" Gerutu Natsu yang tak bisa menolak kehendak pacarnya.

"Sabar bro" Hiburku padanya, sedangkan itu, aku jadi ingat sesuatu dan aku pandangi Erza yang memandang jet coaster.

"Etto, Lucy , baiknya er.." Ucapku "Ah, tidak-tidak Gray, aku sudah beli ticket untuk 5 orang dan jangan membuang waktu untuk bersenang-senang, lagi pula kau takut dengan hal ini? Kau benar-benar cupu Gray" Ejek Lucy yang belum habis mendengarkan perkataanku.

"Bukan begitu tapi" Ucapku lagi "Yuhu.. nomor kita dipanggil , ayo" Ajak Lucy tanpa mempedulikan kata-kataku, dan ku lihat Natsu, melihat rel coasternya saja sudah memabukkannya, kasihan.

Sedangkan Erza, ia hanya hening, dan yang ku tahu, Erza itu agak takut dengan kecepatan yang berlebihan. Aku pun duduk di deret kursi kedua, deret pertama diambil Lucy dan Natsu sedangkan Jellal dan Erza berada di deret ketiga. Jet coaster pun mulai berjalan. Walau kota kami kecil, setidaknya taman hiburan jadi favorit disini. Pelan-pelan dan semakin cepat, mulai bergulir dengan rel coaster, ku lihat Natsu mulai mabuk dan Juvia yang melihat tanjakan menurun segera memelukku. Ya ampun, kalau ia bukan hantu, mungkin saja bagian tubuhnya yang sensitif tepat berada di tubuhku. Hah, otak hentaiku mulai lagi.

"Eh.." Jellal hanya tertegun melihat Erza yang menunduk dan tubuhnya bergetar seraya meraih jaket yang dipakai Jellal dengan erat.

"Ada apa Erza?" Tanya Jellal padanya, namun tak ada jawaban satupun, ia mulai mengerti ternyata Erza sedikit takut kecepatan tinggi. "Tenang, aku ada disini" Ucapnya menenangkan dan mengenggam tangan kiri wanita berambut scarlet itu, setelah perjalan itu berakhir mereka pun turun, dirasakannya tangan Erza seperti beku dingin sekali.

"Wah, wah, Jellal kau mencari kesempatan dalam kesempitan ya?" Tanya Lucy melihat mereka bergandengan tangan.

"Erza, kau tak apa-apa?" Tanyaku padanya khawatir.

"Ya, aku tak apa-apa" Jawabnya melepas tangannya dari Jellal.

"Bukan begitu Lucy, Erza agak takut ketinggian dan kecepatan yang tinggi" Jawab Jellal menolak ungkapan Lucy, sedangkan Natsu keliyengan tak karuan karna tadi.

"Ah, gomen Erza, aku tak tahu" Ucap Lucy meminta maaf.

"Tak apa-apa, itu sedikit memacu adrenalin Lucy" Puji Erza yang seakan tak gentar dengan hal tadi, dasar.

"Baiklah, kalau Erza ingin yang pelan, kita akhiri jalan-jalan kali ini ke kincir angin, gimana, ini juga udah nunjukkin jam 5 sore, semua pun setuju, sama seperti tadi, kenapa aku harus dikepit 2 insan? Untung saja, kali ini jarak kami berjauhan, kalau tadi gimana aku mau bicara dengan Juvia.

Perlahan kincir angin itu bergerak, ku lihat matahari mulai menampakkan warna keorange-an tanda matahari terbenam, setelah itu kami terheti sesaat 5 menit untuk melihat semua tempat yang ada di taman hiburan ini.

"Taman hiburan ini terlihat jelas dari sini ya" Seru Juvia yang dapat anggukan dan senyuman dariku.

"Kakkoi desu, kau lihat Natsu, mataharinya indah sekali" Seru Lucy menunjuk matahari.

"Hum, kau tahu, matahari takkan pernah padam, walau ia terbenam ia akan selalu menyinari di esok pagi, sama seperti aku yang bakal menyinarimu dan takkan pernah terbenam dan menggelapkan" Rayuan noraknya Natsu pada Lucy.

"Haha, begitulah" Jawab Lucy dan meletakkan kepalanya tepat di bahu sang pacar.

"Bagaimana perasaanmu? Sudah baikkan?" Tanya Jellal.

"Ya, kenapa aku harus satu tempat kincir angin bersamamu?" Tanya Erza.

"Mungkin takdir" Jawab Jellal menatap pada matahari sore itu.

"Kenapa aku ditakdirkan lahir menjadi anak tunggal di kuilku, apa aku tak bisa menjadi excorcist?" Tanya Erza lagi.

"Itu takdir yang dari lahir tak dapat diubah, namun untuk excorcist, aku kira kau bisa mengubahnya, ya kalau kau menjadi excorcist itu takdirmu, dan aku akan mendukungmu, jangan banyak dipikirkan, jalani dulu yang ada sekarang" Jawab Jellal lagi mendekat dan memeluknya, menenangkannya.

"Hum, thanks untuk tadi.. aku agak merasa baikkan" Ucap Erza mengalihkan pembicaraan.

"Kau harus katakan 'Jellal, arigatou' itu yang benar.." Balas Jellal merenggangkan pelukannya.

"Kau cerewet sekali" Jawab Erza, "Panggil aku Jellal, Erza" Ucap Jellal menatap tajam ke mata hazel wanita itu.

"Aku tak mau" Ketus Erza, "Kalau begitu takkan ku lepaskan" Ancam Jellal memeluknya lebih erat.

"Kau mengancamku?, akan ku hancurkan kau nan.." Sebelum selesai pembicaraan, sepertinya Erza sudah dihentikan oleh lembutnya bibir Jellal.

Angin sepoi melewati perlahan tiap detik, "Hei Gray sama" Panggil Juvia padaku dan kembali aku menatapnya.

"Menurutmu, disaat seperti ini, yang dilakukan pasangan adalah berciuman kan?" Tanya Juvia padaku dan aku mengangguk bodoh saja.

"Bagaimana kalau kita melakukannya" Usul Juvia kali ini menggila, ga mungkin lah, walaupun aku ingin.

"Tentu tidak lah, aku tak akan melakukan hal itu padamu tahu" Jawabku langsung. Mana mungkin aku menodai seorang hantu.

Setelah berapa lama, mereka menyelesaikan hasrat sepihak itu, Jellal. Erza hanya diam, ia tak mau, kalau ia buat onar pasti ketahuan nantinya kalau ada yang melihat. Jellal hanya mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celananya.

"Mungkin hal itu masih lama, tapi aku tak mau ada yang lain memilikimu, hanya aku, setelah kau dapatkan julukan paladin dan hebat di kuilmu, aku mau menikah denganmu, walau kuberikan sekarang, ini takkan tergantikan" Ucap Jellal mengalungkan cincin itu tepat di jari manis tangan kiri Erza. "Gantian" Sambungnya mengulurkan tangan kirinya pada Erza, Erza yang sedari tadi diam dan menunduk, mengambil cincin itu dari kotaknya dan memakaikannya, wajahnya mendekat, dekat dan semakin dekat, Erza mulai tunduk pada apa yang namanya cinta dan ciuman pertama pada pasangan pertama dan terakhirnya itu.

"Aku hanya bercanda, lagipula aku melihatnya dari komik tahu" Balas Juvia.

"Ya aku tahu itu" Jawabku menghela napasnya, Juvia hanya mempangkukan kepalanya pada bahuku.

"Ada apa Juvia?" Tanyaku, "Aku ingin selalu bersama, bisakah hal itu terjadi? Andai waktu terhenti, aku ingin selalu begini Gray-sama" Jawabnya yang membuatku menarik seulas senyuman dan "Tentu, aku juga ingin begitu" Jawabku.

"Janji?" Tanyanya mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Aku hanya tersenyum dan menggaitkan jari kelingkingku juga pada jari kelingkingnya.

Setelah terselesaikan, Jellal hanya tersenyum, "Boleh aku menangis?" Tanyanya pada Erza.

"Tentu tidak bodoh" Jawab Erza memanglingkan wajahnya yang memerah, "Biarkan aku melihat wajahmu" Balas Jellal.

"Tak usah, wajah seperti ini buruk" Tolaknya, namun Jellal bersikeras dan memutar pelan wajah Erza dan terlihat jelas, semburat merah di pipinya.

"Katakan 'Daisuki Jellal'" Ucap Jellal. "Kau ingin membuatku jadi pelayanmu hah?" Ketus Erza.

"Pelayan hidup matiku" Jawab Jellal yang dapat semburat merah lebih dari pipi Erza. 5 menit berlalu, perlahan angin mulai berhembus pelan menerpa rambut biru azure dan merah tua itu.

"Aku tak akan mengatakan hal bodoh seperti itu" Ucap Erza gagap yang dapat senyuman lebar penuh arti dari Jellal.

Setelah itu mereka turun dan terlihat mereka bergandengan tangan.

"Apa hubungan kalian mulai membaik, hei Jellal kau harus berterima kasih padaku" Ejek Lucy yang memandangnya, segera saja Erza lepaskan tangannya.

"Tidak, hubungan kami mungkin ada kemajuan, apalagi di saat tadi, Erza malah men.." Ucap Jellal yang dapat jitakan keras darinya lalu berjalan duluan dan meninggalkan sejuta pertanyaan untukku dan Lucy begitu juga dengan Natsu dan Juvia.

"Sabar, Erza itu memang begitu" Hiburku pada Jellal. "Aku tahu, semakin begitu, aku malah tak mampu melepaskannya" Semangat Jellal lalu mengejar Erza yang berjalan cukup jauh dan diikuti kami.

Lucy dan Natsu berada di depanku, dan aku dan Juvia di tengah sedangkan Jellal dan Erza di belakang.

Tak terasa hangat genggaman di tangan kiriku terasa dan aku juga menggandeng tangan halus perempuan berambut biru ini walau duniaku dan dunianya berbeda.

Hening antara Jellal dan Erza, Jellal hanya berbicara dan bercanda dengan Lucy dan Gray, sedangkan Erza diam.

"Ah, je..Jellal" Panggil Erza yang dapat senyuman dari Jellal. "Ah tak apa-apa" Balas Erza, lalu Jellal pun melanjutkan pembicaraannya dengan Lucy dan padaku.

Erza hanya meraih punggung besar lelaki berambut azure itu, menulis pelan dengan jarinya untuk memberikan isyarat pada pria itu, 'D-A-I-S-U-K-I' menulis itu tepat di punggung sang pria, namun tak ada hasil apapun, mungkin Jellal tak tahu.

Erza hanya menunduk, dan satu kata yang mengalun dari telinganya, "Suki da yo Erza" Ucapnya, ia tak menyangka Jellal tahu apa yang ia tulis.

"Pembicaraan itu tak terlalu penting, aku hanya ingin fokus bersamamu tahu" Sambungnya tersenyum dibalik matahari sore.

Genggaman hangat dari tangan sepasang kekasih itupun tulus terwujud.

Setelah mereka pulang, hanya aku dan Erza saja, "Gray, bisa kau lepaskan genggaman tangan itu" Ucap Erza tiba-tiba.

"Apa yang kau bicarakan Erza" Tanyaku, "Juvia Lockser, itu kan hantu yang ada di sebelahmu, tak perlu mengelak lagi Gray, aku tahu semua" Jawabnya yang membuatku shock, bagaimana ia tahu, apa yang akan terjadi dengan Juvia nantinya. Tuhan belum memihak sepenuhnya padaku.

TO BE CONTINUED

Bagaimana nasib Juvia nantinya? Apa yang akan Erza lakukan padanya? Apa yang akan dilakukan Gray jika Erza melakukan sesuatu pada Juvia? Berita booming Erza udah mulai jatuh cinta pada Jellal. Hahha, next chapter 11, keep waiting ^^