Title : When I Feel Lonely
Genre : Romance/Hurt
Rating : Fiction T
Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Choi Siwon, and the others members of Super Junior.
Disclaimer : All of them belong to themselves and GOD. I just borrow their name.
Warning : GS, OOC, Typo, Tijel, Aneh. Dont like dont read.
Review Chapter 9
"Hai Min." Sapa seseorang di belakang Sungmin. Bukan suara Vict, bukan suara seseorang yang dikenalnya. Suara orang asing.
Sungmin menoleh dan mendapati seorang namja berperawakan tinggi memakai topi menghampiri dirinya. Sungmin masih terpaku. Secara cepat tangan namja membekap mulut Sungmin dan membelakangi Sungmin. Membisikkan sesuatu ditelinga Sungmin, dengan lembut.
"Kau ingat aku?" tanya namja itu. Tubuh Sungmin menegang dan bergetar hebat.
"Sunbae..."
Chapter 10
"Dengar..." Namja itu berbisik pelan. "Kita tidak punya banyak waktu." Suaranya melembut. Sungmin masih bergetar. Nafasnya naik turun tidak teratur. Raut wajahnya menunjukan bahwa ia ketakutan, sangat ketakutan. Dalam hatinya terus meneriakan nama Kyuhyun. Tapi apa daya, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Tidak satupun.
"Hey, jangan seperti itu." Namja itu menyadari tubuh Sungmin yang bergetar dengan hebatnya. Wajahnya semakin pucat dari detik ke detik. Namja itu perlahan melepas tangannya dari wajah Sungmin dan membebaskan Sungmin untuk menjaga jarak sejauh mungkin dengannya menjauhi pintu. Namja itu berdiri membelakangi pintu.
"Nickhun sunbae...Wa-wae? A-apa yang ingin kau lakukan Nickhun sunbae?"Sungmin berjalan mundur dengan kaki lemasnya, serta dengan wajah pucatnya.
"Dengar sekali lagi Lee Sungmin. Kita tidak punya banyak waktu untuk seperti ini." Namja yang disebut Nickhun itu perlahan menghela nafasnya. "Victoria ingin menjebakmu disini. Victoria ingin melukaimu. Maka dari itu, sebaiknya kau pergi meninggalkan ruangan ini dan segera pulang, sebelum Victoria melancarkan aksinya dan kau yang akan menjadi korbannya."
"Mak-maksudmu apa sunbae? Aku tidak mengerti." Sungmin menegakkan badannya mendengar Nickhun menjelek-jelekan sahabatnya di depan dirinya. Victoria bukanlah orang jahat yang bisa mencelakai sahabatnya sendiri! Dia terlalu baik dan tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu!
"Min. Aku tau kau mungkin tidak akan percaya secepat itu. Tapi kumohon, untuk kali ini kau percaya saja. Aku tidak bohong, Aku serius dan-..."Nickhun menghentikan ucapannya ketika dilihat mata Sungmin melebar dengan raut wajah sangat terkejut.
Setelah itu semuanya berjalan begitu cepat, bagi Sungmin maupun bagi Nickhun.
BRRUAAAAK
Darah segar mengalir deras dari kepala sosok itu. Bau anyir memenuhi ruangan yang remang-remang dengan sedikit pantulan cahaya matahari. Victoria tersenyum kemenangan melihat siapa yang terbujur kaku dilantai tidak bergerak dengan batang besi yang sedikit terciprat darah di tangannya. Tidak terduga, karena pada awalnya sasarannya bukanlah dia.
"Kau bohong, Nickhun oppa. Kau berjanji untuk membantuku, tapi kau malah bersekutu dengan yeoja sial itu. Dasar bodoh." Victoria menatap Nickhun yang masih menganga dengan wajah sedihnya.
Nickhun tidak percaya apa yang ada di penglihatannya. Sungmin...Sungmin disana dengan darah merah pekat yang masih senantiasa mengalir. Kejadian tersebut terjadi dengan cepat, tidak sampai sepuluh detik dan seketika Sungmin berlari merebut tempat Nickhun berdiri. Nickhun terdorong dan mendarat dengan kedua lutut di lantai. Sedangkan Sungmin...Sungmin...
"Vic! Kau gila!" Nickhun berteriak dengan wajah merah padam dan gigi yang bergemeretuk hebat. Kedua tangan mengepal dengan kuatnya. Sungguh, yang Nickhun liat saat ini bukan seperti Victoria yang ia kenal dengan manis. Dia iblis, bahkan lebih jahat dari seorang iblis.
"Aku gila karena Kyuhyun. Kyuhyun memang membuatku tergila-gila padanya." Victoria tersenyum enteng. "Ah, sekarang giliranmu oppa. Untuk apa dia melindungimu? Padahal awalnya aku ingin membunuhmu terlebih dahulu. Kau mengkhianatiku. Kau mengahalangi jalanku juga, jadi..kau juga harus aku musnahkan." Victoria mengangkat batang besi tersebut kembali dan hendak melayangkan batang tersebut ketika Nickhun menghentakkan tangannya kuat-kuat menahan serangan dari Victoria.
Victoria terkejut Nickhun dapat menahan batang besi berkarat yang besar hanya dengan sebelah tangan. Nickhun menggeram. Matanya merah menyalang menatap Victoria yang masih melebarkan kedua matanya.
"Kau. Jangan pernah bermain-main dengan nyawa seseorang. Tolong ingat itu baik baik, Victoria Song." Nickhun memelintir lengan Victoria hingga ia menjerit kesakitan. Batang besi terlepas begitu saja dari tangannya. Nickhun mengunci pergelangan kedua tangan Victoria yang membuatnya tidak bisa kembali bergerak bebeas. Victoria meronta, bahkan berteriak kuat-kuat untuk mencari pertolongan. Bahkan percuma, ketika mereka hanya bertiga di gedung olahraga tersebut.
Nickhun mengeluarkan ponsel dengan tangan kirinya dan mengunci tangan Victoria dengan tangan kanannya. Tangannya yang lemas menekan tombol-tombol dan meletakan ponsel tersebut di telinga.
"Ambulans! Cepat kirim ambulans kesini! Cepat!" Nickhun membuka mulut dan mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas dan tidak saling berkesinambungan. Sungmin...Nickhun tidak tahu apa yang akan terjadi pada Sungmin dan apa yang akan menjadi reaksi Kyuhyun.
...
"Ada apa ini? Kenapa ada ambulans disini?" Heechul sedang berada di kantin dengan Donghae, Eunhyuk, Siwon, Kibum, dan Kyuhyun. Semuanya menoleh ke arah dimana Heechul menatap. Mobil ambulans dengan suara khas yang sangat mengganggu pendengaran, semua orang dapat melihatnya. Murid-murid segera menyingkir membiarkan ambulans tersebut berhenti di pekarangan depan lobby utama sekolah mereka. Apa yang terjadi? Semua orang pasti akan berpikir hal yang sama.
Suasana heboh mulai membuat pendengaran semakin bising dengan suara ambulans yang masih terus terdengar. Kyuhyun menunduk tidak peduli dan memakai headphone melindungi telinganya yang rasanya akan rusak sebentar lagi.
"Itu...Nickhun sunbae kan? Siapa yang ada dalam gendongannya?" tanya Kibum penasaran. Siwon menggidikan bahunya tanda ia tidak tahu. Begitupun yang lain hanya terus menatap kejadian tersebut dalam diam.
Kyuhyun yang masih diam dan memejamkan matanya mendengar suara musik rock yang bisa mengalihkan pendengarannya dari suara-suara diluar, merasa terusik ketika tangan Hyukjae yang duduk di sebelahnya menyentuh tangannya tiba-tiba dan meremasnya. Kyuhyun sangat terusik menghempaskan tangan Eunhyuk kuat-kuat hingga membentur meja kantin.
"Aish! Apa yang kau lakukan Hyuk! Kau sangat mengganggu!" Kyuhyun melepaskan headphone dengan muka yang sangat kusut. Frustasi dan merasa hari ini sangat terasa kapalanya yang memang agak pening dari awal menjadi sangat pening.
"Itu.. Sungmin?" Kyuhyun menolehkan kepalanya menatap kemana Eunhyuk menumbukkan pandangan matanya. Apa yang terjadi? Suasana masih sangat ribut dan Kyuhyun tidak melihat Sungmin dimanapun.
"Dimana? Aku tidak melihatnya." Kyuhyun masih saja menyebarkan pandangannya ke sekitar lokasi kerumunan itu dan tetap tidak melihat Sungmin dimanapun.
"Nickhun. Namja thailand itu. Itu Sungmin kan?" Eunhyuk sekali lagi menajamkan matanya melihat siapa yang berada dalam gendongan Nickhun yang berlari ke arah ambulans kalang kabut.
Kyuhyun terdiam. Matanya tidak bermasalah dan ia masih bisa melihat jelas siapa yang berada disana. Sungmin...Sungminnya terkulai lemas dengan darah yang masih terus menetes dari kepalanya, setetes demi setetes meninggalkan jejak seorang Sungmin.
Kyuhyun bangkit berdiri dengan terkejut. Orang-orang disekelilingnya merasa terkejut juga. Dengan sekali gerakan Kyuhyun berlari dengan cepat menerobos kerumunan yang sudah semakin banyak. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas. Sungmin dibaringkan diatas ranjang dorong dan perawat segera mendorong ranjang kembali kedalam ambulans.
"Aku ikut!" Kyuhyun berteriak sebelum pintu bagian belakang ditutup oleh Nickhun. Nickhun terpaku sejenak, lalu mengangguk dan membiarkan pintu terbuka lebar, memberikan izin Kyuhyun untuk masuk bersama dalam ambulans.
...
"Hyung...Hyung...Hyung..." Kyuhyun hanya bisa mengucapkan kata yang sama berkali-kali. Kedua mata obsidiannya tidak bisa berpaling dari Sungmin.
"Kyuhyun-ah..." Nickhun merangkul bahu Kyuhyun yang masih menegang, memijitnya pelan agar bahu itu bisa rileks sedikit saja. Meskipun Nickhun tahu tidak semudah itu.
"Hyung...Dia masih hidup kan? Dia tidak apa-apa kan?" Suaranya bergetar. Terdengar jelas ditelinga Nickhun. Nickhun memejamkan kedua matanya.
"Kyuhyun-ah. Maafkan hyung, karena melindungiku dari Victoria, Sungmin jadi seperti ini. Harusnya aku yang seperti ini, bukan Sungmin. Hyung terlalu bodoh untuk tidak segera menyeret Sungmin keluar dari gedung itu. Hyung yang bodoh, Hyung mohon maaf." Nickhun menundukan kepalanya meremas bahu kiri Kyuhyun.
Kyuhyun terdiam. Victoria. Dari penuturan singkat Nickhun, Kyuhyun sudah bisa menangkap apa maksud dari perkataan yang dilontarkannya.
"Dimana Victoria sekarang?" tanya Kyuhyun.
"Dia..Bodyguardku sudah menyeret dia untuk dibawa ke rumahku. Kalau aku biarkan dia sendirian, dia pasti akan menyakiti orang lain dan akan semakin banyak korban berjatuhan. Salah satu sasarannya adalah kau, Kyuhyun."
"Aku tidak tahu kalau dia seperti ini."
"Banyak cerita dibalik ini, Kyu. Akan kuceritakan jelasnya nanti." Nickhun menutup pembicaraan, dan tidak ingin membuka pembicaraan baru. Suda terlalu banyak hal yang terjadi hari ini dan membuatnya sakit kepala.
...
Dua jam sudah Sungmin berada dalam ruang operasi. Awalnya, hanya ada Kyuhyun dan Nickhun yang menunggu untuk Sungmin. Namun semakin lama, semakin banyak orang berdatangan. Mulai dari Donghae, Eunhyuk, Kibum, Siwon, dan Heechul. Kemudian Ryeowook dan Yesung, setelah itu ayah Sungmin. Dengan raut wajah yang relatif sama. Tegang dan takut, serta perasaan-perasaan lain yang bergabung dan tidak bisa diungkapkan.
Kyuhyun tidak berniat untuk menghubungi Ryeowook pada awalnya, namun ponsel Sungmin yang berada di kantung blazernya bergetar. Foto Ryeowook terpampang jelas dari layar ponsel Sungmin. Kyuhyun tidak ingin mengangkatnya, sungguh. Tapi ia takut diliputi rasa bersalah nantinya. Jika Ryeowook yang notabene sahabat terbaik Sungmin tidak tahu menahu dengan apa yang sudah terjadi pada Sungmin. Kyuhyun yang akan kena amukan Ryeowook nantinya.
Dengan berat hati Kyuhyun menangkat telepon dari Ryeowook. Mengetahui bahwa Kyuhyun yang mengangkat telepon, teriakan Ryeowook melengking tinggi dengan dahsyatnya dan memenuhi ruang telinga Kyuhyun. Kyuhyun mendecak kesal, namun ia sadar, bukan waktunya untuk mendecak seperti ini. Suasanya sedang genting dan tidak mendukung untuk membalas teriakan Ryeowook.
Dari telepon seberang Kyuhyun dapat mendengar isakan Ryeowook serta suara berat namja yang sepertinya sedang menenangkan Ryeowook yang terus saja terisak. Tak lama kemudian, namja itu berbicara dengan Kyuhyun, meminta lokasi rumah sakit, dan memutuskan hubungan telepon sepihak.
Setelah menunggu hampir tiga jam, seorang pria tua berjas putih keluar dari ruangan operasi, masih dengan baju hijau khas ruang operasi dibalik jas putihnya.
"Keluarga nona Lee Sungmin?" panggil dokter tersebut. Dengan segera semua orang yang duduk disana berdiri dan mengerubungi sang dokter.
"Saya ayahnya! Saya ayahnya!" Ayah Sungmin berdiri tepat dihadapan sang dokter dan salah satu tangannya menyentuh dada, meyakinkan dokter kalau memang dia adalah ayah dari nona yang masih berada di dalam.
"Operasi berjalan lancar." Satu kalimat yang dilontarkan sang dokter membuat semua orang disana menghembus nafas lega. 'Sungmin hidup', 'Sungmin masih bersama dengan kita', 'Terima kasih Tuhan' dan banyak kalimat-kalimat bahagia lainnya keluar dari setiap orang disana. "Nona sempat kehilangan denyut jantungnya sementara, mengingat keadaannya sangat kritis, kekurangan darah, dan anemia akut. Tapi dia berhasil diselamatkan. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap dan anda bisa melihat keadaan putri anda, Tuan." Dokter menyelesaikan kalimatnya dengan senyum yang terukir indah disana. Dokter juga merasa sangat bahagia, bisa menyelamatkan nyawa satu orang lagi.
Pintu ruang operasi terbuka sekali lagi. Berdiri beberapa perawat dengan ranjang dorong dan sesosok tubuh manusia disana. Kyuhyun tercekat. Wajahnya pucat pasi, sangat pucat, sangat lemah. Kepalanya ditutupi dengan segulungan perban putih. Masker oksigen menutupi sebagian wajah cantiknya. Infus menembus kulit tangannya. Kyuhyun tidak sanggup melihat Sungmin yang seperti ini. Tidak akan sanggup.
Ayah Sungmin melihat wajah putrinya yang masih terbaring lemah. Mencium kening yeoja itu sejenak dan membisikan sesuatu di telinga Sungmin yang masih terpejam. 'Terima kasih untuk tetap hidup, putriku. Ayah menunggumu bangun, dan menunggumu untuk memeluk ayah seperti biasanya. Ayah mencintaimu.'
...
Sungmin's Side.
Aku tidak tahu aku ada dimana. Semuanya gelap dan hanya tubuhku yang bercahaya diantara gelap yang terasa semakin membuatku tenggelam. Aku terus berjalan tapi tidak terasa benturan apapun. Ini aneh! Apa yang terjadi?!
Aku berlari mencari-cari dimana aku berada, namun aku tidak menemukan apapun. Tidak ada yang tersisa disini, bahkan seorangpun tidak. Dimana ayah? Dimana Ibu dan Sungjin? Dimana Ryeowook dan Yesung oppa? Dan dimana Kyuhyun?
Kemana mereka semua? Apa aku ditinggal sendirian?
Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepalaku, hingga rasanya sakit sekali dan ingin kupecahkan saja. Mataku terasa berat dan dengan perlahan menutup. Air mata mengalir sedikit demi sedikit tapi aku menghiraukannya. Aku menyeka kasar air mata yang jatuh di pipiku dan mulai bangkit untuk mencari jalan keluar.
Tapi apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku tidak tahu aku ada dimana!
Seberkas cahaya muncul dari samping, dan kemudian berhenti didekatku. Seorang yeoja berparas cantik tersenyum penuh arti. Aku hanya menatapnya bingung? Siapa dia?
"Annyeonghaseyo Lee Sungmin." Bahkan sekarang yeoja yang berumur sekitar berumur dua puluh lima tahun itu menyapaku, bahkan aku masih sempat untuk menebak berapa umurnya? apa yang harus aku lakukan?
"Kau terkejut? Aku tahu, tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun, hanya ingin mengobrol denganmu saja. Kenalkan, namaku Kim Hanna." Yeoja itu mengulurkan tangannya yang terlihat bercahaya ke arahku. Aku masih bingung, harus kuterima, apa aku biarkan saja?
Namun, dengan lembut yeoja itu menyentuh tangan kananku dan menepuk-nepuknya dengan kedua tangan miliknya yang bercahaya. Aku merinding. Apa aku benar-benar sudah mati dan sekarang bertemu dengan malaikat maut? Bahkan malaikat maut tetap cantik.
"Aku tahu kau mungkin masih bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu, bagaimana?" Yeoja itu menawarkan dengan Cuma-Cuma apa yang sangat ingin aku ketahui. Dia sangat cantik, bahkan ketika ia tersenyum, kadar kecantikannya semakin bertambah.
Aku mengikutinya berjalan menembus kegelapan dengan cahaya terang yang ada pada dirinya. Oh Tuhan, aku bingung dengan apa yang terjadi.
Kemudian semuanya berubah menjadi terang. Saat ini aku sudah berada di sebuah mansion besar yang terlihat sangat minimalis. Ini surga?
"Kau lihat itu?" Kim Hanna menunjuk pada sebuah keluarga kecil yang sedang tertawa di salah satu ruangan di mansion besar itu. Ada seorang ayah, ibu, dan anak laki-laki yang duduk memunggungiku di lantai. Mereka tertawa bersama dan terasa sangat bahagia. Aku jadi teringat dengan Sungjin. Bagaimana kabarnya? Aku sudah mati. Aku coba untuk meyakinkan diriku kalau aku tidak akan bisa bertemu dengan Sungjin lagi, aku sudah di surga bukan?
"Ya, aku melihatnya." Untuk pertama kalinya aku bersuara di depannya. Dia tersenyum dan kemudian menuntunku untuk duduk di salah satu kursi dekat keluarga kecil itu.
"Kau lihat? Keluarga ini sangat sempurna bukan? Itu aku, suamiku, dan anakku. Bahkan umurnya baru sembilan tahun. Ia hanya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu hanya untuk sembilan tahun." Kim Hanna menunduk sedih. "Tapi aku tidak menyesalkan itu, aku masih bisa melihatnya dari surga dan mengamati perkembangan mereka berdua." Kim Hanna tersenyum. Nah kan! Aku benar-benar berada di surga!
"Aku mengalami kecelakaan bersama keluarga kecilku dalam perjalanan pulang kembali ke Nowon. Saat itu hujan lebat dan bunyi guntur dimana-mana. Hujan turun sangat deras, sangat sulit untuk melihat jalan yang ada di depan. Namun sudah setengah jalan, bahkan anakku sudah merengek ingin tidur, dan mengaku tidak bisa tidur di mobil yang bergoyang. Hingga akhirnya kami terus melanjutkan perjalanan." Aku menolehkan kembali ke arah keluarga kecil itu. Nowon? Ah, aku juga pernah kecelakaan saat perjalanan kembali dari Nowon dan kembali ke Seoul. Nasib kita sama, Hanna eonnie.
"Akhirnya kecelakaan itu terjadi dan tidak dapat dihindari. Di tikungan yang tajam mobilku menabrak mobil milikmu, Sungminnie. Apa kau masih mengingat kejadian itu?" Aku terkejut dan menoleh kearah dia yang senantiasa tersenyum. Sungguh? Apakah ia mengada-ngada cerita untuk membuatku terkejut?
"Kyunie kecil ku peluk dengan erat,namun benturan yang keras membuat pelukan itu terlepas dan melempar tubuh kecil itu keluar dari mobil bersamaan dengan pecahnya kaca. Aku mendorong suamiku keluar dan akhirnya mobil menabrak pohon hingga terbalik. Aku belum meninggal saat itu. Aku masih kritis."
Kyunie? Nama anaknya eoh?
"Kemudian seorang yeoja kecil merangkak keluar dari mobil yang tertabrak. Dia juga sudah berdarah-darah parah terkena pecahan kaca. Tapi dia mengkhawatirkan Kyunie ku, di tengah hujan dia menyemangati Kyunie kecilku untuk terus bertahan, dan memberikan topi sebagai hadiah kenang-kenangan, bukti janji bahwa Kyunie ku akan bertahan. Itu kau Sungminnie." Kim Hanna menyentuh tanganku yang sedang berkeringat banyak. Entah kenapa ini membuatku merasa gugup.
"Kemudian kalian berdua sama-sama tidak sadarkan diri. Kau beruntung hanya mendapati luka luar di sekujur tubuhmu. Tapi Kyunnie ku tidak. Banyak tulang yang patah dan membuatnya koma selama beberapa bulan. Dan aku tidak bisa bertahan selama itu, aku meninggal di setelah koma selama satu minggu." Aku tidak dapat berkata apapun. Apa yang harus aku katakan?
"Dia seorang anak yang cengeng. Begitu sadar, dia mencari eomma-nya,tapi ia tidak dapat menemukanku, aku sudah meninggal. Dan disana dia menangis meraung-raung dalam kondisi terbaring. Dia tidak dapat bangun, bahkan hanya menarik nafaspun sulit. Namun dia malah menangis dengan kencang seperti itu."
"Dan sekarang kau bertemu lagi dengannya. Dengan Kyunie kecilku yang sudah tumbuh dewasa. Aku bahagia mengetahui Tuhan menetapkanmu untuk jadi belahan jiwa Kyunie ku. Karena hanya kau yang bisa membuat Kyunie ku tersenyum dan menemukan apa arti hidup Aku sangat mengharapkanmu Sungminnie."Aku tercekat. Kyunie? Aku sudah bertemu dengan kawan masa kecilku itu? Namanya Kyunie?
"Dia Cho Kyuhyun. Anakku bernama Cho Kyuhyun. Kau mengenalnya bukan?" Kim Hanna tersenyum menatapku dan aku hanya bisa diam dengan tatapan super terkejut. Cho Kyuhyun?
TBC.
Okaaaay! Mianhamnida. Baru aja selesai UAS hari ini dan langsung update kilat fanfic ini. Maafkan aku teman teman! Ketelatan fanfic ini memang tidak bisa ditolerir, aku sangat bersyukur kalau masih ada teman-teman yang menunggu fanfic tijel ini u_u dan maaf juga aku nggak bisa nulis siapa-siapa aja yang udah review, percayalah, aku baca semua review dari kalian:2
Ah iya, aku sudah free. Jadi mungkin aku bakal update ff baru juga setelah fanfic ini habis atau nggak pas fanfic ini masih jalan. Sepertinya sih fanfic ini akan selesai chapter depan. Dan akan digantikan fanfic baru.
Yang pasti bukan RESIGNATION U_U
Karena memang fanfic itu belum bisa aku publish karena ada masalah-masalah kecil hehe:3
Bocoran aja nih.. Fanfic baru ini berjudul Because Of Love. KYUMIN/BL. Chapter juga tidak akan banyak-banyak. Aku belum bikin apapun, idenya masih di otak, jadi, tunggu liburan dan mungkin aku akan update saat-saat seperti itu.
Gomabseumnida! Please review again! Tell me what you want to do with its ending! I'll compare it with my imagination too!
Best Regards,
Chengmin
