Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.

Warning: Shoujo, crack-pair, heavy drama banged deh pokoknya.

Warning lagi: Belakangan ini saya mendapati ada beberapa cerita saya yang disalin kemudian di-publish secara ilegal tanpa sepengetahuan saya. Meskipun ini adalah karya fiksi yang didasarkan pada karya milik orang lain, namun saya mohon agar para pembaca sekalian menghargai hasil kerja saya dengan tidak menyalin dan mem-publish cerita ini tanpa seizin saya. Terima kasih.


Chapter 10

Even Being Indecisive is A Decision

Ino Yamanaka adalah gadis yang baik. Sejak kecil, meskipun terkadang tanpa ia sadari, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk jangan pernah lari dari masalah. Namun seiring pertumbuhannya, terkadang Ino melupakan ajaran tersebut dan beranggapan ada beberapa masalah yang lebih baik kau lupakan saja. Yang terjadi di masa lalu hanya terjadi di masa lalu. Lagi pula kau tidak akan bisa memenangkan suatu lomba lari dengan melihat ke belakang, bukan? Kau harus selalu melihat ke depan!

Dengan pemikiran tersebut, Ino Yamanaka pun memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi antara dia dengan Kiba Inuzuka sore itu. Inuzuka adalah orang yang baik. Dia bersedia membantu Ino tanpa pamrih, dan Ino menghormatinya. Namun Ino tidak bisa mengerti peringatan Kiba yang menyuruhnya supaya berhati-hati pada Sasuke. Apa maksudnya? Memangnya Sasuke akan menyakitinya?

Walaupun sudah bertekad untuk melupakan kata-kata Kiba tersebut, namun bahkan setelah pulang berkencan dengan Sasuke, Ino masih tetap memikirkannya. Ya, kencannya dengan Sasuke sangat luar biasa. Sasuke menjemputnya sekitar pukul tujuh, lalu mereka makan malam di sebuah restoran perancis di pusat kota. Dan meskipun itu bukan akhir pekan, namun Ino bersedia ketika Sasuke mengajaknya untuk menonton bioskop hingga pukul sebelas. Ino hanya memperhatikan sepenggal-sepenggal saja dari cerita di film itu karena konsenterasinya sepenuhnya tertuju pada lengan Sasuke yang melingkari tubuhnya. (KYA!). Ino juga merasa dirinya melayang ketika Sasuke mengantarnya ke pintu depan rumahnya malam itu dan dengan sopan memberikan kecupan di pipinya.

Namun kemudian, ketika sudah mandi, berpiama, dan aman berada di bawah selimutnya malam itu, Ino kembali memikirkan kalimat Kiba. Apa yang harus ia waspadai dari lelaki yang sopan seperti Sasuke? Mungkinkah Kiba dan Sasuke saling membenci sehingga apapun yang Sasuke lakukan Kiba anggap pasti punya motif jahat? Tapi bukankah mereka satu klub? Aneh sekali jika teman satu klub saling membenci, apalagi klub futbol dimana kerjasama tim sangat menentukan permainan mereka di lapangan.

Keesokan harinya, Ino sama sekali tidak berjumpa dengan Kiba.

Ino tidak begitu memikirkannya, karena sepanjang hari itu entah mengapa Sasuke terus-menerus bersama dengannya. Diawali dengan kejutan Sasuke yang mendadak menjemputnya pagi itu, lalu mereka duduk berdekatan di kelas, makan siang bersama-sama, bahkan Sasuke menunggu Ino selesai latihan cheerleaders supaya bisa pulang bersama-sama (tim futbol tidak latihan karena hari itu dua hari sebelum pertandingan dan pelatih mereka ingin supaya mereka mengistirahatkan otot-otot sebelum pertandingan yang sesungguhnya).

Kebahagiaan Ino tidak berakhir sampai disitu, karena ternyata setelah mengantar Ino pulang, Sasuke kembali mengajak Ino makan malam di sebuah restoran seafood yang katanya sangat enak. Sasuke berjanji akan menjemput Ino kembali jam tujuh dan berharap si pirang sudah akan berpakaian rapi jam segitu.

Ino siap satu jam lebih awal dan menunggu Sasuke di teras depan rumahnya.

Restoran seafood yang dimaksud oleh Sasuke ternyata berada di salah satu kawasan kuliner yang menjadi tujuan wisata baik oleh turis lokal maupun mancanegara. Jalanan yang sempit itu diapit oleh restoran-restoran, kafe, dan bar yang menyediakan makanan khas berbagai negara. Di malam yang hangat seperti itu, jalanan tersebut sangatlah ramai.

Karena merasa ciut setelah melihat jalanan yang ramai tersebut, Ino meminta Sasuke supaya mereka makan dessert saja dulu sebelum makan malam yang sebenarnya dan menunggu hingga jalanan tersebut tidak terlalu padat.

Sasuke tentu saja setuju, dan menambahkan bahwa ia sebenarnya tipe orang yang lebih suka memakan dessertnya lebih dulu ketimbang makanan utama. Akhirnya mereka pun pergi ke sebuah taman yang tak terlalu jauh dari jalanan tersebut, kemudian Ino duduk sendirian di salah satu bangkunya, sementara Sasuke pergi membeli es krim.

Ino sedang mengecek ponselnya ketika sebuah suara yang familiar tiba-tiba menyapanya. "Yamanaka?"

Jantung Ino berdentum cepat. Ia menengadah dan menemukan Kiba Inuzuka berdiri di sana dengan kantong belanjaan di tangan kirinya.

"Hai."

Mendadak suasana terasa canggung, setidaknya bagi Ino. Karena terakhir kali mereka berbicara, Ino membanting pintu mobil lelaki itu di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan disini sendirian?" Selalu. Selalu saja nada yang khawatir tersebut. Ino tersenyum. Bahkan setelah Ino dengan kurang ajar membanting pintu mobilnya tempo hari, tetap saja lelaki itu mengkhawatirkannya.

"Aku tidak sendirian...aku-eh..." Ino mendadak kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa mengatakan pada Kiba, yang notabene memperingatkannya supaya hati-hati pada Sasuke, kalau dia sekarang sedang berkencan dengan lelaki tersebut.

Melihat Ino yang menjawab dengan terbata-bata, Kiba langsung mengerti, "Oh. Kencan sama Uchiha?"

Ino berdiri, mendadak tidak suka dengan nada suara Kiba yang seolah-oleh berkata seperti berkencan dengan Sasuke adalah suatu perbuatan dosa. "Ya. Kau sendiri?" balasnya dengan nada yang sama.

"Aku mau ke apartemennya Hinata. Giliran aku yang memasak makan malam untuknya." Setelah beberapa saat ia menambahkan, "ada Gaara juga."

Ino hampir saja tertawa membayangkan betapa canggungnya makan malam itu pasti. Gaara yang pendiam, Hinata yang pemalu, dan Kiba yang pastinya juga tidak akan banyak bicara.

"Well, aku harus pergi sekarang." Kiba tersenyum lagi, "Hinata dan Gaara pasti sudah sangat lapar."

"Ya, ini sudah hampir jam delapan."

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Kiba berbalik dan berjalan beberapa langkah. Ino sudah hendak kembali ke bangkunya, ketika Kiba tiba-tiba berhenti dan berbalik kembali ke Ino. "Kau tahu apa yang menggangguku? Kenapa kau mau berkencan dengan dia?"

Ino terkejut melihat wajah merengut Kiba. Dan ia tak menyukainya. "Dia maksudmu Sasuke?"

"Ya."

Ino tidak butuh waktu banyak untuk menemukan jawabannya, "Dia orang yang menakjubkan."

Tetapi Kiba hanya berdiri di sana, di hadapan Ino, tidak mengatakan apapun, meskipun matanya terlihat seakan-akan ia ingin mengatakan banyak hal. Setelah beberapa saat kemudian, Kiba kembali berkata, kali ini dengan nada yang lebih tenang, "dia masih bersama si Amano, kau tahu itu 'kan?"

Ino tidak tahu apa tujuan Kiba dengan berkata seperti itu, dan Ino mulai jengkel dengan sikap Kiba yang mendadak menjadi terlalu ingin ikut campur dengan urusannya. "Sasuke dan Amano hanya teman. Tidak ada apa-apa di antara mereka."

"Kau yakin tentang itu?"

Ino menyipitkan mata. Ia makin tidak suka dengan Kiba yang seakan-akan tahu segalanya. Dan Ino juga yakin Kiba ingin mengatakan sesuatu tentang Sasuke. Ia bukanlah orang yang dengan mudah bisa menginterpretasikan kalimat-kalimat yang tersirat, jadi Ino pun bertanya, "Inuzuka, jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, katakan saja. Aku mengerti kau tidak suka Sasuke. Jadi pikiran negatif apa tentang Sasuke yang ingin kau katakan padaku?"

"Baiklah." Ia mengangguk. "Orang itu tidak pantas untukmu."

"Tidak pantas?"

"Dia tidak peduli padamu. Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa menyadari itu?"

"Kurasa itu agak tidak sopan. Mengatakan dengan terang-terangan kalau seseorang tidak peduli padaku."

Kiba menggeleng. "Tidak, aku hanya ingin bilang kalau orang ini tidak bisa dipercaya. Dia berpikir menggunakan kelaminnya."

Mendengar itu Ino tersinggung dan makin marah. Jadi yang si Inuzuka maksud disini adalah Sasuke menyukainya hanya supaya bisa menidurinya? Sebenarnya apa yang orang ini inginkan? Mendadak muncul entah darimana dan mencoba menghancurkan kencan sempurnanya bersama Sasuke.

"Inuzuka, apa kau sengaja ingin menyakitiku, sengaja ingin menghancurkan kencanku dengan berkata seperti itu?"

"Menyakiti? Tidak! Aku hanya ingin melindungimu."

"Aku tidak butuh perlindungan. Apalagi dari orang sepertimu."

"Kau sudah dibutakan olehnya. Apa sih yang kau lihat? Tampang? Popularitas? Apa?"

Ino melihat ke arah lain dan berharap Kiba menghilang dari hadapannya saat itu juga. Ino merasa ingin menangis sekarang. "Sepertinya kau yakin bahwa aku adalah perempuan yang dangkal, ya? Baiklah, terserah kau saja." Kemudian Ino menemukan hal lain yang ingin digunakannya untuk menyerang Kiba. "Kau tahu, kau selalu mencari-cari cara untuk merendahkan Sasuke."

"Aku tidak sedang mencari-cari cara. Aku memberitahukanmu yang sejujurnya..."

Ino memutar matanya. "Kau pikir aku tidak melihat cara kau melihat...memelototi Sasuke? Kau pasti iri dengan Sasuke karena dia sangat sempurna. Dia tampan dan permainannya sangat bagus di lapangan, jauh lebih bagus darimu. Tentu saja Amano dan seluruh populasi perempuan di Amaterasu memujanya. Dia punya segalanya, tidak seperti kau, Culun."

Baiklah, yang terakhir itu sengaja Ino katakan supaya memprovokasi Kiba karena Ino sangat kesal pada Kiba. Dan dalam seketika Ino langsung menyesali kata-katanya.

Kiba mengernyit mendengar tuduhan Ino tersebut.

"Ah, sudahlah, aku tidak peduli. Lagipula siapa yang berkencan denganku itu sama sekali bukan urusanmu." Ino menyilangkan lengannya di depan dada, lalu melihat ke arah lain dengan ekspresi kesal.

Mereka berdua terdiam.

Ino melirik ke arah Kiba dan memperhatikan lelaki itu menunduk. Tampaknya ia sedang memikirkan gerakannya selanjutnya. Mungkin dia merasa tersinggung dengan kata-kata Ino barusan, apalagi mengingat banyaknya bantuan yang pernah Kiba berikan pada Ino. Kiba bukan musuhnya. Namun karena tidak ingin menurunkan harga dirinya, Ino tetap bertahan di posisinya.

"Iya," kata Kiba tiba-tiba.

"Hah?"

"Ya, itu urusanku."

Ino mengernyit. "Bagaima...?"

Sebelum Ino bisa menyelesaikan pertanyaannya, Kiba sudah memutuskan untuk menjawabnya. Dan jawabannya tidak dalam kata-kata, melainkan perbuatan. Kiba mendekat dan menarik Ino ke dekapannya. Tangannya menangkup wajah Ino. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Satu detik Kiba masih berada di sana, dan detik berikutnya Ino tiba-tiba bisa merasakan napas lelaki itu yang hangat.

Ino membeku ketika Kiba mendaratkan ciuman yang lembut itu di bibirnya.

Ino terkesiap.

Jantungnya berdetak liar di dalam tulang rusuknya.

Kiba memejamkan mata dan memagut bibirnya. Ciuman itu sangat salah, namun entah mengapa sensasi bibir yang lembut dan hangat yang menggoda bibirnya tersebut membuat Ino terbuai dan menyerah pada ciuman tersebut. Ino memejamkan mata, dan mendadak tidak lagi mendengar suara-suara di sekeliling mereka, suara orang-orang, suara mobil, angin, semuanya menghilang, yang ada hanyalah suara napas Kiba dan dirinya, serta suara degupan jantungnya.

Beberapa saat kemudian, Kiba melepaskannya. Perlahan-lahan Ino membuka mata. Tangan Kiba masih menangkup wajahnya. Sepasang mata yang cokelat itu melembut dan menatapnya dengan penuh perasaan.

"Aku hanya melihat satu orang saja dari populasi perempuan tersebut," bisiknya lirih. Dia tersenyum. "Aku menyukaimu, Ino. Makanya aku menjadikan itu urusanku dengan siapa kau berkencan."

Dia...suka aku?

Kali ini Kiba benar-benar melepaskan Ino dan mundur perlahan-lahan. "Pulang hati-hati, ya."

Tanpa penjelasan lebih lanjut tentang pernyataannya sebelumnya, lelaki itu pun pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Meninggalkan Ino terdiam di sana dengan wajah memerah, kaki lemas, dan bibir membengkak.

"Ino?"

Ino menoleh dan melihat Sasuke berdiri di sampingnya dengan dua es krim di masing-masing tangannya. Ia nampak bingung melihat Ino yang berdiri terbengong-bengong dengan pandangan kosong.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.

"Eh, ya. Aku baik-baik saja." Ino mengangguk-angguk. "Hei, terima kasih," katanya sembari mengambil es krim yang rasa vanila dari tangan kanan Sasuke.

Mereka berdua duduk di bangku yang tadi diduduki Ino sebelum Sasuke meninggalkannya.

"Kau tidak marah karena aku meninggalkanmu terlalu lama, 'kan? Aku tadi menerima telepon dari seseorang dulu." Ino bahkan tidak sadar bahwa Sasuke pergi selama itu. Pikirannya dari tadi hanya terfokus pada Kiba.

"Tidak, tidak. Tenang saja." Ino kemudian menjilati es krim-nya dalam diam.

Sasuke memperhatikan Ino. Hanya orang buta yang tidak bisa melihat perubahan dalam gerak-gerik gadis itu. Seharian ini ia memanjakan gadis itu dengan kasih sayang. Hingga tadi sebelum ia meninggalkannya untuk membeli es krim, Ino masih memandangnya dengan tatapan memuja. Namun setelah ia kembali, mendadak gadis itu hanya membalas ucapannya seadanya dengan pandangan mata kosong.

"Disini agak dingin, ya?" Sasuke memulai.

"Hmm, ya." Ino menjawab sambil lalu.

"Bagaimana kalau kita menghangatkannya?"

Dan mendadak tangan kanan Sasuke menangkup pipi Ino dan membuatnya menoleh. Ino terkesiap ketika ia mendapatkan ciuman keduanya malam itu.


Author's Note: Halo, teman-teman! Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca chapter 10 dari Mona Lisa. Mungkin kalian menyadari kalau chapter ini lebih singkat dibandingin chapter yang lain huhu. Namun tenang saja, sebagai kompensasi atas pendeknya chapter ini saya akan update chapter selanjutnya lebih cepat! (saat ini lagi ditulis kok hihi). Walaupun chapter ini pendek saya harap temen2 tetap dapet feelnya ya hehehe.

Kemudian saya mau minta maaf karena sekarang (lagi-lagi) belum bisa membalas semua review-review menakjubkan dari teman-teman. Menulis cerita ini saya sempatkan di tengah-tengah proses penulisan skripsi. Dan percayalah teman-teman, walaupun saya belum sempat membalas, namun kalimat2 yang teman-teman sampaikan pada saya selalu menempel di hati dan selalu menjadi obat penyemangat bagi saya untuk menulis cerita ini!

Meskipun demikian, ada salah satu review yang menunjukkan ke-erroran saya di chapter sebelumnya, yaitu review dari hyuuga nala. Saya akui ini adalah kesalahan saya. Dan untuk menjawab pertanyaan kamu, Kiba sedang berlatih untuk kejuaraan musim gugur, jadi setting cerita kita saat ini adalah di musim gugur maafin ya author yang sebenarnya hanyalah manusia biasa ini :""")

Saya udah ga sabar untuk baca pendapat teman-teman sekalian tentang chapter ini. Tentang pernyataan cinta Kiba, tentang sikap Ino, dan tentang sikap Sasuke. Sejujurnya saya sebelumnya sedikit merasa ragu membuat Kiba menyatakan perasaannya secepat ini. Namun karena satu dan lain alasan, saya yakin ini adalah waktu yang tepat.

Akhir kata, saya tidak bisa mengungkapkan betapa bersyukurnya saya bisa mempunyai para pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Ada banyak pembaca di seluruh penjuru FFN, namun pembaca yang setia? Tidak setiap hari kita temukan.

Terima kasih sudah membaca cerita ini, teman-teman!

Sampai jumpa di chapter berikutnya

Peluk cium,

shiorinsan