Couple cracks
..
.
../
Pojokan author :
Gomen nasai!! Authornnya sedang sibuk (heeh boong tuh) seperti biasa kotak ide shanaz penuh dengan manajemen manajemen perencanaan wilayah statistika oh ;v Gusti! Semakin mendekati semester2 akhir semakin susah.. dan sekali lagi gomen nasai!!
????
??
??
??
Happy reading .
"Sensei?"
"SEN-SEI?!"
"Ya?" ucap Hinata kembali ke alam nyata, akhir-akhir ini jantungnya sering berdebar kencang. Saat dicek jumlah detak jantungnya dalam satu menit ternnyata diatas normal. Apa dia beneran sakit?
"Sensei, sakit. Aku tak tahan. Sungguh ini luarbiasa sakit. Hentikan sensei. Gyaaa sensei tolong, kumohon!" ucap Sasori, Tuhan, kapan kapas beraroma alkohol itu akan Hinata sensei lepaskan dari luka di lututnya? belum pinset yang menyodok menyentuh lukanya. T..T
"Ah!! Gomen Sasori. Gomen" ucap Hinata menarik tanganya dan melihat luka Sasori.
Sasori menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dan mulai berguling. Ini beneran sakit tahu! Aaaa sakit sialan!
"Sasori?" tanya Hinata cemas.
"Aku akan istirahat disini" ucap Sasori menjauhkan Hinata sensei dan menarik tirai ranjangnya. Dia ngambek pada Hinata sensei "Pokoknya sensei! Argh!" teriak Sasori marah.
Hinata hanya meringis, dan berbisik maaf, yah habis lagi melamun mana ingat dia sedang mengobati, lalu sejak kapan Hinata melamun ya? Eto.. tiba-tiba saja dia memikirkan jantungnya dan diapun terhanyut.
"Hinata sensei" panggil Naruto sembari membuka pintu.
DUGGUDUGGUDUG! Hinata menekan dadanya yang mulai berdebar lagi, "Ya Naruto sensei, ada apa?" tanya Hinata setelah menarik nafas panjang, dia harus ke rumah sakit setelah pulang sekolah.
Penampilan Naruto cukup berantakan dengan kotoran menempel diseluruh tubuhnya, belum ada beberapa lecet dibeberapa area. "Aku menemukan seekor anak kucing terjebak dalam got, dia sepertinya butuh perawatanmu." Ucap Naruto. Ditangannya ada seekor anak kucing yang nampak lemas dengan beberapa luka.
"Letakan diatas meja" ucap Hinata sembari membawa kain. Kasihan sekali anak kucing ini. Hinata harusnya menjadi dokter hewan saja dulu. Haaah sudahlah nanti dia akan minta sekolah kedokteran lagi kalau bisa.
Dengan cekatan Hinata memeriksa kucing itu tanpa ada rasa takut, lukanya diolesi salep dan ditutup perban. Naruto melihat Hinata begitu menikmati pekerjaannya, andai dia juga bisa seperti itu. Dia harus mengurus klub sepak bola dan sekarang mengawasi seluruh klub belum dia menjadi guru olahraga. Merepotkan. Dia hanya ingin fokus mengajar dan klub sepak bola saja.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Naruto mendekati Hinata dan merendahkan tubuhnya, surai kuning tajamnya menyentuh pelan pipi Hinata.
Uah jantung Hinata mulai memberontak lagi. berpesta pora dengan fasilitas kelas wahid. ZIB AZIB AZIB ASOY! TARIK MAN- salah!! "Di-dia baik baik saja!!" teriak Hinata sembari menaikan satu jotos ke bawah rahang Naruto.
Buak! Naruto bisa merasakan ngilu itu cepat menjalar kemudian dia melayang. Melayang. Dan jatuh ke lantai. Dia K.O dengan sekali pukulan tak terduga dari Hinata. "Maaf menganggumu" ucapnya pelan.
"Na-Naruto sensei!" teriak Hinata. Dia tak sengaja. Sungguh tak sengaja, kamisama apa dia sudah durhaka pada suaminya? Apa ini yang disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT? Berapa hukuman untuk memukul suami sendiri? bagaimana bisa Hinata membela diri? Dia memang salah, dia akan akui semua yang sudah dia lakukan.
Sasori menghela nafas panjang, melihat pasangan somvlak dihadapannya, "Sensei, aduh.. aku bahkan tidak bisa memberinya komentar apa-apa" ucapnya sembari menggeleng kemudian kembali ke ranjangnya. Dia tak berniat ikut masuk kedalam hubungan somvlak mereka berdua. "Biarkan kami sama yang mengatur hubungan mereka."
"Tidak bisa begitu" bisik Rin.
"A-" Teriakan Sasori teredam bekapan Rin. Kapan si cewe menakutkan ini masuk?
"Aku masuk lewat pintu." Ucap Rin "Pintu darurat" tambahnya melihat alis Sasori naik. Tangannya menunjuk jendela ruang kesehatan yang sedikit terbuka.
'Itu namanya jalan maling' batin Sasori.
"Naruto sensei..." tanya Hinata mendekati Naruto yang terkapar. "Maaf" setidaknya dia harus membantu Naruto bangun sekarang dengan mengulurkan tangannya.
"Tidak masalah" ucap Naruto mencoba duduk dan menyambut tangan Hinata.
Ada sensasi sengatan listrik saat mereka saling bersentuhan. Kemudian. Bruak! Lagi Naruto terjengkang dan jatuh sementara Hinata memasang wajah bengong memikirkan sensasi yang baru dirasakannya tadi, apa itu sebenarnya? Manusia bisa mengeluarkan aliran listrik? Apa Naruto adalah Manusia super? Ahaha fikiran Hinata sungguh ngawur.
"Ittai" ringis Naruto memegangi pantatnya yang dua kali menghantam lantai. Dia ini kenapa sih?
"Maaf. Maaf" ucap Hinata dengan wajah serba salah. Ingin menolong lagi tapi bagaimana kalau sengatan itu datang lagi. Uuh dia harus bagaimana? Namun sekali lagi tangannya terulur untuk memberi bantuan.
Naruto segera berdiri dan melompat, dia bisa sendiri ko, lihat dia tidak kesakitan sama sekali. Dia sehat. Dia bisa jogging. Push up. Vertikal push up. Berdiri dengan satu tangan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hinata melihat tingkah Naruto.
"Aku sangat sehat sekali. Luar biasa sehat" jawab Naruto masih dengan gerakan senamnya. "Aku akan pergi ke kelas selanjutnya."
"Oke. Ah tunggu"
BLAM!
"Tidak apa-apa deh" ucap Hinata membuang plester ditangannya, dia manusia kuat ko, dia bilang sendiri dan semakin cepat dia pergi Hinata akan kembali normal.
"Lihat kita tak bisa berbuat apa-apa?" bisik Sasori.
"Ah aku tahu itu, hihihi" balas Rin terkikik.
Para gadis itu memang susah ditebak keadaannya ya? "kalo begitu..-Mau kemana kau?!" teriak Sasori masih dengan berbisik, melihat nanar Rin yang sudah berada di jendela siap melompat.
"Hehehe papay"
oOo
"Sensei, kapan kita berangkat?" teriak salah satu anggota klub sepak bola.
Namun Naruto terlalu sibuk berdiri dan mengamati orang-orang yang sedang keluar. Dia harus bilang, pokoknya harus bilang sesuatu, rasanya itu suatu keharusan.
"Sensei, sedang menunggu istrimu ya? ciw ciw ciee" teriak anak-anak sepak bola.
"Duh yang sudah punya kekasih kekal abadi"
"Kalau sensei bilang iya, kami sabar koo, asal sensei yang tanggung jawab sih."
'Dasar berisik' batin Naruto, sorry ya level Naruto itu pernikahan bukan cinta-cintaan anak SMA yang ingusan meler kemana-mana. Ahaha sekarang dia mendapatkan kebanggannya sebagai laki-laik jantan. Biasanya dia diejek sebagai perjaka tua suka anak gadis oleh anak-anak sialan dibelakangnya ini.
"Kenapa tidak tanya lewat email? Atau telpon dia?" celetuk seorang murid.
Glek, eeeh? Telpon? Email? Apa Naruto punya hal itu ya? tunggu, apa Hinata pernah bertanya nomor atau emailnya? Astaga Naruto penasaran mengecek ponselnya, tapi bagaimana kalau tidak ada, dan memang tidak ada! Alah, gimana nih? Tidak tahu kah muridnya kalau dia sekarang berwajah pucat bak beruang kutub?
"Cepat telpon saja sensei, atau mau kami telponkan? Kebetulan kemarin aku menanyakan nomor Hinata sensei, yah buat bertanya ini itu sih"
"Diam kau, Obito" desis Naruto dengan aura menyeramkan. Bagaimana ini? apa Naruto pura-pura saja? Malu kan kalau dia gak punya nomor telepon istrinya sendiri? kenapa dia bisa lupa.
Tangan Naruto yang memegang ponsel bergerak menipu kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. Dalam hati dia menghitung sampai 5, sebelum mengatakan Hallo.
1... 2... 3... 4... 5...
"Hallo-"
"Hinata sensei, kemarilah" teriak Obito.
Astajim, kenapa? Hinata melihat ke arah mereka dengan tatapan bingung dan yang jelas tangannya berada dikedua saku jas yang belum sempai dia buka.
"Sensei?"
"Hallo Nenek, ada apa tadi nenek menelponku? ahahaha tadi aku sedang mengajar. Ooh itu iya, iya nanti aku sampaikan" ucap Naruto dengan suara keras,
'Dia sedang ngeles ya?' koor mereka.
"Ada-" Hinata menghentikan ucapannya dan menghela nafas panjang. Dadanya berdebar lagi, apa Hinata jangan berlari ya? masa sih?
'Wah dia menghela nafas tepat dihadapan Naruto sensei, apa yang terjadi' batin mereka.
Empat siku-siku tercetak didahi Naruto, ada apa dengan helaan nafas itu? Seolah merepotkan hanya untuk berbicara dengannya? Tadi pagi juga dia menjotos dan mengerjai Naruto, oh jadi begitu, Hinata sedang kesal dengannya sekarang? Tapi Naruto tidak ingat apa yang dia perbuat 24 jam terakhir yang bisa membuatnya kesal?
"Kenapa menghela nafas seperti itu?" tanya Naruto sedikit berbisik.
"Haaah" tanpa sadar Hinata menghela nafas lagi, lebih kencang dan panjang. Padahal dia tidak suka bertemu dokter itu.. tapi tak ada dokter lain yang dia kenal sih.. haah Hinata malas deh ketemu sama dia.
"Hinata sensei, apa kau tidak suka mereka memanggilmu? Apa perlu aku gulingkan mereka?" tanya Naruto dengan sedikit menggeram. Dia sangat kesal, kenapa dengan Hinata ini.
"Sensei, kenapa jadi kami yang salah?!"
"Ah maaf! Maaf! Tadi aku sedang berfikir untuk mengunjungi temanku atau tidak" elak Hinata dengan cepat sembari mengibaskan tangannya.
"Kau tidak perlu bertemu dengannya jika kau tidak mau" ucap Naruto, "Teman yang merepotkan?"
"Dia sedikit gila sih.. tapi aku harus bertemu dengannya" ucap Hinata. "Aku ada pertanyaan penting untuknya" Hinata sedikit berbohong, yah dia tidak tahu apa penyakit ini bahaya atau tidak, kalau sudah jelas, dia bisa membicarakannya dengan Naruto nanti. Sekarang harus cek dulu.
"Kebetulan, aku ada pertandingan hari ini. aku hanya mau bilang aku akan pulang terlambat hari ini. tapi jika kau keluar.." ucap Naruto sembari membuka tas kecilnya dan menuliskan sesuatu. "Ulurkan tanganmu."
Hinata menurun begitu saja, dan mengulurkan tangannya pada Naruto. "Seperti ini?"
"Hm" Naruto segera menaruh kertas diatas tangan Hinata. "Aku ingin kau menyimpan ini. Dan hubungi aku jika kau sudah selesai, aku selesai pukul 4 atau 5 sore"
"Ba-baik, tapi aku tidak punya-"
"Sampai nanti sensei!!!" teriak anak-anak dengan ceria melambaikan tangannya.
Lah? Bagaimana Hinata menghubungi Naruto? dia kan belum punya nomornya? Lalu apa yang ingin Naruto sampaikan di kertas ini. dengan cepat Hinata membuka kertas yang terlipat itu.
Ini nomor dan emailku
"Souka..." gumam Hinata dengan wajah oh ini nomor dan emailnya.. eh? Dengan cepat wajah Hinata berubah ceria. Dengan bahagia tubuhnya berputar putar sembari mengangkat kertas itu tinggi tinggi..
Ini belum pernah terjadi padanya, bertukar nomor dengan pria! Dengan PRIA! Kamisama.. ternyata ini sangat membahagiakan batinnya. Hinata sangat senang.
Selagi berputar putar penuh bunga-bunga, anak-anak mulai berkumpul menyaksikan sensei mereka yang menguarkan aura kelucuan super, dia mirip anak kecil yang menerima sebungkus permen kesukaannya. "Sensei~" elu mereka.
"Sensei, kau sedang apa?" tanya Rin dengan wajah you know, kelakuanmu itu ga pantes buat orang dewasa.
Hinata berhenti dengan rasa malu maksimal. "Maaf, tadi aku senang sekali" ucap Hinata sembari menyembunyikan wajahnya dan berlari kembali ke gedung sekolah.
Mereka yang menonton menatap Rin dengan kecewa. Gara- gara dia hilang sudah tontonan menarik seorang guru.
"Apa hah?!" sewot Rin. Kawainya sensei itu harus dilihat Naruto sensei dulu! Kalian mah sana liat di harajuku, kalau yang kawai mah banyak disana.
oOo
Rumah sakit Konoha.
Hinata menghela nafas berkali-kali, entah kenapa rasanya enggan untuk datang kemari setelah sekian lama dan rasa traumanya juga.
Teriakan-teriakan dari ruang paling horror senantero rumah sakit setelah kamar mayat dan ruang operasi, ruang UGD slalu membuat Hinata merinding takut. "Tolong Temanku dokter!" "Pasien mengalami overdosis!" "Siapkan suntikan!" "Lukanya harus segera dijahit!" "Tidak! Ayah tidak mungkin stoke huhuhu!"
Tangan Hinata segera naik untuk menutup mulutnya, teriakan terakhir benar-benar membuat hati Hinata tergerak dan tersentuh "Ayah..." gumamnya.
"Hinata? Masih terbawa suasana UGD seperti dulu" ucap seorang gadis berambut blonde yang mengenakan setelan suster dengan noda darah pada seragamnya menepuk bahu Hinata.
"Ino! Darah! Darah!" tunjuk Hinata hampir pingsan kalau saja, gadis dihadapannya tak berwajah bodo amat.
"Aku menumpahkan saus tadi, kau bisa cium baunya? Ini saus tomat" ucap Ino kalem, Ah ini memang darah, hanya saja mendengar Hinata datang mencarinya, dia yang baru menangani pasien harus mencari sesuatu untuk menutupinya.
"Souka?" tanya Hinata segera segar kembali. Si Ino ini suka bercanda sih dari dulu, tapi...
"Kau harusnya menunggu diruang ganti saja" ucap Ino menyeret Hinata keluar dari UGD, sudah tau sering baver kalau masuk UGD, ni anak masih nekad juga.
"Habis kau lama sih.." ucap Hinata sembari mengikuti langkah Ino, mereka masuk ke salah satu ruangan yang bertuliskan dokter kandungan "Lah?"
"Aku bertugas disini, tapi karena dokternya sedang libur hari ini. Terpaksa aku membantu di UGD." Ucap Ino sembari mendudukan Hinata di Kursi dan meninggalkan Hinata untuk berganti pakaian. "Jadi ada apa?!" Teriak Ino dari kamar mandi
"Aku ingin periksa" Teriak Hinata.
"?!?" belum juga Ino ganti seragam, Ino segera membuka pintu kamar mandi dan segera mengobrak abrik lemari obat. "Kau yakin kau mau periksa sekarang?" tanya Ino antusias.
"Iya, habis besok aku harus kerja lembur" Hinata mengingat Laporannya yang sempat tertunda dan Kepala Sekolah menagihnya tadi pagi!
"Sebaiknya jangan kerja- ah kita harus periksa dulu. Ini cek dulu" ucap Ino memberikan testpack pada Hinata. "Kalau positif, akan aku USG"
Hinata menerima alat itu dengan wajah bingung. Matanya bergerak melihat antara Ino dan alat ditangannya.
"Jangan ragu, itu 99,99 persen akurat untuk mendeteksi kehamilan" Ino meyakinkan Hinata.
Setelah Otak Hinata tersambung, akibat loading yang cukup parah. Seketika wajah Hinata berubah merah sempurna. "Aku belum pernah melakukannya" ucap Hinata pelan.
"Tidak apa, wanita sering gugup dan malu jika menjalani tes seperti ini untuk pertama kalinya"
"Bukan, tapi aku belum melakukan itu, s.e.x." ucap Hinata suaranya hampir tak terdengar.
Ino yang adalah sahabat sehidup sematinya sejak jaman kuliah dulu, tak pernah ada rahasia diantara mereka. Baik Ino maupun Hinata slalu blak-blakan membahas bahkan sampai hal yang paling sensitif tanpa canggung tapi hari ini, tiba-tiba saja Hinata jadi canggung dan malu.
"APA?!" teriak Ino tak percaya. Bagaimana bisa? "Ini sudah hampir sebulan lebih loh Hinata?"
Bibir Hinata maju dengan wajah sedih, "Kami bahkan tidak sekamar, dilihat sih dia sama awamnya denganku" 'dan dia hobi pake lingerie.' tambah Hinata dalam hati.
"Pfft" Ino membungkam mulutnya yang hampir tertawa lepas. Salah satu doa Hinata adalah memiliki kekasih atau suami yang lebih berpengalaman dalam hal cinta. Selama 4 tahun sekolah mereka, setiap tahun baru, itulah doa Hinata,
"Jangan tertawa" ucap Hinata tidak terima.
"I-iya, aku ga HAHAHAHA" Ino kelepasan tertawa, habis kalau ditahan-tahan ga baik untuk kesehatan Ino sih.
"Ino pig!" teriak Hinata.
Kepala Ino hanya mengangguk, Hinata tunggulah sebentar ini tidak akan lama. Ino segera membenturkan kepalanya ke dinding, sembari bergumam. Tertawa itu jahat!
Hinata memberi Ino kompres dingin untuk dahinya yang terluka, setelah hampir menghancurkan dinding ruangannya, Ino mendapatkan kembali dirinya. "Jadi, periksa apa?" tanya Ino
"Jantungku, akhir-akhir ini sering berdebar dan terasa sakit" ucap Hinata
"Itu memang bisa jadi penyakit berbahaya" ucap Ino kemudian tersadar dengan helaan nafas Hinata, masa sih? "Kau mau bertemu dokter patnermu itu? Yang sedikit gila itu?"
Tak kuasa menjawab Hinata hanya mengangguk dan dihadiahi wajah syok dari Ino. "Kau yakin dia ada disini? Si mata panda itu?!" tanya Ino. Seriusan, bahkan diapun tak tahu kalau dokter itu bertugas disini.
"Iya. Dengar ya, ayahnya pernah menjadi kepala rumah sakit disini, dia sendiri yang bilang dia akan mengalahkan semua rekor dan teknik yang ayahnya lakukan untuk menjadi the greatest doctor surgeon yang begituan" ucap Hinata dengan wajah, kau harus percaya padaku.
"Hei, jangan bawa produk orang Hinata" ucap Ino.
"Maaf, keceplosan" jawab Hinata. "Tapi dia beneran ada disini loh, kamu beneran ga tau Ino?"
"Coba, Bagian bedah ya? mungkin disayap Kiri." Ino memegang dagunya sembari berfikir, Ruangannya ada di sayap Barat dan dia belum pernah main ke sayap Kiri. "Aku memang pernah dengar dokter yang ahli yang ada di sayap kiri. Tapi masa dia sih?"
"Ah iya, dia di sayap kiri" ucap Hinata sembari memperlihatkan ponselnya dan isi balasan pesan untuk dokter panda beberapa detik yang lalu.
"Lalu kenapa kau mampir kesini huh?" ucap Ino sembari melipat tangannya didepan dada, jadi dia hanya singgah dan memastikan kalau dokter itu ada? Begitu?
"Yah aku fikir untuk singgah dan memastikan dokter panda ada. Sekalian melihat sahabatku juga" jawab Hinata.
"ARGH! Kenapa aku harus berteman dengan orang polos sepertimu Hinata?!" teriak Ino, kejujuran Hinata terkadang membuat Ino putus asa.
Hinata hanya memberi Ino cengirannya, perlahan tubuhnya berdiri dan mengincar pintu keluar sebelum Ino sadar. "Baiklah, aku akan pergi kesana dulu"
"Kau dengar tidak sih?!" teriak Ino lagi, bodo ah. "Aku bukan lagi-"
"Aku menyayangimu, ayo shopping jika aku mendapat liburan!" ucap Hinata sembari menahan pintu agar Ino tak mengamuk dan menyerangnya.
"Kita sudah terlalu tua untuk bermain seperti ini Hinata" ucap Ino berdiri dibalik pintu. Evil smile terpasang dibibirnya, Kena kau.
Iya sih, Sudah sejak tadi Hinata menunggu Ino memutar kenop pintu dengan kekuatan gorila betina tapi sepertinya Ino tidak terpancing untuk bertindak kasar. "Kau benar" ucap Hinata sembari melepas kenop pintu.
"Aku sudah belajar dari masa lalu sekarang" ucap Ino dengan cepat membuka pintu dan menyerang Hinata yang syok berhasil ditipu Ino.
"Jadi, bagian mana yang harus aku hukum?" ucap Ino menahan kepala Hinata dengan tangannya.
"Maaf! Maaf Ino!"
"Tiada maaf Hinata, akhirnya aku bisa menipumu juga."
"Uhuk, Ino..." pinta Hinata bersiap memelas dan memberikan Ino serangan imut ala Hinata.
"Suster Ino, apa yang sedang anda lakukan?!" suara berwibawa itu membuat Ino segera melepaskan Hinata dan berdiri dengan tegas. Itu suster kepala yang lebih horor daripada hantu penunggu kamar mayat yang sedang hits jadi bahan gosip dirumah sakit.
"Tindakan anda tidak bermoral, merusak citra sebagai suster dan nama rumah sakit ini, apa anda tahu apa yang anda lakukan berpengaruh pada rumah sakit... bla bla bla" suster kepala menasehati Ino selama hampir dua jam dikoridor dan diteruskan diruangannya. "Apa anda mendengarkan, suster Ino?" tanya suster kepala.
"Saya mendengar anda, Suster kepala" ucap Ino, dalam hati dia mengumpat, dasar. Kalau sudah tertanggap sama Suster kepala seperti ini, siapapun tak bisa berkutik sampai persediaan kosakatanya habis.
Hinata mendoakan keselamatan Ino sembari kabur, baik disekolah maupun rumah sakit, model penjahat wanita kedisiplinan sama semua. Menyeramkan.
oOo
Hinata tidak tahu kalau bertemu dengan dokter panda itu alias Sabaku Gaara mantan couple dalam hal sadisme dan praktek dengan mayat hewan akan menguncang batinnya seperti ini, terlebih Hinata tidak pernah lupa suara tawanya.
HAHAHAHA
Dengar? Sekarang dikepalanya terngiang suara tawa dokter panda yang membuatnya ikut bersemangat (itu dulu sih)
HAHAHAHA
Hinata menangis sembari menggeleng, dia tidak bisa mengenyahkan suara tawanya hingga hari ini. Tuhan...
"Lagi, Dokter Gaara kenapa?" ucap dua suster yang sedang bertugas, "Dia sangat menyeramkan kalau sedang kumat seperti itu"
Hinata menyeka airmatanya yang terlanjur keluar, jadi...
HAHAHAHA
Itu bukan khayalan Hinata ya? Memang sih ruangannya tepat dihadapan Hinata sekarang, duh Hinata harus ngomong bagaimana nih? Apa harus seperti dulu.
"Hallo dokter Gaara, masih suka membedah mayat hewan, seperti dulu? Ha. Ha. Ha." Ucap Hinata mengetes suara psikopatnya dulu. Tidak, ini terdengar dipaksakan.
"Hallo, aku sudah sembuh dan sekarang menjadi perawat sekolah loh, dan aku sudah menikah" kali ini Hinata bernada ceria yang ga benget untuk dia pakai. Ini malah lebih maksa dari yang diatas tadi.
Ah! Hinata pusing, bodo amat lah, sekarang dia pasiennya. Syukur kalau Gaara tak mengenalinya tapi mengingat dia mengirim pesan pribadi untuk check up, tentu saja dia tahu siapa Hinata!
"Permisi?"
Suara tawa itu masih menggema, dari balik komputer, rambut merah meyembul sembari menyeringai. "Oh suster Hinata" ucapnya tanpa mau repot-repot berdiri.
"Apa kabar, dokter?" tanya Hinata basa basi sembari duduk di kursi dihadapan Gaara. Sekarang terlihat jelas kalau dokter muda itu tidak berubah sama sekali.
"Tunggu sebentar, aku ingin menyelesaikana ini" ucap Gaara.
Kemudian tawa yang sama bergema kembali. Inilah yang Hinata tangiskan. Wajah Gaara dengan sifatnya yang humoris tidaklah cocok! Hinata tebak dia pasti sedang menonton funny video animal di channel you*be.
"Kau tidak berubah ya, dokter. Citramu buruk diluar sana loh" ucap Hinata setengah berbisik.
Gaar mengehela nafas, "Hidup tanpa hiburan itu.. bagai hidup tanpa air" ucap Gaara, orang rumahpun sering memperingatkannya, kalau tertawa Gaara itu tidak lucu sama sekali. "Jadi, apa kau ingin membedah bersamaku lagi?" tanya Gaara sembari menyeringai dan memperhatikan Hinata.
'Dan sifat psikopatnya masih ada.' Batin Hinata meringis. "Aku tidak melakukannya lagi" tolak Hinata.
"Ayolah ini menyenangkan. Sayat sana. Sayat sini. Belah. Gunting. Ah ini membuatku ingin segera ke ruang operasi" ucap Gaara.
"Aha.ha.ha" tanggap Hinata. "Kau sudah baca pesanku? Aku kesini jadi pasienmu"
"Karena nostalgia tadi, aku jadi lupa." Ucap Gaara sembari membuka buku catatannya. "Jadi kau merasa sakit di dadamu? Dan sering kali berdebar?"
"Ya"
"Kapan tepatnya itu dimulai?"
"Beberapa hari yang lalu, ketika aku kemah"
"Kau punya riwayat alergi? Atau sesuatu yang diturunkan dari keluargamu?"
"Sepertinya tidak?"
"Bagaimana dengan hari ini?"
"Aku merasakannya 2 kali."
"Kapan tepatnya itu?"
"Kufikir saat aku bersama suamiku tadi pagi dan tadi siang"
"Sua- APA?! Kau sudah menikah Hinata?" tanya Gaara tak percaya.
"Yah begitulah"
"Padahal aku akan melamarnya, sial aku kecolongan." Gumam Gaara. Hinata ini jenis manusia langka yang bisa satu fikiran dengan Gaara. Jika mereka menikah maka akan ada obrolan tentang sayat, gunting, potong setiap harinya. Memikirkannya saja sudah membuat Gaara senang. Sial! Gara-gara mengkhayal terus, dia lupa untuk segera melamar Hinata didunia nyata. KUSO!!!
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Hinata, sepertinya dia dengar kata melamar tadi?
"Tidak ada" ucap Gaara. "Tunggu sebentar" Gaara memeriksa kembali catatannya bersama Hinata "Ulurkan tanganmu" perintah Gaara.
Hinata mengangguk dan mengulurkan tangannya agar Gaara dapat memeriksa denyut nadinya.
"Apa kau berdebar sekarang, Hinata?" tanya Gaara, denyutnya normal.
Hinata menyentuh dadanya sembari berfikir. "Tidak."
"Ah gawat Hinata!" ucap Gaara tak percaya dan baru sadar, astaga Hinata ini polos banget ya? masa sih, sebagai dokter dia tidak bisa mengambil keputusan berdasarkan takhayul seperti ini. Tapi dari riwayat catatannya yang ganjil ini dapat Gaara pastikan. Tapi untuk jaga-jaga dia akan memeriksa Hinata lebih lanjut lagi.
"Ada apa? Apa jantungnya sakit parah?" tanya Hinata cemas, jadi..
"Ah sebaiknya kita periksa lebih lanjut, Hinata" ucap Gaara.
Hinata hanya menurut dan mengikuti Gaara untuk diperiksa di bangsal pasien, beberapa test juga Hinata lakukan hingga rotgen dan x-ray dihari itu juga.
"Tidak mungkin" ucap Gaara saat mereka kembali memeriksa hasil test Hinata. jantungnya sangat sehat.
"Berapa lama lagi aku akan hidup, dokter? Jangan buat aku takut dong!" ucap Hinata berkaca-kaca. Apa yang harus dia katakan pada Naruto nanti?
"Hinata, kau.."
"Dokter Gaara... hiks"
"Kenapa kau malah menangis?" tanya Gaara bingung, harusnnya ini kabar gembira sih.
"Habis kau bicaranya begitu" tuding Hinata. "Seolah-olah.. aku akan mati" sekarang Hinata beneran menangis.
"Mana mungkin kau mati"
"Eh?"
'Dia ini... aduh' batin Gaara. "Tenang saja, penyakitmu itu dinamakan penyakit jatuh cinta"
"?!? Penyakit apa?" tanya Hinata memastikan.
.
.
.
TBC
