Balasan Review :

tctbcxx : ah,, iya jonghyun dicerita ini emang jelek banget, saking jeleknya dia nyamar pakai muka orang lain. ^^

misslah : Syukur kalau tambah seru, sempet kuatir feelnya makin kesini makin gak dapet ^^

Hunhan794 : iya dear.. ini udah dilanjutin ^^

Hwang Cha Sun : masih belum banyak yang terungkap... btw di chapt sebelumnya udah dijelasin sama yifan kalau si Hyorin itu juga pemilik Luxion, cz mereka berdua yang membangunnya... otomatis Hyorin juga berkuasa disitu bedanya, kalau Lay itu kan Ratu dalam artian istri Raja, kalau hyorin Ratu dalam artian penguasa. ^^ ceritanya emang sedikit absurt wkwkwkwk...

Park RinHyun-Uchiha : Batal deh nguyel si chan,,, wkwkwkwk ^^ Baek gak papa kok, diakan strong... :D

Seravin509 :Next chapt dalam proses ^^

deerbee : Ini udah next kok.. ^^ Sehunnya ngenes dulu deh .. wkwkwkwkw

thank's buat yang udah Review, makasih banyak udah nyempetin mampir ^^ #Bow

.

ENJOY READING^^


.

Story Of Fantasi

Luxion Guide

Cast : Oh Sehun

Luhan (GS )

and other EXO member,.

[ Chapter 10 ]

.

"Aku mencintaimu...

Aku bilang aku mencintaimu, dan esok akan lebih dari ini."

-Sehun-

.

Lima hari telah berlalu sejak kejadian hancurnya perpustakaan . Pihak sekolah menenangkan para siswa bahwa runtuhnya perpustakaan dikarenakan akan adanya pembangunan atau renovasi ulang. Sang kepala yayasan yang notabenya adalah Lay menjelaskan pada dewan direksi dan para guru jika ia mengirim ibu guru Taeyeon dan Tiffany untuk tugas mengajar diluar kota selama Tiga minggu. Sementara putri kandungnya beserta Sehun anak angkatnya telah diijinkan untuk tidak masuk sekolah karena urusan keluarga.

Semakin hari manshion terlihat lebih suram, Taeyeon dan Tiffany yang sudah mendapatkan pengobatan dari Lay, masih terlihat lemah ditempat tidur karena dalamnya luka yang mereka terima. Berbeda dengan Baekhyun langsung berlari menuju kamar Luhan, setelah perbannya di lepas dan diijinkan untuk berjalan. Hal itu tentu saja membuat Chanyeol khawatir dengan penampakan didepannya, memanggil Baekhyun berkali – kali dan menyuruhnya untuk berhati hati bukan kata yang menarik untuk didengar oleh gadis bereyeliner itu, dengan sekali angkat Chanyeol membopong Baekhyun menuju kamarnya sebelum Baekhyun sempat masuk ke kamar Luhan.

"Kau gila?!" Kata pertama yang keluar dari mulut Chanyeol, setelah membaringkan Baekhyun di tempat tidur. "Apa kau tidak tau seberapa khawatirnya aku, kau baru sembuh dan lansung terbirit birit seperti itu." Baekhyun hanya diam, ia tahu tak ada gunanya membantah Chanyeol disaat seperti ini.

Melihat baekhyun yang hanya menunduk Chanyeol menggenggam tangannya, memberi pengertian disana, "Aku tak ingin kau terluka baek, mendengarmu kesakitan beberapa hari ini, sudah cukup membuatku hampir gila"

Baekhyun menatap mata coklat chanyeol, terlihat rasa tulus dan khawatir untuknya disana, membuat baekhyun tetap diam.

"Kau istirahatlah, panggil aku jika butuh sesuatu." Chanyeol berdiri lalu mencium baekhyun tepat dibibirnya dengan penuh kelembutan, lalu beranjak pergi menuju pintu.

"Kau pasti juga merasakannya, kita hidup dengannya sudah cukup lama Chanyeol, aku.. aku hanya ingin melihat keadaannya. Berdiam diri dikamar ini, dengan rasa khawatir yang menumpuk bukanlah hal bagus untukku." Chanyeol terhenti, mendengar penuturan Baekhyun, ia mendesah lalu berbalik mendekat ke arah baekhyun.

Chanyeol mendesah, "Baiklah. Aku mengerti. Ayo! Aku akan mengantarmu." Mendengar itu baekhyun tersenyum, berinisiatif menghadiahi ciuman di kening, pipi dan terakhir bibir chanyeol. Sedikit melumatnya disana lalu menariknya kembali.

Kyungsoo baru saja keluar dari kamar setelah membantu Sehun mengganti perban Luhan. Kamar itu terlihat sunyi, seolah tak ada kehidupan disana dengan seorang pria itu terduduk disisi ranjang dengan kepala tertunduk sayu, tangannya menggenggam sebelah tangan gadis yang berbaring tak bergerak sedikitpun, seolah tak ingin bangun.

"Kau marah padaku?" Sehun bertanya pada tubuh gadis didepannya, tak ada jawaban disana, "makanya kau tak ingin bangun, kau pasti marah padaku karena aku terlambat datang, iyakan Lu?." Sehun terus bertanya dengan harapan ada sedikit saja respon dari sana.

Sehun mendesah, batinnya ngilu. "Aku merindukanmu Luhan, sangat". Cairan bening itu turun perlahan dari kedua tetra Sehun, "Kita bahkan belum meminta maaf atas masa lalu padamu, ayo bangun Luhan." Sehun menangis terisak, cairan bening itu jatuh menetes pada telapak tangan yang digenggam Sehun. Namun Luhan terlalu kejam untuk merespon.

Hari hari yang terlewat, terasa amat panjang bagi Sehun, waktunya selalu ia habiskan dikamar ini, merawat Luhan tanpa lelah mengajakknya bicara walau yang diterimanya hanya hembusan angin belaka. Ia lebih rela menelan omelan, amukan atau kecerewetan Luhan yang sudah biasa mengganggunya dari pada kenyataan tubuh yang berbaring tanpa kepastian antara hidup atau mati. Tubuh pucat diposisi tak berubah itu, sungguh terlihat malas hanya untuk menggerakkan ujung kelingkingnya, menunjukkan kesombongan hanya dengan diam tanpa ada satu hurufpun keluar dari bibir yang sedikit terkelupas itu.

Tok .. Tok.. Tok..
Ketukan pintu itu terdengar pelan, namun mampu membuat sehun menghentikan kegiatannya. Sehun mendongak bersamaan dengan masuknya dua orang berlawan jenis ini. Sehun menghapus air matanya kasar, lalu mencoba tersenyum pada dua orang di depannya menipu diri dengan kata Semua baik baik saja. Sungguh pemandangan haru didepannya terlihat hancur, miris dan menyedihkan. "Aku tak tega", "aku tak sanggup", dua kata yang tak mampu merubah apapun inipun muncul di kepala Chanyeol dan Baekhyun.

"Sepertinya kami mengganggu." Chanyeol mencoba menjernihkan suasana.

Sehun tersenyum, lalu menggeleng "Tidak Hyung, nuna. Kalian ingin melihatnya kan?"

Baekhyun mengangguk, lalu berjalan tertatih dalam rengkuhan Chanyeol karena kaki kanannya belum sembuh total, chanyeolpun mendudukkan baekhyun pada kursi di sisi kanan ranjang, berlawanan dengan Sehun, sementara dirinya sendiri memilih berdiri dibelakang baekhyun.

"Dia belum sadar juga?" Baekhyun bertanya, sementara tatapannya menyusuri setiap jengkal wajah dan tubuh Luhan.

Sehun mencoba menahan tangis, berusaha tersenyum,"Dia hanya tidak mau meninggalkan mimpi indahnya, nuna."

"Kau benar, dia terlihat tenang sekali. Mungkin dia bosan melihat kita." Baekhyun menjulurkan tangannya membelai wajah Luhan. Lalu berali menatap Sehun, "Jangan ditahan, tak apa kau boleh menangis Sehun." Setelah berkata demikian Baekhyun ikut meneteskan air matanya. Chanyeol yang melihat baekhyun menangis, langsung memeluk baekhyun, membiarkan gadis itu terisak dibahunya.

Mendengar suara isakan yang terdengar sedikit berisik, membuat jam pasir diujung meja mengeluarkan sinarnya menampakkan sesosok pria yang cukup mengenal mereka dengan baik. Tao mendekat, tangannya mengepal menahan segala pilu dan sesak ditubuhnya, lirikan matanya tertuju pada tubuh yang tak terusik dengan keadaan. Tao memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya perlahan berharap ini semua hanya mimpi, mungkin ketika ia membuka matanya Luhan akan tertawa karena berhasil mengerjainya. Tapi ini terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi, tubuh itu tak menandakan tanda tanda ingin kembali sementara hari hari terus terlewat.

"Bangun Lu!" Tao berteriak setelah matanya terbuka, "Kau tak kan mati semudah ini! Aku tahu itu!" Tubuh Luhan terguncang oleh kedua tangan Tao. Bahkan ketika melihat itu, semuanya hanya terdiam dan semakin terisak mereka benar benar mengerti apa yang dirasakan Tao sama dengan apa yang mereka rasakan.

"Aku melihatnya,! Aku melihatnya memakai mahkota Ratu, aku benar benar melihatnya Sehun,, di masa depan ia akan jadi ratu yang bijak, bukan terbaring lemah seperti ini!" Tao beralih terhadap Sehun, memaksa dan terus memaksa jika penglihatannya dimasa depan adalah benar.

Sehun hanya bisa mengangguk lemah sambil menepuk nepuk punggung Tao, memberikan sedikit ketenangan disana. "Sudah, ia akan bangun nanti, Jangan terus seperti ini. Luhan tak kan menyukai itu."

Melihat keadaan haru yang semakin tinggi, chanyeol berdiri sambil menggandeng baekhyun, "Aku akan menenangkan baekhyun, kami keluar dulu, kabari aku jika ada perkembangan." Sehun hanya mengangguk dan mempersilahkan Chanyeol keluar kamar.

"kau juga kembalilah Tao, jangan bermain main dengan masa depan atau masa lalu, tenagamu akan terkuras lebih banyak. Istirahatlah, dan tolong untuk tidak bersedih didepan ibunda, dia sudah sangat terpukul karena kondisi Luhan." Sehun berkata seperti seorang kakak yang menenangkan adik bungsunya, dan Taopun meninggalkan wujud manusianya.

.

.

.

Pintu kastil itu didobrak paksa oleh seorang gadis bermata tajam, bibirnya mencebik marah tanpa terkendali, sekalipun si pria dibelakangnya terus – terus memperingatkan agar dia lebih tenang. Satan satan penjaga yang berlalu lalangpun hanya bisa mundur perlahan tak berani menatap bahkan menghalangi gadis belia itu. Dengan langkah tergesa gesa diikuti oleh pria yang sangat tenang di belakangnya tibalah gadis itu di sebuah ruangan dengan pintu yang juga mengalami hal yang sama, terdobrak paksa tanpa disentuh sedikit pun oleh tangan sang gadis.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA LUHAN?!" Pertanyaan ini muncul dengan teriakan yang amat keras dari bibir sang gadis, sementara yang ditanya hanya menampakkan wajah terkejut sementara, lalu terganti dengan muka datar.

"Apa yang kau lakukan Kristal? Kembali ke kamarmu!, ini bukan tempat bermain." Hyorin menatap Kristal datar, seolah tak peduli dengan emosi anak angkatnya ini.

"JAWAB AKU!, Apa yang kau lakukan pada Luhan eonni?" Kristal mendesis tajam, menatap Hyorin dengan tatapan mematikan.

"Myungsoo, bawa Kristal pergi. !" Hyorin mengalihkan perhatiannya dan member perintah pada pria disamping Kristal. Pria itu hanya mengangguk sesaat tanpa menjawab.

Myungsoo merengkuh pundak Kristal bermaksut membawa gadis itu pergi, namun Kristal menolaknya. "Aniyo oppa, wanita ini belum menjawab pertanyaanku."

Hyorin mulai geram, "Apa pedulimu pada gadis lemah itu, toh sebentar lagi dia akan mati!."

Kristal tersenyum sinis pada wanita didepannya ini, menatap keji tidak percaya jika orang yang dianggapnya ibu ini memiliki sifat sekejam itu. Aura sihir hitam menguar dari tubuh Kristal , asap asap berkabut hitam mulai mengelilinginya, ruangan temaram itu bergetar seiring dengan amarah dari sang gadis.

"KAU MENGINGKARI JANJIMU, IBU!" Krystal berteriak, membuat bebarapa barang pecah tak beraturan, Lukisan lukisan itu jatuh seolah olah tempat itu dilanda gempa. "Kau berjanji, asal aku tetap disini membantumu, kau tak akan menyentuhnya, kau mengingkarinya ibu,!"

"Berhenti berteriak Krystal, kau ingin menghancurkan kastil ini?" , Hyorin menatap Kristal tajam

Kristal mendengus, "aku tak peduli, aku sudah muak dengan keserakahanmu itu!."

"tutup mulutmu krystal! Begini cara kau membalas orang yang sudah merawatmu?!" Hyorin turun dari singgasananya, mendekati Kristal.

Kristal tak bergeming dengan posisinya, menatap tajam hyorin yang kini sejajar didepannya,"Aku bukan anakmu, aku hanya alat untukmu. Kau seharusnya sadar, Jika Sehun oppa saja bisa meninggalkanmu, apa lagi aku!" . Mendengar pemberontakan Kristal , hyorin murka dan siap melayangkan tangannya namun sebelum pipi mulus itu tersentuh, Myungsoo lebih dulu menahan tangan Hyorin.

"Jangan berani – berani menyentuhnya, kami akan pergi." Setelah berkata demikian dengan nada mengancam, Myungsoo membawa Kristal pergi dengan sekali kepulan asap.

Hyorin hanya menatap nanar kepergian Kristal, "Dari semua orang, seharusnya kau satu satunya yang mengerti aku kris,,."

.

.

.

Krystal POV

Mungkin, kalian penasaran kenapa aku bisa muncul disini. Aku pernah muncul dihadapan Luhan tepat di sekolahnya saat Luhan baru beberapa hari turun dari tempat dewa (Chapter 2). Kurasa, saat itu adalah saat terakhir aku bisa menemuinya, karena aku berjanji pada ratu hyorin bahwa aku takkan menemuinya lagi, aku akan tinggal selamanya di neraka Luxion untuk membantunya, walau hanya sebentar aku cukup senang bisa melihatnya lagi setelah ribuan tahun.

Kehidupanku tidaklah menyenangkan, aku terlahir oleh sihir hitam tanpa tahu siapa orang tuaku. Tinggal ditempat kumuh disudut tanah Luxion, bebeda sekali dengan Kastil Luxion yang terlihat seperti surga dibawah kepemimpinan Raja Yifan. Saat Usiaku menginjak 8 Tahun, aku berusaha masuk ke dalam lingkungan kastil, namun terhadang karena Sihir hitamku yang menguar, itu meyakinkanku bahwa tak ada kesempatan bagiku untuk hidup dengan nyaman seperti penduduk Luxion lainnya karena aku tak terlihat sama dengan manusia. Keputusasaan yang ku punya berakhir sia – sia saat aku bertemu dengan Ratu Hyorin, yang dikala itu juga merupakan orang penting dalam pemerintahan kastil, Wanita itu tersenyum tulus padaku tanpa rasa takut ketika aura sihir hitamku menguar.

Seiring waktu berlalu, aku tahu jika Ratu Hyorin juga adalah seorang penyihir yang memiliki seorang putra bertanda ares yang tidak lain adalah Xishun. Xi shun oppa ikut merawatku dan memberiku hadiah seorang pengawal bernama Myungsoo Oppa, kau tahu? Saat itu dia bahkan terlihat tidak hebat sama sekali. Aku belajar sihir dibawah bimbingan ratu Hyorin, hingga pada suatu saat ratu Hyorin memberikan satu buku sihir terkutuk padaku tanpa seseorangpun yang tahu. Tepat di halaman ke 77 buku tersebut tertulis "Panggilan Ratu Satan" , mataku terperangah, itu adalah mantera yang digunakan untuk memanggil pasukan iblis dan Satan, dan panggilan itu hanya bisa dilakukan oleh titisan Ratu Satan. Disaat itulah aku mengerti kenapa Hyorin tertarik padaku, aku adalah titisan ke 199 Ratu satan. Hanya ada satu dan itulah aku berdiri dibumi dengan aura gelap tanpa tahu terlahir oleh apa dan siapa.

Jika aku bisa memanggil, 30 Satan setiap minggu, Hyorin berjanji akan membiarkanku keluar dari kamarku dan bermain dengan siapapun diluxion. Aku tak peduli Hyorin akan menggunakan Satan dan iblis iblis itu untuk apa, setidaknya saat itu aku bisa bertemu dengan orang yang Xi shun oppa sukai sejak kecil. Gadis itu adalah Luhan, seorang putri Luxion, Aku fikir Xi shun oppa mulai tidak waras karena menyukainya, dia memang luar biasa cantik tapi tak ada satupun yang berani mendekatinya, yah, gadis itu cukup menakutkan dengan kutukan yang dia miliki. Dengan rasa penasaranku, aku mencoba mendekatinya ingin mengenalnya lebih jauh. Semakin mengenalnya aku semakin mengerti kenapa Xi Shun oppa mencintai gadis ini, dia sungguh luar biasa orang yang hangat, karena kami sama sama memiliki permasalahan "dijauhi" akhirnya kami bedua sangat cocok. Dia karena kutukannya, dan aku karena sihir hitamku.

Waktu berlalu, kita semua sudah semakin dewasa, Xi Shun oppa yang terlarang keluar dari ruangannya di puri utara tempat hyorin tinggal pun bebas berkeliaran setelah diterima menjadi pengawal kerajaan oleh raja Yifan. Aku tahu, dia berusaha keras menjadi pengawal agar bisa bertemu Luhan setelah bertahun tahun hanya bisa melihat Luhan dari kejauhan. Tidak ada seorangpun yang tahu dari mana Xishun berasal yang mereka tahu hanyalah Xishun yang hebat, Xishun yang bisa meluluhkan hati Luhan bahkan tanpa ada yang menyadari darah penyihir dan dewa yang mengalir dalam tubuhnya. Xi Shun oppa telah berlatih dengan sangat keras untuk menutupi auranya didepan semua orang hanya demi mendapatkan satu orang yaitu Tuan Putri Luhan.

Kami semua berteman dengan sangat baik kala itu, seperti sebuah keluarga, tanpa membedakan kasta, antara penyihir, pelayan, pengawal ataupun putri. Luhan yang keras kepala, dan menjauhi orang asingpun bisa menerima Xi Shun oppa. Mereka berdua semakin dekat dari waktu kewaktu, melupakan semua garisan takdir kehidupan yang mereka terima, entah itu kutukan dimasa lalu, ataupun asal mereka dilahirkan. Kebahagiaan terus berlanjut sampai Xi Shun oppa berhasil melamar Luhan di depan Raja Yifan, yang artinya mereka akan menikah dan menjadi raja dan Ratu selanjutnya. Tapi dibalik itu, aku tahu ada satu orang yang tidak menghendaki yaitu ibu angkatku Ratu Hyorin. Dia akan melakukan segala cara untuk memiliki Luxion seutuhnya tanpa bisa kucegah.

Tepat satu minggu sebelum pernikahan, Ratu Hyorin terus memaksaku menggunakan mantera pemanggilan satan diluar kendali, membuat tubuhku kehabisan tenaga dan melemah setiap harinya. Ratu Hyorin yang tahu jika aku dekat dengan Luhan pun memanfaatkan keadaan, ia memerintahkanku untuk membawakan teh herbal kesukaannya. Teh herbal itu harus aku ambil dari pelayan khusus dapur istana Luxion, secara kebetulan yang dibuat – buat saat aku berusaha membawa teko berisi teh tersebut Luhan datang dan menawarkan diri untuk membawakannya pada ratu Hyorin karena keadaanku yang lemah.

Beberapa menit setelah itu, Puri utara gempar karena ratu Hyorin yang tiba – tiba jatuh pingsan setelah meminum teh herbal pemberian Luhan itu. Semua orang termasuk raja dan ratu datang berbondong bondong untuk melihat keadaan salah satu orang penting kastil tersebut. Aku dan Sehun yakin bahwa Luhan tak kan setega itu menaruh racun dalam Teh herbal Hyorin, ini semua telah direncanakan. Melihat seorang pelayan dapur yang dengan seenaknya menuduh Luhan atas nama Ratu Hyorin membuat keadaan semakin Kacau.

"Kau ingin menjadi Ratu tanpa halangan, makanya kau meracuninya, kau berusaha membunuhnya benarkan putri?" Suara itu membuatku jijik, memperkeruh keadaan membuat semua tatapan mata manatap Luhan Tajam.

Luhan terkejut, merasa tertuduh dan tidak dipercaya, Rakyat Luxion semakin membabi buta mencemohnya. Luhan mencoba menahan semuanya, namun kekecewaannya semakin dalam ketika ia akhirnya tahu jika Xi shun oppa yang dia cintai, adalah anak dari Ares dan Ratu Hyorin. Tidak ada yang tahu, kecuali aku jika Xishun terlahir dari rahim Hyorin termasuk Luhan. Gadis itu merasa terkhianati, seolah olah aku dan sehun termasuk dalam penjebakan ini, seolah olah Sehun ikut membalaskan kematian ares padanya.

Luhan murka, dan tepat pada saat bulan purnama malam itu sayap emas Luhan menggelap, gaun putih itu berubah menghitam, bibirnya semerah darah, matanya keemasan menyala, rambutnya berangsur angsur juga memerah, wajah cantik yang tak pernah luntur itu menampillkan tatapan penuh dendam kekejaman. Ia kecewa, ia marah, merasa terkhianati hingga membuat kutukan itu terjadi, Luhan sudah tidak seperti Luhan yang kukenal. Dalam sekali hempasan sayap, seketika kastil Luxion hanyur, beberapa rakyat terluka dan banyak meninggal dunia. Luhan terus terbang dan menyerang seolah olah kami semua adalah musuhnya, tak mengenali siapapun atau apapun. Para sahabat dan pengawal kerajaan mencoba terus menahan serangan sambil mencoba menenangkan Luhan namun tak ada hasil malahan mendapatkan luka dari serangan Luhan. Luhan terus mengamuk, Xi shun oppa yang melihat kejadian itu memberanikan diri berdiri tepat didepan Luhan yang siap memanah dengan panah Dewi Athena. Yang kudengar saat itu Xishun oppa berkata:

"Kau tak menginginkan ini bukan? Kau menyayangi mereka semua, aku tau itu, aku percaya padamu Luhan,,, tak peduli dimanapun aku dilahirkan, aku akan terus berlari padamu. Jadi tolong hentikan!, maafkan aku, Tolong maafkan aku!"

Disaat itu aku melihat cairan bening membasahi pipi Luhan, ia mendengar ucapan Sehun. Luhan mencoba menghentikan semuanya, Namun terlambat panah itu terlebih dulu melesat menembus Jantung Xi Shun. Luhan turun menukik, menuju tubuh Xishun yang jatuh dengan panah Athena didadanya, ia rengkuh tubuh Xishun kuat kuat berharap Xishun akan kembali Hidup. Namun nasi sudah menjadi bubur, Xishun meninggalkan dunia tepat setelah membisikkan kata "Aku mencintaimu Luhan" . Semua menangis haru melihat takdir kejam itu. Luhan meraung lalu dengan secepat kilat membawa tubuh sehun ke atas langit lalu menghilang meninggalkan bumi Luxion dengan kekacauan entah kemana.

Krystal Pov End

.

"Aku harus turun kebumi, aku harus melihatnya oppa." Kristal berucap setelah amarahnya terkendali.

Pria itu menggeleng, mencoba mencegah ."Jangan, kau akan mendapatkan beberapa luka ditubuhmu jika kau melanggar janjimu , bahkan kau tak diijinkan untuk melewati gerbang kastil ini."

"Dia terluka, dia terkena racun Jonghyun, jika dalam satu minggu dia tidak bangun juga, maka ia akan mati." Kristal menjelaskan dengan nada khawatir

Mendengar ucapan Kristal, Myungsoopun bertanya, "Lalu, setelah kau kesana kau bisa membuatnya bangun?"

Kristal mengangguk, "Seorang penyihir atau memiliki darah sihir harus menyerap racunnya."

Myungsoo mengernyit, "Aku tak pernah mendengar pengobatan seperti itu, Dari mana kau tahu itu?".

"Dari buku sihir terkutuk yang pernah Hyorin berikan padaku, aku pernah membacanya disitu tertulis seperti itu." Kristal menjelaskan.

"Lalu dimana buku itu? Mungkin disana ada petunjuk lain." Myungsoo bertanya lagi

Kristal mendesah kecewa, "Aku kehilangan buku itu, beberapa minggu yang lalu. Hanya aku dan Wanita itu yang tahu tentang buku itu, tapi wanita setan itu bilang tak mengambilnya."

"Dia ibumu." Myungsoo menjelaskan, sementara Kristal hanya mengangkat bahunya acuh. "Baiklah, jadi kau masih ingat apa yang tertulis dibuku itu?" Myungsoo melanjutkan pertanyaannya.

"Penyihir yang menyerap racun itu, akan menggantikan posisinya. Itu yang tertulis selanjutnya." Kristal menjelaskan lagi.

"Jadi maksutmu, penyihir itu yang akan mati, begitu?" Kristal mengangguk mantap atas pertanyaan ini, membuat Myungsoo menatap tajam ."Jangan bilang kau akan turun lalu menyerap racunnya, Krys?

Krystal sedikit menciut mendapat tatapan Myungsoo, "Setidaknya, hanya itu yang bisa aku lakukan, kita tidak bisa meminta penyihir lain apalagi Hyorin untuk melakukan itu. Mustahil."

"Kau bermaksut meninggalkanku?" Myungsoo bertanya dengan penuh penekanan,

"Bukan begitu, satu satunya penyihir yang bisa membantu Luhan untuk hidup hanya aku sekarang, aku tak bermaksut meninggalkanmu, oppa." Krystal berkata sambil mengusap wajahnya kasar.

Melihat itu, Myungsoo mendekat lalu memeluk krystal menyenderkan kepala gadisnya itu ke pundaknya. "Jika saja aku seorang penyihir, bukan manusia terpilih. Aku pasti akan turun untuk menggantikanmu, aku tak ingin kehilanganmu Krys."

Krystal mengangguk, lalu bertanya ."Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Aku akan turun kebumi melihat Luhan, kau tetaplah disini." Jawab Myunsoo sambil membelai surai lembut Kristal dengan tangannya.

Mendengar ucapan Myungsoo tentang bumi, Krystal beranjak dari posisinya menatap myungsoo dengan tatapan merayu ." Aku ikut kebumi." , Myungsoo menggeleng, namun krystal tak mau menyerah ."Ayolah, ajak aku oppa, hmmm,,, boleh ya?"

Melihat tatapan mengiba dari Krystal, myungsoo akhirnya menyerah ."Baiklah, tapi tetap dalam radiusku."

Krystal melompat – lompat kegirangan ."Siap kapten!".

.

.

.

Perkotaan yang indah, Daerah Gangnam terlihat ramai, para penduduk terlihat menikmati kegiatannya masing – masing. Kesibukan yang tak berujung disiang hari, mereka terlalu asik dengan smarphone, mengobrol, berjalan kaki, berbelanja atau apapun aktifitas mereka sekarang, bahkan mereka enggan untuk memperdulikan keadaan dimana munculnya dua orang bebede jenis kelamin dengan pakaian serba hitam. Gadis itu dengan anggunnya melangkah dalam balutan gaun selutut berwarna hitam pekat dengan sedikit renda pada ujungnya, bibir merah yang menyala yang senada dengan warna rambutnya, mata berwarna perak menambah aura kecantikan makhluk luar bumi ini. Sepatu hitam berhak tinggi itu berhenti, si pemilik menatap pria yang merangkul bahunya. Pria dengan setelan tuxendo yang juga berwarna hitam itu menatap lorong pertokoan seolah ada yang tersembunyi disana.

"Seingatku disini, di balik lorong itu." Pria itu berkata sambil menunjuk sebuah lorong sempit dan gelap.

Gadis itu menatap ragu. "Kau yakin oppa?, apa setidaknya kita mengabari mereka jika kita berkunjung, mereka bisa menjemput kita."

Pria yang lebih tinggi dari si gadis menggeleng, "Semakin sedikit yang tau, kau semakin aman, portal itu akan terbuka jika kita bermaksut baik."

Pria itu memegang sebelah tangan sang gadis, menggenggamnya menariknya masuk menuju sudut lorong, dalam tiga langkah kedepan pembandangan lorong ini pun menghilang berganti dengan kabut putih tebal disekitar mereka.

.

Tempat itu mulai berubah, pertokoan yang dipenuhi banyaknya orang berlalulalang itu tak Nampak lagi beganti dengan sebuah taman indah yang terlihat sepi. Beberapa anggrek bulan yang tergantung disisi pohon terusik dalam tidurnya, mereka mulai saling berbisik dan menatap aneh pada kedua orang yang berjalan dengan santai melewati mereka.

"Pemandangan yang sama dari tahun ketahun, mereka tak pernah menyukaiku," si gaun hitam mendengus, melirik tajam pada setiap anggrek yang membicarakannya.

Pria bermata elang itu tertawa, "Mereka hanya iri, karena kau lebih cantik dari mereka."

Pinggang si pria itu pun mendapat cubitan mesra dari gadis disampingnya."Berhenti bercanda oppa, kita tak bisa lama lama disini, kita harus menyelesaikan semuanya, lalu kembali sebelum ratu gila itu menyadari kepergian kita."

Pria itu mengangguk, lalu menggenggam tangan si gadis lebih erat lagi. "Sekembalinya dari sini nanti, berjanjilah untuk menangis dan beritahu aku seberapa sakit Lukamu. Aku akan ikut merasakannya, Krys."

Kedua langkah kaki itupun terus melaju tanpa keraguan menuju rumah megah di depan mereka. Apa yang akan terjadi nanti, itu adalah bentuk dari pembuktian bahwa takdir itu ada dan nyata. Mereka hanya ingin bertindak sebelum penyesalan menyusulnya.

.

.

.

"Bayang – bayangmu yang gelap dan terinjak,
tak pernah sekalipun mengajakmu bertengkar.
Sama seperti takdir kelammu, kenapa kau tak mengajaknya berdamai?"

kalimat yang terukir dalam senyum Luhan untukku,
aku sudah berdamai, jadi bisakah kau bangun dan ucapkan selamat untukku, Luhan?

-Krystal-

/

-TBC-


NEXT?

Thank's to all readers

mind to review?

.

.

.

Hy i'm newbie,,,

is my first story,

Dont be plagiat ,

Hope U like,, and

Just Know ''ILY''

-BAMBIE520