Hai hai minnachiii!
Ketemu lagi nih sama Fro kekekeke :3
Warning : Fro harap kalian tidak bosan dengan cerita yang semakin menjadi serius saja. Silahkan mencermati cerita dengan baik, karena dari chapter awal sampai sekarang, fro selalu menaruh hint hint disana sini haha :3
Disclaimer : Naruto bukan milik Fro, oke?
Sudah siapkah kalian dengan kejutan di chapter ini?
Well, then, Enjoy~! :3
Chapter 10. Separation
Cklek—!
Pintu mahoni berwarna coklat dibuka perlahan dari luar.
Seorang pemuda raven pun berjalan pelan tanpa suara memasuki ruangan sederhana di balik pintu itu. Dua manik onyxnya dengan segera menangkap pemandangan seisi ruangan yang memang sudah sangat familiar baginya. Lalu ia berjalan masuk, menelusuri satu persatu setiap perabotan disana, meja, kursi, lemari, pintu kamar mandi, dapur, lemari es, sebelum akhirnya ia berhenti di depan ranjang tidur.
Dia pun terduduk disana, meremas erat kain sprei putih yang melapisi kasur ranjang itu seraya ia mengamati seksama ruangan tempat ia berada sekarang. Ruangan kecil sederhana yang sudah tak asing baginya, ruangan yang sering kali ia curi-curi waktu tuk datangi. Ia bahkan masih bisa merasakan sisa-sisa aroma khas dari sang pemilik ruangan. Meskipun bau itu sudah mulai memudar mengikuti perginya sang tuan.
"Ternyata memang tidak mungkin disini ya..." Sasuke menghela napas lemah. Tersenyum pahit akan tindakannya yang kini semakin bodoh saja. Tentu saja dia tak akan disini. Bukankah sudah jelas? Naruto sudah pergi. Dia mempunyai tugas yang lebih penting untuk mengalahkan Danzo. Apalagi yang akan dilakukan pemuda pirang itu selain mengejar Danzo? Tidak akan mungkin Naruto berada dikamarnya sekarang...
Sasuke pun termenung, dilihatnya sekali lagi seisi ruangan kamar itu. Berbagai pikiran, perasaan, bahkan ingatan berkecamuk dalam kepalanya. Dia merasa sangat...kacau...
Dadanya terasa sesak, perasaan yang begitu banyak dan berlawanan bercampur aduk disana. Dia merasa sangat bingung. Pembicaraannya dengan Tsunade kembali terlintas di kepalanya. Salah satu tangannya tanpa sadar bergerak sendiri, meraba hati-hati perutnya yang kini masih datar.
"Naruto mencintaimu..."
Benarkah?
Benarkah hal itu benar-benar terjadi?
Benarkah Naruto memiliki perasaan yang sama dengannya...?
"Hey..." ia berbisik, mengelus perutnya yang kini mengandung sebuah kehidupan baru, mengandung keturunannya dan Naruto. "Bagaimana menurutmu...?" ia berbisik lebih keras, seakan sedang berbicara dengan sang anak yang masih ia kandung. "Apa kau pikir ayahmu...benar-benar mencintaiku...?" bisiknya lirih.
Sasuke menghela napas.
Jika hal itu benar-benar terjadi...
'Tousan..Kaasan...Itachi-niisan...Apa yang harus…aku lakukan...?'
Misinya…keinginannya selama bertahun-tahun untuk membalas dendam keluarganya...sekarang seakan sedang dipertaruhkan…
Kenapa pilihan yang harus ia ambil…terasa begitu berat…?
Sasuke memejamkan matanya. Sekelebat bayangan ingatan berputar cepat dalam kepalanya. Ia terdiam lama, hanya memejamkan matanya seraya berpikir memantapkan perasaanya. Setelah beberapa saat, kelopak pucat itu kembali terbuka. Dua manik onyx didalamnya kini penuh dengan keyakinan. Dia sudah memutuskannya. Kini perasaannya sudah bulat. Tanpa berkata apapun, Sasuke beranjak dari sana. Ia pun pergi meninggalkan ruangan itu, pergi untuk mengejar sesuatu yang telah hilang darinya...
.
.
.
.
Hosh—Hosh—Hosh—!
"Damn…seharusnya aku menanyakannya terlebih dahulu pada Tsunade." Sasuke berdecak kesal, menyenderkan tubuhnya pada batang pohon.
Sial.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Dia bahkan tidak tahu kemana arah Naruto pergi sekarang. Ada banyak kemungkinan tentang kemana arah jalan yang Naruto ambil ketika pergi. Tapi ia tak ingin memikirkannya karena ada kemungkinan ia akan salah jalan. Ia tak yakin sudah berapa jam berlalu sejak ia tak sadarkan diri. Tak mudah untuk melacaknya ataupun mengikuti jejaknya begitu saja, mengingat Naruto bukan pemuda yang akan dengan begitu cerobohnya meninggalkan jejak. Sasuke hanya berjalan dengan mengikuti instingnya. Dengan cara apapun ia harus tetap menemukan Naruto. Ia harus menemuinya…
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Naruto. Sasuke akan menuntut banyak kejelasan dari pemuda itu. Danzo, Tsunade, konoha, kudeta, kejadian sebelas tahun yang lalu, dan yang paling ingin ia ketahui adalah tentang…perasaan Naruto. Ia harus mengetahui semuanya, harus mendengar segala penjelasan tentang hal yang membuatnya sangat bingung sekarang. Ia harus menghilangkan perasaan mengganjal di hatinya sebelum ia…bisa memutuskan untuk langkah berikutnya...lalu hal yang terakhir dan mungkin menjadi yang terberat, ia….ingin meminta maaf…
Menghela napas, Sasuke pun mengeyahkan tubuhnya dari batang pohon sebelum kembali berjalan lurus mengikuti insting. Hawa dingin yang menerpa tubuhnya membuatnya menyesal untuk pergi tanpa pakaian tebal. Dia merasa tubuhnya menjadi sangat sensitive sejak ia hamil. Mungkin benar yang dikatakan orang-orang bahwa submissive akan menjadi paling lemah saat masa kehamilan mereka. Sial. Ia harap tak akan ada siapapun atau apapun yang bertemu dengannya di tengah jalan.
Sasuke menghentikan langkahnya saat menemukan dua jalan. Salah satunya masih menuju hutan yang lebih dalam dan lebat, sedang yang satu menuju keluar hutan yaitu ke arah area padang rumput yang sangat luas. Okay. Great. Sekarang, apa yang harus dia pilih?
Sasuke menekuk kedua alisnya menimbang-nimbang jalan yang akan dia pilih. Dia melirik ke jalan yang sebelah kiri lalu menoleh ke jalan yang di sebelah kanan, lalu kembali melirik ke kiri lalu ke kanan dan ke kiri lagi lalu—"Ah! Fuck it!" ia menggeram sebelum dengan sembarang mengambil jalan. "Fuck, sekarang jalan bahkan mempermainkanku?! Mereka pikir mereka siapa hah?!" ocehnya kesal tidak jelas. "Aku! Adalah Uchiha Sasuke! Seorang putra mahkota dari Kerajaan Konoha, berani sekali mempermainkan seorang demon berkelas tinggi sepertiku. Mereka pikir—
—DDEGHH!—
"—Huh?!" tubuhnya tiba-tiba saja oleng dan—Brugh!—ambruk ke tanah dengan sendirinya. Sasuke terbelalak lebar, ia dengan segera mencoba berdiri kembali tapi—Zzztt!—rasa sakit yang sangat tiba-tiba menusuk bagian lehernya.
"Akh!" Sasuke merintih kesakitan, tangannya dengan segera meremas leher bagian kirinya. Rasa sakit seperti panas api yang sangat menyengat itu hanya terjadi tidak lebih dari 3 detik, sebelum dalam sekejap menjadi lenyap tanpa bekas. Sasuke mengerjap bingung, ia melirik ke sekeliling memastikan tidak ada yang menyerang, lalu melirik tangannya untuk mengecek darah ataupun luka di lehernya. Tidak ada. Tidak ada sedikitpun darah apalagi luka. Apa yang terjadi?
Mengernyitkan alis, dia mengusap-usap leher bagian kirinya, memastikannya benar-benar tidak ada masalah. 'Halus seperti biasanya, tidak ada luka ataupun darah. Kurasa memang baik-baik saja. Masih terasa sama seperti yang biasanya dengan chakra yang mengalir dari sa—' Dua onyx-nya dengan cepat terbelalak lebar bersamaan dihentikannya kalimat yang terlintas di kepalanya barusan. Apa dia barusaja mengatakan soal chakra?!
Dengan cepat ia menarik kimono yang dikenakannya untuk memeriksa lehernya lebih leluasa. Tiba-tiba ia merasa ingin mengamuk karena tak memiliki cermin untuk melihat kondisi lehernya. Kedua tangannya dengan terus-menerus mengecek lehernya secara bergantian, dan dua manik onyx-nya pun semakin terbelalak. Tidak. Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Seharusnya sudah hilang. Seharusnya sudah dilepas. Kenapa…kenapa sekarang ia malah merasakan 'mark' itu kembali muncul di lehernya?!
Ia benar-benar bisa merasakannya…
Chakra itu…chakra Naruto…dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya.
Bagaimana mungkin?!
Dengan cepat, ia pun berdiri sebelum berlari. Dua onyxnya melirik ke sana kemari seakan sedang mencari sesuatu, hidung mengendus-endus mencari hal yang ingin ditemukannya itu. Setelah mendapatkannya, ia pun dengan segera pergi kesana. Danau. Cekungan sangat luas berisi air dengan beberapa tanaman dan bebatuan di pinggirnya, terlihat indah dengan cahaya bulan yang memantul di atas permukaan air tertangkap oleh matanya. Sasuke tanpa buang waktu mendekati sisi danau, menatap pantulan dirinya dari atas permukaan air.
Napasnya tertahan, ketika sekarang ia benar-benar bisa melihatnya. Tanda yang kembali terukir di lehernya. Tiga buah tanda koma terpampang jelas di sana. Tanda pemberian Naruto untuknya…
Sasuke meraba pelan tanda itu, perasaan yang begitu berat entah dari mana tiba-tiba terasa diangkat dari dadanya. Ia merasa begitu…lega. Baru beberapa jam ia berpisah dengan tanda itu sekarang ia tiba-tiba merasa sangat merindukannya. Tapi kenapa?
Kenapa tandanya tiba-tiba muncul kembali?
Bukankah Naruto sudah melepasnya?
Dia yakin Naruto benar-benar sudah mencabut tanda itu karena ia tidak bisa merasakan chakra sang dominan ketika tanda itu lenyap. Apa…yang membuat tanda itu kembali muncul di tubuhnya?
Tiba-tiba ia teringat pembicaraannya dengan Tsunade. Sasuke menggigit bibirnya pelan.
Bagaimana jika ternyata…tandanya tidak bisa dilepas sekarang…?
Jika hal itu benar…mungkinkah karena…
Ia menunduk, salah satu tangannya meraba halus perutnya, merasakan seakan janin yang ada di dalam sana sedang melompat kegirangan mendapatkan chakra sang ayah.
Tapi…meskipun itu benar…kenapa…tandanya baru muncul sekarang…?
Tak ingin berpikir terlalu keras, Sasuke membuyarkan pikirannya. Dia menyentuh kembali tanda itu, lalu memejamkan matanya. Berkonsentrasi memusatkan pikirannya pada chakra Naruto.
Ada. Cukup jauh darinya. Tapi ia masih bisa merasakannya.
Tanpa membuang waktu, ia segera beranjak dari tempatnya, mengikuti kemana arah chakra Naruto menuntunnya. Sekarang, ia pasti bisa menemukannya…
.
.
.
.
.
Wuuussssshhhhh—!
"Kau yakin dia pergi ke arah kemari, Kakashi?" Yamato bertanya di sela-sela berlarinya. Dia menunduk ketika sebuah ranting besar terlihat di depan matanya, sebelum kembali menyejajarkan posisinya kembali berlari di samping seekor anjing husky besar berbulu putih perak.
"Nah, aku bisa mencium jejaknya. Tak kusangka Naruto-sama akan bisa bergerak dengan sangat cepat." Jawab sang dog demon. Kakashi mempercepat larinya, instingnya mengatakan sesuatu sedang terjadi. Ia merasa harus cepat sampai menyusul Naruto.
BAAMM!
Sebuah ledakan besar tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Dua demon berbeda jenis itu pun dengan segera menghentikan kakinya spontan. Mereka menoleh cepat ke sumber suara, lalu menoleh satu sama lain. Tanpa perlu banyak kata, mereka mengangguk mengerti dan segera melesat menunju ke sana.
Setelah berlari cukup jauh, mereka pun bisa melihat arah tujuan mereka. Sebuah goa besar—tidak, mungkin akan lebih tepat dikatakan mantan sebuah goa besar, karena tempat itu sekarang sudah runtuh berantakan. Ledakan besar yang mereka dengar tadi pasti yang menyebabkan goa itu hancur sekarang.
"Kita terlambat…?" ucap Yamata menatap lebar keadaan dalam goa yang sangat berantakan. Tanpa bertanya pun, mereka tahu kalau sudah terjadi pertarungan disana.
Kakashi tidak menjawabnya, ia merubah tubuhnya menjadi normal sebelum berjalan masuk lebih dalam goa itu.
"Ada ruang bawah tanah disana." Ucapnya seraya berjalan menuju lorong bawah tanah yang ia lihat barusan. Dia hendak berjalan menuruni tangga ketika—"Kakashi!"—tiba-tiba Yamato memanggilnya. Kakashi pun menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah temannya.
"Ada lubang yang sangat besar disini, sepertinya akibat ledakan tadi." Terang Yamato pada Kakashi yang hendak berjalan menuruni tangga. "Ini menyambung langsung menuju bawah tanah." Ucapnya lagi, mencondongkan badannya untuk melihat lebih jelas ke dalam lubang.
"Mereka terjatuh kemari." Ucap Kakashi tiba-tiba, mengenduskan indra penciumannya di area sekitar lubang itu.
"Mereka?"
"Aku mencium bau darah Naruto-sama, dan seseorang lagi, mungkin yang sedang bertarung dengannya. Bau ini…" ucapnya mengira-ngira bau yang terasa familiar di hidungnya. Kedua alisnya mengernyit saat masih tak bisa menemukannya. "Kita harus turun kesana." Putusnya, melirik ke sekeliling mencari cara turun yang aman.
"Lewat sini." Yamato tiba-tiba berseru, menunjuk sebuah tiang penyangga yang terlihat berasal dari lantai bawah tanah. Tanpa buang waktu dia melompat turun dan menempelkan kakinya dengan chakra pada tiang besar itu, dibelakanngnya Kakashi bergerak mengikutinya.
Kakashi langsung mengedarkan pandangannya setelah kakinya berpijak lagi dilantai. Dia bergerak menelusuri ruangan goa yang kurang mendapat pencahayaan itu. Tempat itu juga tak jauh berbeda dengan di atas, sama-sama hancur akibat sebuah pertarungan meskipun tidak separah sebelumnya. Dia tiba-tiba berlari saat sesuatu tertangkap oleh matanya.
"I-ini…?!" ia terbelalak lebar.
"Abu?! dan masih sangat panas, seseorang baru saja membakarnya?" lanjut Yamato yang juga mengikutinya kesana. Matanya terbelalak ngeri saat samar-samar mulai menangkap gundukan abu hangusan yang terlihat membentuk seperti sosok tubuh.
"Yamato, ini…" Kakashi mengkerutkan alisnya. "Bukankah mengingatkanmu pada pembunuhan berantai itu. Kau pikir Naruto-sama yang melakukannya?" ucapnya mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari petunjuk.
"Kau benar, itu berarti Naruto-sama sudah memenangkan pertarungan ini, kau tahu siapa yang melawannya?" Yamato membalas, menoleh ke arah Kakashi.
Kakashi menggeleng. "Tidak, tunggu…" ucapnya tiba-tiba. "Sai. Sai yang melawannya. Lihat." Ucapnya menunjukan sebuah gulungan dan kuas yang khas dibawa oleh kesatria Anbu Ne itu. "Kurasa Danzo menyuruh Sai untuk menghalangi Naruto-sama. Karena itu kita tak bisa menemukannya lagi di Istana. Kita harus bergerak cepat, Yamato. Naruto-sama mungkin masih ada di tempat ini." Ucapnya seraya menujuk ke sebuah lorong yang terlihat tidak jauh dari tempatnya. Tanpa buang waktu ia pun berlari kesana, diikuti Yamato di belakangnya.
W
u
u
s
s
s
s
h
h
h
!
"Yang Mulia!"
Seorang pelayan wanita berlari panik kesana kemari, dengan sesekali berteriak memanggil seseorang.
"Ouji-sama!" pelayan lain juga terlihat terengah-engah, lalu disusul beberapa pelayan lain yang juga terlihat sama lelahnya.
"Kalian menemukannya?!" ucap sang kepala pelayan dengan takut.
"T-tidak! Bagaimana ini?! Apa yang harus kita lakukan?" salah seorang berteriak takut-takut.
"Menyebar lagi, kita harus menemukannya apapun yang terjadi!"
"Yang Mulia!" mereka mulai berteriak lagi, para penjaga yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
"Dia kabur lagi?" salah satu penjaga berkata dengan usil menggoda para pelayan.
"Kenapa kau tidak ikut mencarinya?! Baka!" balas seorang pelayan kesal.
"Ahh! Aku tidak bisa menemukannya dimanapun!" teriak seorang pelayan frustasi.
"Yang Mulia! Kumohon keluarlah, Yang Mulia Ratu bisa menghukum kami jika anda terus-terusan kabur!" pelayan lain ikut berteriak frustasi.
"Ouji-sama!" teriaknya memanggil sang putra mahkota yang entah ada dimana sekarang.
"Naruto Ouji-sama!"
Tidak jauh dari para pelayan itu, di sebuah semak-semak taman, tanpa diketahui siapapun, sebuah cekikikan kecil terdengar.
"Naruto Ouji-sama!"
Cekikikan itu pun terdengar lagi ketika seorang pelayan berlari melewati semak-semak tadi tanpa sadar.
"Yang Mulia! Anda harus kembali ke ruang belajar!" teriak seorang pelayan dengan buta arah mencari-cari.
'Heh! Mereka tidak akan bisa menemukanku!' sebuah gumaman lirih terdengar dari balik semak-semak. Sesosok anak laki-laki bersurai pirang terlihat dari balik semak-semak, ia merangkak hati-hati menuju semak-semak lainnya untuk kabur mencari tempat persembunyian lain. Namun belum sempat mencapai semak-semak yang ditujunya, tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara.
"Huh?! Uwaah! Lepas! Lepaskan! Gyaaa! Lepaskan Naluto-cama!" anak kecil bersurai pirang itu berteriak meronta-ronta saat menyadari tubuhnya sudah diangkat ke atas dari belakang. Dia menendang-nendangkan kakinya ke belakang, bahkan mencoba menggigit-gigit dua tangan besar yang membobong dua lengannya.
"Ow, ow, ow, geezz, kau benar-benar berandal cilik, bocah!" ucap seorang pria berambut putih gondrong yang memiki dua garis merah lurus di bawah matanya. Pria yang membawa julukan sebagai salah satu sannin besar itu akhirnya pasrah dan melepaskan bocah pirang cilik yang terus menyerangnya.
Bocah itu dengan segera berlari menghindar dan mendelik ke arahnya.
"Dasal tidak copan! Kau pikil apa yan kau lakukan pada Naluto-cama hah?!" bocah pirang belum genap lima tahun yang masih sedikit susah melafalkan bicaranya berkata dengan angkuh, melipat kedua tangannya di depan dada layaknya seseorang dengan derajat tinggi. Surai pirangnya tergerai panjang dibelakang punggungnya, dengan sedikit wavy di bagian bawahnya. Terlihat satu dua ranting daun terlihat menyangkut disana, membuatnya terlihat berantakan, namun tak sedikitpun mengurangi keindahan surai pirang itu. Tiga buah goresan tipis seperti kumis kucing terlihat menghiasi dua pipi sang bocah berkulit tan itu.
Jiraiya, pria berambut putih panjang itu tak bisa menahan kekehennya saat melihat betapa sombongnya bocah didepannya, namun terlihat begitu menggemaskan dengan ukuran tubuhnya yang memang hanya anak kecil.
Bocah pirang itu melebarkan matanya, lalu mendelik marah. "K-kau tidak boleh teltawa, kakek jelek!" perintahnya marah.
"A-apa kakek jelek?!" Jiraiya menghentikan tawanya, menatap tak percaya pada bocah lelaki yang memanggilnya kakek-kakek begitu saja, apalagi dengan imbuhan 'jelek' dibelakangnya.
"Benal, kau kakek jelek!" ucap bocah kecil itu dengan mendengus kesal.
"Cih, kau tidak lucu, kenapa mirip sekali dengan Minato, huh?"
"Naluto-cama bukan kau! Naluto-cama adalah Naluto-cama!" teriak bocah itu tidak suka.
"Hai, hai, maafkah saya, Na-lu-to-ca-ma."balas Jiraiya mengejek lafal bicara bocah itu.
Warna merah pun langsung memenuhi wajah sang bocah. Dia menggeram marah lalu menggigit tangan Jiraiya dengan sekuat tenaganya, sebelum tak lupa memberi tendangan pada kaki Jiraiya dan berlari kabur.
"Ouch! wha—! Hey, tunggu dulu, bocah!" teriak Jiraiya dengan cepat menyusul sang bocah, dan menariknya ke belakang dengan meremas baju.
"Gyaaah! Lepaskan Naluto-cama!" bocah itu berteriak meronta.
"Geez, aku bilang tunggu dulu, dengarkan aku dulu, bocah. Aku tidak mau kau kabur lagi. Apa kau tidak tahu betapa susahnya menemukan bocah cilik sepertimu di Istana seluas ini, huh?!" ucap Jiraiya kesal.
Bocah itu hanya merengutkan bibir dan membuang muka, kedua tangan dilipat di depan dada.
Jiraiya tak bisa tak mendengus geli melihat itu."Ayahmu mencarimu, dia menunggumu di Aula."
Mendengar kalimat itu, sang bocah langsung menoleh. "Otou-cama?!" dua manik shappire milik bocah itu langsung terlihat berbinar-binar ketika mendengar sesuatu tentang ayahnya.
"Yeah, paman adalah teman ayahmu, dia mencari—
"Kenapa kau tidak bilan dali tadi, dasal kakek jelek!" teriak bocah itu menendang Jiraiya sebelum berlari cepat menuju Aula Raja.
"Wha—Hey, tunggu! Sial!" Jiraiya menghela napas sebelum berjalan mengikuti bocah itu.
SLAM—!
"Tou-cama!" bocah itu berteriak keras ketika pintu menuju Aula Raja dibukakan untuknya. Dengan segera ia berlari menuju ayahnya yang berada di singgasananya dengan seseorang yang sedang berbicara dengannya.
"Tou-cama!" bocah itu berteriak memanggil seraya berlari menghampiri ayahnya..
"Oh, hey, Naruto. Kau sudah disini." Ucap Minato, dengan segera menarik putranya dalam pelukan. "Bagaimana belajarmu hari ini?" tanyanya mengusap kepala sang bocah.
"Naluto-cama belajal dengan baik!" ucapnya menepuk dadanya dengan angkuh.
"Dengan kabur dari pengawasan para pelayan?" sindir Jiraiya seraya menghampiri mereka. Ia menyeringai menang saat bocah itu mendelik ke arahnya.
Minato mengernyitkan alisnya. "Kau kabur lagi?"
Naruto hanya membuang muka.
"Yang Mulia, meninggalkan tugas belajar anda bukanlah sikap seorang putra mahkota yang baik." Ucap tegas seseorang dari belakang tubuhnya.
Naruto menoleh ke belakang lalu menekuk bibirnya saat tahu siapa yang berbicara. "Naluto-cama tidak meninggalkan tugasnya, Naluto-cama hanya belmain sebental! Belajal sangat membosankan!"
"Tapi itu sudah menjadi kewajiban anda, Naruto Ouji-sama. Kalau terus seperti ini anda tidak akan bisa menjadi Raja seperti ayahmu." Tegas seseorang itu lagi.
Naruto membelalakkan matanya mendengar itu, lalu menggigit bibirnya menoleh ke arah ayahnya. "Na-naluto-cama cudah tahu itu, paman celam!" balasnya membela diri.
Minato tertawa kecil melihat tingkah putranya dan sahabatnya, dia mengusap kepala bocah itu seraya berkata. "Kalau begitu sebaiknya kau tidak kabur lagi, Naruto."ucapnya dengan tersenyum.
"Na-naluto-cama tidak kabur!" balas bocah itu membuang muka. Tekukan di wajahnya hilang saat mata shappire-nya menangkap sosok seseorang yang tidak pernah dilihatnya. Dia berkedip lucu, lalu berbinar senang. "Kakak cantik sekali!" ucapnya blak-blakan pada seseorang yang dilihatnya.
Seluruh mata pun langsung teralih pada sang 'Kakak' yang baru saja dipanggil cantik barusan. Seseorang itu pun tersenyum kecil membalas pujian Naruto, lalu berjalan keluar dari belakang punggung seseorang yang tadi dipanggil 'Paman celam' oleh Naruto.
Minato pun menoleh ke arah sahabatnya, dan tersenyum. "Fugaku, bagaimana kalau kita mengenalkannya saja sekarang." Tanyanya pada sang sahabat.
"Hn." Fugaku hanya mengangguk singkat.
"Naruto, ada yang ingin kami perkenalkan padamu." Ucap Minato seraya mendorong putranya mendekat. Bocah itu hanye mengerjap bingung dan menurut.
"Yang Mulia, perkenalkan putra sulungku, dia akan menjadi kesatria pelindung anda." Fugaku menepuk pundak putra sulungnya, menyuruhnya memperkenalkan diri.
"Kecatlia?' Naruto menengok bingung ke ayahnya.
"Benar, dia akan menjadi kesatria pribadimu. Dia akan selalu bersamamu untuk melindungimu." Minato berkata dengan senyuman halus.
"Cepelti paman celam?!" ucap Naruto berbinar senang.
"Yeah, seperti paman fugaku." Minato tertawa kecil.
"Benalkah?! Kau akan menjadi kecatlia Naluto-cama?!" Naruto berteriak senang menghampiri pemuda cantik tadi.
Pemuda itu pun tersenyum membalasnya. Dua manik onyx miliknya menyipit seraya ia memberi senyuman. Surai ravennya diikat satu ke belakang, dengan poni panjang lurus di sisi wajahnya, membuat sosok pemuda itu semakin menawan. Pemuda itu baru berusia sepuluh tahun, namun memiliki dua garis tipis di bawah matanya seperti tanda lahir. Dia pun berjalan mendekat, berlutut tepat di hadapan sang putra mahkota memberi penghormatan.
"Naruto Ouji-sama, nama saya adalah Itachi dari klan Uchiha. Ijinkan saya mengabdikan diri di sisi anda sebagai Kesatria. Saya berjanji akan mempertaruhkan segenap nyawa saya untuk melindungi anda seumur hidup saya." Ucap pemuda raven itu lantang tanpa keraguan sedikitpun terlihat di balik dua manik onyx miliknya….
...dan sekarang dua manik onyx yang sama kembali terlihat dihadapannya…
"I…tachi…?!"
Naruto terbelalak tak percaya.
Dua manik itu…dua onyx itu benar-benar nyata ada dihadapannya.
Pemuda raven yang ia kira sudah mati sebelas tahun yang lalu benar-benar nyata berada didepannya.
"K-kau benar-benar….itachi?!" ia menelan ludah.
Tapi pemuda itu masih terdiam, menatapnya dengan pandangan datar.
"Jawab aku, brengsek! Kau benar-benar Uchiha Itachi?!" tuntutnya mencengkeram leher sang pemuda ke arah dinding dibelakangnya, membuat wajah pemuda itu mendongak menatapnya. Bunyi rantai pun terdengar bergemirincingan akibat hentakan tiba-tiba itu.
Naruto pun menatap tak percaya pada wajah di depannya. Sekarang, ia bisa dengan jelas melihat wajah pemuda itu. Wajah yang berbeda dari ingatannya, namun memiliki unsur yang sama. Hanya terlihat lebih dewasa dan keras, dan dari semua itu, hal yang sama sekali tak berubah adalah matanya, dua manik yang berwarna sama persis seperti dalam ingatannya.
Sedikit bergetar, dia dengan segera melepas cengkeramannya dan berjalan mundur. "Fuck!" umpatnya entah pada siapa.
Naruto melirik ke sekeliling ruangan penjara tempatnya berada. Gigi digertakan kuat saat menyadari betapa mengerikannya tempat itu, sangat kotor dan kumuh. Sebuah kurungan. Jelas sekali bahwa tempat itu adalah sebuah kurungan. Seseorang sudah mengurung Itachi disini dan…
"Sejak kapan?" desisnya marah.
"Danzo busuk itu yang melakukan ini?!" dia menggeram marah dan—Brakk!—sebuah kursi ditendangnya sampai hancur menabrak dinding. "Brengsek!" dia menyabetkan pedangnya pada rantai besar yang mengikat itachi pada dinding—Trang!—Trak!—TRANG!—rantai-rantai itu dihancurkan satu persatu olehnya dengan beringas, dinding pun tak luput terkena amukannya.
Itachi menatap bingung sekaligus shok pada pemuda pirang yang tiba-tiba datang dan mengamuk menghancurkan ruangannya. Dia mengusap pergelangan tangannya saat rantai besi yang mengikat kedua tangannya juga ikut dihancurkan, sebelum disusul oleh kedua kakinya. Terasa begitu aneh dan ringan saat benda terkutuk itu terlepas dari tangan dan kakinya
Itachi menatap ruangannya yang kini hancur berantakan, lalu menoleh ke arah sang penghancur yang kini terlihat lebih tenang dan berdiam di tengah ruangan. Lalu tiba-tiba pemuda pirang itu menoleh dan menatapnya tajam.
Napas Itachi tercekat saat mengenali dua manik shappire itu. Dia terus bertanya-tanya pemuda pirang siapa yang mengenalinya. Kenapa ia tak menyadarinya langsung? Tiga goresan di pipi itu masih terlihat sama. Warna pirang itu masih sama, dan dua shappire itu pun juga tidak berubah…
"Naruto…sama?!" ia berbicara dengan suara serak.
"Katakan.." Naruto mendesis, berjalan menghampiri Itachi. Genggamannya pada pedang menguat menahan amarah. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Ia berkata sangat dingin.
Itachi membuka mulutnya namun kembali mengatupkannya erat. Matanya terbelalak tak percaya, masih belum kembali dari rasa shoknya. "Kau…benar-benar Naruto-sama…" ucapnya dengan napas tertahan.
"Kau benar-benar…Naruto-sama…" ia berkata lagi lebih lirih dengan hembusan napas lega, mengulurkan tangannya menyentuh tiga goresan di pipi pemuda pirang itu.
"Katakan padaku, Itachi!" Naruto berteriak marah, menepis tangan Itachi dan mencengkeramnya kuat. Dia menggertakan giginya, kemarahan dan kesedihan bercampur jelas dalam matanya. Dia menarik tangan itachi saat menemukan sesuatu disana. Mendelik marah saat melihat segel di masing-masing pergelangan tangan sang raven. Tanpa buang waktu ia menggunakan chakranya untuk merusak segel itu. "Fuck!" umpatnya marah.
Itachi hanya membalasnya dengan senyum sedih. "Kurasa kau pasti sudah bisa mengira-ngira apa yang terjadi padaku, Naruto-sama." Ia berkata datar.
Mendengar itu hanya membuat kemarahan pemuda pirang itu semakin memuncak. Menemukan kesatria-nya diperlakukan buruk dalam penjara selama bertahun-tahun benar-benar membuatnya ingin menghancurkan ruangan bawah tanah itu tanpa sisa. Mungkin akan lebih baik jika Itachi benar-benar sudah mati dalam kejadian sebelas tahun yang lalu, dengan begitu ia tak perlu melihat pemuda itu disiksa di tempat ini oleh pria busuk itu.
Naruto membuka jubah yang dikenakannya saat menyadari Itachi hanya memakai bawahan. "Kita pergi dari sini." Ucapnya dingin melemparkan jubah itu pada Itachi, tak ingin melihat luka ataupun bekas luka yang terlihat jelas di seluruh tubuh. Warna matanya mulai berubah-ubah dari biru menjadi merah menahan amarahnya yang siap meledak.
"Naruto-sama." Panggil Itachi menghentikan langkahnya.
Naruto menoleh ke arahnya, hanya terdiam menatap dua manik onyx.
Itachi tersenyum lega. "Aku benar-benar senang kau masih hidup, Naruto…" ucapnya tulus dari lubuk hatinya. Mendapati tuannya yang menyelamatkannya dari sini benar-benar diluar perkiraannya. Tapi dia sangat senang, dia merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan Naruto, melihatnya masih hidup sekarang.
Naruto menggertakan giginya, memalingkan wajahnya dan tak mengatakan apapun, sebelum beberapa saat kemudian ia menatap Itachi kembali dan berkata. "Aku akan memberimu dua pilihan." Ucapnya membuat Itachi mengernyit bingung.
"Membantuku membunuh Danzo, atau pergi mengambil kebebasanmu." Naruto berkata datar, namun Itachi bisa melihat keseriusan dibalik mata birunya.
Tanpa melepaskan tatapannya dari manik shappire, Itachi tiba-tiba mengulas sebuah senyum. "Ku pikir kau sudah berubah, namun kau masih tetap sama, Naruto-sama."
"Huh?" Naruto mengernyit bingung.
Itachi menggeleng, lalu tiba-tiba ia melangkah mundur dan membawa tubuhnya untuk berlutut pada satu kaki, memberi penghormatan pada sang tuan yang ada dihadapannya. "Pengabdianku hanya berada pada satu orang, yaitu anda, Naruto-sama. Sampai kematian menjemputku, aku, Uchiha Itachi akan selalu mengabdikan diri di sisi anda sebagai Kesatria yang selalu melindungi dan mendukung apapun yang anda lakukan." ucapnya tegas tanpa keraguan.
Naruto terhenyak. Ia pikir Itachi akan lebih memilih mengambil kebebasannya. Membunuh Danzo tidaklah mudah, mungkin benar ia membutuhkan bantuan, namun ia sebenarnya tak ingin melibatkan Itachi. Tapi…
Dua shappire menatap intens dua onyx. Tanpa satu kalipun berkedip, saling menyalurkan kepercayaan lewat tatapan itu. Naruto menjadi teringat saat pertama kali ia bertemu Itachi sebagai kesatrianya. Sebuah seringai senang pun terlukis di bibirnya.
"Kuharap kau tidak menyesali keputusanmu. Kita pergi." Ucapnya sebelum berbalik, seringai di bibirnya pun berubah menjadi senyum lebar.
"Yes, My Lord."
.
.
.
.
.
Klang—!
Pintu besi itu dibuka lebar dengan tiba-tiba.
Kakashi mengedarkan pandangannya dengan cepat ke seluruh ruangan penjara yang baru saja dimasukinya itu. Raut mukanya langsung berubah kecewa saat tak menemukan apapun disana, hanya ruangan yang sudah hancur berantakan akibat amukan seseorang.
"Fuck! Sepertinya kita terlambat lagi!" umpatnya kesal segera keluar dari ruangan.
"Bagaimana?!" tanya Yamato dengan terengah-engah, sedikit terlambat berlari menyusul temannya. Dengan segera ia mengecek ruangan penjara itu, langsung mengerti penyebab kekesalan Kakashi. "Bukan disini lagi?" tanyanya. Setelah menemukan jalan lorong di bawah tanah itu, mereka langsung mencari ke seluruh lorong tanpa membuang waktu, dengan menggunakan indra penciuman Kakashi untuk mengikuti jejak Naruto. Setelah berputar kesana kemari, akhirnya mereka sampai di penjara itu, namun sepertinya hanya berakhir nihil.
"Tidak, Naruto-sama memang kemari beberapa saat yang lalu. Aku masih bisa merasakan baunya kuat. Tapi ada yang aneh. Sepertinya dia menemukan seseorang yang terkurung disini dan membawanya pergi." Terang Kakashi kembali berjalan mencari jejak sang putra mahkota.
"Seseorang yang dikurung Danzo? Kau punya perkiraan siapa orang itu?" tanya Yamato penasaran.
"Tidak, entahlah. Aku mencium bau darah yang tidak asing. Kita harus cepat." Ucap Kakashi mempercepat langkahnya.
"Kau pikir kita masih bisa menyusul mereka?" tanya Yamato menyamakan tempo lari dengan Kakashi.
"Aku tidak yakin jika mengingat kecepatan Naruto-sama sebelumnya. Tapi kali ini dia bersama seseorang. Kita masih punya kesempatan. Mereka belum pergi jauh, aku masih bisa merasakannya. Kurasa ada pintu keluar lain di lorong ini." Terang Kakashi, dia mengambil tikungan sebelum berlari lebih cepat, dibelakang Yamato mengikutinya.
"Tunggu!" ucapnya tiba-tiba menghentikan langkah.
"Ada apa?!" Yamato yang bingung langsung memasang pose siaga.
"Apa kau dengar itu?" Kakashi mengernyitkan alisnya, menajamkan telinganya untuk mendengar lebih jelas.
"Huh? dengar apa?" balas Yamato bingung melirik ke sekelilingnya.
"Langkah seseorang, ada yang kemari…sembunyi!" ucap Kakashi menarik Yamato bersembunyi di balik tikungan. Dia melirik hati-hati ke arah lorong dimana ia mendengar suara langkah tadi.
Tap!—Tap!—Tap!—suara langkah itu pun semakin terdengar lebih keras. Dua demon yang sedang bersembunyi itu meneguk ludah, menjadi sangat waspada pada siapapun yang sedang berjalan ke arah mereka.
Setelah seperti sekian lama, siapapun, apapun yang sedang melangkah mendekati mereka itu mulai menampakkan sosoknya. Cahaya remang-remang yang menyinari lorong membuat mereka sedikit kesulitan untuk melihat sosok orang itu. Hal pertama yang bisa Kakashi lihat adalah bagian kaki, lalu bergerak atas, paha, badan, sampai akhirnya bagian pundak pun mulai terlihat dan saat ia melirik untuk melihat wajahnya, Kakashi tak bisa tak terbelalak kaget ketika mengenali wajah itu.
"Sasuke-sama! Apa yang anda lakukan disini?" ucapnya keluar dari persembunyian diikuti Yamato dari belakang.
Pemuda raven itu pun menghentikan langkahnya, menatap datar pada dua demon yang lebih tua darinya. Dia memperhatikan dua demon itu dalam diam sebelum kembali melanjutkan langkahnya lebih cepat, tak sedikitpun menghiraukan mereka.
"Tunggu, Sasuke-sama. Kenapa anda bisa tahu tempat ini? Apa yang anda lakukan disini?" ucap Yamato menghentikannya lagi, ia menghampiri sang putra mahkota bermaksud untuk mengecek keadaannya, namun langsung ditepis oleh pemuda itu.
"Jangan menyentuhku." Sasuke mendesis, melirik tajam kedua demon itu. "Dimana dia?" ucapnya tiba-tiba membuat kedua demon itu bingung.
"Huh?"
"Aku bilang dimana dia." Ucap Sasuke dingin.
"Dia? Siapa yang anda maksud, Sasu—
"Naruto! Dimana Naruto! Aku tahu kalian kemari untuk mengejarnya." Sasuke membentak dingin.
Mata Kakashi pun membola terkejut. Dia melirik Yamato, namun hanya dibalas gelengan kepala yang berarti sama bingungnya dengan dirinya. "Sasuke-sama, kenapa anda—
"Jawab pertanyaanku." Desis Sasuke tajam, keheningan pun membuat ketegangan disana menebal.
"Kalian tidak tahu?" Sasuke mendesis, menatap tajam satu persatu mata mereka, sebelum ia berdecak dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya.
"Tu-tunggu dulu. Anda tidak bisa pergi. Tubuh anda terlihat sangat pucat. Aku tak bisa membiarkan anda pergi dalam keadaan seperti itu, Sasuke-sama." Ucap Kakashi cepat mengejar pemuda itu.
"Sasuke—
"Berisik!" bentak Sasuke menepis kasar tangan yang ingin membantunya. "Jangan menyentuhku." Desisnya dingin, sebelum ia kembali berjalan menghiraukan mereka.
"T-tunggu, Sasuke-sama! Anda tidak bisa—
SLAM!—kalimat Kakashi dihentikan oleh hentakan keras yang tiba-tiba mendorong tubuhnya menabrak dinding. Dia terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya kembali fokus pada situasinya. Napasnya tertahan saat menemukan dirinya bertatapan dengan dua onyx yang sangat dingin.
"Dengar." Sasuke mendesis tajam, mencengkeram baju Kakashi dan menggunakan lengannya untuk mengunci pergerakan sang demon bersurai putih itu. "Aku tidak peduli dengan urusan kalian disini. Tapi…" ia mendelik tajam, menampakkan dua sharingan yang berkilat dingin di dua onyx-nya. "Jangan coba-coba menghentikanku, atau aku tak akan segan-segan membunuh kalian." Ucapnya dingin. Dia melirik ke arah Yamato lalu ke arah Kakashi seakan memastikan dua demon itu tak akan mengganggunya lagi, menunjukan siapa yang paling berkuasa diantara mereka bertiga. Setelah yakin mereka tak akan menggangu, Sasuke pun melepas cengkeraman tangannya dan berjalan pergi meninggalkan mereka.
Baik Kakashi dan Yamato meneguk ludah berat, napasnya tertahan ketika melihat dua sharingan itu menatap tajam pada mereka. Tubuhnya mereka tiba-tiba menjadi kaku tak bisa bergerak. Tubuh demon mereka sangat tahu ancaman itu sangat serius, Sang Putra Mahkota telah memberi perintah, dan sebagai demon yang berkelas lebih rendah mereka hanya bisa terdiam menurut. Yang lebih lemah tak akan bisa melawan perintah yang kuat, seperti itulah hal yang sedang berlaku pada tubuh mereka. Setelah sosok Sasuke menghilang dari pandangan mereka, barulah mereka bisa bernapas lega.
"Sial, apa yang harus kita lakukan?! Kita tak mungkin mengejarnya." Kakashi mengumpat kesal.
"Bagaimana dengan Naruto-sama?! Kita tidak bisa—
"Kakashi-san!" sebuah teriakan tiba-tiba terdengar mengagetkan mereka. Gema suara pun terdengar bersusulan dalam lorong akibat teriakan keras itu.
Baik Kakashi dan Yamato langsung menoleh untuk melihat siapapun yang berteriak tadi.
"Shika! Kiba!" panggil Kakashi bingung, meskipun disaat yang sama ia merasa lega.
"Apa yang kalian lakukan disini?!" tanya Yamato langsung tak ingin membuang waktu.
"Apa kalian melihat Sasuke-sama? Kami mengikuti jejaknya kemari. Tsunade-sama me—
"Tunggu, apa kalian diperintahkan untuk membawa Sasuke kembali?" tebak Kakashi cepat mengerti situasinya.
"hah…merepotkan. Itu benar, apa kalian melihatnya kemari?" ucap Shikamaru menghela napas.
"Apa yang sebenarnya terjadi. Kami melihatnya lewat sini, tapi gagal menghentikannya. Apa yang dia lakukan disini, apa hubungannya dengan Naruto-sama?!" tanya Yamato beruntun ingin tahu.
"Yah…ceritanya panjang dan merepotkan, kurasa akan lebih cepat jika kalian bertanya pada Tsunade-sama dan memberitahu kami arah Sasuke pergi, atau kalian bisa membantu kami menghentikannya." Balas Shikamaru tak ingin membuang waktu.
"Tidak, kalian pergilah. Sasuke-sama melarang kami. Lagipula kami harus melapor pada Tsunade-sama. Tapi aku ingin kalian mengubah misi kalian. Jangan mencoba menghentikan Sasuke, aku ingin kalian melindunginya, daripada memaksanya untuk kembali." Ucap Kakashi dengan cepat memutuskan yang harus mereka lakukan.
"Tunggu, kau menyuruh kami mengikuti Sasuke mencari Naruto?!" tanya Kiba terkejut.
"Benar, prioritas kalian adalah melindungi Sasuke-sama, mengerti? Kita berpisah disini. Jaga diri kalian." Perintah Kakashi seraya menunjukan arah kemana Sasuke pergi.
"hah..merepotkan.." Shikamaru mengangguk terima kasih sebelum berlari bersama Kiba untuk mengejar dua putra mahkota yang sudah kabur.
.
.
.
.
.
"Tsunade."
Wanita bersurai pirang itu pun menoleh ke arah pintu dimana seseorang telah memanggilnya. "Jiraiya." Balasnya menghela napas, dia memalingkan wajahnya kembali ke arah luar jendela menatap langit malam.
Jiraiya menutup pintu ruangan itu sebelum berjalan menghampiri Tsunade. Dia mengambil posisi berdiri di samping jendela yang satunya.
"Bagaimana menurutmu?" Tsunade tiba-tiba bertanya, mata birunya masih menengadah ke langit.
"Menurutmu?" Jiraiya bertanya balik, melipat kedua tangannya, matanya melirik sedikit raut muka Tsunade dari samping.
Tsunade menghela napas. "Inoichi dan Shikaku sedang menginterogasi para council dan bangsawan. Kurasa akan memakan waktu yang sedikit lama. Aku berpikir untuk mengundur pertemuan terbuka dengan rakyat."
"Cepat atau lambat rakyat akan tahu apa yang sedang terjadi di kerajaan ini." Jiraiya membalas.
"Aku tak ingin membuat kekacauan di Ibukota. Kurasa memang lebih baik jika lebih cepat dilakukan." Keluh Tsunade.
Tok!—Tok!—Tok!
Bunyi ketukan pintu terdengar menyela pembicaraan kedua demon sannin.
"Tsunade-sama." Ucap Shizune seraya muncul dari balik pintu. "Kakashi-san dan Yamato-san sudah kembali, mereka ingin bertemu." Ucapnya memberitahu sang atasan.
"Benarkah?!" Tsunade terkejut. "Suruh mereka masuk!" perintahnya seraya bergerak menuju kursi dan mendudukinya.
Dua demon yang dimaksud pun muncul memasuki ruangan. Mereka menunduk memberi hormat pada dua sannin sebelum ikut duduk di salah satu sofa disana.
"Bagaimana?" tanya Tsunade langsung ke intinya. "Melihat kalian hanya berdua kurasa aku bisa menebak kalian gagal membawanya kemari." Ucapnya lagi kecewa.
"Maafkan kami, Tsunade-sama. Naruto-sama lebih cepat dari yang kami kira. Lalu, kami juga bertemu dengan Sasuke-sama." Terang Kakashi merasa bersalah.
"Sasuke?!" Tsunade terbelalak. Dia berdecak saat melihat Kakashi dan Yamato mengangguk. "Jelaskan situasinya." Tuntutnya.
Kakashi dan Yamato pun bergantian menjelaskan situasi yang mereka ketahui, melaporkan segala hal yang sudah mereka alami di markas Danzo, sebaliknya mereka juga bertanya tentang Sasuke yang tiba-tiba datang mencari Naruto.
"Tunggu, jadi sekarang Shikamaru dan Kiba mengikuti Sasuke untuk mencari Naruto?" tanya Tsunade menyimpulkan.
"Kurang lebih seperti itu. Sasuke-sama sangat keras kepala, kurasa mereka berdua saja tidak akan cukup untuk menghentikannya pergi." Ucap Kakashi menghela napas.
"Tsk, ini semakin rumit. Aku harap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka." Keluh Tsunade mengusap wajahnya letih.
"Tsunade kurasa sekarang prioritas kita adalah kerajaan ini. Naruto pasti punya rencana lain untuk mengalahkan Danzo. Kita serahkan Danzo pada mereka, untuk sekarang kita harus memikirkan cara untuk mengubah pikiran rakyat." Jiraiya ikut berbicara.
"Kau benar, sebaiknya kita adakan pertemuan dengan yang lain." Balas Tsunade sebelum beranjak dari tempat duduknya.
.
.
.
.
.
.
Malam pun semakin dini, para bintang sudah mulai lenyap membuat langit itu menjadi sepi. Langit gelap pun mulai terang tanda sang fajar akan segera tiba. Di tengah hutan, dimana kegelapan masih pekat, dua sosok berpakaian gelap terlihat sedang berjalan cepat mencari jalan keluar.
"Naruto-sama, kemana tujuan kita sekarang?" ucap salah satu dari dua sosok itu, mengikuti temannya dari belakang.
"Kota, kita harus mengisi perbekalan dan perlengkapan, dan sudah kubilang berhenti memanggilku seperti itu, Itachi!" ucap Naruto kesal menghentikan langkahnya.
Itachi pun ikut berhenti dan menaikkan alis. "Aku tidak ingat anda melarangku."
"Tsk. Aku selalu melarangmu, ingat! Sudah kubilang aku tidak suka kau memanggilku seperti itu, bahkan sejak belasan tahun yang lalu. Jadi hentikan sikap formalmu itu, keriput!" decak Naruto kesal kembali berjalan cepat.
Itachi tertawa kecil. "Aku senang kau masih sama, Naruto. Penampilanmu sangat berbeda. Aku pikir tuanku yang lama sudah benar-benar lenyap."
"Hm." Naruto bergumam singkat terlihat tidak ingin membicarakannya.
"Penampilanmu sangat berbeda, terutama tubuh dan rambutmu. Aku hampir tidak mengenalimu, Naruto."
Ada keheningan sebelum Naruto akhirnya menjawab. "Banyak hal sudah terjadi…" ucapnya dengan helaan napas.
"Aku tahu. Jika tidak, aku tak akan yakin kalau sebelas tahun sudah kulewati dalam penjara." Itachi berkata dengan senyum sendu.
Keheningan pun kembali menyelimuti mereka.
"Anda tidak ingin memanjangkannya lagi?" Itachi berkata lagi memecah keheningan.
"Entah, kurasa tidak. Aku suka rambutku yang sekarang." Balas Naruto mengedikkan bahunya. "dan kau menggunakan bahasa formalmu lagi." Ia mendelik ke arah Itachi.
"Ah…" Itachi seperti baru menyadarinya, lalu dia tersenyum kecil. "Kurasa aku hanya terlalu senang melihat tuanku kembali. Derajatku lebih rendah darimu, aku hanya bersikap seperti yang seharusnya, Yang Mulia."
"Tsk, kita tidak jauh berbeda, kau juga seorang pangeran. Hentikan sikap formalmu." Decak Naruto tidak suka.
"Tapi kau adalah putra mahkota Kerajaan Konoha." Ucap Itachi membalas.
"Putra Mahkota Naruto sudah mati." Ucap Naruto dingin, membuat Itachi menghentikan langkahnya dan menatap sang pirang.
"Selama tanda tahta masih ada di tubuhmu, sampai kapanpun kau adalah putra mahkota yang resmi dan sah." Balas Itachi kembali melangkahkan kakinya menyamai tuannya.
"Rakyat hanya mengenal Putra Mahkota Sasuke." balas Naruto tanpa membalas tatapan dari Itachi.
Itachi terbelalak mendengar hal itu dan berhenti. "Sasuke?!"
Naruto pun menghentikan kakinya, dan menoleh menatap Itachi. "Kurasa ada banyak hal yang harus kuceritakan padamu, Itachi." Ia menghela napas. "Lebih baik kita cepat, aku ingin kita sampai di kota saat pagi datang." Ucapnya sebelum berjalan lagi.
"Tunggu, bisakah aku tahu keadaan Sasuke sekarang?" Itachi menghentikannya.
Mereka saling bertatapan membuat keheningan, lalu Naruto memalingkan wajahnya. "Dia…akan baik-baik saja…"
.
.
.
Setelah beberapa jam berjalan, mereka pun akhirnya sampai di sebuah kota saat pagi hari seperti yang mereka kira. Suasana pasarlah yang pertama kali menyambut mereka. Orang-orang mulai terlihat berlalu lalang disana-sini memulai kehidupan mereka di hari itu. Tanpa buang waktu, Naruto langsung menyeret Itachi menuju kios-kios pakaian mencari baju yang sesuai untuk Itachi dan juga dirinya, mengingat pakaian yang mereka kenakan sekarang bisa dihitung tidak layak, kotor dan sobek-sobek.
Setelah merasa cukup, mereka mencari makanan untuk mengisi perut, lalu mencari pemandian umum dan penginapan untuk beristirahat. Itachi tak bisa menghentikan rasa kagumnya melihat perubahan sepuluh tahun terakhir pada kerajaannya.
Cklek!
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Naruto pun mendongak dari gulungan kertas yang sedang ia tulis dan menatap Itachi yang baru saja selesai membersihkan diri. Sekarang di depannya berdiri pemuda bersurai hitam yang terlihat tampan dan segar, sangat berbeda dengan pemuda lusuh dan kotor yang pertama kali ia temui di penjara bawah tanah. Surai hitam kelam yang tadinya sangat panjang dan berantakan sekarang sudah dipotong lebih pendek menjadi sepanjang bahu, dikuncir menjadi satu ke belakang. Poni belah tengahnya memanjang ke samping di sisi wajah. Penampilan Itachi sekarang mengingatkannya dengan penampilan Itachi sebelas tahun yang lalu, hanya terlihat lebih dewasa dan tampan.
"Kau terlihat tampan." Ucap Naruto dengan seringai kecil.
"Suka?" balas Itachi dengan senyum menggoda mendekati tuannya yang sedang duduk di sofa kamar penginapan yang mereka sewa.
"Yeah." Naruto terkekeh kecil, membuat Itachi tersenyum lebih lebar, merasa senang membuat sang tuan tertawa.
"Apa yang sedang kau lakukan, Naruto?" Itachi bertanya lagi, mengambil tempat duduk disampingnya. Salah satu alisnya berkerut melihat banyaknya kertas-kertas segel yang tergeletak berantakan di atas meja.
Naruto menghela napas, membuang kertas gulungan yang digenggamnya ke atas lantai. "Aku tak bisa menyegelnya lagi."
"Menyegel?" Itachi menaikkan satu alis, mengambil salah satu kertas yang bertuliskan segel-segel.
"Chakraku, aku tak bisa menyegelnya lagi." Keluh Naruto mengangkat tangannya ke depan wajah, mengamati chakranya bergejolak disana.
"Untuk apa kau menyegel chakramu?" Itachi memasang muka bingung.
"Sejak beberapa hari yang lalu, chakraku tidak stabil. Aku tak bisa mengendalikannya. Satu-satunya cara adalah dengan menyegelnya. Tapi sekarang aku tak bisa menyegelnya lagi. Sudah kugunakan berbagai macam segel yang ku tahu." Terang Naruto memijat pangkal hidungnya.
"Tidak stabil? Apa yang terjadi?" tanya Itachi penasaran.
"Entahlah, tak bisa kutemukan penyebabnya." Naruto mengedikkan bahunya.
Itachi terdiam, lalu melirik ke arah tangan Naruto yang memang terlihat tidak bisa menyetabilkan chakranya. "Boleh aku memeriksanya?" ucapnya tiba-tiba.
"Kau bisa melakukannya?" Naruto menjadi tertarik.
"Aku bisa mencobanya dengan sharingan." Terang Itachi, dia menarik tangan Naruto dan memeriksanya sejenak. Dia mendongak, menatap langsung dua shappire. "Siap?" tanyanya memastikan.
Naruto hanya mengangguk.
"Jangan tutup matamu, oke?" Itachi memperingatkannya sebelum mengeluarkan sharingan di dua onyxnya. Dia pun menatap langsung pada Naruto, dengan cepat masuk ke dalam alam bawah sadar pemuda pirang itu.
Hal yang pertama Itachi lihat adalah kegelapan. Benar-benar hanya sebuah kegelapan. Ia mengedarkan pandangannya, mencari pusat chakra milik tuannya, lalu kegelapan yang ada di sekelilingnya berubah menjadi api besar yang bergejolak dimana-mana. Seperti chakra api yang kekuatannya sangat tidak stabil. Setelah mencari kesana-kemari ia akhirnya menemukan pusatnya. Ia mencoba memeriksanya, mencoba mencari titik masalahnya. Ia terkejut saat yang ia temukan adalah sebuah benang merah. Sebuah benang chakra berwarna merah yang mengalir sangat panjang. Itachi bisa melihat benang itu seakan sedang mengirim chakra ke suatu tempat, dan membuat chakra yang ada disini tidak stabil karena terus ditarik menuju tempat lain.
Penasaran, Itachi pun mengikuti kemana benang chakra itu berakhir. Ia terus berjalan sampai akhirnya ia menemukan kumpulan benang chakra merah yang sangat banyak. Ia pun mencoba mendekat dan memeriksanya namun tubuhnya tiba-tiba dihentakan keras ke belakang. Seperti ada angin besar yang mendorongnya kuat. Ia mencoba mendekat lagi, tapi angin itu semakin besar bahkan bercampur dengan api seakan ingin menyerangnya.
"Hah!" Itachi dengan segera melepas kontak dan kembali ke dunia nyata, napasnya menjadi sedikit terengah.
"Bagaimana?!" Naruto menatapnya sedikit khawatir.
Itachi menarik napas lalu menghembuskannya pelan. "Ada sesuatu yang seperti menarik chakramu dan mengekangnya." Ucap Itachi menerangkan hal yang ia lihat barusan.
"Sesuatu?"
"Yeah, seperti benang merah. Aku tidak begitu mengerti. Sesuatu menahan chakramu dan menggunakannya. Tapi tidak disini. Aku merasa itu sesuatu yang sangat jauh dari sini. Apa kau pernah memberikan chakramu pada seseorang?" tanya Itachi ingin tahu.
"Seseorang….menggunakannya…?" Naruto mengeluarkan suara dengan tidak fokus, seperti sedang berkata pada dirinya sendiri.
"Yeah…" Itachi menaikkan alisnya bingung saat Naruto seperti hanyut dalam pikirannya.
Naruto terdiam, lalu menatap tangannya. 'Seseorang…' ia berbisik lirih, pikirannya menerawang menuju seorang pemuda berambut raven yang ia sengaja ia tinggal di Istana.
'Tapi itu tidak mungkin…Aku sudah melepas tandanya…' batinnya bingung. 'Bagaimana bisa…Sasuke…'
.
.
.
.
.
Ketika ia sadar, ia berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Angin bersemilir sepoi-sepoi menerpa tubuhnya. Langit berwarna sangat biru, indah mengingatkannya pada mata seseorang. Matahari pun terlihat terik menyinari makhluk hidup yang ada di bawahnya.
Sasuke mendongak, mengedarkan pandangannya dengan bingung ke sekelilingnya. Hanya terlihat padang rumput dan bunga dimana-mana. Lalu…sebuah cekikikan kecil terdengar tiba-tiba. Sasuke pun dengan segera menoleh ke arah suara, menatap bingung saat tak menemukan siapapun. Dia mulai berjalan, mencari siapapun yang baru saja tertawa.
Cekikikan itu terdengar lagi, kini lebih jelas seperti suara tawa anak kecil. Sasuke melirik ke sekeliling namun tak berhasil menemukan anak kecil. Dia pun berjalan lebih cepat, mengingat-ingat arah suara yang didengarnya tadi. Ia menoleh ke samping saat mendengar tawa lainnya. Matanya terbelalak saat samar-samar ia melihat seorang anak kecil yang berlari cepat meninggalkannya.
"Tunggu!" teriak Sasuke berlari mengejar anak itu. Dia mengerjap bingung saat anak itu sudah lenyap dari pandangannya. Dia mengedarkan pandangannya, mencari kemungkinan anak itu bersembunyi. Lalu ia melihatnya…
Bukan, bukan anak kecil yang tadi tertawa dan berlari pergi. Kini yang ia lihat sama sekali berbeda. Dari kejauhan ia melihat sesosok pemuda yang sedang berbaring di tengah-tengah padang rumput. Penasaran, ia pun berjalan mendekat dengan pelan. Entah apa yang membuatnya takut pemuda itu akan bangun jika ia berjalan terlalu cepat.
Samar-samar ia pun mulai menangkap sosok pemuda yang tadi dilihatnya. Tubuhnya terlentang dengan salah satu lengan sebagai bantalan, sedang tangan yang lain ditaruh di atas dada. Surai pirang pemuda itu sangat indah, namun juga terasa tak asing baginya, bergerak tak teratur bersamaan angin yang berhembus disekitarnya. Dua kelopak matanya tertutup, menyembunyikan mata sang pemuda, lalu saat Sasuke melirik wajahnya, napasnya pun tertahan. Kakinya dengan segera berlari cepat mendekat, berhenti ketika ia berdiri tepat disamping pemuda yang sedang tertidur itu.
Lalu ia pun berjongkok, salah satu tangannya terulur menyentuh tiga goresan tipis yang menghiasi pipi pemuda pirang itu. Napasnya kembali tertahan saat kelopak mata yang tertutup itu dengan perlahan terbuka menampilkan dua manik shappire yang sangat indah.
"Naruto…" bisiknya dengan hembusan napas lirih.
Dua pasang manik yang sangat berbeda warna itu pun bertatapan intens. Biru melihat sang hitam. Saling mengunci tanpa mengatakan apapun.
Sasuke tersentak saat sebuah tangan terulur mengusap pipinya.
"Kenapa kau menangis…?" ucap Naruto mengusap air hangat yang mulai menetes membasahi pipi sang raven.
Sasuke menjadi terisak. Bibirnya bergetar menahan tangisannya yang entah sejak kapan mulai menetes.
"Sasuke…kenapa kau menangis…?" Naruto bertanya lagi menangkup wajah sang raven dalam dua telapak tangannya, mengusap air hangat yang terus menetes dengan ibu jarinya.
"Naruto…" panggil Sasuke hampir tak mengeluarkan suara, meremas kedua tangannya yang menyentuh lembut wajahnya.
Naruto menarik sang raven dalam pelukannya, mendekap pemuda itu dengan erat. "Jangan menangis…aku mohon…" bisiknya mengusap kepala Sasuke.
Sasuke menahan isakannya, membenamkan wajahnya pada dada pemuda pirang itu. "Maaf.." bisiknya lirih. "Maaf…maaf…" ia membisikan kata itu terus menerus, menenggelamkannya dalam dada pemuda yang ia dekap.
"Sasuke...Sasuke…" panggil Naruto menarik wajah sang raven untuk menatapnya.
"Apa yang kau katakan Sasuke? Aku tidak mengerti. Kenapa kau meminta maaf? Kenapa kau menangis?" tanyanya beruntun namun dengan nada yang halus, mengusap air mata yang membasahi pipi sang raven.
"Aku…" Sasuke terisak.
"Tersenyumlah…" ucap Naruto dengan sebuah senyuman lembut terulas di bibirnya. "Tersenyumlah Sasuke…aku ingin melihat senyummu…" ucapnya lembut, mengusap bibir sang raven.
Sasuke terdiam, menatap lebar pada Naruto yang tersenyum padanya.
"Apa yang kau tunggu, baka? Kau bahkan tidak bisa tersenyum sekarang?" ucap Naruto dengan senyum jahil.
Sasuke mengigit bibirnya, dengan ragu-ragu menaikkan sudut bibirnya melengkung membentuk senyum.
"Jangan digigit, tersenyumlah lebih lebar, lihat mataku, Sasuke…" Naruto berkata, menyentuh gemas hidung sang raven, tertawa kecil saat melihat rona merah muncul menghiasi pipi putih pucat itu.
Sasuke pun tersenyum, meskipun sedikit dipaksakan pada awalnya. Namun ia menjadi ikut tertawa terhanyut dalam tawa kecil Naruto yang menertawainya.
"Kau lebih cantik saat tersenyum seperti ini…" ucap Naruto membelai lembut pipi sang raven. "Karena itu jangan menangis...tersenyumlah Sasuke…" bisiknya mengecup gemas hidung sang raven sebelum beralih menyentuh lembut bibir pemuda itu.
Rona merah di pipi Sasuke pun semakin kentara, ia dengan segera membalas sentuhan bibir itu. Hanya sebuah sentuhan lembut tanpa tuntutan, membuatnya terhanyut dalam kehangatan yang dipancarkan oleh sang pemuda pirang. Ia pun memejamkan matanya, kedua tangannya meremas erat baju sang pirang seakan tak ingin melepasnya lagi.
…dan ketika Sasuke membuka mata lagi, seluruh pandangannya berubah menjadi suatu atap kamar yang sederhana. Tak ada padang rumput, tak ada langit biru, tak ada Naruto, tak ada senyuman dan…ciuman kasihnya…
Mimpi…
Hanya sebuah mimpi belaka…
Sasuke menghela napas, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya letih. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mengamati ruangan kecil sederhana yang ia sewa untuk menginap. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menghampiri jendela dan membukanya. Angin dingin pun langsung berhembus melewati tubuhnya. Dia memejamkan matanya, menopang tubuhnya pada jendela. Salah satu tangannya terulur ke atas, menyentuh pelan bibirnya sendiri.
Masih terasa…
Sentuhan hangat itu masih begitu terasa di bibirnya…
Kenapa dia harus memimpikan hal seperti itu?
Untuk yang ke sekian kalinya, dadanya lagi-lagi terasa sangat sesak. Ia membuka matanya kembali, menengadah menatap langit gelap. Kedua tangannya mengepal erat, meremas kuat menahan seluruh perasaannya.
'Naruto…'
Di sebuah kota tepatnya di sautu penginapan, seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Surai pirangnya sedikit berantakan akibat tidurnya yang tidak nyaman. Dia menghela napas, mata shappire-nya melirik ke sekeliling ruangan kamarnya yang gelap tanpa cahaya penerangan. Merasa tak bisa tidur lagi, dia pun beranjak berdiri dari futonnya dan berjalan menghampiri jendela di ruangan itu. Ia berdiri di sisi jendela, menopang wajahnya pada tangan yang berpangku pada jendela. Salah satu tangannya terangkat mengusap pelan bibirnya.
"Tsk." Ia berdecak pelan. "Benang merah huh…" bisiknya hampir tak bersuara.
"Naruto?" sebuah suara memanggilnya dari dalam ruangan, bersamaan bunyi singkapan selimut tanda orang tersebut akan bergerak dari futon dan menghampirinya.
Dengan segera, pemuda pirang itu pun mengibaskan tangannya, menghentikan Itachi yang bermaksud mendekatinya.
"Nah…aku hanya tak bisa tidur…" ucapnya ringan tanpa memalingkan pandangannya dari langit kelam.
.
.
.
.
.
"Hueeekkk—!"
Suara muntahan terdengar bergema memenuhi ruangan kamar mandi, lalu disusul suara muntahan lain yang kelihatan tidak ada hentinya.
Di sebuah sofa yang ada di ruang tamu, Kiba bergidik, mendengar suara muntahan-muntahan itu. "Itu kedua kalinya dia muntah pagi ini, kau yakin dia tak apa-apa?" ucapnya meremas tangan kekasihnya yang duduk disampingnya.
Shikamaru menghela napas, lalu beranjak dari kursinya dan mengambil sebuah air minum dalam gelas sebelum membawanya ke kamar mandi. Dia membuka pintu ruangan itu dan melirik ke seluruh ruangan untuk menemukan sosok seseorang.
Sesosok pemuda terduduk lemas di atas lantai di samping kloset, menyender pada dinding dengan mata terpejam. Raut pucat terlihat jelas di wajahnya, bau muntahan pun tercium langsung menusuk hidungnya. Pemuda bersurai raven itu membuka matanya, melirik tidak fokus pada Shikamaru yang berdiri di depan pintu.
Tanpa berkata apapun, Shikamaru berjalan mendekati sang raven, meletakan gelas minum itu disamping sang pemuda lalu beranjak lagi menuju kloset di sampingnya. Ditekannya tombol 'flush' untuk menyiram sisa muntahan yang di buang di kloset tersebut, lalu ia bergerak lagi menuju lemari, mengambil sebuah handuk kecil dan membasahinya dengan air, sebelum menyerahkan handuk itu pada pemuda tadi.
"Aku akan menyiapkan air panas untukmu, sebaiknya kau bersihkan mulutmu dulu." Ucapnya pelan meletakkan handuk itu di pangkuan sang raven saat pemuda itu tak bergerak mengambilnya.
"Apa yang kau lakukan…" sebuah suara yang cukup serak terdengar dari sang raven, menghentikan langkah kaki Shikamaru yang sedang menuju bath up.
Shikamaru tak menjawab, memilih melanjutkan hal yang ingin dilakukannya barusan. Dia membuka keran air panas dan mengisi kolam mandi itu sampai penuh.
"Apa yang kau lakukan!" suara itu berkata lagi lebih keras.
Shikamaru menghela napas, lalu membalikkan badannya menghadap sang raven.
"Sasuke, aku menghormatimu sebagai putra mahkota, dan juga menganggapmu sebagai salah satu temanku. Meskipun kami disini karena perintah dari Hokage-sama, tapi aku benar-benar tidak suka melihatmu apalagi membiarkanmu seperti ini. Karena itu bisakah kau sebentar saja membuang sikap keras kepalamu dan menerima bantuan kami?" ucapnya yang mungkin merupakan kalimat terpanjang yang pernah ia katakan tanpa merasa kerepotan.
Sasuke terdiam, menatap lurus pada Shikamaru yang tak sekalipun mengalihkan pandangannya. Pemuda berambut nanas itu dan kekasihnya tiba-tiba saja memaksa untuk ikut dengannya. Terus menempel bahkan setelah ia berulangkali mencoba mengusir mereka. Kini rahasianya sudah terbongkar. Mereka tidak mungkin tidak tahu keadaan tubuhnya sekarang. Tatapan itu…pandangan yang terarah padanya…ia merasa dikuliti, merasa sedang dihina karena keadaannya yang begitu menyedihkan.
"Kau pasti menganggapku begitu menyedihkan…" ucap Sasuke dingin, membuang mukanya dari Shikamaru.
Shikamaru tak menjawab. Dia menatap sejenak pada sang putra mahkota di hadapannya sebelum menghela napas. Sebuah seringai terlukis di bibirnya seraya ia berjalan mendekat. "Kau memang sangat menyedihkan." Ucapnya dengan seringai mengejek, namun binar di matanya mengatakan bahwa ia sedang bercanda.
Sasuke pun menoleh, mendelik tajam pada pemuda nanas itu.
"Kenapa kau tidak hilangkan kondisi menyedihkanmu sekarang? Mandi dan segarkan tubuhmu. Kita harus segera bersiap jika kau ingin segera menemukan Naruto." Shikamaru berkata dengan menghela napas, sebelum berjalan keluar dari kamar mandi.
"Hn." Gumaman singkat itulah yang terakhir kali ia dengar sebelum suara air yang mengucur deras terdengar dari arah kamar mandi.
.
.
Selesai membersihkan diri, Sasuke mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ia berdiri di depan cermin menatap penampilannya yang terpantul jelas di balik kaca. Shikamaru benar. Dia terlihat menyedihkan. Wajahnya lebih pucat daripada biasanya, lingkaran hitam mulai terlihat di bawah matanya. Sasuke menghela napas lalu melirik ke bagian tubuhnya. Salah satu tangannya terangkat, mengelus pelan perutnya.
'Masih datar…'
Tapi tak lama lagi pasti akan mulai terlihat. Ia tak tahu pada bulan ke berapa perutnya akan mulai membesar, tapi…
Sasuke mengepalkan tangannya.
Kehamilan demon tidak berlangsung begitu lama, kurang dari tujuh bulan ia akan sudah melahirkan anak yang dikandungnya. Tapi bukan hal itu yang dikhawatirkannya. Ia dengar masa-masa kehamilan merupakan sisi terlemah dari seorang submissive. Ia benci akan hal itu. Ia ingin segera menemukan Naruto dan menyelesaikan semuanya…
Sasuke mengangkat tangannya, meremas tanda tiga koma yang ada di lehernya. Tanda itu masih ada. Masih terukir jelas di lehernya, bukan hanya sebuah mimpi. Tandanya benar-benar muncul kembali di tubuhnya…
Sasuke menunduk, memalingkan wajahnya dari cermin. Kepalan jarinya pun menjadi lebih erat.
'Naruto…'
.
.
.
Cklek—!
Pintu kamar mandi pun terbuka, memperlihatkan sosok Sasuke yang sudah berpakaian rapi dan terlihat lebih segar.
Kiba terlonjak dari tempat duduknya dan menoleh padanya. "Kenapa kau lama sekali!" ocehnya tanpa basa-basi.
"Hn." Sasuke memutar bola matanya sebelum berjalan menuju lemari es dan mengambil air minum.
"Cih, dingin sekali. Percuma aku khawatir dari tadi. Sebenarnya kau sakit apa sih? Terus-terusan muntah dari kemarin…" cibir Kiba kesal sudah dihiraukan.
Sasuke menghentikan gerakannya, dan menatap Kiba datar.
"…."
"…."
"A-apa?! Kenapa kalian melihatku seperti itu?!" protes Kiba kesal.
"Kiba…" Shikamaru menghela napas. "Mengingat kau yang seorang demon anjing…kau yakin tidak bisa mencium baunya?"
"Huh? Mencium apa? Bau Sasuke maksudmu? Kalau dipikir-pikir benar juga. Rasanya aneh, kenapa aku mencium pup baru dari tubuhmu…?" ucap Kiba sekenanya.
"…"
"…"
"…"
Ada keheningan, sebelum Kiba mengerjapkan matanya, lalu melirik ke arah Sasuke dan terbelalak lebar. "K-kau…" dia ternganga menunjukan jarinya pada Sasuke. "K-kau hamil?!"
Sasuke memutar bola matanya, lalu berjalan untuk duduk di sofa paling pinggir.
"T-tunggu, serius?! Bagaimana bisa?!" oceh Kiba terbelalak.
"Puppy…seseorang bisa hamil jika mereka melakukan 'itu' dan 'itu', dan kurasa kau juga bisa jika kita—Bletak!—Ouch…" Shikamaru merintih kesakitan, mengelus kepalanya yang baru saja dipukul sang kekasih.
"Shut up! Shika!" Kiba mendelik, wajahnya menjadi merah padam.
"Apa kalian sudah selesai? Sebaiknya kita segera bersiap dan pergi dari tempat ini." Ucap Sasuke memasang tampang dingin, ia menyenderkan tubuhnya pada sofa.
"Tunggu! Kau masih belum menjawab pertanyaanku! Bagaimana caramu bisa hamil?! Kau bahkan tak punya dominan!" protes Kiba menuntut.
"Aku punya seorang dominan!" balas Sasuke mendelik tajam, sebelum ia sadar seharusnya ia tak mengatakan itu.
"Huh? Benarkah? Siapa? Kenapa aku tak mencium bau—" Kiba terdiam sebelum terbelalak lebih lebar dari sebelumnya. "N-naruto?! Aku pernah mencium bau Naruto dari tubuhmu! Jangan bilang kalau Naruto adalah—"
"Hn." Sasuke bergumam cuek melipat kedua tangannya.
Namun reaksi itu berhasil membuat Kiba ternganga shok. "T-tidak mungkin, yang benar saja?! Shika, jangan bilang kau sudah tahu hal ini?!" tuntutnya sekarang pada sang kekasih.
"Well…yeah…" Shikamaru menggaruk kepalanya canggung.
"Brengsek! Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal!" protes Kiba kesal. "Kau bahkan tidak memberitahuku dulu saat tahu Naruto adalah seorang Putra Mahkota dari Yondaime-sama! dan sekarang ini?! Arrgh! Kurasa kepalaku mau meledak!" geramnya berteriak.
Shikamaru menghela napas. "Maafkan aku Kiba, lagipula tidak ada yang tahu tentang ini selain kita dan Hokage-sama…" ucapnya merasa bersalah.
"Cih, fine!" Kiba merengut, melipat kedua tangannya kesal.
"Tsk, bisakah kita bergegas saja? Aku tidak ingin membuang waktu." Ucap Sasuke dingin.
"Apa kau sudah tahu kita akan pergi ke arah mana?" Shikamaru menghela napas lagi.
"Kita akan pergi ke arah utara. Kurasa tidak jauh dari sini…" Sasuke sedikit bergumam.
"Darimana kau tahu pasti Naruto pergi kesana?" Shikamaru menaikkan alisnya.
"Aku bisa merasakan chakranya. Kalian juga memiliki ikatan yang sama, ingat?"
"Huh? maksudmu ikatan tanda? Kupikir tanda di tubuhmu sudah lenyap?" Shikamaru mengkerutkan alisnya bingung.
Sasuke menatap tajam ke arahnya.
"Uh…hokage-sama yang memberitahuku, oke?" Shikamaru mengangkat tangannya pasrah.
"Hn."
"Jadi tandanya benar-benar kembali? Bagaimana bisa?!" tanya Shikamaru penasaran.
Sasuke menghela napas. "Hn. Kenapa kau tidak katakan padaku alasannya, genius."
"Jadi kau tidak tahu?" Shikamaru ikut menghela napas. "Well, jika ini masalah tanda, aku kurang begitu memahaminya. Marking hanya digunakan untuk mengikat submissive dan menyalurkan chakra…" ucapnya pelan, menautkan jari-jari kedua tangannya dan memangkunya di atas paha seraya berpikir. "hm…bagaimana kalau chakranya tertahan?"
"Tertahan…?" Sasuke menaikkan alis bingung, menjadi tertarik dengan pikiran Shikamaru.
"Well, aku hanya berpikir, bayi di dalam perutmu akan membutuhkan chakra, bukankah seharusnya ia akan membuat tandanya terikat lebih kuat? Jika benar, seharusnya tanda di tubuhmu tidak bisa dilepas lagi karena ada bayi kalian yang membutuhkannya, sehingga aliran chakranya tidak akan terputus dari tanda dan sang dominan. Tapi…yang terjadi…tandanya sempat terlepas dan sekarang kembali lagi…itu berarti chakra Naruto yang mengalir di tubuhmu sempat terputus…" ucapnya mengira-ngira.
"Lalu…? Apa yang membuatnya terputus…?"
"Hm…Naruto bisa saja benar-benar memutuskan chakranya. Tapi jika hal yang kukatakan benar, seharusnya bayi kalian tak akan membiarkannya. Tapi…" ia berhenti sejenak, membuat Sasuke mengkerutkan alisnya penasaran.
"Bagaimana jika ada sesuatu yang menahan chakra Naruto, sehingga bayi yang ada di dalam perutmu tidak bisa menarik chakra yang dibutuhkannya?"
"Menahan? Maksudmu seperti segel?"
"Segel…hmm, kurasa itu bisa digunakan…Apa Naruto menggunakan semacam segel chakra? Jika benar, itu berarti segelnya sudah dilepasnya, karena itu chakranya kembali mengalir ke tubuhmu, dan tandanya pun ikut kembali…" ucap Shikamaru mengutarakan pendapatnya.
"Segel…" gumam Sasuke, dua manik onyxnya melebar saat tiba-tiba teringat perkataan Naruto tentang menggunakan segel untuk mengendalikan chakranya yang tidak stabil. "Segel…kurasa memang itu penyebabnya…"
"Huh?"
"Jika perkataanmu benar, apakah itu berarti tanda di tubuhku tidak akan bisa dilepas kembali?" tanya Sasuke menatap langsung pada Shikamaru.
Shikamaru tertegun. "Yeah…kurasa bayi kalian tak akan membiarkannya terlepas…"
Mendengar itu, Sasuke mengulas senyum kecil. "Sebaiknya kita pergi sekarang…" ucapnya beranjak dari sofa.
.
.
.
"Oi, oi, oi, kau yakin Naruto pergi ke arah sini?!" Kiba meneguk ludah berat, menatap horror pada hutan besar di depannya.
Shikamaru yang selalu santai pun ikut merasa bergidik melihat mengerikannya hutan yang akan mereka masuki. Dia melirik ke arah Sasuke seakan ingin memastikannya ulang.
"Hn." Gumam Sasuke singkat sebelum melangkahkan kembali kakinya.
"H-hey! T-tunggu dulu! Kita benar-benar akan masuk kesana?!" protes Kiba cepat menghentikan Sasuke.
"Hn, tentu saja. Naruto pergi ke arah kemari, maka kita juga akan menyusulnya kemari, bodoh." Sasuke memutar bola matanya.
"Tapi ini hutan terlarang!" teriaknya hampir menjerit takut. "Ada banyak monster mengerikan di dalam sana! Dan kita cuma bertiga saja! Bagaimana kalau kita diserang di tengah jalan?!"
"Bilang saja kalau kau takut, Kiba." Ucap Sasuke malas.
"A-apa?! S-siapapun pasti akan takut masuk ke sana, damn it!" teriak Kiba membela diri. "Bagaimana jika kita benar-benar diserang?! Kudengar belum pernah ada yang berhasil keluar dari hutan ini!" Ia berteriak menjambak rambutnya panik.
"Kalau begitu kau pulang saja, aku tetap akan masuk." Ucap Sasuke cuek, berjalan melangkah lebih dalam ke hutan gelap itu.
"Cih, fine, terserah saja! Aku mau pulang, ayo Shika!" rengut Kiba membalikkan badannya.
"Hahh… merepotkan…" Shikamaru menghela napas sebelum berjalan menyusul sang putra mahkota.
Kiba pun terbelalak ngeri. "Wh-what! Tunggu Shika! Apa yang kau lakukan?!"
"Ayolah puppy, kurasa ini tak akan begitu buruk. Ada Naruto di dalam sana, mungkin kita bisa menemuinya di tengah jalan…" Shikamaru menghela napas lagi.
"T-t-tapi…" Kiba menggigit bibirnya, melirik ke arah hutan lalu ke arah Sasuke dan Shikamaru yang mulai berjalan meninggalkannya. "Fuck! Sial, jika terjadi sesuatu, aku tidak mau tanggung, brengsek!" teriaknya geram sebelum mengejar dua temannya.
Mereka bertiga pun berjalan dengan was-was menyusuri hutan. Pepohohan yang sangat tinggi dan besar memenuhi tempat itu, disertai banyak tanaman dan rerumputan liar yang entah mereka tidak tahu namanya. Pepohonan raksasa dan rindang penuh dedauan menghalangi cahaya matahari untuk menyinari masuk, membuat hutan itu terlihat remang-remang bahkan di siang hari. Kiba tak henti-hentinya merasa merinding dan melirik kesana kemari dengan was-was, takut-takut ada yang tiba-tiba menyerang mereka.
Hutan terlarang, dinamakan seperti itu karena memang hutan itu terlarang untuk dimasuki para penduduk. Berbagai macam jenis monster buas dan mengerikan tinggal di dalam sana. Konon, sekali masuk, siapapun itu tak akan bisa kembali lagi. Hutan yang sekali lihat saja, pasti akan membuat orang merinding takut dan menghindarinya.
Kiba berjengit kaget saat mendengar suara keras seperti ranting patah. "K-kalian mendengar itu?" ucapnya merinding.
"Mendengar apa?" Shikamaru menguap ngantuk.
"Tadi! Aku mendengarnya dengan jelas! Ada sesuatu yang mengawasi kita!" ucap Kiba panik.
Mendengar itu, Sasuke langsung memasang sikap waspada. Dia melirik hati-hati ke sekelilingnya mencari tahu jika benar ada yang memang mengawasi mereka. Jujur saja, dia sendiri juga merasakan perasaan yang tidak enak.
Alisnya mengernyit saat tak bisa menemukan apapun. "Hn, kurasa hanya perasaanmu saja, Ki—Awas!" ia berteriak kaget saat melihat sesuatu yang melesat cepat ke arah Kiba. Bergerak refleks, dengan cepat ia menarik kusanagi dan menangkis apapun yang menyerang mereka.
Trang!
Makhluk itu bergerak sangat cepat menghindar lalu meloncar mundur, sebelum menerjang lagi dengan gerakan kilat. Sasuke pun tanpa menurunkan pertahanannya kembali menangkis dan menyerang. Samar-samar ia melihat sesuatu berwarna hijau dan biru. Ia terbelalak saat dari berbagai arah bermunculan monster yang sepertinya sama dengan yang sedang ia serang. Shikamaru dan Kiba pun dengan cepat memasang posisi bertarung, berdiri tepat di belakang Sasuke, sehingga mereka saling melindungi.
Monster-monster itu mulai berdatangan lalu berkumpul mengelilingi mereka. Sekarang Sasuke bisa dengan jelas melihat monster-monster berukuran kecil itu.
"Goblin?!" ucapnya terbelalak menyadari posisi mereka yang sekarang terkepung.
Monster berwarna hijau biru itu berukuran cebol, hanya setinggi sekitar satu meter atau lebih. Berkepala bulat dan berbadan kurus, dengan berbagai macam senjata yang berbeda-beda, digenggam oleh tiap monster. Mereka bisa bergerak sangat cepat dan lihai menggunakan berbagai senjata.
"Fuck! Sudah kuduga akan jadi seperti ini! Apa yang harus kita lakukan!" Kiba berteriak panik.
"Diamlah Kiba." Sasuke mendesis, sebelum menerjang maju menangkis serangan salah satu goblin yang hendak menyerangnya.
Benturan senjata pun terjadi di antara mereka. Sasuke menangkis palu yang mengarah ke arahnya dengan pedang, lalu melemparkan tendangan kuat pada perut goblin yang tadi menyerangnya hingga terlempat jauh. Tak ingin membuang waktu, ia menggunakan chakra listriknya, menyalurkannya langsung pada bilah pedangnya. Dia pun menerjang maju ke tengah gerombolan monster, menyerang mereka satu per satu dengan gerakan pasti. Satu dua goblin mulai berguguran terkena serangannya.
"Sasuke!" ia tersentak kaget saat mendengar Shikamaru memanggil namanya keras. Dua onyx-nya pun terbelalak horror saat menemukan dua goblin ternyata menyerangnya dari belakang. Tubuhnya menjadi kaku saat sadar posisinya sangat genting. Tak sempat bergerak ia terbelalak ngeri, seluruh tubuhnya tiba-tiba ingin berteriak.
'Naruto!'
SLASH—!
.
.
.
.
.
"Huh?"
Naruto mengerjap bingung, menoleh cepat ke belakang lalu melirik ke sekelilingnya. Kedua alisnya pun menekuk kebingungan.
"Ada apa?" Itachi menaikkan alis heran melihat tingkahnya.
"Itachi, apa barusan kau memanggil namaku?" tanya Naruto masih menekuk alisnya bingung.
"Tidak." Itachi mengernyitkan kedua alisnya.
"Benarkah? Tapi tadi rasanya…" Naruto bergumam bingung. Tidak. Itu tidak mungkin kan?
Tidak mungkin ia merasa mendengar suara Sasuke yang memanggil namanya…
"Kenapa?"
"Tidak, tidak apa…Ayo, kita harus cepat!" ucapnya berjalan lebih cepat menuju tempat yang sedang mereka tuju.
"Ngomong-ngomong, Naruto, apa yang kita lakukan di tempat seperti ini?" tanya Itachi penasaran, memperhatikan was-was hutan yang terlihat mencekam di sekelilingnya.
"Oh, kita akan menemui guruku." Balas Naruto santai.
"Guru? Di tempat seperti ini?" tanya Itachi heran.
"Yeah, dia tinggal disini, tinggal sebentar lagi kok.." balas pemuda pirang itu lagi santai.
"Well, apa kau yakin tempat ini aman? Ada banyak monster yang mengawasi kita dari tadi…" Itachi berkata pelan, melirik hati-hati para monster yang memang bersembunyi dalam gelap di sekitar mereka.
"Oh, tenang saja, mereka tidak akan berani menyerang. Mereka tahu siapa yang berkuasa disini, mereka hanya berkumpul untuk menyambutku…" Naruto berkata dengan seringai kecil, mengibaskan tangannya dengan enteng.
"Berkuasa? Menyambutmu? Mereka mengenalmu?" tanya Itachi penasaran.
"Yeah, tentu mereka mengenalku. Aku sudah tinggal disini selama bertahun-tahun, bersama guruku tentunya.." balas Naruto mengedikkan bahunya santai.
"Bertahun-tahun?! Di hutan ini?!" Itachi terbelalak kaget.
"Yep." Naruto menyeringai senang. "Kita sudah sampai." ajaknya memasuki sebuah goa yang cukup besar.
Itachi menatap kagum goa yang ia masuki, dari depan memang terlihat sangat gelap dan mengerikan. Namun begitu mereka masuk, ia dapat melihat berbagai kristal berwarna menyala yang menancap disana sini, terutama pada bagian atap.
"Orang seperti apa gurumu itu?" tanyanya menjadi penasaran pada orang yang tinggal di tempat seperti ini apalagi di tengah hutan terlarang.
"Well, kurasa dia sedikit angkuh dan sombong. Pemalas dan sangat sadis." Naruto berkata mengira-ngira, jari-jarinya mengelus dagunya seperti orang yang sedang berpikir keras.
Itachi mengerutkan alisnya mendengar deskripsi dari Naruto. "Terdengar seperti orang yang tidak terlalu baik…" ucapnya tidak yakin.
Naruto terkekeh mendengarnya. "Kurasa kau benar haha, tapi aku sangat menyukainya. Dia sudah seperti ayahku, dia yang merawatku sejak sebelas tahun yang lalu. Tapi well, kurasa daripada dipanggil ayah akan lebih pantas jika aku memanggilnya sebagai kakak…" ucapnya mengulas senyum kecil.
"Okay, kau membuatku penasaran ingin bertemu dengannya…" Itachi mengernyitkan alisnya.
Kik kiik kiiikkk!
Sebuah suara bernada tinggi tiba-tiba mengagetkan mereka. Itachi pun dengan segera menoleh ke arah suara, menaikkan alisnya saat menemukan dua rubah berukuran sedang menghampiri mereka.
"Hey, Yuki, Ruki." Naruto memanggil mereka dengan tersenyum kecil, mengusap gemas kepala masing-masing rubah.
"Kau mengenal mereka?" Itachi menyuarakan rasa penasaraannya, menatap kedua rubah itu dengan seksama. Rubah yang berukuran lebih besar berbulu biru keputihan, dengan dua ekor di belakang tubuhnya, sedang yang satunya berbulu biru kelam kehitaman dan hanya memiliki satu ekor.
"Yeah, mereka penjaga tempat ini. Hey, apa bos ada di dalam?" Naruto menanyai dua rubah itu, mengelus-elus halus bulu mereka.
Dua rubah itu memekik senang menjawabnya. Naruto membalas mereka dengan kekehan kecil, lalu mengajukan pertanyaan lain. Itachi sedikit tercengang memperhatikan Naruto yang terlihat seperti sedang mengobrol dengan mudah dengan dua rubah itu.
"Kau bisa bicara dengan mereka?" Itachi menatapnya penasaran.
"Well, mereka adalah rubah. Sebagai rubah aku bisa mempelajari bahasa mereka. Kurasa kau juga akan bisa melakukannya dengan para serigala." Terang Naruto, dia mengangguk kecil saat rubah itu melompat-lompat senang ke arahnya sebelum berlari masuk ke dalam goa, dibelakangnya Naruto pun berjalan mengikuti dua rubah tadi.
"Benarkah? Aku baru mengetahuinya." Itachi berkata menganggukan kepalanya.
"Well…oh, kita sudah sampai." Naruto berlari kecil memasuki ruangan goa yang lebih luas, atau bisa dikatakan sangat sangat luas. Cahaya menyala dari para kristal langsung memenuhi ruangan goa, membuatnya sedikit merasa silau sejenak.
Setelah beberapa saat, Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan goa itu, menyeringai saat menemukan sesuatu seperti yang ia kira. Menarik napas dalam-dalam, ia pun berteriak sekuat tenaga.
"KUUUUUUUUCCCHHHAAAAAAAAANNNNNNNN!"
Itachi menatap terkejut pada Naruto. "N-naruto?! Apa yang—
"Sshhh—! Dia akan segera kemari!" ucap Naruto cepat, segera menghentikan kalimat Itachi.
"Kemari?! Siapa yang—
GRRRRRRROOOOAAAAAAAARRRRR!
Bunyi geraman yang sangat keras tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan goa itu, lalu diikuti debaman langkah kaki yang sangat keras bergema memenuhi goa. Itachi menjadi was-was saat atap dan dinding goa itu pun ikut bergetar hebat akibat guncangan yang ditimbulkan. Ia menatap hati-hati pada ruangan gelap dimana suara itu berasal tadi. Langkah kaki itu pun terdengar lebih keras dan lebih dekat. Menjadi lebih dekat, dan dekat.
Itachi menelan ludah saat hal pertama dilihatnya adalah dua bola mata besar berwarna merah menyala, lalu diikuti sesuatu yang berbulu merah keorenan. Ia terbelalak saat samar-samar mulai menangkap sosok monster yang tidak bisa dibilang kecil itu, dua telinga panjang berdiri tegak di atas kepala, dengan moncong bergigi sangat tajam dan besar. Kegelapan pun akhirnya menyingkir digantikan cahaya kristal. Itachi menatap horror saat melihat betapa besarnya monster didepannya, setinggi lebih dari sepuluh meter atau bahkan mendekati dua puluh meter, dengan sembilan ekor panjang dan besar bergerilya di belakang tubuh monster berbentuk rubah raksasa itu.
Dua bola mata merah itu pun melirik tajam ke bawah, lalu melirik ke arah Naruto yang menyengir ke arahnya. Dengan malas, monster itu memutar dua bola matanya, sebelum berkata.
"Cih, ku pikir siapa yang membangunkanku dari tidur, ternyata kau, bocah."
"Yo! Sensei!" Naruto menyeringai senang memberi hormat dua jari.
.
.
.
.
.
.
to be continued...
Sensei?! hohoho siapakah guru Naruto? pasti uda pada tahu kan? iya kan? haha, silahkan nantikan chapter selanjutnya :3
baidewai, sepertinya reader sudah mulai lapar yak? kekekeke, adegan mesra-mesraan nya tunggu dikit lagi haha, bersabar akan membuat semuanya menjadi sangat lezat (?) #plakk
haha silahkan menunggu kejutan di chapter depan dehh, Fro juga sudah tidak sabar menulis bagian enaknya hihi #plakk
.
/-.-.-.-.-.-.-Pojok Tanya Jawab-.-.-.-.-.-.-/
[sebennernya sai suka ama naruto? apa kelak yg jadi raja itachi?] perasaan sai hanya sai lah yang tahu #plakk, hahaha yg bakal jadi raja nanti shikamaru #lho?
[Mbah danzo kemana tuh?] ciee ecieee nyariin mbah danzo yang cakep yak? #ditendang dia lagi bertapa di gunung cari amanah dari monyet #plakk
[apakah fanfic ini update seminggu sekali...?] tidak, haha, fro ga bisa janji apdet seminggu sekali. untuk sekarang dua minggu sekali mungkin...
[APA Rookie 12 tau Naruto itu anaknya raja yg hilang?] hahahaha ada yang tanya juga, mereka tahu. Fro tidak menjelaskannya secara langsung hanya, secara hint, di chapter kemarin saat fro mendiskripsikan mereka mengadakan pertemuan penting setelah tahu Naruto putra yondaime. Fro sebenernya ingin menyelipkan satu scene untuk bagian rookie 12 saat mengetahui ttg Naruto, tapi mereka sudah jarang muncul, mengingat ceritanya yg padat, fro bingung mau dimasukin sebelah mana scene itu huhu
[soul bonding itu terjadi karna 2 jiwa demon raling kalo: dominan belum menyadari/menyangkal perasaannya submissive tetap bsa hmil atau tdk?atau kndunganx lemah? baik soul bonding atau mating?] bisa, walaupun perasaannya disangkal, peraasaan itu masih ada kan, kalo perasaan mereka sejalan, maka chakranya akan bereaksi, sehingga membuat submissivenya bisa hamil. Soul bonding sebenarnya adalah bagian dari mating, hanya saja jika terjadi soul bonding terlebih dahulu itu bisa dinamakan hmmm... "kecelakaan"? haha
[Bca ini crtany mrip drama korea bru yg jdulnya the night watchmen, inti crtanya mirip yaitu ttg org yg ngegulingin krajaan dmi bsa berkuasa dan putra mahkota yg tdk jdi raja gara-gara dgulingin org itu,, emg scra ksluruhan beda yg mirip ttg itu aja. Bkan brmksud mnuduh tpi fro tau g ttg drama tsb? Atau mngkin fro trinspirasi drama itu? Atau bner" kbtulan crtanya mrip ?] haha benarkah? sepertinya hanya kebetulan, karena fro belum tahu soal drama itu. ceritanya bagus kah? fro jadi penasaran untuk menontonnya hahah
/-.-.-.-.-.-.-.-/
.
Fro harap seluruh pertanyaan sudah terjawab di chapter ini, kalo belum berarti tunggu chapter depan haha
Makasih buat semuanya yang masih setia mengikuti Royal Revenge, Fro ucapkan beribu-ribu banyak terima kasih, tak luput para komentar, review, saran dan kritiknya fro ucapkan terima kasih *bow*
Jangan lupa direview juga chapter ini, oke? haha *kiss* *hug erat*
.
Special Thanks to :
funny bunny blaster, pingki954, Sabachi Gasuchi, Aicinta, ai no dobe, DINDA red-devil24, ShinKUrai , Fla-san, Chika kyuchan, Luca Marvell, unya puu, riski hairi, neni uchiha, Nita suci devgan, Sadistic, shity shinee , CA Moccachino , Kiyomi Hikari, Kim Tria, yola yaoi, narusasuwookie, Septaniachan, sryeokyu, zazuo, chobangmin, Namikaze doberachiha , jaeradise , suira seans , Kagaari , alta0sapphire, natasya agustine 12, zukie1157 , Black2Dstya, riena okazaki89, Ndah D Amay, Uzumaki Prince Dobe-Nii, kitsune, Dewi15, Uchiha Soojung , jungefakim, aryaahee, Akasaka Kirachiha, naunico , usur saos , FUJODANSHI, Arevi are vikink, Sakie ayana, gdtop, Dark de ay, iche cassiopeiajaejoong , Yassir, Ichikawa Arata , 306yuzu, Gorilla Gila, Ivy Bluebell , Fuyuto Yuuki , Lnarusasu , Guest, rikarika, Nameuchiha yuli, himekaruLI , sasuke, Chie Na OrangeL, Naminamifrid , NaluCacu CukaCuka , angelkyute56, maruka , FUJODANSHI, Xilu , aiska jung, U-Know Yunjae, heyoyo, gyujiji, Tatan-chan, sitara1083, Monster Danau Toba, callme L, Izumi Jung, erikafujo, ykaoru32, enyahkan danzo, sudahmoveon, Mizuki Asakura, nurdianah ajja, ulalalapapparazi, Nona Shion Dari Negri Iblis,
