.
.
.
.
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 10 . Akaito and The Corpses
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
.
.
.
.
"Sekali kau tenggelam dalam kegelapan, maka kecil kemungkinan kau bisa keluar lagi dari sana." —Unknown
.
.
.
.
Kalau kalian punya mimpi buruk mengenai sanak-saudara yang tiba-tiba datang ke kediaman kalian, aku punya ceritaku sendiri kali ini.
Namanya Akaito, Shion Akaito. Wajahnya mirip sekali denganku, karena dia adalah adikku. Sekilas kami tampak seperti kembar, yang membedakan hanya pada rambutnya yang berwarna merah. Dulu banyak yang bilang, dia lebih tampan daripada aku. Meskipun aku lebih yakin bahwa akulah yang lebih tampan daripada dia, secara aku ini kakaknya, 'kan? Dan dia adalah orang yang sangat amat usil.
Apa aku pernah bilang aku anak tunggal? Kalau aku pernah tidak sengaja mengatakannya, maafkan aku. Sebenarnya aku hanya tidak ingin mengingat-ingat dirinya... aku takut padanya.
Kenapa aku takut dengannya?
Karena kau harus tahu bahwa Akaito ini adalah orang yang sebenarnya jauh lebih menakutkan daripada Kamui. Setidaknya itu yang aku tahu.
Mungkin dia hanya akan berdiam diri di dalam ruangan gelap dengan berbekal sebatang lilin, tapi biar semakin ekstrim, biasanya dia akan mencoba untuk berbicara dan bahkan berkenalan dengan mereka yang muncul di dalam kegelapan itu.
Umurnya beda dua tahun saja denganku. Dan mungkin inilah kenapa kau harus mencontohkan sesuatu yang baik pada adikmu kalau kau tidak mau adikmu menjadi manusia yang lebih mengerikan daripada dirimu sendiri.
Dia juga tertarik dengan hantu dan setan. Dan bahkan terobsesi dengan mereka. Kalau aku, mungkin aku lebih suka membaca atau mendengar cerita hantu dari orang lain. Berpetualang ke tempat-tempat berhantu itu adalah kebiasaanku yang baru muncul pada masa kuliah ini. Itu juga karena aku terlanjur bertekad akan menemani Kamui ke tempat berhantu manapun.
Dulu Akaito pernah memaksaku untuk menjadi tumbal dalam ritualnya. Saat itu nyaliku sangat amat kecil, alias penakut, jadi aku malah menangis histeris saat dia menodongkan pisau belatinya padaku.
Itu baru salah satu aksi kecilnya yang mengerikan. Dia juga bisa dengan mudah dan nekad berkemah sendirian di kuburan. Apa aku bohong? Tidak. Itu sungguhan. Dia pernah melakukannya pada saat aku masih SMP kelas 2. Orang tua kami sempat menegur dan melarang Akaito untuk melakukan hal-hal gila semacam itu.
Ya, dia menurut kok. Dia tidak melakukan hal-hal aneh seperti itu lagi selama dia SMP. Selama SMA pun, dia masih keliatan alim.
Dan terakhir kali aku pergi ke kota, dia masih menjadi anak baik-baik. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya—sampai hari ini.
Karena mimpi burukku hari ini adalah—adikku itu datang ke apartemenku. Oh no.
"Yo, Kak. Bagaimana kabarmu selama ini?"
Aku hanya melongo melihat dia sudah ada di depan pintu apartemenku.
"Kak. Mulai bulan ini, aku sudah kuliah loh." Dia berucap dengan ringan sembari menyunggingkan seringainya yang membuatku muak.
"Memangnya kau kuliah di mana?"
Lalu dia menyebutkan sebuah nama universitas.
Sial, itu kampusku!
"Kenapa kau tidak bilang-bilang mau kuliah di sana?" Aku bertanya dengan nada agak tinggi. Tapi dia hanya mengangkat bahunya dengan acuh, dan seenaknya masuk ke dalam apartemenku sambil menyeret koper merah miliknya.
Dia langsung duduk di atas bantal duduk yang ada di tengah ruangan. "Ayolah, Kak. Aku baru saja datang dan salam pertama yang kau ucapkan padaku setelah lama kita berpisah adalah itu?" Dia memasang wajah sok sedih, tapi aku tahu itu hanya topeng.
Dia selalu begitu.
"Bukan itu maksudku." Aku menutup pintu apartemen. "Kau datang terlalu tiba-tiba."
"Hum, terus kenapa?" Matanya yang beriris merah memperhatikan ruangan apartemenku ke sana-kemari dengan antusias. "Oh, aku tahu kau menyembunyikan banyak hal menarik di sini!"
"Apa yang kau lakukan—" Ekspresiku berubah menjadi horor saat ia mulai membuka rak buku milikku. "Hei, jangan menghamburkannya seperti itu!"
Tapi dia tidak mempedulikanku dan terus menghancurkan ruanganku dengan kedua tangannya itu. Dan kalau sudah begini biasanya dia tidak akan mau mendengarkanku lagi. Jadi aku hanya menghela napas dengan pasrah sambil memperhatikan dirinya.
Setelah lama tidak bertemu, aku tidak menemukan adanya suatu perubahan yang mencolok darinya. Dia tetap berambut merah, tetap menyukai baju kardigan berlengan pendek, dan dia tetap adikku.
Tapi ada sesuatu hal ganjil yang membuatku tertarik.
"Akaito, kenapa dengan matamu?" Aku bertanya sambil menunjuk matanya. Menurutku, sekarang matanya berubah menjadi sedikit aneh.
Pupil matanya lebih cenderung menatap sesuatu dengan tidak fokus. Seperti adanya awan-awan yang menghalanginya. Dan juga, di bawah kedua matanya terdapat kantong hitam yang samar-samar, menunjukkan indikasi kurang tidur.
Sementara itu, dia menoleh padaku dengan cepat.
Dan wajahnya terlihat begitu terkejut. Hei, apa yang salah dengan pertanyaanku barusan?
"Ah, ini." Di luar dugaanku, dia tampak sedikit gugup dan tidak bisa menutupinya dariku. "Aku hanya kurang tidur."
"Kenapa? Kau kebanyakan belajar? Tumben." Aku mencibir. Aku tahu dia bukan tipe manusia yang akan belajar keras supaya bisa lulus SMA. Dia hanya akan bergantung pada insting liarnya yang dulu sering membawanya ke dalam petualangan hantu yang mengerikan, untuk menjawab soal-soal ujian yang sempat menyiksaku beberapa tahun yang lalu.
"Heh, anggap saja begitu." Ia hanya menjawabnya dengan begitu singkat. Sementara ia menyeringai, dia kembali membongkar rak buku milikku. "Kau hanya mengoleksi buku-buku kuliah?"
"Apa yang kau harapkan dari sana?" Aku memutar mataku. "Aku terlalu fokus dengan kuliahku sehingga aku tidak ada waktu untuk hal lainnya."
"Tapi kau masih punya waktu untuk mengeksplorasi dunia hantu, bukan? Kak?" Sial, kupikir dia sudah lupa dengan hal itu. "Ayolah, Kak. Aku yakin kau masih suka mendengarnya."
"Memangnya kenapa?" Aku bertanya dengan hati-hati. Bukannya apa, aku masih teringat dengan trauma masa laluku.
Tapi ia tidak menjawab, melainkan berdiri dan merenggangkan otot tangan dan lehernya. Seakan-akan ia baru saja angkat besi. "Hei, Kak. Aku tinggal di apartemenmu ya!"
"Hah?" Aku syok mendengarnya. "Tapi kamarnya cuma ada satu..."
"Ya kita tidur sekamar! Bila perlu, seranjang!"
Aku ingin sekali menabok kepalanya itu. Sumpah.
"Kau pikir kita berdua akan muat dalam satu tempat tidur?" Aku berucap sewot. "Dan aku tidak punya kasur lipat."
"Hum, aku tidur di lantai juga tidak apa-apa. Sudah terbiasa kok."
Aku pun menyipitkan matanya padanya. Sudah terbiasa? Apakah dia mulai kumat lagi dengan ekspedisinya itu semenjak kutinggal ke kota?
"Ya? Ya? Plisss, kakakku Kaito paling cakep dan paling keren sejagad raya..." Dia mulai mengeluarkan jurus andalannya. "Nanti kita bayar uang sewanya patungan deh."
.
.
.
.
Singkat cerita. Sekarang Akaito jadi penghuni baru di kamar apartemenku yang awalnya tentram aman damai sentosa ini. Tapi biarlah. Hitung-hitung mengusir suasana sunyi, berhubung Akaito itu orangnya lumayan berisik.
Sejauh ia tinggal di sini, tidak ada kejadian meresahkan yang berarti. Dia mungkin akan terlihat berdiri di salah satu sudut kamarku, menatap seekor cicak yang ada di dinding dengan tatapan serius, atau mungkin juga memperhatikan pemandangan luar melalui jendela apartemen seperti orang nelangsa. Mungkin dia jadi sedikit aneh begitu karena kelamaan puasa ekspedisi hantu.
Tapi bukan berarti dia tiba-tiba tobat dan hanya menjadi anak pendiam. Ketika aku sedang lengah meletakkan ponselku di atas meja, dia akan diam-diam mengotak-atiknya. Menggeledah isinya, mungkin semacam memeriksa kotak e-mail milikku, atau nomor-nomor kontak. Bahkan ia memeriksa bookmark dan history web browser-ku.
"Sudah kuduga, kau masih suka dengan cerita hantu, Kak." Ia menyeringai, bahkan ia masih terlihat santai ketika melihatku sudah kembali. "Tapi, oh. Siapa gadis ini, Kak? Kau sampai memajang fotonya jadi foto profilmu."
"Cih, itu bukan urusanmu." Aku pun merebut ponselku dari tangannya, tanpa mempedulikan seringai usilnya itu. Aku tidak suka jika dia mulai mengurusi masalah hidupku. Apalagi tentang gadis itu... oh, sudahlah, itu akan kita bahas nanti. "Aku mau pergi sebentar."
"Memangnya mau ke mana?" Dia bertanya. Dan aku menoleh sekilas padanya sebelum beralih ke ponselku.
"Aku mau menjenguk temanku di rumah sakit."
"Aku ikut ya?"
"Untuk apa kau ikut?" Aku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya anak ini pikirkan.
"Yah, daripada di sini sendirian. Siapa tahu aku bisa tahu dan kenal dengan teman-temanmu. Bisa sekalian kulaporkan ke Ibu, fufufu..." Aku tiba-tiba mual mendengarnya tertawa seperti itu. Ketularan siapa dia?
"Jangan bilang kau diutus Ibu ke sini untuk mengawasiku." Kalau itu benar, mampuslah aku.
"Memangnya kenapa?"
"Habisnya..." Kemudian alam bawah sadarku mengatakan, itu pasti tidak benar. Mungkin Akaito hanya ingin bercanda. Jadi aku urung menjelaskan alasan tuduhanku itu. "Ah, sudahlah. Lupakan. Kau jadi ikut, tidak?"
"Jadi dong. Sebentar, aku siap-siap."
Setelah ia selesai bersiap-siap dan melakukan berbagai macam hal yang menurutku seharusnya tidak ia lakukan—MENONTON TV SEBELUM BERANGKAT ITU MENURUTKU BUKANLAH HAL YANG HARUS IA LAKUKAN SEKARANG—ukh, maaf. Tulisan capslock tadi pasti membuat matamu jadi sakit.
Aku muak padanya.
Dan tidak perlu kuceritakan panjang-lebar, kami sekarang sudah berada di rumah sakit yang kumaksud. Kamui juga ada di sana, karena berhubung temanku yang sedang sakit itu adalah temannya juga. Teman seklub.
"Ah, Shion. Tumben kau agak ngaret." ucap Kamui padaku saat kami sudah bertemu di ruangan lobi.
Yaiyalah. Aku harus menunggu Akaito menonton TV dulu sebelum akhirnya bisa sampai di sini. "Maaf. Ini semua salah dia."
Aku menjawabnya sambil menunjuk Akaito yang ada di sebelahku. Kamui melirik, dan ekspresi takjub sekilas muncul di wajahnya.
"Wah, siapa ini, Shion? Dia mirip sekali denganmu."
"Naa, aku Shion Akaito, adik tercintahnya." Akaito langsung menyela begitu saja. Aku hanya meliriknya sekilas dengan malas.
"Ya, dia adikku. Panggil saja dia dengan apapun yang kau suka." ucapku pada Kamui sekenanya. "Akaito, dia Kamui Gakupo. Dia berbeda dua tahun dariku."
Akaito tidak berbicara banyak dan hanya tersenyum ramah pada Kamui. Sedangkan pemuda yang memiliki karisma tinggi itu terdiam sejenak memperhatikan Akaito. Dan mungkin ini perasaanku saja atau tatapan matanya memang sempat memicing padanya. "Hum, oke... kita langsung saja ke ruangannya."
"Ruangannya ada di mana?" Aku bertanya.
"Di bagian paling belakang. Dekat kamar mayat." Aku pikir Kamui sengaja menyebut ruangan keramat itu karena ia pikir aku akan tertarik pada hal itu. Dan seharusnya aku memang seperti itu, tapi...
Perasaanku tidak enak.
Jadi kami pun berjalan menuju ruangan teman kami yang dirawat tersebut. Sesampainya di sana, ternyata ada beberapa teman klub yang sedang berkunjung juga. Bisa dibilang, suasana di ruangan itu sedang agak ramai. Dan karena sekarang termasuk jam besuk—sekitaran jam 5 sore—jadi tidak apa-apa.
Di sana kami hanya berdiri-diri, dan mengobrol ringan. Akaito lebih memilih menunggu di luar ruangan. Tapi aku yakin, sekarang dia pasti sedang jalan-jalan mengelilingi rumah sakit ini. Dan tidak terasa, kami mengobrol panjang-lebar dan jam menunjukkan pukul 7 malam.
Teman-teman kami sudah banyak yang pulang. Pengunjung yang tersisa hanya kami berdua—aku, dan Kamui. Oh iya, Akaito masih ada di luar kamar ini, haha.
Dan daritadi aku bilang pada Kamui bahwa aku ingin pulang, tapi dia terus-terusan menahanku.
"Kamui, aku pulang ya..." Aku berbisik padanya.
"Tunggu sebentar, Shion. Ada yang ingin kutunjukkan padamu di sini."
Dengan seringai seperti itu, aku bisa menduga bahwa hal itu pasti berhubungan dengan hal-hal gaib.
"Memangnya kenapa? Apa kau ada acara setelah ini? Atau besok pagi kau ada mata kuliah?" tanyanya.
"Gak ada sih..."
"Makanya, tunggu sebentar."
Aku pikir dia memang sengaja menahanku.
Kemudian untuk berulang kali, aku memperhatikan kawanku yang sedang sakit itu. Sebenarnya kalau secara sekilas, ia tampak sehat-sehat saja karena tidak ada luka fisik yang serius. Tapi sebenarnya ia sakit demam berat. Uhm, bagaimana menyebutnya ya?
Meskipun ia ikut klub ilmu gaib, dia punya mental yang sedikit lemah. Dia langsung demam setelah mengunjungi tempat berhantu yang ada di dekat kampus kami.
Orang-orang berpresepsi bahwa mungkin ia jadi begitu karena "disapa hantu". Atau sejenis itu. Orang tuanya tidak percaya dengan hal yang begituan, makanya mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit biasa saja ketimbang mengkonsultasikannya dengan paranormal.
"Hei, kami pulang dulu. Sudah malam." Tiba-tiba aku mendengar Kamui berbicara dengan suara pelan, sembari berjalan keluar dari ruangan.
Aku yang masih tertinggal di belakang, hanya berucap pada temanku yang sedang demam tersebut, "Semoga lekas sembuh ya."
Dia hanya tersenyum.
Ketika aku sudah keluar dari ruangan, aku menemukan Kamui berdiri di samping pagar yang ada di depan ruangan, menungguku. Dan aku tidak melihat Akaito di manapun.
Sudah kuduga.
"Eh, Shion." Dia melihat padaku. "Adikmu mana?"
"Huh, entahlah. Nanti juga balik sendiri." Aku berucap tidak peduli. Kalau pun ada sesuatu yang terjadi padanya, dia pasti akan baik-baik saja. "Kamui, kau bilang ingin menunjukkan sesuatu padaku?"
Dia tidak menjawab. Raut wajahnya begitu datar menatap taman yang ada di depan kami. Kemudian tatapannya beralih pada langit. Ia memperhatikan bulan yang purnama di atas sana. "Kita temukan adikmu dulu."
"Kau mengkhawatirkannya?"
Dan lagi-lagi dia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya berjalan ke arah kanan—menuju bagian luar rumah sakit ini. Berhubung komplek bangsal ini adalah yang berada di bagian belakang rumah sakit.
"Hei, Kamui!"
Pada akhirnya, aku hanya mengikutinya.
Lantai rumah sakit ini adalah keramik putih yang polos. Di beberapa sudut rumah sakit ini, terdapat taman yang berisi pepohonan dan semak-semak bunga yang disusun sedemikian rupa sehingga tampak begitu indah. Tidak ada sekat maupun atap yang menutupi taman-taman ini. Jadi angin malam yang dingin bisa dengan leluasa bergerak di koridor ini.
Untuk pengaturan ruangan-ruangan yang ada di sini, tidak perlu dipertanyakan karena penataannya juga sangat bagus.
Aku dan Kamui berjalan perlahan di koridor rumah sakit ini. Suasana terasa sunyi, paling-paling ada satpam yang juga berjalan memantau keadaan. Dan kurasa penampakan kami yang berjalan keliling-keliling ini sama sekali tidak membuatnya curiga. Entah satpamnya yang bodoh atau kami yang terlalu profesional dalam berakting.
Sementara aku dan dia berjalan menelusuri lantai koridor rumah sakit, pepohonan agak bergoyang ditiup angin. Ranting-rantingnya yang menjulur ke atas terkesan seperti tangan-tangan yang siap menerkam apapun yang ada di dekatnya. Aku mengeratkan jaketku. Meskipun aku sudah terbiasa dengan angin yang dingin seperti ini, tetap saja rasanya dingin. Dan aku harus heran pada Kamui karena dia sama sekali tidak terlihat kedinginan. Dia tampak biasa-biasa saja berjalan di sampingku.
Begitu melewati ruangan operasi yang letaknya agak jauh dari bangsal-bangsal yang lain, kami terdiam ketika melihat ada sebuah tempat tidur pasien yang melintang begitu saja di depan pintu ruangan operasi. Kemudian beberapa orang keluar dari dalam ruangan tersebut. Dua orang petugas berpakaian putih dan bermasker, dan orang-orang lainnya mungkin adalah keluarganya. Mereka menangis tersedu-sedu.
Itu bukan sesuatu yang menghebohkan. Kalau saja yang di atas tempat tidur itu tidak ada apapun.
Aku merasa bulu kudukku merinding memperhatikan bagaimana sosok yang terbaring itu sama sekali tidak bergerak. Berselimutkan kain putih sampai menutupi wajahnya.
Khas orang yang sudah meninggal.
Aku terdiam di tempatku, dan memperhatikan mereka. Dua orang petugas mendorong tempat tidur pasien tersebut melewati kami—kemungkinan besar menuju kamar mayat untuk disemayamkan sebelum diantar ke kediaman almarhum—dan keluarganya mengikuti dari belakang. Aku tidak tahu mengapa tapi aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari mereka. Aku memang tidak pernah kehilangan seorang keluargaku, tapi aku bisa merasakan mereka.
"... bukan begitu kok."
Aku samar-samar mendengar Kamui berbicara. Tapi suaranya pelan. Aku pun menoleh padanya, memastikan apakah aku hanya salah dengar atau apa.
Ia berdiri agak jauh dariku. Ia bersender di pagar koridor yang berhadapan langsung dengan sebuah pohon tinggi yang aku tidak tahu apa namanya. Wajahnya menghadap ke arah pohon, membuatku semakin merinding saja.
Jadi aku cepat-cepat menghampirinya, dan menepuk pundaknya dengan hati-hati. "Hum, Kamui?"
"Hah? Apa?" Dia spontan merespon dan berbalik padaku. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya tetap datar seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Aku bertanya dengan heran. Aku sudah melepaskan tanganku darinya. "Kau seperti sedang berbicara dengan seseorang."
"Bukan apa-apa. Aku hanya sedang bergumam kok." Kemudian dia berjalan lagi. "Kita ikuti mereka."
"Hah? Siapa? Keluarga itu?" Aku syok karena tiba-tiba dia memutuskan seenaknya begitu saja. Tapi tetap saja, aku mengikutinya berjalan ke bagian dalam rumah sakit lagi.
Kami mengikuti mereka diam-diam sampai kamar mayat. Kami memperhatikan mereka dari kejauhan. Di sana, petugas memasukkan jasad almarhum ke dalam ruangan itu, agak lama sampai akhirnya mereka keluar lagi dan membawa keluarga menjauh dari tempat itu melalui jalan lainnya. Mungkin ke bagian administrasi, aku tidak tahu juga.
Kamar mayat berada di dekat bangsal teman kami dirawat tadi. Hanya saja, letaknya agak dalam. Semacam memasuki sebuah lorong berdinding putih. Ada taman di samping jalan komplek bangsal. Dari bangsal teman kami, berbelok ke kiri. Agak jauh masuk ke dalam, dan di situlah kamar mayat berada. Bukan jalan buntu, karena kamar mayat juga bisa diakses dari jalan lain.
Sejenak kami hanya berdiam diri di sana. Mungkin hanya terhipnotis dengan nama "kamar mayat", jadi aku merasakan rasa ketakutan dan merinding yang mulai membayangiku selama aku berdiri di sini. Apalagi suasana terasa sangat hening dan dingin. Aku memperhatikan jam tanganku, jam 9 malam.
"Shion..." Ia memanggilku dengan suara pelan tanpa melihatku. "Kau memikirkan apa yang sedang kupikirkan sekarang?"
"Apa?" Sebenarnya aku tahu, tapi aku pura-pura tidak tahu.
Kemudian kulihat dia menyeringai dengan menyeramkan seperti biasanya. "Kita masuk ke dalam."
"Tunggu, Kamui. Aku pikir ruangannya dikunci?" Bukannya aku tidak mau masuk. Aku hanya berpikir bahwa kami tidak seharusnya masuk ke sana.
Aku merasa seolah akan ada seseorang yang menungguku di sana.
"Tidak. Ruangannya tidak dikunci. Bukankah kau melihat petugas tadi pergi begitu saja setelah menutup pintunya?"
Aku tidak menjawab karena aku melihat dia sudah keburu menghampiri pintu tersebut. Membukanya dan memasukinya. "Hei, Kamui!"
Sebelum aku masuk menyusulnya, aku memeriksa keadaan sekitar. Mengira-ngira apakah akan ada seseorang yang mendatangi koridor ini—berhubung tempat ini sangat sunyi karena sepanjang koridor ini, rasanya ruangan yang ada hanya kamar mayat ini—tapi kupikir semuanya akan baik-baik saja.
Aku berharap begitu.
Begitu aku berada di dalamnya, hal pertama yang menyapaku adalah ruangan yang gelap. Udara dingin langsung menusuk kulit dan tulangku. Perasaan yang begitu sering menyerangku saat kami mendatangi rumah hantu pun mulai menghipnosis tubuhku. Malah lebih dahsyat.
Dan ternyata Kamui membawa senter. Dia langsung menyalakannya setelah aku berada di sampingnya. Dan aku begitu was-was saat ia mulai menyoroti satu persatu tempat tidur yang ada di sana. Ada sekitaran 5 buah, dengan masing-masing terdapat sesuatu yang terbaring di atasnya. Ya kau tidak perlu bertanya apa yang kumaksud dengan sesuatu itu. Kau sudah tahu.
Termasuk salah satu yang baru saja masuk tadi.
Aku mencium bebauan yang mulai membuatku mual. Aku tidak tahu bau apa ini, karena pada dasarnya, ini adalah pertama kalinya aku memasuki kamar mayat. Mungkin ini bau obat-obatan, tapi aku tidak mau memikirkannya di saat seperti ini. Keheningan ini sebenarnya membuatku merasa sangat tidak nyaman.
Aku melirik ke dinding. Ada sebuah saklar yang menurutku adalah saklar dari lampu di ruangan ini. Tapi ketika aku memencetnya, tidak ada cahaya yang muncul. Tetap gelap. Jadi kupikir, ada benarnya juga Kamui memutuskan untuk langsung menyalakan senter ketimbang menyalakan lampu.
Aku penasaran apa yang berikutnya akan ia lakukan. Kemudian aku memperhatikan, ia mulai beranjak dari tempatnya. Berjalan maju ke depan sembari memperhatikan mereka yang sedang tertidur dengan perlahan.
Aku hanya berjalan mengikutinya dari belakang. Aku merasa kesulitan bernapas karena aku pikir bernapas bisa membuat semuanya menjadi runyam. Aku turut memperhatikan sosok-sosok yang terbaring itu. Mereka hanya bergeming, berselimut kain putih, dan mereka tahu bahwa ada orang asing yang tiba-tiba saja menjelajah tempat peristirahatan sementara mereka tanpa adanya kepentingan yang berarti. Tapi mereka memutuskan untuk mengabaikan kami dan hanya tertidur.
Aku tidak begitu lama memperhatikan satu mayat karena aku merasa begitu was-was. Bukan salahku, 'kan? Kalau aku mulai membayangkan jika mayat itu akan segera terbangun dan menyerang kami karena istirahatnya diganggu-ganggu?
Dan sampai di tempat tidur terakhir—tidak ada siapapun. Sungguh. Tidak ada siapapun.
Tunggu, bukannya tadi aku melihat ada yang berbaring di sana? Lantas ke mana—
"Kamui..." Napasku tercekat. Mataku melebar seiring detik waktu yang mulai beranjak perlahan. Seolah sengaja ingin menakuti kami. Dan Kamui paham dengan maksudku.
"Dia menghilang..." gumamnya sangat pelan. Wajahnya tetap datar, namun matanya agak memicing. Dan dagunya spontan terangkat dan berbalik dengan cepat ke arah belakangnya.
Aku nyaris menjerit saat aku menyadari ternyata ada sesuatu berdiri di samping Kamui dari tadi. Aku langsung menjauh sampai aku menyenggol salah satu tempat tidur. Aku tidak peduli dengan hal itu. Aku merasakan adrenalinku semakin meningkat seiring dengan semakin jelasnya bentuk sosok itu di mataku.
Bentuknya seperti manusia. Tingginya hampir seperti Kamui, tapi dia lebih rendah.
Oh apakah ini film zombie.
Tapi yang pasti, aku berterima kasih atas refleks Kamui yang sangat bagus sehingga aku tidak perlu berlama-lama merasa takut. Sementara ia mulai menyeringai miring, ia mengangkat senternya dan menyoroti sosok itu, seolah ia tidak merasakan ketakutan yang sama denganku.
Dan rambut merah itu sangat familiar bagiku. Apalagi seringai itu.
"Yo, Kak."
Sialan, ternyata itu Akaito.
Aku langsung melepaskan napasku dengan sangat lega. Hah, kupikir ini akan menjadi film zombie beneran. Tanpa sadar, aku bersender dan meletakkan kedua tanganku di samping tempat tidur yang kusenggol barusan.
Kulihat Kamui. Awalnya ia hanya memasang wajah bingung, lalu memperhatikan Akaito dengan tatapan tidak percaya, seolah ia pikir ini hanya ilusi dan Akaito palsu itu adalah zombie. Tapi kemudian tawanya pun meledak.
"Hahahaha! Hei bocah, kau sungguh membuatku tertarik!" Ia menghampiri Akaito dan menepuk-nepukkan tangannya pada bahu Akaito. Dan ia mulai tertawa lagi, seolah ia tidak sadar bahwa sekarang ia sedang berada di dalam kamar mayat. "Baiklah, apa saja yang telah kau lakukan di sini sebelum kami datang?"
Sementara aku menatap mereka dengan tatapan abstrak, Akaito langsung menjawab dengan semangat.
"Aku sudah menjelajahi tempat ini dari senja tadi. Aku memeriksa satu persatu mayat ini, memperhatikan bagaimana wajah pucat mereka membuatku penasaran apakah masih ada roh mereka di sana atau tidak. Kemudian sampai pada mayat ketiga, aku mendengar ada orang yang masuk. Jadi aku langsung berbaring di tempat tidur yang kosong, berpura-pura menjadi salah satu mayat yang ada."
"Aku sudah mau bangun, tapi aku mendengar ada orang lain lagi yang datang. Aku tetap saja berbaring, dan tidak kusangka itu kau dan temanmu, Kak." Dan Akaito mulai menyeringai. "Makanya aku tiba-tiba kepikiran mau jadi zombie aja sekalian."
Sialan anak ini. Kenapa bisa-bisanya aku punya adik yang usil sekali seperti dia.
"Lalu, apakah kau mendapati sesuatu yang luar biasa?" Tentu saja, sekali Kamui mengatakan bahwa ia tertarik pada sesuatu, maka ia akan bertanya terus-terusan dengan antusias. "Bagaimana rasanya bergabung dengan para penghuni ruangan ini selama beberapa jam?"
Akaito tetap dengan seringai gelapnya. "Sayangnya tidak ada yang terjadi selain tamu-tamu barusan. Dan kupikir rasanya menyenangkan sekali jika aku bisa berada di sini lebih lama lagi."
Sepertinya mentalku masih berada jauh dari mereka. Dan aku tidak tahu apakah aku harus merasa sedih, takut, atau malah senang dengan kedekatan mereka ini.
"Baiklah. Saatnya kita pergi. Aku tidak mau berurusan dengan petugas rumah sakit ini gara-gara kita berada di sini." Kamui pun beranjak dari tempatnya, Akaito mengikutinya, dan aku juga turut mengikuti mereka.
Namun sebelum aku berhasil beranjak dari tempatku, aku merasakan tanganku dicengkram oleh suatu tangan yang rasa dinginnya seakan langsung menusuk nadiku. Mataku terbelalak, dan aku melirik ke belakang dengan tatapan horor. Tangan yang terlihat putih di dalam kegelapan itu berasal dari dalam selimut. Dan aku tahu itu adalah tangan mayat.
.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
.
Balasan review. (9 review)
kamui shion : Wakakak, maunya gitu setiap kali update. Tapi kerjaan ane bertumpuk banget. Jadi sekarang kalo ada waktu aja baru update. :v /dibakar
Njir. Saranmu itu lumayan bagus juga. Lemon GakuKai. Nanti kalo ada waktu, baru dibikin. Tapi gak di sini. XD Btw, ente sudah baca fanfic ane yang judulnya "Gue Bukan Humu"? Itu GakuKai. Kata teman ane yang bukan fujo tapi terbiasa melihat humu, itu fanficnya "serem" abis. Ada anu-anu(?)nya. :v
Ini Akaito-nya sudah ditampilkan. Maunya dibikin usil, tapi Gakupo malah tertarik sama dia! Tapi semoga aja gak terlalu bikin kecewa. :D
Maaf banget yak. Udah bikin kecewa beribu kali. Gini aja deh, ada kontak yang bisa dihubungin? Kalo update, baru ane hubungin. Biar gak capek periksa ke sini terus. :D
Haha, makasih banyak udah review sampai tiga kali. Semoga gak kapok ya, nungguin keterlambatan fanfic ini. =w=
Hikari Rue : Sebenarnya gak bisa dibilang suka memainkannya, lebih suka nonton teman yang memainkannya. Asik sih, lebih suka yang part 1. :D
Oke. Makasih udah RnR. ^^
Puella : Terlalu cepat buat Gakupo mati. Dia 'kan mirip kucing, punya banyak nyawa. Hahahaa... /apaan
Beneran? Bikin takut? Hahaha, makasih. Semoga aja chapter kali ini serem juga. :D
Makasih udah RnR. ^^
CelestyaRegalyana : Oke. Ini udah lanjut. Makasih udah RnR. ^^
TrueNaturePJ : Lol
Mungkin inilah kenapa saya lama baru update. Saya berulang kali berpikir, kenapa fanfic ini bisa-bisanya masih mengandung unsur humu padahal sudah berusaha keras supaya tetap netral. :v
Kaito memang manis seperti gula. Dikejar-kejar, tapi sayangnya yang mengejar itu hantu. :D
Hahaha, FNaF itu keren bingit. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, Night 6 part 1 saya gak pernah kelar. :v
Oke. Makasih udah RnR. ^^
Seijuurou Eisha : Siapakah Gakupo itu yang sebenarnya? Entahlah. Saya gak tau. /dilempar
Nyahaha, nanti akan ada saat di mana Gakupo dan Kaito sendirilah yang akan membeberkan identitasnya yang sebenarnya! Tapi gak sekarang, gak besok, tapi entah kapan. :D
Makasih udah RnR. ^^
Kagawita Hitachi : Gakupo adalah makhluk pertama yang saya bikin jadi cool dan seolah gak pernah merasakan apa itu yang namanya rasa takut di fanfic bikinan saya. Syukurlah banyak yang suka. =w=
Makasih udah RnR. ^^
Xinon : Oke. Makasih udah RnR. ^^
Xion-Chan : Oke. Ini udah lanjut. Makasih udah RnR. ^^
.
.
.
.
A/N (panjang banget ini) : Saya sengaja memotong ceritanya di situ biar kesan horornya nangkep. Hahaha~ /apa
Dan saya tahu, readers pasti sudah capek mendengar saya terus-terusan minta maaf setiap kali update. Tapi sumpah, kali ini saya benar-benar sibuk. Setelah ulangan tengah semester yang lalu, saya sempat ada waktu beberapa minggu dan mengetik cerita ini. Tapi pas sudah setengah cerita, berbagai macam bencana pun berdatangan. /apaan/ Mau ulangan kenaikan kelas, malah dibebani berbagai macam ulangan harian dan PR yang bertumpuk... sempat stress dengan jabatan baru di eskul, dan sempat brokoro gara-gara seseorang... /halahmalahcurcol
Oke. Ada yang senang dengan kehadiran Akaito? Keusilannya tidak terlalu terlihat, tapi semoga aja yang barusan itu bisa bikin terkesan. =w= Kalau banyak yang senang dengan Akaito, bakal saya terusin kehadirannya sampai chapter-chapter berikutnya. Tapi kalo gak ada yang mengharapkan dia... yaudah, saya tampilkan dia di chapter ini aja.
Ada yang tanya, Gakupo itu sebenarnya siapa sih? Trus, kenapa Kaito bisa "disukai" oleh berbagai macam hantu dan setan yang ada? Dan kenapa Akaito bisa-bisanya mendadak muncul gitu aja padahal Kaito tidak mengharapkan kehadirannya? SAKSIKAN TERUS HANYA DI WHBY! /maksa
Baiklah. Terakhir. Makasih banyak bagi pihak-pihak yang udah terlibat dalam fanfic ini. Yang udah ngasih review. Nge-fav dan atau nge-follow. Komentar secara langsung sama saya. Atau cuma baca doang. Semuanya saya hargai. Karena tanpa kalian, saya bukan apa-apa. ^^
(Untuk memperingati satu tahun fanfic ini (dan itu udah 2 bulan yang lalu), saya menerima 3 biji (?) request untuk fanfic ini. Kalau memungkinkan, bakal saya kabulkan. Makasih banyak, minna. =w=)
Dan terakhir lagi. Kapankah saya akan update chapter 11? Entahlah! /dibakar/ Mau UKK (ulangan kenaikan kelas) sih. Tapi saya janji, selama liburan semester nanti, saya bakal usahakan update paling tidak satu chapter. :D /dibakar lagi
.
11052015. WHBY10. YV
